MENIKMATI MAZMUR 82
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Judul Mazmur ini dalam Alkitab kita ialah “Allah dalam Sidang Ilahi.” Jelas judul ini memberi satu keunikan bagi Mazmur ini. Mazmur ini termasuk cukup pendek yaitu hanya terdiri atas 8 ayat saja. Oleh karena itu saya melihatnya sebagai satu kesatuan utuh saja, karena tidak dapat dibagi secara lebih rinci lagi. Jika kita membacanya dengan baik, maka jelas kelihatan bahwa mazmur ini dimulai dengan sebuah deskripsi tentang apa yang dilakukan Allah di surga. Di sana dikatakan bahwa “Allah berdiri dalam sidang ilahi, di antara para allah Ia menghakimi.”
Secara imajiner kita langsung bisa membayangkan suasana di dalam ruang sidang pengadilan surgawi itu. Dilukiskan di sana bahwa Allah berdiri di antara para allah untuk melakukan tindakan penghakiman atau pengadilan. Pertama sekali, sebutan “para allah” ini pasti saja membingungkan kita semua. Apa atau siapakah yang dimaksud? Sekali lagi, pertanyaan ini tidak mudah untuk dijawab. Tetapi demi sederhananya, kita pahami saja bahwa yang dimaksud di sini ialah para malaekat, walau usul ini juga masih cukup problematis dan belum tentu bisa diterima oleh semua orang. Kita tinggalkan saja persoalan itu sampai di situ. Mari kita melangkah lebih lanjut. Yang jelas di sini kita diberi gambaran bahwa Allah mengadakan sebuah sidang surgawi untuk melakukan penghakiman, pengadilan.
Nah, isi dari seluruh proses penghakiman/pengadilan itu sendiri dilukiskan dalam ayat 2-7. Dalam ayat 2 penghakiman/pengadilan itu dimulai dengan sebuah pertanyaan retoris, tetapi tidak begitu jelas pertanyaan itu ditujukan kepada siapa. Seperti sebuah pertanyaan yang menggantung saja. Tetapi pertanyaan itu mungkin saja ditujukan kepada para peserta dalam sidang surgawi itu (para allah atau para malaekat tadi). Dalam ayat 3-4 kita dapat melihat apa yang menjadi fokus perhatian Allah, yakni mengupayakan keadilan bagi orang-orang yang lemah, anak-anak yatim. Allah juga menyerukan agar hak orang-orang sengsara dan yang berkekurangan harus dibela. Tetapi dibela dari atau melawan siapa? Tentu saja dibela dari orang-orang fasik: orang lemah dan orang miskin harus dilepaskan dari tangan orang fasik dengan demikian mereka bisa luput. Di sini Allah dilukiskan sebagai sang Pembela dan sang Pembebas (the Liberating God). Itu tidak lain karena Allah adalah sang mahapengasih dan penyayang, the mercyful God, yang tentu saja lebih jauh memancar dan mengalir dari kenyataan bahwa Allah adalah kasih (Deus est charitas).
Ayat 5 agak sulit dipahami dalam konteks ini sekarang, sebab tidak jelas siapa yang dimaksud dengan ungkapan mereka di sini. Dalam bagian berikut ini saya ajukan beberapa kemungkinan pemahaman mengenai mereka itu. Pertama, kata mereka itu bisa berarti orang-orang yang lemah tadi. Jika inilah yang dimaksudkan, maka seruan ini bertujuan untuk sebuah penegakan moral orang fasik, mendidik mereka agar tidak lagi menjadi penindas dan penghisap. Kedua, kata mereka itu bisa juga berarti orang fasik itu sendiri. Jika ini yang dimaksud maka seruan dalam ayat 5 itu adalah sebuah seruan pedagogis moral juga untuk menyadarkan orang-orang fasik agar jangan menjadi batu sandungan atau scandalum bagi orang lemah dan tidak berdaya.
Bagi saya ayat 6 lebih sulit lagi untuk dijelaskan dan dipahami. Di sini kita membayangkan Allah sedang mengucapkan sesuatu kepada atau tentang para peserta dalam sidang surgawi tadi. Di sini ada keterangan mengenai status mereka. Yang jelas status mereka itu sangat unik. Di satu pihak mereka itu mempunyai martabat luhur karena mereka disebut anak-anak Yang Mahatinggi. Dalam artian itu mereka juga adalah makhluk imortal. Tetapi serentak di pihak yang lain, mereka juga makhluk yang fana, yang dapat mati, makhluk mortal, sama seperti nasib yang dialami oleh manusia yang hidup di muka bumi ini (ayat 7). Suatu saat mereka akan mati. Tetapi berbeda dari manusia, mereka hidup di hadapan Allah dalam ruang sidang pengadilan/penghakiman surgawi sebagaimana dikesankan dalam Mazmur ini.
Atas dasar pelukisan mengenai peran dan fokus Allah dalam sidang dewan surgawi itu, si pemazmur mengakhiri mazmur ini dengan sebuah doa permohonan (ayat 8). Dalam doalnya itu ia memohon agar Allah sudi bangun untuk menghakimi bumi ini; si pemazmur ini berani memanjatkan doa itu karena ia sangat yakin bahwa Allah-lah yang memiliki dan menguasai segala bangsa, bahkan Ia adalah sang penguasa seluruh alam semesta. Si pemazmur berdoa agar Allah sebagai penguasa segala bangsa mau menjadi hakim atas dunia dan manusia, sebab hanya penghakiman Allah sajalah yang benar dan adil, yang mendatangkan keadilan dan damai sejahtera bagi orang-orang miskin. Pengadilan manusia cenderung tidak adil dan menindas.
canticum solis adalah blogspot saya untuk pendalaman dan diskusi soal-soal filosofis, teologis, spiritualitas dan yang terkait. Kalau berkenan mohon menulis kesan atau komentar anda di bagian akhir dari artikel yang anda baca. Terima kasih... canticum solis is my blog in which I write the topics on philosophy, theology, spiritual life. If you don't mind, please give your comment or opinion at the end of any article you read. thanks a lot.....
Friday, February 24, 2012
Tuesday, February 7, 2012
MENIKMATI MAZMUR 81
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Mazmur ini mempunyai judul dalam Alkitab kita sbb: “Nyanyian pada waktu pembaruan perjanjian.” Judul ini memberi petunjuk kepada kita mengenai saat pemakaian (kapan) dan fungsi mazmur ini (dipakai dalam perayaan seperti apa). Dengan jelas dikatakan di dalam judul di atas tadi bahwa Mazmur ini dipakai pada waktu upacara pembaruan perjanjian.
Mazmur ini terdiri atas 17 ayat. Termasuk cukup panjang juga. Untuk dapat memahaminya dengan baik, saya akan mencoba membaginya dalam tiga bagian besar: Bagian I: ayat 1-6; Bagian II: ayat 7-8; Bagian III: ayat 9-17 (Bagian ini masih bisa dirinci lebih lanjut lagi menjadi empat bagian kecil: ayat 9-11, ayat 12-13, ayat 14-15, ayat 16-17).
Kita mulai dengan Bagian I: ayat 1-6. Di sini kita dapat membayangkan adanya seorang pemimpin nyanyian (biduan). Dalam ayat 2-4, sang pemimpin nyanyian itu mengajak umat untuk melakukan beberapa hal, yang ditunjukkan dengan beberapa kata kerja (berupa perintah): bersorak-soraklah bagi Allah, angkatlah lagu, bunyikanlah rebana, kecapi yang merdu, diiringi gambus. Tiuplah sangkakala. Semua alat itu tentu saja dimaksudkan untuk mengiringi nyanyian Mazmur tersebut. Dalam ayat 2 disebutkan dua keterangan tentang Allah, yaitu bahwa Allah adalah kekuatan kita dan Allah adalah Allah Yakub. Keduanya sama-sama menunjuk kepada penyelenggaraan Allah di dalam sejarah keselamatan umat Israel dari dulu sampai sekarang ini. Dalam ayat 5 diberikan alasan mengapa hal-hal di atas tadi harus dilakukan: Dikatakan bahwa hal-hal itu adalah sesuatu yang memang harus dilakukan, suatu ketetapan dan hukum dari Allah untuk dilakukan orang Israel. Allah memberi ketetapan dan hukum itu sebagai satu peringatan bagi Yusuf (ayat 6), ketika Allah maju melawan Mesir (Jelas di sini ada singgungan secara samar-samar terhadap peristiwa pembebasan Umat Israel di Laut Merah).
Sekarang saya mencoba melihat Bagian II: ayat 7-8. Tetapi sebelumnya saya masih mau mengatakan sesuatu tentang bagian terakhir dari unit terdahulu. Sesungguhnya harus dikatakan dengan jujur bahwa ayat 6c: terasa agak aneh dan agak sulit juga untuk menafsirkan dan memahaminya dalam konteks dan tempatnya sekarang ini. Tetapi menurut saya ayat 6c ini kiranya harus dibaca dalam kaitan erat dengan ayat 7. Itu sebabnya saya masukkan dalam uraian Bagian II ini. Bahasa yang dimaksudkan di sini ialah bahasa penindas dan bahasa penindasan, yang memang bertentangan dengan bahasa murung, ratapan, keluh-kesah yang disinggung dalam kitab Keluaran 3:7-8. Saya mengacu kepada Keluaran itu, karena sesungguhnya tindakan dan aksi Allah yang sama itulah yang disinggung dalam ayat 7; sebab ayat 7 ini menyinggung tindakan Allah dalam sejarah perbudakan Israel; Allah bertindak untuk membebaskan dan menyelamatkan, setelah Ia mendengar keluh-kesah dan ratap tangis umat Israel di dalam derita perbudakan dan penindasan. Dalam ayat 8 disinggung penyelenggaraan Allah dalam perjalanan umat Israel di padang gurun: termasuk pemeliharaan dan pengujian di Meriba (Lihat Mazmur 95:9).
Selanjutnya saya akan mencoba menjelaskan Bagian III dari mazmur ini. Di sini sang subjek pelaku berikut yang muncul ialah Allah sendiri. Ia meminta agar Israel sudi mendengarkan Dia, karena Dia mau memberi peringatan (ayat 9). Isi peringatan itu ialah tuntutan agar Israel tidak bengkang-bengkong imannya akan Allah; melainkan harus beriman lurus kepada Allah saja dan tidak kepada para dewa-dewa yang lain dari para bangsa di sekitar (ayat 10). Jelas ini adalah perintah dan tuntutan monoteisme yang tegas dan eksklusif. Tuntutan dan penegasan monoteistik ini dikaitkan dengan pengalaman sejarah, yaitu sejarah pembebasan; semuanya itu adalah dimaksudkan demi mencari hidup yang sejahtera dalam rupa kekenyangan dan makmur (ayat 11).
Tetapi ternyata umat tidak mau mendengarkan; umat menjadi umat yang tidak mudah untuk taat; mereka menjadi umat pembangkang, umat yang tegar tengkuk (sebuah istilah dari Kitab Ulangan, yang diangkat dari dunia pelatihan hewan untuk menjadi bagal ataupun tunggangan manusia). Ayat 12 melukiskan sikap tidak taat dari umat: dikatakan bahwa Israel tidak suka kepada Allah. Akibatnya kiranya sudah sangat jelas: Umat dibiarkan terus berada dalam kedegilan hatinya (ayat 13). Padahal jika umat taat, maka akan ada shalom (ayat 14-15): musuh dikalahkan, para lawan dilibas. Dalam ayat 16, dilukiskan nasib kontras yang dialami orang yang tidak percaya kepada Allah, yaitu mereka yang benci kepada Allah. Nasib mereka akan sangat buruk (ayat 16). Nasib positif akan dialami umat; mereka diberi kemakmuran yang dilambangkan dengan gandum dan madu di gunung batu. Itulah tanah terjanji, tanah yang berlimpah susu dan madu, yang sangat menggiurkan, sebagaimana pernah dikatakan oleh dua mata-mata Yosua dahulu ketika mereka kembali dari kegiatan mengintai Tanah Terjanji di seberang sungai Yordan.
Mazmur ini mempunyai judul dalam Alkitab kita sbb: “Nyanyian pada waktu pembaruan perjanjian.” Judul ini memberi petunjuk kepada kita mengenai saat pemakaian (kapan) dan fungsi mazmur ini (dipakai dalam perayaan seperti apa). Dengan jelas dikatakan di dalam judul di atas tadi bahwa Mazmur ini dipakai pada waktu upacara pembaruan perjanjian.
Mazmur ini terdiri atas 17 ayat. Termasuk cukup panjang juga. Untuk dapat memahaminya dengan baik, saya akan mencoba membaginya dalam tiga bagian besar: Bagian I: ayat 1-6; Bagian II: ayat 7-8; Bagian III: ayat 9-17 (Bagian ini masih bisa dirinci lebih lanjut lagi menjadi empat bagian kecil: ayat 9-11, ayat 12-13, ayat 14-15, ayat 16-17).
Kita mulai dengan Bagian I: ayat 1-6. Di sini kita dapat membayangkan adanya seorang pemimpin nyanyian (biduan). Dalam ayat 2-4, sang pemimpin nyanyian itu mengajak umat untuk melakukan beberapa hal, yang ditunjukkan dengan beberapa kata kerja (berupa perintah): bersorak-soraklah bagi Allah, angkatlah lagu, bunyikanlah rebana, kecapi yang merdu, diiringi gambus. Tiuplah sangkakala. Semua alat itu tentu saja dimaksudkan untuk mengiringi nyanyian Mazmur tersebut. Dalam ayat 2 disebutkan dua keterangan tentang Allah, yaitu bahwa Allah adalah kekuatan kita dan Allah adalah Allah Yakub. Keduanya sama-sama menunjuk kepada penyelenggaraan Allah di dalam sejarah keselamatan umat Israel dari dulu sampai sekarang ini. Dalam ayat 5 diberikan alasan mengapa hal-hal di atas tadi harus dilakukan: Dikatakan bahwa hal-hal itu adalah sesuatu yang memang harus dilakukan, suatu ketetapan dan hukum dari Allah untuk dilakukan orang Israel. Allah memberi ketetapan dan hukum itu sebagai satu peringatan bagi Yusuf (ayat 6), ketika Allah maju melawan Mesir (Jelas di sini ada singgungan secara samar-samar terhadap peristiwa pembebasan Umat Israel di Laut Merah).
Sekarang saya mencoba melihat Bagian II: ayat 7-8. Tetapi sebelumnya saya masih mau mengatakan sesuatu tentang bagian terakhir dari unit terdahulu. Sesungguhnya harus dikatakan dengan jujur bahwa ayat 6c: terasa agak aneh dan agak sulit juga untuk menafsirkan dan memahaminya dalam konteks dan tempatnya sekarang ini. Tetapi menurut saya ayat 6c ini kiranya harus dibaca dalam kaitan erat dengan ayat 7. Itu sebabnya saya masukkan dalam uraian Bagian II ini. Bahasa yang dimaksudkan di sini ialah bahasa penindas dan bahasa penindasan, yang memang bertentangan dengan bahasa murung, ratapan, keluh-kesah yang disinggung dalam kitab Keluaran 3:7-8. Saya mengacu kepada Keluaran itu, karena sesungguhnya tindakan dan aksi Allah yang sama itulah yang disinggung dalam ayat 7; sebab ayat 7 ini menyinggung tindakan Allah dalam sejarah perbudakan Israel; Allah bertindak untuk membebaskan dan menyelamatkan, setelah Ia mendengar keluh-kesah dan ratap tangis umat Israel di dalam derita perbudakan dan penindasan. Dalam ayat 8 disinggung penyelenggaraan Allah dalam perjalanan umat Israel di padang gurun: termasuk pemeliharaan dan pengujian di Meriba (Lihat Mazmur 95:9).
Selanjutnya saya akan mencoba menjelaskan Bagian III dari mazmur ini. Di sini sang subjek pelaku berikut yang muncul ialah Allah sendiri. Ia meminta agar Israel sudi mendengarkan Dia, karena Dia mau memberi peringatan (ayat 9). Isi peringatan itu ialah tuntutan agar Israel tidak bengkang-bengkong imannya akan Allah; melainkan harus beriman lurus kepada Allah saja dan tidak kepada para dewa-dewa yang lain dari para bangsa di sekitar (ayat 10). Jelas ini adalah perintah dan tuntutan monoteisme yang tegas dan eksklusif. Tuntutan dan penegasan monoteistik ini dikaitkan dengan pengalaman sejarah, yaitu sejarah pembebasan; semuanya itu adalah dimaksudkan demi mencari hidup yang sejahtera dalam rupa kekenyangan dan makmur (ayat 11).
Tetapi ternyata umat tidak mau mendengarkan; umat menjadi umat yang tidak mudah untuk taat; mereka menjadi umat pembangkang, umat yang tegar tengkuk (sebuah istilah dari Kitab Ulangan, yang diangkat dari dunia pelatihan hewan untuk menjadi bagal ataupun tunggangan manusia). Ayat 12 melukiskan sikap tidak taat dari umat: dikatakan bahwa Israel tidak suka kepada Allah. Akibatnya kiranya sudah sangat jelas: Umat dibiarkan terus berada dalam kedegilan hatinya (ayat 13). Padahal jika umat taat, maka akan ada shalom (ayat 14-15): musuh dikalahkan, para lawan dilibas. Dalam ayat 16, dilukiskan nasib kontras yang dialami orang yang tidak percaya kepada Allah, yaitu mereka yang benci kepada Allah. Nasib mereka akan sangat buruk (ayat 16). Nasib positif akan dialami umat; mereka diberi kemakmuran yang dilambangkan dengan gandum dan madu di gunung batu. Itulah tanah terjanji, tanah yang berlimpah susu dan madu, yang sangat menggiurkan, sebagaimana pernah dikatakan oleh dua mata-mata Yosua dahulu ketika mereka kembali dari kegiatan mengintai Tanah Terjanji di seberang sungai Yordan.
Saturday, January 28, 2012
MENIKMATI MAZMUR 80
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Judul Mazmur ini dalam Kitab Suci kita ialah “Doa untuk keselamatan Israel.” Mazmur ini terdiri atas 20 ayat. Untk dapat memahaminya saya mencoba membaginya dalam beberapa unit kecil. Unit I mencakup ayat 1-4, Unit II: ayat 5-8; Unit III: ay.9-20 (bagian ini masih bisa dirinci lebih lanjut lagi sbb: 9-12, 13-14, 15-20).
Dalam unit I ada doa kepada Allah yang di sini dijuluki sebagai gembala Israel (ayat 1). Hal ini tentu saja langsung mengingatkan kita akan mazmur lain tentang Tuhan sebagai Gembala itu (Mazmur 23). Sebagai gembala Ia telah menuntun Yusuf (yang dibuang ke Mesir tetapi di sana ia justru berhasil menjadi penguasa besar negeri itu). Di sini Allah juga diyakini sebagai Allah yang bertahta di atas para malaekat. Dia diharapkan untuk tampil bersinar (ayat 2) dan menunjukkan keperkasaanNya untuk menyelamatkan umat (ayat 3). Sekali lagi dalam ayat 4, ada permohonan agar sinar wajah Allah itu terpancar, dan hal itu akan mendatangkan efek shalom bagi umat.
Unit II berbicara tentang nasib yang dialami umat. Rupanya doa yang dipanjatkan dalam Unit I, tidak segera dikabulkan. Itulah sebabnya dalam ayat 5 dimulai dengan sebuah pertanyaan: berapa lagi lagi....etc. Murka Allah menyebabkan umat menderita, walau mereka sudah berdoa. Itu sebabnya umat menangis dan meratap; hal itu diungkapkan secara hiperbol bahwa air mata itu menjadi makanan dan minuman karena sedemikian banyaknya ia mengalir dan menetes. Kesedihan itu adalah pengalaman internal umat; masih ada segi external dari nasib tragis itu: mereka menjadi bahan olokan bangsa lain, mereka menjadi percederaan para tetangga; mereka menjadi tertawaan orang lain. Oleh karena itu, unit ini lagi-lagi diakhiri dengan sebuah doa, memohon agar sinar Allah yang terpancar yang diharapkan bisa mendatangkan efek shalom juga. Kegelapan mematikan. Hanya cahaya (sinar, terang) yang bisa menghidupkan.
Dalam unit III, dimulai dengan penelusuran historis tentang pemeliharaan dan penyelenggaraan Allah atas Israel. Titik awal sejarah yang ditelusuri di sini dimulai dengan titik awal di Mesir. Israel diibaratkan sebagai pokok anggur yang diambil Allah sendiri dari negeri Mesir, lalu ditanam di Tanah Terjanji setelah Allah menghalau bangsa-bangsa (ayat 9; di sini kiranya ada alusi samar-samar tentang sejarah penaklukan negeri Palestina yang dikisahkan secara rinci dalam Kitab Keluaran dan Yosua). Setelah ditanam, pokok anggur itu berurat-berakar dan berkembang mekar (ayat 10). Pokok anggur itu tumbuh sedemikian subur dan rindangnya sampai bisa melindungi gunung-gunung dan pohon-pohon aras Allah (ayat 11). Jelas ini adalah sebuah ibarat hiperbolistik mengenai pertumbuhan umat Israel setelah mereka mulai bisa menduduki dan menetap di Tanah Kanaan. Anggur itu menjalar dan merambat ke mana-mana sampai ke laut (ke arah Barat), dan Eufrat (ke arah Timur) (ayat 12). Tema ibarat kebun anggur ini juga dapat kita temukan dalam kitab nabi Yesaya (5). Di sana pun Israel diibaratkan sebagai kebun anggur istimewa Allah, walau nasibnya juga tragis dan menyedihkan.
Kemudian menyusul nasib tragis yang menimpa kebun anggur itu. Dikatakan bahwa temboknya diruntuhkan Allah sehingga buahnya dipetik oleh setiap orang, digerogoti babi hutan, dan dimakan oleh binatang-binatang di padang. Lalu muncullah permohonan agar Allah sudi berbelas kasih lagi kepada pokok yang telah ditanamNya dengan tanganNya sendiri (ay.15-16). Diharapkan agar orang-orang yang selama ini telah membakar kebun anggur itu binasa oleh murka Allah (ay 17). Pemazmur berharap agar Allah sudi melindungi umat pilihan-Nya (ay.18). Jika semua itu terjadi maka mereka berjanji untuk hidup setia lagi pada hukum-hukum Allah. Jika mereka hidup, mereka akan memuliakan namaAllah (ay.19).
Mazmur ini ditutup dengan sebuah doa permohonan yang mengandung nada-nada pengharapan, yang diulang sebanyak tiga kali dalam seluruh bentangan mazmur ini sebagai semacam ayat ulangan atau refrein: “Ya TUHAN, Allah semesta alam, pulihkanlah kami, buatlah wajah-Mu bersinar, maka kami akan selamat” (ay.20, bdk.ay.4 dan 8).
Judul Mazmur ini dalam Kitab Suci kita ialah “Doa untuk keselamatan Israel.” Mazmur ini terdiri atas 20 ayat. Untk dapat memahaminya saya mencoba membaginya dalam beberapa unit kecil. Unit I mencakup ayat 1-4, Unit II: ayat 5-8; Unit III: ay.9-20 (bagian ini masih bisa dirinci lebih lanjut lagi sbb: 9-12, 13-14, 15-20).
Dalam unit I ada doa kepada Allah yang di sini dijuluki sebagai gembala Israel (ayat 1). Hal ini tentu saja langsung mengingatkan kita akan mazmur lain tentang Tuhan sebagai Gembala itu (Mazmur 23). Sebagai gembala Ia telah menuntun Yusuf (yang dibuang ke Mesir tetapi di sana ia justru berhasil menjadi penguasa besar negeri itu). Di sini Allah juga diyakini sebagai Allah yang bertahta di atas para malaekat. Dia diharapkan untuk tampil bersinar (ayat 2) dan menunjukkan keperkasaanNya untuk menyelamatkan umat (ayat 3). Sekali lagi dalam ayat 4, ada permohonan agar sinar wajah Allah itu terpancar, dan hal itu akan mendatangkan efek shalom bagi umat.
Unit II berbicara tentang nasib yang dialami umat. Rupanya doa yang dipanjatkan dalam Unit I, tidak segera dikabulkan. Itulah sebabnya dalam ayat 5 dimulai dengan sebuah pertanyaan: berapa lagi lagi....etc. Murka Allah menyebabkan umat menderita, walau mereka sudah berdoa. Itu sebabnya umat menangis dan meratap; hal itu diungkapkan secara hiperbol bahwa air mata itu menjadi makanan dan minuman karena sedemikian banyaknya ia mengalir dan menetes. Kesedihan itu adalah pengalaman internal umat; masih ada segi external dari nasib tragis itu: mereka menjadi bahan olokan bangsa lain, mereka menjadi percederaan para tetangga; mereka menjadi tertawaan orang lain. Oleh karena itu, unit ini lagi-lagi diakhiri dengan sebuah doa, memohon agar sinar Allah yang terpancar yang diharapkan bisa mendatangkan efek shalom juga. Kegelapan mematikan. Hanya cahaya (sinar, terang) yang bisa menghidupkan.
Dalam unit III, dimulai dengan penelusuran historis tentang pemeliharaan dan penyelenggaraan Allah atas Israel. Titik awal sejarah yang ditelusuri di sini dimulai dengan titik awal di Mesir. Israel diibaratkan sebagai pokok anggur yang diambil Allah sendiri dari negeri Mesir, lalu ditanam di Tanah Terjanji setelah Allah menghalau bangsa-bangsa (ayat 9; di sini kiranya ada alusi samar-samar tentang sejarah penaklukan negeri Palestina yang dikisahkan secara rinci dalam Kitab Keluaran dan Yosua). Setelah ditanam, pokok anggur itu berurat-berakar dan berkembang mekar (ayat 10). Pokok anggur itu tumbuh sedemikian subur dan rindangnya sampai bisa melindungi gunung-gunung dan pohon-pohon aras Allah (ayat 11). Jelas ini adalah sebuah ibarat hiperbolistik mengenai pertumbuhan umat Israel setelah mereka mulai bisa menduduki dan menetap di Tanah Kanaan. Anggur itu menjalar dan merambat ke mana-mana sampai ke laut (ke arah Barat), dan Eufrat (ke arah Timur) (ayat 12). Tema ibarat kebun anggur ini juga dapat kita temukan dalam kitab nabi Yesaya (5). Di sana pun Israel diibaratkan sebagai kebun anggur istimewa Allah, walau nasibnya juga tragis dan menyedihkan.
Kemudian menyusul nasib tragis yang menimpa kebun anggur itu. Dikatakan bahwa temboknya diruntuhkan Allah sehingga buahnya dipetik oleh setiap orang, digerogoti babi hutan, dan dimakan oleh binatang-binatang di padang. Lalu muncullah permohonan agar Allah sudi berbelas kasih lagi kepada pokok yang telah ditanamNya dengan tanganNya sendiri (ay.15-16). Diharapkan agar orang-orang yang selama ini telah membakar kebun anggur itu binasa oleh murka Allah (ay 17). Pemazmur berharap agar Allah sudi melindungi umat pilihan-Nya (ay.18). Jika semua itu terjadi maka mereka berjanji untuk hidup setia lagi pada hukum-hukum Allah. Jika mereka hidup, mereka akan memuliakan namaAllah (ay.19).
Mazmur ini ditutup dengan sebuah doa permohonan yang mengandung nada-nada pengharapan, yang diulang sebanyak tiga kali dalam seluruh bentangan mazmur ini sebagai semacam ayat ulangan atau refrein: “Ya TUHAN, Allah semesta alam, pulihkanlah kami, buatlah wajah-Mu bersinar, maka kami akan selamat” (ay.20, bdk.ay.4 dan 8).
MENIKMATI MAZMUR 79
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Judul Mazmur ini dalam Alkitab kita ialah “Doa umat yang terancam.” Untuk dapat memahami Mazmur ini dengan baik, saya mencoba membaginya menjadi empat bagian yang tentu erat terkait satu sama lain, yaitu ayat 1-4, ayat 5-7, ayat 8-10, dan akhirnya ayat 11-13.
Ayat 1 dimulai dengan sebuah seruan kepada Allah. Jadi, seperti dikatakan dalam judul di atas tadi, jelas ini adalah sebuah doa. Si pendoa melaporkan tindakan kejam dan bengis para bangsa lain terhadap kaumnya. Secara khusus di sini disebutkan tiga kelompok tindakan kejam dan bengis itu. Pertama, para bangsa itu menduduki tanah milik Tuhan sendiri lalu mereka menajiskan bait kudus Tuhan yang ada di sana dan menghancurkan kota Yerusalem (ay.1). Ini adalah petunjuk historis bahwa Mazmur ini ditulis setelah Israel sudah memiliki Bait Allah, dan sekarang Bait Allah itu dihancurkan. Mungkin yang disinggung di sini ialah peristiwa penghancuran Bait Allah dan kota Yerusalem pada saat terjadi pendudukan oleh Babel pada abad ke-enam sebelum Masehi.
Kedua, para bangsa itu tidak hanya kejam terhadap tanah dan bangunan, melainkan juga kejam terhadap manusia; fanoklasme (penghancuran kuil atau tempat kudus) bermuara pada antropoklasme (penghancuran manusia), pada homisida, pada genosida. Ayat 2 melukiskan kekejaman itu dengan sangat vulgar: mayat-mayat hamba Allah dijadikan sebagai santapan burung bangkai dan binatang-binatang buas. Itu adalah kekejaman yang luar biasa, bahkan termasuk kategori penghinaan yang teramat mengerikan karena tubuh-tubuh orang yang mati tidak diperlakukan sebagaimana selayaknya dan dimakamkan, melainkan dijadikan makanan binatang buas. Ketiga, para bangsa itu melakukan pembantaian massal (masacre) sehingga darah pun tertumpah seperti air mengalir. Jelas ini adalah sebuah pelukisan yang teramat tragis, karena tidak ada penguburan; mayat-mayat manusia hanya menjadi makanan burung dan binatang buas saja (ay.3). Akibat dari itu semua dilukiskan dalam ayat 4: mereka menjadi celaan, cemooh, dan bahan olokan para bangsa sekitar. Mereka ditertawakan. Mereka dipermalukan. Itulah inti dari bagian pertama mazmur ini.
Bagian II mencoba melukiskan situasi di atas situasi tersebut. Tindakan para bangsa sangat kejam; di tengah situasi itu umat mati tidak berdaya. Oleh karena itu, mereka hanya bisa berharap pada Allah saja. Situasi ini diyakini sebagai akibat dari murka Allah terhadap mereka. Maka si pemazmur memohon agar murka itu tidak ditimpakan kepada Israel (ay.5), melainkan ditumpahkan kepada para bangsa lain (ay.6). Alasan bagi permohonan ini dilukiskan dalam ayat 7: “...sebab mereka telah memakan habis Yakub, dan tempat kediamannya mereka hancurkan.”
Pemazmur menyadari bahwa nenek moyang mereka memang dulu telah berdoa. Tetapi ia memohon dengan sangat agar hukuman akibat dosa para leluhur itu jangan sampai ditimpakan kepada mereka (ay.8a). Sebaliknya ia berharap agar Allah sudi berbelas-kasih kepada mereka, karena mereka sudah lemah dan tidak berdaya sama sekali (ay.8b). Ia meminta tolong kepada Allah, tidak lagi demi jasa baiknya sendiri, melainkan demi kemuliaan nama Allah sendiri (sebuah pemikiran teologis yang juga dapat kita jumpai dalam kitab nabi Yehezkiel).
Tetapi mengapa sampai demikian? Karena dosa umat telah mendatangkan cemooh terhadap Allah. Oleh karena itu, nasib umat yang selamat pasti akan memuliakan Allah. Cemooh dari bangsa lain itu terungkap dalam pertanyaan retoris yang ada dalam ayat 10: “Mengapa bangsa-bangsa lain boleh berkata: Di mana Allah mereka?” Dalam deru rasa marahnya si pemazmur akhirnya bahkan sampai tega juga meminta agar Allah melakukan balas dendam terhadap para bangsa lain itu (ay.10c). Ide balas dendam itu dilanjutkan dalam ayat 11-12. Jika hal itu sudah terjadi, maka terjadilah pemulihan (ay.13). Pengalaman positif itulah yang menjadi alasan bagi umat dan si pemazmur untuk bersyukur dan mewartakan pujian untuk Allah selama-lamanya, sebab tangan kanan Tuhan telah bertindak pada hari ini, sehingga kita patut merayakannya dengan hati gembira dan penuh sorak-sorai.
Judul Mazmur ini dalam Alkitab kita ialah “Doa umat yang terancam.” Untuk dapat memahami Mazmur ini dengan baik, saya mencoba membaginya menjadi empat bagian yang tentu erat terkait satu sama lain, yaitu ayat 1-4, ayat 5-7, ayat 8-10, dan akhirnya ayat 11-13.
Ayat 1 dimulai dengan sebuah seruan kepada Allah. Jadi, seperti dikatakan dalam judul di atas tadi, jelas ini adalah sebuah doa. Si pendoa melaporkan tindakan kejam dan bengis para bangsa lain terhadap kaumnya. Secara khusus di sini disebutkan tiga kelompok tindakan kejam dan bengis itu. Pertama, para bangsa itu menduduki tanah milik Tuhan sendiri lalu mereka menajiskan bait kudus Tuhan yang ada di sana dan menghancurkan kota Yerusalem (ay.1). Ini adalah petunjuk historis bahwa Mazmur ini ditulis setelah Israel sudah memiliki Bait Allah, dan sekarang Bait Allah itu dihancurkan. Mungkin yang disinggung di sini ialah peristiwa penghancuran Bait Allah dan kota Yerusalem pada saat terjadi pendudukan oleh Babel pada abad ke-enam sebelum Masehi.
Kedua, para bangsa itu tidak hanya kejam terhadap tanah dan bangunan, melainkan juga kejam terhadap manusia; fanoklasme (penghancuran kuil atau tempat kudus) bermuara pada antropoklasme (penghancuran manusia), pada homisida, pada genosida. Ayat 2 melukiskan kekejaman itu dengan sangat vulgar: mayat-mayat hamba Allah dijadikan sebagai santapan burung bangkai dan binatang-binatang buas. Itu adalah kekejaman yang luar biasa, bahkan termasuk kategori penghinaan yang teramat mengerikan karena tubuh-tubuh orang yang mati tidak diperlakukan sebagaimana selayaknya dan dimakamkan, melainkan dijadikan makanan binatang buas. Ketiga, para bangsa itu melakukan pembantaian massal (masacre) sehingga darah pun tertumpah seperti air mengalir. Jelas ini adalah sebuah pelukisan yang teramat tragis, karena tidak ada penguburan; mayat-mayat manusia hanya menjadi makanan burung dan binatang buas saja (ay.3). Akibat dari itu semua dilukiskan dalam ayat 4: mereka menjadi celaan, cemooh, dan bahan olokan para bangsa sekitar. Mereka ditertawakan. Mereka dipermalukan. Itulah inti dari bagian pertama mazmur ini.
Bagian II mencoba melukiskan situasi di atas situasi tersebut. Tindakan para bangsa sangat kejam; di tengah situasi itu umat mati tidak berdaya. Oleh karena itu, mereka hanya bisa berharap pada Allah saja. Situasi ini diyakini sebagai akibat dari murka Allah terhadap mereka. Maka si pemazmur memohon agar murka itu tidak ditimpakan kepada Israel (ay.5), melainkan ditumpahkan kepada para bangsa lain (ay.6). Alasan bagi permohonan ini dilukiskan dalam ayat 7: “...sebab mereka telah memakan habis Yakub, dan tempat kediamannya mereka hancurkan.”
Pemazmur menyadari bahwa nenek moyang mereka memang dulu telah berdoa. Tetapi ia memohon dengan sangat agar hukuman akibat dosa para leluhur itu jangan sampai ditimpakan kepada mereka (ay.8a). Sebaliknya ia berharap agar Allah sudi berbelas-kasih kepada mereka, karena mereka sudah lemah dan tidak berdaya sama sekali (ay.8b). Ia meminta tolong kepada Allah, tidak lagi demi jasa baiknya sendiri, melainkan demi kemuliaan nama Allah sendiri (sebuah pemikiran teologis yang juga dapat kita jumpai dalam kitab nabi Yehezkiel).
Tetapi mengapa sampai demikian? Karena dosa umat telah mendatangkan cemooh terhadap Allah. Oleh karena itu, nasib umat yang selamat pasti akan memuliakan Allah. Cemooh dari bangsa lain itu terungkap dalam pertanyaan retoris yang ada dalam ayat 10: “Mengapa bangsa-bangsa lain boleh berkata: Di mana Allah mereka?” Dalam deru rasa marahnya si pemazmur akhirnya bahkan sampai tega juga meminta agar Allah melakukan balas dendam terhadap para bangsa lain itu (ay.10c). Ide balas dendam itu dilanjutkan dalam ayat 11-12. Jika hal itu sudah terjadi, maka terjadilah pemulihan (ay.13). Pengalaman positif itulah yang menjadi alasan bagi umat dan si pemazmur untuk bersyukur dan mewartakan pujian untuk Allah selama-lamanya, sebab tangan kanan Tuhan telah bertindak pada hari ini, sehingga kita patut merayakannya dengan hati gembira dan penuh sorak-sorai.
Thursday, December 29, 2011
PREFASI NATAL I, II, III
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Para sabahat dan pembaca nan budiman dan terkasih. Pada masa Natal ini, perkenankan saya menampilkan kepada para pembaca sekalian sebuah refleksi singkat dan sederhana mengenai Prefasi yang dipergunakan selama perayaan Ekaristi pada Masa Natal. Buku Tata Perayaan Ekaristi kita menyediakan tiga Prefasi Natal (yaitu Prefasi Natal I,Prefasi Natal II, dan Prefasi Natal III). Pada kesempatan ini saya akan berusaha mencoba menggali barang sedikit kandungan warta, keyakinan, dan pandangan teologis yang ada di dalam ketiga Prefasi itu. Saya ingin melihatnya sebagai satu kesatuan tematis yang sambung menyambung dalam sebuah catatan ringan di sini. Fokus utama ketiga prefasi itu pada dasarnya ialah misteri peristiwa inkarnasi itu.
Saya mulai dengan Prefasi Natal I. Prefasi Natal I ini mempunyai judul kecil yang sangat penting dan menarik; judul kecil ini merupakan salah satu kunci untuk dapat memahami seluruh arah dasar dan isi Prefasi ini. Judul kecil itu ialah sbb: Yesus Sang Terang. Jadi, prefasi ini mau memperkenalkan dan mewartakan tentang Yesus Kristus sebagai sang Terang atau Cahaya. Sebutan atau gelar ini serta mengingatkan saya akan salah satu sebutan mengenai Allah dalam Credo kita: Deum de Deo, Lumen de Lumnine. Jika Yesus diwartakan sebagai Terang atau Cahaya, maka hal itu berarti Ia adalah Allah. Sebelum melangkah lebih lanjut, sebaiknya saya memberi sebuah keterangan umum mengenai ketiga Prefasi ini, yaitu bahwa Ketiga Prefasi Natal ini mempunyai keterangan rubrik yang sama. Dalam rubrik itu ada keterangan mengenai kapan ketiga prefasi natal ini dipakai. Rubrik ini menunjuk pada dua saat penting pemakaian ketiga Prefasi ini. Pertama, dikatakan bahwa Prefasi ini dipakai dalam Perayaan Ekaristi Hari Raya Natal dan Selama Oktaf Natal, termasuk yang biasanya mempunyai prefasi khusus, kecuali kalau prefasi khusus itu menyangkut misteri ilahi atau pribadi ilahi. Artinya jika dalam prefasi itu disinggung misteri atau pribadi ilahi maka tidak usah diganti; jika tidak maka harus diganti dengan Prefasi yang eksplisit ini. Kedua, prefasi ini juga dipakai dalam Perayaan Ekaristi harian sepanjang Masa Natal (TPE, hal.50, 51,52).
Selama ini kita semua sudah tahu bahwa bagian Protokol prefasi selalu mengungkapkan kewajiban fundamental rasa syukur kita kepada Allah yang disusul dengan penjelasan mengenai alasan untuk rasa syukur itu. Pada Prefasi Natal I ini alasan bersyukur itu ialah misteri inkarnasi, yaitu misteri Sabda menjadi manusia, misterium verbum caro factum est. Itulah peristiwa paling fundamental dari iman Kristiani, karena dengan dan melalui peristiwa itu kita percaya bahwa Allah telah memancarkan keagungan-Nya yang tidak terperikan ke hadapan kita. Ia yang bertahta dalam terang yang tiada terhampiri, kini menjadi bisa kelihatan. Buah hasil dari proses penyingkapan itu ialah bahwa kita dapat mengenal Allah yang tidak kelihatan, melalui wujud Putera-Nya yang tidak lain adalah sang Juru Selamat kita, Yesus Kristus. Itulah sebabnya peristiwa ini sangat penting dan sangat fundamental bagi kita dan bahkan bagi seluruh umat manusia. Maka tidaklah mengherankan bahwa misteri inkarnasi ini kita rayakan dengan sangat meriah dan semarak. Bahkan menurut penetapan TPE, kita harus membungkukkan badan (tidak hanya sekadar menundukkan kepala) pada saat kita mengucapkan misteri itu di dalam Credo kita tepat pada saat kita mengucapkan frasa berikut ini: “...yang dikandung dari Roh Kudus dan dilahirkan oleh Perawan Maria.” Penetapan itu berlaku untuk Perayaan Ekaristi hari Minggu biasa pada umumnya. Sedangkan khusus pada perayaan Ekaristi Natal ditetapkan bahwa kita mengucapkan hal itu dengan berlutut. Itu adalah sebuah tanda hormat yang sangat tinggi terhadap misteri inkarnasi itu. Sayang, belum semua gereja, dan belum semua pastor menyadari adanya penetapan seperti itu dalam TPE kita, dan karena itu mereka juga belum melaksanakannya dengan sebaik-baiknya. Padahal hal itu sangat penting dan mendasar.
Selanjutnya dikatakan bahwa sinar surgawi, yaitu Yesus Kristus sendiri menembus kabut yang selama ini telah menutup dan menyelimuti hati dan budi manusia. Agnostos Theos menjadi Gnostos Theos. “Allah yang tidak dikenal” menjadi “Allah yang dapat dikenal.” Itu semua dapat terjadi berkat peristiwa inkarnasi. Peristiwa inkarnasi ini mempunyai efek yang sangat besar bagi cakrawala penghayatan iman kita. Yaitu berkat peristiwa itu maka terbukalah sebuah cakrawala baru yang sangat luas terbentang dalam perspektif penghayatan iman dan pengharapan kita. Pada gilirannya kita pun dapat mendambakan kasih karunia dan keselamatan Allah, sesuatu yang tadinya sangat gelap dan hampir tidak terbayangkan, tetapi kini menjadi terang benderang karena kabut tebal itu telah ditembusi oleh cahaya surgawi itu sendiri. Itulah alasan yang paling mendasar mengapa bagi kita untuk ikut serta dalam kidung pujian para malaekat dalam liturgi agung dan abadi mereka di surga dengan memadahkan kidung tresahion atau the tripple holy itu sekarang dan di sini selama hidup kita di dunia ini.
Sekarang saya mau mengulas sedikit mengenai Prefasi Natal II. Prefasi ini mempunyai judul kecil yang menarik dan juga pasti sangat penting sebagai kunci untuk dapat memahami pesan dan warta dasar Prefasi ini. Judul kecilnya ialah: Segala Sesuatu Dibarui Karena Penjelmaan Kristus. Jadi, warta dasarnya ialah mengenai Pembaharuan karena misteri Inkarnasi. Keterangan mengenai rubrik sudah tercakup di bagian awal tulisan singkat dan sederhana ini. Prefasi ini selanjutnya memberi segi yang lain dari alasan untuk ekspresi rasa syukur kita kepada Allah. Tetapi sesungguhnya masih berkutat di sekitar misteri peristiwa inkarnasi itu juga, sebagaimana sudah ditetapkan pada awal tulisan ini. Natal adalah perayaan misteri Kelahiran sang Putera, yang kita yakini sangat agung dan tidak terperikan. Dikatakan sangat agung karena Allah yang tidak dapat kelihatan, kini menjadi tampak sebagai manusia dan tinggal di antara kita. Tentu hal ini adalah sebuah misteri yang teramat agung, misteri inkarnasi, Allah menjelma menjadi manusia.
Lalu tampak sebuah unsur baru yang disebut di sini, yakni aspek sejarah. Kita yakin, Allah sebagai sang penguasa sejarah, penguasa awal dan akhir, titik alpha dan omega, hidup dan ada melampaui waktu dan sejarah itu sendiri. Dikatakan melampaui waktu karena Ia sudah ada sebelum ada waktu, sebelum segala abad. Kini, Dia yang melampaui waktu itu, mulai memasuki waktu dan dengan itu Ia menjadikan segala sesuatu di dalam waktu itu menjadi baru. Waktu menjadi waktu yang sangat istimewa, chronos menjadi kairos. Sejarah lalu menjadi sejarah keselamatan, heilgesichte, salvation history. Tidak hanya itu saja. Misteri penciptaan disinggung lagi di sini karena dalam prefasi ini disinggung mengenai pemulihan keutuhan ciptaan dan alam semesta. Jadi, inkarnasi memperbarui penciptaan. Termasuk umat manusia di dalamnya. Di sini teringatlah kita akan dosa manusia pertama; itulah kesesatan manusia yang disinggung dalam prefasi ini. Dosa asali itu (original sin), kini dipulihkan dengan rahmat asali (original blessing) yang berasal dan datang dari Allah sendiri. Hal itulah yang memungkinkan manusia dapat berjalan menuju ke kebahagiaan sejati dan abadi, tentu dengan tuntunan Allah sendiri. Itulah yang menjadi alasan paling mendasar bagi kita untuk ikut serta dalam liturgi abadi nan agung para malaekat di surga dengan menggemakan di dunia ini kidung pujian para malaekat, the tripple holy itu, tresagion itu.
Selanjutnya saya menggali warta dan pesan teologis dalam Prefasi Natal III. Sebagaimana kedua Prefasi terdahulu, Prefasi ini pun mempunyai sebuah judul kecil yang sangat menarik dan juga sangat penting sebagai kunci untuk memahami warta dan pesan dasar Prefasi ini. Judul kecilnya ialah: Hidup yang Fana Diresapi Daya Ilahi. Jadi, prefasi ini menyoroti kefanaan yang mengalami proses transformasi karena pengaruh Daya Ilahi. Perlu diperhatikan juga bahwa Prefasi Natal III ini sangat singkat, jika dibandingkan dengan kedua prefasi Natal terdahulu.
Seperti kedua prefasi natal terdahulu, prefasi III ini juga masih berkutat di sekitar misteri inkarnasi. Hanya saja ada segi lain yang ditonjolkan di sini. Alasan kita mengucap syukur dalam prefasi ini ialah kenyataan bahwa karya penyelamatan Allah bersinar di tengah kita umat manusia. Dan hal itu mungkin terjadi karena peristiwa inkarnasi. Dalam peristiwa itu, Sabda Allah menjadi manusia lemah. Di sini disinggung mengenai teologi kenosis itu, seperti yang disinggung dalam Filipi 2 itu. Tetapi berbeda dengan ide kenosis dalam surat Paulus itu, yang disinggung di sini bukan terutama plerosis sang firman itu sendiri, melainkan terutama sekali disinggung peristiwa exaltatio atau bahkan plerosis hidup manusia itu sendiri, transformasi kefanaan hidup manusia oleh daya keilahian. Sebab di sana dikatakan bahwa Sabda menjadi manusia lemah, supaya hidup kami yang rapuh dan fana ini diresapi oleh daya ilahi-Mu yang abadi. Dan hal itu terjadi dalam dan karena Kristus Tuhan kami.
Plerosis dan exaltatio hidup kita itulah yang menjadi satu-satunya alasan bagi kita untuk ikut serta dalam liturgi abadi pada malaekat di surga dengan cara menggemakan kembali di dunia ini lagu pujian mereka: Kudus, kuduslah Tuhan, Allah segala kuasa, surga dan bumi penuh kemuliaanMu, terpujilah Engkau di surga....
Yogya, 22-23 Desember 2011.
Para sabahat dan pembaca nan budiman dan terkasih. Pada masa Natal ini, perkenankan saya menampilkan kepada para pembaca sekalian sebuah refleksi singkat dan sederhana mengenai Prefasi yang dipergunakan selama perayaan Ekaristi pada Masa Natal. Buku Tata Perayaan Ekaristi kita menyediakan tiga Prefasi Natal (yaitu Prefasi Natal I,Prefasi Natal II, dan Prefasi Natal III). Pada kesempatan ini saya akan berusaha mencoba menggali barang sedikit kandungan warta, keyakinan, dan pandangan teologis yang ada di dalam ketiga Prefasi itu. Saya ingin melihatnya sebagai satu kesatuan tematis yang sambung menyambung dalam sebuah catatan ringan di sini. Fokus utama ketiga prefasi itu pada dasarnya ialah misteri peristiwa inkarnasi itu.
Saya mulai dengan Prefasi Natal I. Prefasi Natal I ini mempunyai judul kecil yang sangat penting dan menarik; judul kecil ini merupakan salah satu kunci untuk dapat memahami seluruh arah dasar dan isi Prefasi ini. Judul kecil itu ialah sbb: Yesus Sang Terang. Jadi, prefasi ini mau memperkenalkan dan mewartakan tentang Yesus Kristus sebagai sang Terang atau Cahaya. Sebutan atau gelar ini serta mengingatkan saya akan salah satu sebutan mengenai Allah dalam Credo kita: Deum de Deo, Lumen de Lumnine. Jika Yesus diwartakan sebagai Terang atau Cahaya, maka hal itu berarti Ia adalah Allah. Sebelum melangkah lebih lanjut, sebaiknya saya memberi sebuah keterangan umum mengenai ketiga Prefasi ini, yaitu bahwa Ketiga Prefasi Natal ini mempunyai keterangan rubrik yang sama. Dalam rubrik itu ada keterangan mengenai kapan ketiga prefasi natal ini dipakai. Rubrik ini menunjuk pada dua saat penting pemakaian ketiga Prefasi ini. Pertama, dikatakan bahwa Prefasi ini dipakai dalam Perayaan Ekaristi Hari Raya Natal dan Selama Oktaf Natal, termasuk yang biasanya mempunyai prefasi khusus, kecuali kalau prefasi khusus itu menyangkut misteri ilahi atau pribadi ilahi. Artinya jika dalam prefasi itu disinggung misteri atau pribadi ilahi maka tidak usah diganti; jika tidak maka harus diganti dengan Prefasi yang eksplisit ini. Kedua, prefasi ini juga dipakai dalam Perayaan Ekaristi harian sepanjang Masa Natal (TPE, hal.50, 51,52).
Selama ini kita semua sudah tahu bahwa bagian Protokol prefasi selalu mengungkapkan kewajiban fundamental rasa syukur kita kepada Allah yang disusul dengan penjelasan mengenai alasan untuk rasa syukur itu. Pada Prefasi Natal I ini alasan bersyukur itu ialah misteri inkarnasi, yaitu misteri Sabda menjadi manusia, misterium verbum caro factum est. Itulah peristiwa paling fundamental dari iman Kristiani, karena dengan dan melalui peristiwa itu kita percaya bahwa Allah telah memancarkan keagungan-Nya yang tidak terperikan ke hadapan kita. Ia yang bertahta dalam terang yang tiada terhampiri, kini menjadi bisa kelihatan. Buah hasil dari proses penyingkapan itu ialah bahwa kita dapat mengenal Allah yang tidak kelihatan, melalui wujud Putera-Nya yang tidak lain adalah sang Juru Selamat kita, Yesus Kristus. Itulah sebabnya peristiwa ini sangat penting dan sangat fundamental bagi kita dan bahkan bagi seluruh umat manusia. Maka tidaklah mengherankan bahwa misteri inkarnasi ini kita rayakan dengan sangat meriah dan semarak. Bahkan menurut penetapan TPE, kita harus membungkukkan badan (tidak hanya sekadar menundukkan kepala) pada saat kita mengucapkan misteri itu di dalam Credo kita tepat pada saat kita mengucapkan frasa berikut ini: “...yang dikandung dari Roh Kudus dan dilahirkan oleh Perawan Maria.” Penetapan itu berlaku untuk Perayaan Ekaristi hari Minggu biasa pada umumnya. Sedangkan khusus pada perayaan Ekaristi Natal ditetapkan bahwa kita mengucapkan hal itu dengan berlutut. Itu adalah sebuah tanda hormat yang sangat tinggi terhadap misteri inkarnasi itu. Sayang, belum semua gereja, dan belum semua pastor menyadari adanya penetapan seperti itu dalam TPE kita, dan karena itu mereka juga belum melaksanakannya dengan sebaik-baiknya. Padahal hal itu sangat penting dan mendasar.
Selanjutnya dikatakan bahwa sinar surgawi, yaitu Yesus Kristus sendiri menembus kabut yang selama ini telah menutup dan menyelimuti hati dan budi manusia. Agnostos Theos menjadi Gnostos Theos. “Allah yang tidak dikenal” menjadi “Allah yang dapat dikenal.” Itu semua dapat terjadi berkat peristiwa inkarnasi. Peristiwa inkarnasi ini mempunyai efek yang sangat besar bagi cakrawala penghayatan iman kita. Yaitu berkat peristiwa itu maka terbukalah sebuah cakrawala baru yang sangat luas terbentang dalam perspektif penghayatan iman dan pengharapan kita. Pada gilirannya kita pun dapat mendambakan kasih karunia dan keselamatan Allah, sesuatu yang tadinya sangat gelap dan hampir tidak terbayangkan, tetapi kini menjadi terang benderang karena kabut tebal itu telah ditembusi oleh cahaya surgawi itu sendiri. Itulah alasan yang paling mendasar mengapa bagi kita untuk ikut serta dalam kidung pujian para malaekat dalam liturgi agung dan abadi mereka di surga dengan memadahkan kidung tresahion atau the tripple holy itu sekarang dan di sini selama hidup kita di dunia ini.
Sekarang saya mau mengulas sedikit mengenai Prefasi Natal II. Prefasi ini mempunyai judul kecil yang menarik dan juga pasti sangat penting sebagai kunci untuk dapat memahami pesan dan warta dasar Prefasi ini. Judul kecilnya ialah: Segala Sesuatu Dibarui Karena Penjelmaan Kristus. Jadi, warta dasarnya ialah mengenai Pembaharuan karena misteri Inkarnasi. Keterangan mengenai rubrik sudah tercakup di bagian awal tulisan singkat dan sederhana ini. Prefasi ini selanjutnya memberi segi yang lain dari alasan untuk ekspresi rasa syukur kita kepada Allah. Tetapi sesungguhnya masih berkutat di sekitar misteri peristiwa inkarnasi itu juga, sebagaimana sudah ditetapkan pada awal tulisan ini. Natal adalah perayaan misteri Kelahiran sang Putera, yang kita yakini sangat agung dan tidak terperikan. Dikatakan sangat agung karena Allah yang tidak dapat kelihatan, kini menjadi tampak sebagai manusia dan tinggal di antara kita. Tentu hal ini adalah sebuah misteri yang teramat agung, misteri inkarnasi, Allah menjelma menjadi manusia.
Lalu tampak sebuah unsur baru yang disebut di sini, yakni aspek sejarah. Kita yakin, Allah sebagai sang penguasa sejarah, penguasa awal dan akhir, titik alpha dan omega, hidup dan ada melampaui waktu dan sejarah itu sendiri. Dikatakan melampaui waktu karena Ia sudah ada sebelum ada waktu, sebelum segala abad. Kini, Dia yang melampaui waktu itu, mulai memasuki waktu dan dengan itu Ia menjadikan segala sesuatu di dalam waktu itu menjadi baru. Waktu menjadi waktu yang sangat istimewa, chronos menjadi kairos. Sejarah lalu menjadi sejarah keselamatan, heilgesichte, salvation history. Tidak hanya itu saja. Misteri penciptaan disinggung lagi di sini karena dalam prefasi ini disinggung mengenai pemulihan keutuhan ciptaan dan alam semesta. Jadi, inkarnasi memperbarui penciptaan. Termasuk umat manusia di dalamnya. Di sini teringatlah kita akan dosa manusia pertama; itulah kesesatan manusia yang disinggung dalam prefasi ini. Dosa asali itu (original sin), kini dipulihkan dengan rahmat asali (original blessing) yang berasal dan datang dari Allah sendiri. Hal itulah yang memungkinkan manusia dapat berjalan menuju ke kebahagiaan sejati dan abadi, tentu dengan tuntunan Allah sendiri. Itulah yang menjadi alasan paling mendasar bagi kita untuk ikut serta dalam liturgi abadi nan agung para malaekat di surga dengan menggemakan di dunia ini kidung pujian para malaekat, the tripple holy itu, tresagion itu.
Selanjutnya saya menggali warta dan pesan teologis dalam Prefasi Natal III. Sebagaimana kedua Prefasi terdahulu, Prefasi ini pun mempunyai sebuah judul kecil yang sangat menarik dan juga sangat penting sebagai kunci untuk memahami warta dan pesan dasar Prefasi ini. Judul kecilnya ialah: Hidup yang Fana Diresapi Daya Ilahi. Jadi, prefasi ini menyoroti kefanaan yang mengalami proses transformasi karena pengaruh Daya Ilahi. Perlu diperhatikan juga bahwa Prefasi Natal III ini sangat singkat, jika dibandingkan dengan kedua prefasi Natal terdahulu.
Seperti kedua prefasi natal terdahulu, prefasi III ini juga masih berkutat di sekitar misteri inkarnasi. Hanya saja ada segi lain yang ditonjolkan di sini. Alasan kita mengucap syukur dalam prefasi ini ialah kenyataan bahwa karya penyelamatan Allah bersinar di tengah kita umat manusia. Dan hal itu mungkin terjadi karena peristiwa inkarnasi. Dalam peristiwa itu, Sabda Allah menjadi manusia lemah. Di sini disinggung mengenai teologi kenosis itu, seperti yang disinggung dalam Filipi 2 itu. Tetapi berbeda dengan ide kenosis dalam surat Paulus itu, yang disinggung di sini bukan terutama plerosis sang firman itu sendiri, melainkan terutama sekali disinggung peristiwa exaltatio atau bahkan plerosis hidup manusia itu sendiri, transformasi kefanaan hidup manusia oleh daya keilahian. Sebab di sana dikatakan bahwa Sabda menjadi manusia lemah, supaya hidup kami yang rapuh dan fana ini diresapi oleh daya ilahi-Mu yang abadi. Dan hal itu terjadi dalam dan karena Kristus Tuhan kami.
Plerosis dan exaltatio hidup kita itulah yang menjadi satu-satunya alasan bagi kita untuk ikut serta dalam liturgi abadi pada malaekat di surga dengan cara menggemakan kembali di dunia ini lagu pujian mereka: Kudus, kuduslah Tuhan, Allah segala kuasa, surga dan bumi penuh kemuliaanMu, terpujilah Engkau di surga....
Yogya, 22-23 Desember 2011.
Friday, December 9, 2011
RESENSI BUKU
Judul : TANDA-TANDA KEHIDUPAN, 40 Kebiasaan Katolik dan Akar Biblisnya
Pengarang : Scott Hahn
Penerjemah : Ernest Mariyanto
Penerbit : DIOMA PUBLISHING
Terbit : 2011
Halaman : 1-348.
Peninjau : Fransiskus Borgias M.
Hidup manusia selalu ditandai pelbagai upacara keagamaan sehingga hidup penuh aura suci, penuh signal of transcendence, kata Peter L.Berger. Karena itu setiap tahap hidup ada upacaranya, ada ritus peralihan (rites of passages). Ini adalah pemahaman yang hidup sejak lama dalam sejarah, mulai dari agama asli hingga ke agama samawi. Tidak ada tahap hidup yang tanpa upacara. Upacara itulah yang memberi legitimasi agar hidup itu sah dan layak dihidupi. Jika orang lalai menjalankan upacara itu, terasa ada yang kurang, ada yang hilang, ada ganjalan. Antropolog agama juga menggaris-bawahi arti penting upacara keagamaan bagi manusia. Kita tidak boleh bermain-main dengan upacara suci keagamaan itu.
Buku Scott Hahn ini berurusan dengan pelbagai upacara keagamaan, sebagaimana dihayati dalam tradisi gereja Katolik. Memang Gereja Katolik dikenal karena banyak ritual. Karena berulang-ulang, praksis ritual, jika tidak diberi pendasaran teoretis dan teologis memadai, bisa menjadi hampa, serba rutin, dangkal. Itu bisa terjadi jika orang tidak menelusuri arti terdalam dari upacara agama. Buku ini dimaksudkan untuk menelusuri makna terdalam upacara keagamaan, termasuk praksis devosi Gereja Katolik, sekaligus diberi pendasaran teologis, biblis, patristik. Untuk itu Hahn mengumpulkan 40 kebiasaan Katolik. Hal itu tampak dalam judul kecil buku ini: 40 Kebiasaan Katolik dan Akar Biblisnya. Hahn memberi judul bukunya Signs of life atau Tanda-tanda Kehidupan. Seakan diberi isyarat bahwa upacara keagamaan yang diterima orang menjadi tanda bahwa hidup memang benar-benar hidup dan menjadi bermakna justru karena upacara keagamaan.
Buku ini terdiri atas 9 Bab, ditambah pendahuluan dan epilog; total ada 11 Bab. Keempat puluh kebiasaan itu dibagi dalam 9 bab mengikuti perkembangan hidup manusia. Hidup pasti ada awalnya yang ditandai upacara agama. Awal itulah yang dibahas dalam Bab 1. Dalam rangka itu ia menyebut beberapa ritual awal yang berulang sepanjang hidup. Ia membahas 5 topik: air suci, tanda salib, baptis, misa, dan malaekat pelindung. Mengapa malaekat pelindung dibahas di sini? Mungkin itu terkait dengan satu paham sakramen baptis bahwa di sana kita diberi karunia roh kudus, diangkat menjadi Anak Allah. Itu dilambangkan dengan kehadiran malaekat pelindung di samping kita yang menuntun kita ke arah yang baik.
Hidup manusia cukup panjang di dunia ini. Hidup itu dibagi dalam penggal tahun. Penggal tahun itu ditandai perayaan besar (Bab 2). Itu sebabnya di sini Hahn membahas 4 topik: penanggalan gereja, Prapaskah dan Paskah, Adven dan Natal, Novena. Penggal tahunan dibagi dalam bulan, minggu, hari, jam. Hal apa saja yang bisa menjadi kebiasaan dalam hidup kita (Bab 3). Itu yang disebut Devosi Harian. Di sini ada 6 topik: tata gerak tubuh, persembahan pagi, doa-doa kerinduan, Doa Angelus, rahmat dalam perjamuan, pemeriksaan batin. Semuanya bisa menjadi praksis demi pengudusan hidup kita. Seperti halnya hidup jasmani kita membutuhkan gizi bermutu, demikian juga hidup rohani kita membutuhkan gizi bermutu. Hal itu dapat kita temukan dalam Kitab Suci, Bacaan Rohani, dan retret. Itulah isi Bab 4, dan karena itu berjudul pelajaran untuk hidup.
Hahn memberi judul Bab 5 “Tahap-tahap Kehidupan”. Di sini ia membahas 4 topik: sakramen Krisma, perkawinan, imamat, dan pengurapan orang sakit. Hahn hanya memilih keempat sakramen ini untuk dibahas di sini. Mungkin karena keempat sakramen itu secara tegas menandakan perkembangan hidup Kristiani ke arah kedewasaan (Krisma, perkawinan, Imamat) dan titik finalnya (pengurapan orang sakit). Ada pelbagai pernak-pernik dalam hidup devosional kita yang bisa memperkaya liturgi. Itulah yang disebut Bumbu Kehidupan (Bab 6). Di sini ada 5 pokok: dupa, lilin, patung kudus, relikui, puasa dan matiraga. Menarik mengamati judul bab 7: Hidup Yang Berkelimpahan. Mungkin karena di sini ia membahas 6 topik: dosa, indulgensi, doa para kudus, ziarah, kehadiran Allah, berderma. Semua itu diyakini bisa mendatangkan efek hidup berkelimpahan dalam dan bersama Tuhan.
Judul Bab 8 menarik: Kesayangan dalam hidupku. Di sini ia bahas 5 pokok: Devosi Kepada Tritunggal, Rosario, Skapulir dan Medali, Doa Batin, Penghormatan kepada Tabernakel. Judul Devosi Kepada Tritunggal jangan dipahami keliru, seakan itu sekadar devosi, dan bukan pokok iman Kristiani. Devosi itu harus dilandaskan pada iman akan Allah Tritunggal. Tanpa iman ini, devosi tidak bermakna. Hidup manusia ada akhirnya: Sein zum Tode, kata Heidegger. Titik akhir itu adalah maut. Dengan maut, hidup hanya diubah, bukan dilenyapkan, vita mutatur sed non tolitur. Itulah salah satu pokok bahasan Bab 9 (Hidup Takkan Berakhir). Maut adalah titik final; karena itu perlu persiapan untuk menghadapinya. Persiapan paling mendasar ialah iman, harapan, dan kasih. Tradisi Katolik juga menegaskan mengenai arti penting praksis doa untuk orang yang sudah meninggal (salah satu pokok di sini).
Kiranya Hahn mengajar berdasarkan pengalaman dan penghayatan. Atas dasar itu ia menegaskan (saya setuju), bahwa orang Katolik akrab dengan kitab suci, sebab seluruh praksis kesalehannya berakar dalam Kitab Suci. Liturgi adalah kitab suci yang dirayakan, theology in actions, mengikuti ungkapan Rublev, theology in colors (ketika berteologi tentang ikon dalam tradisi Ortodoks Russia).
Hidup ditandai upacara. Eliade mengatakan bahwa ada tiga komponen penting dalam agama: ritus, mitos, dan simbol. Pada awal mula adalah pengalaman dan reaksi atas pengalaman itu. Kemudian ada penjelasan verbal-rasional atas pengalaman itu. Itulah teologi. Ada kesan juga bahwa Hahn bernada apologetis, historis biblis dan patristik. Mungkin karena ia tadinya adalah Protestan. Nada yang sama seperti terasa dalam buku-buku lain terutama Rome Sweet Home. Ternyata sweet home itu Roma, bukan Canterburry atau Geneva. Buku ini menggambarkan dengan baik sebuah teologi dalam praktek penghayatan liturgis.
Keunggulan buku Hahn ini juga terletak dalam kenyataan bahwa ia mencari pendasaran dari semua praksis ini dalam tradisi biblis, patristik, dan teologi sepanjang jaman, termasuk praksis teologi masa kini. Dengan pemaparan seperti ini, kita semakin diperkaya dalam pemahaman akan akar tradisi biblis. Dengan itu, semakin kuat pula keyakinan saya bahwa orang Katolik, jika menghayati semua unsur liturgi dengan baik, akan terserap ke dalam Kitab Suci dan tradisi agung. Mengapa? Karena semua tradisi liturgis kita, berurat dan berakar dalam kitab suci. Buku Hahn ini dengan sangat baik, ringan, ringkas, dan mudah menampilkan hal itu. Sifat ringan itu juga tampak sangat kentara dalam bahasa terjemahan yang diupayakan dengan baik oleh Ernest Mariyanto.
Pengarang : Scott Hahn
Penerjemah : Ernest Mariyanto
Penerbit : DIOMA PUBLISHING
Terbit : 2011
Halaman : 1-348.
Peninjau : Fransiskus Borgias M.
Hidup manusia selalu ditandai pelbagai upacara keagamaan sehingga hidup penuh aura suci, penuh signal of transcendence, kata Peter L.Berger. Karena itu setiap tahap hidup ada upacaranya, ada ritus peralihan (rites of passages). Ini adalah pemahaman yang hidup sejak lama dalam sejarah, mulai dari agama asli hingga ke agama samawi. Tidak ada tahap hidup yang tanpa upacara. Upacara itulah yang memberi legitimasi agar hidup itu sah dan layak dihidupi. Jika orang lalai menjalankan upacara itu, terasa ada yang kurang, ada yang hilang, ada ganjalan. Antropolog agama juga menggaris-bawahi arti penting upacara keagamaan bagi manusia. Kita tidak boleh bermain-main dengan upacara suci keagamaan itu.
Buku Scott Hahn ini berurusan dengan pelbagai upacara keagamaan, sebagaimana dihayati dalam tradisi gereja Katolik. Memang Gereja Katolik dikenal karena banyak ritual. Karena berulang-ulang, praksis ritual, jika tidak diberi pendasaran teoretis dan teologis memadai, bisa menjadi hampa, serba rutin, dangkal. Itu bisa terjadi jika orang tidak menelusuri arti terdalam dari upacara agama. Buku ini dimaksudkan untuk menelusuri makna terdalam upacara keagamaan, termasuk praksis devosi Gereja Katolik, sekaligus diberi pendasaran teologis, biblis, patristik. Untuk itu Hahn mengumpulkan 40 kebiasaan Katolik. Hal itu tampak dalam judul kecil buku ini: 40 Kebiasaan Katolik dan Akar Biblisnya. Hahn memberi judul bukunya Signs of life atau Tanda-tanda Kehidupan. Seakan diberi isyarat bahwa upacara keagamaan yang diterima orang menjadi tanda bahwa hidup memang benar-benar hidup dan menjadi bermakna justru karena upacara keagamaan.
Buku ini terdiri atas 9 Bab, ditambah pendahuluan dan epilog; total ada 11 Bab. Keempat puluh kebiasaan itu dibagi dalam 9 bab mengikuti perkembangan hidup manusia. Hidup pasti ada awalnya yang ditandai upacara agama. Awal itulah yang dibahas dalam Bab 1. Dalam rangka itu ia menyebut beberapa ritual awal yang berulang sepanjang hidup. Ia membahas 5 topik: air suci, tanda salib, baptis, misa, dan malaekat pelindung. Mengapa malaekat pelindung dibahas di sini? Mungkin itu terkait dengan satu paham sakramen baptis bahwa di sana kita diberi karunia roh kudus, diangkat menjadi Anak Allah. Itu dilambangkan dengan kehadiran malaekat pelindung di samping kita yang menuntun kita ke arah yang baik.
Hidup manusia cukup panjang di dunia ini. Hidup itu dibagi dalam penggal tahun. Penggal tahun itu ditandai perayaan besar (Bab 2). Itu sebabnya di sini Hahn membahas 4 topik: penanggalan gereja, Prapaskah dan Paskah, Adven dan Natal, Novena. Penggal tahunan dibagi dalam bulan, minggu, hari, jam. Hal apa saja yang bisa menjadi kebiasaan dalam hidup kita (Bab 3). Itu yang disebut Devosi Harian. Di sini ada 6 topik: tata gerak tubuh, persembahan pagi, doa-doa kerinduan, Doa Angelus, rahmat dalam perjamuan, pemeriksaan batin. Semuanya bisa menjadi praksis demi pengudusan hidup kita. Seperti halnya hidup jasmani kita membutuhkan gizi bermutu, demikian juga hidup rohani kita membutuhkan gizi bermutu. Hal itu dapat kita temukan dalam Kitab Suci, Bacaan Rohani, dan retret. Itulah isi Bab 4, dan karena itu berjudul pelajaran untuk hidup.
Hahn memberi judul Bab 5 “Tahap-tahap Kehidupan”. Di sini ia membahas 4 topik: sakramen Krisma, perkawinan, imamat, dan pengurapan orang sakit. Hahn hanya memilih keempat sakramen ini untuk dibahas di sini. Mungkin karena keempat sakramen itu secara tegas menandakan perkembangan hidup Kristiani ke arah kedewasaan (Krisma, perkawinan, Imamat) dan titik finalnya (pengurapan orang sakit). Ada pelbagai pernak-pernik dalam hidup devosional kita yang bisa memperkaya liturgi. Itulah yang disebut Bumbu Kehidupan (Bab 6). Di sini ada 5 pokok: dupa, lilin, patung kudus, relikui, puasa dan matiraga. Menarik mengamati judul bab 7: Hidup Yang Berkelimpahan. Mungkin karena di sini ia membahas 6 topik: dosa, indulgensi, doa para kudus, ziarah, kehadiran Allah, berderma. Semua itu diyakini bisa mendatangkan efek hidup berkelimpahan dalam dan bersama Tuhan.
Judul Bab 8 menarik: Kesayangan dalam hidupku. Di sini ia bahas 5 pokok: Devosi Kepada Tritunggal, Rosario, Skapulir dan Medali, Doa Batin, Penghormatan kepada Tabernakel. Judul Devosi Kepada Tritunggal jangan dipahami keliru, seakan itu sekadar devosi, dan bukan pokok iman Kristiani. Devosi itu harus dilandaskan pada iman akan Allah Tritunggal. Tanpa iman ini, devosi tidak bermakna. Hidup manusia ada akhirnya: Sein zum Tode, kata Heidegger. Titik akhir itu adalah maut. Dengan maut, hidup hanya diubah, bukan dilenyapkan, vita mutatur sed non tolitur. Itulah salah satu pokok bahasan Bab 9 (Hidup Takkan Berakhir). Maut adalah titik final; karena itu perlu persiapan untuk menghadapinya. Persiapan paling mendasar ialah iman, harapan, dan kasih. Tradisi Katolik juga menegaskan mengenai arti penting praksis doa untuk orang yang sudah meninggal (salah satu pokok di sini).
Kiranya Hahn mengajar berdasarkan pengalaman dan penghayatan. Atas dasar itu ia menegaskan (saya setuju), bahwa orang Katolik akrab dengan kitab suci, sebab seluruh praksis kesalehannya berakar dalam Kitab Suci. Liturgi adalah kitab suci yang dirayakan, theology in actions, mengikuti ungkapan Rublev, theology in colors (ketika berteologi tentang ikon dalam tradisi Ortodoks Russia).
Hidup ditandai upacara. Eliade mengatakan bahwa ada tiga komponen penting dalam agama: ritus, mitos, dan simbol. Pada awal mula adalah pengalaman dan reaksi atas pengalaman itu. Kemudian ada penjelasan verbal-rasional atas pengalaman itu. Itulah teologi. Ada kesan juga bahwa Hahn bernada apologetis, historis biblis dan patristik. Mungkin karena ia tadinya adalah Protestan. Nada yang sama seperti terasa dalam buku-buku lain terutama Rome Sweet Home. Ternyata sweet home itu Roma, bukan Canterburry atau Geneva. Buku ini menggambarkan dengan baik sebuah teologi dalam praktek penghayatan liturgis.
Keunggulan buku Hahn ini juga terletak dalam kenyataan bahwa ia mencari pendasaran dari semua praksis ini dalam tradisi biblis, patristik, dan teologi sepanjang jaman, termasuk praksis teologi masa kini. Dengan pemaparan seperti ini, kita semakin diperkaya dalam pemahaman akan akar tradisi biblis. Dengan itu, semakin kuat pula keyakinan saya bahwa orang Katolik, jika menghayati semua unsur liturgi dengan baik, akan terserap ke dalam Kitab Suci dan tradisi agung. Mengapa? Karena semua tradisi liturgis kita, berurat dan berakar dalam kitab suci. Buku Hahn ini dengan sangat baik, ringan, ringkas, dan mudah menampilkan hal itu. Sifat ringan itu juga tampak sangat kentara dalam bahasa terjemahan yang diupayakan dengan baik oleh Ernest Mariyanto.
RESENSI BUKU
JUDUL BUKU : YERUSALEM 33, IMPERIUM ROMANUM, KOTA PARA NABI, DAN TRAGEDI TANAH
SUCI.
PENGARANG : TRIAS KUNCAHYONO
PENERBIT : BUKU KOMPAS, APRIL 2011
HALAMAN : XXXVLL+ 330.
PENINJAU : FRANSISKUS BORGIAS M.
Berbicara tentang Yerusalem, tidak akan habis. Ada banyak buku yang ditulis tentang kota itu. Ada Karen Armstrong, Amy Dockserr Marcus, dan Trias Kuncahono yang menulis dua buku. Inilah bukunya yang kedua setelah yang pertama menjadi best-seller, Jerusalem. Berbicara tentang Yerusalem, saya teringat akan P.C.Groenen OFM, pakar Kitab Suci. Suatu saat dalam kuliah Kitab Suci Perjanjian Lama di Biara St.Bonaventura Papringan, ia mengatakan, “dunia tidak akan damai selama Jerusalem tidak damai,” selama Yerusalem tercabik-cabik. Groenen mendasarkan pernyataannya pada sejarah, di mana Yerusalem selalu menjadi sign of contradiction, dari dulu hingga kini, dan nanti. Kota itu dipenggal dalam beberapa bagian dengan penguasa yang berasal dari tradisi agama. Islam punya bagiannya, Yahudi punya bagiannya, Kristiani juga punya bagiannya. Penggal Kristiani juga terbagi dalam beberapa bagian.
Buku ini berbicara secara historis tentang Yerusalem. Buku ini terdiri atas 8 Bab, dilengkapi dua prolog dan satu epilog. Buku ini membahas substansi eksistensi Jerusalem dari jaman ke jaman. Yang paling besar pengaruhnya ialah fakta bahwa Jerusalem ialah tanah para nabi (bab 1); ada banyak nabi menyinggung, atau menziarahinya. Setelah cukup panjang membeberkan biologi dan geografi Palestina, penulis membahas secara khusus paradoks para nabi (h.50): Mereka hadir di Yerusalem, tetapi kota itu menjadi kota penuh konflik. Kota itu terletak di Timur Tengah, menjadi bagian utuh dari Kanaan dan Palestina (Bab 2), sebuah urutan yang tepat. Negeri itu dilanda peperangan dari dulu hingga kini. Selalu ada kelompok yang memperebutkannya dari waktu ke waktu. Yang menarik ialah bahwa secara tradisional nama negeri itu, Kanaan. Ada penelusuran etimologis kata Kanaan dan sejarah nama itu (h.80). Ketika Roma berkuasa ada kebijakan membuat “politik pengubahan nama” dari Kanaan menjadi Palestina (hal.92). Roma bermaksud menghapus kenangan akan Israel dari sejarah, sesuatu yang kini bergema kembali dalam diri presiden Iran yang mau melenyapkan Israel dari Peta bumi.
Salah satu episode sejarah yang penting bagi Yerusalem ialah ia pernah dikuasai Roma (bab 3). Tentu ini tidak lengkap jika tidak menyebut Helenisme, Persia, Babel, dan Asyur. Alur sejarah itu dimulai dengan pelukisan sejarah kerajaan di Israel (Hakim-hakim tidak dibahas, h.109). Setelah masa jaya yang hanya sebentar, Israel dikuasai Asyur dan Babel (h.112.113). Kemudian terjadi Helenisasi (h.113-17), dan dikuasai Roma (h.117-144). Hal yang membedakan Roma dari penguasa lain ialah Roma memberi perlakuan khusus terhadap Yahudi sebagai umat berkitab (p.127). Alur perjalanan peziarah Eropa Abad Pertengahan ialah dari Kaisarea ke Yerusalem (Bab 4). Judul itu menyiratkan ada pergeseran dari kota Helenis Kaisaria ke kota Zionis, Yerusalem. Secara cukup panjang pengarang membahas sejarah Kaisarea. Lalu dibahas sejarah Yerusalem, walau yang lebih mencolok ialah pelukisan mengenai beberapa kelompok aliran politik dan teologi jaman itu. Seluruh hidup dan pergolakan bangsa Yahudi terfokus di Jerusalem.
Jerusalem tidak selalu cemerlang sepanjang jaman. Pernah ia ditinggalkan, dan menjadi sarang penyamun (Bab 5). Itu sebabnya kota itu penuh paradoks (h.182). Ada yang memujinya sebagai metropolis, tetapi ada juga yang mencemoohnya hanya sebagai lobang di pojokan (h.183). Hal itu benar sehubungan dengan masa kegelapan pasca penghancuran oleh Babel dan penghancuran oleh Roma tahun 70-an. Itulah zaman gelap Jerusalem (bab 6). Setelah secara singkat menyinggung penghancuran Yerusalem oleh Roma di awal bab, seluruh sisa bab membahas hukuman salib sebagai hukuman keji, tidak manusiawi. Disinggung juga mengenai bentuk salib (h.220-21). Ini jaman kekelaman bagi kemanusiaan; salah satu korbannya ialah Yesus Kristus yang mati di salib.
Fokus Bab 7 ialah peristiwa dramatis, sengsara dan wafat Tuhan. Beberapa pertanyaan besar coba dijawab: Mengapa Yesus dihukum mati, kapan itu terjadi, siapa yang memutuskan hukuman itu? Seluruh uraian difokuskan pada satu tesis bahwa Yesus dibunuh atas dasar konspirasi politis-keagamaan, antara penguasa negara, penguasa agama, dan rakyat kebanyakan. Ada triumvirat jahat yang menyebabkan Yesus dihukum mati, yaitu wali negeri, raja, dan Imam Agung (h.261). Tadinya saya mengira buku ini adalah buku sejarah. Tetapi setelah membacanya sampai bab 8 saya sadar bahwa penulis menulis buku ini sebagai orang Kristiani, yang memuncaki bukunya dengan pelukisan mengenai hari dramatis yang ditandai bulan memerah ketika Yesus wafat (h.310). Ini sebuah apologia iman. Hal itu tampak di bagian akhir bab 8 ini: Yerusalem adalah tempat Yesus dikorbankan, tempat Yesus menyerahkan hidup-Nya di kayu salib bagi keselamatan umat manusia. Karena itu, menyusuri Jalan Salib,Via Dolorosa, di Yerusalem adalah menyusuri jalan iman. Salib mengubah kebinasaanmenjadi keselamatan (h.312).
Ya, berbicara tentang Yerusalem tidak akan selesai. Kita bisa belajar banyak dari Yerusalem seperti dikatakan Zuhairi Misrawi dalam epilog. Ada anakronisme di sana. Dikatakan bahwa pada jaman Muhammad, umat berkiblat ke Masjid al-Aqsha di Yerusalem (h.314). Saat itu, mesjid itu belum ada; baru ada setelah Yerusalem dikuasai Islam. Qiblat pertama ialah situs bait Allah di Yerusalem. Qiblat itu diubah setelah terjadi konflik tajam antara Islam dan orang Yahudi.
Bahasa buku ini lancar dan ringan. Tetapi secara pribadi saya terganggu dengan ungkapan yang tidak lazim yang dipakai Trias: Kakek moyang (mis:h.9,29, 67, 96, dll). Beberapa pihak mengatakan itu aneh. Yang biasa ialah ungkapan nenek-moyang. Entah apa pertimbangan Trias menggantinya. Ada bagian yang seperti copy-paste. Misalnya info mengenai beberapa nabi dan aktifitas mereka yang diulang di beberapa tempat. Juga informasi mengenai nama beberapa faksi politik dan agama dalam masyarakat Yahudi yang diulang hampir sama di beberapa tempat. Contoh: uraian tentang Farisi yang ada di pendahuluan (h.13-14) sama dengan yang ada pada Bab 4 (h.161). Hal itu bisa diatasi dengan parafrase, tetapi itu tidak dilakukan.
Secara keseluruhan penulis ini lancar memberi banyak informasi populer, penting dan menarik tentang sejarah perjanjian lama dan baru, gereja awal, kekaisaran roma, kekuatan besar dunia yang mengobok-obok Timur Tengah kuno, termasuk Kanaan. Buku ini mengandung “campuran” antara informasi serius yang digali dari resources dan pengalaman pribadi akan Jerusalem dan sekitarnya. Buku ini berguna bagi pemula yang mendalami sejarah timur tengah kuno, sejarah Kaisarea (h.151-162), Yerusalem, Kekaisaran Romawi. Misalnya informasi tentang teori migrasi Abraham (h.70), atau sejarah kemunculan Sabat (h.161-163). Tetapi bagi orang yang sudah mendalami dunia perjanjian lama dan baru, dan sejarah gereja awal, informasi yang ada di sini sama sekali tidak baru; paling-paling ini hanya berfungsi sebagai penyegaran.
SUCI.
PENGARANG : TRIAS KUNCAHYONO
PENERBIT : BUKU KOMPAS, APRIL 2011
HALAMAN : XXXVLL+ 330.
PENINJAU : FRANSISKUS BORGIAS M.
Berbicara tentang Yerusalem, tidak akan habis. Ada banyak buku yang ditulis tentang kota itu. Ada Karen Armstrong, Amy Dockserr Marcus, dan Trias Kuncahono yang menulis dua buku. Inilah bukunya yang kedua setelah yang pertama menjadi best-seller, Jerusalem. Berbicara tentang Yerusalem, saya teringat akan P.C.Groenen OFM, pakar Kitab Suci. Suatu saat dalam kuliah Kitab Suci Perjanjian Lama di Biara St.Bonaventura Papringan, ia mengatakan, “dunia tidak akan damai selama Jerusalem tidak damai,” selama Yerusalem tercabik-cabik. Groenen mendasarkan pernyataannya pada sejarah, di mana Yerusalem selalu menjadi sign of contradiction, dari dulu hingga kini, dan nanti. Kota itu dipenggal dalam beberapa bagian dengan penguasa yang berasal dari tradisi agama. Islam punya bagiannya, Yahudi punya bagiannya, Kristiani juga punya bagiannya. Penggal Kristiani juga terbagi dalam beberapa bagian.
Buku ini berbicara secara historis tentang Yerusalem. Buku ini terdiri atas 8 Bab, dilengkapi dua prolog dan satu epilog. Buku ini membahas substansi eksistensi Jerusalem dari jaman ke jaman. Yang paling besar pengaruhnya ialah fakta bahwa Jerusalem ialah tanah para nabi (bab 1); ada banyak nabi menyinggung, atau menziarahinya. Setelah cukup panjang membeberkan biologi dan geografi Palestina, penulis membahas secara khusus paradoks para nabi (h.50): Mereka hadir di Yerusalem, tetapi kota itu menjadi kota penuh konflik. Kota itu terletak di Timur Tengah, menjadi bagian utuh dari Kanaan dan Palestina (Bab 2), sebuah urutan yang tepat. Negeri itu dilanda peperangan dari dulu hingga kini. Selalu ada kelompok yang memperebutkannya dari waktu ke waktu. Yang menarik ialah bahwa secara tradisional nama negeri itu, Kanaan. Ada penelusuran etimologis kata Kanaan dan sejarah nama itu (h.80). Ketika Roma berkuasa ada kebijakan membuat “politik pengubahan nama” dari Kanaan menjadi Palestina (hal.92). Roma bermaksud menghapus kenangan akan Israel dari sejarah, sesuatu yang kini bergema kembali dalam diri presiden Iran yang mau melenyapkan Israel dari Peta bumi.
Salah satu episode sejarah yang penting bagi Yerusalem ialah ia pernah dikuasai Roma (bab 3). Tentu ini tidak lengkap jika tidak menyebut Helenisme, Persia, Babel, dan Asyur. Alur sejarah itu dimulai dengan pelukisan sejarah kerajaan di Israel (Hakim-hakim tidak dibahas, h.109). Setelah masa jaya yang hanya sebentar, Israel dikuasai Asyur dan Babel (h.112.113). Kemudian terjadi Helenisasi (h.113-17), dan dikuasai Roma (h.117-144). Hal yang membedakan Roma dari penguasa lain ialah Roma memberi perlakuan khusus terhadap Yahudi sebagai umat berkitab (p.127). Alur perjalanan peziarah Eropa Abad Pertengahan ialah dari Kaisarea ke Yerusalem (Bab 4). Judul itu menyiratkan ada pergeseran dari kota Helenis Kaisaria ke kota Zionis, Yerusalem. Secara cukup panjang pengarang membahas sejarah Kaisarea. Lalu dibahas sejarah Yerusalem, walau yang lebih mencolok ialah pelukisan mengenai beberapa kelompok aliran politik dan teologi jaman itu. Seluruh hidup dan pergolakan bangsa Yahudi terfokus di Jerusalem.
Jerusalem tidak selalu cemerlang sepanjang jaman. Pernah ia ditinggalkan, dan menjadi sarang penyamun (Bab 5). Itu sebabnya kota itu penuh paradoks (h.182). Ada yang memujinya sebagai metropolis, tetapi ada juga yang mencemoohnya hanya sebagai lobang di pojokan (h.183). Hal itu benar sehubungan dengan masa kegelapan pasca penghancuran oleh Babel dan penghancuran oleh Roma tahun 70-an. Itulah zaman gelap Jerusalem (bab 6). Setelah secara singkat menyinggung penghancuran Yerusalem oleh Roma di awal bab, seluruh sisa bab membahas hukuman salib sebagai hukuman keji, tidak manusiawi. Disinggung juga mengenai bentuk salib (h.220-21). Ini jaman kekelaman bagi kemanusiaan; salah satu korbannya ialah Yesus Kristus yang mati di salib.
Fokus Bab 7 ialah peristiwa dramatis, sengsara dan wafat Tuhan. Beberapa pertanyaan besar coba dijawab: Mengapa Yesus dihukum mati, kapan itu terjadi, siapa yang memutuskan hukuman itu? Seluruh uraian difokuskan pada satu tesis bahwa Yesus dibunuh atas dasar konspirasi politis-keagamaan, antara penguasa negara, penguasa agama, dan rakyat kebanyakan. Ada triumvirat jahat yang menyebabkan Yesus dihukum mati, yaitu wali negeri, raja, dan Imam Agung (h.261). Tadinya saya mengira buku ini adalah buku sejarah. Tetapi setelah membacanya sampai bab 8 saya sadar bahwa penulis menulis buku ini sebagai orang Kristiani, yang memuncaki bukunya dengan pelukisan mengenai hari dramatis yang ditandai bulan memerah ketika Yesus wafat (h.310). Ini sebuah apologia iman. Hal itu tampak di bagian akhir bab 8 ini: Yerusalem adalah tempat Yesus dikorbankan, tempat Yesus menyerahkan hidup-Nya di kayu salib bagi keselamatan umat manusia. Karena itu, menyusuri Jalan Salib,Via Dolorosa, di Yerusalem adalah menyusuri jalan iman. Salib mengubah kebinasaanmenjadi keselamatan (h.312).
Ya, berbicara tentang Yerusalem tidak akan selesai. Kita bisa belajar banyak dari Yerusalem seperti dikatakan Zuhairi Misrawi dalam epilog. Ada anakronisme di sana. Dikatakan bahwa pada jaman Muhammad, umat berkiblat ke Masjid al-Aqsha di Yerusalem (h.314). Saat itu, mesjid itu belum ada; baru ada setelah Yerusalem dikuasai Islam. Qiblat pertama ialah situs bait Allah di Yerusalem. Qiblat itu diubah setelah terjadi konflik tajam antara Islam dan orang Yahudi.
Bahasa buku ini lancar dan ringan. Tetapi secara pribadi saya terganggu dengan ungkapan yang tidak lazim yang dipakai Trias: Kakek moyang (mis:h.9,29, 67, 96, dll). Beberapa pihak mengatakan itu aneh. Yang biasa ialah ungkapan nenek-moyang. Entah apa pertimbangan Trias menggantinya. Ada bagian yang seperti copy-paste. Misalnya info mengenai beberapa nabi dan aktifitas mereka yang diulang di beberapa tempat. Juga informasi mengenai nama beberapa faksi politik dan agama dalam masyarakat Yahudi yang diulang hampir sama di beberapa tempat. Contoh: uraian tentang Farisi yang ada di pendahuluan (h.13-14) sama dengan yang ada pada Bab 4 (h.161). Hal itu bisa diatasi dengan parafrase, tetapi itu tidak dilakukan.
Secara keseluruhan penulis ini lancar memberi banyak informasi populer, penting dan menarik tentang sejarah perjanjian lama dan baru, gereja awal, kekaisaran roma, kekuatan besar dunia yang mengobok-obok Timur Tengah kuno, termasuk Kanaan. Buku ini mengandung “campuran” antara informasi serius yang digali dari resources dan pengalaman pribadi akan Jerusalem dan sekitarnya. Buku ini berguna bagi pemula yang mendalami sejarah timur tengah kuno, sejarah Kaisarea (h.151-162), Yerusalem, Kekaisaran Romawi. Misalnya informasi tentang teori migrasi Abraham (h.70), atau sejarah kemunculan Sabat (h.161-163). Tetapi bagi orang yang sudah mendalami dunia perjanjian lama dan baru, dan sejarah gereja awal, informasi yang ada di sini sama sekali tidak baru; paling-paling ini hanya berfungsi sebagai penyegaran.
Subscribe to:
Posts (Atom)
PEDENG JEREK WAE SUSU
Oleh: Fransiskus Borgias Dosen dan Peneliti Senior pada FF-UNPAR Bandung. Menyongsong Mentari Dengan Tari Puncak perayaan penti adala...
-
Oleh: Fransiskus Borgias M., (EFBE@fransisbm) Mazmur ini termasuk cukup panjang, yaitu terdiri atas 22 ayat, mengikuti 22 abjad Ib...
-
Oleh: Fransiskus Borgias M. Judul Mazmur ini dalam Alkitab ialah Doa mohon Israel dipulihkan. Judul itu mengandaikan bahwa keadaan Israe...
-
Oleh: Fransiskus Borgias M. Sebagai manusia yang beriman (percaya), kiranya kita semua sungguh-sungguh yakin dan percaya bahwa Tuhan itu...