Saturday, February 8, 2014

MEMAHAMI DAN MENIKMATI MAZMUR 103

Oleh: Fransiskus Borgias M.,


Sudah layak dan sepantasnya jika umat manusia memuji dan memuliakan Tuhan dalam dan selama hidupnya di muka bumi ini. Sudah seharusnya seluruh struktur hidup manusia adalah sebuah hidup yang bersyukur dan memuji Tuhan selalu. Tidak bisa lain, walaupun saya tahu bahwa ada yang tidak setuju dengan pandangan seperti ini. Mereka itu adalah orang-orang ateis, yang tidak bisa menerima struktur dasar hidup manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Sebagai makhluk ciptaan tidak ada cara lain bagi manusia selain melaksanakan hidup bersyukur dan memuji ini. Tetapi ternyata hal itu tidak selalu berjalan otomatis dan mulus begitu saja. Ada saja manusia yang menjauhkan diri dari Tuhan. Ada saja manusia yang berusaha menyangkal Allah, tidak mau mengakui keberadaan Allah itu. Dalam pembacaan dan penafsiran saya, Mazmur 103 ini mencoba menampilkan kepada kita model hidup manusia yang penuh dengan rasa syukur tersebut; hal itu dimaksudkan agar dapat menjadi model bagi kita sekarang dan di sini untuk dipelajari, dihayati dan diterapkan dalam kehidupan pribadi kita masing-masing di tengah masyarakat.

Tetapi sebelum melangkah lebih jauh terlebih dahulu saya mencoba mengatakan beberapa hal penting terkait dengan catatan teknis mengenai mazmur ini. Corak dan warna dasar ini sebagai mazmur pujian kiranya sudah tampak jelas dari judul mazmur ini dalam Alkitab kita: “Pujilah Tuhan, hai jiwaku.” Mazmur ini termasuk cukup panjang yaitu ada 22 ayat; mungkin saja aslinya mazmur ini disusun secara akrostik yaitu menurut jumlah alfabet Ibrani, sebagai semacam “jembatan keledai” untuk memudahkan proses penghafalan bagi para murid yang mau mempelajarinya. Untuk memudahkan proses penjelasan dan pemahaman atas mazmur ini saya akan membagi mazmur ini ke dalam empat bagian besar. Bagian I mencakup ayat 1-5; Bagian II meliputi ayat 6-14. Kemudian Bagian III meliputi ayat 15-18. Akhirnya Bagian IV meliputi ayat 19-22. Dalam bagian berikut ini saya mulai dengan melihat Bagian Pertama.

Dalam Bagian I ini pemazmur mengajak dirinya sendiri (jiwa) untuk memuji dan memuliakan Tuhan (ayat 1-2), untuk memuji nama-Nya. Ia mengingatkan dirinya sendiri agar jangan sampai ia melupakan segala kebaikan Tuhan. Dalam ayat 3-5 ia mendaftarkan segala kebaikan Tuhan yang telah ia rasakan dan alami dalam hidupnya di dunia ini dan di tengah-tengah masyarakat. Antara lain misalnya disebutkan di situ bahwa ia patut bersyukur kepada Tuhan karena Ia yang mengampuni dosa, dan menyembuhkan sakit, Ia yang meluputkan manusia dari alam maut. Lebih dari itu, Tuhan yang memahkotai manusia itu dengan kasih setia dan rahmat yang berlimpah, Tuhan yang memberikan segala kebaikan kepada manusia sehingga hidup manusia itu terbarukan senantiasa hal itu diwujudkan. Di sini ia memakai sebuah metafor rajawali dengan proses dan pengalaman pembaharuan hidupnya.

Alasan pujian dan syukur itu masih diteruskan pada Bagian II mazmur ini. Dalam ayat 6 diajukan alasan bahwa Tuhan menegakkan hukum dan keadilan bagi orang-orang yang tertindas. Mazmur ini mewartakan Tuhan yang berada dan berpihak pada kaum tertindas, dan bukan memihak para penindas. Lalu si pemazmur itu menengok pada pelbagai karya Tuhan dalam sejarah di mana Tuhan menuntun Musa dan orang-orang Israel dengan hukum dan karya-karya-Nya. Semuanya itu adalah penyelenggaraan historis dari Tuhan bagi umat Israel. Sadar akan penyelenggaraan historis dari Tuhan itu maka si pemazmur pun menyatakan pengalaman imannya akan Tuhan, bahwa Tuhan itu selalu berbuat baik bagi hidup manusia. Intinya (ayat 9-14), Tuhan tidak lagi ingat akan dosa-dosa kita, Ia ingat akan kefanaan dan kerapuhan kita, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar, dan berlimpah kasih-setia (ayat 8).

Setelah di atas ia memandang kepada sifat-sifat Tuhan, sekarang dalam Bagian III, ia menukik lagi kepada sifat atau corak dasar hidup manusia. Di sini ia menegaskan akan kefanaan dan kerapuhan hidup manusia itu dengan memakai metafora bunga dan rerumputan yang hanya hidup barang sebentar saja, tumbuh dan mekar di waktu pagi, layu dan lingsut di waktu petang (ayat 15-16). Hal itu kembali ia kontraskan dengan kasih setia (hesed) Tuhan yang kekal abadi. Ia juga menegaskan keadilan Tuhan bagi orang yang setia pada hukum dan perjanjian Tuhan (ayat 17-18). Si Pemazmur itu rasanya seperti terhibur oleh kesadaran akan kekekalan kasih setia Tuhan, sebab dalam konteks kekekalan (keabadian) itu, hidup fana manusia seakan-akan mendapat bingkai nyata yang dapat memaknainya secara eksistensial dan mendasar.

Dalam bagian terakhir ini si pemazmur kembali lagi kepada Tuhan. Ia menyatakan bahwa Tuhan sudah berkuasa di langit. Segala sesuatu tunduk dan menyembah kepada-Nya. Oleh karena itu, dalam tiga ayat yang terakhir ia hanya mengajak tiga makhluk ciptaan-Nya untuk memuji dan memuliakan Dia. Itu sebabnya ketiga ayat terakhir ini dimulai dengan sebuah ajakan “Pujilah.....” Dengan demikian ajakan “Pujilah” yang di bagian awal mazmur ini (ayat 1-2), bergema kembali di bagian akhir mazmur ini (ayat 22-22), sehingga ajakan itu membentuk semacam inklusi (pembingkai) antara awal dan akhir mazmur.

Manakah ajakan itu? Mula-mula ia mengajak para malaekat dan para pahlawan (ayat 20). Kemudian ia mengajak para bala tentara surgawi dan para pejabat di surga untuk memuji-Nya (ayat 21). Akhirnya dalam ayat 22 ia mengajak segala hasil ciptaan-Nya untuk memuji dan memuliakan Tuhan. Tidak lupa ia juga mengajak dirinya sendiri (jiwaku) untuk memuji Tuhan, sebab jangan sampai terjadi ia mengajak dan menyuruh orang lain untuk memuji Tuhan, sedangkan ia sendiri tidak menaruh peduli sama sekali, seperti seorang ayah yang menyuruh anak-anaknya pergi ke gereja pada hari Minggu, sementara ia sendiri terus saja berbaring di tempat tidur atau di sofa, sambil menonton televisi. Si Pemazmur ini bukanlah tipe orang yang seperti itu. Tentu saja contoh seperti itu tidaklah baik sama sekali. Sebaliknya si pemazmur di sini adalah orang yang mudah tersentuh oleh keagungan karya ciptaan Allah, sekaligus dia juga adalah orang yang bisa mengungkapkan perasaannya dalam bentuk curahan pikiran dalam kata-kata puitis yang indah dan menawan seperti yang dapat kita rasakan dan kita nikmati dalam Mazmur ini.


Dempol, Pertengahan Oktober 2013
Fransiskus Borgias M


1 comment:

Unknown said...

Sangat membangun iman dan harapan dalam Kristus. Amin

PEDENG JEREK WAE SUSU

Oleh: Fransiskus Borgias Dosen dan Peneliti Senior pada FF-UNPAR Bandung. Menyongsong Mentari Dengan Tari  Puncak perayaan penti adala...