Thursday, April 23, 2009

MEMAHAMI DAN MENIKMATI MAZMUR 42

Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransisbm)

Mazmur ini terkenal karena isinya yang indah yang melukiskan kerinduan dan harapan hati manusia. Hal itu terungkapkan dengan padat dalam judulnya: Kerinduan akan Allah. Mazmur ini terdiri atas 12 ayat. Saya menikmatinya dengan menelusuri dua bagian mazmur ini. Bagian pertama ayat 1-6. Bagian kedua ayat 7-12.

Dalam bagian pertama ia mulai dengan melukiskan kerinduan jiwa manusia akan Allah dengan mengambil ibarat rusa haus yang merindukan air. Dalam dunia perburuan, ibarat ini amat terkenal. Kalau rusa haus, karena diburu manusia atau karena alasan lain, maka ia akan merindu sungai. Kerinduan rusa akan sungai berair dipakai pemazmur untuk mengibaratkan kerinduan jiwa akan Tuhan (ay.1-2). Manusia rindu memandang Allah (akhir ay.3). Mengapa manusia dilanda rindu akan Allah? Menurut ay.4 hal itu muncul karena terdorong oleh pertanyaan yang menghina dari orang lain di sekitarnya yang bertanya cemooh: di mana Allahmu? Tetapi ay.5 memberi nuansa dan perspektif lain. Rupanya mazmur ini dipakai sebagai pengiring perjalanan peziarah ke Yerusalem, ke Bait Allah. Dalam semangatnya untuk berdoa di Bait Allah, si pemazmur melukiskan dirinya berjalan dengan langkah cepat dan tegap mendahului orang lain. Ia melangkah dengan suara sorak-sorai dan nyanyian syukur. Jika demikian halnya, maka agak sulit memahami ay.6. Mengapa berbunyi seperti itu? Hal itu juga tidak sulit dipahami. Rupanya jiwa atau hati pemazmur, dilanda kegelisahan karena rindu. Ini suasana psikologis biasa. Kalau seorang anak kecil diajak pergi ke tempat yang sangat disukainya, maka hati anak itu pun akan menjadi gelisah menanti tibanya saat itu. Kegelisahan seperti itulah yang dialami pemazmur. Itulah yang diungkapkannya secara retoris: Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Pemazmur mencoba menenangkan diri dengan mengatakan: hai jiwaku, tidak usah gelisah, sebab sebentar lagi kita akan sampai di bait Allah dan memuji Allah di sana, di tempatNya yang kudus.

Bagian kedua juga amat menarik. Tempat-tempat yang disebut dalam ay.7 kiranya melukiskan tempat dari mana datangnya peziarah ke Yerusalem. Semuanya dilanda gejolak kegelisahan rindu yang sama. Bahkan sedemikian dahsyatnya perasaan rindu itu, sampai ia merasa bahwa seluruh alam juga (diwakili samudera raya, deru air terjun, gelora dan gelombang) ikut ambil bagian dalam sukacita penantian yang penuh resah-gelisah itu (ay.8). Ia merasakan bahwa Tuhan senantiasa menyertai dia di waktu siang dan di waktu malam. Itu sebabnya ia selalu melambungkan doa dan pujian kepada Allah yang diyakini sebagai sumber kehidupan (ay.9).

Ay.10 cukup sulit dipahami. Sebab di sini muncul sebuah pertanyaan yang seakan menggugat Allah: Seakan Allah itu meninggalkan dia dan membiarkan dia hidup dalam himpitan musuh. Para musuh itu tampil dengan pertanyaan filosofis-skeptis: Di manakah Allahmu? (ay.11) Tetapi ini adalah sebuah pengalaman negatif sesaat. Pengalaman itu tetap terasa menghimpit dirinya. Ia merasa tertekan, dilanda resah dan gelisah yang panjang. Tetapi di bawah pengalaman negatif itu, ia tetap yakin dan berharap bahwa Allah adalah segala-galanya dalam hidupnya. Itu sebabnya mazmur ini dalam ay.12 diakhiri dengan sebuah pengharapan yang kuat akan Allah. Si pemazmur memberi motivasi atau alasan kepada jiwanya sendiri: ia harus tetap berharap kepada Allah, sebab Ia adalah penolong dan pelindungnya. Tidak ada yang lain. (Fransiskus Borgias M.).


No comments:

PEDENG JEREK WAE SUSU

Oleh: Fransiskus Borgias Dosen dan Peneliti Senior pada FF-UNPAR Bandung. Menyongsong Mentari Dengan Tari  Puncak perayaan penti adala...