Tuesday, June 22, 2010

IKONOSTASIS

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
LAY THEOLOGIAN dan PENELITI CCRS
CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG.


Ikonostasis adalah partisi yang diletakkan di pintu masuk Gereja, khususnya Gereja Timur Ortodoks (baik Yunani maupun Rusia, Ukraina). Sering sekali diterjemahkan menjadi layar kayu, wooden screen dalam bahasa Inggris. Tetapi partisi layar kayu (wooden screen) itu tidak kosong, melainkan dilukis dengan ikon-ikon atau gambar-gambar kudus. Jadi, sebuah ikonostasis penuh dengan ikon. Kalau di pintu masuk gereja-gereja Katolik ada air suci yang ditaruh dalam sebuah wadah kecil, maka di pintu masuk gereja-gereja Timur Ortodoks ada ikonostasis.

Oleh karena ditaruh di muka pintu, atau sesudah lewat ambang masuk pintu, maka ikonostasis itu serentak berfungsi membagi atau memisahkan ruang dalam dari ruang dalam, memisahkan yang di dalam dari yang di luar, yang fanum dari yang pro-fanum, dunia yang ilahi dari dunia yang manusiawi; tetapi posisi ikonostasis seperti itu juga serentak mempersatukan atau menyatukan hal itu semuanya. Ia menjadi semacam engsel penghubung antara kedua alam atau lingkungan tersebut. Itulah fungsi ganda sebuah ikonostasis. Dalam konteks seperti itu,lalu pintu pun menjadi sebuah realitas paradoksal: dibuka, terbuka, membuka, tetapi sekaligus juga pada saat yang sama ditutup, dibatasi, tertutup.

Seperti sudah dikatakan, ikonostasis itu diletakkan tegak di pintu masuk gereja; jadi, ia berdiri di garis batas antara yang ilahi dan yang manusia; posisi seperti itu menyingkapkan kepada kaum beriman yang masukke dalam gereja jalan menuju ke pendamaian mereka. Itu terjadi lewat ikon-ikon yang ada dan ditampilkan di sana. Ya, itulah sebabnya sebuah ikonostasis itu penuh dengan ikon-ikon. Kiranya itu juga sebabnya ia diberi nama ikonstasis. Tetapi ada cara tertentu untuk menata ikon-ikon yang ditampilkan di sana. Ikon-ikon itu tidak asal digambar berjejal-jejal saja, melainkan ada cara penataannya, bahkan ada teologi penataannya. Biasanya dalam versi atau bentuknya yang klasik (misalnya, sangat biasa pada gereja-gereja Rusia pada abad ke-16), ikonostasis itu mempunyai empat tingkatan, atau dibagi menjadi empat tingkat. Saya akan coba membahas keempat tingkat itu satu per satu di bawah ini.

Tingkat paling atas, tingkat pertama, yaitu bagian paling atas dari ikonostasis itu, menggambarkan dan menampilkan para Bapa Bangsa dan para nabi. Kedua, langsung di bawah tingkat pertama di atas tadi, ada gambar-gambar pesta suci keagamaan, yaitu saat-saat utama di dalam aksi atau tindakan Penyelenggaraan Ilahi dalam hidup dari sang Sabda yang Menjelma (dan dari ibunda-Nya, santa Perawan Maria); dan itulah yang menjadi pusat sejarah, dan bahkan menjadi faktor yang menguduskan sejarah. Dengan itu, sejarah yang serba sekular, mendapat nilai transenden dan nilainya yang suci.

Kemudian, pada tingkat yang ketiga di bawahnya, ada yang disebut dalam bahasa Yunani deesis (dalam bahasa Slavonik, tchin), yang menggambarkan atau menampilkan kepenuhan Perjanjian Baru: pelukisan kita sebagai umat yang sedang berdiri untuk berdoa di hadapan sang Penyelamat dan sang Bunda Allah juga berdoa dari posisi ssebelah kanan, dan Yohanes Pembaptis, sang bentara agung, berdoa dari sebelah kiri, dan seluruh rombongan para kudus dan para malaekat tampak berarak datang mendekat, seakan-akan sedang ikut menyeret orang yang memandangnya dengan gerakan ritmik mereka untuk juga ikut bergerak masuk ke dalam doa. Jadi, menonton ikon sudah dengan sendirinya menggerakkan kita untuk berdoa, menuntun perilaku kita.

Akhirnya, pada tingkatan yang paling bawah ada pelbagai macam ikon-ikon yang diangkat dari tema-tema setempat dan kepentingan-kepentingan (jemaat) setempat). Ia bersaksi tentang sejarah rahmat yang aktif berkarya dalam diri tokoh tertentu dan tempat-tempat tertentu. Pada titik pusat horizontal dari layar kayu itu (yang jelas berbeda dari titik pusat vertikalnya) ditempatkanlah pintu-pintu agung, yang melambangkan pintu gerbang masuk ke dalam kerajaan. Dan kerajaan itu sendiri dilambangkan dengan ruang sakral gereja.

Jadi, dengan memandang dan melewati ikonostasis, orang disugestikan sedang masuk ke dalam kerajaan Allah. Maka dengan sendirinya muncullah secara otomatis (tentu saja sikap itu yang diharapkan) sikap dan perilaku yang lain sama sekali, tentu saja yang cocok dan sejalan dengan perilaku dalam tempat suci yang sepantasnya dan selayaknya.


BANDUNG, 18 JUNI 2010
SIS B, CCRS-FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
HASIL REFLEKSI COLLOQUIUM LITURGICUM DI PRATISTA
Diketik kembali dengan pembaharuan, 22 Juni 2010

No comments:

PEDENG JEREK WAE SUSU

Oleh: Fransiskus Borgias Dosen dan Peneliti Senior pada FF-UNPAR Bandung. Menyongsong Mentari Dengan Tari  Puncak perayaan penti adala...