Tuesday, May 1, 2012

PUISI-PUISI MEI 2012 I

Oleh: Fransiskus Borgias M.

DINDING SUNYI MALAM

Titik-titik air hujan di pelimbahan di luar
jatuh berirama
seakan-akan sedang mengetuk dinding sunyi malam
sebuah hati yang sunyi
menangkap iramanya lamat-lamat lewat
terasa penat penat berat ah...
berat sekali sunyi malam-malam ini
seperti sedang mengurungku
dalam bingkainya yang retak
namun serentak mencengkam.

Puisi lama, Bandung April 2003.


PADA AWAL MULA ADALAH BUNYI

Malam ini aku mau bangun rumah kata-kata
dengan menyusunnya sedemikian rupa
agar mampu merajut makna-makna
tetapi bebunyian dalam kata-kata itu
terlalu indah untuk diabadikan begitu saja,
sebab mereka pun sudah bermakna
juga sebagai bunyi-bunyi dasar
sebelum menjadi kata,
yah, pada awal mula adalah bunyi.

Puisi lama, Bandung, April 2003.


LOGICO ERGO SUM

Malam ini
kucoba menjejakkan
derap degup irama puisi-puisi lamaku
di atas kertas agar
tetap berbekas
dan ketika kubaca
bisa menyatu dalam desah nafasku
en arche en ho logos...
kai ho logos pros ton theon...

misteri ajaib
theos logos anthropos logos
logico
ergo sum....


Puisi lama, Nijmegen, Mei 2001.

Friday, April 27, 2012

MENIKMATI DAN MEMAHAMI MAZMUR 86

Oleh: Fransiskus Borgias M.

Judul Mazmur ini dalam Alkitab ialah Doa minta pertolongan. Berarti ada sebuah situasi negatif dan sangat esktrem yang mendorong pemazmur berteriak minta tolong. Mazmur ini termasuk cukup panjang yaitu terdiri atas 17 ayat. Sebagaimana biasa, untuk dapat memahaminya dengan baik dan mudah saya akan membagi mazmur ini ke dalam tiga bagian besar. Bagian pertama, ayat 1-7; bagian kedua, ayat 8-13; bagian ketiga, ayat 14-17. Selanjutnya dalam bagian berikut saya mencoba melihat mazmur ini bagian demi bagian untuk memudahkan proses pemahaman kita.

Secara khusus dalam dua ayat pertama, pemazmur meminta kepada Allah agar Allah sudi mengarahkan (mencondongkan) sungguh-sungguh telingaNya kepada doa dan keluh-kesah dia dari dalam relung-relung penderitaannya (ayat 1). Mazmur ini mirip dengan mazmur 55 yang juga menyinggung mengenai permohonan kepada Allah agar mencondongkan telinganya kepada permohonan umat. Mazmur 55 ini akrab di telinga kita karena dipakai sebagai mazmur antar bacaan juga (Buku Mazmur Tanggapan dan Alleluya, hal.319 dll). Sedemikian gawatnya deritanya sehingga ia merasa sudah hampir binasa, sehingga dalam ayat 2 ia meminta agar Allah memelihara nyawanya dan menyelamatkan dia karena ia sangat yakin bahwa hidupnya itu benar; bahkan ia merasa bahwa dirinya adalah orang yang dikasihi Allah, orang yang percaya kepadaNya. Ia memohon kepada Allah agar nasib orang benar dan jujur jangan sampai menjadi sia-sia begitu saja. Permohonan itu dilanjutkan dalam ayat 3 dan 4 yang memohon agar Allah mengasihani dia dan membuat dia bersukacita; di sini ia memberi alasan bagi permohonannya itu: Engkau adalah Allahku dan aku berseru kepadaMu sepanjang hari dan kepada Allah-lah ia mengangkat jiwanya. Dalam ayat 5 dilukiskan dasar atau alasan lain mengapa ia berani meminta tolong kepada Allah; di sini disebutkan beberapa sifat Allah: baik dan suka mengampuni, berlimpah kasih setia. Itu sebabnya dalam ayat 6 ia mengulangi lagi permohonannya itu agar Allah sudi mendengarkan doanya. Akhirnya dalam ayat 7 ia menyatakan bahwa Tuhan akan menjawab dia pada hari kesesakanya tatkala ia berseru meminta tolong kepada Allah.

Bagian kedua dari mazmur ini sebagian besar melukiskan pujian pemazmur kepada Allah. Pertama-tama ia menegaskan bahwa Allah itu mahaagung dan tidak ada lagi yang lain seperti dia baik dalam esensi, eksistensi dan aksiNya. Semuanya serba sangat melampaui; tidak ada yang menandingi Dia (ay 8). Dalam ayat 9 dilukiskan sebuah keyakinan bahwa segala makhluk ciptaan Allah terutama manusia akan datang sujud menyembah Dia dan memuliakan nama-Nya. Hal itu terjadi karena Allah memang telah melakukan banyak perbuatan ajaib dan Allah itu mahabesar, Allahuakbar (ayat 10). Di dalam ke-akbar-anNya tiada lagi yang dapat menandingi Dia. Dalam ayat 11 muncul lagi sebuah permohonan dari pemazmur: ia meminta agar Allah sudi menunjukkan jalanNya kepada dia; tentu tujuannya ialah agar ia mengikuti jalan Tuhan itu. Tetapi tentu hal itu tidak mudah; maka ia juga memohon agar Allah sudi menguatkan hatinya, memberinya roh yang teguh dan tegar agar dapat melakukan niatnya itu, agar sungguh takut akan nama Tuhan. Rupanya doa permohonan ini sudah dikabulkan sehingga dalam dua ayat terakhir dari bagian ini pemazmur mengucapkan sebuah niat yang luhur: ia hendak mengucap syukur kepada Allah dengan segenap hatinya; ia hendak memuliakan nama Allah untuk selama-lamanya (ay 12); tentu ini tidak mudah. Ini semua disebabkan karena ia sudah mengalami kasih setia Tuhan. Wujud kongkret dari kasih setia itu ialah ia telah dilepaskan dari dunia orang mati (ayat 13).

Akhirnya kita sampai pada bagian ketiga dari mazmur ini. Di sini pemazmur secara kongkret melukiskan situasinya yang gawat; ternyata situasi hidupnya gawat karena ia dihimpit oleh orang yang angkuh dan sombong. Mereka ini berbahaya karena mereka merencanakan nista dan binasa bagi pemazmur dan tidak mempedulikan Allah (ay 14). Ini memang perpaduan yang sangat berbahaya. Jika orang tidak lagi peduli pada Allah, maka sesama manusia sudah tidak mempunyai nilai dan makna apapun lagi. Ateisme merupakan ancaman serius bagi manusia dan kemanusiaan. Tetapi si pemazmur ini tidak gentar sedikitpun di hadapan gempuran orang-orang sombong, angkuh dan ateistik itu, karena ia percaya akan kasih setia, kesabaran, dan kerahiman Allah (ay 15). Praksis pemazmur ini menjadi prototipe dan arketipe dari praksis doa kerahiman ilahi yang sangat merebak dalam gereja dewasa ini, sebuah gejala yang baik tentu saja. Karena ia sangat percaya kepada Allah maka si pemazmur itu memohon agar Allah sudi berpaling kepadanya dan menunjukkan belas kasih-Nya kepadanya. Ia meminta kekuatan kepada Allah. Ia bahkan memohon sebuah mukjizat (tanda ajaib) kepada Allah agar orang-orang yang selama ini mengancam hidupnya dan mereka itu tidak takut akan Allah, semoga dengan itu akan menjadi takut akan Allah. Semoga dengan itu mereka menjadi malu dan sedikit terdorong kepada pertobatan danperubahan hidup. Memang praksis hidup orang beriman, yang percaya kepada Allah dimaksudkan juga untuk mengikis ateisme dari muka bumi ini, walau hal itu tidak serba mudah. Selalu saja ada orang-orang yang sombong dan angkuh hatinya yang tidak percaya kepada Allah, dan karena itu menjadi sumber ancaman abadi bagi sesama manusia. Tetapi itu tidak berarti bahwa ancaman itu hanya datang dari ateisme; sebab nyatanya sesama manusia juga bisa terancam oleh orang-orang yang percaya kepada Tuhan juga. Jelas ini sebuah ironi yang tragis dan menyedihkan.

MENIKMATI DAN MEMAHAMI MAZMUR 85

Oleh: Fransiskus Borgias M.

Judul Mazmur ini dalam Alkitab ialah Doa mohon Israel dipulihkan. Judul itu mengandaikan bahwa keadaan Israel sedang tidak benar, tidak dalam keadaan ideal, sehingga harus dipulihkan. Tindakan pemulihan itu hanya bisa dilakukan Allah pencipta dan penguasa sejarah. Sebelum melangkah lebih lanjut, saya mau membagi Mazmur ini ke dalam tiga bagian, agar memudahkan kita memahaminya. Bagian pertama, ayat 1-4; bagian kedua, ayat 5-8; bagian ketiga, ayat 9-14. Jadi cukup panjang, meliputi empatbelas ayat. Dalam bagian berikut saya melihat bagian demi bagian mazmur ini.

Dalam bagian pertama (ayat 1-4), si pemazmur memulai doanya dengan menyapa Allah dan terutama menyebutkan tindakan yang dilakukan Allah selama ini dalam relasi dengan umatNya. Dari tiga pasang kata kerja yang dipakai di sini tampak jelas bahwa selama ini Allah telah bertindak dan melakukan sesuatu untuk memelihara dan menyelenggarakan hidup umatNya. Dalam ayat 2 dipakai kata kerja berkenan kepada tanah-Mu dan memulihkan keadaan Yakub. Itu berarti relasi antara Allah dengan tanah dan bangsa. Dalam ayat 3, disinggung sesuatu yang khas dalam relasi itu yakni dosa dan pelanggaran yang terjadi dan dilakukan umat; di sini dipakai kata kerja mengampuni dan menutupi segala dosa. Dalam ayat 4, yang terutama disinggung bukan lagi sisi umat, melainkan sisi Allah; dikatakan bahwa Allah menyurutkan gemas-Nya dan meredakan murka-Nya sehingga umat tidak binasa karenanya. Jadi, karena umat melakukan dosa dan banyak pelanggaran, maka Allahpun menjadi gemas dan murka, tetapi semuanya itu teratasi karena Allah sendiri menahan dan membendung badai amarah dan gemas itu. Pemazmur melihat dan mengalami bahwa semuanya itu terjadi dalam sejarah dan pengalaman hidup umat. Atas dasar itulah ia berani mengajukan doa permohonan dalam bagian berikut.

Dalam bagian kedua (ayat 5-8) kita mendengarkan doa permohonan yang dipanjatkan oleh pemazmur, tentu atas dasar pengalaman positif dalam sejarah mengenai relasi yang baik dengan Allah. Dalam ayat 5, pemazmur memohon agar Allah sudi memulihkan nasib mereka dan agar Allah menghentikan rasa sakit hati-Nya terhadap umat. Sesudah itu berturut-turut dalam ayat 6 dan 7 muncul dua pertanyaan retoris dalam untaian doa itu yang menantang Allah dalam kasih setia-Nya terhadap umat. Tentu diandaikan bahwa jawaban atas masing-masing pertanyaan retoris itu ialah jawaban positif, yaitu Allah tidak akan murka selama-lamanya terhadap umat dan Allah tidak akan melanjutkan murkanya turun temurun (ay 6). Jawaban positif yang diandaikan ada di balik pertanyaan retoris ayat 7 menyimpan keyakinan umat bahwa Tuhan tidak membiarkan umatNya mati binasa, sehingga tindakan dan karya Allah itu nanti menjadi sumber sukacita bagi umat. Akhirnya bagian ini diakhiri dalam ayat 8 dengan sebuah doa permohonan yang sangat terkenal karena kita sering mendengarnya sebagai refrein mazmur antar bacaan: Perlihatkanlah kepada kami kasih setia-Mu ya TUHAN. (Lihat buku Mazmur Tanggapan dan Alleluya, hal.126, 140 dll).

Akhirnya kita sampai pada bagian ketiga (ayat 9-14). Ada beberapa hal yang ingin saya catat sehubungan dengan bagian ini. Pertama, bagian ini langsung dimulai dengan satu niat yang kuat dari pemazmur. Ia berniat memiliki hati dan budi yang lebih rela untuk mendengarkan Firman Allah, sebab ia yakin bahwa Allah mau menyampaikan kabar tentang damai kepada umat-Nya. Firman Allah mempunyai tujuan didaktis (edukatif) yaitu agar umat tidak kembali lagi kepada kebodohan yang sama yang selama ini telah merusak relasi mereka (supaya jangan mereka kembali kepada kebodohan?). Niat yang lantang ini dilandasi oleh sebuah keyakinan yang dilukiskan pemazmur dalam bagian sisa mazmur ini (ayat 10-14). Dalam ayat 10 misalnya ia menyatakan keyakinan bahwa keselamatan Allah dekat pada orang-orang yang takut kepadaNya dan hal itulah yang menyebabkan bahwa kemuliaan Allah berdiam di negeri mereka. Dalam ayat 11 muncul keyakinan yang lain dan ayat ini sangat terkenal, karena sering dipakai dalam sejarah perjuangan keadilan melawan penindasan. Dalam dunia modern ini, ayat-ayat ini sangat inspiratif di balik perjuangan teologi pembebasan di seluruh dunia. Sebaiknya saya kutip ayat ini: Kasih dan kesetiaan akan bertemu, keadilan dan damai sejahtera akan bercium-ciuman. Kondisi yang dilukiskan sebagai keadaan ideal dalam ayat 11 itu menghasilkan idealisme bahkan utopia yang lain: Kesetiaan akan tumbuh dari bumi, dan keadilan akan menjenguk dari langit. Hasil dari pendidikan Allah terhadap umat ialah bahwa umat itu lambat laun juga memiliki percikan-percikan sifat Allah sendiri yaitu kesetiaan. Jika umat mampu memperlihatkan kesetiaan itu, maka Allah dari langit akan menunjukkan keadilanNya. Ayat 13 melukiskan efek dari relasi positif itu, tidak hanya bagi manusia, melainkan juga bagi tanah, bagi bumi: Tuhan memberikan kebaikan, dan negeri kita akan memberikan hasilnya. Seluruh untaian mazmur ini diakhiri dengan sebuah metafor yang sangat indah yang melukiskan hasil positif dari relasi yang baik dan dipulihkan antara Allah dan umat. Keadilan Tuhan akan tampak di mana-mana dan keadilan dalam bentuk personifikasi akan meretas jalan bagi umat menuju kepada Allah: Keadilan akan berjalan di hadapan-Nya, dan akan membuat jejak kaki-Nya menjadi jalan.

Thursday, April 26, 2012

PUISI-PUISI APRIL 2012 III

Oleh: Fransiskus Borgias M.

AH KAU

Ah kau, kau hanya mempesonaku
dari tepian cakrawala fatamorgana
tanganku coba meraihmu sia-sia.
Kauaku tidak terbawa suratan nasib
untuk menjadi kita.
Walau ada isyarat bahasa yang menandakan
kedekatan kauaku akukau
perhatikan akukau kauaku hanya beda letak
alfabet saja.
Dan itu menandakan sesuatu
tetapi takkan pernah menjadi satu kita
kau seolah di fatamorgana dan aku
sekadar terengah-engah mengejarnya
mencoba mempersempit jarak
yang tiada akan pernah merapat
Ah, kau hanya mempesonaku
dari tepian cakrawala fatamorgana.

Puisi Lama, Nijmegen, April 2001


MEMANDANG SUNGAI

Aku terpesona memandang sungai
Aku juga terpesona membayangkan
mungkin juga ia terpesona melihat aku
yang memandang terpesona.
Hal itu mungkin saja terjadi
sungai itu hidup dan menghidupkan
Aku merasakannya di sini
dan dari sini.

Puisi lama, Nijmegen, April 2001


ANAKKU MEMANDANG MATAHARI

Anakkumemandangmatahari
dengan mata nanar dan silau
lalu coba ia tangkap dalam gambar
yang tampak retak dan melebar
dalam sebuah ruang gambar
yangg sangat terbatas, sempit dan sesak.
Memang semua ada batas-batas bagi dia
dan mentari selalu hadir
dalam gamang kita.

Puisi lama, Nijmegen, April 2001.


NOLLI ME TANGERE

Untuk sementara
jangan kau ganggu aku
jangan juga kau tunggu puisi-puisiku
sebab aku sedang mencoba menjahit lobang di hatiku
yang terlanjur menganga lebar
tatkala mencoba melontar peluru-peluru cinta
yang ternyata semuanya terpental
dan yang tersisa hanya luka,
sunyi dan harga diri yang terpental.
Untuk sementara
jangan kau ganggu aku
jangan juga kau tunggu puisi-puisiku.

Puisi lama, Nijmegen, April 2001.


Thursday, April 19, 2012

PUISI-PUISI APRIL 2012 II

TANPA KATA

Oleh: Fransiskus Borgias M.


Dalam kegelapan malam
ketika insomnia melanda
serasa seperti Dikau begitu dekat
sehingga dengan menggumamMu dalam hati pun
rasanya Dikau sudah paham
siapa ku dan apa mauku.
Justru dalam kelam malam
ketika insomnia melanda
Dikau seperti menyatu dengan desahku
“Ke dalam tanganMu, kuserahkan hidupku,
Ya Tuhan penyelamatku.”
Doaku hampir tanpa suara yang
menjelma menjadi kata-kata.

Yogya, 09 Maret 2012



PASRAH PADA TETIRAH


Di tengah malam gelisah
barulah aku sadar
tidur itu ternyata tidak serba mudah
karena terkadang menjadi seperti barang supermewah
yang harus diperjuangkan untuk meraihnya.
Di tengah malam yang resah dan gelisah
aku coba pasrah
Tetapi tetap tiada datang juga
kendati sudah ditunggu dengan resah
dengan gelisah pasrah sumarahhhhhhhhh
Ahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh......
Ahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh.....
Dan ternyata hari sudah pagi.


Yogya, 09 Maret 2012

Monday, April 2, 2012

PUISI-PUISI APRIL 2012 I

Oleh: Fransiskus Borgias M.


SAYAP-SAYAP PATAH

Terbangku seperti dengan sayap-sayap patah
nafaskupun terengah-engah
tiada mudah rupanya ragaku
bergerak mengikuti gelora jiwa
dan pikiran yang melanglang buana.
Untuk sementara aku hanya
terbaring di sini rada tidak berdaya.
Saudari sakit sedang melawatiku
memberi beberapa pelajaran hidup
du kannst nicht alles machen....
du kannst nicht alles haben....

ya di sini aku hanya bisa pasrah
pada belas kasih orang lain
Hidup tiada mungkin tanpa cinta
terutama cinta dari yang tercinta
yang senantiasa tetap mencinta dan bercanda
juga dalam dan kendati derita.
Itupun sudah sebagian obat sara dan lara
dalam kembara di dunia fana.

Yogya, 08 Maret 2012


MENDEKATIMU

Selalu ada kegaguan yang canggung
tiap kali aku datang mendekatiMu
Ada sejuta tanya yang tiada mudah dijawab
selalu ada teka-teki dan misteri
di balik mana Engkau berdiam.
Tetapi aku tidak putus asa dalam kembara ini.
Setelah lama berkelana dalam teologia
kuputuskan tuk mengimanimu
dalam canda dan tawa dan jenaka
terasa lebih ramah dan indah.
Mudah rasanya bicara DENGAN-MU
daripada bicara TENTANG-MU.
Karena selalu ada kabut misteri kelam.
Mungkin karena Dikau bertahta
dalam cahaya yang tiada terhampiri
Tetapi sekaligus dekat sekali di sini.
Di hati.

Yogya, 08 Maret 2012

Tuesday, March 27, 2012

PUISI-PUISI MARET 2012 IV

DI TEPI SUNGAI CODE
Oleh: Fransiskus Borgias M.

Di tepi sungai Code
aku duduk dan menangis
pabila aku terkenang Manggarai tana ge.
Pada pohon-pohon bambu di tepi sungai itu
kugantungkan gitar dan gambusku.

Di negeri rantau kudengar
ratap tangismu lirih dan pedih
ada yang datang menggaruk punggungmu
menggali merobek-robek rahimmu
membuatmu merana, meranggas
kerontang teramat panjang dan garang.

Deritamu di situ, pedihku di rantau
lalu terlahir sumpah seribu
jika aku melupakan engkau Manggaraiku
biarlah tangan kananku dipotong
biarlah lidahku melekat pada langit-langitku
jika aku tidak menjadikanmu
sumber dan puncak sukacita dan harapan hidupku.
Oh, cinta akan dikau
menghanguskan hatiku di rantau.

01 Februari 2012
Yogyakarta, di tepi sungai Code.



RACAUKUKACAU
Oleh: Fransiskus Borgias M.

Terkadang aku seperti meracau
dalam kicaukacauku yang mencoba
menjerat dikau dalam sangkar kata-kataku.
Sering tanpa pengertian yang dalam
aku mewacana tentang Dikau
bahkan sampai terlampaui batas-batas tabu dosa.
Beruntunglah pintu kasihMu
selalu terbuka untuk sesaltobatku
yang selalu datang terlambat
tersadar dari kacaukicauku
yang seperti meracaukacaubalau....
tiada jarang itulah bumbu relasi aku-dikau
sebab memang dikau tahu
tiada makhlukmu yang tiada kacaumeracau.
Racaukukacau kicaukukacau.
Racaukicaukacaubalau
Dalam kasihmu menjadi tiada berarti.

Brackenstein, Nijmegen, Belanda
Sebuah puisi lama dari April 2002

PEDENG JEREK WAE SUSU

Oleh: Fransiskus Borgias Dosen dan Peneliti Senior pada FF-UNPAR Bandung. Menyongsong Mentari Dengan Tari  Puncak perayaan penti adala...