Monday, September 8, 2008

Evangelisasi, Pajak,

Sari Firman Minggu Oktober 2008 II

Oleh: Fransiskus Borgias M.

Minggu 19 Oktober 2008: Bac: Yes. 45:1,4-6; 1Tes.1:1-5b; Mat.22:15-21. Hari ini, adalah Hari Minggu Evangelisasi (lihat kalender liturgi). Inilah Minggu yang ditetapkan khusus oleh gereja untuk memberi perhatian terhadap Penginjilan, penyampaian kabar baik, mewartakan kabar gembira tentang Yesus Kristus. Inti warta itu ialah Yesus shalom kita. Semoga kita bisa mewartakan Yesus itu, termasuk Yesus yang pandai menjawab pertanyaan seperti yang kita baca hari ini. Injil hari ini berbicara tentang upaya orang Farisi menjerat Yesus. Pelbagai cara mereka gunakan untuk menjebak-Nya. Kali ini mereka menjebak Yesus dengan pertanyaan yang “nyerempet” ke soal politik yang saat itu merupakan sebuah isu yang sangat rawan ditafsirkan dengan pelbagai cara. Isu politik yang diangkat ialah kewajiban membayar pajak kepada Kaisar. Orang Farisi bertanya: boleh ataukah tidak membayar pajak kepada Kaisar? Jawaban atas pertanyaan ini sangat menentukan nasib Yesus sesudahnya. Tetapi Yesus tidak mau terjebak dalam perangkap yang mereka pasang. Maka secara sangat taktis Yesus meminta agar mereka sudi menunjukkan mata uang pajak itu. Di situ ada gambar dan tulisan tangan (tanda tangan). Ternyata gambar dan tulisan itu adalah kepunyaan Kaisar. Maka dengan sangat gampang Yesus menjawab pertanyaan yang menjebak itu. Seandainya Yesus tidak melihat gambar itu, maka mungkin Ia akan memberikan jawaban yang tidak seperti yang kita baca sekarang. Kalau hal itu terjadi maka Yesus bisa dikenakan tuduhan “membangkang atau memberontak terhadap kaisar.” Sebab saat itu, tidak membayar kepada kaisar dianggap sebagai bentuk pembangkangan dan pemberontakan. Sebagai orang Kristiani kita juga punya kewajiban politis-etis kepada negara. Itulah pesannya.

Minggu 26 Oktober 2008: Bac: Kel.22:20-26; 1Tes.1:5c-10; Mat.22:34-40. Injil hari ini berbicara tentang Hukum paling utama. Kalau minggu lalu orang Farisi coba menjebak Yesus dengan pertanyaan “politik, maka kali ini mereka coba menjebak Yesus dengan pertanyaan di bidang keagamaan, seperti yang juga dilakukan oleh orang Saduki dalam bagian sebelumnya dari bacaan ini. Tujuannya tetap sama, yaitu menjebak Yesus, kalau-kalau Yesus “salah” menjawab. Kalau Yesus menjawab dengan salah, maka ada alasan bagi mereka untuk menangkapnya. Begitu juga kali ini, mereka mencoba lagi, siapa tahu Yesus bisa memberikan jawaban yang salah di bidang keagamaan. Tetapi sekali lagi, dalam hal ini pun Yesus bisa menjawab dengan sangat tepat. Yesus menjawab pertanyaan jebakan itu dengan mengutip kitab Taurat (Perjanjian Lama). Menurut kutipan yang diambil Yesus itu, ada dua perintah paling utama, yaitu perintah mengasihi Allah (ayat 37, dikutip dari Ul.6:5), dan perintah mengasihi sesama (ayat 39, dikutip dari Im.19:18). Dan yang terpenting lagi ialah bahwa kedua hukum itu sama. Artinya, keduanya saling erat terkait satu sama lain. Yang satu terkait dengan yang lain, yang lain terkait dengan yang satu. Kita tidak dapat melakukan yang satu dan mengabaikan yang lain. Yang satu ditampakkan di dalam yang lain. Cinta kepada Allah, harus ditampakkan dalam cinta akan sesama. Cinta akan sesama seharusnya mengalir dari iman yang membuahkan cinta akan Allah. Dan yang lebih penting lagi, dalam ayat 40, Yesus memberikan sebuah penegasan yang sangat penting. Bahwa seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi tergantung pada kedua hukum itu. Jadi, betapa penting dan sangat mendasarnya perintah cinta itu, yang serentak bersayap ganda, sayap horizontal (dimensi etis-humanis) dan saya vertikal (dimensi transendental-teologis). (EFBE@fransisbm)


No comments:

PEDENG JEREK WAE SUSU

Oleh: Fransiskus Borgias Dosen dan Peneliti Senior pada FF-UNPAR Bandung. Menyongsong Mentari Dengan Tari  Puncak perayaan penti adala...