Oleh: Fransiskus Borgias M.
Orang yang beriman dalam hidupnya selalu berseru kepada Allah. Allah adalah pegangan, sandaran, dan andalan hidupnya. Ia tidak mau mengandalkan yang lain. Walaupun kadang-kadang ia bisa jatuh kepada godaan berhala, tetapi ia selalu kembali kepada Allah yang menjadi sandaran dan andalan hidupnya. Tentu hal ini mengingatkan kita akan perintah yang pertama dalam sepuluh perintah Allah: Akulah Tuhan Allahmu, engkau tidak boleh menyembah yang lain selain Aku. Dan pengakuan iman Yudeo-Kristiani ialah bahwa Tuhan Allah kita itu esa dan tidak ada yang lain selain dia. Hal itulah yang kemudian dipakai sebagai alat revolusi teologis di negeri Arab untuk memerangi kultur ateisme dan kekafiran yang ada dan serba merajalela: Tiada ilah selain Allah.
Nah, pengakuan iman fundamental seperti itulah yang dapat kita rasakan dalam Mazmur 90 ini yang dalam Alkitab kita mempunyai judul yang amat menarik: “Allah, tempat perlindungan yang kekal.” Keterangan waktu kekal itu diberi keterangan dan penjelasan rinci dalam ayat 1-2, yaitu bahwa Allah sudah menjadi tempat berlindung kita sejak dari dahulu kala, dan hal itu berlaku turun temurun, dan bahkan sebelum segala sesuatu diciptakan hal itu sudah demikian adanya. Allah menjadi perlindungan kita dari kekal hingga kekal, atau dari selama-lamanya sampai selama-lamanya.
Kemudian si pemazmur berteologi tentang salah satu paham mengenai asal-usul manusia: bahwa manusia berasal dari debu tanah dan mereka akhirnya kembali akan menjadi debu tanah itu yang dihembusi dan karena itu didiami oleh Roh Allah sendiri (ay.3; bdk.Kej.2:5-7), sebuah paham teologis yang melatar-belakangi upacara Rabu Abu itu dalam tradisi Gereja Katolik kita. Lalu paham itu disusul dengan sebuah paham lain mengenai waktu (sejarah), yaitu bahwa Allah sebagai sang penguasa waktu (sejarah) berada melampaui waktu: bagi Dia yang ada hanyalah sebuah kekinian yang abadi; tidak ada rentang masa silam yang teramat panjang, sesuatu yang hanya berlaku bagi manusia saja (ay.4). Allah adalah sang penguasa awal dan akhir sejarah, titik Alpha dan Omega sejarah. Sesudah itu kita melihat ada sebuah paham antropologis tertentu yaitu bahwa hidup manusia berlangsung sangat singkat, laksana sebuah mimpi yang segera terlupakan; hidup manusia itu ibarat rerumputan yang tumbuh kembang di waktu pagi dan lisut-layu di waktu petang. Ia hanya berlangsung sekejab saja jika dibandingkan dengan keabadian Allah sendiri (ay.5-6).
Dalam berdialog dengan Allah, si manusia itu langsung sadar akan keberadaan hidupnya sendiri di hadapan Allah yang hidup. Kesadaran itu ialah kesadaran akan kerapuhan hidup mereka. Di hadapan murka Allah, manusia tidak berarti apa-apa, mereka habis lenyap, dan mereka juga terkejut di hadapan hadirat Allah (ay.7).
Tidak ada yang tersembunyi di hadapan Allah. Tidak ada gunanya kita menyembunyikan apa pun dari Allah, termasuk dosa kita, sebab Allah adalah mahatahu dan mahamelihat (ay.8). Hari-hari hidup sang manusia berlalu begitu saja dalam kegemasan Allah. Semuanya seperti berlalu begitu saja dalam sekejab (ay.9).
Lalu si pemazmur itu semakin menukik ke dalam dirinya sendiri. Sekarang ia merenungkan tentang masa hidupnya. Di sinilah kita temukan sebuah ayat yang sangat terkenal mengenai umur manusia; terkenal karena kita sering sekali mengutipnya untuk menyadarkan diri kita sendiri akan kefanaan hidup kita. Dikatakan bahwa usia manusia itu hanya tujuh puluh tahun. Kalau manusia itu kuat, maka ia bisa mencapai usia 80 tahun (ay.10a). Jadi, umur itu sesungguhnya sangat singkat jika dibandingkan dengan hidup dan keberadaan Allah. Tidak ada yang dapat dibanggakan dalam umur yang singkat itu, selain kesukaran dan penderitaan (ay.10b). Dan hidup yang serba singkat itu, terasa berlalu begitu cepat, dan dalam sekejab manusia itu hilang lenyap (ay.10c). Itulah sebabnya saya menyebut seluruh ayat 10 ini sebagai “ayat tragis” tetapi sekaligus juga realistis. Realistis karena memang begitulah kenyataan hidup manusia. Tragis, karena rentang hidup yang singkat itu berlalu begitu cepat, dan semuanya ditandai oleh kesukaran dan derita. Benar-benar tragis, menyedihkan. Saya cenderung membaca ayat 10 ini dalam kaitan yang erat dengan ayat 12, sebab kedua ayat ini, menurut hemat saya erat terkait satu sama lain. Karena umur itu serba singkat dan berlalu sangat cepat (ay 10), maka manusia itu harus hidup arif dan bijaksana. Salah satu cara untuk dapat menjadi bijaksana dalam hidup ini ialah mencoba menghitung hari-hari hidup kita, agar dengan cara itu kita dapat memperoleh hati yang bijaksana. (ay.12). Maksudnya dengan semakin menyadari umur yang singkat, diharapkan orang dapat menjadi lebih bijaksana lagi dalam hidup dan kehidupan di dunia ini. Ayat 11 menjadi rada sulit dipahami. Tetapi ayat ini pun masih berada dalam alur logis terkait dengan refleksi hidup dan keberadaan manusia di dunia ini di hadapan Allah sang mahakasih dan maharahim.
Selanjutnya saya merasakan adanya satu keinginan dan dorongan untuk bertobat. Itulah sebabnya dalam ayat 13 kita membaca ajakan sang pemazmur kepada Tuhan agar Ia sudi kembali dan mulai bertindak untuk datang menyelamatkan umat-Nya. Ia meminta agar Allah sudi menyayangi umat-Nya. Ia meminta agar Allah sudi mendatangkan kekenyangan (simbol kemakmuran ekonomi bagi umat-Nya) (ay.14). Ia meminta agar umat mengalami sukacita agar sukacita itu bisa merelativir duka yang selama ini terasa sudah amat mencengkam dan menggigit dan menyiksa hidup dan keberadaan manusia (ay.15). Si pemasmur meminta agar Allah sudi mengampuni kesalahan umat-Nya. Akhirnya, ia mau menutup seluruh untaian refleksi ini dengan berdoa memohon agar kemurahan Tuhan, ALLAH, meneguhkan iman umat (ay.16). Ia berdoa agar perbuatan ajaib Allah dapat diterima dan dialami lagi oleh umat pada masa kini. Dari gerak transendensi dalam doa, seluruh untaian ini ditutup dengan sebuah doa pengharapan dan permohonan. Ada baiknya saya kutip saja teks itu: “Kiranya kemurahan TUHAN, Allah kami, atas kami, dan teguhkanlah perbuatan tangan kami, ya, perbuatan tangan kami teguhkanlah itu.”
Nglempong Lor, Yogya, November 2012
canticum solis adalah blogspot saya untuk pendalaman dan diskusi soal-soal filosofis, teologis, spiritualitas dan yang terkait. Kalau berkenan mohon menulis kesan atau komentar anda di bagian akhir dari artikel yang anda baca. Terima kasih... canticum solis is my blog in which I write the topics on philosophy, theology, spiritual life. If you don't mind, please give your comment or opinion at the end of any article you read. thanks a lot.....
Thursday, December 13, 2012
MENIKMATI MAZMUR 89
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Mazmur ini termasuk cukup panjang; ia terdiri atas 53 ayat. Judulnya dalam Alkitab kita ialah “Kesetiaan TUHAN kepada Daud.” Jadi, mazmur ini berbicara tentang relasi perjanjian antara Raja Daud dan TUHAN sendiri. Tidak mudah memahami mazmur ini karena ada pelbagai macam lapisan pengalaman iman tertumpuk di dalamnya. Ada pengalaman positif, ada pengalaman negatif, ada pengalaman cahaya dan optimisme, ada pengalaman kegelapan dan pesimisme. Semuanya diramu menjadi satu-padu dalam mazmur yang panjang ini. Untuk dapat memahaminya dengan baik, maka saya akan membaginya ke dalam beberapa bagian berikut ini. Unit pertama mencakup ayat 1-19. Unit kedua terdiri atas ayat 20-38. Unit ketiga meliputi ayat 39-46. Unit terakhir meliputi ayat 47-53. Selanjutnya kita akan melihat dinamika isinya dari unit ke unit.
Dalam unit pertama (1-19) ada cukup banyak hal menarik yang diungkapkan. Mazmur ini dimulai dengan cetusan niat pribadi si pemazmur untuk memuji dan memuliakan TUHAN (ay.2). Sekaligus juga diungkapkan alasan mengapa pemazmur memuji TUHAN. Alasannya tidak lain karena Hesed atau kasih-setia (stead-fast love) Tuhan itu sendiri. Secara lebih eksplisit alasan itu ditegaskan dalam ayat 3 yang lagi-lagi menyinggung Hesed itu sebagai alasan si pemazmur memuji Tuhan. Hesed Tuhan itu kekali abadi, tiada berkesudahan, seperti refrein ulangan yang terkenal dalam Mzm.136 itu (bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik, kekal abadi kasih-setia-Nya). Pemazmur sadar bahwa itu semua terjadi dalam konteks relasi perjanjian yang telah diikat Tuhan dengan Daud, hamba-Nya, dan Tuhan bersumpah untuk tetap setia pada janji itu untuk selama-lamanya (ay.4-5). Tidak hanya manusia yang bersyukur atas Hesed Tuhan, alam semesta pun (diwakili langit) bersyukur karenanya (ay.6). Selanjutnya dengan memakai bahasa metafor kosmis, pemazmur melukiskan daya kuasa dan pemerintahan Allah atas semesta alam dan surga. Diyakini bahwa Allah itu melampaui semua penghuni surga, Ia disegani dan ditakuti oleh semuanya (ay.7-8). Tidak ada apa pun yang mampu menandingi Allah (ay.9). Tuhan menguasai dan menundukkan semuanya: Laut ditundukkan (ay.10), naga laut purba (Rahab) juga dikalahkan (ay.11). Tuhan menguasai segala sesuatu (ay.12-14). Tetapi kuasa Tuhan itu bukanlah kuasa yang sewenang-wenang melainkan dilandaskan pada kasih, Keadilan dan penegakan hukum (ay.15). Bagian akhir unit pertama (ay.16-19) ini diakhiri dengan ucapan bahagia (makarioi). Orang yang tahu bersyukur karena hesed Allah diyakini akan berbahagia, karena mereka mempunyai alasan yang tepat untuk bersukacita, yaitu karena nama Tuhan, karena keadilan Tuhan. Tidak ada dasar lain bagi mereka untuk bermegah, selain nama Tuhan. Tuhan menjadi perisai bagi mereka. Raja Israel pun adalah milik Allah sendiri. Hal itu menjadi sumber sukacita dan kehidupan.
Dalam unit kedua (ay.20-38), kita melihat secara lebih rinci mengenai sosok Raja Israel yang diyakini berasal dari Tuhan itu. Raja itu ialah Daud. Di sini muncullah apa yang secara teknis disebut Ideologi Daud beserta legitimasi teologis tahta Daud dan kedudukan dia sebagai raja. Daud menjadi raja Israel karena Tuhan sendiri yang mengangkatnya, memahkotai, dan mengurapinya; maka Daud akan tetap disertai dan dilindungi Tuhan (ay.20-22). Ia tidak akan disergap oleh para lawannya sebab Tuhan sendiri bertindak menghancurkan para lawan itu (ay.23-24). Kekuasaan Daud tidak akan goyah karena ia dilindungi oleh kasih-setia Tuhan (ay.25). Dinamika relasi antara Tuhan dan Daud dilukiskan secara rinci dalam ayat 26-30. Tuhan berjanji untuk menguatkan Daud dalam kuasa dan pemerintahannya (ay.26). Daud pun secara eksplisit mengucapkan pengakuan dan janji setianya kepada Tuhan, dan juga relasi intim antara dirinya dengan Tuhan (ay.27). Karena kesetiaan Daud itu, maka Tuhan pun bersumpah untuk tetap setia, tidak hanya kepada Daud, melainkan juga kepada kaum keturunannya, yaitu para penggantinya yang duduk di atas tahtanya; mereka akan tetap meraja sampai selama-lamanya (ay.28-30). Namun jika mereka durhaka dan berbalik dari kasih-setia Tuhan, maka Tuhan akan menghukum mereka (ay.31-33). Tetapi ancaman hukuman itu bukanlah kata terakhir dari pihak Tuhan. Kata terakhir tetaplah kasih setia Tuhan. Tuhan tidak pernah bisa ingkar janji. Tuhan tidak mungkin melupakan sifat dasarnya sendiri yaitu kasih-setia, hesed (ay.34-38).
Dalam unit ketiga (ay.39-46) kita melihat sesuatu yang aneh. Sampai saat ini Tuhan dilukiskan tetap setia kepada Daud. Tetapi dalam unit ini kita melihat Tuhan tidak setia. Tuhan dilukiskan tidak lagi memperhatikan Daud, tidak lagi ingat akan perjanjian-Nya (ay.39-40). Akibatnya sangat buruk bagi kerajaan Daud: kerajaan itu ditimpa keruntuhan (ay.41). Ibu kotanya (yaitu Yerusalem) dirampok dan dijarah para musuh penakluk (ay.42). Nasib sangat buruk menimpa Daud dan kerajaannya dan kaum keturunannya; para musuhnya bisa bangkit untuk menghancurkan dia dan kerajaannya; ia tidak bisa menang dalam peperangan karena mata pedangnya seolah-olah menjadi tumpul; kegemilangannya dicampakkan ke tanah; aib dan rasa malu menimpa dia (ay.43-46). Mungkin hal ini erat terkait dengan nasib yang menimpa kerajaan Daud di kemudian hari, yang, sesudah kejayaan masa pemerintahan Salomo, terpecah menjadi dua kerajaan. Dan kedua kerajaan itu kemudian dihancurkan oleh Asyur dan Babel. Jelas bagian ini baru muncul sesudah kedua kerajaan itu mengalami nasib tragis yaitu penghancuran dan pembuangan. Tidak mungkin disusun pada masa pemerintahan Daud dan Salomo yang memang ditandai kegemilangan dan keperkasaan. Itulah situasi kegelapan, di mana seolah-olah Tuhan sudah tidak lagi memperhatikan dan mempedulikan nasib Israel; sebuah pengalaman negatif akan Allah sendiri.
Di tengah situasi pengalaman negatif dan pengalaman kegelapan itulah, dalam bagian Keempat (ay.47-53) kita melihat sebuah situasi di mana si pemazmur mulai bertanya-tanya tentang kasih setia Tuhan. Sepertinya ia gemas dan bertanya sampai berapa lama Tuhan masih murka terhadap Israel (Daud). Ia mencari kasih-setia Tuhan seperti yang dahulu. Ia merindukan kasih setia yang awali itu (ay.50). Ia sepertinya menuntut juga agar Tuhan sudi kembali ke kasih setia yang semula itu sebab kalau Tuhan tidak lagi memperhatikan hesed-Nya sendiri, maka sia-sialah Ia telah menciptakan anak manusia (ay.48). Betapa dahsyatnya alasan yang diangkat si pemazmur ini. Karena keganasan dunia orang mati (syeol), ia mengharapkan agar Tuhan segera menampakkan lagi hesed-Nya itu, sebab hidup manusia ini singkat (ay.48) dan tidak ada yang luput dari maut (ay.49). Akhirnya si pemazmur mengingatkan bahwa raja Israel itu adalah orang yang diurapi Tuhan sendiri. Jika ia dihina, maka bukan ia sendiri saja yang dihina, melainkan Tuhan sendirilah juga, yang telah mengangkatnya, mengalami penghinaan dan perendahan. Di sini ada sebuah identifikasi nasib negatif Daud dengan Tuhan sendiri. Apa yang dialami Daud (Israel) juga menjadi cela dan hinaan bagi Allah sendiri. Untuk itulah, pemazmur mendesak agar Tuhan sudi bertindak dan menunjukkan lagi kasih setia-Nya kepada Israel (ay.51-52). Ia menyingkapkan harapan itu dalam sisipan mazmurnya. Jika hal itu terjadi, maka nama Tuhan akan terpuji untuk selama-lamanya (ay.53)
Nglempong Lor, Yogya, Desember 2012
Mazmur ini termasuk cukup panjang; ia terdiri atas 53 ayat. Judulnya dalam Alkitab kita ialah “Kesetiaan TUHAN kepada Daud.” Jadi, mazmur ini berbicara tentang relasi perjanjian antara Raja Daud dan TUHAN sendiri. Tidak mudah memahami mazmur ini karena ada pelbagai macam lapisan pengalaman iman tertumpuk di dalamnya. Ada pengalaman positif, ada pengalaman negatif, ada pengalaman cahaya dan optimisme, ada pengalaman kegelapan dan pesimisme. Semuanya diramu menjadi satu-padu dalam mazmur yang panjang ini. Untuk dapat memahaminya dengan baik, maka saya akan membaginya ke dalam beberapa bagian berikut ini. Unit pertama mencakup ayat 1-19. Unit kedua terdiri atas ayat 20-38. Unit ketiga meliputi ayat 39-46. Unit terakhir meliputi ayat 47-53. Selanjutnya kita akan melihat dinamika isinya dari unit ke unit.
Dalam unit pertama (1-19) ada cukup banyak hal menarik yang diungkapkan. Mazmur ini dimulai dengan cetusan niat pribadi si pemazmur untuk memuji dan memuliakan TUHAN (ay.2). Sekaligus juga diungkapkan alasan mengapa pemazmur memuji TUHAN. Alasannya tidak lain karena Hesed atau kasih-setia (stead-fast love) Tuhan itu sendiri. Secara lebih eksplisit alasan itu ditegaskan dalam ayat 3 yang lagi-lagi menyinggung Hesed itu sebagai alasan si pemazmur memuji Tuhan. Hesed Tuhan itu kekali abadi, tiada berkesudahan, seperti refrein ulangan yang terkenal dalam Mzm.136 itu (bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik, kekal abadi kasih-setia-Nya). Pemazmur sadar bahwa itu semua terjadi dalam konteks relasi perjanjian yang telah diikat Tuhan dengan Daud, hamba-Nya, dan Tuhan bersumpah untuk tetap setia pada janji itu untuk selama-lamanya (ay.4-5). Tidak hanya manusia yang bersyukur atas Hesed Tuhan, alam semesta pun (diwakili langit) bersyukur karenanya (ay.6). Selanjutnya dengan memakai bahasa metafor kosmis, pemazmur melukiskan daya kuasa dan pemerintahan Allah atas semesta alam dan surga. Diyakini bahwa Allah itu melampaui semua penghuni surga, Ia disegani dan ditakuti oleh semuanya (ay.7-8). Tidak ada apa pun yang mampu menandingi Allah (ay.9). Tuhan menguasai dan menundukkan semuanya: Laut ditundukkan (ay.10), naga laut purba (Rahab) juga dikalahkan (ay.11). Tuhan menguasai segala sesuatu (ay.12-14). Tetapi kuasa Tuhan itu bukanlah kuasa yang sewenang-wenang melainkan dilandaskan pada kasih, Keadilan dan penegakan hukum (ay.15). Bagian akhir unit pertama (ay.16-19) ini diakhiri dengan ucapan bahagia (makarioi). Orang yang tahu bersyukur karena hesed Allah diyakini akan berbahagia, karena mereka mempunyai alasan yang tepat untuk bersukacita, yaitu karena nama Tuhan, karena keadilan Tuhan. Tidak ada dasar lain bagi mereka untuk bermegah, selain nama Tuhan. Tuhan menjadi perisai bagi mereka. Raja Israel pun adalah milik Allah sendiri. Hal itu menjadi sumber sukacita dan kehidupan.
Dalam unit kedua (ay.20-38), kita melihat secara lebih rinci mengenai sosok Raja Israel yang diyakini berasal dari Tuhan itu. Raja itu ialah Daud. Di sini muncullah apa yang secara teknis disebut Ideologi Daud beserta legitimasi teologis tahta Daud dan kedudukan dia sebagai raja. Daud menjadi raja Israel karena Tuhan sendiri yang mengangkatnya, memahkotai, dan mengurapinya; maka Daud akan tetap disertai dan dilindungi Tuhan (ay.20-22). Ia tidak akan disergap oleh para lawannya sebab Tuhan sendiri bertindak menghancurkan para lawan itu (ay.23-24). Kekuasaan Daud tidak akan goyah karena ia dilindungi oleh kasih-setia Tuhan (ay.25). Dinamika relasi antara Tuhan dan Daud dilukiskan secara rinci dalam ayat 26-30. Tuhan berjanji untuk menguatkan Daud dalam kuasa dan pemerintahannya (ay.26). Daud pun secara eksplisit mengucapkan pengakuan dan janji setianya kepada Tuhan, dan juga relasi intim antara dirinya dengan Tuhan (ay.27). Karena kesetiaan Daud itu, maka Tuhan pun bersumpah untuk tetap setia, tidak hanya kepada Daud, melainkan juga kepada kaum keturunannya, yaitu para penggantinya yang duduk di atas tahtanya; mereka akan tetap meraja sampai selama-lamanya (ay.28-30). Namun jika mereka durhaka dan berbalik dari kasih-setia Tuhan, maka Tuhan akan menghukum mereka (ay.31-33). Tetapi ancaman hukuman itu bukanlah kata terakhir dari pihak Tuhan. Kata terakhir tetaplah kasih setia Tuhan. Tuhan tidak pernah bisa ingkar janji. Tuhan tidak mungkin melupakan sifat dasarnya sendiri yaitu kasih-setia, hesed (ay.34-38).
Dalam unit ketiga (ay.39-46) kita melihat sesuatu yang aneh. Sampai saat ini Tuhan dilukiskan tetap setia kepada Daud. Tetapi dalam unit ini kita melihat Tuhan tidak setia. Tuhan dilukiskan tidak lagi memperhatikan Daud, tidak lagi ingat akan perjanjian-Nya (ay.39-40). Akibatnya sangat buruk bagi kerajaan Daud: kerajaan itu ditimpa keruntuhan (ay.41). Ibu kotanya (yaitu Yerusalem) dirampok dan dijarah para musuh penakluk (ay.42). Nasib sangat buruk menimpa Daud dan kerajaannya dan kaum keturunannya; para musuhnya bisa bangkit untuk menghancurkan dia dan kerajaannya; ia tidak bisa menang dalam peperangan karena mata pedangnya seolah-olah menjadi tumpul; kegemilangannya dicampakkan ke tanah; aib dan rasa malu menimpa dia (ay.43-46). Mungkin hal ini erat terkait dengan nasib yang menimpa kerajaan Daud di kemudian hari, yang, sesudah kejayaan masa pemerintahan Salomo, terpecah menjadi dua kerajaan. Dan kedua kerajaan itu kemudian dihancurkan oleh Asyur dan Babel. Jelas bagian ini baru muncul sesudah kedua kerajaan itu mengalami nasib tragis yaitu penghancuran dan pembuangan. Tidak mungkin disusun pada masa pemerintahan Daud dan Salomo yang memang ditandai kegemilangan dan keperkasaan. Itulah situasi kegelapan, di mana seolah-olah Tuhan sudah tidak lagi memperhatikan dan mempedulikan nasib Israel; sebuah pengalaman negatif akan Allah sendiri.
Di tengah situasi pengalaman negatif dan pengalaman kegelapan itulah, dalam bagian Keempat (ay.47-53) kita melihat sebuah situasi di mana si pemazmur mulai bertanya-tanya tentang kasih setia Tuhan. Sepertinya ia gemas dan bertanya sampai berapa lama Tuhan masih murka terhadap Israel (Daud). Ia mencari kasih-setia Tuhan seperti yang dahulu. Ia merindukan kasih setia yang awali itu (ay.50). Ia sepertinya menuntut juga agar Tuhan sudi kembali ke kasih setia yang semula itu sebab kalau Tuhan tidak lagi memperhatikan hesed-Nya sendiri, maka sia-sialah Ia telah menciptakan anak manusia (ay.48). Betapa dahsyatnya alasan yang diangkat si pemazmur ini. Karena keganasan dunia orang mati (syeol), ia mengharapkan agar Tuhan segera menampakkan lagi hesed-Nya itu, sebab hidup manusia ini singkat (ay.48) dan tidak ada yang luput dari maut (ay.49). Akhirnya si pemazmur mengingatkan bahwa raja Israel itu adalah orang yang diurapi Tuhan sendiri. Jika ia dihina, maka bukan ia sendiri saja yang dihina, melainkan Tuhan sendirilah juga, yang telah mengangkatnya, mengalami penghinaan dan perendahan. Di sini ada sebuah identifikasi nasib negatif Daud dengan Tuhan sendiri. Apa yang dialami Daud (Israel) juga menjadi cela dan hinaan bagi Allah sendiri. Untuk itulah, pemazmur mendesak agar Tuhan sudi bertindak dan menunjukkan lagi kasih setia-Nya kepada Israel (ay.51-52). Ia menyingkapkan harapan itu dalam sisipan mazmurnya. Jika hal itu terjadi, maka nama Tuhan akan terpuji untuk selama-lamanya (ay.53)
Nglempong Lor, Yogya, Desember 2012
Thursday, October 18, 2012
PERISTIWA SEDIH IV: YESUS MEMANGGUL SALIB-NYA KE GUNUNG KALVARI
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Dalam doa rosario ini kita diminta untuk merenungkan dan mendalami peristiwa sedih yang keempat yaitu “Yesus memanggul salib-Nya ke gunung Kalvari.” Sang pemimpin doa rosario membacakan bagi kita teks Kitab Suci yang menjadi pendasaran biblis dari peristiwa sedih yang keempat ini. Inilah teks tersebut: “Sambil memikul salib-Nya, Ia pergi keluar ke tempat yang bernama Tempat Tengkorak, yang dalam bahasa Ibrani disebut “Golgota” (Yoh.19:16b).
Ini adalah teks dari Injil Yohanes yang kedua yang diangkat sebagai bahan renungan dalam untaian peristiwa doa rosario. Yang lain ada dalam peristiwa cahaya/terang yang kedua terkait dengan peristiwa perkawinan di Kana itu. Menarik bahwa dari Injil Yohanes hanya ada dua teks saja yang diangkat sebagai bahan renungan dalam doa Rosario, padahal menurut saya injil Yohanes adalah sebuah injil personal-devosional, amat menekankan kedalaman relasi personal dan dalam relasi personal itu ditekankan juga segi devosional. (Itulah sebabnya dalam praksis devosi pribadi, saya menyusun tiga peristiwa tambahan, yaitu peristiwa iman, peristiwa pengharapan, dan peristiwa kasih. Dalam ketiga peristiwa tambahan dari eksperimen pribadi saya ini, ada cukup banyak teks yang saya angkat dari injil Yohanes; tidak lain dimaksudkan agar kutipan injil cukup berimbang).
Teks dasar untuk peristiwa ini sangat singkat. Tetapi saya akan mencoba mendalami dan merenungkan beberapa aspek yang penting di dalamnya. Hal pertama yang harus mendapat perhatian kita ialah kenyataan bahwa menurut Injil Yohanes, Yesus memanggul salib-Nya sendiri menuju Kalvari. Ia tidak dibantu oleh siapa pun juga seperti yang bisa kita lihat dalam pelukisan injil-injil Sinoptik. Dalam kisah sengsara menurut injil Markus misalnya kita bisa membaca tentang ada dan hadirnya orang lain yang ikut membantu Yesus untuk memanggul salib-Nya. Orang yang dimaksud ialah Simon orang Kirene itu. Ia dipaksa para serdadu untuk memikul Salib Yesus (Mrk.15:21; Mat.27:32; Luk.23:26). Dalam Injil Yohanes, Yesus benar-benar sendirian dalam memikul salib-Nya. Pertanyaannya ialah mengapa Yohanes melukiskan detail adegan ini secara berbeda dari para penginjil yang lain?
Bagi Yohanes, seperti halnya bagi para penginjil yang lain, dan bagi semua para penulis dalam kitab suci, aktifitas menulis, aktifitas membangun alur kisah (plot), mengatur penokohan kisah (characterisasi) tidak lain adalah aktifitas berteologi itu sendiri. Yohanes mencoba berteologi melalui karya tulisnya. Tetapi apa teologi yang dimaksudkan di sini? Beberapa pakar yang ahli Yohanes, misalnya orang seperti Raimond E.Brown, yang terkenal dengan salah satu buku besarnya tentang The Death of the Messiah pasangan dari bukunya yang lain The Birth of the Messiah, mengatakan bahwa ketika Yohanes menulis bagian ini dari alur kisahnya sesungguhnya ia teringat akan satu prototipe dalam Perjanjian Lama; di atas dasar prototipe Perjanjian Lama itulah Yohanes mencoba melukiskan drama sengsara Yesus. Prototipe yang dimaksud ialah Isaak. Menurut cara pembacaan para ahli seperti ini, konon Yohanes teringat akan korban Abraham di gunung Moria itu, di mana pada saat itu, Isaak, yang diminta YAHWEH untuk dikorbankan oleh Abraham, memikul sendiri kayu yang akan dipakai sebagai sumber bahan bakar untuk korban bakaran, dan dia sendirilah yang akan menjadi korban sembelihan dari persembahan itu.
Tentu yang diambil sebagai paralelisme ialah peristiwa memanggul sendiri kayu salib dan kayu api. Sebab ketika tiba di puncak gunung (Kalvari bagi Yesus, Moria bagi Isaak), Yesus benar-benar disalibkan (tidak sekadar pura-pura disalibkan sebagaimana dituduhkan oleh aliran doketisme yang mengendap dalam beberapa ajaran lain yang menganut doketisme itu), sedangkan Isaak tidak jadi dikorbankan. Ia diganti oleh seekor anak domba yang diberikan oleh Tuhan sendiri di atas puncak gunung itu. Peristiwa itu terus dikenang oleh orang Yahudi sampai sekarang dalam ritus korban mereka. Sedangkan orang Kristiani tidak lagi melakukannya karena mereka sudah mempunyai satu kurban abadi, yang berlaku satu kali dan untuk selamanya, yaitu kurban Yesus Kristus di salib, dan dalam konteks Gereja Katolik, kurban salib itu diulang, dan dirayakan terus menerus dalam perayaan Ekaristi: Setiap kali kamu makan roti ini dan minum dari piala ini, kamu mengenangkan sengsara dan wafat Tuhan, sekaligus kita menyatakan iman dan kepercayaan kita. Kita akan terus menerus melakukan hal itu sampai Ia datang kembali kelak di akhir jaman (parousia).
Ya, saya perlu ulangi lagi: Yesus memanggul salib-Nya sendiri. Salib itu sendiri adalah sebuah bentuk hukuman dalam tradisi Roma untuk menghukum penjahat yang dianggap berbahaya dan menjadi biang kerok bagi masyarakat. Betapa hal ini sangat berat bagi orang Kristiani awal, bagi para pengikut Yesus yang semula, untuk menerima hal ini. Adalah tidak mudah untuk menerima bahwa sang pemimpin mereka, sang junjungan mereka, dihukum dengan cara disalibkan. Tetapi, realitas historis itu diterima dengan lapang dada. Orang tidak bisa menghapus realitas historis. Paling-paling yang bisa dilakukan ialah mencoba mentransformasi realitas historis itu, untuk kemudian dimaknai secara positif. Ya pengalaman negatif selalu ada kemungkinan untuk dimaknai secara positif. Hanya dengan cara memberi makna positif pada drama salib yang negatif itu, orang Kristiani awal dapat menerima realitas salib itu, dan bahkan kemudian mendapat daya kekuatan yang sungguh kuat dan ajaib dari padanya. Salib yang semula adalah tanda kehinaan, oleh Paulus ditransformasi sedemikian rupa sehingga menjadi suatu kebanggaan, sumber kemuliaan, sumber keselamatan.
Teologi salib tidak pernah boleh disingkirkan dari kesadaran dan penghayatan hidup rohani orang Kristiani. Jika ada praksis hidup rohani dan teologi yang melupakan hal itu, tentu saja hal itu tidak sejalan dengan teologi hidup rohani orang-orang Kristiani semula. Sebab hanya melalui sengsara (Salib) sajalah akan muncul atau terjadi peristiwa pemuliaan, peristiwa kebangkitan. Dan itulah peristiwa keselamatan kita.
Hendaknya kita jangan lupa bahwa adegan ini juga mempunyai daya kekuatan yang luar biasa untuk mengilhami banyak pihak untuk mengabadikannya dalam pelbagai karya mereka. Para pelukis mengabadikannya dalam lukisan. Para seniman ukir, mengabadikannya dalam karya ukiran mereka. Para seniman komponis juga menyusun lagu-lagu mereka berdasarkan adegan ini. Begitu juga seniman puisi; mereka menciptakan puisi-puisi berdasarkan hal ini. Dan hal itu berlangsung dari dulu hingga sekarang ini. Tiada henti-hentinya peristiwa atau adegan ini mengilhami para seniman untuk berkarya. Benar-benar luar biasa. Yesus memanggul salib-Nya sendiri menuju ke puncak Kalvari, atau Golgota. Dalam tradisi devosional jalan salib yang juga sangat terkenal, peristiwa ini dikenangkan dalam Perhentian II: Yesus Memanggul Salib. Untuk mengawali renungan dalam perhentian kedua ini, disediakan sebuah nyanyian singkat. Golgota yang menjadi tujuan terakhir dari ziarah perjalanan salib itu, ternyata mendapat tempat juga di dalam karya para pengarang lagu.
Untuk mengakhiri tulisan yang singkat dan sederhana ini, saya akan mengutip dua lagu. Pertama, terkait dengan Perhentian Kedua dalam peristiwa Jalan Salib. Kedua, terkait dengan Golgota. Yang terkait dengan Perhentian Kedua beginilah lagunya:
Kayu salib dia panggul.
Mari kita pun memikul
salib kita di dunia.
Yang terkait dengan Golgota, puncak akhir perjalanan salib itu beginilah lagunya:
Golgota, tempat Tuhanku disalib dan dicela,
agar dunia damai pula dengan Allah, Khaliknya.
Dari sanalah mengalir sungai kasih karunia
bagi orang yang berdosa, yang memandang Golgota.
Walau lagu ini baru diciptakan pada awal abad duapuluh, tetapi ia menyimpan kebenaran penghayatan spiritulitas hidup rohani orang Kristiani yang mampu mentransformasi drama puncak Golgota itu, tidak lagi sebagai sesuatu yang memalukan, melainkan justru menjadi sumber keselamatan, sebab di atas Golgota itulah darah dan air mengalir dari lambung Yesus, dan itulah sumber awal hidup Gereja. Kebenaran itu akan terus berlaku abadi hingga selama-lamanya.
Yogyakarta, 18 Oktober 2012
Dalam doa rosario ini kita diminta untuk merenungkan dan mendalami peristiwa sedih yang keempat yaitu “Yesus memanggul salib-Nya ke gunung Kalvari.” Sang pemimpin doa rosario membacakan bagi kita teks Kitab Suci yang menjadi pendasaran biblis dari peristiwa sedih yang keempat ini. Inilah teks tersebut: “Sambil memikul salib-Nya, Ia pergi keluar ke tempat yang bernama Tempat Tengkorak, yang dalam bahasa Ibrani disebut “Golgota” (Yoh.19:16b).
Ini adalah teks dari Injil Yohanes yang kedua yang diangkat sebagai bahan renungan dalam untaian peristiwa doa rosario. Yang lain ada dalam peristiwa cahaya/terang yang kedua terkait dengan peristiwa perkawinan di Kana itu. Menarik bahwa dari Injil Yohanes hanya ada dua teks saja yang diangkat sebagai bahan renungan dalam doa Rosario, padahal menurut saya injil Yohanes adalah sebuah injil personal-devosional, amat menekankan kedalaman relasi personal dan dalam relasi personal itu ditekankan juga segi devosional. (Itulah sebabnya dalam praksis devosi pribadi, saya menyusun tiga peristiwa tambahan, yaitu peristiwa iman, peristiwa pengharapan, dan peristiwa kasih. Dalam ketiga peristiwa tambahan dari eksperimen pribadi saya ini, ada cukup banyak teks yang saya angkat dari injil Yohanes; tidak lain dimaksudkan agar kutipan injil cukup berimbang).
Teks dasar untuk peristiwa ini sangat singkat. Tetapi saya akan mencoba mendalami dan merenungkan beberapa aspek yang penting di dalamnya. Hal pertama yang harus mendapat perhatian kita ialah kenyataan bahwa menurut Injil Yohanes, Yesus memanggul salib-Nya sendiri menuju Kalvari. Ia tidak dibantu oleh siapa pun juga seperti yang bisa kita lihat dalam pelukisan injil-injil Sinoptik. Dalam kisah sengsara menurut injil Markus misalnya kita bisa membaca tentang ada dan hadirnya orang lain yang ikut membantu Yesus untuk memanggul salib-Nya. Orang yang dimaksud ialah Simon orang Kirene itu. Ia dipaksa para serdadu untuk memikul Salib Yesus (Mrk.15:21; Mat.27:32; Luk.23:26). Dalam Injil Yohanes, Yesus benar-benar sendirian dalam memikul salib-Nya. Pertanyaannya ialah mengapa Yohanes melukiskan detail adegan ini secara berbeda dari para penginjil yang lain?
Bagi Yohanes, seperti halnya bagi para penginjil yang lain, dan bagi semua para penulis dalam kitab suci, aktifitas menulis, aktifitas membangun alur kisah (plot), mengatur penokohan kisah (characterisasi) tidak lain adalah aktifitas berteologi itu sendiri. Yohanes mencoba berteologi melalui karya tulisnya. Tetapi apa teologi yang dimaksudkan di sini? Beberapa pakar yang ahli Yohanes, misalnya orang seperti Raimond E.Brown, yang terkenal dengan salah satu buku besarnya tentang The Death of the Messiah pasangan dari bukunya yang lain The Birth of the Messiah, mengatakan bahwa ketika Yohanes menulis bagian ini dari alur kisahnya sesungguhnya ia teringat akan satu prototipe dalam Perjanjian Lama; di atas dasar prototipe Perjanjian Lama itulah Yohanes mencoba melukiskan drama sengsara Yesus. Prototipe yang dimaksud ialah Isaak. Menurut cara pembacaan para ahli seperti ini, konon Yohanes teringat akan korban Abraham di gunung Moria itu, di mana pada saat itu, Isaak, yang diminta YAHWEH untuk dikorbankan oleh Abraham, memikul sendiri kayu yang akan dipakai sebagai sumber bahan bakar untuk korban bakaran, dan dia sendirilah yang akan menjadi korban sembelihan dari persembahan itu.
Tentu yang diambil sebagai paralelisme ialah peristiwa memanggul sendiri kayu salib dan kayu api. Sebab ketika tiba di puncak gunung (Kalvari bagi Yesus, Moria bagi Isaak), Yesus benar-benar disalibkan (tidak sekadar pura-pura disalibkan sebagaimana dituduhkan oleh aliran doketisme yang mengendap dalam beberapa ajaran lain yang menganut doketisme itu), sedangkan Isaak tidak jadi dikorbankan. Ia diganti oleh seekor anak domba yang diberikan oleh Tuhan sendiri di atas puncak gunung itu. Peristiwa itu terus dikenang oleh orang Yahudi sampai sekarang dalam ritus korban mereka. Sedangkan orang Kristiani tidak lagi melakukannya karena mereka sudah mempunyai satu kurban abadi, yang berlaku satu kali dan untuk selamanya, yaitu kurban Yesus Kristus di salib, dan dalam konteks Gereja Katolik, kurban salib itu diulang, dan dirayakan terus menerus dalam perayaan Ekaristi: Setiap kali kamu makan roti ini dan minum dari piala ini, kamu mengenangkan sengsara dan wafat Tuhan, sekaligus kita menyatakan iman dan kepercayaan kita. Kita akan terus menerus melakukan hal itu sampai Ia datang kembali kelak di akhir jaman (parousia).
Ya, saya perlu ulangi lagi: Yesus memanggul salib-Nya sendiri. Salib itu sendiri adalah sebuah bentuk hukuman dalam tradisi Roma untuk menghukum penjahat yang dianggap berbahaya dan menjadi biang kerok bagi masyarakat. Betapa hal ini sangat berat bagi orang Kristiani awal, bagi para pengikut Yesus yang semula, untuk menerima hal ini. Adalah tidak mudah untuk menerima bahwa sang pemimpin mereka, sang junjungan mereka, dihukum dengan cara disalibkan. Tetapi, realitas historis itu diterima dengan lapang dada. Orang tidak bisa menghapus realitas historis. Paling-paling yang bisa dilakukan ialah mencoba mentransformasi realitas historis itu, untuk kemudian dimaknai secara positif. Ya pengalaman negatif selalu ada kemungkinan untuk dimaknai secara positif. Hanya dengan cara memberi makna positif pada drama salib yang negatif itu, orang Kristiani awal dapat menerima realitas salib itu, dan bahkan kemudian mendapat daya kekuatan yang sungguh kuat dan ajaib dari padanya. Salib yang semula adalah tanda kehinaan, oleh Paulus ditransformasi sedemikian rupa sehingga menjadi suatu kebanggaan, sumber kemuliaan, sumber keselamatan.
Teologi salib tidak pernah boleh disingkirkan dari kesadaran dan penghayatan hidup rohani orang Kristiani. Jika ada praksis hidup rohani dan teologi yang melupakan hal itu, tentu saja hal itu tidak sejalan dengan teologi hidup rohani orang-orang Kristiani semula. Sebab hanya melalui sengsara (Salib) sajalah akan muncul atau terjadi peristiwa pemuliaan, peristiwa kebangkitan. Dan itulah peristiwa keselamatan kita.
Hendaknya kita jangan lupa bahwa adegan ini juga mempunyai daya kekuatan yang luar biasa untuk mengilhami banyak pihak untuk mengabadikannya dalam pelbagai karya mereka. Para pelukis mengabadikannya dalam lukisan. Para seniman ukir, mengabadikannya dalam karya ukiran mereka. Para seniman komponis juga menyusun lagu-lagu mereka berdasarkan adegan ini. Begitu juga seniman puisi; mereka menciptakan puisi-puisi berdasarkan hal ini. Dan hal itu berlangsung dari dulu hingga sekarang ini. Tiada henti-hentinya peristiwa atau adegan ini mengilhami para seniman untuk berkarya. Benar-benar luar biasa. Yesus memanggul salib-Nya sendiri menuju ke puncak Kalvari, atau Golgota. Dalam tradisi devosional jalan salib yang juga sangat terkenal, peristiwa ini dikenangkan dalam Perhentian II: Yesus Memanggul Salib. Untuk mengawali renungan dalam perhentian kedua ini, disediakan sebuah nyanyian singkat. Golgota yang menjadi tujuan terakhir dari ziarah perjalanan salib itu, ternyata mendapat tempat juga di dalam karya para pengarang lagu.
Untuk mengakhiri tulisan yang singkat dan sederhana ini, saya akan mengutip dua lagu. Pertama, terkait dengan Perhentian Kedua dalam peristiwa Jalan Salib. Kedua, terkait dengan Golgota. Yang terkait dengan Perhentian Kedua beginilah lagunya:
Kayu salib dia panggul.
Mari kita pun memikul
salib kita di dunia.
Yang terkait dengan Golgota, puncak akhir perjalanan salib itu beginilah lagunya:
Golgota, tempat Tuhanku disalib dan dicela,
agar dunia damai pula dengan Allah, Khaliknya.
Dari sanalah mengalir sungai kasih karunia
bagi orang yang berdosa, yang memandang Golgota.
Walau lagu ini baru diciptakan pada awal abad duapuluh, tetapi ia menyimpan kebenaran penghayatan spiritulitas hidup rohani orang Kristiani yang mampu mentransformasi drama puncak Golgota itu, tidak lagi sebagai sesuatu yang memalukan, melainkan justru menjadi sumber keselamatan, sebab di atas Golgota itulah darah dan air mengalir dari lambung Yesus, dan itulah sumber awal hidup Gereja. Kebenaran itu akan terus berlaku abadi hingga selama-lamanya.
Yogyakarta, 18 Oktober 2012
Tuesday, July 24, 2012
PUISI-PUISI JULI 2012 III
OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
MENDEKATIMU
Selalu ada kegaguan yang canggung
tiap kali aku datang mendekatiMu
ada sejuta tanya
yang tiada mudah dijawab
selalu ada teki-teki dan misteri
di balik mana Engkau berdiam.
Tetapi aku tidak putus asa
dalam kembara ini.
Setelah lama berkelana dalam theologia
kuputuskan untuk tidak lagi mengimanimu
dalam canda dan tawa dan jenaka
terasa lebih ramah dan indah.
Mudah rasanya bicara DENGAN-MU
daripada bicara TENTANG-MU.
Karena selalu ada kabut misteri kelam.
Mungkin karena Dikau bertahta
dalam cahaya yang tiada terhampiri
tetapi sekaligus juga
dekat sekali di sini.
Yakni di hati.
Puisi lama, Bandung, November 2003.
DESAU RISAUKU I
Desau risauku
tiada mampu membubarkan gumpalan badai
yang sudah lama menunggu
di balik pintu tanggul sanubariku
yang gagal menancap pisau cinta
di hatimu yang tampak seperti mendamba
namun jumawamu tampak seperti membungkus dambamu
yang sejatinya sedang membara.
Soalnya aku dapat merasakan
pancar-pancar arus bawah rasa jiwamu kepadaku.
Ah desau risauku
hanya bisa berhenti
menggumpal menjadi galau yang kacau
yang hanya bisa berharap
pada pancar-pancar kalau-kalaumu
yang tiada pernah menjadi nyata.
Yogya, 15 April 2012
DESAU RISAUKU II
Desau risauku
membelah sunyi
mencoba meraba pesona cantikmu
dalam gelap malam...
ah, cinta hanyalah pancaran yang mendera
sekadar membawa lara dan sara
membawa bara-bara baru
dalam tungku asmaraku yang tiada kesampaian...
cinta memang terkadang harus berhenti
pada titik di seberang tebing hati
dan kita pun hanya bisa saling memandang
dari kejauhan....
berharap ada yang terawang
antara hati kita yang tiada jarang
terserang hawa gasang.
Yogya, 15 April 2012
MENDEKATIMU
Selalu ada kegaguan yang canggung
tiap kali aku datang mendekatiMu
ada sejuta tanya
yang tiada mudah dijawab
selalu ada teki-teki dan misteri
di balik mana Engkau berdiam.
Tetapi aku tidak putus asa
dalam kembara ini.
Setelah lama berkelana dalam theologia
kuputuskan untuk tidak lagi mengimanimu
dalam canda dan tawa dan jenaka
terasa lebih ramah dan indah.
Mudah rasanya bicara DENGAN-MU
daripada bicara TENTANG-MU.
Karena selalu ada kabut misteri kelam.
Mungkin karena Dikau bertahta
dalam cahaya yang tiada terhampiri
tetapi sekaligus juga
dekat sekali di sini.
Yakni di hati.
Puisi lama, Bandung, November 2003.
DESAU RISAUKU I
Desau risauku
tiada mampu membubarkan gumpalan badai
yang sudah lama menunggu
di balik pintu tanggul sanubariku
yang gagal menancap pisau cinta
di hatimu yang tampak seperti mendamba
namun jumawamu tampak seperti membungkus dambamu
yang sejatinya sedang membara.
Soalnya aku dapat merasakan
pancar-pancar arus bawah rasa jiwamu kepadaku.
Ah desau risauku
hanya bisa berhenti
menggumpal menjadi galau yang kacau
yang hanya bisa berharap
pada pancar-pancar kalau-kalaumu
yang tiada pernah menjadi nyata.
Yogya, 15 April 2012
DESAU RISAUKU II
Desau risauku
membelah sunyi
mencoba meraba pesona cantikmu
dalam gelap malam...
ah, cinta hanyalah pancaran yang mendera
sekadar membawa lara dan sara
membawa bara-bara baru
dalam tungku asmaraku yang tiada kesampaian...
cinta memang terkadang harus berhenti
pada titik di seberang tebing hati
dan kita pun hanya bisa saling memandang
dari kejauhan....
berharap ada yang terawang
antara hati kita yang tiada jarang
terserang hawa gasang.
Yogya, 15 April 2012
Tuesday, July 17, 2012
PUISI-PUISI JULI 2012 II
OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
DE WAAL
Arusmu mengalir tenang, abadi,
dan di sana terpantul langit dan cakrawala
yang sebentar biru, sebentar kelabu, dan berawan,
dan hatiku yang memandangmu
sering sekali teraduk-aduk dalam sebuah melankoli kosmis,
ah ternyata aku menyatu dengan alamku
aku adalah bagian dari alam sekitarku.
Irama alamku bergema gaung
dalam relung-relung terdalam kalbuku.
Medan magnetik menggelora
di antara jagat gedhe dan jagad cilik.
Tiada terhindarkan.
Puisi lama. Nijmegen, 2002. Di tepi sungai Waal.
RUMAH KATA
Kucoba membuka ruang
kata-kata dan tersingkaplah sang ada,
betapa ajaib itu rumah kata dan bahasa
bisa menampung dan menyimpan sang ada.
Saya pun bisa bercengkerama
dengan sang ada dan makna
dalam dan karena kata-kata.
En arche een ho logos....
Puisi Lama, Bandung, 2003.
BAYU
Kemarin
bayu itu berlalu begitu kencang
sampai-sampai pucuk-pucuk rerumputan
yang rindu dibelai
tiada sempat menikmati
karena cepat sekali
ia buru-buru pergi lagi.
Hari ini
bayu itu datang begitu lembut
hingga seperti tiada berdaya
menyeka sisa-sisa debu
yang melekat mengendap pada embun pagi
yang sudah lama menguap
hingga hanya menyisakan pengap.
Entahlah esok
seperti apa ia datang
hanya saja saya berharap
ia masih tetap datang
sebab aku rindu pada hadirnya
yang entah bagaimana
selalu bermakna seribu bagiku
yang merindu
bunyi desah rilih
buluh perindu.
Puisi lama, Marian Polis Center, Tagaytay City, Februari 2005.
DE WAAL
Arusmu mengalir tenang, abadi,
dan di sana terpantul langit dan cakrawala
yang sebentar biru, sebentar kelabu, dan berawan,
dan hatiku yang memandangmu
sering sekali teraduk-aduk dalam sebuah melankoli kosmis,
ah ternyata aku menyatu dengan alamku
aku adalah bagian dari alam sekitarku.
Irama alamku bergema gaung
dalam relung-relung terdalam kalbuku.
Medan magnetik menggelora
di antara jagat gedhe dan jagad cilik.
Tiada terhindarkan.
Puisi lama. Nijmegen, 2002. Di tepi sungai Waal.
RUMAH KATA
Kucoba membuka ruang
kata-kata dan tersingkaplah sang ada,
betapa ajaib itu rumah kata dan bahasa
bisa menampung dan menyimpan sang ada.
Saya pun bisa bercengkerama
dengan sang ada dan makna
dalam dan karena kata-kata.
En arche een ho logos....
Puisi Lama, Bandung, 2003.
BAYU
Kemarin
bayu itu berlalu begitu kencang
sampai-sampai pucuk-pucuk rerumputan
yang rindu dibelai
tiada sempat menikmati
karena cepat sekali
ia buru-buru pergi lagi.
Hari ini
bayu itu datang begitu lembut
hingga seperti tiada berdaya
menyeka sisa-sisa debu
yang melekat mengendap pada embun pagi
yang sudah lama menguap
hingga hanya menyisakan pengap.
Entahlah esok
seperti apa ia datang
hanya saja saya berharap
ia masih tetap datang
sebab aku rindu pada hadirnya
yang entah bagaimana
selalu bermakna seribu bagiku
yang merindu
bunyi desah rilih
buluh perindu.
Puisi lama, Marian Polis Center, Tagaytay City, Februari 2005.
Monday, July 16, 2012
MENIKMATI MAZMUR 88
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Hidup manusia tidak selalu berada pada ambang sukacita; tidak melulu berada di lorong-lorong penuh cahaya. Tidak jarang hidup itu turun ke lembah tangisan, lembah dukacita, lembah sengsara, lembah sakit. Tidak selamanya hidup ditandai pengalaman sehat. Sering juga ada pengalaman sakit, pengalaman negatif, pengalaman kegelapan, pengalaman sakit dan putus-asa. Hidup tidak senantiasa ditandai nyanyi sukacita. Terkadang ditandai tembang dukacita, terutama ketika kita dilanda penyakit dan pelbagai pengalaman negatif lain.
Itu yang kita rasakan dalam mazmur 88 yang berjudul: Doa pada waktu sakit payah. Mazmur ini disusun untuk dipakai ketika orang sakit payah. Itu sebabnya dalam empat ayat pertama kita bertemu dengan doa yang diucapkan terus menerus, oratio continua, yang diucapkan pada waktu siang, dan malam. Tiada saat tanpa doa. Doa menjadi nafas hidup. Doa diibaratkan asap dupa dan asap korban bakaran yang membumbung tinggi ke angkasa seperti korban bakaran Habel yang saleh, yang berkenan di hadapan Allah. Pemazmur berharap agar Allah mendengarkan doanya yang diucapkan terus menerus, siang dan malam. Pada ayat 4 ada alasan mengapa pemazmur melantunkan doa itu: ia menderita dan bahkan sudah merasa mati: Sebab jiwaku kenyang dengan malapetaka, dan hidupku sudah dekat dunia orang mati. Pengalaman jelang ajal (Near Death Experience: NDE) ini dilukiskan secara rinci dengan pelbagai metafor dalam ayat 5-7. Ketiga ayat ini berbicara tentang ‘mati’. Pemazmur merasa diri sudah mati: tinggal di liang kubur, tidak mempunyai kekuatan lagi (ay 5), tinggal di antara orang mati, terbaring dalam kubur (ay 6). Di bagian akhir ayat 6 ada sesuatu yang khusus yang harus diberi perhatian yaitu kematian dipandang sebagai keadaan di mana kita putus relasi dengan Tuhan dan Tuhan tidak lagi ingat akan kita. Itulah bayangan orang Israel kuno tentang Sheol, tempat atau gudang orang mati. Dalam Sheol tidak ada lagi relasi, baik itu relasi dengan sesama, dengan keluarga, dan bahkan dengan Allah sendiri. Tragis.
Pemerian Sheol itulah yang ada dalam ayat 7-10: sheol dibayangkan sebagai liang kubur yang paling bawah, tempat yang teramat gelap, tempat paling dalam. Semua ini terjadi karena pemazmur merasa tertekan oleh panas murka Allah. Inilah salah satu pandangan mengenai sakit: sakit adalah hukuman dari Allah. Tetapi hal itu dimaksudkan untuk mendidik: pengalaman negatif-didaktis-terapeutik. Dalam ayat 9 ada pemerian mengenai keadaan putus-relasi total di mana pemazmur jauh dari kenalannya dan bahkan kenalannya memandang dia sebagai kekejian. Tragis (ay.9). Pemazmur merasa tidak berdaya untuk keluar dari situasi itu. Ia tertekan, sehingga ia merasa bahwa matanya merana karena sengsara (ay.10). Dalam keadaan seperti itu, pemazmur tidak putus asa, melainkan ia terus berdoa dan mengangkat tangannya kepada Allah untuk memohon pertolongan dan belaskasihan; inilah konteks munculnya doa kita: pertolongan kita dari Tuhan, yang menjadikan langit dan bumi.
Dalam ayat 11-13 ada empat pertanyaan retoris pemazmur kepada Tuhan. Jawaban atas keempatnya ialah: Tidak. Pertanyaan pertama berkaitan dengan perbuatan ajaib yang dikerjakan Tuhan: pemazmur yakin bahwa Tuhan mengerjakan perbuatan ajaib bukan untuk orang mati, melainkan untuk orang hidup. Pertanyaan kedua berkaitan dengan keyakinan pemazmur bahwa yang memuji dan bersyukur kepada Allah bukan orang mati, melainkan orang hidup. Hanya orang hidup dapat menghaturkan syukur dan pujian kepada Allah. Pertanyaan ketiga berkaitan dengan kenyataan bahwa kasih-setia (hesed) Allah tidak dapat diwartakan dalam liang kubur, di antara orang mati, melainkan di antara orang hidup. Hanya orang hidup dapat mengalami, merasakan, dan mengapresiasi kasih-setia Allah. Pertanyaan keempat berkaitan dengan pengetahuan. Hanya orang yang hidup dapat mengetahui perbuatan ajaib dan keadilan Allah. Di balik empat pertanyaan ini, pemazmur berharap agar Allah sudi menyelematkan dia dari pengalaman genting ini, karena hanya ketika ia hidup ia dapat mengalami Allah dan memuji kasih-setia dan keadilan-Nya.
Akhirnya, dalam ay.14 mazmur ditutup dengan doa. Setelah mengajukan pertanyaan, pemazmur bermuara dalam doa yang indah. Doa itu diucapkan terus menerus bahkan dengan berteriak seperti orang meminta tolong dari situasi genting. Doa itu naik seperti asap korban bakaran di waktu pagi (ay.14). Sekali lagi ada pertanyaan retoris dalam ayat 15, berkaitan dengan pengalaman negatif ditinggalkan Allah. Pemazmur memohon belas-kasihan Allah karena ia merasa hidupnya sudah sengsara sejak kecil, yang menyebabkan dia hampir terseret ke jurang putus-asa. Ia hampir bungkam karena dihimpit murka Allah (ay.17). Kedahsyatan murka itu juga dialami seperti banjir bandang yang menyeret dan menenggelamkan dia (ay.18). Sekali lagi, ia berada dalam situasi putus relasi sosial karena pengalaman sakit ini (ay.19), sebuah keadaan yang sangat lumrah. Jika kita sakit, maka sangat minimlah relasi sosial kita, dan semakin lama juga orang yang berkunjung berkurang sehingga kita menjadi miskin relasi dan bahkan terputus dari relasi sosial. Padahal itulah yang membentuk hidup kita. Itu sebabnya pemazmur sangat berharap akan kesembuhan dari Allah agar hidupnya dapat dipulihkan kembali. Dalam keadaan sehat kita dapat membangun relasi sosial kita yang terhenti karena pengalaman sakit. Itu hanya mungkin terjadi karena campur tangan Allah.
Nglempong Lor, 10 Juli 2012
Hidup manusia tidak selalu berada pada ambang sukacita; tidak melulu berada di lorong-lorong penuh cahaya. Tidak jarang hidup itu turun ke lembah tangisan, lembah dukacita, lembah sengsara, lembah sakit. Tidak selamanya hidup ditandai pengalaman sehat. Sering juga ada pengalaman sakit, pengalaman negatif, pengalaman kegelapan, pengalaman sakit dan putus-asa. Hidup tidak senantiasa ditandai nyanyi sukacita. Terkadang ditandai tembang dukacita, terutama ketika kita dilanda penyakit dan pelbagai pengalaman negatif lain.
Itu yang kita rasakan dalam mazmur 88 yang berjudul: Doa pada waktu sakit payah. Mazmur ini disusun untuk dipakai ketika orang sakit payah. Itu sebabnya dalam empat ayat pertama kita bertemu dengan doa yang diucapkan terus menerus, oratio continua, yang diucapkan pada waktu siang, dan malam. Tiada saat tanpa doa. Doa menjadi nafas hidup. Doa diibaratkan asap dupa dan asap korban bakaran yang membumbung tinggi ke angkasa seperti korban bakaran Habel yang saleh, yang berkenan di hadapan Allah. Pemazmur berharap agar Allah mendengarkan doanya yang diucapkan terus menerus, siang dan malam. Pada ayat 4 ada alasan mengapa pemazmur melantunkan doa itu: ia menderita dan bahkan sudah merasa mati: Sebab jiwaku kenyang dengan malapetaka, dan hidupku sudah dekat dunia orang mati. Pengalaman jelang ajal (Near Death Experience: NDE) ini dilukiskan secara rinci dengan pelbagai metafor dalam ayat 5-7. Ketiga ayat ini berbicara tentang ‘mati’. Pemazmur merasa diri sudah mati: tinggal di liang kubur, tidak mempunyai kekuatan lagi (ay 5), tinggal di antara orang mati, terbaring dalam kubur (ay 6). Di bagian akhir ayat 6 ada sesuatu yang khusus yang harus diberi perhatian yaitu kematian dipandang sebagai keadaan di mana kita putus relasi dengan Tuhan dan Tuhan tidak lagi ingat akan kita. Itulah bayangan orang Israel kuno tentang Sheol, tempat atau gudang orang mati. Dalam Sheol tidak ada lagi relasi, baik itu relasi dengan sesama, dengan keluarga, dan bahkan dengan Allah sendiri. Tragis.
Pemerian Sheol itulah yang ada dalam ayat 7-10: sheol dibayangkan sebagai liang kubur yang paling bawah, tempat yang teramat gelap, tempat paling dalam. Semua ini terjadi karena pemazmur merasa tertekan oleh panas murka Allah. Inilah salah satu pandangan mengenai sakit: sakit adalah hukuman dari Allah. Tetapi hal itu dimaksudkan untuk mendidik: pengalaman negatif-didaktis-terapeutik. Dalam ayat 9 ada pemerian mengenai keadaan putus-relasi total di mana pemazmur jauh dari kenalannya dan bahkan kenalannya memandang dia sebagai kekejian. Tragis (ay.9). Pemazmur merasa tidak berdaya untuk keluar dari situasi itu. Ia tertekan, sehingga ia merasa bahwa matanya merana karena sengsara (ay.10). Dalam keadaan seperti itu, pemazmur tidak putus asa, melainkan ia terus berdoa dan mengangkat tangannya kepada Allah untuk memohon pertolongan dan belaskasihan; inilah konteks munculnya doa kita: pertolongan kita dari Tuhan, yang menjadikan langit dan bumi.
Dalam ayat 11-13 ada empat pertanyaan retoris pemazmur kepada Tuhan. Jawaban atas keempatnya ialah: Tidak. Pertanyaan pertama berkaitan dengan perbuatan ajaib yang dikerjakan Tuhan: pemazmur yakin bahwa Tuhan mengerjakan perbuatan ajaib bukan untuk orang mati, melainkan untuk orang hidup. Pertanyaan kedua berkaitan dengan keyakinan pemazmur bahwa yang memuji dan bersyukur kepada Allah bukan orang mati, melainkan orang hidup. Hanya orang hidup dapat menghaturkan syukur dan pujian kepada Allah. Pertanyaan ketiga berkaitan dengan kenyataan bahwa kasih-setia (hesed) Allah tidak dapat diwartakan dalam liang kubur, di antara orang mati, melainkan di antara orang hidup. Hanya orang hidup dapat mengalami, merasakan, dan mengapresiasi kasih-setia Allah. Pertanyaan keempat berkaitan dengan pengetahuan. Hanya orang yang hidup dapat mengetahui perbuatan ajaib dan keadilan Allah. Di balik empat pertanyaan ini, pemazmur berharap agar Allah sudi menyelematkan dia dari pengalaman genting ini, karena hanya ketika ia hidup ia dapat mengalami Allah dan memuji kasih-setia dan keadilan-Nya.
Akhirnya, dalam ay.14 mazmur ditutup dengan doa. Setelah mengajukan pertanyaan, pemazmur bermuara dalam doa yang indah. Doa itu diucapkan terus menerus bahkan dengan berteriak seperti orang meminta tolong dari situasi genting. Doa itu naik seperti asap korban bakaran di waktu pagi (ay.14). Sekali lagi ada pertanyaan retoris dalam ayat 15, berkaitan dengan pengalaman negatif ditinggalkan Allah. Pemazmur memohon belas-kasihan Allah karena ia merasa hidupnya sudah sengsara sejak kecil, yang menyebabkan dia hampir terseret ke jurang putus-asa. Ia hampir bungkam karena dihimpit murka Allah (ay.17). Kedahsyatan murka itu juga dialami seperti banjir bandang yang menyeret dan menenggelamkan dia (ay.18). Sekali lagi, ia berada dalam situasi putus relasi sosial karena pengalaman sakit ini (ay.19), sebuah keadaan yang sangat lumrah. Jika kita sakit, maka sangat minimlah relasi sosial kita, dan semakin lama juga orang yang berkunjung berkurang sehingga kita menjadi miskin relasi dan bahkan terputus dari relasi sosial. Padahal itulah yang membentuk hidup kita. Itu sebabnya pemazmur sangat berharap akan kesembuhan dari Allah agar hidupnya dapat dipulihkan kembali. Dalam keadaan sehat kita dapat membangun relasi sosial kita yang terhenti karena pengalaman sakit. Itu hanya mungkin terjadi karena campur tangan Allah.
Nglempong Lor, 10 Juli 2012
MENIKMATI MAZMUR 87
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Kita biasa mendengar orang berbicara positif tentang kampung atau kota asalnya. Kita sendiri juga sering memuji tempat asal kita. Kita berbicara secara positif tentang tempat asal kita. Kita membanggakan dan merindukan tempat itu. Seakan ada ikatan yang sangat erat antara keberadaan dan identitas kita dengan tempat asal kita. Tempat asal kita mempunyai arti penting dalam pembentukan kesadaran dan identitas kita. Sedemikian besarnya ikatan itu, sehingga kita terdorong untuk berusaha kembali kepadanya dalam sebuah perjalanan pulang, mudik. Perjalanan mudik itu dipandang sebagai perjalanan jiwa, perjalanan rohani, perjalanan spiritual yang juga mempunyai andil besar dalam memaknai hidup dan keberadaan kita. Ya, hal seperti itu adalah biasa terjadi dan dilakukan manusia sepanjang tempat dan waktu. Kita mempunyai nostalgia yang indah sehubungan dengan tempat asal kita. Betapapun hal itu mungkin sederhana, tetapi dalam imajinasi nostalgik, ia menjadi indah dan cantik.
Itu yang kita rasakan ketika menikmati Mazmur 87 ini yang dalam Alkitab punya judul menarik, “Sion, Kota Allah.” Sion itu adalah bukit kecil (gunung) di Yerusalem yang mempunyai kedudukan rohani dan mistik yang sangat kuat dalam kesadaran hidup Israel. Bukit/gunung memang mempunyai kedudukan yang sangat khusus dalam kesadaran dan hidup religius pelbagai bangsa. Misalnya orang membangun altar dan tempat suci di gunung itu (Sion, Betel, Moria, Sinai, dll). Begitu juga di sini, orang membangun kota di atas gunung yang kudus. Tetapi ada yang sangat unik dalam ay.1, yaitu subjek pembangunan ialah Allah sendiri. Di ayat 2 ada sebuah ideologi Yerusalem, ideologi bukit Sion yang dipandang sebagai tempat yang sangat istimewa karena pemazmur yakin bahwa Tuhan lebih mencintai pintu-pintu gerbang Sion dari pada tempat kediaman Yakub. Di sini terselubung pertarungan ideologis antara Yerusalem (Sion) dan Samaria (Betel). Sebagaimana orang mengatakan sesuatu yang mulia tentang kota asalnya, begitu juga di sini pemazmur meyakini bahwa orang mengatakan sesuatu yang mulia tentang Sion. Kota itu disebut kota Allah, the city of God, civitas Dei (ay.3).
Subjek, Aku, dalam ayat 4 agak menyulitkan pemahaman kita akan mazmur ini. Di sini muncul orang yang berbicara dalam diri orang pertama, Aku. Tampaknya si aku itu adalah personifikasi dari Sion sendiri, yang membanggakan diri di tengah pelbagai kota yang ada, sehingga di sana kita temukan nama-nama kota seperti Rahab (tidak diketahui letak kota itu), Babel, Filistea, Tirus dan Etiopia. Semua orang yang berasal dari tempat-tempat itu juga berbangga dengan tempat asal mereka, tumpah-darah mereka, tempat di mana darah mereka untuk pertama kalinya tertumpah dalam proses kelahiran mereka, kehadiran mereka di bumi ini. Ada sesuatu yang sangat unik dikatakan tentang Sion dalam ayat 5. Mula-mula Sion dikatakan sebagai tempat lahir orang per orang secara jelas, dan akhirnya dikatakan juga bahwa kota Sion itu ditegakkan oleh Dia, Yang Mahatinggi sendiri. Jadi, Sion mempunyai asal-usul teologis, tidak sekadar antropologis, apalagi sekadar kosmologis. Ini adalah salah satu cara penjelasan mengenai asal-usul sebuah tempat, sebuah kosmogonis, tentang proses kejadian dan kelahiran sebuah tempat. Tuhan turut campur tangan ketika kota itu diadakan untuk pertama kalinya. Bahkan segala tempat lain di bumi ini mempunyai arti di mata Tuhan justru karena dengan satu dan lain cara dikaitkan atau mempunyai kaitan dengan Sion. Itulah sebabnya dalam ayat 6 dikatakan: TUHAN menghitung pada waktu mencatat bangsa-bangsa: “Ini dilahirkan di sana.”
Di ayat terakhir (ayat 7) kita membaca sisa-sisa endapan kesaksian pemazmur akan apa yang ia lihat dan alami ketika orang ber-ziarah ke kota asal abadi itu. Rupanya ketika setiap tahun orang ber-ziarah rutin ke Yerusalem, Sion itu, mereka dilanda perasaan haru dan sukacita yang mendorong mereka bersorak-sorai dan bernyanyi dan menari-nari penuh sukaria, dan mereka melakukan itu semua beramai-ramai. Ada sorak-sorai dan kegirangan yang dirasakan orang ketika sudah mendekati dan masuk ke kota itu. Sesuatu yang juga kita rasakan ketika akan tiba di tempat asal kita. Setidaknya hati kita melonjak kegirangan, hati kita penuh sukacita. Itulah yang dialami dan dirasakan pemazmur di sini. Tetapi tidak hanya berhenti pada sukacita dan sorak-sorai saja, melainkan di akhir ayat 7 kita membaca bahwa di sana juga ada mata air: Segala mata airku ada di dalammu. Sion menjadi sumber sukacita, sumber kebahagiaan, yang memuaskan dahaga peziarah yang amat panjang, sumber yang menghidupkan, yang kepadanya jiwa-jiwa peziarah rindu laksana rusa rindu akan sumber air.
Nglempong Lor, 10 Juli 2012
Kita biasa mendengar orang berbicara positif tentang kampung atau kota asalnya. Kita sendiri juga sering memuji tempat asal kita. Kita berbicara secara positif tentang tempat asal kita. Kita membanggakan dan merindukan tempat itu. Seakan ada ikatan yang sangat erat antara keberadaan dan identitas kita dengan tempat asal kita. Tempat asal kita mempunyai arti penting dalam pembentukan kesadaran dan identitas kita. Sedemikian besarnya ikatan itu, sehingga kita terdorong untuk berusaha kembali kepadanya dalam sebuah perjalanan pulang, mudik. Perjalanan mudik itu dipandang sebagai perjalanan jiwa, perjalanan rohani, perjalanan spiritual yang juga mempunyai andil besar dalam memaknai hidup dan keberadaan kita. Ya, hal seperti itu adalah biasa terjadi dan dilakukan manusia sepanjang tempat dan waktu. Kita mempunyai nostalgia yang indah sehubungan dengan tempat asal kita. Betapapun hal itu mungkin sederhana, tetapi dalam imajinasi nostalgik, ia menjadi indah dan cantik.
Itu yang kita rasakan ketika menikmati Mazmur 87 ini yang dalam Alkitab punya judul menarik, “Sion, Kota Allah.” Sion itu adalah bukit kecil (gunung) di Yerusalem yang mempunyai kedudukan rohani dan mistik yang sangat kuat dalam kesadaran hidup Israel. Bukit/gunung memang mempunyai kedudukan yang sangat khusus dalam kesadaran dan hidup religius pelbagai bangsa. Misalnya orang membangun altar dan tempat suci di gunung itu (Sion, Betel, Moria, Sinai, dll). Begitu juga di sini, orang membangun kota di atas gunung yang kudus. Tetapi ada yang sangat unik dalam ay.1, yaitu subjek pembangunan ialah Allah sendiri. Di ayat 2 ada sebuah ideologi Yerusalem, ideologi bukit Sion yang dipandang sebagai tempat yang sangat istimewa karena pemazmur yakin bahwa Tuhan lebih mencintai pintu-pintu gerbang Sion dari pada tempat kediaman Yakub. Di sini terselubung pertarungan ideologis antara Yerusalem (Sion) dan Samaria (Betel). Sebagaimana orang mengatakan sesuatu yang mulia tentang kota asalnya, begitu juga di sini pemazmur meyakini bahwa orang mengatakan sesuatu yang mulia tentang Sion. Kota itu disebut kota Allah, the city of God, civitas Dei (ay.3).
Subjek, Aku, dalam ayat 4 agak menyulitkan pemahaman kita akan mazmur ini. Di sini muncul orang yang berbicara dalam diri orang pertama, Aku. Tampaknya si aku itu adalah personifikasi dari Sion sendiri, yang membanggakan diri di tengah pelbagai kota yang ada, sehingga di sana kita temukan nama-nama kota seperti Rahab (tidak diketahui letak kota itu), Babel, Filistea, Tirus dan Etiopia. Semua orang yang berasal dari tempat-tempat itu juga berbangga dengan tempat asal mereka, tumpah-darah mereka, tempat di mana darah mereka untuk pertama kalinya tertumpah dalam proses kelahiran mereka, kehadiran mereka di bumi ini. Ada sesuatu yang sangat unik dikatakan tentang Sion dalam ayat 5. Mula-mula Sion dikatakan sebagai tempat lahir orang per orang secara jelas, dan akhirnya dikatakan juga bahwa kota Sion itu ditegakkan oleh Dia, Yang Mahatinggi sendiri. Jadi, Sion mempunyai asal-usul teologis, tidak sekadar antropologis, apalagi sekadar kosmologis. Ini adalah salah satu cara penjelasan mengenai asal-usul sebuah tempat, sebuah kosmogonis, tentang proses kejadian dan kelahiran sebuah tempat. Tuhan turut campur tangan ketika kota itu diadakan untuk pertama kalinya. Bahkan segala tempat lain di bumi ini mempunyai arti di mata Tuhan justru karena dengan satu dan lain cara dikaitkan atau mempunyai kaitan dengan Sion. Itulah sebabnya dalam ayat 6 dikatakan: TUHAN menghitung pada waktu mencatat bangsa-bangsa: “Ini dilahirkan di sana.”
Di ayat terakhir (ayat 7) kita membaca sisa-sisa endapan kesaksian pemazmur akan apa yang ia lihat dan alami ketika orang ber-ziarah ke kota asal abadi itu. Rupanya ketika setiap tahun orang ber-ziarah rutin ke Yerusalem, Sion itu, mereka dilanda perasaan haru dan sukacita yang mendorong mereka bersorak-sorai dan bernyanyi dan menari-nari penuh sukaria, dan mereka melakukan itu semua beramai-ramai. Ada sorak-sorai dan kegirangan yang dirasakan orang ketika sudah mendekati dan masuk ke kota itu. Sesuatu yang juga kita rasakan ketika akan tiba di tempat asal kita. Setidaknya hati kita melonjak kegirangan, hati kita penuh sukacita. Itulah yang dialami dan dirasakan pemazmur di sini. Tetapi tidak hanya berhenti pada sukacita dan sorak-sorai saja, melainkan di akhir ayat 7 kita membaca bahwa di sana juga ada mata air: Segala mata airku ada di dalammu. Sion menjadi sumber sukacita, sumber kebahagiaan, yang memuaskan dahaga peziarah yang amat panjang, sumber yang menghidupkan, yang kepadanya jiwa-jiwa peziarah rindu laksana rusa rindu akan sumber air.
Nglempong Lor, 10 Juli 2012
Subscribe to:
Posts (Atom)
PEDENG JEREK WAE SUSU
Oleh: Fransiskus Borgias Dosen dan Peneliti Senior pada FF-UNPAR Bandung. Menyongsong Mentari Dengan Tari Puncak perayaan penti adala...
-
Oleh: Fransiskus Borgias M., (EFBE@fransisbm) Mazmur ini termasuk cukup panjang, yaitu terdiri atas 22 ayat, mengikuti 22 abjad Ib...
-
Oleh: Fransiskus Borgias M. Judul Mazmur ini dalam Alkitab ialah Doa mohon Israel dipulihkan. Judul itu mengandaikan bahwa keadaan Israe...
-
Oleh: Fransiskus Borgias M. Sebagai manusia yang beriman (percaya), kiranya kita semua sungguh-sungguh yakin dan percaya bahwa Tuhan itu...