Tuesday, October 14, 2008

YESUS MEMBERKATI ANAK-ANAK

Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransisbm)

Hari ini saya ikut perayaan ekaristi di gereja Katedral Bandung yang terletak sangat dekat dengan kantor saya. Biasanya saya membawa Kitab Suci Perjanjian Baru untuk dibaca dan direnungkan di sana. Kebetulan saat ini saya sedang menulis buku dengan judul Better Marriage Holier Culture. Salah satu pokok pembicaraan yang saya uraikan di sana ialah tentang revolusi monogami Yesus dan hal perceraian. Kedua hal ini dalam pandangan teologi personalisme Yohanes Paulus II dianggap sebagai pelanggaran terhadap perkawinan sebagai persekutuan pribadi-pribadi, atau communion of persons. Dalam rangka itu saya juga mencoba mencari pendasaran biblis untuk uraian teologi perkawinan tadi. Salah satu teks yang saya angkat ialah Mateus 19, Markus 10 dan yang sejajar dengan itu.

Bahkan kedua teks inilah (terutama sekali teks Mateus) yang dijadikan oleh Yohanes Paulus II dalam teologi tubuhnya sebagai titik berangkat dari refleksi teologisnya mengenai hidup perkawinan dan keluarga. Saya sudah beberapa kali membaca teks ini. Mengenai larangan perceraian, larangan berzinah, pertanyaan orang-orang Farisi mengenai ijin yang diberikan Musa untuk bercerai dan memberi surat cerai. Terhadap itu semuanya, Yesus memberi tanggapan dengan menyinggung kembali apa yang terjadi dan ditetapkan sejak awal mula. Teks yang diangkat Yesus sebagai teks pada awal mula itu ialah kitab Kejadian 1:26-28. Di sana kita baca Allah menciptakan manusia, menurut gambar dan citraNya, dan Ia menciptakan mereka pria dan wanita. Lalu Yesus mengingatkan akan beberapa konsekwensi yaitu bahwa pria akan meninggalkan ibu bapanya dan bersatu dengan isterinya. Dengan demikian mereka bukan lagi dua melainkan satu daging. Lalu diakhiri dengan penegasan bahwa apa yang telah dipersatukan Allah, janganlah diceraikan oleh manusia. Jadi, perkawinan adalah suatu persatuan pria dan wanita yang dikehendaki, direncanakan, dan diteguhkan Allah. Sifat perkawinan yang tidak terceraikan, itu karena Allah yang menetapkan dan menentukannya. Kalau itu hanya sebuah lembaga sosial-manusiawi belaka, maka silahkan saja dibongkar pasang sesuka hati, sebagaimana yang terjadi dalam beberapa kalangan. Tetapi dalam kalangan Katolik hal itu tidak segampang itu.

Nah, hal yang menarik bagi saya ialah bahwa sesudah berbicara tentang larangan bercerai dan larangan berzinah dengan mengacu kepada awal mula, baik injil Mateus maupun Markus sama-sama berbicara tentang tindakan Yesus yang memberkati anak-anak. Ketika pada pagi hari ini saya membaca dan merenungkan hal itu, tiba-tiba muncul dalam benak kalbu saya, apakah urutan seperti itu memang ada artinya? Ataukah urutan itu hanya urutan yang acak dan serba kebetulan saja? Semula saya memang beranggapan demikian, yaitu bahwa urutan itu adalah kebetulan dan acak saja. Tetapi setelah pada pagi hari ini saya membacanya lagi, muncul sebuah pikiran baru, terutama dalam rangka buku teologi perkawinan yang sedang saya tulis.

Ilham yang saya maksudkan bahwa kedua penginjil itu tidak kebetulan mengurutkan kedua peristiwa itu satu sesudah yang lain. Kisah Yesus memberkati anak-anak ditempatkan langsung sesudah Yesus meneguhkan sifat tidak terceraikannya perkawinan. Dalam pembacaan imajiner dan interpretatif saya yang kreatif, saya membayangkan bahwa Yesus memberkati anak-anak karena anak-anak itulah hasil dari sebuah perkawinan. Kalau sebuah perkawinan rusak maka yang pertama-tama menjadi korban ialah anak-anak hasil dari perkawinan itu sendiri. Maka melindungi keutuhan perkawinan dan memberi pendasaran sifat tidak terceraikannya perkawinan itu secara teologis, Yesus sebenarnya ingin melindungi anak-anak. Itulah pesan simbolis yang mau disampaikan. Seakan-akan Yesus mau mengatakan bahwa anak-anak ini akan menjadi korban dan terlantar serta tidak terberkati kalau mereka tidak hidup di dalam hidup perkawinan dan keluarga (rumah tangga) yang harmonis. Jadi, betapa penting artinya keutuhan hidup rumah tangga itu bagi kesejahteraan hidup anak. Baik itu kesejahteraan ekonomis, terutama kesejahteraan rohani, spiritual mereka.

Jadi, kalau Yesus memberkati anak-anak sesudah ia menegaskan sifat tidak terceraikannya perkawinan, maka sesungguhnya Ia mau mengatakan dengan tegas bahwa anak-anak mempunyai hak atas kebahagiaan. Jangan merampas hak anak-anak akan kebahagiaan dengan membuat mereka menjadi terlantar karena rumah tangga orang tua mereka runtuh karena sifat ingat diri mereka yang sangat berlebih-lebihan. Bagaimana pun juga cinta membutuhkan pengorbanan. Pengorbanan itulah yang bisa memaknai cinta kasih dalam relasi orang tua dan anak, suami dan isteri. Maka dengan tepat orang merumuskan sebuah semboyan yang didasarkan atas pemikiran-pemikiran teologis Yohanes Paulus II tentang perkawinan: Better marriage, holier culture. Kalau perkawinan kita menjadi semakin lebih baik, maka akan tumbuh atau terciptalah sebuah kebudayaan yang lebih suci juga. Sebaliknya, kalau perkawinan menjadi rusak, maka cepat atau lambat akan muncul kebudayaan yang tidak kudus, yang kotor, yang kosong. Betapa hidup tidak dapat dilandaskan pada sebuah kebudayaan yang hampa makna.


No comments:

PEDENG JEREK WAE SUSU

Oleh: Fransiskus Borgias Dosen dan Peneliti Senior pada FF-UNPAR Bandung. Menyongsong Mentari Dengan Tari  Puncak perayaan penti adala...