OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
ILHAM SUCI
Kucoba tangkap percik-percik ilham suci itu
dalam cakrawala imajinasiku
kucoba tuangkan dalam jejaring kata-kata dan bunyi
tetapi semua terasa seperti sia-sia belaka
karena yang terekam ternyata hanya sejumput saja
serasa antenaku goyang-goyang tak tentu arah
sementara ada prahara yang lewat
seakan-akan sedang mengacak isyarat makna
sinyal-sinyal transendensi dan imanensi...
tiada mudah ditangkap
tiada mudah dituang
dalam kata-kata
yah mungkin semua harus tetap dibiarkan
melayang-layang bagai eter di angkasa
tiada perlu kita perkosa dan belenggu
dengan penjara kata-kata kita
dan penjara kata-katamu,
kata-kata kita yang serba angkuh
dan terkadang tak tahu batas diri.
Ketika aku tiada lagi mencoba
memasang jaring verbalku
semua terasa menjadi indah
dan terasa sangat banyak yang datang
bertandang menghampiriku.
Ilham suci rupanya harus ditangkap dengan bahasa sunyi
karena sejatinya memang ia adalah sunyi,
berdiam dalam singgasana sunyi
yang tiada terhampiri.
Puisi lama, Bandung, April 2005.
RUANG-RUANG SUNYI
Kemarin kucoba buka ruang sunyi
dalam relung-relung kalbuku
yang jarang-jarang kukunjungi
dalam waktu-waktu sadarku.
Di sana ada juga keindahan.
Tidak jarang ada yang indah
di dalam apa yang terlalu sering kita sepelekan.
Kemarin kucoba buka ruang sunyi
dalam relung-relung kalbuku
dan kudapatkan sejuta makna di sana.
Puisi lama. Taipei, November 2002.
HUJAN RINTIK-RINTIK
Di luar hujan rintik-rintik
terdengar nada-nada lirih
seperti sedang merintih
melengos masuk lewat cela kaca jendela.
Di dalam terdengar nada-nada sendu,
lalu hati pun seperti terhanyut
dalam melankoli murung.
Ah, andaikan murung itu tiada.
Ah, andaikan tiada itu murung
mungkin kicau burung
akan selalu terdengar ceria
di telinga hati kita.
Puisi lama, Tegal Jaya, Denpasar, Februari 2007.
canticum solis adalah blogspot saya untuk pendalaman dan diskusi soal-soal filosofis, teologis, spiritualitas dan yang terkait. Kalau berkenan mohon menulis kesan atau komentar anda di bagian akhir dari artikel yang anda baca. Terima kasih... canticum solis is my blog in which I write the topics on philosophy, theology, spiritual life. If you don't mind, please give your comment or opinion at the end of any article you read. thanks a lot.....
Tuesday, July 3, 2012
Thursday, June 28, 2012
PUISI-PUISI JUNI 2012 III
OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
SUNYI MALAM PAGI
Entah racun apa yang telah masuk dalam ragaku malam ini
hingga mataku tetap saja terbelalak
hingga jam dua dan tiga dinihari
menatap kekelaman malam
mencoba meraba sunyi
lewat denyut-denyut jantung malam yang lewat
lambat-lambat pada titik-titik embun
yang jatuh menetes berirama
di pelimbahan air atap rumah ini.
Trasa sangat sunyi
karena drama bunyi itu
yang sejatinya tiada pernah gemuruh
dalam jatuh dan luruh.
Seminari Damian, Bandung, November 2003
MENJARAK DAN BERJARAK
Andaikan aku engkau
aku pasti segera memancar gelombang cinta
manakala dari mataku
terpancar getar-getar itu
yang tiada lagi mampu kutata
dalam istana kata-kata.
Ah andai aku kau
pasti aku segera memancar gelombang cinta
manakala dari mataku terpancar getar-getar itu.
Mungkin kau juga punya soal yang sama seperti aku
lalu kitapun hanya bisa saling memandang
dari tepian rindu dan hasrat kita masing-masing
yang penat mencoba menggetar dawai-dawai rasa kita
dalam bahasa sunyi dan bisu
yang hanya dapat dipahami
dalam diam abadi
yang takkan pernah sudi merusaknya...
ya itu yang indah.....
barangkali....
Wisma Erema Bogor, Juli 2008
YANG KAMI MINTA HANYALAH....
Yang kami minta hanyalah
agar keadilan bisa datang
bergulung-gulung seperti air sungai mengalir
agar keadilan dan damai sejahtera
dapat berpelukan di bumi manusia ini.
Terlalu beratkah itu bagimu,
hai sang penguasa?
Tidak mengertikah kau arti tangis kami?
Mimpi kami kiranya bukan sekadar utopia
melainkan juga sebuah eutopia
dan kami berharap
kau mampu membawanya kemari....
dengan kuasamu...
toh kau bukan penguasa impoten,
lemelengkus.
Nglempong Lor, Yogya, Akhir April 2012
Menjelang Demo Buruh Menyongsong Peringatan St.Yusuf Pelindung Para Pekerja
SUNYI MALAM PAGI
Entah racun apa yang telah masuk dalam ragaku malam ini
hingga mataku tetap saja terbelalak
hingga jam dua dan tiga dinihari
menatap kekelaman malam
mencoba meraba sunyi
lewat denyut-denyut jantung malam yang lewat
lambat-lambat pada titik-titik embun
yang jatuh menetes berirama
di pelimbahan air atap rumah ini.
Trasa sangat sunyi
karena drama bunyi itu
yang sejatinya tiada pernah gemuruh
dalam jatuh dan luruh.
Seminari Damian, Bandung, November 2003
MENJARAK DAN BERJARAK
Andaikan aku engkau
aku pasti segera memancar gelombang cinta
manakala dari mataku
terpancar getar-getar itu
yang tiada lagi mampu kutata
dalam istana kata-kata.
Ah andai aku kau
pasti aku segera memancar gelombang cinta
manakala dari mataku terpancar getar-getar itu.
Mungkin kau juga punya soal yang sama seperti aku
lalu kitapun hanya bisa saling memandang
dari tepian rindu dan hasrat kita masing-masing
yang penat mencoba menggetar dawai-dawai rasa kita
dalam bahasa sunyi dan bisu
yang hanya dapat dipahami
dalam diam abadi
yang takkan pernah sudi merusaknya...
ya itu yang indah.....
barangkali....
Wisma Erema Bogor, Juli 2008
YANG KAMI MINTA HANYALAH....
Yang kami minta hanyalah
agar keadilan bisa datang
bergulung-gulung seperti air sungai mengalir
agar keadilan dan damai sejahtera
dapat berpelukan di bumi manusia ini.
Terlalu beratkah itu bagimu,
hai sang penguasa?
Tidak mengertikah kau arti tangis kami?
Mimpi kami kiranya bukan sekadar utopia
melainkan juga sebuah eutopia
dan kami berharap
kau mampu membawanya kemari....
dengan kuasamu...
toh kau bukan penguasa impoten,
lemelengkus.
Nglempong Lor, Yogya, Akhir April 2012
Menjelang Demo Buruh Menyongsong Peringatan St.Yusuf Pelindung Para Pekerja
Sunday, June 24, 2012
PUISI-PUISI JUNI 2012 II
OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
DUA ANGSA
Dua angsa di kolam itu
berenang ke tepian dengan riang ria
mungkin mereka sedang berencana memadu cinta
di sana di rerumputan nan hijau
tetapi ternyata tidak,
mereka kembali lagi ke tengah dengan irama yang sama.
Ah mereka cuma mau merayakan kebersamaan mereka
sebab esse est coesse yang harus disyukuri
dan dirayakan tanpa embel-embel pamrih apa pun jua.
Juga tidak boleh dirusak oleh bringasmu
dengan meneriakkan nama yang suci.
Ah sampai hatimu berbuat begitu.
Nijmegen, September 2001
DI KAPEL ITU
Di Kapel itu
kulihat seseorang sedang sholat
betapa aku terkejut karena ia
bersujud di hadapan lampu tabernakel yang berkelip-kelip
seseorang sedang sholat dengan khusyuk.
Dalam situasi sebagai migran
Kapel Pax Christi bisa menjadi pelabuhan yang aman dan nyaman
tempat orang memuji dan menyembah Allahnya.
Temaram kapel itu bagai rahim kelam
yang serba merangkul hangat.
Tuhan terasa begitu dekat
mendekap dalam cinta
dan misericordia.
Utrecht, April 2001
KUPANDANG LANGIT MALAM
Kupandang bintang
di langit malam
ah betapa kecilnya kau
hai manusia tetapi ajaib sekali
karena Tuhan sudi menyapamu
dalam relung-relung kedalaman sanubarinya.
Ia kecil juga sekaligus besar.
Kupandang bintang
di langit malam
dalam hatiku pun bergema kidung
halleluya abadi.
Marian Center, Tagaytay City, Februari 2005
DUA ANGSA
Dua angsa di kolam itu
berenang ke tepian dengan riang ria
mungkin mereka sedang berencana memadu cinta
di sana di rerumputan nan hijau
tetapi ternyata tidak,
mereka kembali lagi ke tengah dengan irama yang sama.
Ah mereka cuma mau merayakan kebersamaan mereka
sebab esse est coesse yang harus disyukuri
dan dirayakan tanpa embel-embel pamrih apa pun jua.
Juga tidak boleh dirusak oleh bringasmu
dengan meneriakkan nama yang suci.
Ah sampai hatimu berbuat begitu.
Nijmegen, September 2001
DI KAPEL ITU
Di Kapel itu
kulihat seseorang sedang sholat
betapa aku terkejut karena ia
bersujud di hadapan lampu tabernakel yang berkelip-kelip
seseorang sedang sholat dengan khusyuk.
Dalam situasi sebagai migran
Kapel Pax Christi bisa menjadi pelabuhan yang aman dan nyaman
tempat orang memuji dan menyembah Allahnya.
Temaram kapel itu bagai rahim kelam
yang serba merangkul hangat.
Tuhan terasa begitu dekat
mendekap dalam cinta
dan misericordia.
Utrecht, April 2001
KUPANDANG LANGIT MALAM
Kupandang bintang
di langit malam
ah betapa kecilnya kau
hai manusia tetapi ajaib sekali
karena Tuhan sudi menyapamu
dalam relung-relung kedalaman sanubarinya.
Ia kecil juga sekaligus besar.
Kupandang bintang
di langit malam
dalam hatiku pun bergema kidung
halleluya abadi.
Marian Center, Tagaytay City, Februari 2005
Friday, June 1, 2012
PUISI-PUISI JUNI 2012 I
Oleh: Fransiskus Borgias M.
SUNYI DEN HAAG
Kulihat ada daun jatuh
gugur dalam kesendirian
di atas tertinggal batang meranggas
di bawah ada bumi yang menanti
siap merangkul dan merengkuh kembalimu
kau berasal dari tanah
dan akan kembali menjadi tanah.
Den Haag, Oktober 2001 (Puisi lama).
MENJADI KATA
Menjadi kata tidak pernah boleh tamat
walau ia sendiri adalah bentuk final
dari sebuah harmonisasi fonetik
dalam rangka membangun makna.
Ya, menjadi kata tidak pernah boleh tamah,
sebab ia berada selalu sebagai proses menjadi kata bermakna
untuk memaknai segala di luar dirinya sendiri.
Yogyakarta, 08 Januari 2012
DAUN KERING DARI EFTELING
Ada daun kering
yang kubawa dari Efteling
ia selalu mengingatkan aku akan dia
yang mempesonaku dengan sebuah cinta terlarang
setiap kali kupandang daun kering dari Efteling itu
aku seperti terlontar ke masa silam
hatiku jadi lebam mengenangnya.
Tapi aku tidak juga ingin mencoba sembuh.
Hualien, Taiwan, November 2002 (Puisi Lama).
SUNYI DEN HAAG
Kulihat ada daun jatuh
gugur dalam kesendirian
di atas tertinggal batang meranggas
di bawah ada bumi yang menanti
siap merangkul dan merengkuh kembalimu
kau berasal dari tanah
dan akan kembali menjadi tanah.
Den Haag, Oktober 2001 (Puisi lama).
MENJADI KATA
Menjadi kata tidak pernah boleh tamat
walau ia sendiri adalah bentuk final
dari sebuah harmonisasi fonetik
dalam rangka membangun makna.
Ya, menjadi kata tidak pernah boleh tamah,
sebab ia berada selalu sebagai proses menjadi kata bermakna
untuk memaknai segala di luar dirinya sendiri.
Yogyakarta, 08 Januari 2012
DAUN KERING DARI EFTELING
Ada daun kering
yang kubawa dari Efteling
ia selalu mengingatkan aku akan dia
yang mempesonaku dengan sebuah cinta terlarang
setiap kali kupandang daun kering dari Efteling itu
aku seperti terlontar ke masa silam
hatiku jadi lebam mengenangnya.
Tapi aku tidak juga ingin mencoba sembuh.
Hualien, Taiwan, November 2002 (Puisi Lama).
Saturday, May 26, 2012
PREFASI HARI RAYA PENTAKOSTA
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Dalam perayaan Liturgi, ada banyak alasan yang dapat kita pakai untuk bersyukur kepada Allah. Salah satunya ialah alasan bahwa kita hidup dan bernafas. Hidup dan nafas (nefesy) kita adalah anugerah dari Allah sendiri yang patut terus menerus disyukuri. Pada hari ini, alasan untuk bersyukur itu ialah karena Hari Raya Pentakosta. Itulah yang dikatakan dengan eksplisit dan lantang dalam Prefasi yang kita dengar hari ini dinyanyikan imam (Prefasi pada hari Raya harus dinyanyikan). Mengapa kita harus bersyukur pada Hari Raya Pentakosta ini? Di dalam Prefasi ini diberikan sebuah alasan teologis yang sangat penting dan mendasar. Alasan itu ialah karena Hari Raya Pentakosta adalah “mahkota Perayaan Paska.” Kita yakin bahwa Tuhan sendirilah yang telah menetapkan Hari Raya Pentakosta ini sebagai mahkota Perayaan Paska. Fakta itulah yang menjadi alasan bagi kita untuk bersukaria, untuk memuji Allah dan bersyukur kepada Allah. Tetapi apa mahkota itu? Mahkota itu ialah anugerah Roh Kudus itu sendiri. Allah menganugerahkan Roh Kudus itu kepada persekutuan umat. Umat itu adalah umat yang dipanggil dan dikumpulkan serta dibentuk oleh Tuhan sendiri, sebagaimana dinyatakan di sana: umat itu adalah hasil karya kasih Allah juga. Allah-lah yang telah menggabungkan mereka dengan sang Putera. Lebih jauh dikatakan bahwa Allah-lah yang mengangkat umat mejadi anak-anak-Nya sendiri. Luar biasa. Tidak ada alasan lain lagi yang lebih mendalam dan lebih mendasar dari hal itu untuk bersyukur kepada dan memuji Allah. Selain itu pada Hari Raya Pentakosta kita juga merayakan hari lahir Gereja. Ya, Pentakosta adalah hari jadi Gereja. Gereja mulai hidup dan berada, mulai menjadi, sejak peristiwa Pentakosta itu. Jadi, gereja adalah gereja yang bercorak pentakostalis karena ia lahir dari dan karena kedatangan Roh Kudus. Peristiwa kedatangan Roh Kudus itu memeterai hari jadi Gereja.
Roh Kudus yang datang pada Hari Raya Pentakosta ini melakukan beberapa tugas atau karya agung. Pertama, Roh Kudus menerangi semua bangsa dengan pengertian Allah yang benar. Artinya Allah sendiri yang memberi pengertian yang benar, dan hal itu membawa efek terang bagi para bangsa. Kedua, Roh Kudus itu menyatu-padukan seribu satu bahasa dalam pengakuan ima yang satu dan sama. Kata “menyatu-padukan” di sini sangat penting. Hal itu serta merta membawa ingatan kita jauh-jauh ke masa silam yaitu ke peristiwa Babel sebagaimana dilukiskan dalam Kitab Kejadian (Kej.11). Dari kisah dalam Kitab Kejadian itu kita tahu bahwa bahasa anak manusia di muka bumi ini telah dikacau-balaukan oleh Tuhan sehingga mereka tidak bisa mengerti satu sama lain dan dari sana timbul perpecahan, timbul konflik atau pertikaian, karena mereka sudah tidak bisa memahami satu sama lain. Sekarang, apa yang dulu dikacau-balaukan dalam peristiwa menara Babel yang terkenal itu, karena drama keangkuhan dan ambisi manusia yang mau naik ke surga, kini dapat dipulihkan kembali pada jaman gereja, dengan peristiwa turunnya Roh Kudus ke atas mereka di bumi ini. Seluruh muka bumi pun bersukacita karena dilimpahi sukacita Paskah. Itulah yang dapat kita dengar dari Bacaan Pertama pada hari ini yang diambil dari Kisah Para Rasul 2:1-11. Nanti buah hidup dalam Roh itu (Bacaan II) akan disinggung di bagian akhir tulisan ini yang akan dipertentangkan dengan hidup di dalam daging.
Jika selama novena Roh Kudus kita dengan tekun dan kuhsyuk berdoa memohon sapta karunia Roh Kudus, maka pada hari ini Roh Kudus yang sudah turun itu membaharui muka bumi, sebagaimana yang kita gemakan dalam Mazmur Antar Bacaan (baik Refrein maupun ayat-ayatnya; begitu juga dengan Alleluia, bait pengantar injil). Inilah ketujuh karunia Roh Kudus itu, yang dibeberapa tempat didoakan selama masa novena Pentakosta ini: Roh Hikmat, Roh Pengertian, Roh Nasihat, Roh Keperkasaan, Roh Pengenalan Akan Allah, Roh Kesalehan, Roh Takut akan Allah (Doa memohon ketujuh Karunia Roh Kudus itu dapat ditemukan dalam buku Puji Syukur No.93). Ketujuh karunia Roh itu adalah roh yang menyertai Imanuel tatkala Ia datang ke bumi ini, sebagaimana pernah dinubuatkan nabi Yesaya (Yes.11:2-3, yang diangkat oleh G.H.Haendel menjadi salah satu teks untuk karya agungnya The Messiah). Praksis kesalehan Katolik sangat menarik perhatian karena selalu ada angka tujuh yang terkait satu sama lain. Selain Sapta Karunia Roh Kudus ini, kita juga mengenal ketujuh sakramen. Selain itu kita juga mengenal ungkapan ketujuh kebajikan Kristiani (yang terdiri atas empat kebajikan kodrati dan tiga kebajikan adikodrati). Akhirnya kita juga punya angka tujuh lain yaitu tujuh dosa pokok. Jadi, walaupun ada tujuh dosa pokok, seharusnya ketujuh dosa pokok itu, direlativir oleh tiga kelompok angka tujuh yang lain yang dapat membantu kita mengatasi dosa kita, yang dapat membawa kita kepada idealisme kesempurnaan hidup sebagaimana dituntut oleh Tuhan Yesus sendiri dalam injil Matius (Mat 5:48: yang bunyinya kurang lebih demikian, “Hendaklah kamu menjadi sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga adalah sempurna”). Mengingat kesemuanya itu, tradisi Katolik selalu optimis bahwa hidup berkebajikan itu adalah mungkin, menjadi sempurna dalam hidup ini adalah mungkin karena, walaupun kita ditarik ke bawah oleh ketujuh dosa itu, tetapi serentak kita juga selalu diangkat ke atas oleh tiga kelompok angka tujuh yang lain (tujuh karunia Roh Kudus, tujuh sakramen, tujuh kebajikan).
Nah, Hari Raya Pentakosta yang kita rayakan pada hari ini, mengingatkan kita semua sekali lagi akan hal itu semua, agar jangan sampai kita mudah melupakannya. Kita harus selalu hidup dalam Roh dan Kebenaran yang memerdekakan (Yoh.8:32), dan Roh yang mendatangkan buah-buah yang baik seperti dikatakan dalam Galatia itu (Gal.5:22-23: Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri). Tentu sangat diharapkan bahwa dengan daya pengaruh karya Roh Ilahi ini, kita semua dijauhkan dari kecenderungan untuk hidup dalam dan menurut daging yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora (Gal.5:19-21a). Selamat Hari Raya Pentakosta. Selamat hidup di dalam Roh dan Kebenaran.
Yogyakarta, 29 April 2012
Dalam perayaan Liturgi, ada banyak alasan yang dapat kita pakai untuk bersyukur kepada Allah. Salah satunya ialah alasan bahwa kita hidup dan bernafas. Hidup dan nafas (nefesy) kita adalah anugerah dari Allah sendiri yang patut terus menerus disyukuri. Pada hari ini, alasan untuk bersyukur itu ialah karena Hari Raya Pentakosta. Itulah yang dikatakan dengan eksplisit dan lantang dalam Prefasi yang kita dengar hari ini dinyanyikan imam (Prefasi pada hari Raya harus dinyanyikan). Mengapa kita harus bersyukur pada Hari Raya Pentakosta ini? Di dalam Prefasi ini diberikan sebuah alasan teologis yang sangat penting dan mendasar. Alasan itu ialah karena Hari Raya Pentakosta adalah “mahkota Perayaan Paska.” Kita yakin bahwa Tuhan sendirilah yang telah menetapkan Hari Raya Pentakosta ini sebagai mahkota Perayaan Paska. Fakta itulah yang menjadi alasan bagi kita untuk bersukaria, untuk memuji Allah dan bersyukur kepada Allah. Tetapi apa mahkota itu? Mahkota itu ialah anugerah Roh Kudus itu sendiri. Allah menganugerahkan Roh Kudus itu kepada persekutuan umat. Umat itu adalah umat yang dipanggil dan dikumpulkan serta dibentuk oleh Tuhan sendiri, sebagaimana dinyatakan di sana: umat itu adalah hasil karya kasih Allah juga. Allah-lah yang telah menggabungkan mereka dengan sang Putera. Lebih jauh dikatakan bahwa Allah-lah yang mengangkat umat mejadi anak-anak-Nya sendiri. Luar biasa. Tidak ada alasan lain lagi yang lebih mendalam dan lebih mendasar dari hal itu untuk bersyukur kepada dan memuji Allah. Selain itu pada Hari Raya Pentakosta kita juga merayakan hari lahir Gereja. Ya, Pentakosta adalah hari jadi Gereja. Gereja mulai hidup dan berada, mulai menjadi, sejak peristiwa Pentakosta itu. Jadi, gereja adalah gereja yang bercorak pentakostalis karena ia lahir dari dan karena kedatangan Roh Kudus. Peristiwa kedatangan Roh Kudus itu memeterai hari jadi Gereja.
Roh Kudus yang datang pada Hari Raya Pentakosta ini melakukan beberapa tugas atau karya agung. Pertama, Roh Kudus menerangi semua bangsa dengan pengertian Allah yang benar. Artinya Allah sendiri yang memberi pengertian yang benar, dan hal itu membawa efek terang bagi para bangsa. Kedua, Roh Kudus itu menyatu-padukan seribu satu bahasa dalam pengakuan ima yang satu dan sama. Kata “menyatu-padukan” di sini sangat penting. Hal itu serta merta membawa ingatan kita jauh-jauh ke masa silam yaitu ke peristiwa Babel sebagaimana dilukiskan dalam Kitab Kejadian (Kej.11). Dari kisah dalam Kitab Kejadian itu kita tahu bahwa bahasa anak manusia di muka bumi ini telah dikacau-balaukan oleh Tuhan sehingga mereka tidak bisa mengerti satu sama lain dan dari sana timbul perpecahan, timbul konflik atau pertikaian, karena mereka sudah tidak bisa memahami satu sama lain. Sekarang, apa yang dulu dikacau-balaukan dalam peristiwa menara Babel yang terkenal itu, karena drama keangkuhan dan ambisi manusia yang mau naik ke surga, kini dapat dipulihkan kembali pada jaman gereja, dengan peristiwa turunnya Roh Kudus ke atas mereka di bumi ini. Seluruh muka bumi pun bersukacita karena dilimpahi sukacita Paskah. Itulah yang dapat kita dengar dari Bacaan Pertama pada hari ini yang diambil dari Kisah Para Rasul 2:1-11. Nanti buah hidup dalam Roh itu (Bacaan II) akan disinggung di bagian akhir tulisan ini yang akan dipertentangkan dengan hidup di dalam daging.
Jika selama novena Roh Kudus kita dengan tekun dan kuhsyuk berdoa memohon sapta karunia Roh Kudus, maka pada hari ini Roh Kudus yang sudah turun itu membaharui muka bumi, sebagaimana yang kita gemakan dalam Mazmur Antar Bacaan (baik Refrein maupun ayat-ayatnya; begitu juga dengan Alleluia, bait pengantar injil). Inilah ketujuh karunia Roh Kudus itu, yang dibeberapa tempat didoakan selama masa novena Pentakosta ini: Roh Hikmat, Roh Pengertian, Roh Nasihat, Roh Keperkasaan, Roh Pengenalan Akan Allah, Roh Kesalehan, Roh Takut akan Allah (Doa memohon ketujuh Karunia Roh Kudus itu dapat ditemukan dalam buku Puji Syukur No.93). Ketujuh karunia Roh itu adalah roh yang menyertai Imanuel tatkala Ia datang ke bumi ini, sebagaimana pernah dinubuatkan nabi Yesaya (Yes.11:2-3, yang diangkat oleh G.H.Haendel menjadi salah satu teks untuk karya agungnya The Messiah). Praksis kesalehan Katolik sangat menarik perhatian karena selalu ada angka tujuh yang terkait satu sama lain. Selain Sapta Karunia Roh Kudus ini, kita juga mengenal ketujuh sakramen. Selain itu kita juga mengenal ungkapan ketujuh kebajikan Kristiani (yang terdiri atas empat kebajikan kodrati dan tiga kebajikan adikodrati). Akhirnya kita juga punya angka tujuh lain yaitu tujuh dosa pokok. Jadi, walaupun ada tujuh dosa pokok, seharusnya ketujuh dosa pokok itu, direlativir oleh tiga kelompok angka tujuh yang lain yang dapat membantu kita mengatasi dosa kita, yang dapat membawa kita kepada idealisme kesempurnaan hidup sebagaimana dituntut oleh Tuhan Yesus sendiri dalam injil Matius (Mat 5:48: yang bunyinya kurang lebih demikian, “Hendaklah kamu menjadi sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga adalah sempurna”). Mengingat kesemuanya itu, tradisi Katolik selalu optimis bahwa hidup berkebajikan itu adalah mungkin, menjadi sempurna dalam hidup ini adalah mungkin karena, walaupun kita ditarik ke bawah oleh ketujuh dosa itu, tetapi serentak kita juga selalu diangkat ke atas oleh tiga kelompok angka tujuh yang lain (tujuh karunia Roh Kudus, tujuh sakramen, tujuh kebajikan).
Nah, Hari Raya Pentakosta yang kita rayakan pada hari ini, mengingatkan kita semua sekali lagi akan hal itu semua, agar jangan sampai kita mudah melupakannya. Kita harus selalu hidup dalam Roh dan Kebenaran yang memerdekakan (Yoh.8:32), dan Roh yang mendatangkan buah-buah yang baik seperti dikatakan dalam Galatia itu (Gal.5:22-23: Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri). Tentu sangat diharapkan bahwa dengan daya pengaruh karya Roh Ilahi ini, kita semua dijauhkan dari kecenderungan untuk hidup dalam dan menurut daging yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora (Gal.5:19-21a). Selamat Hari Raya Pentakosta. Selamat hidup di dalam Roh dan Kebenaran.
Yogyakarta, 29 April 2012
Friday, May 25, 2012
PUISI-PUISI MEI 2012 III
OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
GITA PAGI
Kubuka mata dan terdengar bunyi pagi
menyentuh hati sanubari
terdorong ia untuk memuji
Sang Maha Hyang Widi
dan pagiku pun suci
hatiku pun suci
oh Sang Hyang Widi
segala puji pagi
dari segala hati
hanya bagiMu sendiri,
abadi.....
Denpasar Bali, 2007.
KICAU MURAI
Tiada alasan bagiku untuk tidak bersukacita
di pagi ini
karena di kejauhan kudengar kicau murai
mengidungkan kidung pagi alami
‘kan memuji sang Hyang Widi
hatiku pun diajar sang murai
untuk selalu memuji dan memuji
sejak pagi hari.
Denpasar Bali, 2007
LIKALIKULAKILAKI
Gerimis itu datang kepagian
menghapus jejak-jejak kakiku
pada debu-debu menuju dikau
mencumbu dan membiru
ah biar saja
itu lebih baik agar esok
aku jejakkan langkahku baru
tanpa susah menghapus jejak-jejak lama
baru aku sadar dan bersyukur
kemarin aku tidak menjejak di atas batu
mudah dilupakan
walau tidak seluruhnya.
Tidak apa-apa.
Itu lika-liku laki-laki
sampai aki-aki...
tetapi laki-laki penuh liku-liku...
Ah aku tidak mau pura-pura dengan itu semua.
Sejak semula ia sudah ada.
Bandung, Juli 2007
GITA PAGI
Kubuka mata dan terdengar bunyi pagi
menyentuh hati sanubari
terdorong ia untuk memuji
Sang Maha Hyang Widi
dan pagiku pun suci
hatiku pun suci
oh Sang Hyang Widi
segala puji pagi
dari segala hati
hanya bagiMu sendiri,
abadi.....
Denpasar Bali, 2007.
KICAU MURAI
Tiada alasan bagiku untuk tidak bersukacita
di pagi ini
karena di kejauhan kudengar kicau murai
mengidungkan kidung pagi alami
‘kan memuji sang Hyang Widi
hatiku pun diajar sang murai
untuk selalu memuji dan memuji
sejak pagi hari.
Denpasar Bali, 2007
LIKALIKULAKILAKI
Gerimis itu datang kepagian
menghapus jejak-jejak kakiku
pada debu-debu menuju dikau
mencumbu dan membiru
ah biar saja
itu lebih baik agar esok
aku jejakkan langkahku baru
tanpa susah menghapus jejak-jejak lama
baru aku sadar dan bersyukur
kemarin aku tidak menjejak di atas batu
mudah dilupakan
walau tidak seluruhnya.
Tidak apa-apa.
Itu lika-liku laki-laki
sampai aki-aki...
tetapi laki-laki penuh liku-liku...
Ah aku tidak mau pura-pura dengan itu semua.
Sejak semula ia sudah ada.
Bandung, Juli 2007
Wednesday, May 23, 2012
PUISI-PUISI MEI 2012 II
OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
PESONA REMBULAN
Kupandang rembulan purnama
hatiku terasa seperti dibawa-bawa
ke mana-mana entahlah,
mungkin karena ada banyak yang terpesona
memandang rembulan
seakan sejuta hati
seperti sedang berlabuh
di dalam relung-relung kelembutannya
yang syahdu.
Puisi Lama, Sape Juli 2005
NYANYI SUNYI BURUNG PERDU
Ada burung mengakrabi perdu
menciap-ciap sunyi
hati terasa sobek bunyi sendu
di bawah perdu itu
pilu galau
andaikan ada genderang pesta
suasana segera berganti rona
kalbu pun segera bisa mengobati
goretan sunyinya
di bawah perdu pilu galau itu.
Puisi Lama, Nijmegen 2002
ANDAIKAN ADA ITU TIADA
Kau pasti tahu
aku takkan bakal mampu
menjembatani diammu
untuk kemudian menyeberang
dan berenang dalam danau cinta,
ah kita hanya menghabiskan waktu kita yang berharga
dengan ketidak-beranian kita masing-masing
tetapi anehnya ia tetap hidup
dan bergetar dan menggetarkan di dalam sana....
ia ada di sana....
ah andaikan ada itu tiada....
Puisi lama, Bandung, 2004
PESONA REMBULAN
Kupandang rembulan purnama
hatiku terasa seperti dibawa-bawa
ke mana-mana entahlah,
mungkin karena ada banyak yang terpesona
memandang rembulan
seakan sejuta hati
seperti sedang berlabuh
di dalam relung-relung kelembutannya
yang syahdu.
Puisi Lama, Sape Juli 2005
NYANYI SUNYI BURUNG PERDU
Ada burung mengakrabi perdu
menciap-ciap sunyi
hati terasa sobek bunyi sendu
di bawah perdu itu
pilu galau
andaikan ada genderang pesta
suasana segera berganti rona
kalbu pun segera bisa mengobati
goretan sunyinya
di bawah perdu pilu galau itu.
Puisi Lama, Nijmegen 2002
ANDAIKAN ADA ITU TIADA
Kau pasti tahu
aku takkan bakal mampu
menjembatani diammu
untuk kemudian menyeberang
dan berenang dalam danau cinta,
ah kita hanya menghabiskan waktu kita yang berharga
dengan ketidak-beranian kita masing-masing
tetapi anehnya ia tetap hidup
dan bergetar dan menggetarkan di dalam sana....
ia ada di sana....
ah andaikan ada itu tiada....
Puisi lama, Bandung, 2004
Subscribe to:
Posts (Atom)
PEDENG JEREK WAE SUSU
Oleh: Fransiskus Borgias Dosen dan Peneliti Senior pada FF-UNPAR Bandung. Menyongsong Mentari Dengan Tari Puncak perayaan penti adala...
-
Oleh: Fransiskus Borgias M., (EFBE@fransisbm) Mazmur ini termasuk cukup panjang, yaitu terdiri atas 22 ayat, mengikuti 22 abjad Ib...
-
Oleh: Fransiskus Borgias M. Judul Mazmur ini dalam Alkitab ialah Doa mohon Israel dipulihkan. Judul itu mengandaikan bahwa keadaan Israe...
-
Oleh: Fransiskus Borgias M. Sebagai manusia yang beriman (percaya), kiranya kita semua sungguh-sungguh yakin dan percaya bahwa Tuhan itu...