Oleh: Fransiskus Borgias M.
Judul Mazmur ini dalam Kitab Suci kita ialah “Rindu kepada Kediaman Allah.” Judul ini mencerminkan apa yang menjadi isi seluruh Mazmur ini. Pemazmur mengungkapkan gejolak rasa rindunya akan rumah atau kediaman Allah. Rasa rindunya itu diungkapkan dalam tigabelas ayat, yang dapat dibagi menjadi dua bagian besar: ayat 1-8 dan ayat 9-13. Pembagian ayat-ayat ini sangat penting untuk memudahkan proses penafsiran dan pemahamannya.
Dalam ayat 2 diungkapkan rasa senang dan sukacita yang dialami dan dirasakan si pemazmur kepada rumah atau kediaman Tuhan. Ia sangat merindukan rumah Allah dan sedemikian rindunya sampai ia merasa seperti sudah hancur (ayat 3). Seluruh dirinya (terwakili oleh hati dan daging atau tubuh, gaya bahasa pars pro toto) bersorak-sorai kepada Allah yang hidup. Rupanya bukan hanya manusia saja yang senang atau bahagia akan rumah Allah itu; bahkan burung-burung pun sangat suka akan rumah kediaman Allah; disebutkan di sini secara khusus dua jenis burung yang suka tinggal dan bermain-main di rumah kediaman Allah: yaitu burung pipit dan burung layang-layang. Dikatakan bahwa burung-burung ini mendapat rumah dan sarang di sana; bahkan anak-anaknya pun mendapat tempat di mezbah, seakan-akan sedang diberi sebagai persembahan kepada Allah atau sedang memberi persembahan kepada Allah (ayat 4), dan persembahan itu sangat istimewa pula yaitu anak-anak mereka sendiri. Metafora yang dipakai dan dimainkan si Pemazmur ini sangat luar biasa: Burung-burung juga membawa korban persembahan di altar Allah, apalagi manusia.
Inilah ayat yang paling saya sukai dalam mazmur ini. Ayat 5 sangat terkenal dan sangat akrab di telinga dan hati kita, karena teks ini dibuat menjadi refrein Mazmur untuk lagu antar bacaan (graduale). Orang yang berdiam di rumah kediaman Allah dipandang berbahagia, karena dengan itu mereka dapat terus menerus memuji dan memuliakan Allah. Dianggap berbahagia juga adalah orang yang mengandalkan Allah sebagai daya kekuatan hidupnya; ya, mereka tidak mengandalkan dirinya sendiri. Turut dipuji juga di sini ialah orang-orang yang mau mengadakan ziarah (perjalanan suci) ke rumah Allah. (ay 6). Inilah salah satu dasar biblis untuk pembenaran (justifikasi) praksis ziarah yang marak sekali dalam seluruh rentang sejarah dan tradisi Katolik itu sendiri, yang terbukti dengan tumbuh suburnya pusat-pusat ziarah di mana-mana. Di tanah Jawa saja ada sangat banyak; misalnya Sendangsono, Gua Kerep, Gua Kaliori, Puh Sarang, Sendang Sriningsih, Sendang Jatiningsih, Gua Maria Sawer Rahmat, dll. Selanjutnya ayat 7 melukiskan perjalanan ziarah yang penuh sukacita dan berkat. Mereka melakukan perjalanan ziarah itu dengan penuh semangat; seakan-akan daya tarik rumah Allah itu menarik mereka dengan sangat kuat (ayat 8). Sion mejadi titik sentrum ziarah Israel sepanjang masa dan sejarah. Sion menjadi axis mundi bagi kesadaran dan penghayatan religius orang-orang Israel. Itu sebabnya mereka akan selalu mau kembali ke Sion, sebuah dorongan yang kemudian bermuara antara lain ke dalam gerakan rohani dan politik Zionisme itu.
Lalu dalam ayat 9 mengalir dan memancarlah sebuah doa; ia berharap agar Allah sudi mendengarkan doanya. Ia sudah tiba di Yerusalem lalu berharap Allah mendengarkan doanya. Ayat 10 agak sulit dipahami dalam alur puitis mazmur ini. Tetapi di sana tetap ada doa memohon kepada Allah agar sudi memandang orang yang diurapiNya (ayat 10). Lalu menyusul penjelasan mengapa rumah kediaman Tuhan itu sangat menyenangkan. Dalam ayat 11 ada perbandingan pengalaman: pengalaman berada di rumah Tuhan di satu pihak, dan pengalaman berada di tempat yang lain di pihak yang lain; pengalaman berada di ambang pintu rumah kediaman Tuhan dan berada di dalam kemah-kemah orang fasik. Dengan jelas dikatakan bahwa berdiam satu hari saja di rumah Tuhan terasa jauh lebih baik daripada berada di tempat yang lain. Pengalaman sekadar berada di pintu rumah kediaman Allah dianggap jauh lebih baik daripada berdiam di kemah orang-orang fasik. Tetapi mengapa demikian? Itu tidak lain karena ia mengalami Allah itu secara sangat positif: Allah adalah matahari dan perisai bagi dan dalam hidupnya. Ia memberi kasih dan kemuliaan. Allah adalah maharahim terhadap orang-orang yang hidup tidak bercela (ayat 12).
Seluruh mazmur ini diakhiri pada ayat 13 dengan sebuah doa pujian dan syukur yang sangat bagus. Kiranya sangat baik juga jika ayat yang indah itu dikutip di sini untuk menutup uraian dan renungan singkat dan sederhana mengenai mazmur ini: “Ya TUHAN semesta alam, berbahagialah manusia yang percaya kepadaMu” (ayat 13).
canticum solis adalah blogspot saya untuk pendalaman dan diskusi soal-soal filosofis, teologis, spiritualitas dan yang terkait. Kalau berkenan mohon menulis kesan atau komentar anda di bagian akhir dari artikel yang anda baca. Terima kasih... canticum solis is my blog in which I write the topics on philosophy, theology, spiritual life. If you don't mind, please give your comment or opinion at the end of any article you read. thanks a lot.....
Tuesday, March 27, 2012
MENIKMATI MAZMUR 83
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Judul Mazmur ini dalam Kitab Suci kita ialah “Doa mohon pertolongan melawan musuh.” Dari judul kita dapat menarik kesimpulan bahwa Israel sedang merasa tidak berdaya karena mereka diancam oleh musuh-musuh. Mazmur ini termasuk cukup panjang, yaitu terdiri atas 19 ayat. Sebagaimana biasanya, untuk memudahkan proses pemahaman dan penjelasannya saya mencoba membaginya atas dua bagian besar. Bagian I: ay 1-9; Bagian II: ay.10-19. Saya akan mencoba menjelaskan kedua bagian ini dalam bagian berikut.
Dalam ayat 1 dimulai dengan sebuah seruan kepada Allah agar Ia tidak lagi berdiam diri, tidak berbuat apa-apa, sebab para musuh sudah mulai bersikap angkuh (ay.2). Menarik sekali bahwa musuh di sini, yang seharusnya musuh Israel, diidentifikasi sebagai musuh Allah juga. Hal itu bisa dipahami karena Israel adalah umat pilihan Allah sendiri, sehingga musuh Israel adalah juga berarti musuh Allah. Ayat 4-6 dilukiskan mengenai substansi perbuatan para musuh itu terhadap Israel. Ada perundingan dan mufakat untuk mencelakakan umat Israel. Ancaman itu terasa paling eksplisit dalam ayat 5: “Marilah kita lenyapkan mereka sebagai bangsa, sehingga nama Israel tidak diingat lagi.”
Ketika membaca ayat ini tiba-tiba saya teringat akan situasi konflik Timur Tengah dewasa ini yang juga semakin memanas saja. Iran, lewat presidennya Ahmadinejah, suatu saat pernah menyatakan ambisi militer-politisnya: mereka mengembangkan nuklir untuk melenyapkan Israel dari peta bumi ini. Beberapa hari lalu saya membaca sebuah running text di sebuah TV swasta yang mengutip pernyataan senada dari presiden Iran di tengah konflik yang semakin meruncing antara Amerika Serikat dan Iran yang menyangkut isu nuklir Iran. Kata Ahmadinejah dalam running text itu ialah kurang lebih sbb: Israel itu bagaikan kangker ganas yang harus disingkirkan agar tubuh bisa sembuh kembali. Tetapi sang presiden itu lupa bahwa operasi pengangkatan kangker itu selalu ada risiko yaitu ada saja bagian tubuh yang dikorbankan. Itu pun belum tentu bisa sembuh total juga.
Ayat 6 melukiskan mutu atau intensitas permufakatan yang dibuat oleh para musuh itu: permufakatan itu sudah sangat serius alias tidak lagi main-main sebab para musuh itu sudah satu hati. Ayat 7-9 melukiskan secara jelas siapa para musuh itu yang merencanakan permufakatan tersebut. Ayat 7 menyebut orang Edom, orang Ismael, orang Moab dan orang Hagar. Itu semua adalah orang-orang yang dewasa ini disebut orang Arab, walau dulu sesungguhnya mereka tidak disebut demikian. Ayat 8 menyebut orang Gebal, orang Amon, orang Amalek (yang pernah muncul dan disebut juga dalam kisah-kisah penaklukan oleh Yosua itu dalam kitab Keluaran), Filistea dan Tirus. Ayat 9 menyebut orang Asyur dan bani Lot. Jadi, musuh itu sangat banyak. Dan yang lebih menakutkan lagi ialah Asyur ikut-ikutan dalam permufakatan itu, sebab Asyur adalah salah satu kekuatan adidaya dunia pada jaman itu, selain Mesir.
Pemazmur dalam ayat 10 teringat akan kemenangan-kemenangan Israel di masa silam lewat para pemimpinnya yang dibantu Allah. Oleh karena itu, ia pun memberanikan diri untuk meminta kepada Allah agar Ia sudi bertindak lagi seperti dulu terhadap Midian, Sisera, Yabin, yang semuanya dulu pernah dikalahkan dan dihancurkan. Pemazmur ini berharap agar Allah berbuat serupa terhadap persekongkolan jahat ini, biar mereka musnah menjadi pupuk tanah (ay.11). Ayat 12 masih menyebut nama beberapa pemimpin para bangsa di masa silam yang dengan sangat angkuh merencanakan kehancuran Bait Allah; disebut di situ nama-nama seperti: Oreb, Zeeb, Zebah, Salmuna (ayat 13). Dalam ayat 14 ini si Pemazmur semakin mengeksplisitkan doa permohonannya dengan memakai bahasa metafor: ia berharap agar permufakatan alias persekongkolan mereka hancur berantakan dan terbang berhamburan seperti dedak dan jerami. Ia berharap agar Allah memakai api, badai, puting beliung (tornado) untuk menghancurkan permufakatan para musuh itu (ay.15-16). Ia memohon agar para pemufakatan para musuh itu ditimpa malu dan diharap agar melalui pengalaman negatif itu mereka mengenal dan mengakui Tuhan dan kemudian mengakuinya (ay.17).
Untuk menutup uraian singkatan ini saya mengutip ayat 18-19: “Biarlah mereka mendapat malu dan terkejut selama-lamanya; biarlah mereka tersipu-sipu dan binasa, supaya mereka tahu bahwa Engkau sajalah yang bernama TUHAN, Yang Mahatinggi atas seluruh bumi.”
Judul Mazmur ini dalam Kitab Suci kita ialah “Doa mohon pertolongan melawan musuh.” Dari judul kita dapat menarik kesimpulan bahwa Israel sedang merasa tidak berdaya karena mereka diancam oleh musuh-musuh. Mazmur ini termasuk cukup panjang, yaitu terdiri atas 19 ayat. Sebagaimana biasanya, untuk memudahkan proses pemahaman dan penjelasannya saya mencoba membaginya atas dua bagian besar. Bagian I: ay 1-9; Bagian II: ay.10-19. Saya akan mencoba menjelaskan kedua bagian ini dalam bagian berikut.
Dalam ayat 1 dimulai dengan sebuah seruan kepada Allah agar Ia tidak lagi berdiam diri, tidak berbuat apa-apa, sebab para musuh sudah mulai bersikap angkuh (ay.2). Menarik sekali bahwa musuh di sini, yang seharusnya musuh Israel, diidentifikasi sebagai musuh Allah juga. Hal itu bisa dipahami karena Israel adalah umat pilihan Allah sendiri, sehingga musuh Israel adalah juga berarti musuh Allah. Ayat 4-6 dilukiskan mengenai substansi perbuatan para musuh itu terhadap Israel. Ada perundingan dan mufakat untuk mencelakakan umat Israel. Ancaman itu terasa paling eksplisit dalam ayat 5: “Marilah kita lenyapkan mereka sebagai bangsa, sehingga nama Israel tidak diingat lagi.”
Ketika membaca ayat ini tiba-tiba saya teringat akan situasi konflik Timur Tengah dewasa ini yang juga semakin memanas saja. Iran, lewat presidennya Ahmadinejah, suatu saat pernah menyatakan ambisi militer-politisnya: mereka mengembangkan nuklir untuk melenyapkan Israel dari peta bumi ini. Beberapa hari lalu saya membaca sebuah running text di sebuah TV swasta yang mengutip pernyataan senada dari presiden Iran di tengah konflik yang semakin meruncing antara Amerika Serikat dan Iran yang menyangkut isu nuklir Iran. Kata Ahmadinejah dalam running text itu ialah kurang lebih sbb: Israel itu bagaikan kangker ganas yang harus disingkirkan agar tubuh bisa sembuh kembali. Tetapi sang presiden itu lupa bahwa operasi pengangkatan kangker itu selalu ada risiko yaitu ada saja bagian tubuh yang dikorbankan. Itu pun belum tentu bisa sembuh total juga.
Ayat 6 melukiskan mutu atau intensitas permufakatan yang dibuat oleh para musuh itu: permufakatan itu sudah sangat serius alias tidak lagi main-main sebab para musuh itu sudah satu hati. Ayat 7-9 melukiskan secara jelas siapa para musuh itu yang merencanakan permufakatan tersebut. Ayat 7 menyebut orang Edom, orang Ismael, orang Moab dan orang Hagar. Itu semua adalah orang-orang yang dewasa ini disebut orang Arab, walau dulu sesungguhnya mereka tidak disebut demikian. Ayat 8 menyebut orang Gebal, orang Amon, orang Amalek (yang pernah muncul dan disebut juga dalam kisah-kisah penaklukan oleh Yosua itu dalam kitab Keluaran), Filistea dan Tirus. Ayat 9 menyebut orang Asyur dan bani Lot. Jadi, musuh itu sangat banyak. Dan yang lebih menakutkan lagi ialah Asyur ikut-ikutan dalam permufakatan itu, sebab Asyur adalah salah satu kekuatan adidaya dunia pada jaman itu, selain Mesir.
Pemazmur dalam ayat 10 teringat akan kemenangan-kemenangan Israel di masa silam lewat para pemimpinnya yang dibantu Allah. Oleh karena itu, ia pun memberanikan diri untuk meminta kepada Allah agar Ia sudi bertindak lagi seperti dulu terhadap Midian, Sisera, Yabin, yang semuanya dulu pernah dikalahkan dan dihancurkan. Pemazmur ini berharap agar Allah berbuat serupa terhadap persekongkolan jahat ini, biar mereka musnah menjadi pupuk tanah (ay.11). Ayat 12 masih menyebut nama beberapa pemimpin para bangsa di masa silam yang dengan sangat angkuh merencanakan kehancuran Bait Allah; disebut di situ nama-nama seperti: Oreb, Zeeb, Zebah, Salmuna (ayat 13). Dalam ayat 14 ini si Pemazmur semakin mengeksplisitkan doa permohonannya dengan memakai bahasa metafor: ia berharap agar permufakatan alias persekongkolan mereka hancur berantakan dan terbang berhamburan seperti dedak dan jerami. Ia berharap agar Allah memakai api, badai, puting beliung (tornado) untuk menghancurkan permufakatan para musuh itu (ay.15-16). Ia memohon agar para pemufakatan para musuh itu ditimpa malu dan diharap agar melalui pengalaman negatif itu mereka mengenal dan mengakui Tuhan dan kemudian mengakuinya (ay.17).
Untuk menutup uraian singkatan ini saya mengutip ayat 18-19: “Biarlah mereka mendapat malu dan terkejut selama-lamanya; biarlah mereka tersipu-sipu dan binasa, supaya mereka tahu bahwa Engkau sajalah yang bernama TUHAN, Yang Mahatinggi atas seluruh bumi.”
Wednesday, March 21, 2012
PUISI-PUISI MARET 2012 III
GAGAPKU
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Terkadang aku sampai
pada suatu titik kesadaran
di mana aku merasa harus diam
tiada menggumam air kata-kata.
Namun hening dan bisuMu
memaksaku berteriak
menyebut dan menyapa namaMu.
Tetapi ia tetap juga tiada berjawab
di dalam gelap terkadang datang pengap.
Tetapi aku merasa mampu mengakrabi
gelap dan pengab itu, dan di sana
aku sering merasa, entah mengapa
tanya dan pencarianku sudah terjawab
ya segala tanyaku, berujung titik...entah bagaimana.
Tiada lagi terengah-engahku mencari dan mencari.
Kini yang ada hanya tetirah, pasrah,
tanpa resah dan gelisah.
Tetirahpasrahkutanparesahgelisah
Tanparesahgelisahakutetirahakupasrah
Kekinianmenjadiabadi, keabadianmenjadikinidandisini
Batas-batas leburhablurlulur walau masihadabilurbilurku
aku merasa tidak apa-apa: tetirahpasrahku terlalu bermakna
untuk disia-siakan begitu saja.
Yogya, 30 Januari 2012
VISIO BEATIFICA
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Aku berangkat mencarimu
ketika semesta masih senyap gelap
menyapamu dalam gelap senyap
perlahan dan mantap namamu kuucap
dikau sang pangkal sabab musabab
segala bab yang ada.
Tiba-tiba aku hanya bisa megap-megap
tergagap-gagap menampak dikau yang tatap
aku mencarimu dan kau temukan aku.
Aku hanya bisa megap-megap tergagap-gagap
menampak dikau yang tatap
Oh visio beatifica.
Aku bahagia maka aku gagap
Tapi kau tahu hatiku gegap gempita
bergedup dalam senyap gelap
yang gagap dan megap-megap.
Gagapkutermegap-megap
dalam gelapsenyappengab
Dalam gelapsenyappengab
gagapkutermegap-megap
Yogyakarta, 31 Januari 2012
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Terkadang aku sampai
pada suatu titik kesadaran
di mana aku merasa harus diam
tiada menggumam air kata-kata.
Namun hening dan bisuMu
memaksaku berteriak
menyebut dan menyapa namaMu.
Tetapi ia tetap juga tiada berjawab
di dalam gelap terkadang datang pengap.
Tetapi aku merasa mampu mengakrabi
gelap dan pengab itu, dan di sana
aku sering merasa, entah mengapa
tanya dan pencarianku sudah terjawab
ya segala tanyaku, berujung titik...entah bagaimana.
Tiada lagi terengah-engahku mencari dan mencari.
Kini yang ada hanya tetirah, pasrah,
tanpa resah dan gelisah.
Tetirahpasrahkutanparesahgelisah
Tanparesahgelisahakutetirahakupasrah
Kekinianmenjadiabadi, keabadianmenjadikinidandisini
Batas-batas leburhablurlulur walau masihadabilurbilurku
aku merasa tidak apa-apa: tetirahpasrahku terlalu bermakna
untuk disia-siakan begitu saja.
Yogya, 30 Januari 2012
VISIO BEATIFICA
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Aku berangkat mencarimu
ketika semesta masih senyap gelap
menyapamu dalam gelap senyap
perlahan dan mantap namamu kuucap
dikau sang pangkal sabab musabab
segala bab yang ada.
Tiba-tiba aku hanya bisa megap-megap
tergagap-gagap menampak dikau yang tatap
aku mencarimu dan kau temukan aku.
Aku hanya bisa megap-megap tergagap-gagap
menampak dikau yang tatap
Oh visio beatifica.
Aku bahagia maka aku gagap
Tapi kau tahu hatiku gegap gempita
bergedup dalam senyap gelap
yang gagap dan megap-megap.
Gagapkutermegap-megap
dalam gelapsenyappengab
Dalam gelapsenyappengab
gagapkutermegap-megap
Yogyakarta, 31 Januari 2012
Wednesday, March 14, 2012
PUISI-PUISI MARET 2012 II
MUSIM GUGUR DI GROOSBECK
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Musim gugur di Groosbeck
dedaunan berubah rona
dari hijau permai, lalu kuning, lalu merah tua,
lalu cokelat, mengering, gugur, diterpa angin
Irama peralihan itu sangat indah
sebuah drama melankoli kosmik
mengajarkanku pasrah sumarah
rela menerima. Let it go. Let it be.
Ada burung sedang kesepian
hanya loncat-loncat seakan coba bunuh sepi
menciap-ciap mengakrabi sunyi
di bawah perdu-perdu redup
kicaukacaunyanyisunyi
kicaukacaunyanyisunyi
kacaukicausunyinyanyi
Mentari pagi memang cerah
langit cerah membentang luas
Tiba-tiba ada rasa sepi yang tak terjelaskan
melanda kalbuku di bukit itu; kesepian eksistensial.
Ada rasa rindu, galau, tapi aku tahu
bukan itu penyebab sepiku
Sepi begitu saja. Melankoli kosmik.
Terasa seperti terhimpit alam yang murung
Hanya terdengar kicaukacaunyanyisunyi
kacaukicausunyinyanyi sepiku kusepi sepiku kusepi
k u s e p i.... s e p i k u.....
Yogyakarta, 07-01-12
Terkenang musim gugurku yang pertama di Nijmegen, September 2000.
DI TEPI SEINE
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Di tepi Seine,
aku berdiri kagum
di bawah bayang-bayang megah katedral Notre Dame
Kokoh. Indah. Perkasa.
Tegak lurus dengan langit
bak sedang knockknockknocking on heaven’s door
menangkap sinyal-sinyal transendensi.
Saya hanya tertegun.
Di tepi Seine
sejenak aku berdiri menjauh
mencoba berjarak ke arah timur
air mengalir deras
bentangan langit biru terpantul di sana.
Juga menara agung Notre Dame.
Di sana menara itu bergoyang-goyang, melambai-melambai,
seperti sedang menari-nari di atas air.
Yang kokoh pun ternyata bergoyang-goyang
menari-nari di atas air
biarpun itu hanya bayang-bayang.
Tetapi ia nyata sebagai bayang-bayang.
Dalam hatiku ada gema bertalu-talu
mengulangi kebenaran itu:
ia nyata sebagai bayang-bayang.
Ia nyata sebagai bayang-bayang.
Ia nyata sebagai bayang-bayang.
Sebagai bayang-bayang ia nyata.
Sebagai bayang-bayang ia nyata.......
Yogya, 09-01-12.
Terkenang pengalaman di Paris, Maret 2001 (Di Notre Dame, dan Tepi sungai Seine).
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Musim gugur di Groosbeck
dedaunan berubah rona
dari hijau permai, lalu kuning, lalu merah tua,
lalu cokelat, mengering, gugur, diterpa angin
Irama peralihan itu sangat indah
sebuah drama melankoli kosmik
mengajarkanku pasrah sumarah
rela menerima. Let it go. Let it be.
Ada burung sedang kesepian
hanya loncat-loncat seakan coba bunuh sepi
menciap-ciap mengakrabi sunyi
di bawah perdu-perdu redup
kicaukacaunyanyisunyi
kicaukacaunyanyisunyi
kacaukicausunyinyanyi
Mentari pagi memang cerah
langit cerah membentang luas
Tiba-tiba ada rasa sepi yang tak terjelaskan
melanda kalbuku di bukit itu; kesepian eksistensial.
Ada rasa rindu, galau, tapi aku tahu
bukan itu penyebab sepiku
Sepi begitu saja. Melankoli kosmik.
Terasa seperti terhimpit alam yang murung
Hanya terdengar kicaukacaunyanyisunyi
kacaukicausunyinyanyi sepiku kusepi sepiku kusepi
k u s e p i.... s e p i k u.....
Yogyakarta, 07-01-12
Terkenang musim gugurku yang pertama di Nijmegen, September 2000.
DI TEPI SEINE
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Di tepi Seine,
aku berdiri kagum
di bawah bayang-bayang megah katedral Notre Dame
Kokoh. Indah. Perkasa.
Tegak lurus dengan langit
bak sedang knockknockknocking on heaven’s door
menangkap sinyal-sinyal transendensi.
Saya hanya tertegun.
Di tepi Seine
sejenak aku berdiri menjauh
mencoba berjarak ke arah timur
air mengalir deras
bentangan langit biru terpantul di sana.
Juga menara agung Notre Dame.
Di sana menara itu bergoyang-goyang, melambai-melambai,
seperti sedang menari-nari di atas air.
Yang kokoh pun ternyata bergoyang-goyang
menari-nari di atas air
biarpun itu hanya bayang-bayang.
Tetapi ia nyata sebagai bayang-bayang.
Dalam hatiku ada gema bertalu-talu
mengulangi kebenaran itu:
ia nyata sebagai bayang-bayang.
Ia nyata sebagai bayang-bayang.
Ia nyata sebagai bayang-bayang.
Sebagai bayang-bayang ia nyata.
Sebagai bayang-bayang ia nyata.......
Yogya, 09-01-12.
Terkenang pengalaman di Paris, Maret 2001 (Di Notre Dame, dan Tepi sungai Seine).
Sunday, March 4, 2012
PUISI-PUISI MARET 2012 I
TUAREMBULANMALAM
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Tuarembulanmalamtertutupdedaunanlegammegahitam
Malamkelamlegam malamkelamlegam
legamkelammalam legamkelammalam
kelammalamlegam kelammalamlegam
Tuarembulanmalamtertutupdedaunanlegammegahitam
Dan kau hanya hadir bagai siluet legam pada dinding malamkelamlegam
Tiada dapat kugenggam juga dalam hasrat syahwatku yang enggan padam
Ah, andaiakugenggamkaudankaugenggamaku
Lalukitamenjadisegenggamancintagelora
Kitapunsama-samatergendamdalamgenggammalamkelamlegam
Akupunlebamkarenarindudendampadakauakukauyangberangkulan
Tuarembulanmalamtertutupdedaunanlegammegahitam
Malamkelamlegam malamkelamlegam
legamkelammalam legamkelammalam
kelammalamlegam kelammalamlegam
Andaikanakusekadarburungpunggukyangpuas
hanyadenganmemandangrembulanmalamkelamlegam
Andaikanakujadikau,kaujadidia,diajadiaku
dankitabersatudalamcintamalamkelamlegam
Lempong Lor 4 Maret 2012
ITUTUHANTUHANITU
Oleh: Fransiskus Borgias M
Tuhanituitutuhanitutuhanitutuhanitutuhanitutuhan
Dalam ketidakpastian kugosok mata jiwaku
coba menerawang antara terang dan gelap
Antara ombak dan karang bimbang dan kepastian
Lalu tiba-tiba kuyakin itutuhanitutuhanitutuhanitutuhan
Dalam kepastian iman akupun tenggelam dalam zikirku bertalu-talu
Tuhantuhantuhantuhantuhantuhantuhantuhantuhantuhantuhantuhantu...
Seakanakan kumaurengkuhrangkul dia dalam istana kata-kataku
Tuhantuhantuhantuhantuhantuhantuhantuhantuhantuhantuhantuhantu...
Ah ternyata kita mudah tergelincir juga dalam kata-kata doa kita
Bahkandoadoadoadoadoakitamudahmenjadidosadosadosadosa
Istanakatakatakitamudahmenjadipenjarakatakata
Tetapi ia tetap rela menerima dan mencinta
Karena ia bukan beta yang penuh dosa
Diasangmahacintasemata
Deusmeusetomniadeusmeusetomniaetomnia
Lempong Lor 5 Maret 2012
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Tuarembulanmalamtertutupdedaunanlegammegahitam
Malamkelamlegam malamkelamlegam
legamkelammalam legamkelammalam
kelammalamlegam kelammalamlegam
Tuarembulanmalamtertutupdedaunanlegammegahitam
Dan kau hanya hadir bagai siluet legam pada dinding malamkelamlegam
Tiada dapat kugenggam juga dalam hasrat syahwatku yang enggan padam
Ah, andaiakugenggamkaudankaugenggamaku
Lalukitamenjadisegenggamancintagelora
Kitapunsama-samatergendamdalamgenggammalamkelamlegam
Akupunlebamkarenarindudendampadakauakukauyangberangkulan
Tuarembulanmalamtertutupdedaunanlegammegahitam
Malamkelamlegam malamkelamlegam
legamkelammalam legamkelammalam
kelammalamlegam kelammalamlegam
Andaikanakusekadarburungpunggukyangpuas
hanyadenganmemandangrembulanmalamkelamlegam
Andaikanakujadikau,kaujadidia,diajadiaku
dankitabersatudalamcintamalamkelamlegam
Lempong Lor 4 Maret 2012
ITUTUHANTUHANITU
Oleh: Fransiskus Borgias M
Tuhanituitutuhanitutuhanitutuhanitutuhanitutuhan
Dalam ketidakpastian kugosok mata jiwaku
coba menerawang antara terang dan gelap
Antara ombak dan karang bimbang dan kepastian
Lalu tiba-tiba kuyakin itutuhanitutuhanitutuhanitutuhan
Dalam kepastian iman akupun tenggelam dalam zikirku bertalu-talu
Tuhantuhantuhantuhantuhantuhantuhantuhantuhantuhantuhantuhantu...
Seakanakan kumaurengkuhrangkul dia dalam istana kata-kataku
Tuhantuhantuhantuhantuhantuhantuhantuhantuhantuhantuhantuhantu...
Ah ternyata kita mudah tergelincir juga dalam kata-kata doa kita
Bahkandoadoadoadoadoakitamudahmenjadidosadosadosadosa
Istanakatakatakitamudahmenjadipenjarakatakata
Tetapi ia tetap rela menerima dan mencinta
Karena ia bukan beta yang penuh dosa
Diasangmahacintasemata
Deusmeusetomniadeusmeusetomniaetomnia
Lempong Lor 5 Maret 2012
Saturday, March 3, 2012
PUISI-PUISI FEBRUARI 2012 II
LUKADUKASUKA I
By: Fransiskus Borgias M
LukadukasukaLukasukaduka
DukalukasukaDukasukaluka
SukadukalukaSukalukaduka
Sukasukadukadukalukaluka
Lukalukadukadukasukasuka
Dukadukasukasukalukaluka
Terlukaterbukamengangalukadukasuka
Lukamengucurdarah Dukamembawamerah Sukamembawacerah
Darahmerahcerahlukadukasuka
Larasaraziarahkitapenuhlukadukasuka
Penuhsukadukalukapenuhdukalukasuka
Bagaimanapunkitaharuspernahtibajuga
Kendatilukadukasukakendatidukasukalukakendatisukadukaluka
Yogya, 27 Februari 2012
LUKADUKASUKA II
By: Fransiskus Borgias M.
Luka itu sekolah tempat kau mengolah raga agar mudah taat pada suara sukma membawamu ke dapur dukalara hanya itu yang bisa membuatmu rela dan bisa menghargai suka biarpun ia tiada pernah berlama-lama karena kodrat jiwa ialah selalu kembara dari hulu ke kuala mencari dan menggali makna memperkaya jiwa dan sukma.
Luka duka suka ialah sekolah jiwa mematangkanmu dari muda hingga tua renta, dan mereka masih tetap di sini setia. Mereka dapur jiwa menuju gerbang tahta hikmat.
Yogya, 27 Februari 2012
By: Fransiskus Borgias M
LukadukasukaLukasukaduka
DukalukasukaDukasukaluka
SukadukalukaSukalukaduka
Sukasukadukadukalukaluka
Lukalukadukadukasukasuka
Dukadukasukasukalukaluka
Terlukaterbukamengangalukadukasuka
Lukamengucurdarah Dukamembawamerah Sukamembawacerah
Darahmerahcerahlukadukasuka
Larasaraziarahkitapenuhlukadukasuka
Penuhsukadukalukapenuhdukalukasuka
Bagaimanapunkitaharuspernahtibajuga
Kendatilukadukasukakendatidukasukalukakendatisukadukaluka
Yogya, 27 Februari 2012
LUKADUKASUKA II
By: Fransiskus Borgias M.
Luka itu sekolah tempat kau mengolah raga agar mudah taat pada suara sukma membawamu ke dapur dukalara hanya itu yang bisa membuatmu rela dan bisa menghargai suka biarpun ia tiada pernah berlama-lama karena kodrat jiwa ialah selalu kembara dari hulu ke kuala mencari dan menggali makna memperkaya jiwa dan sukma.
Luka duka suka ialah sekolah jiwa mematangkanmu dari muda hingga tua renta, dan mereka masih tetap di sini setia. Mereka dapur jiwa menuju gerbang tahta hikmat.
Yogya, 27 Februari 2012
PUISI-PUISI FEBRUARI 2012 I
HADIRMU DI SINI
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Hadirmu di sini
terasa seperti sebuah bayang-bayang
yang tipis dan temaram
yang seperti baru saja dilukis
dengan tangan-tangan geram dan gemetar
seakan takut akan sesuatu
yang kasat mata
entah apa,
entah siapa,
entah di mana,
entah mengapa
tapi terasa mencengkam,
dan akupun menjadi seram
berjarak dan curiga.
Hadirmu di sini
tidak selalu membahagiakan
teriakmu terlalu kencang
dalam sunyi aku bertanya
tanpa ada yang jawab.
Tidak bisakah kau berwawan rasa
dalam diam tanpa kata atau suara?
Hadirmu di sini
terasa seperti sebuah bayang-bayang
yang tipis dan temaram
yang seperti baru saja dilukis
dengan tangan-tangan geram dan gemetar
seakan takut akan sesuatu
yang kasat mata
entah apa,
entah siapa,
entah di mana,
entah mengapa
tapi terasa mencengkam,
dan akupun menjadi seram
berjarak curiga.
Yogya, 26 Februari 2012
Ketika terkenang sebuah huru-hara di masa silam yg terasa mencengkam.
ADA BURUNG SUNYI
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Ada burung sunyi
dibingkai kiri atas lensa kameraku
di pantai itu
tatkala kuabadikan beberapa pasang kekasih
sedang berpadu kasih dalam tatap dan rasa pesona
menikmati pergi sang mentari
di balik tirai malam
di Kuta Bali.
Ternyata aku juga sendiri
digalau rindu
pada mereka yang selalu menantiku
membuka pintu dari dalam bagiku
yang senantiasa pergi dan akan kembali.
Betapa bahagia rasanya
bila anda tahu bakal ada yang buka pintu
bagimu
dari dalam ketika kita baru tiba
dari sebuah perjalanan jauh
melanglang buana.
Ada burung sunyi
dibingkai kiri atas kameraku
mengingatkan aku akan kesendirianku
sebab aku masih belum sampai
pada kekasih hati.
Burung itu seakan menatap bisu
sebuah titik tuju
yang tiada pernah bisa dijangkau
karena ia menggantung di langit biru
menjelang merah tua disaput rembang petang
menjelang malam datang.
Ada pekat sunyi yang harus ditelan.
Hidup memang kadang-kadang harus begitu.
Kuta Bali. (Kilas balik ketika duduk di Kuta 26 Agustus 2006 dalam perjalanan pulang dari Seoul, Denpasar, Jakarta, Bandung).
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Hadirmu di sini
terasa seperti sebuah bayang-bayang
yang tipis dan temaram
yang seperti baru saja dilukis
dengan tangan-tangan geram dan gemetar
seakan takut akan sesuatu
yang kasat mata
entah apa,
entah siapa,
entah di mana,
entah mengapa
tapi terasa mencengkam,
dan akupun menjadi seram
berjarak dan curiga.
Hadirmu di sini
tidak selalu membahagiakan
teriakmu terlalu kencang
dalam sunyi aku bertanya
tanpa ada yang jawab.
Tidak bisakah kau berwawan rasa
dalam diam tanpa kata atau suara?
Hadirmu di sini
terasa seperti sebuah bayang-bayang
yang tipis dan temaram
yang seperti baru saja dilukis
dengan tangan-tangan geram dan gemetar
seakan takut akan sesuatu
yang kasat mata
entah apa,
entah siapa,
entah di mana,
entah mengapa
tapi terasa mencengkam,
dan akupun menjadi seram
berjarak curiga.
Yogya, 26 Februari 2012
Ketika terkenang sebuah huru-hara di masa silam yg terasa mencengkam.
ADA BURUNG SUNYI
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Ada burung sunyi
dibingkai kiri atas lensa kameraku
di pantai itu
tatkala kuabadikan beberapa pasang kekasih
sedang berpadu kasih dalam tatap dan rasa pesona
menikmati pergi sang mentari
di balik tirai malam
di Kuta Bali.
Ternyata aku juga sendiri
digalau rindu
pada mereka yang selalu menantiku
membuka pintu dari dalam bagiku
yang senantiasa pergi dan akan kembali.
Betapa bahagia rasanya
bila anda tahu bakal ada yang buka pintu
bagimu
dari dalam ketika kita baru tiba
dari sebuah perjalanan jauh
melanglang buana.
Ada burung sunyi
dibingkai kiri atas kameraku
mengingatkan aku akan kesendirianku
sebab aku masih belum sampai
pada kekasih hati.
Burung itu seakan menatap bisu
sebuah titik tuju
yang tiada pernah bisa dijangkau
karena ia menggantung di langit biru
menjelang merah tua disaput rembang petang
menjelang malam datang.
Ada pekat sunyi yang harus ditelan.
Hidup memang kadang-kadang harus begitu.
Kuta Bali. (Kilas balik ketika duduk di Kuta 26 Agustus 2006 dalam perjalanan pulang dari Seoul, Denpasar, Jakarta, Bandung).
Subscribe to:
Posts (Atom)
PEDENG JEREK WAE SUSU
Oleh: Fransiskus Borgias Dosen dan Peneliti Senior pada FF-UNPAR Bandung. Menyongsong Mentari Dengan Tari Puncak perayaan penti adala...
-
Oleh: Fransiskus Borgias M., (EFBE@fransisbm) Mazmur ini termasuk cukup panjang, yaitu terdiri atas 22 ayat, mengikuti 22 abjad Ib...
-
Oleh: Fransiskus Borgias M. Judul Mazmur ini dalam Alkitab ialah Doa mohon Israel dipulihkan. Judul itu mengandaikan bahwa keadaan Israe...
-
Oleh: Fransiskus Borgias M. Sebagai manusia yang beriman (percaya), kiranya kita semua sungguh-sungguh yakin dan percaya bahwa Tuhan itu...