Thursday, August 14, 2008

Fransiskus Asisi, Kebun Anggur, Perjamuan Kawin

Sari Firman Minggu Oktober 2008 I
Sabtu 04 Oktober 2008: Bac. Ayb.42:1-3,5-6,12-16; Luk.10:17-24 atau Gal.6:14-18; Mat.11:25-30. Hari ini adalah pesta wajib St.Fransiskus Asisi. Untuk beberapa kalangan, ini bukan hanya sekadar pesta wajib, melainkan termasuk kategori hari raya. Itu berlaku bagi keluarga besar Fransiskan-Fransiskanes. Bagi mereka, hari ini merupakan puncak triduum yang dimulai sejak 2 Oktober (pesta malaekat Pelindung, ada baiknya kita ingat lagi pesta wajib ini, sebab ini menjadi salah satu sumber kekuatan moral dan suara hati). Pada 3 Oktober dilanjutkan dengan Transitus, yaitu mengenang beralihnya (transitus) Fransiskus dari hidup di dunia ini ke hidup abadi. Fransiskus adalah santo besar. Tahun 1979 Yohanes Paulus II mengangkat dia menjadi pelindung ekologi. Hal itu dikukuhkan PBB. Maka ia menjadi santo dunia. Saya mengangkat dia di sini karena saat ini kita mengalami krisis ekologi yang mengerikan dengan istilah baru global warming. Kecintaan dan keakraban Fransiskus dengan ciptaan kiranya bisa menjadi ilham baru bagi kita untuk berelasi dengan dunia sekitar kita. Saya juga mengangkat tokoh ini di sini, karena di paroki kita ada pengikut atau pengagum Fransiskus Asisi. Saya adalah salah satu nya. Pak Eddy Wibowo (assiten I DPP) juga anggota ordo ketiga awam Fransiskan. Mungkin masih ada yang lain, yang belum saya ketahui. Mari kita rayakan Fransiskus dan bersama dia mencintai alam dan lingkungan sekitar kita.
Minggu 05 Oktober 2008: Bac: Yes.5:1-7; Flp.4:6-9l; Mat.21:33-43. Perumpamaan yang kita baca di sini masih merupakan rangkaian perumpamaan Yesus yang disampaikan dalam rangka konfrontasinya dengan orang Yahudi. Jelas ini adalah kisah kilas balik kristologis orang Kristiani mengenai peran dan kedudukan Yesus. Dikisahkan bahwa ada seorang kaya yang membangun sebuah kebun anggur (mengingatkan kita akan lagu kebun anggur dalam kitab Yesaya). Seluruh alur perumpamaan itu menjadi sebuah metafora sejarah keselamatan. Ada banyak yang diutus ke kebun anggur itu untuk menuai panen. Tetapi selalu gagal karena para utusan diperlakukan dengan keras dan kasar. Akhirnya yang diutus adalah sang anak sendiri. Ternyata nasibnya pun sama: mati. Akhirnya sang tuan sendiri yang datang. Itulah hari pengadilan, hari penghakiman. Jelas, istilah anak kesayangan itu mengacu kepada seluruh peristiwa Yesus, Anak kesayangan Allah. Ia pun mati di kayu salib, artinya ditolak juga (apalagi para nabi sebelumnya). Karena itu, keselamatan akan diambil dari mereka dan diberikan kepada orang lain. Itulah yang menjadi pesan pokok dari untaian perumpamaan yang indah dan menarik ini.
Minggu 12 Oktober 2008: Bac: Yes.25:6-10a; Flp.4:12-14,19-20; Mat.22:1-14. Perumpamaan ini sulit dipahami kalau kita meneliti detail kisah itu. Ada seorang raja yang mengadakan perjamuan kawin secara meriah. Tetapi undangan yang resmi diundang tidak datang, karena berhalangan. Jadi mereka tidak pantas. Padahal perjamuan sudah tersedia, tetapi tetamu undangan tidak ada. Maka muncullah ayat 9 yang terkenal itu. Terkenal karena sering dijadikan sebagai metafor keras untuk memaksakan orang-orang masuk ke dalam gereja lewat baptisan. Sebab ayat itu berkata: pergilah ke semua persimpangan jalan, dan bawa (seret, tarik) siapa saja ke dalam pesta perjamuan itu. Pokoknya semua dikerahkan. Tidak ada lagi kriteria. Tetapi celakanya, ketika sang tuan masuk, ternyata ia mendapati ada orang yang berpakaian tidak layak. Ketika hal itu ditanyakan, orang itu tidak menjawab. Saya kira itu wajar, karena ia tidak tahu apa-apa. Bukankah ia dipaksa masuk. Akibatnya, ia pun diseret keluar ke dalam kegelapan. Kuncinya ialah: banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih. Itulah misteri kerajaan Allah. Semoga kita termasuk dalam sedikit yang dipilih itu. Tetapi ingat, bahwa yang memilih itu Allah, bukan manusia. Kriteria manusia ialah memasukkan semuanya biar Allah yang memutuskan dan menentukan. (EFBE@fransisbm).

No comments:

PEDENG JEREK WAE SUSU

Oleh: Fransiskus Borgias Dosen dan Peneliti Senior pada FF-UNPAR Bandung. Menyongsong Mentari Dengan Tari  Puncak perayaan penti adala...