Thursday, May 28, 2020

ORANG YAHUDI YANG PERCAYA PADA YESUS KRISTUS

Oleh: Dr. Fransiskus Borgias

Dosen Teologi Biblika pada FF-UNPAR Bandung

 

 

Beberapa hari lalu saya mendapat sebuah video singkat di WA Group, yang dikirim teman saya, pak Sylvester Manti. Video pendek itu berdurasi kurang lebih lima menit. Video itu berkisah tentang pertobatan seorang Yahudi menjadi pengikut Yesus. Peristiwa pertobatan itu ia istilahkan dengan sebuah rumusan menarik: menerima Yesus dalam diri dan hidupnya. Bagi dia bertobat berarti mau menerima Yesus di dalam hidup dan dirinya. Menarik sekali apa yang ia kisahkan di sana. Itulah yang saya kisahkan kembali dalam kata-kata sendiri, dalam tulisan singkat dan sederhana ini.

Ia mengatakan bahwa dalam sebuah keluarga Yahudi di mana pun di dunia ini selalu ditanamkan (diinternalisasi) sebuah pandangan bahwa Alkitab mereka adalah Tanakh, yang terdiri atas Torah, Nebiim, Ketubim (dan disingkat TANAKH). (Jadi kitab orang Yahudi itu bukan hanya Torah sebagaimana secara salah dipersepsikan oleh salah satu kelompok, sebab faktanya kitab suci orang Yahudi tidak hanya Torakh, melainkan ada juga Nebiim dan Ketubim). Orang Yahudi dalam video pendek itu rupanya tinggal di Italia. Karena itu, ia menyangka bahwa agama Kristen (Katolik) itu muncul di Italia. Bahkan ia juga menduga bahwa Yesus dan pengikutNya yang semula adalah orang Italia. Hal itulah yang ia ketahui dan pegang dan yakini sampai pada suatu saat ia sangat terkejut tatkala mengetahui bahwa agama Kristen itu muncul di tanah Kanaan, di Galilea dan Yudea (dengan sengaja saya tidak menyebut Palestina karena entitas ini adalah sesuatu yang muncul di kemudian hari). Tokoh kita tadi semakin terkejut lagi saat ia mengetahui bahwa Yesus adalah orang Yahudi yang lahir, besar, dan mati di Kanaan itu. Tadinya ia mengira Yesus adalah orang Italia. Dan dia juga bahkan semakin terkejut lagi setelah mengetahui bahwa ternyata agama Kristen itu lahir dari Rahim agama Yahudi juga.

Karena itu, sejak muncul semua pengetahuan dan kesadaran seperti itu, ia pun mulai diam-diam mencari dan menekuni asal-usul agama tersebut. Untuk itu, diam-diam dia mulai membaca Perjanjian Baru, kitab suci orang Kristen (tentu dia salah karena Kitab Suci orang Kristen itu tidak hanya PB, melainkan juga mencakup PL). Yang jelas ialah bahwa selama ini ia selalu diberi gambaran oleh orang tua dan lingkungan agama Yahudi yang ia anut, bahwa apa yang disebut PB adalah kitab yang ditulis oleh orang-orang yang dulu pada abad pertama pernah mengejar dan menganiaya orang Yahudi. Tentu saja informasi itu tidak benar. Bahkan sangat salah secara historis.

Betapa dia sangat terkejut lagi saat ia membaca secara langsung untaian kitab Perjanjian Baru. Untaian pertama ialah Injil Matius. Saat ia membaca bab pertama Injil Matius itu ia terperangah. Di sana dikatakan bahwa Yesus adalah anak Daud, anak Abraham. Jadi, jelas bahwa Yesus (yang ia lafalkan Yeshua, Yoshua) adalah orang Yahudi. Itu adalah fakta historis yang tidak dapat dibantah oleh siapa pun. Lebih terkejut lagi karena selama ini selalu dikatakan di kalangan orang Yahudi bahwa orang Kristen yang semula adalah orang yang menganiaya orang Yahudi. Ternyata setelah ia membaca PB, justru yang terjadi ialah yang sebaliknya, yaitu orang Kristen-lah yang menjadi korban persekusi yang dilakukan orang Yahudi. Jadi, apa yang ia ketahui selama ini berdasarkan pendidikan dalam keluarga Yahudi, merupakan sebuah pembalikan dan penggelapan fakta sejarah yang mengerikan. Orang Yahudi masa kini mencitrakan diri sebagai kelompok yang baik, justru dengan menjelekkan peran orang Kristen jauh di masa silam. Padahal yang sesungguhnya terjadi secara historis ialah orang Kristen yang menjadi korban pengejaran (persekusi) yang dilakukan oleh orang Yahudi yang sangat fanatic dan berteriak-teriak di jalanan menyerukan nama Tuhan untuk menuntut darah orang.

Sejak munculnya kesadaran dan pengetahuan seperti itu, dia pun tidak ragu lagi menjadi Kristiani, dengan menerima Yesus Kristus. Sejak itu ia menjadi Christianoi (istilah yang diambil dari Kisah Para Rasul 11:26). Selama ini ia diam-diam dan merahasiakan hal itu dari lingkungan teman dan keluarganya. Tetapi pada suatu kesempatan, sekelompok orang Yahudi berkumpul dan di dalam perkumpulan itu mereka ditanya siapakah yang percaya dan siap menerima Yesus, ia dengan berani angkat tangan. Selain itu masih ada beberapa orang lain. Yang membuat dia terkejut ialah bahwa ternyata ayahnya juga mengangkat tangan. Ia klarifikasi: “Ayah ini yang ditanya ialah siapa yang percaya pada Yesus. Ayahnya juga tanpa ragu mengatakan, “Ya, saya percaya dan menerima Yesus. Jadi, ternyata ayahnya juga diam-diam sudah lama mempertimbangkan untuk menerima Yesus Kristus di dalam hidupnya.

Saat saya menonton video ini saya tiba-tiba teringat akan untaian kuliah Filsafat Yahudi dulu di STF Driyarkara yang diampu oleh Pater Alex Lanur OFM. Saya ingat, pada suatu saat, di dalam salah satu rangkaian kuliah itu, Pater Alex mengatakan sbb: “Hanya ada dua saja alasan untuk orang Yahudi agar mereka dapat menjadi orang Kristen dan menerima Yesus. Alasan pertama, mereka hidup sejaman dan setempat dengan Yesus. Itulah yang terjadi dengan para rasul dan orang-orang lain dalam PB yang menjadi percaya dan menerima Yesus saat mereka melihat dan mendengar pewartaan-Nya. Tetapi argument ini tidak seluruhnya benar. Sebab banyak orang Yahudi lain pada waktu itu yang tetap tidak percaya pada Yesus walaupun mereka melihat dan mengalami Yesus secara langsung. Bahkan mereka berusaha membunuh Yesus dan nyatanya juga sudah membunuh Yesus.

Alasan kedua, yaitu mereka mengalami sebuah mukjizat di dalam hidup mereka. Jadi, walaupun tidak hidup sejaman dengan Yesus, tetapi kalau mereka mengalami sebuah mukjizat, maka ada kemungkinan mereka akan mau bersedia untuk menerima Yesus dan menjadi pengikut Yesus. Contoh yang paling terkenal kiranya ialah Paulus. Ia yang tadinya adalah seorang pengejar dan penganiaya orang Kristiani, tetapi setelah mukjizat di perjalanan ke Damaskus itu, akhirnya ia bertobat dan menerima Yesus di dalam hidupnya. Kiranya orang di dalam video singkat tadi juga mengalami mukjizat perjumpaan yang membawa sebuah penyingkapan dalam hidupnya.

Akhirnya di sini saya juga ingat akan seorang teologi Yahudi masa kini, tetapi saya lupa namanya. Dalam bukunya ia pernah mengatakan bahwa krisis pembuangan Babel (abad 6 sebelum Masehi) telah mengilhami banyak karya rohani yang agung dalam sejarah dan tradisi Israel. Ia tidak menyebut PB sama sekali. Oleh karena itu, di sini saya menyebut PB juga. Bagi saya PB merupakan salah satu produk literer rohani yang luar biasa mengagumkan yang dihasilkan oleh orang-orang Yahudi pasca krisis penghancuran bait Allah di Yerusalem pada tahun 70 Masehi itu. luar biasa.

 


3 comments:

Unknown said...

Mlm kk Frans...setelah sy baca tulisan ini, kisah orang Yahudi yg masuk Kristen ini sedikit mirip dg kisah Perjumpaan Lora Madura dengan Romo Yesuit.
Bagi sy, dua hal penting dr tulisan yg menarik ini adalah :
1. Sama seperti kisah Lora Madura, dimana, perubahan pandangan,sikap terhadap sesuatu membutuhkan pembelajaran dari pihak lain...
2.Merubah orang lain membutuhkan kesaksian (yang dlm kisah Paulus ite sebut sebagai Mujijat).

Tabe... Komentar sekenanya dari Lalo

Unknown said...

Mlm kk Frans...setelah sy baca tulisan ini, kisah orang Yahudi yg masuk Kristen ini sedikit mirip dg kisah Perjumpaan Lora Madura dengan Romo Yesuit.
Bagi sy, dua hal penting dr tulisan yg menarik ini adalah :
1. Sama seperti kisah Lora Madura, dimana, perubahan pandangan,sikap terhadap sesuatu membutuhkan pembelajaran dari pihak lain...
2.Merubah orang lain membutuhkan kesaksian (yang dlm kisah Paulus ite sebut sebagai Mujijat).

Tabe... Komentar sekenanya dari Lalo

canticumsolis said...

tabe gula ge kraeng dewan...
terima kasih atas komentar yang menarik ini...
dua pengamatan itu sangat tepat dan membantu saya juga...
hehehehehe.... membantu memberi makna baru...
terima kasih atas pembacaan dite hoo...
ini komentar besar e... tidak hanya "sekenanya" apalagi "seenaknya"...
tabe gula ga...

PEDENG JEREK WAE SUSU

Oleh: Fransiskus Borgias Dosen dan Peneliti Senior pada FF-UNPAR Bandung. Menyongsong Mentari Dengan Tari  Puncak perayaan penti adala...