Tuesday, June 17, 2008

Metafor-metafor Kerajaan Allah

Sari Firman Minggu Juli 2008 II

Minggu 20 Juli 2008: Bac: Keb.12:13,16-19; Rm.8:26-27; Mat.13:24-43. Injil kita hari ini sangat panjang. Tetapi dalam versi pendeknya kita dianjurkan membaca Mat.13:24-30. Itu berarti kita hanya membaca satu perumpamaan dari tiga perumpamaan yang ada. Perumpamaan pertama, tentang lalang di antara gandum. Itulah yang dibaca hari ini. Perumpamaan kedua tentang biji sesawi; yang ketiga tentang ragi. Ketiga perumpaan itu dipakai Tuhan untuk menerangkan Kerajaan Surga. Perumpamaan yang dibacakan hari ini, artinya dijelaskan pada ayat 36-43. Kita dalami saja perumpamaan yang pertama ini. Ada beberapa hal yang bisa dikemukakan. Pertama, bahwa pekerjaan baik kita di tengah dunia ini bisa diganggu oleh macam-macam hal lain yang buruk. Ada saja orang yang menebarkan benih yang tidak baik di ladang yang sudah kita jaga dan rawat dengan baik. Kalau sudah terjadi demikian, mudah sekali kita tergoda untuk meninggalkan begitu saja ladang itu. Bahkan kita juga bisa tergoda untuk gegabah karena tidak sabar, segera membersihkan apa saja yang tidak kita tanam atau taburi di sana. Tetapi, kedua, pada saat seperti ini kita diajari sebuah kearifan eskatologis. Intinya hanya mau mengatakan bahwa kita jangan main hakim sendiri. Sebab tindakan main hakim sendiri akan mendatangkan akibat yang sangat buruk juga untuk hal-hal yang baik yang sudah kita taburkan. Mungkin benar kata pepatah: Kalah jadi abu, menang jadi arang. Kearifan eskatologis itu mengajarkan kita untuk menyerahkan semuanya kepada Allah. Biarkan Allah saja yang mengadili dan menilai. Bukan kita. Semoga kita cukup sabar dengan pelajaran kearifan eskatologis ini, supaya kita tidak main hakim sendiri dalam hidup di dunia ini.

Minggu 27 Juli 2008: Bac: 1Raj.3:5,7-12; Rm.8:28-30; Mat.13:44-52. Injil yang kita baca hari ini juga termasuk sebuah teks yang sangat terkenal. Juga termasuk sebuah perumpamaan tentang kerajaan Allah. Ada tiga hal yang diangkat di sini untuk dipakai sebagai perumpamaan (metafor) kerajaan surga. Yang pertama, perumpamaan harta terpendam di sebuah ladang. Yang kedua, perumapaan tentang mutiara yang sangat berharga yang ditemukan seorang pedagang. Yang ketiga, perumpamaan tentang jalan yang besar. Teks injil ini juga sangat panjang. Tetapi dalam versi pendeknya kita dianjurkan untuk membaca Mat.13:44-46 saja. Jadi, kita hanya mendengar dua perumpamaan pertama. Kedua perumpamaan ini hanya mau menekankan bahwa kerajaan Allah itu adalah sesuatu yang sangat berharga, sesuatu yang nilainya sangat tinggi. Sesuatu yang sangat mulia. Kalau orang sudah menemukannya, maka orang akan rela mengorbankan segala sesuatu, untuk mendapatkannya. Menemukan di sini artinya ialah mengalami, merasakan Allah yang meraja dalam hati kita. Seorang penggali harta karun, seorang pencari harta karun di lautan, akan rela mengorbankan apa saja untuk mendapatkan harta terpendam yang dicarinya. Bahkan ia juga rela mengorbankan nyawanya. Jadi, kalau orang mau merelakan apa saja demi harta duniawi, apalagi kalau orang menemukan harta surgawi. Ia akan terlebih lagi mau dan rela mengorbankan segala sesuatu untuk mendapatkannya. Sedangkan perumpamaan yang ketiga (yang tidak termasuk dalam bacaan yang dianjurkan) berbicara tentang jala yang besar. Sayang kalau perumpamaan ketiga ini dilewatkan, sebab dalam perumpamaan ini diberikan sebuah kriteria mengenai seleksi untuk dapat masuk ke dalam kerajaan Surga. Kriteria itu ialah mutu hidup kita. Orang yang hidupnya baik akan dipisahkan dari orang yang hidupnya buruk. Lalu akan diadili menurut perilaku mereka masing-masing. Mudah-mudahan mutu kita baik adanya. (EFBE@fransisbm).

No comments:

PEDENG JEREK WAE SUSU

Oleh: Fransiskus Borgias Dosen dan Peneliti Senior pada FF-UNPAR Bandung. Menyongsong Mentari Dengan Tari  Puncak perayaan penti adala...