Tuesday, August 13, 2013

MENIKMATI MAZMUR 97

Oleh: Fransiskus Borgias M.


Dalam hidupnya di dunia dan di tengah masyarakat, manusia bisa mencari pelbagai alasan untuk bergembira-ria dan bersorak-sorai di hadapan Tuhan. Manakala saat sukacita itu datang, maka rasa itu akan membersit dan memancar keluar begitu saja dari hati mereka. Hal itu tampak dalam pelbagai ekspresi, baik berupa ekspresi verbal maupun expresi non-verbal, dalam gerak-gerik tubuh (gesture). Ekspresi verbal bisa terlahir sebagai puisi, bisa juga terlahir sebagai untaian nyanyi yang memantulkan bahasa hati sanubari. Ekspresi gerak-gerak tubuh itu bisa terlahir sebagai tari juga sebagai seni yang juga mengungkapkan bahasa hati sanubari. Manusia yang peka secara rohani (spiritual) tidak bisa dan juga tidak boleh membendung kelahiran momen-momen dramatis-religius seperti itu. Tidak perlu juga dibendung dan dihalang, melainkan semuanya dibiarkan mengalir dan memancar begitu saja, sehingga bisa memberi inspirasi bagi orang lain di sekitar.

Kiranya hal seperti itulah yang dapat dengan mudah kita rasakan ketika kita membaca Mazmur 97 ini. Mazmur ini menggemakan sebuah sukacita atau kegembiraan kosmis yang dialami dan dirasakan si Pemazmur di hadapan Tuhan sang Raja. Mazmur ini hanya terdiri atas duabelas (12) ayat. Judulnya dalam Alkitab kita ialah “TUHAN adalah Raja.” Mazmur ini dapat dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama: ayat 1-6. Bagian kedua: ayat 7-12. Dalam bagian pertama kita berurusan dengan alam semesta, yaitu mengenai apa yang terjadi dengan beberapa unsur alam di hadapan Tuhan pencipta. Dalam bagian kedua kita berurusan dengan manusia, yaitu apa yang terjadi dan dilakukan manusia (reaksi) di hadapan Tuhan sang Raja Alam Semesta itu.

Judul Mazmur ini dengan padat dan ringkas mengungkapkan apa yang menjadi pokok permenungan Mazmur ini. Dengan dan melalui ayat-ayat Mazmur ini, si Pemazmur mau merayakan sebuah kesadaran rohani baru yang dialaminya yaitu kesadaran bahwa TUHAN adalah Raja. Tentu kesadaran akan Tuhan sebagai raja itu tidak terlepas dari kesadaran teologis lain yaitu Tuhan sebagai sang Pencipta. Kiranya itulah sebabnya si pemazmur dalam ayat 1-6 (bagian I) ini mendaftarkan beberapa komponen alam (kosmos) yang seakan-akan hadir di hadapan Tuhan dan menjadi semacam “pasukan” yang menampakkan kemuliaan dan semarak TUHAN sebagai Raja Penguasa alam semesta. Beberapa komponen kosmos (masing-masing dengan peran dan watak dasarnya) yang disebut di sini ialah bumi, pulau, awan, kekelaman, api, kilat, gunung, langit.

Di atas saya mengatakan bahwa pemazmur memancarkan pengalaman sukacita kosmisnya dalam dan melalui puisi itu. Elemen-elemen kosmis itu seakan ikut bergembira dan bersorak-sorai dengan hati sanubari si pemazmur yang juga merasa sangat bergembira dan bersukacita. Ia tidak mau menahan sukacitanya dalam benteng egoistiknya, melainkan ia rela bahwa sukacita itu dibagi bersama bumi dan banyak pulau (ayat 1). Memang itulah karakteristik orang yang mengalami titik puncak sukacita: Ia memandang dunia sekitar dengan rasa cerah, optimistik. Bahkan ia mengajak dunia sekitar untuk ikut serta dalam sukacita yang dirasakan dan dialaminya. Dalam ayat 2 kita dapat merasakan sebuah kehadiran aura misteri dan mistis karena di situ dilukiskan sebuah simbol kehadiran yang suci, sebuah epifani, yaitu dalam awan dan kekelaman. Semuanya itu adalah hierofani, penampakan dari yang kudus. Tuhan sebagai Raja memerintah dengan keadilan dan taat hukum, menegakkan hukum. Dalam ayat 3-4-5, kita menemukan beberapa elemen lain dari alam yaitu api dan kilat, yang di satu pihak merupakan tanda hierofani, juga melaksanakan tugasnya sebagai penegak hukum, agar muncul reaksi yang sepatutnya dari bawahannya (ayat 3, api menjalar dan menghanguskan, ayat 4, kilat menerangi bumi, juga menimbulkan ketakutan dan kegentaran di hadapan Api Tuhan; ayat 5, gunung yang menjadi leleh seperti lilin karena melihat kemuliaan Tuhan). Menyaksikan semuanya itu, tidak ada hal lain yang diberitakan langit dan cakrawala, selain mewartakan keadilan Tuhan dan segala bangsa pun mampu melihat Kemuliaan Tuhan.

Itulah hal yang terjadi dengan alam semesta. Dalam bagian kedua kita melihat apa yang terjadi dengan manusia. Memang singgungan mengenai reaksi manusia sudah muncul di akhir ayat 6: segala bangsa melihat kemuliaan Tuhan. Selanjutnya kita melihat apa reaksi mereka setelah menyaksikan kemuliaan itu. Kelompok pertama ialah orang yang menyembah berhala, ayat 7. Tentu mereka ini adalah orang yang tidak percaya kepada Tuhan, melainkan menyembah berhala, menyembah patung. Dikatakan bahwa mereka ini mendapat malu karena perilaku berhalanya. Tendensi berhala mereka diruntuhkan. Keangkuhan hidup berhala mereka direndahkan. Kelompok kedua ialah reaksi Sion, ayat 8. Dikatakan dengan jelas bahwa Sion bersukacita dan puteri-puteri Yehuda bersorak-sorai. Sukacita dan sorak-sorai Sion dan Yehuda itu amat beralasan yaitu karena Tuhan adalah penguasa Mahatinggi yang melampaui alam raya dan segala dewata (ayat 9).

Selanjutnya kita mendengar sebuah ajakan dan himbauan moral-etis (parenese) dari si pemazmur dalam ayat 10-12. Himbauan moral-etis itu ditujukan kepada orang-orang yang mengasihi Tuhan. Mereka diminta agar menjauhi kejahatan, bahkan harus membenci kejahatan, sehingga perilaku jahat sama sekali tidak muncul dalam diri mereka. Hal itu tidak lain karena Tuhan akan memelihara hidup orang saleh yang dikasihi-Nya. Tuhan akan melindungi mereka dari kekejaman dan kejahatan orang-orang fasik. Jika selama ini mereka hidup serba terancam oleh hidup orang-orang fasik, orang-orang yang menyembah berhala, orang-orang yang hidup seakan-akan Tuhan tidak ada (ateisme praktis), maka sekarang akan muncul sebuah babak baru kehidupan bagi mereka. Bagi orang benar akan terbit terang, bagi orang yang tulus hati akan mengalir sukacita (ayat 11).

Akhirnya seluruh untaian mazmur ini ditutup dalam ayat 12 dengan sebuah ajakan yang penuh optimisme iman bagi orang-orang benar: mereka diharapkan agar bersukacita karena Tuhan. Mereka diharapkan agar melambungkan nyanyian syukur bagi Tuhan yang kudus karena, sebagai Raja, Ia sudah mendatangkan pembebasan bagi orang-orang benar, orang-orang yang tahu mengasihi, orang-orang yang tahu membalas cinta Allah yang adalah cinta, Deus est caritas.


Yogyakarta, Desember 2012


Tuesday, June 18, 2013

MENIKMATI MAZMUR 96

Oleh: Fransiskus Borgias M.

ALLAH, TUHAN DAN HAKIM SELURUH DUNIA

1 Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, menyanyilah bagi TUHAN, hai segenap bumi!
2 Menyanyilah bagi TUHAN, pujilah nama-Nya, kabarkanlah keselamatan yang dari pada-Nya dari hari ke hari.
3 Ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib di antara segala suku bangsa.
4 Sebab TUHAN maha besar dan terpuji sangat, Ia lebih dahsyat dari pada segala allah.
5 Sebab segala allah bangsa-bangsa adalah hampa, tetapi TUHANlah yang menjadikan langit.
6 Keagungan dan semarak ada di hadapan-Nya, kekuatan dan kehormatan ada di tempat kudus-Nya.

7 Kepada TUHAN, hai suku-suku bangsa, kepada TUHAN sajalah kemuliaan dan kekuatan!
8 Berilah kepada TUHAN kemuliaan nama-Nya, bawalah persembahan dan masuklah ke pelataran-Nya!
9 Sujudlah menyembah kepada TUHAN dengan berhiaskan kekudusan, gemertalah di hadapan-Nya, hai segenap bumi!
10 Katakanlah di antara bangsa-bangsa: “TUHAN itu Raja! Sungguh tegak dunia, tidak goyang. Ia akan mengadili bangsa-bangsa dalam kebenaran.”
11 Biarlah langit bersukacita dan bumi bersorak-sorai, biarlah gemuruh laut serta isinya,
12 biarlah beria-ria padang dan segala yang di atasnya, maka segala pohon di hutan bersorak-sorai
13 di hadapan TUHAN, sebab Ia datang, sebab Ia datang untuk menghakimi bumi. Ia akan menghakimi dunia dengan keadilan, dan bangsa-bangsa dengan kesetiaan-Nya.



Ada banyak alasan bagi kita manusia untuk selalu mengagumi dan meluhurkan Tuhan sang Pencipta alam semesta. Salah satunya ialah dengan memandang segala karya ciptaan Allah sendiri. Karya ciptaan itu sedemikian mengagumkan sehingga hati kita yang peka secara religius terarah kepada Dia yang telah menciptakan semuanya itu. Kita bahkan bisa berdialog dengan seluruh makhluk ciptaan, dan mengajak mereka untuk bersama-sama memuji dan memuliakan Tuhan Allah sang Pencipta alam semesta dan segala isinya.

Terkadang kita sebagai manusia dihinggapi oleh semacam keangkuhan religius-teologis yang menganggap bahwa hanya kita sajalah yang mampu melambungkan lagu pujian, hormat, dan syukur kepada Allah. Dewasa ini semakin ada kepekaan untuk mengakui bahwa sesungguhnya segala makhluk, dengan tingkat kesadarannya dan dengan caranya sendiri, sejak semula telah melambungkan pujian dan hormat itu bahkan mungkin dengan rela dan secara lebih alamiah ketimbang manusia. Kepekaan seperti itulah yang mau diperlihatkan si Pemazmur di sini. Itu sebabnya ia mengajak segala komponen alam untuk bersorak-sorai di hadapan Allah. Kepekaan seperti itu akan terus hidup dalam sejarah manusia dan akan selalu muncul kembali. Pada abad ketigabelas, hal itu pernah muncul kembali secara mengagumkan dalam diri Fransiskus Asisi yang lewat pengalaman mistik-kosmisnya telah menghasilkan puisi kosmik yang terkenal itu: “Kidung Saudara Matahari” (The Canticle of Brother Sun, atau dalam Latin, Canticum Solis).

Mazmur ini termasuk cukup singkat, hanya terdiri atas 13 ayat saja. Untuk dapat memahaminya dengan baik kita dapat membaginya menjadi dua bagian besar. Bagian pertama meliputi ayat 1-6 dan bagian kedua meliputi ayat 7-13. Menarik sekali bahwa masing-masing bagian mempunyai susunan yang kurang lebih sama, yaitu dimulai dengan sejumlah aksi (tindakan atau ajakan dari manusia atau si pemazmur) yang diungkapkan dengan beberapa kata saja, lalu disusul denga alasan untuk aksi tersebut, yakni mengapa aksi itu pantas dan bahkan harus dilakukan. Begitulah kira-kira struktur dasar kedua bagian pokok dalam mazmur ini.

Dalam bagian pertama, serangkaian aksi (tindakan, ajakan) yang dimaksud ada dalam ayat 1-3, yang terungkap dalam beberapa kata kerja yang dipakai di sana: nyanyikanlah, menyanyilah (ay.1), menyanyilah, kabarkanlah (ay.2), ceritakanlah (ay.3). Dengan memakai kata-kata itu si pemazmur mengajak segala bangsa dan segala makhluk ciptaan untuk memuji dan memuliakan Allah sang pencipta. Tuhan itu sungguh luar biasa mengagumkan karena Ia telah menciptakan segala sesuatu dan dengan cara itu Ia telah mendatangkan shalom (keselamatan) bagi manusia (ay.2); dan dengan cara itu Tuhan telah memperlihatkan kemuliaan-Nya dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib (ay.3). Sesudah itu kita melihat serangkaian alasan untuk aksi-aksi atau ajakan itu, ada dalam ayat 4-6, yang terungkap secara eksplisit dalam dua kata sbb: sebab. Pada intinya di sini ditegaskan dan dirayakan keagungan dan kedahsyatan Allah yang serba melampaui, yang melebihi segala dewata yang dipuja dan disembah oleh para bangsa.

Kemudian dalam unit yang kedua, kita temukan lagi dua struktur yang kurang lebih sama: penegasan aksi dan alasan untuk aksi tersebut (yaitu mengapa aksi atau ajakan itu dilakukan). Aksi itu dinyatakan dalam beberapa kata kerja: Berilah, bawalah, masuklah (ay.8), sujudlah, gemetarlah (ay.9), katakanlah (ay.10), bersukacita, bersorak-sorai (ay.11), beria-ria, bersorak-sorai (ay.12). Karena Tuhan Allah itu agung dan perkasa, maka si pemazmur mengajak kita untuk menghaturkan kemuliaan (ay.7, 8a), membawa persembahan (ay.8b). Hanya kepada Dia saja kita patut bersujud syukur dan menyembah (ay.9) dan bukan kepada yang lain-lain. Kita diajak untuk mewartakan kepada para bangsa bahwa TUHAN itu Raja dan sebagai Raja ia mampu mengatur dan menyelenggarakan dunia dengan baik dan bisa melaksanakan pengadilan atas para bangsa dengan baik dan benar (ay.10). Dalam ay.12-13 kita kembali mendengar si pemazmur menyebut dan mengajak komponen alam semesta untuk bersorak-sorai di hadapan Tuhan sang pencipta. Dalam kedua ayat itu, ia memakai kata-kata yang indah untuk melukiskan partisipasi alam semesta dalam pujian semesta terhadap sang pencipta.
Lalu akhirnya dalam ayat 13 kita melihat alasan untuk semuanya itu, dan alasannya sederhana saja, yaitu karena: Ia datang. Tuhan diyakini telah datang (turun) ke dunia ini untuk menghakimi bumi ini dengan kasih-setia dan keadilan-Nya. Lalu sesudah itu akan muncul masa pemerintahan-Nya yang penuh dengan damai sejahtera.

Mazmur ini sangat terkenal dan akrab di telinga kita, karena ia dipakai sebagai Mazmur antar bacaan dalam perayaan Ekaristi kita pada hari Minggu. Mazmur ini paling sering dipakai pada perayaan Natal: untuk misa malam natal, misa fajar, maupun misa siang. Kebetulan nada-nada lagu mazmur itu sangat indah dan menyentuh perasaan kita yang mendengarnya, apalagi kalau si pemazmur itu membawakannya dengan penuh perasaan dan penjiwaan yang mantap dan mendalam. Inilah mazmurnya, walau tidak semua ayat dipilih untuk dinyanyikan di sana; hanya beberapa ayat saja: “Hendaklah langit bersukacita, dan bumi bersorak-sorai, di hadapan wajah Tuhan, karena Ia sudah datang.” [(1). Nyanyikanlah lagu baru bagi Tuhan, menyanyilah bagi Tuhan, hai seluruh bumi! Menyanyilah bagi Tuhan, pujilah nama-Nya. (2). Kabarkanlah dari hari ke hari keselamatan yang datang dari pada-Nya. Ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa, kisahkanlah karya-karya-Nya yang ajaib di antara segala suku bangsa. (3). Biarlah langit bersukacita dan bumi bersorak-sorai, biar gemuruhlah laut serta segala isinya! Biarlah beria-ria padang dan segala yang ada di atasnya, dan segala pohon di hutan bersorak-sorai. (4). Biarlah bersukaria di hadapan Tuhan, sebab Ia datang, sebab Ia datang untuk menghakimi bumi, Ia akan menghakimi dunia dengan keadilan, dan bangsa-bangsa dengan kesetiaan-Nya].

Dari pemakaian dan penempatan Mazmur ini dalam perayaan liturgi ekaristi kita, tampak jelas bahwa akhirnya kedatangan Tuhan yang diwartakan dan dinanti-nantikan si Pemazmur dalam Perjanjian Lama, sekarang ini sudah terpenuhi dengan Kedatangan, dengan Kelahiran Sang Raja Damai, Raja Cinta, yaitu Tuhan Yesus Kristus.


Nglempong Lor, Yogyakarta Mei 2013
Fransiskus Borgias M.


MENIKMATI MAZMUR 95

Oleh: Fransiskus Borgias M.


Hormatilah TUHAN dan taatilah Dia
Marilah kita bersorak-sorai untuk TUHAN, bersorak-sorai bagi gunungbatu keselamatan kita.
Biarlah kita menghadap wajah-Nya dengan nyanyian syukur, bersorak-sorai bagi-Nya dengan nyanyian mazmur.
Sebab TUHAN adalah Allah yang besar, dan Raja yangbesar mengatasi segala allah.
Bagian-bagian bumi yang paling dalam ada di tangan-Nya, puncak gunung-gunungpun kepunyaan-Nya.
Kepunyaan-Nya laut, Dialah yang menjadikannya, dan darah, tangan-Nyalah yang membentuknya.

Masuklah, marilah kita sujud menyembah, berlutut di hadapan TUHAN yang menjadikan kita.
Sebab Dialah Allah kita, dan kitalah umat gembalaan-Nya dan kawanan domba tuntunan tangan-Nya.

Pada hari ini, sekiranya kamu mendengar suara-Nya! Janganlah keraskan hatimu seperti di Meriba, seperti pada hari di Masa di padang gurun,
pada waktu nenek moyangmu mencobai Aku, menguji Aku, padahal mereka melihat perbuatan-Ku.
Empat puluh tahun Aku jemu kepada angkatan itu,maka kata-Ku: “Mereka suatu bangsa yang sesat hati, dan merekaitu tidak mengenal jalan-Ku.”
Sebab itu Aku bersumpah dalam murka-Ku: “Mereka takkan masuk ke tempat perhentian-Ku.”


Tidak selalu mudah untuk setia dan bertekun dalam iman. Tidak selalu mudah untuk menjaga agar tidak menyimpang dari iman akan Allah. Butuh perjuangan dan ketekunan yang luar biasa agar tetap setia. Memang kesetiaan adalah sebuah perjuangan. Bukan sebuah keadaan yang bersifat tetap dan stabil. Ia harus selalu diperjuangkan. Sebuah proses menjadi, proses becoming. Ada banyak godaan dan tantangan dalam hidup beriman. Ada banyak alasan bagi manusia beriman untuk menyimpang jauh dari imannya. Memang ada godaan abadi untuk jatuh ke dalam bahaya berhala seperti kata seorang teolog dulu yang bernama Gabriel Vahanian.

Problem seperti itulah yang coba dilukiskan dengan bahasa lain dalam Mazmur 95 ini. Mazmur ini dalam Alkitab kita mempunyai judul yang menarik, “Hormatilah TUHAN dan taatilah Dia”. Mazmur ini termasuk mazmur yang pendek, hanya terdiri atas 11 ayat saja. Untuk dapat menikmatinya dengan baik, saya akan membaginya terlebih dahulu ke dalam tiga bagian. Bagian pertama meliputi ayat 1-5. Bagian kedua meliputi ayat 6-7. Bagian ketiga meliputi ayat 8-11.
Mazmur ini sangat terkenal dalam tradisi doa gereja Katolik, karena mazmur ini dipakai sebagai mazmur pembukaan untuk ibadat pagi yang harus diucapkan setiap hari oleh mereka dengan tekun mendoakan doa brevir atau ofisi ilahi. Mazmur ini dipakai pada pagi hari sebagai ajakan untuk memuji Tuhan. Itulah yang tampak sangat kentara dalam ayat 1-2. Di situ kita diajak untuk bernyanyi dan bersorak-sorai bagi Tuhan yang adalah gunung batu sumber dan tempat keselamatan kita (ay.1). Kita harus menghadap Tuhan dengan nyanyian syukur dan mazmur (ay.2). Kemudian diberikan alasan mengapa kita harus melakukan hal tersebut. Jadi, di sini diberikan alasan, sebuah pembenaran rasional atas pujian itu. Alasan pertama saya sebut alasan teologis yang ada dalam ay.3: kita memuji dan memuliakan Dia karena Dialah Allah yang agung, dialah sang Raja yang melampaui segala sesuatu. Alasan kedua saya sebut alasan kosmologis dalam ayat 4-5. Sebagai penguasa alam semesta Tuhan menguasai segala sesuatu (bumi paling dalam, puncak gunung tertinggi). Tuhan juga yang menguasai daratan dan lautan karena Dialah yang menciptakan semuanya.

Kemudian kita masuk ke dalam bagian kedua. Di sini secara lebih eksplisit diajukan sebuah ajakan untuk memuji dan memuliakan Tuhan dalam sebuah liturgi atau ibadat, yaitu memuji Tuhan di tempat-Nya yang kudus. Kalau yang di atas tadi, adalah sebuah ajakan umum untuk memuji Tuhan di alam semesta, maka yang sekarang adalah sebuah ajakan khusus untuk memuji Tuhan dalam rumah Tuhan, rumah ibadat. Kita diajak untuk masuk ke dalam rumah Tuhan, lalu disana kita bersujud menyembah Tuhan pencipta kita (ay.6). Kemudian dalam ayat 7 kita lihat sebuah alasan lain dan khusus yang terkait erat dengan relasi Allah dan Umat yaitu dengan memakai metafor domba dan gembala. Kita membayangkan diri sebagai domba yang berada di bawah tuntunan dan bimbingan Tuhan sang Gembala (ay.7). Tentu saja penggal ayat ini serta-merta mengingatkan kita akan Mazmur 23 (bdk.Yeh.34, Yoh.10, dll).

Sesudah itu kita mencoba melihat bagian ketiga. Di sini untaian ajakan untuk memuji dan memuliakan Allah dikaitkan dengan sejarah penyelamatan di masa silam. Di sini kita diajak agar sudi dengan rendah hati dan terbuka mendengarkan suara Tuhan. Jika kita mendengarkan suara Tuhan pada hari ini, semoga hati kita serba terbuka dan rela menerima siraman firman itu. Jangan sampai hati kita menjadi tegar dan keras seperti yang pernah terjadi di masa silam dalam tahap perjalanan di padang gurun keluar dari Mesir menuju Tanah Terjanji (ay.8-9). Dalam kedua ayat ini disebut secara khusus nama dua tempat, di mana dimasa silam pernah terjadi sebuah peristiwa dramatis. Kedua nama tempat itu ialah Meriba dan Masa, nama kedua tempat di padang gurun, padang pengembaraan, padang perjalanan menuju ke Tanah Terjanji. Menurut ay.9 dikatakan bahwa nenek moyang mereka dulu di masa silam berani menguji dan mencobai Tuhan. Hal itu sudah sangat keterlaluan, sebab sesungguhnya hal itu sangat tidak perlu sama sekali, karena Tuhan sudah tidak perlu diuji dan dicobai lagi, karena Tuhan sudah memperelihatkan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib dan luar biasa. Rupanya perilaku itu adalah perilaku yang terus menerus terjadi atau dilakukan di masa silam oleh para leluhur mereka. Itu sebabnya Tuhan Allah merasa muak dan jemu akan mereka itu (ay.10). hal itu sama sekali tidak mengherankan sama sekali karena mereka adalah bangsa yang sesat hati dan tidak mau mengenal jalan-jalan Tuhan (ay.10). mereka tidak mengerti maksud bimbingan Tuhan. Tentu saja sikap seperti itu dari manusia mendatangkan reaksi tertentu juga dari pihak Tuhan. Reaksi itu dapat kita lihat dalam ay.11. Tuhan menjadi murka. Dan dalam murka-Nya itu Tuhan bersumpah bahwa Tuhan tidak akan membiarkan mereka masuk ke dalam tempat perhentian Tuhan. Itu adalah rumah Tuhan. Para pendosa dan para pembangkang yang bandel ini tidak dapat dan tidak layak beristirahat bersama Tuhan.

Jadi, kita dianggap tidak layak untuk masuk ke dalam kediaman Tuhan. Dan betapa itu adalah sebuah situasi kemalangan yang luar biasa, sebuah situasi ketidak-beruntungan yang mengerikan. Oleh karena itu, tidak ada jalan lain, selain menjalankan kewajiban fundamental kita sebagai makhluk ciptaan yaitu datang bersujud menyembah dan memuji Dia, sebab Dialah Tuhan, Penyelamat kita.


Nglempong Lor, Yogyakarta, awal Februari 2013
Fransiskus Borgias M.



Monday, March 18, 2013

MENIKMATI MAZMUR 94

Oleh: Fransiskus Borgias M.

Allah, pembela keadilan
1 Ya Allah pembalas, ya TUHAN, ya Allah pembalas, tampillah!
2 Bangunlah, ya Hakim bumi, balaslah kepada orang-orang congkak apa yang mereka lakukan!
3 Berapa lama lagi orang-orang fasik, ya TUHAN, berapa lama lagi orang-orang fasik beria-ria?
4 Mereka memuntahkan kata-kata yang kurang ajar dan semua orang yang melakukan kejahatan itu menyombong.
5 Umat-Mu, ya TUHAN, mereka remukkan, dan milik-Mu sendiri mereka tindas;
6 janda dan orang asing mereka sembelih, dan anak-anak yatim mereka bunuh;
7 dan mereka berkata: “TUHAN tidak melihatnya, dan Allah Yakub tidak mengindahkannya.”

8 Perhatikanlah, hai orang-orang bodoh di antara rakyat! Hai orang-orang bebal, bilakah kamu memakai akal budimu?
9 Dia yang menanamkan telinga, masakan tidak mendengar? Dia yang membentukmata, masakan tidak memandang?
10 Dia yang menghajar bangsa-bangsa, masakan tidak akan menghukum? Dia yang mengajarkan pengetahuan kepada manusia?
11 TUHAN mengetahui rancangan-rancangan manusia; sesungguhnya semuanya sia-sia belaka.

12 Berbahagialah orang yang Kauhajar, ya TUHAN, dan yang Kauajari dari Taurat-Mu,
13 untuk menenangkan dia terhadap hari-hari malapetaka, sampai digali lobang untuk orang fasik.
14 Sebab TUHAN tidak akan membuang umat-Nya, dan milik-Nya sendiri tidak akan ditinggalkan-Nya;
15 sebab hukum akan kembali kepada keadilan, dan akan diikuti oleh semua orang yang tulus hati.

16 Siapakah yang bangkit bagiku melawan orang-orang jahat, siapakah yang tampil bagiku melawan orang-orang yang melakukan kejahatan?
17 Jika bukan TUHAN yang menolong aku, nyaris aku diam di tempat sunyi.
18 Ketika aku berpikir: “Kakiku goyang,” makakasih setia-Mu, ya TUHAN, menyokong aku.
19 Apabila bertambah banyak pikiran dalam batinku, penghiburan-Mu menyenangkan jiwaku.

20 Masakan bersekutu dengan Engkau takhta kebusukan, yang merancangkan bencana berdasarkan ketetapan?
21 Mereka bersekongkol melawan jiwa orang benar, dan menyatakan fasik darah orang yang tidak bersalah.
22 Tetapi TUHAN adalah kota bentengku dan Allahku adalah gunung batu perlindunganku.
23 Ia akan membalas kepada mereka perbuatan jahat mereka, dan karena kejahatan mereka Ia akan membinasakan mereka; TUHAN, Allah kita, akan membinasakan mereka.


Tidak ada perdamaian tanpa keadilan. Perdamaian hanya mungkin jika ada keadilan. Atau seperti dikatakan dalam moto kepausan dari Paus Pius XII: “Opus iustitiae pax.” Ini adalah sebuah pemahaman dan pengamatan yang sangat kuat dalam tradisi Kitab Suci, termasuk tradisi para nabi yang dengan sangat gencar mengkampanyekan keadilan, “promotio iustitiae”. Tetapi keadilan itu adalah suatu perjuangan abadi bagi manusia. Ia bukan suatu keadaan yang stabil melainkan sesuatu yang harus diperjuangkan dan diwujudkan terus menerus. Tidak jarang keadilan itu menjadi sebuah fatamorgana yang sangat sulit diraih, digapai atau diwujudkan. Bahkan terasa bahwa keadilan itu adalah sebuah utopia. Tetapi manusia terus menerus mengharapkan keadilan agar tercapai atau terwujud di bumi ini, walau hal itu tidak selalu mudah. Ada struktur sosial yang tidak adil, yang menjadi lebih nyata dalam struktur kekuasaan yang tidak adil, yang sangat menindas, yang menyebabkan manusia, terutama yang lemah dan tidak berdaya, menjadi korban. Dalam keadaan seperti itu, manusia hanya bisa berharap pada Allah. Allah diyakini sebagai pembela keadilan.

Atas dasar keyakinan seperti itulah si pemazmur yang menulis mazmur ini mengeluarkan pandangan dan keyakinannya. Mazmur ini mempunyai 23 ayat. Judulnya dalam Alkitab kita ialah “Allah, pembela keadilan.” Karena termasuk cukup panjang, maka saya akan membagi mazmur ini menjadi lima bagian, agar kita dapat dengan lebih mudah membaca, menafsirkan, dan memahaminya. Bagian pertama mencakup ayat 1-7. Bagian kedua mencakup ayat 8-11. Bagian ketiga mencakup ayat 12-15. Bagian keempat mencakup ayat 16-19. Bagian kelima mencakup ayat 20-23. Saya akan mencoba mengulas dinamika isi mazmur ini dengan mengikuti alur lima unit tersebut secara singkat, ringan, dan sederhana. Saya langsung saja mulai dengan bagian pertama dalam bagian berikut ini.

Si pemazmur mengarahkan seruannya kepada Allah; ia meminta agar Allah segera tampil, tidak lagi menunda-nunda (ay.1). Di sini pemazmur memberi salah satu gambaran mengenai Allah, yaitu Allah sebagai pembalas. Mungkin hal ini bisa menimbulkan salah paham. Lebih baik hal ini dipahami sebagai Allah yang menegakkan hukum-hukumnya. Ada orang di bumi ini yang melanggar hukum-hukum itu, yang menyebabkan munculnya penderitaan bagi orang lain. Orang yang menderita itulah yang meminta agar Allah tampil menegakkan hukum-hukumnya. Dalam arti itulah Allah adalah pembalas, penegak hukum. Hal itu tampak jelas dalam ayat 2 yang menyebut Allah sebagai Hakim bumi yang diminta agar segera bertindak terhadap orang-orang yang sombong (congkak). Dalam ayat 3-4 dilukiskan kejahatan orang fasik itu. Mereka melakukan kejahatan juga dengan kata-kata kasar dan kotor. Tampaknya mereka menikmati hal itu, sebab mereka melakukannya dengan sukacita dan mereka bersukacita atas derita orang lain. Mereka menindas umat Tuhan, yang tidak lain adalah milik Tuhan sendiri. Mereka menindas para janda dan orang asing dan membunuh anak-anak yatim (ay.5-6). Ternyata mereka berani melakukan semuanya ini karena mereka beranggapan bahwa Tuhan tidak melihat semuanya itu, Allah tidak mempedulikan kejahatan mereka. Di sini terselubung suatu paham deistik di sini: memang mereka yakin Allah itu ada, tetapi Allah itu bersemayam di tempat yang sangat tinggi, sehingga Ia tidak mau tahu, tidak peduli pada apa yang terjadi pada dunia ciptaan-Nya (ay.7). Saya menyebut hal itu apatisme kaum ateis praktis (hidup dan berbuat seolah-olah Allah tidak ada).

Apatisme mereka itu menyebabkan si pemazmur geram sehingga ia menyebut mereka orang bodoh dan orang bebal. Dalam ay.8-11 pemazmur menyerang apatisme dan ignorantia (ketidak-tahuan, atau bahkan kebodohan) orang-orang fasik itu. Untuk itu ia menyinggung karya penciptaan Allah. Di sini disinggung secara jelas penciptaan manusia: secara retoris pemazmur bertanya, bagaimana mungkin Dia yang menciptakan mata dan telinga tidak mampu melihat dan mendengar segala sesuatu termasuk perbuatan jahat. Berbeda dengan orang-orang fasik, si pemazmur sangat yakin bahwa Allah mahatahu (omniscience), juga tahu akan semua rancangan busuk manusia biarpun itu tersembunyi dalam hati. Semuanya itu sia-sia belaka.

Setelah mencerca orang fasik, lalu pemazmur mulai berbalik memandang kepada orang saleh. Ia memandang dan menganggap bahagia orang yang diajar oleh Tuhan untuk mentaati dan mengetahui Taurat-Nya (ay.12). Pelajaran moral hidup dan iman dari Taurat itu berguna untuk membuat orang saleh bisa tenang menantikan nasib akhir yang buruk bagi orang fasik (ay.13). Hal itu sangat pasti bagi pemazmur karena ia sangat yakin bahwa Tuhan tidak akan melupakan umat milik-Nya (ay.14). Ia sangat yakin bahwa tatanan hukum akan kembali ditegakkan lagi oleh yang empunya tatanan hukum, yaitu Allah. Hukum itu akan diikuti oleh orang yang tulus hati (ay.15).

Oleh karena ia sangat berharap agar hukum ditegakkan, maka dalam ay.16 ia juga bertanya secara retoris tentang siapa yang akan bangkit untuk menegakkan hukum tersebut. Pemazmur tidak dapat berharap banyak dari manusia, dari tatanan manusia itu. Maka ia hanya berharap pada Tuhan saja. Hanya Tuhan saja yang bisa ia harapkan untuk datang segera bertindak (ay.17). Ia yakin Tuhan menolong. Kalau tanpa pertolongan Tuhan, ia merasa ia pasti tetap terhimpit dan meringkuk dalam relung-relung penderitaan yang sunyi. Kondisi itu menyebabkan dia goyah (kakiku goyang), tetapi ia merasa bahwa kasih setia (hesed) Tuhan menopang dia (ay.18). Kondisi itu juga menyebabkan hati dan pikirannya menjadi sangat gelisah dan tidak tenang, tetapi penghiburan dari Tuhan membuat dia merasa senang (ay.19).

Lebih lanjut pemazmur juga menyatakan keyakinannya bahwa Tuhan tidak mungkin bersekutu dengan orang-orang jahat yang merancangkan kejahatan sistematis dan struktural (ay.20), suatu keyakinan yang diungkapkannya dalam sebuah kalimat retoris. Memang orang fasik itu sangat jahat yaitu mereka mampu memutar-balikkan fakta, menuduhkan kefasikan pada orang saleh. Jelas ini adalah tindakan kriminalisasi orang benar. Juga ada unsur viktimisasi korban; mungkin lebih tepat diungkapkan dengan pepatah Melalu klasik berikut ini: sudah jatuh tertimpa tangga pula (ay.21). Biarpun demikian pemazmur tetap merasa tenang karena ia sangat yakin bahwa “...TUHAN adalah kota bentengku dan Allahku adalah gunung batu perlindunganku” (ay.22). Pemazmur sangat yakin bahwa Tuhan akan segera bertindak menegakkan hukum dan keadilan dengan cara membinasakan mereka (ay.23). Hal itu sangat penting, agar jangan sampai terluka cita-rasa keadilan dan hukum dalam hati orang kecil dan tidak berdaya. Terutama lagi hal ini penting agar tatanan hukum dan keadilan itulah yang seharusnya tegak berdiri di tengah masyarakat.


Nglempong Lor, akhir Januari 2013
Fransiskus Borgias M.
(Mahasiswa Ph.D., ICRS-YOGYA)

MENIKMATI MAZMUR 93

Oleh: Fransiskus Borgias M.


TUHAN, raja yang kekal

1 TUHAN adalah Raja, Ia berpakaian kemegahan, TUHAN berpakaian, berikat pinggang kekuatan. Sungguh, telah tegak dunia, tidak bergoyang;
2 takhta-Mu tegak sejak dahulu kala, dari kekal Engkau ada.
3 Sungai-sungai telah mengangkat, ya TUHAN, sungai-sungai telah mengangkat suaranya, sungai-sungai mengangkat bunyi hempasannya.
4 Dari pada suara air yang besar, dari pada pecahan ombak laut yang hebat, lebih hebat TUHAN di tempat tinggi.
5 Peraturan-Mu sangat teguh; bait-Mu yang kudus, ya TUHAN, untuk sepanjang masa.



Renungan dan bayangan (imajinasi) manusia akan Allah bisa bermacam-macam. Hal itu sangat tergantung pada pengalaman rohani dan pengalaman psikologis masing-masing orang. Dan adalah sangat wajar bahwa renungan dan imajinasi itu sangat bercorak manusiawi, atau dalam bahasa keren-nya, sangat bercorak antropomorfistik, artinya manusia memakai kategori-kategori yang sangat wajar dan manusiawi dan alami untuk menggambarkan dan membayangkan sosok Allah itu. Tetapi hendaknya selalu diingat dan disadari bahwa pemakaian itu hanya sebatas sebuah analogia saja, sebuah perbandingan yang tidak seluruhnya sangat serupa, tetapi hanya menyerupai dan hampir mirip. Kebetulan gambaran yang diangkat di sini oleh si Pemazmur untuk menggambarkan dan membayangkan Allah itu adalah sosok seorang Raja. Gambaran Tuhan sebagai Raja, itulah yang menjadi pokok permenungan dalam Mazmur 93 ini yang akan saya bahas secara singkat dan sederhana dalam tulisan ini.

Mazmur 93 ini termasuk mazmur yang sangat singkat; ia hanya terdiri atas lima ayat saja. Judulnya dalam Kitab Suci kita ialah “Tuhan, raja yang kekal.” Karena sangat singkat maka saya akan melihatnya sebagai satu kesatuan saja, tanpa harus merepotkan diri dengan membaginya ke dalam beberapa unit ayat-ayat yang lebih kecil lagi.

Sebagaimana tampak dari judul itu, Mazmur 93 ini ingin memuji dan memuliakan Tuhan sebagai raja yang kekal. Oleh karena itu, di sini pun coba dilukiskan tentang sifat-sifat Tuhan, seperti kemegahan-Nya dan kekuatan-Nya. Secara visual kedua sifat itu sangat kuat melekat pada Tuhan karena kedua sifat itu dilukiskan sebagai busana (secara eksplisit di sana dipakai kosa kata: pakaian dan ikat pinggang) Tuhan (ay.1). Jika dibayangkan secara manusiawi dalam tata dunia ini, memang seorang raja haruslah megah dan kuat, serta gagah perkasa. Begitulah juga halnya dengan Tuhan: Ia harus megah, kuat, dan perkasa. Hal-hal itulah yang memungkinkan Ia bisa duduk di atas tahta, dan tahta itu tidak akan goyah karena sang raja yang bertahta di atasnya adalah seorang raja yang sangat kuat dan perkasa yang diakui dan dipatuhi oleh semua bawahan-Nya (ay.2). Tidak hanya berhenti di situ saja: Dunia ciptaan-Nya pun berdiri kokoh juga; dunia itu tidak goyah sama sekali. Tetapi kekokohan ciptaan itu adalah sebuah kekokohan yang bersifat derivatif (turunan) saja yaitu sebagai konsekwensi logis dari kekokohan Tuhan sang pencipta (ay.2). Jika Tuhan sang Pencipta itu kokoh, maka kokoh pulalah dunia ciptaan-Nya. Selanjutnya dikatakan bahwa kekuasaan Tuhan sebagai raja itu sudah berlangsung sejak dahulu kala, karena memang Tuhan itu hidup dan berada dari kekal hingga kekal (ay.2).

Dalam ayat 3 kita melihat sesuatu yang sangat biasa dalam Mazmur, yaitu personifikasi unsur-unsur alam untuk memuji dan memuliakan Allah. Kebetulan salah satu unsur alam yang dipersonifikasi di sini ialah sungai yang airnya mengalir deras. Deru bunyi air yang mengalir deras itu pun dilihat sebagai sebentuk pujian kosmis akan Allah (ay.3). Begitu juga gemuruh ombak yang menghempas di pantai-pantai (ay.4). Semuanya serba sangat indah dan mengagumkan. Memang beberapa unsur dalam alam ini bisa sangat dahsyat, dan bisa membuat manusia kagum dan sangat terpesona ketika memandang dan merenungkannya. Tetapi semua itu sama sekali tidak ada bandingannya sedikitpun dengan Tuhan sendiri. Tuhan serba sangat melampaui semuanya itu. Tuhan itu serba maha: maha kuasa (omnipotence), maha hadir (omnipresence), maha tahu (omniscience). Boleh jadi di balik kata-kata yang terkandung dalam ay.4 ini tersimpan sebuah kritik penghayatan agama kosmis yang dihayati oleh sementara kelompok manusia pada masa itu, yang berhenti pada kekaguman akan alam lalu bahkan memuja alam itu. Padahal alam itu sendiri hanyalah ciptaan Tuhan belaka, sebagaimana sudah ditegaskan dalam kitab Kejadian itu (Kej.1). Tidak lebih dari hal itu.

Dari alam, lalu dalam ay.5 si pemazmur ini meloncat ke suatu tataran yang lain, yaitu melihat peraturan dan bait Tuhan. Peraturan Tuhan dilihatnya amat teguh; kiranya yang dimaksudkannya dengan peraturan itu di sini ialah keteraturan atau tatanan kosmos. Berkat campur tangan karya Allah kekacau-balauan pada awal mula (chaos), diubah menjadi sebuah keteraturan, sebuah tatanan, (menjadi sebuah cosmos). Bait Allah pun kudus adanya karena Tuhan sendiri berkenan hadir dan bahkan tinggal di sana. Dan hal itu berlangsung tidak hanya untuk sebenar saja, melainkan berlangsung untuk selama-lamanya.


Nglempong Lor, Awal Januari 2013
Fransiskus Borgias M.
(Mahasiswa Ph.D., pada ICRS-YOGYA)

Tuesday, January 29, 2013

MENIKMATI MAZMUR 92

Oleh: Fransiskus Borgias M.


TUHAN, Hakim yang adil

Mazmur. Nyanyian untuk hari Sabat.
2 Adalah baik untuk menyanyikan syukur kepada TUHAN, dan untuk menyanyikan mazmur bagi nama-Mu, ya Yang Mahatinggi,
3 untuk memberitakan kasih-setia-Mu di waktu pagi dan kesetiaan-Mu di waktu malam,
4 dengan bunyi-bunyian sepuluh tali dan dengan gambus, dengan iringan kecapi.
5 Sebab telah Kaubuat aku bersukacita, ya TUHAN, dengan pekerjaan-Mu, karena perbuatan tangan-Mu aku akan bersorak-sorai.

6 Betapa besarnya pekerjaan-pekerjaan-Mu, ya TUHAN, dan sangat dalamnya rancangan-rancangan-Mu.
7 Orang bodoh tidak akan mengetahui, dan orang bebal tidak akan mengerti hal itu.
8 Apabila orang-orang fasik bertunas seperti tumbuh-tumbuhan, dan orang-orang yang melakukan kejahatan berkembang, ialah supaya mereka dipunahkan untuk selama-lamanya.
9 Tetapi Engkau di tempat yang tinggi untuk selama-lamanya, ya TUHAN!
10 Sebab, sesungguhnya musuh-Mu, ya TUHAN, sebab, sesungguhnya musuh-Mu akan binasa, semua orang yang melakukan kejahatan akan dicerai-beraikan.
11 Tetapi Kautinggikan tandukku seperti tanduk banteng, aku dituangi dengan minyak baru;
12 mataku memandangi seteruku, telingaku mendengar perihal orang-orang jahat yang bangkit melawan aku.

13 Orang benar akan bertunas seperti pohon korma, akan tumbuh subur seperti pohon aras di Linanon;
14 mereka yang ditanam di bait TUHAN akan bertunas di pelataran Allah kita.
15 Pada masa tua pun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar,
16 untuk memberitahukan, bahwa TUHAN itu benar, bahwa Ia gunung batuku dan tidak ada kecurangan pada-Nya.


Apabila kita memandang dan merenungi alam ciptaan maka pasti akan selalu memunculkan reaksi tertentu dalam hati dan budi si penikmat itu. Hal itu bisa berbeda-beda dari orang yang satu ke orang yang lain. Hal itu tergantung pada religiositas dan spiritualitas orang yang bersangkutan. Jika seseorang itu seseorang yang mempunyai citarasa kepekaan religius yang tinggi, maka ia akan sujud dan syukur. Jika tidak, maka ia akan bersikap apatis saja, seolah-olah itu semua tidak bermakna sama sekali. Kebetulan yang kita temukan di sini adalah seorang penikmat alam yang mempunyai hati yang sangat peka secara religius, sehingga reaksi dia ketika memandang keagungan dan keindahan ciptaan ialah bernyanyi untuk memuji dan memuliakan sang Penciptanya. Ketika ia memandang keindahan dan keagungan ciptaan, ia pun serta-merta meloncat dari ciptaan itu ke sang Pencipta. Ia terbang dari sang makhluk menuju ke sang Khalik. Ia terbang melesat dari CREATURA ke sang CREATOR. Itulah inti dari pengalaman rohani dan iman yang dapat kita jumpai dalam Mazmur 92 ini, yang akan saya ulas secara ringan dan sederhana di sini.

Judul mazmur ini dalam Alkitab kita ialah “TUHAN, Hakim yang adil”. Mazmur ini termasuk kategori mazmur yang tidak terlalu panjang, karena hanya mencakup 16 ayat saja. Walaupun tidak terlalu panjang, tetapi untuk memudahkan pemahamannya, kita dapat membagi Mazmur ini ke dalam beberapa bagian kecil berikut ini. Bagaian pertama, ayat 1-5. Bagian kedua, ayat 6-12. Bagian ketiga, ayat.13-16.

Saya langsung saja mulai dengan melihat apa yang ada dalam bagian Pertama (ay.1-5). Di sini si pemazmur itu menganggap baik untuk memuji dan memuliakan Tuhan dengan lagu-lagu syukur (ay.2) dan dengan diiringi pelbagai alat-alat musik (ay.4); dan hal itu dilakukan dengan tiada hentinya, yaitu baik di waktu pagi maupun di waktu malam (ay.3). Jadi kita dapat membayangkan di sini semacam Paduan Suara (koor) dan dengan iringan sebuah Orchestra, perpaduan beberapa alat musik pengiring yang disebut secara khusus di sana (gambus, kecapi, bunyi-bunyian sepuluh tali). Alasan untuk menghaturkan pujian yang amat meriah ini diungkapkan dalam ayat 5: dikatakan di sana bahwa ia bernyanyi memuji karena ia merasa terdorong oleh sebuah rasa sukacita yang teramat besar. Ia bersukacita karena karya-karya Tuhan. Karya itu adalah karya penciptaan dan penyelenggaraan ilahi (providentia dei). Karya ciptaan Tuhan itu tidak lain ialah seluruh alam semesta ini dan juga manusia. Tuhan tidak hanya menciptakan segala sesuatu, melainkan juga menyelenggarakan hidup dari segala sesuatu.

Renungan tentang karya Tuhan ini tidak berhenti di sana saja, melainkan terus dilanjutkan dalam Bagian 2 (ay.6-12). Ia merasa betapa karya-karya Allah itu amat agung dan mulia. Itu adalah hasil dari rancangan-rancangan Allah yang amat dalam (ay.6; sebagaimana dikatakan oleh Paulus di tempat lain kelak: “O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat, dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!” Rom.11:33). Menurut pengamatan si pemazmur, hanya orang saleh dan orang berhikmat sajalah yang bisa melihat dan sadar akan hal-hal itu. Sebaliknya, orang bodoh dan orang bebal tidak bisa mengetahui atau menyadari hal-hal itu (ay.7). Mungkin benar nasib orang fasik dan orang jahat itu baik-baik, beruntung, hidupnya makmur secara ekonomis; mungkin memang benar bahwa hidup mereka sangat berkembang pesat. Tetapi hasil akhirnya nanti sudah sangat jelas: tetap saja hidup mereka itu akan bermuara pada kehancuran untuk selama-lamanya (ay.8). Lalu sesudah itu Mazmur ini mulai berbicara tentang Allah. Berbeda dengan nasib akhir dari orang-orang fasik itu, Allah akan tetap berkuasa abadi. Hal itu sangat berbeda dengan nasib dari para musuh: mereka itu akan binasa dan tercerai-berai (ay.9-10). Kemudian, si Pemazmur, yang merasa diri berada di pihak Allah, mengalami kejayaan, dan digdaya. Hal itu disimbolkan dengan lambang tanduk banteng. Tanduk itu akan ditinggikan, dan itu adalah tanda kejayaan, tanda kedigdayaan. Tidak hanya itu saja; ia juga diurapi dengan minyak yang baru. Ini juga adalah lambang kemakmuran hidup, lambang kenyamanan hidup. Dalam keadaan seperti itu ia menyaksikan dan mendengar nasib para lawannya (ay.11-12).

Kemudian dalam Bagian 3 (ay.13-16) Mazmur ini berbicara tentang nasib yang akan dialami oleh orang-orang saleh dan benar. Pemazmur yakin bahwa mereka itu bernasib baik. Hal itu diibaratkan dengan pohon yang tumbuh di tanah yang subur dan yang berair cukup (ay.13). Dua pohon disebut secara khusus di sini, yaitu korma dan pohon aras. Yang satu untuk makan, sedangkan yang lain untuk papan (perumahan, bahan bangunan). Jadi idealisme “papan-pangan” ada di sini. Lebih menarik lagi karena di sini ada sebuah paralelisme (kesejajaran) dengan nasib orang-orang benar: Sebagaimana pohon korma itu tumbuh subur dan bertunas, dan sebagaimana pohon aras tumbuh subur di Libanon, demikianlah juga orang benar akan tumbuh subur dan bertunas di Bait Allah dan di pelatarannya (ay.14). Di sini ketika membaca dan merenungkan hal ini saya tiba-tiba teringat akan sebuah penglihatan (visiun) yang dialami oleh nabi Yehezkiel tentang mata air yang keluar dari Bait Allah lalu menjadi sebuah sungai besar yang mengairi dan menyuburkan dan menghidupkan segala sesuatu yang dilewatinya (bdk.Yeh.47). Jika dibaca dengan cara seperti itu, kiranya hal itu juga cocok dengan idealisme yang diungkapkan di tempat yang lain dengan sangat indah dan karena itu diangkat menjadi syair sebuah lagu: “Tuhan, siapa diam di kemah-Mu, siapa tinggal di kemah-Mu, siapa tinggal di gunung-Mu yang suci” (bdk.Mzm.15:1). Selanjutnya dikatakan bahwa oleh karena mereka bertumbuh di tempat yang cocok dan tepat maka mereka akan terus giat dan produktif hingga masa usia tua; mereka gemuk-gemuk dan segar-segar (ay.15); mereka tidak mengalami fenomena phobia usia tua yang dilukiskan dalam kitab Pengkotbah itu: “...juga orang menjadi takut tinggi, dan ketakutan ada di jalan, pohon badam berbunga, belalang menyeret dirinya dengan susah payah dan nafsu makan tak dapat dibangkitkan lagi – karena manusia pergi ke rumahnya yang kekal dan peratap-peratap berkeliaran di jalan...” (bdk.Pkh.12:1-8). Tidak ditimpa kekurangan sesuatu apa pun. Tetapi usia tua yang subur dan segar tidak dimaksudkan untuk tujuan egoistik belaka; melainkan hal itu dimaksudkan untuk sebuah tujuan proklamatoris, yaitu untuk mewartakan tiga hal yang sangat penting berikut ini: 1). Kebenaran Allah, 2). Allah itu benteng yang perkasa (dengan simbolisme gunung batu), 3). Tidak ada kecurangan kepada Allah (ay.16).


Nglempong Lor, Awal Januari 2013
Fransiskus Borgias M. (Mahasiswa Ph.D., pada ICRS-YOGYA).


MENIKMATI MAZMUR 91

Oleh: Fransiskus Borgias M.


Dalam lindungan Allah
1 Orang yang duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi dan bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa
2 akan berkata kepada TUHAN: “Tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, Allahku, yang kupercayai.”

3 Sungguh, Dialah yang akan melepaskan engkau dari jerat penangkap burung, dari penyakit sampar yang busuk.
4 Dengan kepak-Nya Ia akan menudungi engkau, di bawah sayap-Nya engkau akan berlindung, kesetiaan-Nya ialah perisai dan pagar tembok.
5 Engkau tak usah takut terhadap kedahsyatan malam, terhadap panah yang terbang di waktu siang,
6 terhadap penyakit sampar yang berjalan di dalam gelap, terhadap penyakit menular yang mengamuk di waktu petang.
7 Walau seribu orang rebah di sisimu, dan sepuluh ribu di sebelah kananmu, tetapi itu tidak akan menimpamu.
8 Engkau hanya menontonnya dengan matamu sendiri dan melihat pembalasan terhadap orang-orang fasik.
9 Sebab TUHAN ialah tempat perlindunganmu, Yang Mahatinggi telah kaubuat tempat perteduhanmu,
10 malapetaka tidak akan menimpa kamu, dan tulah tidak akan mendekat kepada kemahmu;
11 sebab malaikat-malaikat-Nya akan diperintahkan-Nya kepadamu untuk menjagaengkau di segala jalanmu.
12 Mereka akan menatang engkau di atas tangannya, supaya kakimu jangan terantuk kepada batu.
13 Singa dan ular tedung akan kaulangkahi, engkau akan menginjak anak singa dan ular naga.

14 “Sungguh, hatinya melekat kepada-Ku, maka Aku akan meluputkannya, Aku akan membentenginya, sebab ia mengenal nama-Ku.
15 Bila ia berseru kepada-Ku, Aku akan menjawab, Aku akan menyertai dia dalam kesesakan, Aku akan meluputkannya dan memuliakannya.
16 Dengan panjang umur akan Kukenyangkan dia, dan akan Kuperlihatkan kepadanya keselamatan dari pada-Ku.”



Orang-orang yang beriman, dengan pelbagai macam cara, mencoba melukiskan dinamika hubungan mereka dengan Allah. Mereka yakin bahwa Allah melakukan sesuatu dalam dan bagi hidup mereka. Allah tidak pernah tinggal diam terhadap umat-Nya. Salah satu bentuk karya, tindakan, dan penyelenggaraan Allah itu dalam hidup kaum beriman, ialah bahwa Allah memberikan perlindungan bagi umat-Nya. Berkat perlindungan Allah, maka orang beriman merasa sangat amat terlindung dan karena itu tidak pernah merasa takut dalam situasi apa pun juga. Iman akan Allah menjadi penjamin bagi hidup mereka, yang membuat mereka sangat berani dan optimis dalam hidup ini. Hal-hal seperti itulah yang coba dibentangkan dan direnungkan dalam Mazmur 91 ini.

Mazmur ini dalam Alkitab kita mempunyai judul yang sangat menarik: “Dalam lindungan Allah.” Mazmur ini terdiri atas 16 ayat. Sesungguhnya jumlah itu tidak terlalu panjang. Untuk dapat menikmatinya dengan baik saya akan mencoba membagi-baginya ke dalam beberapa unit. Unit pertama mencakup ayat 1-2. Unit kedua mencakup ayat 3-13. Unit ketiga mencakup ayat 14-16. Selanjutnya dalam bagian berikut saya akan mencoba mengulas isi dari masing-masing ketiga unit tersebut dengan singkat dan sederhana.

Jika diteliti dengan baik, sesungguhnya ide pokok seluruh mazmur 91 ini sudah dibentangkan dalam kedua ayat awal (bagian pertama). Di sana dilukiskan mengenai relasi unik antara si pemazmur dan Allah. Di sana Allah diyakini oleh si pemazmur itu sebagai pelindung dan penyelamat manusia. Oleh karena si manusia itu percaya akan Allah, maka ia pun merasa aman, merasa serba terlindung, tidak takut akan apa pun juga. Ia merasa tidak takut sama sekali ketika akan melewatkan kegelapan malam, karena ia percaya bahwa ia berada dalam naungan dan lindungan Tuhan yang mahakuasa (ay.1-2).

Ide awal itu kemudian dikembangkan lebih lanjut dalam bagian kedua mazmur ini (ay. 3-13). Di sini secara lebih rinci dibentangkan perbuatan atau tindakan nyata Tuhan terhadap manusia yang percaya kepada-Nya. Dikatakan bahwa Tuhan itu akan meluputkan si pemazmur dari jerat perangkap. Kita tahu, perangkap selalu dipasang secara terselubung (tidak sampai bisa kelihatan), agar mangsa mudah terjebak. Dari jerat perangkap seperti itu Tuhan melindungi umat-Nya yang percaya kepada-Nya. Tuhan juga melindungi dia dari wabah penyakit sampar. Dalam ayat 4 kita menemukan sebuah metafor induk ayam atau burung pada umumnya. Bila malam tiba, induk ayam akan merentangkan sayap-sayapnya dan membuat bulu-bulu sayapnya itu membesar, dan setiap anaknya yang masih kecil-kecil akan masuk ke dalamnya, dan di sana mereka merasa sangat aman terlindung dan mendapatkan kehangatan yang memungkinkan mereka terluput dari angin dingin malam hari. Tuhan pun dibayangkan secara metaforis bertindak seperti itu dalam memberi perlindungan bagi umat-Nya. Dalam hal itu, Tuhan sangat setia. Kesetiaan itu adalah perisai dan pagar tembok bagi mereka. Jika Tuhan sudah mengepakkan sayap perlindungan-Nya, maka kita yang percaya tidak usah takut terhadap ancaman malam yang mengerikan (ay.5).

Memang dalam dunia dan alam pikiran Perjanjian Lama, malam selalu melambangkan ancaman eksistensial yang bisa menghancurkan hidup manusia. Maka melewatkan malam itu perlu perlindungan yang sangat luar biasa dari Tuhan sendiri. Tidak hanya malam yang mengancam dan menakutkan. Siang juga sangat mengerikan; dibayangkan bahwa situasi yang dihadapi ialah situasi perang; perang hanya dilakukan di siang hari saja. Maka pada siang hari panah dan tombak, berseliweran dari segala arah mengancam hidup manusia. Di sini perlindungan dan naungan Tuhan menjadi sangat penting. Dalam ayat 6 muncul kembali ancaman dalam rupa penyakit (sampar dan menular). Biarpun banyak orang jatuh terjerembab dan mati (ay.7), tetapi orang yang percaya dan mengandalkan Tuhan tidak akan jatuh. Ia akan selamat karena Tuhan menjadi tempat perlindungan. Ia tidak akan ditimpa malapetaka. Ia malah bisa menonton semua peristiwa dramatis itu (ay.8). Oleh karena Tuhan adalah benteng dan tempat perlindungan yang aman baginya (ay.9), maka tulah tidak akan mendekati kemahnya (ay.9). Malaekat-malaekat Tuhan sendiri akan melindungi dia (ay.11); dia akan ditatang (diangkat ke atas dengan tangan) agar kaki tidak tersandung pada batu (ay.12). Binatang-binatang buas tidak lagi akan menjadi ancaman bagi dia. Ia tidaktakut akan semua binatang itu (ay.13).

Dalam unit yang terakhir (ay.14-16), mazmur ini melihat persoalan ini dari sudut pandang Allah. Jika si manusia (pemazmur) itu benar-benar percaya kepada Tuhan, mengenal dan mengakui nama Tuhan, maka Tuhan pasti akan meluputkan dia, membentengi dia dari ancaman bahaya (ay.14). Tuhan sendiri memberi jaminan bahwa jika manusia berseru kepada Tuhan, maka Tuhan akan menjawab dia, Tuhan akan menyertai dia dalam kesesakan (ay.15). Secara positif, dikatakan bahwa Tuhan akan memuliakan dia. Tuhan akan memberikan kemakmuran dan kenyamanan hidup bagi dia. Dia tidak akan ditimpa kelaparan. Tuhan akan memberikan keselamatan kepada manusia yang percaya kepadanya. Umur panjang juga akan diberikan kepadanya (ay.16).

Mungkin karena dalam mazmur ini pada bagian awalnya dan juga pada beberapa ayat yang lain disebut kata malam atau bermalam, atau mungkin juga karena Tuhan dilukiskan dengan memakai metafor induk ayam yang memberi perlindungan dan kehangatan bagi anak-anaknya ketika melewati malam yang kelam dan dingin penuh ancaman bahaya maut, maka mazmur ini dalam tradisi doa gereja biasanya dipakai sebagai salah satu mazmur untuk doa penutup di malam hari, atau Completorium, terutama pada hari Minggu (Ibadat Sore II, Minggu malam). Dengan nada-nada yang sangat indah beginilah bunyi antifon mazmur Completorium itu: “Tuhan akan menudungi engkau, dengan kepak-Nya, engkau tak usah takut akan bahaya di waktu malam.”


Nglempong Lor, Yogyakarta, Desember 2012
Fransiskus Borgias M. (Mahasiswa Ph.D., pada ICRS-YOGYA)


PEDENG JEREK WAE SUSU

Oleh: Fransiskus Borgias Dosen dan Peneliti Senior pada FF-UNPAR Bandung. Menyongsong Mentari Dengan Tari  Puncak perayaan penti adala...