Tuesday, October 28, 2008

BERANGKAT KE DAMASKUS

Oleh: Fransiskus Borgias M., (EFBE@fransisbm)

Ada suatu misteri kedekatan tertentu yang kita rasakan pada saat kita coba berkenalan dengan dan mengenal sosok pribadi Saulus. Entah mengapa, dan entah bagaimana. Dia yang telah “diterpa” oleh cahaya Api Ilahi dalam perjalanan ke Damaskus itu sudah terjatuh. Terjungkal, kalah. Rubuh. Patah. Bahkan mungkin mengucurkan darah. Tetapi kendati itu semua, ia bisa bangkit lagi, penuh diliputi oleh suatu keajaiban yang tidak dapat dipahami; seakan-akan rahmat ilahi sedang meliputi dia, dan ia sudah dapat merasakannya kendati dan justeru di dalam kekalahannya.

Pengalaman ini memang sangat aneh. Tetapi kita seakan-akan tidak merasa terasing dari pada pengalaman itu. Ya, mungkin karena kita sendiripun dewasa ini dan saat ini sebenarnya sedang menempuh dan menelusuri jalan yang sama, walau mungkin tidak seradikal Saulus.

Di samping Yesus, dialah tokoh dari Perjanjian Baru yang kita rasakan paling hidup, paling akrab. Mungkin karena tentang dia diberi cukup banyak pelukisan rinci di dalam Perjanjian Baru. Sedemikian rincinya sampai kita pun bisa membayangkan wajahnya secara visual dan hal itu sangat jelas. Masalah-masalah yang ia hadapi adalah masalah-masalah yang masih kurang lebih sama dengan masalah yang kita hadapi dan menyibukkan dan menimpa kita dewasa ini.

Manakala kita mendengar ucapan-ucapan dia, entah itu ucapan yang terkenal maupun ucapan yang kurang begitu terkenal, serta merta kita merasakan suatu nada jiwa dan hati yang menyimpan satu rasa kepercayaan yang kuat, yang sulit terlupakan, yang hanya bisa ada pada diri orang-orang yang telah mengalami pengalaman tragis kehidupan ini. Dan pengalaman pahit itulah yang telah mematangkan dia. Jadi, kalau kita merasa akrab dengan Saulus, mungkin itu tidak lain karena kita berada pada tataran pengalaman dan persoalan hidup yang sama. Itu sebabnya studi dan penelusuran tentang Saulus masih tetap penting dan tetap relevan juga dewasa ini.

Keyakinan itulah yang telah mendorong saya menulis untaian refleksi ini apalagi mulai bulan Juni 2008 nanti sampai Juni 2009 oleh Paus Benediktus XVI telah ditetapkan sebagai Tahun Paulus. Inilah cara saya ikut ambil bagian dalam perayaan dua milenium Paulus itu. Saya berharap bahwa apa yang saya tulis ini bisa mengantar kita dengan satu dan lain cara kepada Paulus. Saya juga berharap bahwa apa yang saya usahakan di sini juga bisa menjadi sumber ilham pembaharuan semangat hidup Kristianitas kita sebagaimana halnya dahulu Paulus juga telah menjadi sumber ilham bagi jemaat-jemaat yang didirikannya. Kalau dulu ia mengirim surat, maka sekarang saya menulis butir-butir refleksi ini. Tidak semuanya adalah hasil studi ilmiah. Ada yang merupakan hasil imajinasi. Tetapi dengan mengikuti Murray Bodo, saya pun yakin bahwa imajinasi menyimpan sejarah dengan caranya sendiri. Maka imajinasi juga bersejarah dan mengandung sejarah.

Walau mungkin pendekatan ini sudah ketinggalan jaman, tetapi saya tetap mau memakainya, yaitu memakai Kisah Para Rasul sebagai titik tolak untuk mengisahkan hidup Paulus. Ini saya tempuh karena bagaimana pun juga Kisah Para Rasul adalah salah satu endapan sejarah dari pergulatan, perjuangan, dan pengalaman hidup gereja pertama. Memang ini bukan sebuah studi ilmiah. Melainkan sebuah kisah. Lebih tepat sebuah novel biografis tentang Paulus. Bahasanya nanti tercampur baur antara prosa dan puisi. Tetapi saya membiarkannya saja mengalir spontan begitu saja. Juga tercampur baur antara kisah dalam diri orang pertama, maupun kisah dalam diri orang kedua atau orang ketiga. Terkesan kacau-balau. Namun demikian saya tetap berharap ia tidak menjadi sekadar sampah melainkan menjadi kompos yang bisa menyuburkan kesadaran historis kita semua. Semoga.


No comments:

PEDENG JEREK WAE SUSU

Oleh: Fransiskus Borgias Dosen dan Peneliti Senior pada FF-UNPAR Bandung. Menyongsong Mentari Dengan Tari  Puncak perayaan penti adala...