Oleh: Fransiskus Borgias M.
Sebagai manusia yang beriman (percaya), kiranya kita semua sungguh-sungguh yakin dan percaya bahwa Tuhan itu mahamulia dan maha berjaya di atas para kerubim dan serafim dan di atas para bala tentara surgawi. Tetapi kita tidak dapat melihat kemuliaan Tuhan itu kecuali lewat beberapa kesaksian dari para nabi yang sempat terekam bagi kita sekarang ini dalam Kitab Suci. Misalnya seperti kisah visiun Yesaya (6) dan Yehezkiel (1-3). Namun demikian kita juga percaya bahwa kemuliaan Tuhan itu dapat dilihat dan dirasakan dalam dan melalui semua makhluk ciptaan-Nya yang ada dalam alam semesta ini. Bila kita memandang makhluk ciptaan Allah maka sebagai orang yang mempunyai kepekaan rohani tertentu (sensus religious), kita pun bisa merasakan bahwa kemuliaan Tuhan itu dapat terasa dalam dan melalui segala makhluk ciptaan Tuhan sendiri. Itulah yang dipentaskan dalam Mazmur 8 yang terkenal itu (yang sudah saya bahas dalam buku saya yang terdahulu, Berjalan Zig Zag Menuju Allah, Pustaka Nusatama, Yogyakarta, 2012). Hal seperti itu jugalah yang dibahas dalam Mazmur 104 ini. Itulah yang kelak di kemudian hari oleh Bonaventura disebut dengan ajaran exemplarisme-nya yang amat terkenal itu. Bonaventura sendiri pada gilirannya sangat diilhami oleh Agustinus dan Agustinus sendiri diilhami oleh Mazmur 8 dan pelbagai teks lain dalam Kitab Suci yang mementaskan kepekaan religious kosmis manusia beriman.
Namun sebelum melangkah lebih jauh, terlebih dahulu saya mau melihat beberapa hal teknis terkait dengan upaya penjelasan dan pemahaman akan Mazmur ini. Mazmur ini termasuk cukup panjang, yaitu mencapai 35 ayat. Judul mazmur ini dengan sangat tepat meringkaskan seluruh isi mazmur itu: “Kebesaran Tuhan dalam segala ciptaan-Nya.” Untuk dapat menikmati dan memahami mazmur ini dengan baik saya akan membagi mazmur ini menjadi empat bagian besar. Bagian I mencakup ayat 1-9. Bagian II meliputi ayat 10-18. Bagian III meliputi ayat 19-30. Bagian IV meliputi ayat 31-35. Dalam bagian berikut di bawah ini saya akan segera mulai dengan melihat Bagian I.
Dalam Bagian I (ayat 1-9) ini si pemazmur mengawalinya dengan sebuah ajakan kepada dirinya sendiri untuk memuji dan memuliakan Tuhan. Perhatikanlah bahwa mazmur ini diakhiri juga dengan seruan yang sama yaitu pujilah Tuhan, yang akhirnya dalam bagian akhir ini dipertegas dengan pekik halleluya, Pujilah Tuhan (ayat 35). Dalam hal ini, mazmur 104 ini kurang lebih mirip dengan mazmur 103 yang terdahulu: diawali dan diakhiri dengan ajakan untuk memuji Tuhan (membentuk ayat pembingkai, inklusi). Tuhan itu dipuji dan dimuliakan karena keagungan karya ciptaan-Nya. Detail dari karya penciptaan itu dilukiskan dalam ayat 1-9. Jika diperhatikan dengan baik maka dalam bagian ini kita melihat bahwa perhatian si pemazmur sedang memandang ke atas yaitu ke karya Tuhan di bentangan langit dan cakrawala walaupun akhirnya ada juga kaitannya dengan bumi. Unsur kosmis seperti langit, air, awan disebut di sini, juga bumi dan air laut. Air itu terkesan ada di mana-mana, seperti dalam kitab Kejadian itu di mana air dikesankan ada di bawah dan di atas bumi (Kej.1:6-7); tetapi menarik sekali bahwa Tuhan mampu menetapkan batas-batasnya dengan baik sehingga bumi dan cakrawala itu tidak tenggelam oleh dan dalam air yang melimpah ruah itu.
Dalam bagian II (ayat 10-18), masih disinggung karya penyelenggaraan Allah atas semua makhluk hidup (ciptaan) yang ada di atas muka bumi. Unsur yang terpenting dalam totalitas proses pemeliharaan itu tidak lain adalah air. Jadi, air itu sangat penting, sangat vital, menyangkut hidup; air adalah kehidupan; maka ada ungkapan fons vitae, mata air ke-hidup-an. Memang tanpa air semua makhluk hidup bisa mati kehausan, kelaparan, dan kelemasan. Air itu yang memuaskan dahaga segala binatang, yang membuat mereka bersukacita lalu bisa bersiul-siul dan bernyanyi, yang bisa menumbuhkan rerumputan sehingga dapat menjadi makanan bagi hewan. Tetumbuhan juga menjadi makanan dan komoditas bagi manusia, juga menumbuhkan anggur yang membawa sukacita manusia. Pepohonan juga bertumbuh dan menjadi tinggi dan rimbun dan rindang sehingga bisa menjadi tempat yang aman bagi sarang burung untuk dapat meletakkan telur dan anak-anaknya. Tuhan jugalah yang menjadikan gunung sebagai tempat kediaman dan perlindungan bagi beberapa jenis binatang tertentu.
Dalam Bagian III (ayat 19-30), mata si pemazmur memandang lagi ke atas yaitu ke langit, lalu mulai mendaftarkan beberapa benda angkasa yang di sana sebagai ciptaan Tuhan. Misalnya, ia menyebut bulan dan matahari sebagai benda-benda langit yang menentukan waktu. Ada siang dan ada malam. Semuanya ada waktunya dan pada waktunya. Ada makhluk malam dan ada makhluk siang juga dengan jenis aktifitasnya sendiri-sendiri. Semuanya dengan jadwal aktifitas masing-masing. Si Pemazmur sadar betul akan kebijaksanaan Tuhan dalam karya penciptaan-Nya. Muka bumi penuh dengan ciptaan Tuhan. Laut juga demikian. Laut bahkan menjadi lalu lintas bagi kapal-kapal buatan manusia. Juga bagi pelbagai binatang laut raksasa seperti leviathan itu. Tetapi semuanya tidak serba kacau atau ngawur, melainkan semuanya menunggu giliran Tuhan memberi makanan bagi mereka tepat pada waktunya. Di sini muncul ide penciptaan dengan roh itu. Tuhan menciptakan dengan Roh-Nya. Tuhan juga membaharui segala sesuatu dengan daya kekuatan Roh-Nya: “Apabila Engkau mengirim Roh-Mu, mereka tercipta, dan Engkau membaharui muka bumi” (ay.30). Kelak di kemudian hari sepenggal ayat ini muncul dan bergema kembali dalam sebuah lagu liturgi pada masa Pentakosta: Veni Creator Spiritus, di mana salah satu ayatnya menyinggung mengenai karya penciptaan Roh yang mampu membaharui muka bumi.
Akhirnya dalam Bagian IV (ayat 31-35), si pemazmur sadar betul akan kemuliaan Tuhan dan membiarkan Tuhan itu tetap berada dan bertahta dalam kemuliaan-Nya. Ia hanya menegaskan kepada dirinya sendiri agar selalu memuji dan memuliakan Tuhan. Jangan sampai ia melupakan Tuhan dalam dan selama hidupnya di dunia ini. Hanya itu saja. Ia berharap agar kidung pujiannya bisa terdengar manis dan merdu di hadapan Tuhan sendiri. Serentak ia juga berharap agar orang-orang fasik segera lenyap dari muka bumi ini. Sebagaimana sudah dikatakan sebelumnya, mazmur ini, seperti pada bagian awalnya dimulai dengan hallel, maka sekarang pada bagian akhir juga diakhiri dengan Hallel. Kenyataan itu hanya mau menegaskan sebuah kebenaran berikut ini: bahwa hanya hal yang seperti itu saja yang pantas untuk dilakukan oleh umat manusia dalam dan selama hidupnya di dunia ini. Bukan yang lain, dan juga tidak boleh ada yang lain.
Dempol, pertengahan Oktober 2013
Fransiskus Borgias M
canticum solis adalah blogspot saya untuk pendalaman dan diskusi soal-soal filosofis, teologis, spiritualitas dan yang terkait. Kalau berkenan mohon menulis kesan atau komentar anda di bagian akhir dari artikel yang anda baca. Terima kasih... canticum solis is my blog in which I write the topics on philosophy, theology, spiritual life. If you don't mind, please give your comment or opinion at the end of any article you read. thanks a lot.....
Saturday, February 8, 2014
MEMAHAMI DAN MENIKMATI MAZMUR 103
Oleh: Fransiskus Borgias M.,
Sudah layak dan sepantasnya jika umat manusia memuji dan memuliakan Tuhan dalam dan selama hidupnya di muka bumi ini. Sudah seharusnya seluruh struktur hidup manusia adalah sebuah hidup yang bersyukur dan memuji Tuhan selalu. Tidak bisa lain, walaupun saya tahu bahwa ada yang tidak setuju dengan pandangan seperti ini. Mereka itu adalah orang-orang ateis, yang tidak bisa menerima struktur dasar hidup manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Sebagai makhluk ciptaan tidak ada cara lain bagi manusia selain melaksanakan hidup bersyukur dan memuji ini. Tetapi ternyata hal itu tidak selalu berjalan otomatis dan mulus begitu saja. Ada saja manusia yang menjauhkan diri dari Tuhan. Ada saja manusia yang berusaha menyangkal Allah, tidak mau mengakui keberadaan Allah itu. Dalam pembacaan dan penafsiran saya, Mazmur 103 ini mencoba menampilkan kepada kita model hidup manusia yang penuh dengan rasa syukur tersebut; hal itu dimaksudkan agar dapat menjadi model bagi kita sekarang dan di sini untuk dipelajari, dihayati dan diterapkan dalam kehidupan pribadi kita masing-masing di tengah masyarakat.
Tetapi sebelum melangkah lebih jauh terlebih dahulu saya mencoba mengatakan beberapa hal penting terkait dengan catatan teknis mengenai mazmur ini. Corak dan warna dasar ini sebagai mazmur pujian kiranya sudah tampak jelas dari judul mazmur ini dalam Alkitab kita: “Pujilah Tuhan, hai jiwaku.” Mazmur ini termasuk cukup panjang yaitu ada 22 ayat; mungkin saja aslinya mazmur ini disusun secara akrostik yaitu menurut jumlah alfabet Ibrani, sebagai semacam “jembatan keledai” untuk memudahkan proses penghafalan bagi para murid yang mau mempelajarinya. Untuk memudahkan proses penjelasan dan pemahaman atas mazmur ini saya akan membagi mazmur ini ke dalam empat bagian besar. Bagian I mencakup ayat 1-5; Bagian II meliputi ayat 6-14. Kemudian Bagian III meliputi ayat 15-18. Akhirnya Bagian IV meliputi ayat 19-22. Dalam bagian berikut ini saya mulai dengan melihat Bagian Pertama.
Dalam Bagian I ini pemazmur mengajak dirinya sendiri (jiwa) untuk memuji dan memuliakan Tuhan (ayat 1-2), untuk memuji nama-Nya. Ia mengingatkan dirinya sendiri agar jangan sampai ia melupakan segala kebaikan Tuhan. Dalam ayat 3-5 ia mendaftarkan segala kebaikan Tuhan yang telah ia rasakan dan alami dalam hidupnya di dunia ini dan di tengah-tengah masyarakat. Antara lain misalnya disebutkan di situ bahwa ia patut bersyukur kepada Tuhan karena Ia yang mengampuni dosa, dan menyembuhkan sakit, Ia yang meluputkan manusia dari alam maut. Lebih dari itu, Tuhan yang memahkotai manusia itu dengan kasih setia dan rahmat yang berlimpah, Tuhan yang memberikan segala kebaikan kepada manusia sehingga hidup manusia itu terbarukan senantiasa hal itu diwujudkan. Di sini ia memakai sebuah metafor rajawali dengan proses dan pengalaman pembaharuan hidupnya.
Alasan pujian dan syukur itu masih diteruskan pada Bagian II mazmur ini. Dalam ayat 6 diajukan alasan bahwa Tuhan menegakkan hukum dan keadilan bagi orang-orang yang tertindas. Mazmur ini mewartakan Tuhan yang berada dan berpihak pada kaum tertindas, dan bukan memihak para penindas. Lalu si pemazmur itu menengok pada pelbagai karya Tuhan dalam sejarah di mana Tuhan menuntun Musa dan orang-orang Israel dengan hukum dan karya-karya-Nya. Semuanya itu adalah penyelenggaraan historis dari Tuhan bagi umat Israel. Sadar akan penyelenggaraan historis dari Tuhan itu maka si pemazmur pun menyatakan pengalaman imannya akan Tuhan, bahwa Tuhan itu selalu berbuat baik bagi hidup manusia. Intinya (ayat 9-14), Tuhan tidak lagi ingat akan dosa-dosa kita, Ia ingat akan kefanaan dan kerapuhan kita, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar, dan berlimpah kasih-setia (ayat 8).
Setelah di atas ia memandang kepada sifat-sifat Tuhan, sekarang dalam Bagian III, ia menukik lagi kepada sifat atau corak dasar hidup manusia. Di sini ia menegaskan akan kefanaan dan kerapuhan hidup manusia itu dengan memakai metafora bunga dan rerumputan yang hanya hidup barang sebentar saja, tumbuh dan mekar di waktu pagi, layu dan lingsut di waktu petang (ayat 15-16). Hal itu kembali ia kontraskan dengan kasih setia (hesed) Tuhan yang kekal abadi. Ia juga menegaskan keadilan Tuhan bagi orang yang setia pada hukum dan perjanjian Tuhan (ayat 17-18). Si Pemazmur itu rasanya seperti terhibur oleh kesadaran akan kekekalan kasih setia Tuhan, sebab dalam konteks kekekalan (keabadian) itu, hidup fana manusia seakan-akan mendapat bingkai nyata yang dapat memaknainya secara eksistensial dan mendasar.
Dalam bagian terakhir ini si pemazmur kembali lagi kepada Tuhan. Ia menyatakan bahwa Tuhan sudah berkuasa di langit. Segala sesuatu tunduk dan menyembah kepada-Nya. Oleh karena itu, dalam tiga ayat yang terakhir ia hanya mengajak tiga makhluk ciptaan-Nya untuk memuji dan memuliakan Dia. Itu sebabnya ketiga ayat terakhir ini dimulai dengan sebuah ajakan “Pujilah.....” Dengan demikian ajakan “Pujilah” yang di bagian awal mazmur ini (ayat 1-2), bergema kembali di bagian akhir mazmur ini (ayat 22-22), sehingga ajakan itu membentuk semacam inklusi (pembingkai) antara awal dan akhir mazmur.
Manakah ajakan itu? Mula-mula ia mengajak para malaekat dan para pahlawan (ayat 20). Kemudian ia mengajak para bala tentara surgawi dan para pejabat di surga untuk memuji-Nya (ayat 21). Akhirnya dalam ayat 22 ia mengajak segala hasil ciptaan-Nya untuk memuji dan memuliakan Tuhan. Tidak lupa ia juga mengajak dirinya sendiri (jiwaku) untuk memuji Tuhan, sebab jangan sampai terjadi ia mengajak dan menyuruh orang lain untuk memuji Tuhan, sedangkan ia sendiri tidak menaruh peduli sama sekali, seperti seorang ayah yang menyuruh anak-anaknya pergi ke gereja pada hari Minggu, sementara ia sendiri terus saja berbaring di tempat tidur atau di sofa, sambil menonton televisi. Si Pemazmur ini bukanlah tipe orang yang seperti itu. Tentu saja contoh seperti itu tidaklah baik sama sekali. Sebaliknya si pemazmur di sini adalah orang yang mudah tersentuh oleh keagungan karya ciptaan Allah, sekaligus dia juga adalah orang yang bisa mengungkapkan perasaannya dalam bentuk curahan pikiran dalam kata-kata puitis yang indah dan menawan seperti yang dapat kita rasakan dan kita nikmati dalam Mazmur ini.
Dempol, Pertengahan Oktober 2013
Fransiskus Borgias M
Sudah layak dan sepantasnya jika umat manusia memuji dan memuliakan Tuhan dalam dan selama hidupnya di muka bumi ini. Sudah seharusnya seluruh struktur hidup manusia adalah sebuah hidup yang bersyukur dan memuji Tuhan selalu. Tidak bisa lain, walaupun saya tahu bahwa ada yang tidak setuju dengan pandangan seperti ini. Mereka itu adalah orang-orang ateis, yang tidak bisa menerima struktur dasar hidup manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Sebagai makhluk ciptaan tidak ada cara lain bagi manusia selain melaksanakan hidup bersyukur dan memuji ini. Tetapi ternyata hal itu tidak selalu berjalan otomatis dan mulus begitu saja. Ada saja manusia yang menjauhkan diri dari Tuhan. Ada saja manusia yang berusaha menyangkal Allah, tidak mau mengakui keberadaan Allah itu. Dalam pembacaan dan penafsiran saya, Mazmur 103 ini mencoba menampilkan kepada kita model hidup manusia yang penuh dengan rasa syukur tersebut; hal itu dimaksudkan agar dapat menjadi model bagi kita sekarang dan di sini untuk dipelajari, dihayati dan diterapkan dalam kehidupan pribadi kita masing-masing di tengah masyarakat.
Tetapi sebelum melangkah lebih jauh terlebih dahulu saya mencoba mengatakan beberapa hal penting terkait dengan catatan teknis mengenai mazmur ini. Corak dan warna dasar ini sebagai mazmur pujian kiranya sudah tampak jelas dari judul mazmur ini dalam Alkitab kita: “Pujilah Tuhan, hai jiwaku.” Mazmur ini termasuk cukup panjang yaitu ada 22 ayat; mungkin saja aslinya mazmur ini disusun secara akrostik yaitu menurut jumlah alfabet Ibrani, sebagai semacam “jembatan keledai” untuk memudahkan proses penghafalan bagi para murid yang mau mempelajarinya. Untuk memudahkan proses penjelasan dan pemahaman atas mazmur ini saya akan membagi mazmur ini ke dalam empat bagian besar. Bagian I mencakup ayat 1-5; Bagian II meliputi ayat 6-14. Kemudian Bagian III meliputi ayat 15-18. Akhirnya Bagian IV meliputi ayat 19-22. Dalam bagian berikut ini saya mulai dengan melihat Bagian Pertama.
Dalam Bagian I ini pemazmur mengajak dirinya sendiri (jiwa) untuk memuji dan memuliakan Tuhan (ayat 1-2), untuk memuji nama-Nya. Ia mengingatkan dirinya sendiri agar jangan sampai ia melupakan segala kebaikan Tuhan. Dalam ayat 3-5 ia mendaftarkan segala kebaikan Tuhan yang telah ia rasakan dan alami dalam hidupnya di dunia ini dan di tengah-tengah masyarakat. Antara lain misalnya disebutkan di situ bahwa ia patut bersyukur kepada Tuhan karena Ia yang mengampuni dosa, dan menyembuhkan sakit, Ia yang meluputkan manusia dari alam maut. Lebih dari itu, Tuhan yang memahkotai manusia itu dengan kasih setia dan rahmat yang berlimpah, Tuhan yang memberikan segala kebaikan kepada manusia sehingga hidup manusia itu terbarukan senantiasa hal itu diwujudkan. Di sini ia memakai sebuah metafor rajawali dengan proses dan pengalaman pembaharuan hidupnya.
Alasan pujian dan syukur itu masih diteruskan pada Bagian II mazmur ini. Dalam ayat 6 diajukan alasan bahwa Tuhan menegakkan hukum dan keadilan bagi orang-orang yang tertindas. Mazmur ini mewartakan Tuhan yang berada dan berpihak pada kaum tertindas, dan bukan memihak para penindas. Lalu si pemazmur itu menengok pada pelbagai karya Tuhan dalam sejarah di mana Tuhan menuntun Musa dan orang-orang Israel dengan hukum dan karya-karya-Nya. Semuanya itu adalah penyelenggaraan historis dari Tuhan bagi umat Israel. Sadar akan penyelenggaraan historis dari Tuhan itu maka si pemazmur pun menyatakan pengalaman imannya akan Tuhan, bahwa Tuhan itu selalu berbuat baik bagi hidup manusia. Intinya (ayat 9-14), Tuhan tidak lagi ingat akan dosa-dosa kita, Ia ingat akan kefanaan dan kerapuhan kita, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar, dan berlimpah kasih-setia (ayat 8).
Setelah di atas ia memandang kepada sifat-sifat Tuhan, sekarang dalam Bagian III, ia menukik lagi kepada sifat atau corak dasar hidup manusia. Di sini ia menegaskan akan kefanaan dan kerapuhan hidup manusia itu dengan memakai metafora bunga dan rerumputan yang hanya hidup barang sebentar saja, tumbuh dan mekar di waktu pagi, layu dan lingsut di waktu petang (ayat 15-16). Hal itu kembali ia kontraskan dengan kasih setia (hesed) Tuhan yang kekal abadi. Ia juga menegaskan keadilan Tuhan bagi orang yang setia pada hukum dan perjanjian Tuhan (ayat 17-18). Si Pemazmur itu rasanya seperti terhibur oleh kesadaran akan kekekalan kasih setia Tuhan, sebab dalam konteks kekekalan (keabadian) itu, hidup fana manusia seakan-akan mendapat bingkai nyata yang dapat memaknainya secara eksistensial dan mendasar.
Dalam bagian terakhir ini si pemazmur kembali lagi kepada Tuhan. Ia menyatakan bahwa Tuhan sudah berkuasa di langit. Segala sesuatu tunduk dan menyembah kepada-Nya. Oleh karena itu, dalam tiga ayat yang terakhir ia hanya mengajak tiga makhluk ciptaan-Nya untuk memuji dan memuliakan Dia. Itu sebabnya ketiga ayat terakhir ini dimulai dengan sebuah ajakan “Pujilah.....” Dengan demikian ajakan “Pujilah” yang di bagian awal mazmur ini (ayat 1-2), bergema kembali di bagian akhir mazmur ini (ayat 22-22), sehingga ajakan itu membentuk semacam inklusi (pembingkai) antara awal dan akhir mazmur.
Manakah ajakan itu? Mula-mula ia mengajak para malaekat dan para pahlawan (ayat 20). Kemudian ia mengajak para bala tentara surgawi dan para pejabat di surga untuk memuji-Nya (ayat 21). Akhirnya dalam ayat 22 ia mengajak segala hasil ciptaan-Nya untuk memuji dan memuliakan Tuhan. Tidak lupa ia juga mengajak dirinya sendiri (jiwaku) untuk memuji Tuhan, sebab jangan sampai terjadi ia mengajak dan menyuruh orang lain untuk memuji Tuhan, sedangkan ia sendiri tidak menaruh peduli sama sekali, seperti seorang ayah yang menyuruh anak-anaknya pergi ke gereja pada hari Minggu, sementara ia sendiri terus saja berbaring di tempat tidur atau di sofa, sambil menonton televisi. Si Pemazmur ini bukanlah tipe orang yang seperti itu. Tentu saja contoh seperti itu tidaklah baik sama sekali. Sebaliknya si pemazmur di sini adalah orang yang mudah tersentuh oleh keagungan karya ciptaan Allah, sekaligus dia juga adalah orang yang bisa mengungkapkan perasaannya dalam bentuk curahan pikiran dalam kata-kata puitis yang indah dan menawan seperti yang dapat kita rasakan dan kita nikmati dalam Mazmur ini.
Dempol, Pertengahan Oktober 2013
Fransiskus Borgias M
Thursday, December 5, 2013
MENIKMATI MAZMUR 102
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Hidup adalah samsara. Demikian falsafah sekelompok orang tertentu di dunia ini. Manusia tidak pernah bisa luput dari pengalaman derita. Pasti dalam hidupnya manusia pernah mengalami derita. Orang bisa memberi bermacam ragam reaksi di hadapan derita dan sengsara hidup. Ada reaksi mengutuk dan menjadi putus asa. Ada reaksi mengutuk tetapi orang itu lalu menjadi tegar sebagai orang yang tidak bisa lagi hidup dalam iman, hidup sebagai orang yang percaya. Tetapi ada juga reaksi orang yang percaya dan sepenuhnya ia berserah diri kepada misteri penyelenggaraan ilahi dalam dan atas hidupnya. Reaksi model yang pertama ialah fatalisme, dan reaksi model yang kedua adalah ateisme praktis ala filsuf Prancis-Aljazair, Albert Camus itu (yakni hidup seakan-akan Allah itu tidak ada; atau apakah Allah ada atau tidak, sama sekali tidak ada pengaruhnya bagi orang yang bersangkutan). Dan model reaksi yang ketiga adalah model reaksi orang yang tetap tekun dan saleh beriman kendati sengsara dan derita hidup, sebuah reaksi yang mendapat model dasarnya dalam Kitab Ayub itu. Kiranya apa yang dilukiskan dalam mazmur 102 ini adalah model reaksi yang ketiga itu. Oleh karena itu, saya menganggap sangat penting bagi kita untuk direnungkan dan diresapkan bersama agar dapat kita hayati juga dalam ruang lingkup pengalaman iman dan rohani kita sendiri yang pasti tidak jarang dilanda kegelapan dan cobaan yang tidak ringan untuk diatasi dan diarungi.
Tetapi sebelum melangkah lebih jauh, terlebih dahulu saya mau memberikan beberapa catatan teknis tentang mazmur ini. Pertama, judul mazmur ini dalam Alkitab kita ialah, “Doa minta tolong dan doa untuk Sion”; judul ini menegaskan sekali lagi tendensi dasar yang sudah dikatakan dalam alinea pertama di atas tadi. Kedua, Mazmur ini termasuk cukup panjang yaitu terdiri atas 29 ayat. Ketiga, untuk memudahkan uraian dan pemahaman saya akan membagi mazmur ini dalam beberapa bagian berikut ini. Bagian I terdiri atas ayat 1-3; Bagian II terdiri atas ayat 4-12; Bagian III terdiri atas ayat 13-23; Bagian IV meliputi ayat 24-25; Bagian V meliputi ayat 25-29. Dalam bagian berikut ini saya akan mencoba mulai dengan melihat Bagian pertama.
Dalam ayat 1 ada sebuah penegasan tentang apa yang menjadi isi dari seluruh mazmur ini. Yaitu bahwa mazmur ini adalah doa seorang sengsara, ketika ia sedang berada dalam situasi yang paling parah dalam penderitaannya. Dan dalam keadaan seperti itu ia datang berserah diri kepada Tuhan. Dalam ayat 2-3, barulah dimulai secara tegas doa itu sendiri dengan sebuah permohonan agar Tuhan sudi mendengarkan doanya. Di sini ada sebuah personifikasi suara doa itu; yakni doa tadi dibayangkan sebagai seseorang yang datang ke hadapan wajah Allah (ay 2b). Kalau dalam ayat 2 yang ditekankan ialah sisi si penderita, maka dalam ayat 3 lebih ditekankan dari sisi Allah sendiri. Si penderita berharap agar Tuhan tidak menyembunyikan wajah-Nya dari sengsara dan deritanya, agar Tuhan menyendengkan telinga-Nya kepada seruan dia yang berseru-seru meminta tolong.
Ia sangat mendesak-desak dalam doa permohonannya ini bahkan terasa seperti sedikit memaksa juga. Hal itu memang masuk akal karena dalam Bagian III ini ia melukiskan gentingnya keadaan hidupnya. Dalam pelbagai metafor (perlambang) ia mencoba melukiskan sengsara dan deritanya. Misalnya, ia merasa segera akan berakhir seperti asap dan tulangnya membara (ayat 4), hatinya terasa terpukul dan layu seperti rumput sehingga ia lupa akan aktifitas yang bisa menghidupkan dan menyehatkan dia yaitu makan roti (ayat 5), ia merasa kurus sehingga hanya tinggal tulang belulang saja karena tenaganya sudah tergerus habis oleh teriaknya (ayat 6), hidupnya menjadi sepi seperti burung di gurun dan di puing-puing reruntuhan (ayat 7-8), ia juga mendapat penghinaan dari para lawannya (ayat 9), makanannya pun sudah tercampur abu dan minumannya pun tercampur air mata (ayat 10). Jelas hal itu semuanya adalah sebuah situasi derita yang amat tragis dan dramatis. Yang menarik ialah bahwa ia beranggapan bahwa semua ini terjadi karena amarah Tuhan yang mencampakkan dia (ayat 11), dan yang menyebabkan ia merasa hidupnya menjadi semu seperti bayang-bayang yang memanjang dan ia menjadi layu seperti rerumputan (ayat 12).
Dalam Bagian III ini si pemazmur seperti melompat optimistik ke atas. Walau tadi dalam ayat 11 ia merasa seperti dihukum Tuhan, tetapi sekarang ia juga serentak merasa bahwa Tuhan sendiri jugalah yang akan menjadi sang pembebas dan penyelamat baginya. Sekali lagi di sini ada dua loncatan besar, sebuah pengalaman kontras, pengalaman paradoksal. Pertama, loncatan dari pesimisme ke arah optimisme. Kedua, loncatan dari doa pribadi ke doa untuk Sion. Di sini tidak cukup ruang dan waktu untuk membahas lebih lanjut tentang bagaimana hubungan antara si individu itu dan Sion. Yang jelas dalam ayat 14 diyakini bahwa Tuhan sendiri akan bangkit untuk menyelamatkan situasi genting Sion. Sebab Sion itu sangat disayangi umat (ayat 15). Jika Tuhan sudah membangun Sion (ayat 17), sudah mendengarkan doa orang tulus (kembali lagi ke doa pribadi, ayat 18), maka semua orang di bumi akan menjadi takut akan Tuhan (ayat 16). Hal ini dianggap sebagai peristiwa penting sehingga terasas perlu dan harus ditulis (ayat 19). Peristiwa penting itu ialah bahwa Tuhan sudi mendengarkan doa orang kecil dan orang yang terancam hukuman mati (ayat 20-21). Hal itu terjadi agar nama Tuhan terpuji dan dimuliakan untuk selama-lamanya di Sion dan sekaligus juga dari Sion (ayat 22).
Dalam bagian IV, ia kembali lagi berbicara tentang doa pribadi dan masalah pribadi. Ia merasa bahwa Tuhan telah berbuat keras atas hidupnya, tetapi kepada Tuhan itu jugalah ia berbalik memohon daya kehidupan yang lama.
Akhirnya dalam Bagian V, ia berbicara tentang teologi penciptaan pada awal mula, tentang dasar bumi dan langit sebagai karya tangan Tuhan. Semuanya itu akan binasa, tetapi Tuhan sendiri akan tetap tinggal untuk selama-lamanya (manet in aeternum) dari kekal hingga kekal. Dalam konteks keabadian Tuhan itulah si pemazmur merasa bahwa semua anak manusia akan hidup dengan tenteram di hadapan Tuhan. Hidup tidak akan berkesudahan di hadapan kehadiran kasih setia (hesed) Tuhan yang kekal abadi untuk selama-lamanya.
Dempol 09 Oktober 2013
Fransiskus Borgias M.
Hidup adalah samsara. Demikian falsafah sekelompok orang tertentu di dunia ini. Manusia tidak pernah bisa luput dari pengalaman derita. Pasti dalam hidupnya manusia pernah mengalami derita. Orang bisa memberi bermacam ragam reaksi di hadapan derita dan sengsara hidup. Ada reaksi mengutuk dan menjadi putus asa. Ada reaksi mengutuk tetapi orang itu lalu menjadi tegar sebagai orang yang tidak bisa lagi hidup dalam iman, hidup sebagai orang yang percaya. Tetapi ada juga reaksi orang yang percaya dan sepenuhnya ia berserah diri kepada misteri penyelenggaraan ilahi dalam dan atas hidupnya. Reaksi model yang pertama ialah fatalisme, dan reaksi model yang kedua adalah ateisme praktis ala filsuf Prancis-Aljazair, Albert Camus itu (yakni hidup seakan-akan Allah itu tidak ada; atau apakah Allah ada atau tidak, sama sekali tidak ada pengaruhnya bagi orang yang bersangkutan). Dan model reaksi yang ketiga adalah model reaksi orang yang tetap tekun dan saleh beriman kendati sengsara dan derita hidup, sebuah reaksi yang mendapat model dasarnya dalam Kitab Ayub itu. Kiranya apa yang dilukiskan dalam mazmur 102 ini adalah model reaksi yang ketiga itu. Oleh karena itu, saya menganggap sangat penting bagi kita untuk direnungkan dan diresapkan bersama agar dapat kita hayati juga dalam ruang lingkup pengalaman iman dan rohani kita sendiri yang pasti tidak jarang dilanda kegelapan dan cobaan yang tidak ringan untuk diatasi dan diarungi.
Tetapi sebelum melangkah lebih jauh, terlebih dahulu saya mau memberikan beberapa catatan teknis tentang mazmur ini. Pertama, judul mazmur ini dalam Alkitab kita ialah, “Doa minta tolong dan doa untuk Sion”; judul ini menegaskan sekali lagi tendensi dasar yang sudah dikatakan dalam alinea pertama di atas tadi. Kedua, Mazmur ini termasuk cukup panjang yaitu terdiri atas 29 ayat. Ketiga, untuk memudahkan uraian dan pemahaman saya akan membagi mazmur ini dalam beberapa bagian berikut ini. Bagian I terdiri atas ayat 1-3; Bagian II terdiri atas ayat 4-12; Bagian III terdiri atas ayat 13-23; Bagian IV meliputi ayat 24-25; Bagian V meliputi ayat 25-29. Dalam bagian berikut ini saya akan mencoba mulai dengan melihat Bagian pertama.
Dalam ayat 1 ada sebuah penegasan tentang apa yang menjadi isi dari seluruh mazmur ini. Yaitu bahwa mazmur ini adalah doa seorang sengsara, ketika ia sedang berada dalam situasi yang paling parah dalam penderitaannya. Dan dalam keadaan seperti itu ia datang berserah diri kepada Tuhan. Dalam ayat 2-3, barulah dimulai secara tegas doa itu sendiri dengan sebuah permohonan agar Tuhan sudi mendengarkan doanya. Di sini ada sebuah personifikasi suara doa itu; yakni doa tadi dibayangkan sebagai seseorang yang datang ke hadapan wajah Allah (ay 2b). Kalau dalam ayat 2 yang ditekankan ialah sisi si penderita, maka dalam ayat 3 lebih ditekankan dari sisi Allah sendiri. Si penderita berharap agar Tuhan tidak menyembunyikan wajah-Nya dari sengsara dan deritanya, agar Tuhan menyendengkan telinga-Nya kepada seruan dia yang berseru-seru meminta tolong.
Ia sangat mendesak-desak dalam doa permohonannya ini bahkan terasa seperti sedikit memaksa juga. Hal itu memang masuk akal karena dalam Bagian III ini ia melukiskan gentingnya keadaan hidupnya. Dalam pelbagai metafor (perlambang) ia mencoba melukiskan sengsara dan deritanya. Misalnya, ia merasa segera akan berakhir seperti asap dan tulangnya membara (ayat 4), hatinya terasa terpukul dan layu seperti rumput sehingga ia lupa akan aktifitas yang bisa menghidupkan dan menyehatkan dia yaitu makan roti (ayat 5), ia merasa kurus sehingga hanya tinggal tulang belulang saja karena tenaganya sudah tergerus habis oleh teriaknya (ayat 6), hidupnya menjadi sepi seperti burung di gurun dan di puing-puing reruntuhan (ayat 7-8), ia juga mendapat penghinaan dari para lawannya (ayat 9), makanannya pun sudah tercampur abu dan minumannya pun tercampur air mata (ayat 10). Jelas hal itu semuanya adalah sebuah situasi derita yang amat tragis dan dramatis. Yang menarik ialah bahwa ia beranggapan bahwa semua ini terjadi karena amarah Tuhan yang mencampakkan dia (ayat 11), dan yang menyebabkan ia merasa hidupnya menjadi semu seperti bayang-bayang yang memanjang dan ia menjadi layu seperti rerumputan (ayat 12).
Dalam Bagian III ini si pemazmur seperti melompat optimistik ke atas. Walau tadi dalam ayat 11 ia merasa seperti dihukum Tuhan, tetapi sekarang ia juga serentak merasa bahwa Tuhan sendiri jugalah yang akan menjadi sang pembebas dan penyelamat baginya. Sekali lagi di sini ada dua loncatan besar, sebuah pengalaman kontras, pengalaman paradoksal. Pertama, loncatan dari pesimisme ke arah optimisme. Kedua, loncatan dari doa pribadi ke doa untuk Sion. Di sini tidak cukup ruang dan waktu untuk membahas lebih lanjut tentang bagaimana hubungan antara si individu itu dan Sion. Yang jelas dalam ayat 14 diyakini bahwa Tuhan sendiri akan bangkit untuk menyelamatkan situasi genting Sion. Sebab Sion itu sangat disayangi umat (ayat 15). Jika Tuhan sudah membangun Sion (ayat 17), sudah mendengarkan doa orang tulus (kembali lagi ke doa pribadi, ayat 18), maka semua orang di bumi akan menjadi takut akan Tuhan (ayat 16). Hal ini dianggap sebagai peristiwa penting sehingga terasas perlu dan harus ditulis (ayat 19). Peristiwa penting itu ialah bahwa Tuhan sudi mendengarkan doa orang kecil dan orang yang terancam hukuman mati (ayat 20-21). Hal itu terjadi agar nama Tuhan terpuji dan dimuliakan untuk selama-lamanya di Sion dan sekaligus juga dari Sion (ayat 22).
Dalam bagian IV, ia kembali lagi berbicara tentang doa pribadi dan masalah pribadi. Ia merasa bahwa Tuhan telah berbuat keras atas hidupnya, tetapi kepada Tuhan itu jugalah ia berbalik memohon daya kehidupan yang lama.
Akhirnya dalam Bagian V, ia berbicara tentang teologi penciptaan pada awal mula, tentang dasar bumi dan langit sebagai karya tangan Tuhan. Semuanya itu akan binasa, tetapi Tuhan sendiri akan tetap tinggal untuk selama-lamanya (manet in aeternum) dari kekal hingga kekal. Dalam konteks keabadian Tuhan itulah si pemazmur merasa bahwa semua anak manusia akan hidup dengan tenteram di hadapan Tuhan. Hidup tidak akan berkesudahan di hadapan kehadiran kasih setia (hesed) Tuhan yang kekal abadi untuk selama-lamanya.
Dempol 09 Oktober 2013
Fransiskus Borgias M.
MENIKMATI MAZMUR 101
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Ada banyak model atau cara yang dapat ditempuh seorang raja atau pemimpin untuk memerintah atas rakyatnya. Ada yang memerintah dengan tangan besi dan darah, Eisen und Blutt, meminjam istilah dari khasanah kebijakan politik Jerman pada masa pemerintahan Otto von Bismarck. Ada yang mencoba memerintah dengan lemah lembut dan rendah hati, penuh kearifan, dan kasih sayang, memerintah dengan cara melayani, cui servire regnare est (memerintah dengan cara melayani). Cara seorang raja memerintah atau memimpin amat ditentukan atau dipengaruh oleh titik acuan pandang ke mana ia memandang selama ini untuk mengambil model dasar. Kalau ia mengambil model diktator, maka ia akan menjadi seorang diktator yang keras dan machiavelistik, tujuan menghalalkan cara, the end justifies the means, finum iustificat medium. Sebaliknya kalau ia mengambil model raja yang baik hati, lemah lembut, dan rendah hati, maka ia akan menjadi seorang raja yang lembut dan rendah hati juga. Jika ia mengambil model orang jahat, maka ia akan menjadi penjahat. Sebaliknya jika ia mengambil model orang yang baik maka ia akan menjadi orang yang baik.
Kira-kira hal seperti itulah yang dapat kita lihat dalam Mazmur 101 ini yang melukiskan seorang raja yang mengucapkan sebuah niatan suci atau nazar. Tetapi sebelum melangkah lebih lanjut untuk membahas kandungan makna dalam Mazmur ini, terlebih dahulu saya coba melihat beberapa persoalan teknis terkait mazmur ini. Judul Mazmur ini dalam Alkitab kita ialah “Seorang raja Bernazar”. Ia mengungkapkan niatan hatinya yang paling dalam sehubungan dengan kebijakan politik pemerintahannya. Mazmur ini termasuk cukup singkat (8 ayat). Untuk memudahkan pemahaman dan penjelasan maka saya membaginya ke dalam tiga bagian besar sbb: Bagian I, mencakup ayat 1. Bagian II, mencakup ayat 2-5. Bagian III, mencakup ayat 6-8. Saya mulai dengan bagian pertama.
Seorang raja yang baik harus berpegang teguh pada kasih setia dan hukum yang berasal dari Tuhan sendiri. Di sini disebutkan beberapa unsur pokok. Pertama, ialah hesed (steadfast love) atau kasih setia. Hesed ini adalah salah satu sifat Allah sendiri. Sang raja yang baik mencoba menyanyikan (baca: memuji dan memuliakan) kasih setia Tuhan sambil berharap bahwa hal itu akan dapat menjadi kasih setia Dia sendiri juga dalam dan selama hidupnya. Sedangkan yang kedua ialah hukum; dan hukum yang disinggung di sini diyakini sebagai berasal dari Allah sendiri, yaitu hukum Taurat. Sang raja berniat dengan sungguh (nazar) untuk menyanyikan kedua hal itu. Masih ada unsur ketiga yaitu niat yang teguh untuk bermazmur bagi Tuhan. Ini adalah benar-benar sebuah politik pemerintahan yang religius dan teosentris, menjadikan Tuhan sebagai pusat tata hidup politik, sosial, dan ekonomi.
Setelah berniat secara teosentris, dengan ini saya mulai melihat bagian kedua (ayat 2-5), sekarang ia berniat secara sosio-etiko-sentris. Agar dapat memuji Tuhan dengan baik dan sepatutnya, seorang raja harus memperhatikan hidup yang tidak bercela. Dengan kata lain, ia harus hidup dengan baik, dengan mutu moral yang tinggi. Menarik bahwa ayat 2a ini diakhiri dengan sebuah pertanyaan retoris (...bilahkah...). Gaya retoris ini bermaksud menegaskan bahwa hidup tidak bercela yang ia canangkan itu semoga berkenan kepada Allah. Dalam ayat 2b ia masih mencanangkan sebuah niatan moral-etis baru yaitu hidup dengan hati yang tulus dalam rumahnya; rumah di sini antara lain bisa diartikan sebagai kaum keturunan atau dinasti. Dengan kata lain, ia mau menjadikan diri sebagai model keunggulan moral etis teologis bagi seluruh kaum keturunannya. Dalam ayat 3-5 kita hanya melihat daftar yang lebih rinci dan kongkret dari niat hidup luhur dan mulia itu di hadapan Tuhan. Misalnya ia tidak mau melihat perkara dursila (buruk kelakuan alias jahat), ia tidak suka akan perbuatan murtad (ay 3). Dalam ayat 4 ia menegaskan bahwa ia tidak mau memelihara hati yang bengkok, ia juga tidak mau memelihara hati yang jahat. Ia juga tidak suka akan orang yang mengumpat sesamanya secara sembunyi-sembunyi. Ia tidak suka akan perilaku seperti itu. Ia juga tidak suka akan orang yang sombong dan tinggi hati.
Jika dalam bagian kedua sang raja mencoba menghindar dari jalan negatif, maka dalam bagian ketiga ini ia mencoba menempuh lorong positif. Itulah yang ia canangkan dalam ayat 6: ia mau mengarahkan pandangan matanya kepada orang-orang yang setia dan baik di negeri. Ia ingin agar ia dikelilingi oleh orang-orang luhur dan mulia seperti itu. Ia ingin agar orang-orang yang melayani di sekeliling dia adalah orang-orang yang hidup tidak bercela. Ia tidak menghendaki ada orang penipu di tengah kaum keturunannya, ia juga tidak menghendaki ada orang yang suka bicara dusta di hadapan matanya. Kedua model orang seperti ini dianggap kehinaan dan cacat bagi hidupnya. Itu yang dapat kita lihat dalam ayat 7. Akhirnya dalam ayat 8 kita membaca sebuah niatan berani dan tegas sebagai bagian utuh dari kebijakan politiknya: membinasakan orang fasik, para pelaku kejahatan dihancurkan (ayat 8).
Jika ada sosok seorang raja seperti itu sekarang ini khususnya di Indonesia, maka kiranya tidak akan muncul bajingan-bajingan tengik seperti Akil Muchtar, atau Joko Susilo, dan para koruptor lainnya seperti MN, AU, AM, para koruptor yang menjadikan anggaran belanja negara sebagai ‘meja perjamuan’ bejat mereka, juga para koruptor yang terlibat dalam kasus daging sapi impor, dan koruptor yang terkait bank century, dan masalah migas, dst-dst.
Dempol, 09 Oktober 2013
Fransiskus Borgias M.
Ada banyak model atau cara yang dapat ditempuh seorang raja atau pemimpin untuk memerintah atas rakyatnya. Ada yang memerintah dengan tangan besi dan darah, Eisen und Blutt, meminjam istilah dari khasanah kebijakan politik Jerman pada masa pemerintahan Otto von Bismarck. Ada yang mencoba memerintah dengan lemah lembut dan rendah hati, penuh kearifan, dan kasih sayang, memerintah dengan cara melayani, cui servire regnare est (memerintah dengan cara melayani). Cara seorang raja memerintah atau memimpin amat ditentukan atau dipengaruh oleh titik acuan pandang ke mana ia memandang selama ini untuk mengambil model dasar. Kalau ia mengambil model diktator, maka ia akan menjadi seorang diktator yang keras dan machiavelistik, tujuan menghalalkan cara, the end justifies the means, finum iustificat medium. Sebaliknya kalau ia mengambil model raja yang baik hati, lemah lembut, dan rendah hati, maka ia akan menjadi seorang raja yang lembut dan rendah hati juga. Jika ia mengambil model orang jahat, maka ia akan menjadi penjahat. Sebaliknya jika ia mengambil model orang yang baik maka ia akan menjadi orang yang baik.
Kira-kira hal seperti itulah yang dapat kita lihat dalam Mazmur 101 ini yang melukiskan seorang raja yang mengucapkan sebuah niatan suci atau nazar. Tetapi sebelum melangkah lebih lanjut untuk membahas kandungan makna dalam Mazmur ini, terlebih dahulu saya coba melihat beberapa persoalan teknis terkait mazmur ini. Judul Mazmur ini dalam Alkitab kita ialah “Seorang raja Bernazar”. Ia mengungkapkan niatan hatinya yang paling dalam sehubungan dengan kebijakan politik pemerintahannya. Mazmur ini termasuk cukup singkat (8 ayat). Untuk memudahkan pemahaman dan penjelasan maka saya membaginya ke dalam tiga bagian besar sbb: Bagian I, mencakup ayat 1. Bagian II, mencakup ayat 2-5. Bagian III, mencakup ayat 6-8. Saya mulai dengan bagian pertama.
Seorang raja yang baik harus berpegang teguh pada kasih setia dan hukum yang berasal dari Tuhan sendiri. Di sini disebutkan beberapa unsur pokok. Pertama, ialah hesed (steadfast love) atau kasih setia. Hesed ini adalah salah satu sifat Allah sendiri. Sang raja yang baik mencoba menyanyikan (baca: memuji dan memuliakan) kasih setia Tuhan sambil berharap bahwa hal itu akan dapat menjadi kasih setia Dia sendiri juga dalam dan selama hidupnya. Sedangkan yang kedua ialah hukum; dan hukum yang disinggung di sini diyakini sebagai berasal dari Allah sendiri, yaitu hukum Taurat. Sang raja berniat dengan sungguh (nazar) untuk menyanyikan kedua hal itu. Masih ada unsur ketiga yaitu niat yang teguh untuk bermazmur bagi Tuhan. Ini adalah benar-benar sebuah politik pemerintahan yang religius dan teosentris, menjadikan Tuhan sebagai pusat tata hidup politik, sosial, dan ekonomi.
Setelah berniat secara teosentris, dengan ini saya mulai melihat bagian kedua (ayat 2-5), sekarang ia berniat secara sosio-etiko-sentris. Agar dapat memuji Tuhan dengan baik dan sepatutnya, seorang raja harus memperhatikan hidup yang tidak bercela. Dengan kata lain, ia harus hidup dengan baik, dengan mutu moral yang tinggi. Menarik bahwa ayat 2a ini diakhiri dengan sebuah pertanyaan retoris (...bilahkah...). Gaya retoris ini bermaksud menegaskan bahwa hidup tidak bercela yang ia canangkan itu semoga berkenan kepada Allah. Dalam ayat 2b ia masih mencanangkan sebuah niatan moral-etis baru yaitu hidup dengan hati yang tulus dalam rumahnya; rumah di sini antara lain bisa diartikan sebagai kaum keturunan atau dinasti. Dengan kata lain, ia mau menjadikan diri sebagai model keunggulan moral etis teologis bagi seluruh kaum keturunannya. Dalam ayat 3-5 kita hanya melihat daftar yang lebih rinci dan kongkret dari niat hidup luhur dan mulia itu di hadapan Tuhan. Misalnya ia tidak mau melihat perkara dursila (buruk kelakuan alias jahat), ia tidak suka akan perbuatan murtad (ay 3). Dalam ayat 4 ia menegaskan bahwa ia tidak mau memelihara hati yang bengkok, ia juga tidak mau memelihara hati yang jahat. Ia juga tidak suka akan orang yang mengumpat sesamanya secara sembunyi-sembunyi. Ia tidak suka akan perilaku seperti itu. Ia juga tidak suka akan orang yang sombong dan tinggi hati.
Jika dalam bagian kedua sang raja mencoba menghindar dari jalan negatif, maka dalam bagian ketiga ini ia mencoba menempuh lorong positif. Itulah yang ia canangkan dalam ayat 6: ia mau mengarahkan pandangan matanya kepada orang-orang yang setia dan baik di negeri. Ia ingin agar ia dikelilingi oleh orang-orang luhur dan mulia seperti itu. Ia ingin agar orang-orang yang melayani di sekeliling dia adalah orang-orang yang hidup tidak bercela. Ia tidak menghendaki ada orang penipu di tengah kaum keturunannya, ia juga tidak menghendaki ada orang yang suka bicara dusta di hadapan matanya. Kedua model orang seperti ini dianggap kehinaan dan cacat bagi hidupnya. Itu yang dapat kita lihat dalam ayat 7. Akhirnya dalam ayat 8 kita membaca sebuah niatan berani dan tegas sebagai bagian utuh dari kebijakan politiknya: membinasakan orang fasik, para pelaku kejahatan dihancurkan (ayat 8).
Jika ada sosok seorang raja seperti itu sekarang ini khususnya di Indonesia, maka kiranya tidak akan muncul bajingan-bajingan tengik seperti Akil Muchtar, atau Joko Susilo, dan para koruptor lainnya seperti MN, AU, AM, para koruptor yang menjadikan anggaran belanja negara sebagai ‘meja perjamuan’ bejat mereka, juga para koruptor yang terlibat dalam kasus daging sapi impor, dan koruptor yang terkait bank century, dan masalah migas, dst-dst.
Dempol, 09 Oktober 2013
Fransiskus Borgias M.
Thursday, October 10, 2013
MENIKMATI MAZMUR 100
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Pujilah Allah dalam bait-Nya
1 Bersorak-soraklah bagi TUHAN, hai seluruh bumi!
2 Beribadah kepada TUHAN dengan sukacita, datanglah ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai!
3 Ketahuilah, bahwa TUHANlah Alah; Dialah yang menjadikan kita dan punya Dialah kita, umat-Nya dan kawanan domba gembalaan-Nya.
4 Masuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian syukur, ke dalam pelataran-Nya dengan puji-pujian, bersyukurlah kepada-Nya dan pujilah nama-Nya!
5 Sebab TUHAN itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lananya, dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun.
Memuji dan memuliakan Tuhan sang Pencipta adalah kewajiban fundamental kita semua sebagai makhluk ciptaan Tuhan, sebab Tuhan Allah adalah sang Chalik. Kita tidak dapat dan juga seharusnya tidak boleh menghindarkan diri dari kewajiban fundamental itu. Tidak hanya manusia, melainkan seluruh makhluk ciptaan juga harus melambungkan madah syukur dan pujian bagi Tuhan sang Chalik, sang Pencipta. Seharusnya hal ini menjadi sebuah sikap spontan dalam hidup kita. Hal ini harus menjadi kewajiban yang datang dan mengalir dari dalam hati kita, tanpa harus datang dari luar, tidak dipaksakan oleh orang lain. Tentu kita akan sangat senang jika ada orang lain yang mengajak kita untuk datang memuji, menyembah, dan memuliakan Tuhan. Walaupun saya sadar dengan sepenuhnya bahwa tidak semua orang mempunyai reaksi sukacita ketika mendengar ajakan seperti itu. Bisa saja ada pihak lain yang merasa tidak suka akan hal seperti itu. Namun demikian tetap harus ditegaskan bahwa seluruh makhluk ciptaan wajib memuji dan memuliakan Tuhan sang Chalik, sang Pencipta, yang menjadikan segala sesuatu di alam semesta ini.
Hal seperti itulah yang coba dilukiskan dalam Mazmur 100 ini. “Pujilah Allah dalam bait-Nya”, itulah yang menjadi judul Mazmur ini: Kiranya sangat jelas bahwa ini adalah sebuah ajakan untuk memuji dan memuliakan Allah di dalam bait-Nya. Mazmur ini termasuk cukup pendek: hanya terdiri atas lima ayat saja. Karena pendek, maka saya akan mencoba melihatnya sebagai satu kesatuan saja; saya tidak akan membaginya karena memang sangat pendek.
Si Pemazmur memulai mazmurnya ini dengan mengajak kita semua untuk bersorak-sorak bagi TUHAN (ay.1). Ia tidak hanya mengajak manusia saja, melainkan seluruh bumi diajaknya untuk memuji dan memuliakan Allah. Di sini kita serta merta teringat akan nyanyian tiga pemuda dari dalam tanur api dalam Kitab Daniel itu; juga kita segera teringat akan puisi kosmis, Kidung Saudara Matahari, dari santo Fransiskus dari Asisi. Dari dan berdasarkan ayat 1 ini kita pun tahu bahwa ketika menghadap TUHAN kita tidak harus selalu dengan sikap diam-diam, atau dengan sikap sopan-sopan berbaris dan duduk dengan tenang, diam-diam merenung, hanyut dalam kontemplasi. Tentu itu juga boleh, tetapi itu bukan satu-satunya cara yang baik dan berkenan di hadapan Allah. Ternyata menurut mazmur ini, ketika menghadap Tuhan kita juga harus sangat ekspresif, bersikap sangat spontan. Sekali lagi, hal datang kepada Tuhan itu tidak harus serius-serius atau dengan berduka, dengan muka muram durja, melainkan dengan penuh sukacita dan sorak-sorai (ay.2).
Lalu dalam ayat 3 si pemazmur mengajukan sebuah alasan mengapa kita harus memuji dan bersyukur kepada Allah. Di sini dijelaskan hubungan kita dengan Allah. Ada lima hal yang disebut secara khusus dan rinci sebagai bentuk relasi itu antara Allah dan umat manusia. Pertama, Allah adalah Tuhan kita. Kedua, Tuhanlah yang telah menjadikan kita. Ketiga, oleh karena itu, sebagai konsekwensi logis dari yang pertama dan kedua, kita semua adalah milik Tuhan belaka. Keempat, ada pengakuan bahwa kita ini adalah umat-Nya (Tuhan). Kelima, dipakailah sebuah metafora untuk mewujudkan relasi itu, yakni bahwa kita adalah kawanan domba yang digembalakan Tuhan. Jadi, di sini secara implisit disinggung sebuah ide lama yang sangat terkenal dalam hidup Israel yaitu Tuhan sebagai gembala (sebagaimana sudah dikemukakan di tempat lain di depan, yaitu dalam Mazmur 23 yang sangat terkenal dan inspiratif itu, juga dalam Kitab nabi Yeheskiel itu, yang dikemudian hari turut serta mengilhami Yohanes 10 tentang sang Gembala yang Baik).
Dalam ayat 4 si pemazmur mulai lagi mengajukan sebuah ajakan kepada kita untuk datang ke rumah Allah. Detail rumah itu dilukiskan juga di sini. Ada pintu gerbang, yang harus kita lewati dengan nyanyian syukur dan pujian. Ada pelataran-pelataran yang juga harus kita masuki dengan puji-pujian dan dengan penuh sukacita. Setelah melewati itu semua, kita pun diandaikan sudah tiba di bagian dalam dari rumah itu dan di sana kita bersyukur kepada Allah dan memuji nama-Nya.
Akhirnya, dalam ayat 5 kembali si pemazmur memberikan alasan mengapa kita harus datang untuk memuji dan memuliakan Allah dengan lagu syukur; alasannya tidak lain ialah karena Tuhan itu baik. Lebih dari itu Tuhan juga telah menunjukkan kasih setia-Nya kepada kita. Itulah penyelenggaraan Allah dalam hidup kita, providentia dei. Ayat yang terakhir ini serta merta mengingatkan saya akan Mazmur 136 yang mempunyai refrein yang tetap sebagai berikut: Bersyukurlah kepada Tuhan sebab Ia baik, kekal abadi kasih setia-Nya. Jadi, kalau dikilas balik, maka akan kelihatan struktur sebagai berikut: dimulai dengan sebuah ajakan lalu alasan mengapa ada ajakan itu (ayat 1-3). Pola itu diulang secara persis sama lagi dalam dalam ayat 4-5: ada ajakan dan diberikan juga bagi adanya ajakan tersebut.
Nglempong Lor, Februari 2013
Fransiskus Borgias M., (Mahasiswa ICRS Yogyakarta).
Pujilah Allah dalam bait-Nya
1 Bersorak-soraklah bagi TUHAN, hai seluruh bumi!
2 Beribadah kepada TUHAN dengan sukacita, datanglah ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai!
3 Ketahuilah, bahwa TUHANlah Alah; Dialah yang menjadikan kita dan punya Dialah kita, umat-Nya dan kawanan domba gembalaan-Nya.
4 Masuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian syukur, ke dalam pelataran-Nya dengan puji-pujian, bersyukurlah kepada-Nya dan pujilah nama-Nya!
5 Sebab TUHAN itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lananya, dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun.
Memuji dan memuliakan Tuhan sang Pencipta adalah kewajiban fundamental kita semua sebagai makhluk ciptaan Tuhan, sebab Tuhan Allah adalah sang Chalik. Kita tidak dapat dan juga seharusnya tidak boleh menghindarkan diri dari kewajiban fundamental itu. Tidak hanya manusia, melainkan seluruh makhluk ciptaan juga harus melambungkan madah syukur dan pujian bagi Tuhan sang Chalik, sang Pencipta. Seharusnya hal ini menjadi sebuah sikap spontan dalam hidup kita. Hal ini harus menjadi kewajiban yang datang dan mengalir dari dalam hati kita, tanpa harus datang dari luar, tidak dipaksakan oleh orang lain. Tentu kita akan sangat senang jika ada orang lain yang mengajak kita untuk datang memuji, menyembah, dan memuliakan Tuhan. Walaupun saya sadar dengan sepenuhnya bahwa tidak semua orang mempunyai reaksi sukacita ketika mendengar ajakan seperti itu. Bisa saja ada pihak lain yang merasa tidak suka akan hal seperti itu. Namun demikian tetap harus ditegaskan bahwa seluruh makhluk ciptaan wajib memuji dan memuliakan Tuhan sang Chalik, sang Pencipta, yang menjadikan segala sesuatu di alam semesta ini.
Hal seperti itulah yang coba dilukiskan dalam Mazmur 100 ini. “Pujilah Allah dalam bait-Nya”, itulah yang menjadi judul Mazmur ini: Kiranya sangat jelas bahwa ini adalah sebuah ajakan untuk memuji dan memuliakan Allah di dalam bait-Nya. Mazmur ini termasuk cukup pendek: hanya terdiri atas lima ayat saja. Karena pendek, maka saya akan mencoba melihatnya sebagai satu kesatuan saja; saya tidak akan membaginya karena memang sangat pendek.
Si Pemazmur memulai mazmurnya ini dengan mengajak kita semua untuk bersorak-sorak bagi TUHAN (ay.1). Ia tidak hanya mengajak manusia saja, melainkan seluruh bumi diajaknya untuk memuji dan memuliakan Allah. Di sini kita serta merta teringat akan nyanyian tiga pemuda dari dalam tanur api dalam Kitab Daniel itu; juga kita segera teringat akan puisi kosmis, Kidung Saudara Matahari, dari santo Fransiskus dari Asisi. Dari dan berdasarkan ayat 1 ini kita pun tahu bahwa ketika menghadap TUHAN kita tidak harus selalu dengan sikap diam-diam, atau dengan sikap sopan-sopan berbaris dan duduk dengan tenang, diam-diam merenung, hanyut dalam kontemplasi. Tentu itu juga boleh, tetapi itu bukan satu-satunya cara yang baik dan berkenan di hadapan Allah. Ternyata menurut mazmur ini, ketika menghadap Tuhan kita juga harus sangat ekspresif, bersikap sangat spontan. Sekali lagi, hal datang kepada Tuhan itu tidak harus serius-serius atau dengan berduka, dengan muka muram durja, melainkan dengan penuh sukacita dan sorak-sorai (ay.2).
Lalu dalam ayat 3 si pemazmur mengajukan sebuah alasan mengapa kita harus memuji dan bersyukur kepada Allah. Di sini dijelaskan hubungan kita dengan Allah. Ada lima hal yang disebut secara khusus dan rinci sebagai bentuk relasi itu antara Allah dan umat manusia. Pertama, Allah adalah Tuhan kita. Kedua, Tuhanlah yang telah menjadikan kita. Ketiga, oleh karena itu, sebagai konsekwensi logis dari yang pertama dan kedua, kita semua adalah milik Tuhan belaka. Keempat, ada pengakuan bahwa kita ini adalah umat-Nya (Tuhan). Kelima, dipakailah sebuah metafora untuk mewujudkan relasi itu, yakni bahwa kita adalah kawanan domba yang digembalakan Tuhan. Jadi, di sini secara implisit disinggung sebuah ide lama yang sangat terkenal dalam hidup Israel yaitu Tuhan sebagai gembala (sebagaimana sudah dikemukakan di tempat lain di depan, yaitu dalam Mazmur 23 yang sangat terkenal dan inspiratif itu, juga dalam Kitab nabi Yeheskiel itu, yang dikemudian hari turut serta mengilhami Yohanes 10 tentang sang Gembala yang Baik).
Dalam ayat 4 si pemazmur mulai lagi mengajukan sebuah ajakan kepada kita untuk datang ke rumah Allah. Detail rumah itu dilukiskan juga di sini. Ada pintu gerbang, yang harus kita lewati dengan nyanyian syukur dan pujian. Ada pelataran-pelataran yang juga harus kita masuki dengan puji-pujian dan dengan penuh sukacita. Setelah melewati itu semua, kita pun diandaikan sudah tiba di bagian dalam dari rumah itu dan di sana kita bersyukur kepada Allah dan memuji nama-Nya.
Akhirnya, dalam ayat 5 kembali si pemazmur memberikan alasan mengapa kita harus datang untuk memuji dan memuliakan Allah dengan lagu syukur; alasannya tidak lain ialah karena Tuhan itu baik. Lebih dari itu Tuhan juga telah menunjukkan kasih setia-Nya kepada kita. Itulah penyelenggaraan Allah dalam hidup kita, providentia dei. Ayat yang terakhir ini serta merta mengingatkan saya akan Mazmur 136 yang mempunyai refrein yang tetap sebagai berikut: Bersyukurlah kepada Tuhan sebab Ia baik, kekal abadi kasih setia-Nya. Jadi, kalau dikilas balik, maka akan kelihatan struktur sebagai berikut: dimulai dengan sebuah ajakan lalu alasan mengapa ada ajakan itu (ayat 1-3). Pola itu diulang secara persis sama lagi dalam dalam ayat 4-5: ada ajakan dan diberikan juga bagi adanya ajakan tersebut.
Nglempong Lor, Februari 2013
Fransiskus Borgias M., (Mahasiswa ICRS Yogyakarta).
MENIKMATI MAZMUR 99
OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
Ada banyak alasan bagi kita manusia untuk selalu bersyukur dan bersujud kepada Allah dan menyanyikan lagu pujian dan syukur kepada-Nya. Dalam Mazmur 99 ini si pemazmur memberikan beberapa alasan penting. Salah satunya ialah nostalgia yang terjadi dalam proses penelusuran ke masa silam. Memang dalam hal ini kita diingatkan untuk selalu ingat sejarah, agar kita mau dan bisa belajar dari sejarah masa silam; sebab kata orang bijak, sejarah adalah guru yang maha penting; pengalaman adalah guru besar kehidupan sebab orang bisa belajar sangat banyak dari khasanah pengalaman kehidupan itu sendiri. Kata orang Latin: verba volant, exempla trahunt (kata-kata terbang, mudah dilupakan, tetapi teladan perbuatan itu bisa menarik orang untuk menirunya); atau ungkapan lain masih dari bahasa Latin: verba volant, exempla manet (kata-kata mudah terlupakan, mudah menguap seperti uap atau embun, tetapi teladan perbuatan akan tetap tinggal selama-alamnya; akan terus melekat dalam ingatan kita yang menyaksikan dan mengalami perbuatan itu). Itu sebabnya Sukarno, dalam salah satu untaian pidatonya yang gemar memakai ungkapan menarik dan singkatan (yang kemudian menjadi akronim politik yang populer), mengatakan bahwa kita “jangan sampai melupakan sejarah” (yang kemudian disingkat menjadi jasmerah).
Tetapi hendaknya juga diingat dan disadari juga bahwa menukik dan menoleh ke masa silam, jangan sampai menyebabkan kita tenggelam dalam masa silam itu. Masa silam selalu dipelajari dan disimak, demi mengarungi masa kini dan mensikapi masa depan. Masa silam harus ditinjau selalu dalam kesadaran akan perspektif totalitas seperti itu.
Menyadari arti penting hal itu maka si Pemazmur dalam mazmur ini mencoba membicarakan hal itu dengan cara dan bahasa ungkapannya sendiri yang khas dan unik. Mazmur ini mempunyai sebuah judul yang amat menarik: TUHAN, Raja yang kudus. Mazmur ini terdiri atas 9 ayat saja; jadi termasuk cukup pendek. Menurut petunjuk literer yang tersedia dalam mazmur ini sendiri, mazmur ini dapat dibagi menjadi dua bagian penting. Pembagian ini juga pasti mencerminkan alur isi yang terkandung di dalamnya. Bagian pertama, mencakup ayat 1-5; bagian kedua, mencakup ayat 6-9. Ulasan saya selanjutnya akan mengikuti kedua pembagian itu. Saya mulai dengan yang pertama.
Ayat 1-2 melukiskan tentang Allah sebagai Raja. Sebagai Raja Ia bertahta di atas para malaekat (cherub). Selain itu, Tuhan juga menjadi raja. Oleh karena itu muka bumi dan segala isinya goyang dan gemetar di hadapan-Nya. Dalam ay.2 muncul nama Sion. Tuhan juga diyakini sedang bertahta di sana. Tuhan itu mahabesar di Sion. Begitulah pandangan dan keyakinan teologis si pemazmur dan kita yang sedang membacanya dengan baik-baik. Tuhan juga melampuai segala bangsa. Pemazmur mengajak para bangsa untuk memuji dan memuliakan keagungan dan kekudusan Allah (ay.3). Tuhan Allah dipuji karena Ia yang menegakkan hukum, kebenaran, dan keadilan di bumi (ay.4). Bagi saya hal ini sangat penting dan mendasar karena ini adalah sebuah proklamasi kebebasan dan keluhuran dan keagungan martabat manusia. Hanya Tuhan sendiri sajalah yang bisa menegakkan pilar-pilar hidup sosial-keagamaan manusia itu. Tanpa adanya pilar-pilar itu, maka cepat atau lambat akan terjadi sebuah kemerosotan yang sangat luar biasa. Sikap memuji dan memuliakan Allah itu kemudian dilanjutkan dalam ay.5 yang menjadi penutup bagian pertama mazmur ini.
Kemudian secara sekilas sejarah masa silam Israel disinggung kembali di sini secara singkat saja (ay.6). Hal ini dilakukan karena orang sangat yakin dengan kenyataan bahwa masa silam itu ikut menentukan kwalitas hidup pada masa sekarang ini dan juga hidup di masa nanti. Tinjauan ke masa silam itu di sini dilakukan dengan cara menyebut tiga tokoh besarnya sebagai wakil dari sekian banyak tokoh besar yang memainkan peranan penting dalam sejarah masa silam Israel (Musa, Harun, Samuel; penyebutan ketiga orang ini hanya sebagai wakil saja, sebab masih ada banyak tokoh besar lain yang ada dalam sejarah perjanjian lama itu sendiri); tidak lupa juga disebutkan di sini satu peristiwa ajaib penyertaan Tuhan dalam karya pembebasan dari Mesir dan dalam perjalanan selama di padang Gurun, yaitu tiang awan, lambang kehadiran dan penyertaan Tuhan sendiri bagi Umat-Nya. Tuhan hadir di tengah-tengah umat-Nya dalam perjalanan ziarah dan pengembaraan mereka menuju ke Tanah Terjanji. Polanya kurang lebih sama: umat berseru kepada Allah, lewat para pemimpin mereka dan Tuhan menjawab mereka dari dalam tiang awan. Ditinjau secara historis, memang di masa silam umat telah mentaati hukum, ketetapan, dan peringatan-peringatan Tuhan (ay.7).
Singgungan-singgungan ke sejarah masa silam selalu dimaksudkan untuk sebuah pendidikan etis-teologis-praktis pada masa kini. Diharapkan bahwa dengan melihat pola relasi Allah dan umat di masa silam, akan muncul di tengah umat pada masa kini suatu keinginan untuk memuji dan memuliakan Allah juga. Allah dialami dan dirasakan sebagai sang pengampun, tetapi juga yang membalas perbuatan umat (ay.8). Walaupun tidak secara eksplisit disebut dalam teks ini, tetapi kiranya pendidikan dari pihak Allah, selalu dimaksudkan untuk perbaikan dan kebaikan umat; bukan untuk kebinasaan dan kematian. Ajakan penutup dalam ay.9 hampir secara harfiah mengulangi kembali ayat 5 (yang menutup penggalan pertama mazmur ini). Inti ajakan itu adalah untuk meninggikan TUHAN dan bersembah sujud di hadapan-Nya. Hanya bedanya dalam ayat 5 disinggung hanya tumpuan kaki-Nya, sedangkan dalam ay.9 disinggung secara eksplisit tumpuan kaki itu, yakni gunung-Nya yang kudus. Alasan bagi ajakan untuk meninggikan dan menyembah Allah itu ialah karena Allah itu kudus, dan Allah yang kudus itu adalah Allah kita.
Nglempong Lor, 03 Maret 2013
Ada banyak alasan bagi kita manusia untuk selalu bersyukur dan bersujud kepada Allah dan menyanyikan lagu pujian dan syukur kepada-Nya. Dalam Mazmur 99 ini si pemazmur memberikan beberapa alasan penting. Salah satunya ialah nostalgia yang terjadi dalam proses penelusuran ke masa silam. Memang dalam hal ini kita diingatkan untuk selalu ingat sejarah, agar kita mau dan bisa belajar dari sejarah masa silam; sebab kata orang bijak, sejarah adalah guru yang maha penting; pengalaman adalah guru besar kehidupan sebab orang bisa belajar sangat banyak dari khasanah pengalaman kehidupan itu sendiri. Kata orang Latin: verba volant, exempla trahunt (kata-kata terbang, mudah dilupakan, tetapi teladan perbuatan itu bisa menarik orang untuk menirunya); atau ungkapan lain masih dari bahasa Latin: verba volant, exempla manet (kata-kata mudah terlupakan, mudah menguap seperti uap atau embun, tetapi teladan perbuatan akan tetap tinggal selama-alamnya; akan terus melekat dalam ingatan kita yang menyaksikan dan mengalami perbuatan itu). Itu sebabnya Sukarno, dalam salah satu untaian pidatonya yang gemar memakai ungkapan menarik dan singkatan (yang kemudian menjadi akronim politik yang populer), mengatakan bahwa kita “jangan sampai melupakan sejarah” (yang kemudian disingkat menjadi jasmerah).
Tetapi hendaknya juga diingat dan disadari juga bahwa menukik dan menoleh ke masa silam, jangan sampai menyebabkan kita tenggelam dalam masa silam itu. Masa silam selalu dipelajari dan disimak, demi mengarungi masa kini dan mensikapi masa depan. Masa silam harus ditinjau selalu dalam kesadaran akan perspektif totalitas seperti itu.
Menyadari arti penting hal itu maka si Pemazmur dalam mazmur ini mencoba membicarakan hal itu dengan cara dan bahasa ungkapannya sendiri yang khas dan unik. Mazmur ini mempunyai sebuah judul yang amat menarik: TUHAN, Raja yang kudus. Mazmur ini terdiri atas 9 ayat saja; jadi termasuk cukup pendek. Menurut petunjuk literer yang tersedia dalam mazmur ini sendiri, mazmur ini dapat dibagi menjadi dua bagian penting. Pembagian ini juga pasti mencerminkan alur isi yang terkandung di dalamnya. Bagian pertama, mencakup ayat 1-5; bagian kedua, mencakup ayat 6-9. Ulasan saya selanjutnya akan mengikuti kedua pembagian itu. Saya mulai dengan yang pertama.
Ayat 1-2 melukiskan tentang Allah sebagai Raja. Sebagai Raja Ia bertahta di atas para malaekat (cherub). Selain itu, Tuhan juga menjadi raja. Oleh karena itu muka bumi dan segala isinya goyang dan gemetar di hadapan-Nya. Dalam ay.2 muncul nama Sion. Tuhan juga diyakini sedang bertahta di sana. Tuhan itu mahabesar di Sion. Begitulah pandangan dan keyakinan teologis si pemazmur dan kita yang sedang membacanya dengan baik-baik. Tuhan juga melampuai segala bangsa. Pemazmur mengajak para bangsa untuk memuji dan memuliakan keagungan dan kekudusan Allah (ay.3). Tuhan Allah dipuji karena Ia yang menegakkan hukum, kebenaran, dan keadilan di bumi (ay.4). Bagi saya hal ini sangat penting dan mendasar karena ini adalah sebuah proklamasi kebebasan dan keluhuran dan keagungan martabat manusia. Hanya Tuhan sendiri sajalah yang bisa menegakkan pilar-pilar hidup sosial-keagamaan manusia itu. Tanpa adanya pilar-pilar itu, maka cepat atau lambat akan terjadi sebuah kemerosotan yang sangat luar biasa. Sikap memuji dan memuliakan Allah itu kemudian dilanjutkan dalam ay.5 yang menjadi penutup bagian pertama mazmur ini.
Kemudian secara sekilas sejarah masa silam Israel disinggung kembali di sini secara singkat saja (ay.6). Hal ini dilakukan karena orang sangat yakin dengan kenyataan bahwa masa silam itu ikut menentukan kwalitas hidup pada masa sekarang ini dan juga hidup di masa nanti. Tinjauan ke masa silam itu di sini dilakukan dengan cara menyebut tiga tokoh besarnya sebagai wakil dari sekian banyak tokoh besar yang memainkan peranan penting dalam sejarah masa silam Israel (Musa, Harun, Samuel; penyebutan ketiga orang ini hanya sebagai wakil saja, sebab masih ada banyak tokoh besar lain yang ada dalam sejarah perjanjian lama itu sendiri); tidak lupa juga disebutkan di sini satu peristiwa ajaib penyertaan Tuhan dalam karya pembebasan dari Mesir dan dalam perjalanan selama di padang Gurun, yaitu tiang awan, lambang kehadiran dan penyertaan Tuhan sendiri bagi Umat-Nya. Tuhan hadir di tengah-tengah umat-Nya dalam perjalanan ziarah dan pengembaraan mereka menuju ke Tanah Terjanji. Polanya kurang lebih sama: umat berseru kepada Allah, lewat para pemimpin mereka dan Tuhan menjawab mereka dari dalam tiang awan. Ditinjau secara historis, memang di masa silam umat telah mentaati hukum, ketetapan, dan peringatan-peringatan Tuhan (ay.7).
Singgungan-singgungan ke sejarah masa silam selalu dimaksudkan untuk sebuah pendidikan etis-teologis-praktis pada masa kini. Diharapkan bahwa dengan melihat pola relasi Allah dan umat di masa silam, akan muncul di tengah umat pada masa kini suatu keinginan untuk memuji dan memuliakan Allah juga. Allah dialami dan dirasakan sebagai sang pengampun, tetapi juga yang membalas perbuatan umat (ay.8). Walaupun tidak secara eksplisit disebut dalam teks ini, tetapi kiranya pendidikan dari pihak Allah, selalu dimaksudkan untuk perbaikan dan kebaikan umat; bukan untuk kebinasaan dan kematian. Ajakan penutup dalam ay.9 hampir secara harfiah mengulangi kembali ayat 5 (yang menutup penggalan pertama mazmur ini). Inti ajakan itu adalah untuk meninggikan TUHAN dan bersembah sujud di hadapan-Nya. Hanya bedanya dalam ayat 5 disinggung hanya tumpuan kaki-Nya, sedangkan dalam ay.9 disinggung secara eksplisit tumpuan kaki itu, yakni gunung-Nya yang kudus. Alasan bagi ajakan untuk meninggikan dan menyembah Allah itu ialah karena Allah itu kudus, dan Allah yang kudus itu adalah Allah kita.
Nglempong Lor, 03 Maret 2013
Tuesday, August 13, 2013
MENIKMATI MAZMUR 98
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Ada perbedaan yang cukup besar antara orang yang menciptakan lagu untuk kepentingan komersial seperti yang ada dalam kehidupan modern dewasa ini, dan orang yang menciptakan nyanyian karena terdorong oleh sebuah pengalaman rohani yang sangat dalam dan intens yang dirasakan dalam hidup si pencipta lagu itu. Yang satu menciptakan lagu karena tujuan dan nilai ekonomis tertentu. Sedangkan yang lain menciptakan lagu karena terdorong oleh pengalaman sukacita rohani yang tidak untuk diperdagangkan. Akan terasa sangat janggal jika sampai hal seperti itu menjadi komoditas dagang. Walau tidak bisa disangkal juga bahwa lagu-lagu rohani (lagu religi) bisa menjadi komoditas komersial yang sangat menggiurkan sebagaimana yang kita lihat dalam televisi setiap hari sekarang. Kiranya lagu yang dinyanyikan pemazmur di sini adalah nyanyian rohani yang terpancar dari dalam hati sanubarinya yang tersentuh oleh pancaran-pancaran sukacita suci dan ilahi. Ia tidak peduli apakah lagu itu mempunyai nilai secara ekonomis dan komersial atau tidak. Hal itu bukan prioritas utama dari hidupnya. Fokus dia terarah kepada sesuatu yang lain.
Ada cukup banyak Mazmur yang dapat dikategorikan mazmur ajakan untuk melambungkan nyanyian dan puji-pujian kepada Tuhan. Salah satunya ialah Mazmur 98 ini. Sebelum membahas lebih lanjut isinya dari ayat ke ayat, terlebih dahulu saya mau membeberkan beberapa hal teknis terkait dengan upaya pemahaman dan penafsiran mazmur ini. Mazmur ini dalam Alkitab kita mempunyai berjudul: “Saat penyelamatan sudah dekat.” Mazmur ini hanya terdiri atas 9 ayat. Mazmur ini dapat dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama: ayat 1-3. Bagian kedua: ayat 4-9. Bagian pertama disusun dengan pola sbb: ada aksi, dan ada penjelasan mengenai alasan mengapa aksi itu terjadi atau dilakukan; jadi, ada aksi dan ada alasan aksi. Sedangkan bagian kedua, dimulai dengan pencanangan aksi juga, tetapi diakhiri dengan pelukisan personifikasi yang amat menarik, yang juga mengarah ke deskripsi alasan bagi aksi tersebut. Mari kita lihat secara lebih rinci dari ayat ke ayat dalam bagian berikut di bawah ini.
Pertama-tama, saya mau memperhatikan judul mazmur ini. Judul itu dengan kuat mengungkapkan konteks pengalaman rohani yang melahirkan untaian ayat-ayat mazmur ini. Konteks pengalaman rohani itu ialah pengalaman akan kenyataan bahwa saat penyelamatan yang berasal dari Tuhan penyelamat sudah dekat. Berarti pemazmur merasa sangat dekat dengan aura dan situasi keselamatan, aura shalom, aura damai sejahtera. Aura itu sedemikian kuatnya sehingga ia pun memberikan sebuah reaksi yang sepadan.
Terdorong oleh pengalaman rohani itu pemazmur menyatakan aksinya yaitu mengajak pendengar atau pembacanya agar menyanyikan nanyian baru bagi TUHAN (ayat 1). Teks ini kiranya sangat terkenal dan akrab di telinga kita karena sering dipakai para komponis sebagai syair lagu mereka. Aneh rasanya jika kita tidak akrab dengan refrein seperti itu. Dalam bahasa Latin kita akrab dengan penggalan syair ini: “Cantate Domini, canticum Novum” (Nyanyikanlah bagi Tuhan, Nyanyian baru). Bahkan ada kelompok paduan suara di dunia Kristiani yang mengangkat kedua penggal kalimat itu menjadi nama kelompok koor atau paduan suara mereka. Ada yang hanya memakai bagian depannya: Cantate Domino. Ada yang memakai bagian keduanya: Canticum Novum. Mungkin ada juga kelompok yang sekaligus memakai kedua-duanya sebagai nama kelompok mereka. Hal ini menjelaskan betapa penggal kalimat itu sangat terkenal di dunia Kristiani, khususnya Katolik. Di sini dan dengan ini Pemazmur mengajak kita agar melambungkan lagu baru (canticum novum) bagi Tuhan (Domino). Setelah itu ia berturut-turut dalam ayat 1b-3, ia memberikan alasan mengapa ia menyampaikan ajakan tersebut.
Jika kita baca baik-baik maka di situ disebutkan tiga alasan mengapa kita harus menyanyikan lagu baru bagi Tuhan. Pertama, karena Tuhan sudah melakukan banyak perbuatan ajaib (1b) yaitu mendatangkan keselamatan bagi manusia. Tangan kanan Tuhan telah memperlihatkan kekuatan, sebagaimana kita dengar dalam pekikan mazmur lain yang sering dinyanyikan pada malam Paskah dan dalam mazmur antar bacaan. Kedua, masih terkait dengan pengalaman keselamtan itu (1b), dan sekarang ia kaitkan pengalaman keselamatan itu dengan perbuatan keadilan Tuhan yang Ia nyatakan kepada segala bangsa (ayat 2). Ketiga, juga masih terkait dengan yang terdahulu, yaitu keselamatan Tuhan bisa terjadi, karena Tuhan tidak lupa akan kasih setia (hesed) dan kesetiaan-Nya (emet) kepada Israel. Terlebih lagi, sekarang segala ujung bumi telah melihat keselamatan yang datang dari Tuhan, sebagaimana dicanangkan juga dalam mazmur lain: segala ujung bumi melihat keselamatan yang datang dari Allah kita.
Kemudian dalam ayat 4 pemazmur mulai lagi dengan ajakan aksi baru yaitu ia mengajak seluruh bumi agar bersorak-sorai bagi Tuhan. Ajakan itu diungkapkan dengan beberapa kata kerja yang mengungkapkan hal yang sama yaitu bergembiralah, bersorak-sorailah, dan bermazmurlah (ayat 5). Kita juga melihat di sini alat-alat yang dipakai untuk mengiringi sukacita kita. Disebutkan di sini alat-alat seperti kecapi (ayat 5), nafiri dan sangkakala (ayat 6). Kita diharapkan untuk bersukacita dengan memakai pelbagai alat musik di hadapan Tuhan. Tidak hanya itu; pemazmur juga berharap agar tidak hanya manusia yang bersorak-sorai bagi Tuhan, melainkan juga seluruh bumi, laut dan segala isinya (ayat 7). Di sini kita rasakan sebuah personifikasi yang menarik. Komponen alam diperlakukan seperti manusia dan diajak untuk ikut dalam lagu pujian manusia di hadapan Tuhan. Dalam ayat 8 sungai-sungai dipersonifikasi seperti manusia yang mempunyai tangan sehingga dapat bertepuk-tangan memuji Tuhan Pencipta. Gunung-gunung juga dipersonifikasi sedemikian rupa sehingga mereka pun bersorak-sorai (ayat 8b). Itu semua terjadi karena TUHAN sudah datang untuk menghakimi bumi. Penghakiman itu akan dilaksanakan dalam keadilan dan kebenaran. Hal itulah yang akhirnya mendatangkan sukacita yang teramat besar bagi hati si pemazmur (ayat 9).
Sedemikian besarnya luapan dan lonjakan sukacita itu sehingga ia mengajak semua pihak lain, baik sesama manusia, maupun makhluk ciptaan lain di dalam alam semesta ini untuk turut serta bergembira bersama dia untuk memuji dan memuliakan Tuhan Allah yang datang untuk mengadili dan menghakimi dunia ini dengan keadilan dan kebenaran.
Yogyakarta, Januari 2013
Ada perbedaan yang cukup besar antara orang yang menciptakan lagu untuk kepentingan komersial seperti yang ada dalam kehidupan modern dewasa ini, dan orang yang menciptakan nyanyian karena terdorong oleh sebuah pengalaman rohani yang sangat dalam dan intens yang dirasakan dalam hidup si pencipta lagu itu. Yang satu menciptakan lagu karena tujuan dan nilai ekonomis tertentu. Sedangkan yang lain menciptakan lagu karena terdorong oleh pengalaman sukacita rohani yang tidak untuk diperdagangkan. Akan terasa sangat janggal jika sampai hal seperti itu menjadi komoditas dagang. Walau tidak bisa disangkal juga bahwa lagu-lagu rohani (lagu religi) bisa menjadi komoditas komersial yang sangat menggiurkan sebagaimana yang kita lihat dalam televisi setiap hari sekarang. Kiranya lagu yang dinyanyikan pemazmur di sini adalah nyanyian rohani yang terpancar dari dalam hati sanubarinya yang tersentuh oleh pancaran-pancaran sukacita suci dan ilahi. Ia tidak peduli apakah lagu itu mempunyai nilai secara ekonomis dan komersial atau tidak. Hal itu bukan prioritas utama dari hidupnya. Fokus dia terarah kepada sesuatu yang lain.
Ada cukup banyak Mazmur yang dapat dikategorikan mazmur ajakan untuk melambungkan nyanyian dan puji-pujian kepada Tuhan. Salah satunya ialah Mazmur 98 ini. Sebelum membahas lebih lanjut isinya dari ayat ke ayat, terlebih dahulu saya mau membeberkan beberapa hal teknis terkait dengan upaya pemahaman dan penafsiran mazmur ini. Mazmur ini dalam Alkitab kita mempunyai berjudul: “Saat penyelamatan sudah dekat.” Mazmur ini hanya terdiri atas 9 ayat. Mazmur ini dapat dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama: ayat 1-3. Bagian kedua: ayat 4-9. Bagian pertama disusun dengan pola sbb: ada aksi, dan ada penjelasan mengenai alasan mengapa aksi itu terjadi atau dilakukan; jadi, ada aksi dan ada alasan aksi. Sedangkan bagian kedua, dimulai dengan pencanangan aksi juga, tetapi diakhiri dengan pelukisan personifikasi yang amat menarik, yang juga mengarah ke deskripsi alasan bagi aksi tersebut. Mari kita lihat secara lebih rinci dari ayat ke ayat dalam bagian berikut di bawah ini.
Pertama-tama, saya mau memperhatikan judul mazmur ini. Judul itu dengan kuat mengungkapkan konteks pengalaman rohani yang melahirkan untaian ayat-ayat mazmur ini. Konteks pengalaman rohani itu ialah pengalaman akan kenyataan bahwa saat penyelamatan yang berasal dari Tuhan penyelamat sudah dekat. Berarti pemazmur merasa sangat dekat dengan aura dan situasi keselamatan, aura shalom, aura damai sejahtera. Aura itu sedemikian kuatnya sehingga ia pun memberikan sebuah reaksi yang sepadan.
Terdorong oleh pengalaman rohani itu pemazmur menyatakan aksinya yaitu mengajak pendengar atau pembacanya agar menyanyikan nanyian baru bagi TUHAN (ayat 1). Teks ini kiranya sangat terkenal dan akrab di telinga kita karena sering dipakai para komponis sebagai syair lagu mereka. Aneh rasanya jika kita tidak akrab dengan refrein seperti itu. Dalam bahasa Latin kita akrab dengan penggalan syair ini: “Cantate Domini, canticum Novum” (Nyanyikanlah bagi Tuhan, Nyanyian baru). Bahkan ada kelompok paduan suara di dunia Kristiani yang mengangkat kedua penggal kalimat itu menjadi nama kelompok koor atau paduan suara mereka. Ada yang hanya memakai bagian depannya: Cantate Domino. Ada yang memakai bagian keduanya: Canticum Novum. Mungkin ada juga kelompok yang sekaligus memakai kedua-duanya sebagai nama kelompok mereka. Hal ini menjelaskan betapa penggal kalimat itu sangat terkenal di dunia Kristiani, khususnya Katolik. Di sini dan dengan ini Pemazmur mengajak kita agar melambungkan lagu baru (canticum novum) bagi Tuhan (Domino). Setelah itu ia berturut-turut dalam ayat 1b-3, ia memberikan alasan mengapa ia menyampaikan ajakan tersebut.
Jika kita baca baik-baik maka di situ disebutkan tiga alasan mengapa kita harus menyanyikan lagu baru bagi Tuhan. Pertama, karena Tuhan sudah melakukan banyak perbuatan ajaib (1b) yaitu mendatangkan keselamatan bagi manusia. Tangan kanan Tuhan telah memperlihatkan kekuatan, sebagaimana kita dengar dalam pekikan mazmur lain yang sering dinyanyikan pada malam Paskah dan dalam mazmur antar bacaan. Kedua, masih terkait dengan pengalaman keselamtan itu (1b), dan sekarang ia kaitkan pengalaman keselamatan itu dengan perbuatan keadilan Tuhan yang Ia nyatakan kepada segala bangsa (ayat 2). Ketiga, juga masih terkait dengan yang terdahulu, yaitu keselamatan Tuhan bisa terjadi, karena Tuhan tidak lupa akan kasih setia (hesed) dan kesetiaan-Nya (emet) kepada Israel. Terlebih lagi, sekarang segala ujung bumi telah melihat keselamatan yang datang dari Tuhan, sebagaimana dicanangkan juga dalam mazmur lain: segala ujung bumi melihat keselamatan yang datang dari Allah kita.
Kemudian dalam ayat 4 pemazmur mulai lagi dengan ajakan aksi baru yaitu ia mengajak seluruh bumi agar bersorak-sorai bagi Tuhan. Ajakan itu diungkapkan dengan beberapa kata kerja yang mengungkapkan hal yang sama yaitu bergembiralah, bersorak-sorailah, dan bermazmurlah (ayat 5). Kita juga melihat di sini alat-alat yang dipakai untuk mengiringi sukacita kita. Disebutkan di sini alat-alat seperti kecapi (ayat 5), nafiri dan sangkakala (ayat 6). Kita diharapkan untuk bersukacita dengan memakai pelbagai alat musik di hadapan Tuhan. Tidak hanya itu; pemazmur juga berharap agar tidak hanya manusia yang bersorak-sorai bagi Tuhan, melainkan juga seluruh bumi, laut dan segala isinya (ayat 7). Di sini kita rasakan sebuah personifikasi yang menarik. Komponen alam diperlakukan seperti manusia dan diajak untuk ikut dalam lagu pujian manusia di hadapan Tuhan. Dalam ayat 8 sungai-sungai dipersonifikasi seperti manusia yang mempunyai tangan sehingga dapat bertepuk-tangan memuji Tuhan Pencipta. Gunung-gunung juga dipersonifikasi sedemikian rupa sehingga mereka pun bersorak-sorai (ayat 8b). Itu semua terjadi karena TUHAN sudah datang untuk menghakimi bumi. Penghakiman itu akan dilaksanakan dalam keadilan dan kebenaran. Hal itulah yang akhirnya mendatangkan sukacita yang teramat besar bagi hati si pemazmur (ayat 9).
Sedemikian besarnya luapan dan lonjakan sukacita itu sehingga ia mengajak semua pihak lain, baik sesama manusia, maupun makhluk ciptaan lain di dalam alam semesta ini untuk turut serta bergembira bersama dia untuk memuji dan memuliakan Tuhan Allah yang datang untuk mengadili dan menghakimi dunia ini dengan keadilan dan kebenaran.
Yogyakarta, Januari 2013
Subscribe to:
Posts (Atom)
PEDENG JEREK WAE SUSU
Oleh: Fransiskus Borgias Dosen dan Peneliti Senior pada FF-UNPAR Bandung. Menyongsong Mentari Dengan Tari Puncak perayaan penti adala...
-
Oleh: Fransiskus Borgias M., (EFBE@fransisbm) Mazmur ini termasuk cukup panjang, yaitu terdiri atas 22 ayat, mengikuti 22 abjad Ib...
-
Oleh: Fransiskus Borgias M. Judul Mazmur ini dalam Alkitab ialah Doa mohon Israel dipulihkan. Judul itu mengandaikan bahwa keadaan Israe...
-
Oleh: Fransiskus Borgias M. Sebagai manusia yang beriman (percaya), kiranya kita semua sungguh-sungguh yakin dan percaya bahwa Tuhan itu...