Sunday, November 15, 2009

MENDALAMI DAN MENIKMATI MAZMUR 56

Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransisbm)


Mazmur ini cukup pendek. Judulnya menarik: Kepercayaan kepada Allah dalam kesusahan. Mazmur ini dapat dibagi menjadi tiga bagian. Ini perlu untuk mempermudah pemahaman kita. Bagian I: ay 1-5. Bagian II: ay 6-12. Bagian III: ay 13-14. Latar belakang mazmur ini ialah situasi terancam akan terbunuh. Kita mulai dengan Bagian I.

Dalam ay 2a, ia memohon belaskasihan dari Allah. Itu karena dalam ay 2-3 ada deskripsi singkat tentang situasi hidup; pokoknya hidup itu parah. Ia merasa bakal diinjak-injak dan diperangi musuh atau para lawannya. Situasi itulah yang menyebabkan dia berseru kepada Allah. Ay 4-5 melukiskan beberapa hal. Pertama, ada reaksi dalam hati; ada satu penghayatan dalam hati, yaitu percaya akan Allah. Itu terjadi pada saat ia merasa dilanda ketakutan. Kedua, ada sebuah paradoks yang menarik: takut (ay 4), tetapi tetap percaya (ay 5). Tetapi percaya itu bisa mengatasi rasa takut. Ia percaya bahwa Allah menyertai, maka tidak perlu takut. Jika Allah melindungi aku, maka manusia tidak bisa berbuat apa-apa terhadap aku (Rm.8). Iman mengatasi rasa takut.

Dalam bagian II kita menemukan beberapa hal penting. Pertama, di sini dilukiskan mengenai adanya tuduhan palsu kepada si pemazmur. Itu tampak dalam ay 6: “...mengacaukan perkaraku...” Tetapi ternyata ketakutan itu tidak hilang begitu saja. Oleh karena itu, rasa takut masih bisa muncul lagi pada suatu saat kelak. Mengapa? Itu karena musuh tetap ada. Kedua, dalam ay 7 kita bisa melihat sikap para musuh yang dilukiskan seperti perilaku binatang pemangsa: menyerbu, mengintip, mengamat-amati, persis seperti seekor harimau yang mau menerkam mangsanya. Itulah yang dialami si pemazmur. Ketiga, dalam ay 8 ia memohon kepada Allah, yaitu berteriak kepada Allah, agar Ia sudi menghancurkan orang-orang semacam itu.

Keempat, ay 9 adalah ayat yang paling indah dalam mazmur ini, sebuah ayat yang mampu menyentuh perasaan karena melukiskan suatu relasi yang begitu personal dan intim antara si pemazmur dan Alah. Isinya, melukiskan hubungan intim dan mesra si pemazmur dan Allah. Ini adalah sesuatu yang amat manusiawi. Allah memberi hati, memberi per-hati-an. Itulah yang menjadi sumber hiburan dan kekuatan. Allah tidak melupakan derita hamba-Nya. Mengapa? Karena semuanya sudah terdaftar, dan air mata sudah ditampung dalam kirbat, wadah kantong air. Jadi Allah tidak mungkin lupa atau mengabaikan derita yang tertuang dalam permohonan dan keluh kesah itu. Saya teringat akan sebuah lagu: I will never forget you my people, I have carved you on the palm of my hand....etc. Ay 10 melukiskan bahwa hubungan itu bisa mengatasi rasa takut, sebab musuh mundur (kira-kira seperti dalam ay 4-5). Kelima, ay 11, berbicara tentang pujian yang terus menerus dilambungkan si pemazmur kepada Allah sayang penolong dan penyelamat. Ay 12, praktis hanya mengulang ay 5b.

Akhirnya bagian III. Ay 13-14, ada niat dari si pemazmur untuk ber-nazar dalam bentuk kurban syukur, sacrificium, sesuatu yang menguduskan, membuat menjadi kudus (sacrum facere). Ay 14, alasan untuk bernazar itu, yakni tindakan shalom Allah yang menyebabkan si pemazmur luput dari maut dan juga tidak jatuh dalam ateisme praktis (ay 14b); ya, ia tidak jatuh dalam ateisme, yaitu menjadi murtad. Melainkan ia tetap hidup di dalam dan di hadapan Allah. Memang dalam iman, ia merasa bisa sembuh; dengan itu maka ia pun bernazar.

Wednesday, October 14, 2009

MENDALAMI DAN MENIKMATI MAZMUR 55

Oleh: Fransiskus Borgias M (EFBE@fransisbm)


Mazmur ini cukup panjang, ada 24 ayat. Judulnya: Doa minta tolong terhadap musuh. Saya membagi mazmur ini agar mudah dipahami. Saya membaginya menjadi 5: ay 1-9, ay 10-16, ay 17-20, ay 21-22, ay 23-24. Saya uraikan berdasarkan unit-unit yang ada.

Ia mulai dengan berseru kepada Allah, agar sudi mendengarkan permohonannya (ay 2). Ia meminta agar Allah sudi memperhatikan dan menjawab doanya (ay 3). Dalam ay 3b ia melukiskan dan menjelaskan situasi hidupnya. Ia melukiskan diri sebagai pengembara yang menangis karena dilanda kecemasan. Di sini muncul metafor hidup sebagai pengembaraan. Homo viator, kata Gabriel Marcel. Ia menangis cemas karena sikap musuh yang penuh ancaman terhadapnya (ay 4). Dalam ay 5 ia melukiskan situasi hidupnya yang lain: hatinya dilanda kegelisahan, karena ia berada di ambang batas maut (ay 5). Perasaan ini dilanjutkan dalam ay 6. Di sinipun ia dirundung rasa takut dan gentar.

Dalam situasi seperti itu, ia mulai berkhayal: seandainya aku bisa terbang seperti merpati, maka ia akan terbang mencari perlindungan tenang dan aman (ay 7-8-9), yaitu di gurun, yang diandaikan jauh dari ancaman orang yang membencinya. Tetapi apa daya, ia tidak bisa terbang. Di akhir ay 9 muncul metafor lain mengenai situasi hidup yang penuh ancaman. Hidup seperti itu diibaratkan angin ribut dan badai.

Karena itu, ini bagian kedua, ia dari tempatnya berada, hanya bisa berseru kepada Allah. Ia berdoa agar Allah sudi campurtangan terhadap situasi yang ia alami. Ia meminta agar Allah membuat mereka bingung dan kacau, sebab pembicaraan mereka menimbulkan kebingungan dan kekacauan dalam kota (ay 10). Mungkin seperti situasi kita dewasa ini. Memang ada penjaga kota, tetapi kota dilanda kemalangan dan bencana juga kehancuran (ay 11-12). Itu terjadi karena ada banyak penindasan dan penipuan. Rupanya dalam ay 13-16 pemazmur mengalami situasi buruk. Orang yang dianggapnya teman (dekat dengan aku, orang kepercayaan, bergaul bersama, berdoa bersama) ternyata menjadi bagian dari proses pembusukan kota. Kalau orang lain yang melakukan itu, pemazmur masih dapat menerima dan memahaminya. Tetapi, kini temannya sendiri terlibat. Ia pun bingung. Dalam kebingungan ia berharap agar mereka disergap maut, biar mereka turun ke dunia orang mati, sebab hidup mereka penuh kejahatan.

Dalam bagian ketiga, ia menegaskan sikapnya. Ia tetap percaya kepada Allah maka ia selamat (ay 17,18,19,20). Sebaliknya, para lawan akan direndahkan Allah sebab mereka tidak takut akan Allah (ay 20c).

Bagian keempat agak sulit. Siapa yang dimaksud dengan orang itu? Saya mengertinya orang fasik. Dalam situasi yang direndahkan Allah, ia marah kepada mereka yang hidup benar (ay 21). Tafsir ini diperkuat metafor dalam ay 22: mulutnya licin, dan karena itu berbahaya. Kata-katanya lembut tetapi itu semua laksana pedang terhunus.

Dengan mengamati dan memperhatikan semuanya itu, dalam penggal terakhir ini muncul nasihat rohani yang indah: mazmur menganjurkan agar kita menyerahkan kekuatiran kita kepada Allah (ay 24) dan Ia memelihara dan melindungi kita. Tuhan tidak pernah meninggalkan orang benar berlama-lama. Tuhan bertindak, menolong tepat pada waktunya. Sebaliknya, nasib orang durhaka sengsara belaka (ay 25). Mereka dicampakkan ke dunia orang mati (metafor sumur dalam). Hidup mereka tidak panjang dan tidak akan tenteram. Akan selalu ada gangguan suara hati yang mengetok-ngetok dalam kalbu mereka. Akhirnya pemazmur menegaskan lagi sikap hidupnya: Tetapi aku ini percaya kepada-Mu.

MENDALAMI DAN MENIKMATI MAZMUR 54

Oleh: Fransiskus Borgias M (EFBE@fransisbm)



Mazmur 54 ini cukup pendek, 9 ayat. Judulnya Doa Dalam Menghadapi Musuh. Jadi, ini adalah doa. Agar dapat mendalami dan menikmati doa ini, saya akan membaginya demi mempermudah pemahaman kita. Mazmur ini dapat dibagi dua: Pertama, ay 3-5, kedua, ay 6-9. Ay 1-2 hanya keterangan mengenai konteks muncul dan pemakaian mazmur ini.

Kita mulai dengan yang pertama. Dalam ay 3 pemazmur berseru, menyapa nama Allah (nominatio Dei yang mengandung invocatio Dei, menyebut dan memanggil nama Allah). Ia melakukan kedua hal ini agar Allah bertindak terhadap hidupnya. Tindakan yang diharapkan amat konkret, yaitu “selamatkanlah aku” dan “berilah keadilan kepadaku.” Yang menarik ialah alasan kedua permohonan (invocatio) ini. Ia memohon “karena nama-Mu” dan “karena keperkasaan-Mu.” Jadi, doa ini bersifat teosentris. Ia tidak berpusat pada manusia, pendoa. Allah sentrum doa. Di sini kita bisa belajar sesuatu. Permohonan dilanjutkan dalam ay 4, berupa ajakan penegasan kepada Allah agar sudi mendengarkan kedua permohonan tadi. Baru di ay 6 doa ini menjadi antroposentris. Ada peralihan dari teosentris menjadi antroposentris. Di sini muncul motivasi sebenarnya dari doa pemazmur. Ia berdoa kepada Allah karena ia merasa terancam oleh orang angkuh yang menyerang dan ingin membinasakan dia. Inilah masalah krusial dan eksistensial dia. Ia merasa bahwa ia harus meminta pertolongan dan perlindungan Allah, sebab orang sombong ini bisa menjadi nekad. Mengapa? Karena mereka tidak pedulikan Allah. Jadi, mereka penganut ateisme praktis, hidup dan berbuat seakan-akan Allah tidak ada. Di tempat lain dalam refleksi mazmur ini, pernah dikatakan bahwa ateisme mengandung bahaya laten bagi kemanusiaan. Bahaya laten itu salah satunya tampak di sini.

Dalam bagian kedua, si pemazmur mulai dengan penegasan sikap imannya akan Allah. Ini adalah Credo. Ia sungguh yakin dan percaya bahwa Allah adalah penolong dan penopang hidupnya (ay 6). Sekali lagi ia yakin dengan hal itu. Allah benteng dan batu karang hidupnya. Karena ia begitu yakin akan Allah yang dipercayainya, maka ia tidak takut dan gentar sama sekali. Bahkan ia dengan santai mengatakan bahwa rancangan para musuh itu justru akan berbalik kepada diri mereka sendiri; senjata makan tuan, fenomena bumerang (ay 7). Ia sangat percaya kepada Allah karena ia yakin bahwa Allah itu setia. Karena kesetiaanNya, pasti Allah membela, melindungi orang yang percaya kepadaNya. Yang menarik ialah, bahwa atas dasar kepercayaan yang sangat kuat itu, pemazmur merasa bahwa apa yang diungkapkannya dalam doa, itu akan dan bahkan sudah terjadi. Itu yang kita rasakan dalam ay 8. Itu sebabnya, di sini ia bernazar bahwa ia akan mempersembahkan korban sebagai tanda syukur kepada Allah. Dengan bertindak menyelamatkan dia, berarti nama Allah tidak tercemar. Nama Allah tetap baik, baik di hadapan si pemazmur maupun terutama di hadapan para lawannya.

Akhirnya di ay 9, kita membaca tentang alasan dari nazar yang diucapkannya. Ia merasa bahwa Tuhan melepaskan dia dari kesesakan. Jadi, ia selamat karena Allah. Allah menjadi dan adalah shalom-nya. Karena itu, pemazmur bisa tetap bertahan hidup. Karena bisa bertahan hidup, ia bisa memandangi musuhnya. Memandang di sini, artinya melihat sebagai pemenang di hadapan atau terhadap musuh yang kalah, karena tindakan pembelaan dan penyelamatan Allah. Jadi, hidup dalam Allah akan selamat, bahagia, memang, dan berjaya.

Thursday, September 17, 2009

MENDALAMI DAN MENIKMATI MAZMUR 53


Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransisbm)


Judul mazmur ini amat menarik: kebobrokan manusia. Mazmur ini termasuk sangat pendek, karena hanya terdiri atas tujuh ayat saja. Agar kita dapat menikmati dan memahaminya kita harus membaginya dalam beberapa bagian. Mazmur ini dapat dibagi menjadi tiga bagian besar. Bagian I, mencakup ayat 2-4. Bagian II, mencakup ayat 5-6. Bagian III, mencakup ayat 7 saja. Apa isi dari masing-masing bagian itu? Mari kita lihat dan nikmati bersama.

Bagian I dimulai dengan sebuah pernyataan ateistik dalam ayat 2: Tidak ada Allah. Ini sebuah pertanyaan ateistik yang sangat tegas. Itulah yang dipikirkan atau diucapkan orang bebal dalam hatinya. Si pemazmur langsung memberi penilaian terhadap hal itu: pikiran itu adalah pikiran busuk. Itu sebuah kecurangan yang menjijikkan. Memang tendensi untuk menyangkal Allah, akan condong kepada kejahatan. Kalau Allah tidak ada, maka tidak ada lagi yang ditakuti. Manusia bisa menjadi korban di dalam badai ateisme. Langsung si pemazmur melukiskan apa yang dilakukan Allah. Dikatakan bahwa Allah memandang dari langit semua perbuatan dan perilaku hidup manusia. Ternyata tidak ada yang berbuat baik. Tidak ada yang mencari Allah (ay.3). Semuanya telah menjadi bejat. Sekali lagi, tendensi ateisme memang mendatangkan bencana kemanusiaan. Kalau orang tidak lagi percaya akan Allah, maka ia tidak bisa mencintai dan menghargai sesamanya (ay.4).

Bagian II, mulai secara lebih rinci melukiskan bahaya ateisme itu bagi kemanusiaan dan umat manusia? Bahaya itu di sini dirumuskan dalam sebuah pertanyaan retoris. Si Pemazmur mempersoalkan kesadaran orang-orang ateis itu: apakah mereka tidak sadar, atau mereka memang tidak bisa sadar atau disadarkan di dalam kelakuan jahat mereka? Rupanya memang tidak bisa sadar atau disadarkan. Mereka sudah menjadi tuli hatinya. Kalau Tuhan sudah dinyatakan “mati”, atau Tuhan itu disangkal keberadaannya, maka itu menjadi bencana bagi kemanusiaan. Manusia bisa dibinasakan begitu saja tanpa rasa bersalah. Umat manusia bisa dimangsa habis seperti orang menyantap roti. Orang-orang yang tidak percaya kepada Allah memang tidak berseru lagi kepada Allah. Mereka telah menyingkirkan Allah jauh-jauh dari kehidupan mereka (ay.5). Dalam ayat 6 dilukiskan sebuah penilaian si pemazmur mengenai nasib orang-orang seperti ini. Nasib itu ialah keterkejutan. Mereka mengira Allah tidak ada, tetapi tiba-tiba Allah muncul dan bertindak, sehingga mereka menjadi sangat terkejut dan ketakutan. Allah melakukan tindakan yang tidak mereka duga-duga. Di situlah mereka baru sadar bahwa Allah ada, dan bahwa Allah bertindak dalam sejarah dan hidup manusia. Oleh karena itu, mereka pun menjadi sangat malu: Mereka telah menyatakan Allah tidak ada, ternyata Allah ada, muncul dan bertindak keras terhadap mereka. Oleh karena mereka telah menolak Allah, maka kini Allah pun menolak mereka juga (ay.6).

Bagian III, singkat sekali, yaitu hanya meliputi ajat 7 saja. Ini menjadi semacam doa penutup yang berisi permohonan yang diucapkan si pemazmur di dalam kesadaran akan ada dan kehadiran Allah. Ia mengharapkan datangnya shalom bagi umat Allah dari Sion, di Yerusalem. Ia percaya akan Allah, dan akan Allah yang bertindak dalam sejarah dan hidup umatNya. Ia percaya bahwa Allah akan memulihkan keadaan atau hidup umatNya, yang selama ini telah menjadi rusak oleh ancaman badai ateisme, bahkan hampir menjadi binasa oleh tirani dan kelaliman yang muncul karena ateisme itu. Di hadapan bayangan dan harapan akan Allah yang akan segera bertindak mewujudkan shalom itu, Israel, Yakub akan bersukacita dan bersorak-sorai (ay.7).

MENDALAMI DAN MENIKMATI MAZMUR 52

Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransisbm)


Judul Mazmur ini sangat menarik perhatian: yaitu Hukuman terhadap orang fasik. Mazmur ini termasuk cukup singkat, hanya sebelas ayat. Mazmur ini dapat dibagi menjadi beberapa bagian, untuk memudahkan pemahaman. Bagian I: ay.2-6; bagian II: 7-9. Bagian III: 10-11. Isi masing-masing bagian itu dapat dibeberkan di bawah ini.

Bagian I diawali dengan sebuah pertanyaan yang menggugat perbuatan orang fasik (disebut pahlawan, tetapi itu adalah sebuah sebutan berolok-olok, ironi) melawan orang benar (atau orang yang dikasihi Allah). Lalu menyusul beberapa perbuatan orang fasik itu. Intinya, semua perbuatan itu adalah perbuatan jahat, yang menimbulkan kekerasan dan kebinasaan. Perbuatan jahat itu diungkapkan dengan pelbagai macam ungkapan bahasa. Ia dituduh merancang penghancuran. Lidahnya dianggap berbahaya (ay.4). Perilaku moralnya juga tidak patut ditiru karena ia lebih mencintai kejahatan daripada kebaikan (ay.5), ia lebih condong kepada tipu mustlihat daripada kejujuran. Ia juga dicap penipu yang kata-kata lidahnya tidak dapat dipegang.

Bagian II, memperlihatkan bagaimana sikap Allah terhadap orang fasik. Memang orang benar mungkin menjadi tidak berdaya di hadapan perilaku dan rancangan jahat orang fasik. Tetapi orang benar tidak sendirian dalam hidup ini. Melainkan Allah menyertai dan melindungi dia. Allah akan bertindak atas nama dan demi membela orang saleh. Tidak tanggung-tanggung dikatakan bahwa Allah akan mematikan dan menghancurkan orang fasik. Semua kata kerja yang dipakai dalam ayat 7 memperlihatkan tindakan Allah untuk membela dan melindungi umatnya. Tindakan Allah untuk membela orang benar dinyatakan dengan memakai beberapa kata kerja yang kuat: orang jahat akan dirobohkan, mencabut dari dalam kemah (sama dengan membunuh, mematikan), mencampakkan dia dari dunia orang mati. Sesudah itu menyusullah reaksi orang benar ketika menyaksikan semuanya itu. Mereka menjadi takut ketika menyaksikan semuanya itu. Baru sekarang inilah orang benar menertawakan orang fasik (ay.8). Orang benar akan mencemoohkan dia (ay.9). Ia dicemoohkan karena tidak percaya kepada Allah, karena ia lebih mengandalkan dirinya sendiri dan kekayaannya, lalu lupa akan Allah.

Bagian III, melukiskan nasib dari orang benar. Singkatnya nasib orang benar itu menjadi sebuah kontras nasib orang fasik. Kalau orang fasik itu condong kepada alam maut, maka nasib orang benar itu justru sebaliknya: ia akan hidup. Tidak hanya sekadar hidup, melainkan hidup dalam kelimpahan. Nasib baik itu diibaratkan di sini oleh si pemazmur dengan ibarat pohon zaitun yang hijau. Hijau itu tanda kehidupan dan pengharapan. Itu semua terjadi, karena ia hidup di dalam Allah, di hadapan hadirat Allah, bahkan dalam rumah Allah (ay.10a). Dalam ayat 10b, kita dapat menemukan kontras yang sangat unik antara sikap orang fasik dan orang benar. Kalau dalam ayat 9 kita membaca bagaimana sikap hidup orang fasik, maka di sini kita melihat sikap hidup orang benar, yaitu ia percaya akan kasih setia Allah. Itu jelas berbeda dari sikap orang fasik dalam ay 9, karena orang fasik itu lebih percaya dan mengandalkan hartanya, kekayaannya, dirinya sendiri, dan tidak mengandalkan Allah. Allah tersingkirkan karena ia mempunyai banyak harta. Akhirnya, di hadapan nasib baiknya itu, orang baik hanya mempunyai satu sikap hidup saja yang tepat, yaitu bersyukur kepada Allah, untuk selama-lamanya. Ia terdorong melakukan hal itu, karena ia akhirnya sadar dan melihat bahwa Allahlah yang bertindak melakukan semuanya ini. Ia berniat untuk memahsyurkan nama baik Allah di depan semua orang yang saleh dan benar (ay.11).

Tuesday, August 25, 2009

TAFSIR KITAB SUCI: MENGEMBANGKAN CINTA KASIH

Oleh: Fransiskus Borgias M.


Beberapa hari lalu seorang mantan mahasiswa saya muncul di wall facebook dan bertukar pikiran dengan saya mengenai beberapa hal yang terkait dengan aksi teroris yang belakang ini muncul kembali dan membuat kita waspada dan bahkan saling curiga. Ia muncul dengan pernyataan: terorisme yang terkait dengan agama biasanya diilhami teks-teks yang juga keras di dalam kitab suci agama-agama terkait. Ia mau mengatakan bahwa kitab suci mengajarkan teror dan membenarkannya kalau teror itu sudah terjadi. Karena itu, ia mengusulkan agar perlu ada gerakan bersama untuk menulis kembali semua kitab suci agama-agama dan dalam proses penulisan ulang itu, unsur yang penuh kekerasan, yang mengandung teror dibuang saja. Kita cukup menyimpan hal-hal yang baik. Benih teror dan kebencian harus dibuang. Citra Allah pembenci dan pendendam harus dikikis. Tentu ia mengusulkan hal itu dengan harapan bahwa perjalanan ke masa depan manusia akan menjadi lebih baik dan lebih ramah: orang tidak lagi menempa mata pedang dan tombak, melainkan pedang dan tombak yang ada ditempa menjadi bajak untuk mengolah ladang atau sawah. Terhadap usul itu, ia meminta tanggapan.

Tulisan ini merupakan upaya pengembangan lebih lanjut dari argumen yang saya ajukan di wall facebook itu, ditambah dengan beberapa insight dari buku Karen Armstrong yang tahun lalu saya terjemahkan untuk Mizan: Bible, A Biography. Tulisan ini juga dimaksudkan untuk meramaikan Bulan Kitab Suci Nasional, yang tahun ini kita rayakan dengan merenungkan kisah Yakub. Kalau kita baca kisah Yakub dengan baik dan penuh perhatian, akan tampak bahwa kisah itu memang penuh intrik, tipu muslihat, dan kekerasan, tetapi akhirnya semuanya bermuara ke rekonsiliasi. Rekonsiliasi itu bisa terjadi setelah ada campur tangan Tuhan dalam seluruh proses itu.

Inilah beberapa tanggapan spontan saya saat itu. Pertama, usul itu tidak mungkin dilakukan karena Teks Kitab Suci adalah kisah-kisah manusiawi. Karena itu, isinya bisa sangat realistik dan vulgar tentang fakta kemanusiaan, baik menyangkut segi positifnya, maupun negatifnya. Kedua, dalam tradisi Katolik, dikenal tiga tonggak penting yang harus berimbang dan dijaga keseimbangannya: Kitab Suci, Tradisi, Magisterium. Segala tendensi untuk menekankan sudut yang satu akan diimbangi sudut lain. Maksudnya, kalau orang cenderung menjadi kaku dengan prinsip “sola scriptura,” perlu disadarkan bahwa kita punya tradisi. Magisterium memainkan peranan penting di sini. Tentu Kitab Suci di atas segala-galanya. Tetapi karena ia lahir dari tradisi maka tradisi memainkan peranan yang tidak kecil. Tafsir kitab suci selalu memerlukan otoritas baik itu intelektual, maupun rohani dan organisatoris. Itulah Magisterium. Ketiga, sama sekali tidak ada jaminan bahwa setelah kitab suci ditulis kembali dengan mempercantik isinya, manusia akan menjadi semakin ramah terhadap satu sama lain. Sebab tendensi homo homini lupus manusia adalah kecenderungan kodrati. Ia sudah ada dalam diri manusia, jauh sebelum ada agama yang mencekokinya dengan pelbagai ajaran, positif maupun negatif. Jadi, tidak terjamin dengan pasti bahwa teror akan hilang kalau kitab suci ditulis ulang.

Karena itu, kita harus mencari cara pemahaman dan penjelasan lain. Itulah yang saya angkat dari beberapa butir ilham pemikiran Karen Armstrong. Salah satu pokok yang mau didalami Armstrong dalam bukunya ialah bagaimana cara menafsirkan kitab suci. Sebab kitab suci itu harus ditafsirkan agar bisa bermakna dalam hidup manusia. Berikut beberapa prinsip yang dapat dikemukakan di sini.

Pertama, tafsir kitab suci harus praxis-oriented, terarah kepada praksis. Tafsir kitab suci harus bermuara pada perbuatan, pada tingkah laku. Tafsir Kitab Suci yang baik, harus mampu mengubah hidup orang ke arah yang lebih baik secara sosial-etis. Tafsir jangan sampai hanya sebatas olah-rasional-intelektual-spekulatif belaka. Tafsir seperti ini tidak banyak gunanya. Ia hanya aktifitas melayang-layang saja. Kedua, tafsir kitab suci harus dilandasi oleh semangat kerendahan-hati, tidak sombong. Sikap rendah hati inilah yang merupakan salah satu sisi dari praxis-oriented. Praksis yang ditekankan di sini ialah sikap rendah hati. Studi yang kuat dan mendalam akan kitab suci harus bisa mengubah orang menjadi lebih rendah hati; kalau orang semakin rendah hati, maka ia akan semakin dekat dengan Tuhan dan sesama. Sebaliknya, kalau ia sombong, ia akan semakin dekat dengan setan dan konco-konconya.

Ketiga, erat terkait dengan poin yang kedua tadi, tafsir kitab suci juga harus bisa menyuburkan cinta kasih. Poin ketiga inilah yang ingin saya tekankan di sini, terutama dalam situasi cekaman dan ancaman teror sekarang ini. Sudah lama para ahli kitab mengatakan bahwa jangan sampai tafsir menjadi ajang atau medan untuk menabur dan menebar kebencian. Melainkan harus dibaktikan kepada upaya penyuburan cinta kasih, sebab cinta kasih itulah yang dapat menjadi prinsip hidup. Hidup tidak mungkin ada tanpa cinta kasih. Hidup selalu mengandaikan cinta kasih sebagai dasar dan prasyaratnya. Cinta kasih adalah conditio sine-qua-non bagi hidup manusia.

Keempat, sejarah ilmu tafsir mempunyai sikap rendah hati, yaitu rela mengakui bahwa tidak ada tafsir tunggal. Karena itu, orang tidak dapat mengklaim kebenaran mutlak dalam ilmu tafsir (hermeneutik). Sekali lagi, perlu dikatakan bahwa orang tidak dapat memonopoli tafsir itu. Sebab di antara para penafsir ada satu keyakinan abadi bahwa setiap penafsir yang siap dan kritis akan selalu bisa menggali satu segi atau dimensi baru. Sebab sungguh diyakini bahwa “Reading is a process of reproducing meaning; reading is a process of reconstructing meaning.” Itu tidak lain karena membaca selalu berarti menafsirkan dan membangun makna.

Maka marilah kita membaca dan membaca. Sehubungan dengan bulan Kitab Suci ini ada baiknya kita dengar Agustinus yang suatu saat mendengar kata-kata: Tolle, Lege. Ambillah dan Bacalah. Agustinus membaca Kitab Suci, dan di sana ia berjumpa dengan Kristus, persis seperti yang dikatakan temannya, Hieronimus, siapa yang tidak mengenal Kitab Suci, tidak mengenal Kristus. Marilah kita isi bulan ini dengan aktifitas membaca kitab suci dalam rangka semakin mengenal dan mencintai Yesus Kristus.

Thursday, August 13, 2009

MENDALAMI DAN MENIKMATI MAZMUR 51

Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransisbM)


Judul Mazmur: Pengakuan dosa. Mazmur ini terkenal dalam liturgi kita karena dipakai pada masa tobat. Terkenal dengan sebutan Miserere. Itulah judulnya dalam Latin, karena ia memohon belas kasih dan ampunan Allah. Latar belakangnya ialah memohon kepada Allah agar diampuni dan dibaharui hidupnya. Kita dapat membagi mazmur ini dalam empat bagian. Bgn I, ay 1-8. Bgn II, ay 9-15. Bgn III, ay 16-19. Bgn IV, ay 20-21.

Dalam Bgn I, ada beberapa hal penting. Dalam ay 3 ada kesadaran bahwa hanya Allah yang bisa mengampuni. Itu sebabnya ia berseru kepada Allah mohon belas kasih. Ia merasa jika diampuni Allah ia akan hidup. Dalam ay 4 ia mohon agar dibersihkan dari dosa. Ia mengambi metafor mencuci pakaian: ia meminta agar dicuci seperti pakaian kotor, yaitu dibanting di batu atau dikucak di penggilasan. Dalam ay 5 ia melukiskan satu pengalaman gangguan suara hati. Ini muncul karena ia sadar akan dosa dan pelanggarannya dan hal itu membayang di hadapannya. Semacam dihantui rasa bersalah (guilty feeling). Dosa mengalami proses personifikasi dan itu dilawan. Dalam ay 6 ada kesadaran bahwa dosa sosial-horizontal juga adalah dosa vertikal-teologal. Itu karena dosa merusak manusia citra Allah, bait Roh. Dengan berdosa aku pantas dihukum mati. Jika aku mati, Allah tetap adil dalam perbuatanNya karena aku yang berdosa. Ay 7 melukiskan situasi eksistensial manusia, yaitu ia terarah kepada dosa. Tetapi sekaligus ia ditarik oleh Allah. Ay 8 melukiskan daya tarik Allah itu dalam dan melalui suara hati. Ini pandangan positif akan suara hati. Allah dapat berbicara dalam suara hati kita.

Dalam Bgn II ada beberapa hal penting. Dalam ay 9 ia memohon agar dicuci Allah supaya jadi putih seperti salju. Ia berharap agar dari situ ia muncul dengan sukacita (ay 10). Jika hal itu terjadi, maka kemurungan akibat dosa akan berlalu. Pengalaman sukacita rohani itu tampak secara jasmani. Kini jalan pelan diganti dengan loncat kegirangan. Dalam ay 11 ia memohon penghapusan dosa, agar Allah tidak usah melihat dosanya. Atas dasar itu, dalam ay 12 ia mohon perubahan, pembaharuan, dijadikan ciptaan baru. Ia mohon agar dibua hati baru, Roh baru. Ia mohon agar diberi Roh yang teguh agar tidak mudah jatuh dalam dosa. Ini perubahan dan pembaharuan dari dalam. Tidak pada level permukaan. Itu diharapkan datang dari Allah. Dalam ay 13 ia meminta (permintaan khusus): agar Allah tidak mengambil roh-Nya dari dia, dan agar jangan sampai ia dicampakkan dari hadapan Allah. Mudah-mudahan dengan itu ia berharap akan mudah rela dan taat (ay 14). Dalam ay 15 ada niat dan janji untuk mengajarkan semuanya itu kepada semua orang. Ia mau menebarkan pengalaman akan cinta kasih Allah itu.

Dalam Bgn III, ada beberapa hal penting. Dalam ay 16 ia melukiskan dosa pembunuhan. Mungkin ini pengalaman Daud yang “membunuh” Uria demi Batsyeba. Ia minta dibebaskan dari ganggugan dosa itu agar ia bebas mewartakan pujian Allah. Niat itu dilanjutkan dalam ay 17 yang terkenal karena dipakai dalam Ibadat Harian untuk mengawali Doa-doa lima atau tujuh waktu gereja. Di sini ia melukiskan ada niat untuk mewartakan Tuhan; dalam rangka itu ia memohon kepada Allah agar sudi membuka mulutnya agar menjadi alat pewartaan itu. Ay 18 melukiskan penolakan korban silih. Allah tidak berkenan pada korban silih itu. Sejalan dengan para nabi, korban yang terbaik ialah hati yang remuk-redam, jiwa yang hancur karena dosa dan bertobat. Allah berkenan kepada hati seperti ini. Sebab korban sejati yang berkenan kepada Allah ialah hati yang bertobat (ay 19).

Bagian IV, ada beberapa hal penting juga. Mazmur asli hanya sampai ay 19. Sampai ay 19 itu adalah mazmur doa pribadi (individual). Tetapi dalam ayat 20-21 ada perubahan besar, yang diduga tambahan pada masa pasca pembuangan. Apa yang tadinya merupakan doa pribadi, dengan tambahan dua ayat ini, seluruh mazmur menjadi doa atau liturgi komunal yang dipakai di Bait Allah. Yang tadinya bersikap negatif terhadap ibadat korban, tetapi kini korban seakan dipulihkan justru karena ibadat kolektif di Yerusalem.

PEDENG JEREK WAE SUSU

Oleh: Fransiskus Borgias Dosen dan Peneliti Senior pada FF-UNPAR Bandung. Menyongsong Mentari Dengan Tari  Puncak perayaan penti adala...