Tuesday, June 22, 2010

IKONOGRAFI DAN KITAB SUCI

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
LAY THEOLOGIAN dan PENELITI CCRS
CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG



Dalam postingan terdahulu saya sudah menulis tentang Ikonostasis. Tetapi saya mau menambahkan sesuatu pada artikel tersebut. Yaitu bahwa harus segera disadari bahwa skema gambar-gambar ikonografik tidak pernah boleh lepas apalagi dilepaskan dengan sengaja dari konteks dan latar belakang Kitab Suci. Bagaimana pun juga proses pengerjaan dan pembuatan itu harus terkait dan tergantung pada Kitab Suci dan Tradisi awal gereja. Itulah yang dilakukan oleh para seniman Abad Pertengahan dan Renesans ketika mereka membuat gambar-gambar ikon. Justru pengkaitan dan ketergantungan itu bisa meningkatkan dan memperdalam pemahaman kita akan injil yang asli. Begitulah misalnya fresco-fresco kristologis dari Fra Angelico, yang memenuhi biara kaum Dominikan Observantes St.Markus di Florence, yaitu lukisan sang Penebus yang tergantung pada salib, yang tinggi, tegak berdiri di atas tanah yang tandus (dan gersang) dengan latar belakang bentangan langit tak bertepi (tanpa batas), telah memberi satu konteks universal oleh tokoh-tokoh yang ditempatkan dalam posisi bentuk setengah lingkaran yang membingkainya: ada sembilan nabi, seorang kafir yang bertobat (yaitu mungkin sosok Dionisius Aeropagita), dan seorang Sybil, yang tulisan-tulisannya, dituliskan pada potongan-potongan kertas papirus yang dipakai seperti kipas, yang mengacu pada korban berdarah yang akan datang yang akan memulihkan kebebasan dan kedamaian bagi seluruh ciptaan. (V.Alce, Homilies of Fra.Angelico, terjemahan Inggris, Bologna, n.d., p.33-34).

Atau sebuah contoh yang lain: dekorasi Michelangelo di Kapel Sistine, yakni kesembilan lukisan yang sangat bersejarah itu, yang didasarkan pada kisah-kisah yang diangkat dari kitab Kejadian, yang merentang satu rentang jarak yang maha besar antara kreatifitas ilahi (pada ujung altar) dan kemerosotan manusia (dalam peristiwa mabuk beratnya Nuh yang tampak mengerikan, di dekat pintu). Tetapi itu semua sebenarnya tidak lain dimaksudkan untuk dilihat dalam satu tatanan (tata urut) yang terbalik, yaitu sebagai satu progresi (gerak maju) dari perhambaan badan menuju kepada pembebasan dan pengangkatan atau peninggian jiwa - suatu penafsiran atas Kitab Suci dalam terang sorotan dari persoalan-persoalan filsafat Neoplatonik. (N.Wadeley, Michelangelo, London, 1965, p.17).

Jadi, dari dan berdasarkan kedua contoh di atas tadi, tampak jelas dan kentara bahwa hiasan gambar-gambar itu diangkat dan diilhami oleh Kitab Suci itu sendiri. Dan pemilihan tematiknya tidak lagi asal-asalan, melainkan dilatar belakangi oleh suatu sistem pemikiran teologi tertentu. Dalam artian itu, gambar suci tidak lagi hanya sekadar berfungsi estetik, dekoratif belaka, melainkan berfungsi secara lebih dalam dan menukik, yaitu berfungsi didaktik dan etik. Dalam fungsi yang terakhir ini, ikon atau gambar kudus di gereja selalu berguna sebagai biblia pauperum. Tetapi tidak hanya sebatas itu saja pada akhirnya, sebab gambar-gambar itu juga berfungsi sebagai pendidikan kaum beriman pada umumnya, tidak hanya terbatas pada orang miskin saja. Maka gambar itu juga adalah blibia fideliorum.


Pratista Cimahi, Bandung, 18 Juni 2010
Dalam kesempatan Colloquium Liturgicum ILSKI, 2010
Sis B, CCRS, Fakultas Filsafat UNPAR Bandung.
Diketik kembali sambil diperluas tgl, 23 Juni 2010

No comments:

PEDENG JEREK WAE SUSU

Oleh: Fransiskus Borgias Dosen dan Peneliti Senior pada FF-UNPAR Bandung. Menyongsong Mentari Dengan Tari  Puncak perayaan penti adala...