Monday, September 8, 2008

Jiwa di Api Penyuci, Orang Kudus, Kesucian Gereja

Sari Firman Minggu November 2008 I

Oleh: Fransiskus Borgias M.

Sabtu 01 November 2008: Bac: Why.7:2-4,9-14; 1Yoh.3:1-3; Mat.5:1-12a. Bulan November adalah sebuah bulan yang sangat indah dalam kenangan liturgis saya, karena bulan ini diawali dengan sebuah hari raya yang sangat unik, yaitu Hari Raya Semua Orang Kudus. Saya selalu tergoda dengan pertanyaan ini, mengapa gereja, setelah sepanjang tahun merayakan orang kudus setiap hari, masih menyediakan satu hari khusus untuk hari raya semua orang kudus? Jawaban saya sangat sederhana. Karena gereja takut jangan sampai ada orang kudus yang tidak diketahui oleh gereja, dan karena tidak dikenal maka tidak dirayakan, padahal orang itu sudah ikut ambil bagian di dalam kekudusan hidup Allah, yang adalah kudus, satu-satunya yang kudus, sumber segala kekudusan (seperti kata salah satu Prefasi Doa Syukur Agung kita). Takut jangan sampai ada yang terlewatkan maka gereja menyediakan satu hari khusus untuk “semua orang kudus” yang mungkin hanya diketahui Allah. (Saya uraikan hal ini dalam buku Menimba Kekayaan Liturgi, Yayasan Pustaka Nusatama, Yogyakarta, 2008, hal.13-30). Injil hari ini memuat tentang ucapan “sabda bahagia” yang sangat terkenal itu. Kiranya orang-orang kudus yang kita rayakan hari ini (termasuk mereka yang tidak diketahui Gereja) adalah orang-orang yang disebut bahagia di dalam injil ini. Dan salah satu tujuan kita merayakan orang kudus ialah agar kita bisa belajar sesuatu, yaitu teladan dan keutamaan hidup dari mereka agar kita juga bisa menjadi orang yang berkeutamaan. Semoga demikian adanya.

Minggu 02 November 2008: Bac: 2Mak.12:43-46; 2Kor.4:14-5:1; Luk.23:33,39-43. Setelah kemarin kita merayakan semua orang kudus, maka hari ini kita memperingati arwah semua orang beriman. Apa arti penting peringatan ini? Bagi saya paling tidak satu hal ini. Kita diingatkan terus menerus bahwa kita sebagai gereja, tetap mempunyai ikatan abadi dengan gereja yang sudah berjaya. Sebab kita yang masih di dunia ini disebut gereja berjuang, dan persekutuan para kudus (communio sanctorum) di surga disebut gereja berjaya. Tetapi bagaimana dengan mereka yang masih berada di api penyucian? Mereka juga sebenarnya sudah lewat dari sini, tetapi belum sampai di sana. Mereka masih membutuhkan doa kita. Itu sebabnya gereja mendorong kita untuk berdoa bagi mereka, agar mendapat istirahat kekal dalam cahaya abadi kasih Allah, sehingga dalam Requiem kita bernyanyi: Lux aeterna, luceat eis domine, cum sanctis suis in aeternum, quia pius est. Itu sebabnya hari ini kita baca dari Kitab 2Makabe karena di sana ada dasar untuk doa bagi orang yang sudah meninggal. Itu juga sebabnya hari ini kita membaca Injil Lukas yang berkisah tentang orang yang bertobat di salib dan langsung diterima Yesus dalam Firdaus. Kita juga berdoa bagi jiwa-jiwa di api penyucian agar sudi diterima Allah di dalam kebahagiaan abadi, dalam cahaya kekal.

Minggu 09 November 2008: Bac: Yeh.47:1-2,8-9,12; 1Kor.3:9b-11,171-7; Yoh.2:13-22. Injil hari ini berbicara tentang tindakan Yesus yang menyucikan Bait Allah di Yerusalem. Bacaan ini sangat tepat dibacakan hari ini, karena hari ini adalah pesta pemberkatan Gereja Basilik Lateran. Inti upacara pemberkatan ialah membersihkan gereja dari segala sesuatu yang tidak terkait dengan eksistensi gereja itu, dan sekaligus membaktikan keberadaan gereja itu hanya kepada dan bagi Allah saja dan bukan bagi yang lain. Hari ini kita baca bagaimana Yesus mengusir para pedagang dari Bait Allah di Yerusalem. Sebab rupanya untuk kepentingan persembahan orang membutuhkan binatang korban. Hal itu sudah dimonopoli oleh para imam untuk penetapan ketahirannya sebagai binatang korban. Begitu juga dengan uang persembahan. Hanya uang khusus Bait Allah saja yang diperkenankan. Itu sebabnya di sana ada bank penukar uang (money changer), sehingga suasananya menjadi seperti tempat jagal hewan dan pasar modal, pasar saham. Itulah yang dibersihkan Yesus. Semoga kita juga bisa menjaga gereja kita, agar tidak berkembang menjadi tempat dagang, yang mengganggu ibadat kita. (EFBE@fransisbm).


No comments:

PEDENG JEREK WAE SUSU

Oleh: Fransiskus Borgias Dosen dan Peneliti Senior pada FF-UNPAR Bandung. Menyongsong Mentari Dengan Tari  Puncak perayaan penti adala...