Oleh: Fransiskus Borgias M.
Saya menulis catatan singkat dan sederhana ini tanggal 01 November 2011, Hari Raya Semua Orang Kudus; (orang kudus yang dimaksudkan di sini adalah semua orang Kudus, juga termasuk yang tidak dikenal, bahkan juga termasuk mereka yang berada di luar jangkauan Gereja, yang mutu kekudusan hidupnya hanya diketahui oleh Allah sendiri saja. Tentang hal ini saya penah menulis sebuah Bab dalam buku saya: Menimba Kekayaan Liturgi, YPN 2008). Kira-kira sembilan tahun yang lalu, ayah mertua saya meninggal pada tanggal 1 November (2002). Saya menulis catatan ini juga dalam rangka pengenangan akan wafat beliau.
Bukan rahasia lagi bahwa sekarang ini, dengan bantuan teknologi kedokteran yang semakin canggih, para orang tua bisa menentukan hari jadi anak, atau menentukan tanggal kelahiran anak. Mereka memilih tanggal yang dianggap hoki, tanggal yang dianggap cantik dan istimewa. Untuk tahun 2011 ini tanggal yang dianggap cantik ialah tanggal 11-11-11 (Sebelas November DuaribuSebelas). Bahkan ada juga yang melihat keindahan itu dalam tangal 2011-2011 (Duapuluh November 2011). Maka banyak orang tua yang memilih melahirkan anak tepat pada tanggal-tanggal tersebut. Jika ternyata tidak pas, maka bisa dilakukan dengan cara dioperasi. Tetapi jelas ini adalah pilihan orang tua; bukan pilihan anak; si anak tentu saja belum bisa memilih. Jadi, sebagai bayi kita tidak dapat memilih atau menentukan hari lahir kita. Begitu juga dengan tanggal perkawinan. Ada banyak sekali pasangan nikah yang memilih menikah pada tanggal unik itu kemarin.
Tetapi dalam pengamatan atau pembacaan saya, ternyata kita manusia yang sudah dewasa pun bisa memilih cara dan saat kita mati. Jangan salah paham dulu. Di sini saya tidak mau berbicara tentang eutanasia. Sebaliknya, di sini saya berbicara tentang sesuatu yang lain sama sekali: yaitu mengenai hal memilih cara dan tanggal kematian. Ternyata sepertinya ada orang yang memilih tanggal matinya dengan sengaja dan sadar. Untuk “membuktikan” hal itu, di sini saya mau melihat dan membaca beberapa fakta yang menarik.
Seperti telah dikatakan di atas tadi, hari ini, tanggal 1 November 2011, saya teringat akan peristiwa sembilan tahun silam. Ayah mertua saya, Lukas Sein Pepe, meninggal dunia persis tanggal 2 November. Saya ingat dengan sangat baik bahwa tidak mudah proses wafatnya. Tetapi sepertinya ia memilih tanggal itu: 1 November. Bagi kami yang ditinggalkannya, sepertinya ia “sengaja” memilih tanggal itu agar mudah kami semua ingat. Mengapa? Karena tanggal ini adalah sebuah peristiwa liturgis besar dalam Gereja Katolik: Ini adalah Hari Raya Semua orang Kudus. Hampir enambelas tahun silam, ibu saya sendiri wafat pada tanggal 3 Januari 1996. Ia sudah menderita sakit cukup lama sejak pertengahan 1995; akhirnya ia wafat tanggal 3 Januari. Bagi kami ia sepertinya dengan sengaja memilih tanggal itu agar mudah diingat; dan kami semua pasti akan sangat mudah mengingat tanggal itu, sebab itulah tanggal Hari Ulang Tahun adik bungsu kami, seorang puteri, Ermina (sekarang sudah menjadi guru sekolah dasar; pada saat ibu meninggal ia masih SMP). Tentu saja, Ermi sangat ingat tanggal itu. Kami sebagai kakak-kakak pun pasti ingat tanggal itu. Sepertinya ibu kami memilih tanggal ulang tahun adik bungsu kami sebagai tanggal wafanya, agar tanggal wafat itu bisa dirayakan pada saat kami mengucapkan selamat ulang tahun kepada adik bungsu kami itu.
Masih ada beberapa contoh yang lain lagi: seorang teolog dan palaeontolog besar Yesuit, Pierre Teilhard de Chardin (berasal dari Perancis), sepertinya juga memilih hari wafatnya. Dari riwayat hidupnya kita tahu bahwa ia memang wafat pada Hari Minggu Paskah tahun 1955. Ia adalah seorang palaentolog besar, yang dalam pemikiran teoretisnya tentang evolusi kosmis sampai pada suatu keyakinan bahwa seluruh dinamika evolusi itu akan memuncak dalam totalitas peristiwa Kristus sebagai titik Omega Sejarah. Dalam cara pembacaan saya, ia sepertinya memilih tanggal kebangkitan Tuhan Yesus sebagai hari wafatnya, yaitu saat di mana ia menjadi satu dengan Kristus dalam hal kebangkitan (setelah sebelumnya ia telah menjadi serupa dengan Kristus Yesus dalam peristiwa kematian). Informasi ini saya dapatkan dari Buku Karangan Franz Daehler (seorang mantan Yesuit) yang menulis sebuah buku kecil tentang teori evolusi de Chardin itu.
Boleh dikatakan juga bahwa sesungguhnya Paus Yohanes Paulus II yang wafat pada tanggal 2 April 2005, hari Sabtu pukul 21.37, juga memilih tanggalnya sendiri. Pada tanggal itulah terakhir kalinya jantungnya masih berdetak. Informasi yang rinci ini dapat kita baca misalnya dalam buku dari Kardinal Wyscinky, kardinal yang menjadi sekretaris pribadinya dalam masa pontifikatnya (bahkan sejak ia menjadi uskup dan Kardinal di Krakow, Polandia). Sehubungan dengan hari wafatnya sang Paus ini, ada yang memang membaca hari Sabtu; tetapi ada juga yang membacanya hari Minggu; saya condong berpikir bahwa jam sekian sudah mulai condong ke hari Minggu (apalagi dalam perayaan liturgis kita, Sabtu Sore pun sudah merayakan ekaristi dengan bacaan dari Hari Minggu besoknya). Jika cara pembacaan ini benar dan diterima, maka Paus Yohanes Paulus II memilih hari ini dengan alasan yang kurang lebih sama dengan alasan dari De Chardin di atas tadi: Memilih wafat pada Hari Tuhan, Dies Dominica. Jika yang dipilih ialah Sabtu, maka ia memilih hari Sabat, sebuah hari suci, yang dalam pembcaaan teologis Hans Urs von Balthasar, adalah sebuah hari yang penuh sukacita dan pengharapan karena kita sudah dekat dengan hari Minggu, hari Tuhan, Dies Dominica. Jika yang dipilih ialah Minggu, maka itu adalah lambang dari Hari Baru dengan hidup dan ciptaan Baru. Dengan wafat, kita menjadi ada baru dalam dan bersama dengan Tuhan.
Contoh-contoh seperti itu masih ada sangat banyak. Daftar contoh seperti itu masih bisa diperpanjang dan diperpanjang lagi. Tetapi saya cukupkan sampai di sini saja. Dan selain memilih tanggal mati, ternyata ada juga yang memilih bagaimana cara matinya. Ada juga yang memilih cara ia mati. Ketika Petrus lari keluar kota Roma untuk menghindarkan diri dari pengejaran dan aniaya, ia bertemu dengan Tuhan Yesus; konon Petrus pun bertanya kepada-Nya: Quo vadis Domine? Dan konon dijawab bahwa Ia mau kembali masuk ke kota Roma untuk disalibkan di sana. Mendengar hal itu Petrus pun kembali lagi ke kota dan ia ditangkap; ketika akan disalibkan ia meminta agar ia disalibkan dengan cara terbalik (kaki ke atas, kepala ke bawah, terbalik dari penyaliban atas Tuhan Yesus sendiri). Maximilianus Maria Kolbe, juga memilih mati sebagai martir dalam Perang Dunia II untuk menggantikan posisi seorang ayah (punya isteri dan punya anak-anak yang masih kecil). Maria Goretti juga memilih mati sebagai perawan, daripada harus memenuhi keingingan nafsu seorang pria bernama Alexander. Banyak di antara para martir dalam sejarah gereja juga memilih cara matinya sendiri.
Tiba-tiba di sini saya teringat akan Fransiskus dari Asisi. Ia mempunyai ritualnya sendiri pada saat menyongsong maut, sebagaimana dapat kita baca rinciannya dalam riwayat yang ditulis oleh Thomas dari Celano maupun oleh Bonaventura. Inilah tahap yang dilewati Fransiskus: mula-mula ia menulis sebuah puisi tentang alam raya, tentang saudara matahari, saudari rembulan, dan salah satu baitnya dibaktikannya kepada maut, yang disapanya sebagai saudari maut. Pada saat akan wafat, konon ia meminta agar dibaringkan di tanah, sebagai simbol penyatuan sakramental dengan ibunda bumi, ibu pertiwi, mater terra. Ia juga sebenarnya meminta agar dibaringkan dengan telanjang, tetapi atas perintah pimpinan ia akhirnya mau mengenakan jubah yang diperintahkan pimpinan demi ketaatan suci.
Ketika merenungkan peristiwa wafatnya Fransiskus dari Asisi, saya tiba-tiba teringat akan Abraham Joshua Heschel. Suatu saat dalam buku mistiknya yang mungil-kecil No Man is an Island, ia mengatakan bahwa ada tiga cara yang bisa dipakai orang untuk menghadapi realitas maut: pertama, dengan cara meratap. Cara ini cukup umum dalam pelbagai kebudayaan di dunia ini. Saya tentu saja teringat akan ritual meratap orang mati dalam kebudayaan orang Manggarai sendiri. Kedua, dengan cara diam, merenung, kontemplasi, pasrah, menerima apa adanya yang terjadi. Itu sudah menjadi kehendak Allah,takdir dari sang pencipta. Ini juga ada dalam pelbagai kebudayaan di dunia ini. Ketiga, dengan cara berpuisi. Adat meratap, cukup banyak menyebar di seluruh dunia; adat diam dalam keheningan, juga cukup banyak tersebar di pelbagai kebudayaan di dunia ini. Tetapi adat berpuisi, itu sangat langka. Saya hanya menemukannya dalam diri Fransiskus dari Asisi: Selamat datang Saudari Maut.
Yogyakarta, 01 November 2011 (ditulis dan dikomputerkan, 28 November 2011).
canticum solis adalah blogspot saya untuk pendalaman dan diskusi soal-soal filosofis, teologis, spiritualitas dan yang terkait. Kalau berkenan mohon menulis kesan atau komentar anda di bagian akhir dari artikel yang anda baca. Terima kasih... canticum solis is my blog in which I write the topics on philosophy, theology, spiritual life. If you don't mind, please give your comment or opinion at the end of any article you read. thanks a lot.....
Friday, December 9, 2011
PREFASI ADVEN I, II, III
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Dalam Tata Perayaan Ekaristi kita terdapat tiga Prefasi yang disediakan secara khusus untuk masa Adven (TPE, hal.46-49; dalam teks berbahasa Inggris, hanya ada dua Prefasi untuk masa Adven. Sayang saya belum sempat memeriksa prefasi Adven dalam buku standar ulasan teologis prefasi dari Cuttberth Johnson, pakar liturgi dan khususnya pakar Prefasi itu). Saya terutama akan berpatokan pada buku resmi TPE. Saya mulai dengan Prefasi Adven I. Di suatu tempat lain saya pernah mengulas secara populer mengenai teologi Adven (lihat buku, Menimba Kekayaan Liturgi, YPN, 2008).
Judul kecil Prefasi Adven I ini bagi saya sangat menarik perhatian, yaitu: Kedatangan Kristus yang pertama dan kedua. Jadi, disebut sekaligus Titik awal (protologi atau arkeologi) dan titik akhir (eskatologi, parousia); kedua hal itu sekaligus dirayakan dan dikenangkan dalam satu peristiwa perayaan. Jelas itu sebuah dialektika teologis dan iman yang sangat menarik perhatian. Lalu dalam rubrik ada penetapan mengenai tanggal kapan prefasi ini dipakai. Prefasi ini dipakai dalam perayaan ekaristi harian mulai tanggal 1 sampai 16 Desember, dalam Ekaristi yang tidak mempunyai prefasi khusus. Itu berarti dalam perayaan Ekaristi tanggal 8 Desember kita tidak memakai prefasi ini sebab dalam ekaristi itu tersedia prefasi khusus untuk Hari Raya Santa Perawan Maria Dikandung tanpa Dosa (Immaculata Conceptio). Pada kesempatan lain saya telah mengulas mengenai prefasi ini.
Prefasi ini mengemukakan alasan kita bersyukur kepada Allah yaitu dengan cara menengok kembali ke titik awal (alpha) sejarah keselamatan yaitu pada awal peristiwa inkarnasi, peristiwa verbum caro factum est. Kita bersyukur kepada Allah atas peristiwa inkarnasi itu. Dalam dan dengan peristiwa inkarnasi, Yesus sang Sabda telah menghampakan diri (misteri kenosis) dan menjadi hamba, menjadi manusia lemah, menjadi orang yang tidak berdaya. Hal itu terjadi untuk mewujud-nyatakan janji keselamatan dari Allah yang direncanakan sejak dari kekal. Pemenuhan janji itu sekarang dan di sini menjadi peluang terbukanya jalan keselamatan bagi kita umat manusia.
Sekaligus dalam prefasi ini kita terpikir atau didorong untuk berpikir tentang parousia (omega), tentang kedatangan kembali Tuhan pada akhir jaman. Bedanya ialah kali ini Ia akan datang dalam kemuliaan-Nya. Walau tidak disebut secara eksplisit dalam prefasi ini, toh terbayang juga di sini secara implisit peristiwa peninggian-Nya, yaitu kontras dari peristiwa kenosis yaitu misteri plerosis yang dirayakan dan dikidungkan dengan sangat indah dalam Kidung Filipi itu (Fil.2:5-11). Di sini sekaligus ditegaskan tentang keyakinan dan harapan kita bahwa kedatangan itu kelak akan mendatangkan kebahagiaan sejati bagi kita. Kini kita merindukan hal itu dengan penuh kasih dan harapan. Dinamika kasih dan pengharapan itulah yang menghidupkan dan menopang kita dalam perjalanan kita ke masa depan itu.
Sekarang saya mau mengulas secara singkat Prefasi Adven II. Judul kecil Prefasi ini juga sangat menarik yaitu Adam Baru. Judul kecil ini juga berfungsi sebagai kunci pemahaman yang penting bagi kita dalam membaca prefasi ini. Juga dalam rubrik kita dapat menemukan penetapan mengenai tanggal pemakaian prefasi ini, yaitu pada perayaan ekaristi untuk tanggal 1 sampai 16 Desember. Prefasi ini memberi sebuah alasan yang lain untuk bersyukur. Dan alasan itu ialah karena “Engkau menjanjikan Juru Selamat yang akan membebaskan umat manusia.” Sang Juru Selamat itu disebut Adam Baru. Karena ia disebut Adam Baru, maka serta merta kita pun terpikir tentang kontrasnya yaitu sang Adam Lama. Siapa Adam Lama itu? Sang Adam Lama ialah Adam pada awal mula yang kita baca dalam Kitab Kejadian itu. Ia telah menjatuhkan kita ke dalam dosa. Sebaliknya sang Adam Baru, membawa keselamatan bagi kita.
Siapa Adam Baru itu? Tidak lain ialah Yesus Kristus sendiri. Itulah yang dirayakan sekarang dan di sini. Kontras antara kedua Adam ini bukan ciptaan Liturgi gereja, melainkan berasal dari Paulus. Kita dapat menemukan kontras itu dalam suratnya kepada Jemaat di Roma (5:12-20, walau di sana tidak disebut Adam Lama dan Baru, melainkan Adam dan Kristus. Seorang Bapa Gereja menciptakan istilah Adam Lama dan Baru; hal itu juga disejajarkan dengan Hawa Lama dan Hawa Baru, Maria). Sang Adam Baru ini mempunyai sebuah tugas yang luhur dan mulia yaitu memulihkan relasi manusia dengan Allah, yang dulu telah diputus atau dirusak oleh Adam Lama. Menarik bahwa relasi itu dipakai kata persahabatan dalam terjemahan TPE kita (Persekutuan, communio). Relasi awali yang dirusak Adam Lama, kini diplihkan kembali oleh sang Adam Baru yaitu Kristus Yesus.
Masih ada lagi segi lain dari bagian akhir prefasi ini yaitu bahwa kita juga yakin bahwa relasi itu akan semakin sempurna lagi jika Kristus datang kembali pada akhir jaman kelak. Jadi, prefasi ini merayakan sekaligus dialektika protologi dan eskatologi. Itulah yang sangat indah dan menarik dalam prefasi ini. Seakan-akan kita ditarik ke awal, tetapi sekaligus ke akhir. Kita bermain-main di tengah “permainan” ke depan dan ke belakang itu, ke awal dan ke akhir. Elastisitas imajinasi iman kita membuat hal itu mungkin terjadi dalam perayaan ekaristi kita.
Akhirnya saya sampai pada ulasan mengenai Prefasi Adven III. Menarik jika kita melihat judul kecil Prefasi ini, sebab judul kecil itu menjadi kunci bagi kita untuk memahami seluruh dinamika prefasi ini. (Perlu saya beritahukan bahwa dalam buku ekaristi bahasa Inggris, hanya ada dua prefasi untuk masa Adven; yaitu prefasi I dan III. Prefasi Kedua, hanya ada dalam TPE saja. Tetapi saya belum sempat mengecek ke buku besar dari Cuttbert Johnson). Judul kecilnya ialah: Kristus Dinantikan Dahulu dan Sekarang. Dalam rubrik ada penetapan waktu pemakaian prefasi ini. Prefasi ini dipakai tanggal 17 sampai 24 Desember.
Berbeda dengan dua Prefasi Adven terdahulu, Prefasi Adven ini mempunyai struktur khusus. Sesudah bagian awal (protokol) yang mengungkapkan sikap dasar syukur kita, tidak kita temukan alasan untuk syukur itu. Yang ada di sini bukan alasan bersyukur, melainkan sebuah pujian murni, yaitu dalam arti bukan sebagai alasan untuk bersyukur. Dan menurut saya hal itu sangat unik. Jika ini bukan merupakan alasan bersyukur sebagaimana biasanya, maka ini adalah sebuah penegasan akan kesadaran akan pengakuan dan keyakinan iman kita bahwa Kristus telah dinubuatkan oleh para nabi dalam Perjanjian Lama seperti yang dapat kita baca dalam Kitab Nabi Yesaya misalnya. Dialah juga yang dikandung dengan penuh kasih sayang oleh Bunda Maria, tugas luhur seorang ibu tentu saja.
Lalu kita melihat bahwa di sini disebut juga nama Yohanes Pembaptis. Tentu ada alasan mengapa ia disebut juga di sini. Sebab ia adalah mahkota para nabi Perjanjian Lama, bahkan disebut yang terbesar di antara para nabi. Di sini ia tidak hanya disebutkan namanya, melainkan juga disebutkan dua tugas mendasarnya. Pertama, ialah mewartakan Yesus ketika ia akan datang, sebab Yohanes adalah bentara Kristus, suara yang berseru di padang gurun untuk meluruskan dan meratakan jalan Tuhan. Kedua, ialah tugas memperkenalkan Yesus ketika Yesus akan tampil di muka umum untuk memulai karya pelayanan publikNya.
Akhirnya saya masih menemukan sesuatu hal yang paling unik dalam prefasi ini: yaitu bahwa kita pun sadar bahwa Dia (Kristus) jugalah yang menyiapkan seluruh hidup dan hati kita sekarang dan di sini secara khusus dalam masa Adven ini agar hati kita mampu dan bersedia menerima kelahiranNya kelak pada masa Natal. Dan itulah salah satu sumber sukacita iman kita yang dirayakan dalam prefasi ini. Syukur atas pengharapan dan iman itu kita tuangkan dalam kidung pujian abadi bersama para malaekat di surga.
Yogya, Desember 2011
Diketik dan diperluas dari catatan yang dipersiapkan lama sebelumnya dari tahun 2008.
Dalam Tata Perayaan Ekaristi kita terdapat tiga Prefasi yang disediakan secara khusus untuk masa Adven (TPE, hal.46-49; dalam teks berbahasa Inggris, hanya ada dua Prefasi untuk masa Adven. Sayang saya belum sempat memeriksa prefasi Adven dalam buku standar ulasan teologis prefasi dari Cuttberth Johnson, pakar liturgi dan khususnya pakar Prefasi itu). Saya terutama akan berpatokan pada buku resmi TPE. Saya mulai dengan Prefasi Adven I. Di suatu tempat lain saya pernah mengulas secara populer mengenai teologi Adven (lihat buku, Menimba Kekayaan Liturgi, YPN, 2008).
Judul kecil Prefasi Adven I ini bagi saya sangat menarik perhatian, yaitu: Kedatangan Kristus yang pertama dan kedua. Jadi, disebut sekaligus Titik awal (protologi atau arkeologi) dan titik akhir (eskatologi, parousia); kedua hal itu sekaligus dirayakan dan dikenangkan dalam satu peristiwa perayaan. Jelas itu sebuah dialektika teologis dan iman yang sangat menarik perhatian. Lalu dalam rubrik ada penetapan mengenai tanggal kapan prefasi ini dipakai. Prefasi ini dipakai dalam perayaan ekaristi harian mulai tanggal 1 sampai 16 Desember, dalam Ekaristi yang tidak mempunyai prefasi khusus. Itu berarti dalam perayaan Ekaristi tanggal 8 Desember kita tidak memakai prefasi ini sebab dalam ekaristi itu tersedia prefasi khusus untuk Hari Raya Santa Perawan Maria Dikandung tanpa Dosa (Immaculata Conceptio). Pada kesempatan lain saya telah mengulas mengenai prefasi ini.
Prefasi ini mengemukakan alasan kita bersyukur kepada Allah yaitu dengan cara menengok kembali ke titik awal (alpha) sejarah keselamatan yaitu pada awal peristiwa inkarnasi, peristiwa verbum caro factum est. Kita bersyukur kepada Allah atas peristiwa inkarnasi itu. Dalam dan dengan peristiwa inkarnasi, Yesus sang Sabda telah menghampakan diri (misteri kenosis) dan menjadi hamba, menjadi manusia lemah, menjadi orang yang tidak berdaya. Hal itu terjadi untuk mewujud-nyatakan janji keselamatan dari Allah yang direncanakan sejak dari kekal. Pemenuhan janji itu sekarang dan di sini menjadi peluang terbukanya jalan keselamatan bagi kita umat manusia.
Sekaligus dalam prefasi ini kita terpikir atau didorong untuk berpikir tentang parousia (omega), tentang kedatangan kembali Tuhan pada akhir jaman. Bedanya ialah kali ini Ia akan datang dalam kemuliaan-Nya. Walau tidak disebut secara eksplisit dalam prefasi ini, toh terbayang juga di sini secara implisit peristiwa peninggian-Nya, yaitu kontras dari peristiwa kenosis yaitu misteri plerosis yang dirayakan dan dikidungkan dengan sangat indah dalam Kidung Filipi itu (Fil.2:5-11). Di sini sekaligus ditegaskan tentang keyakinan dan harapan kita bahwa kedatangan itu kelak akan mendatangkan kebahagiaan sejati bagi kita. Kini kita merindukan hal itu dengan penuh kasih dan harapan. Dinamika kasih dan pengharapan itulah yang menghidupkan dan menopang kita dalam perjalanan kita ke masa depan itu.
Sekarang saya mau mengulas secara singkat Prefasi Adven II. Judul kecil Prefasi ini juga sangat menarik yaitu Adam Baru. Judul kecil ini juga berfungsi sebagai kunci pemahaman yang penting bagi kita dalam membaca prefasi ini. Juga dalam rubrik kita dapat menemukan penetapan mengenai tanggal pemakaian prefasi ini, yaitu pada perayaan ekaristi untuk tanggal 1 sampai 16 Desember. Prefasi ini memberi sebuah alasan yang lain untuk bersyukur. Dan alasan itu ialah karena “Engkau menjanjikan Juru Selamat yang akan membebaskan umat manusia.” Sang Juru Selamat itu disebut Adam Baru. Karena ia disebut Adam Baru, maka serta merta kita pun terpikir tentang kontrasnya yaitu sang Adam Lama. Siapa Adam Lama itu? Sang Adam Lama ialah Adam pada awal mula yang kita baca dalam Kitab Kejadian itu. Ia telah menjatuhkan kita ke dalam dosa. Sebaliknya sang Adam Baru, membawa keselamatan bagi kita.
Siapa Adam Baru itu? Tidak lain ialah Yesus Kristus sendiri. Itulah yang dirayakan sekarang dan di sini. Kontras antara kedua Adam ini bukan ciptaan Liturgi gereja, melainkan berasal dari Paulus. Kita dapat menemukan kontras itu dalam suratnya kepada Jemaat di Roma (5:12-20, walau di sana tidak disebut Adam Lama dan Baru, melainkan Adam dan Kristus. Seorang Bapa Gereja menciptakan istilah Adam Lama dan Baru; hal itu juga disejajarkan dengan Hawa Lama dan Hawa Baru, Maria). Sang Adam Baru ini mempunyai sebuah tugas yang luhur dan mulia yaitu memulihkan relasi manusia dengan Allah, yang dulu telah diputus atau dirusak oleh Adam Lama. Menarik bahwa relasi itu dipakai kata persahabatan dalam terjemahan TPE kita (Persekutuan, communio). Relasi awali yang dirusak Adam Lama, kini diplihkan kembali oleh sang Adam Baru yaitu Kristus Yesus.
Masih ada lagi segi lain dari bagian akhir prefasi ini yaitu bahwa kita juga yakin bahwa relasi itu akan semakin sempurna lagi jika Kristus datang kembali pada akhir jaman kelak. Jadi, prefasi ini merayakan sekaligus dialektika protologi dan eskatologi. Itulah yang sangat indah dan menarik dalam prefasi ini. Seakan-akan kita ditarik ke awal, tetapi sekaligus ke akhir. Kita bermain-main di tengah “permainan” ke depan dan ke belakang itu, ke awal dan ke akhir. Elastisitas imajinasi iman kita membuat hal itu mungkin terjadi dalam perayaan ekaristi kita.
Akhirnya saya sampai pada ulasan mengenai Prefasi Adven III. Menarik jika kita melihat judul kecil Prefasi ini, sebab judul kecil itu menjadi kunci bagi kita untuk memahami seluruh dinamika prefasi ini. (Perlu saya beritahukan bahwa dalam buku ekaristi bahasa Inggris, hanya ada dua prefasi untuk masa Adven; yaitu prefasi I dan III. Prefasi Kedua, hanya ada dalam TPE saja. Tetapi saya belum sempat mengecek ke buku besar dari Cuttbert Johnson). Judul kecilnya ialah: Kristus Dinantikan Dahulu dan Sekarang. Dalam rubrik ada penetapan waktu pemakaian prefasi ini. Prefasi ini dipakai tanggal 17 sampai 24 Desember.
Berbeda dengan dua Prefasi Adven terdahulu, Prefasi Adven ini mempunyai struktur khusus. Sesudah bagian awal (protokol) yang mengungkapkan sikap dasar syukur kita, tidak kita temukan alasan untuk syukur itu. Yang ada di sini bukan alasan bersyukur, melainkan sebuah pujian murni, yaitu dalam arti bukan sebagai alasan untuk bersyukur. Dan menurut saya hal itu sangat unik. Jika ini bukan merupakan alasan bersyukur sebagaimana biasanya, maka ini adalah sebuah penegasan akan kesadaran akan pengakuan dan keyakinan iman kita bahwa Kristus telah dinubuatkan oleh para nabi dalam Perjanjian Lama seperti yang dapat kita baca dalam Kitab Nabi Yesaya misalnya. Dialah juga yang dikandung dengan penuh kasih sayang oleh Bunda Maria, tugas luhur seorang ibu tentu saja.
Lalu kita melihat bahwa di sini disebut juga nama Yohanes Pembaptis. Tentu ada alasan mengapa ia disebut juga di sini. Sebab ia adalah mahkota para nabi Perjanjian Lama, bahkan disebut yang terbesar di antara para nabi. Di sini ia tidak hanya disebutkan namanya, melainkan juga disebutkan dua tugas mendasarnya. Pertama, ialah mewartakan Yesus ketika ia akan datang, sebab Yohanes adalah bentara Kristus, suara yang berseru di padang gurun untuk meluruskan dan meratakan jalan Tuhan. Kedua, ialah tugas memperkenalkan Yesus ketika Yesus akan tampil di muka umum untuk memulai karya pelayanan publikNya.
Akhirnya saya masih menemukan sesuatu hal yang paling unik dalam prefasi ini: yaitu bahwa kita pun sadar bahwa Dia (Kristus) jugalah yang menyiapkan seluruh hidup dan hati kita sekarang dan di sini secara khusus dalam masa Adven ini agar hati kita mampu dan bersedia menerima kelahiranNya kelak pada masa Natal. Dan itulah salah satu sumber sukacita iman kita yang dirayakan dalam prefasi ini. Syukur atas pengharapan dan iman itu kita tuangkan dalam kidung pujian abadi bersama para malaekat di surga.
Yogya, Desember 2011
Diketik dan diperluas dari catatan yang dipersiapkan lama sebelumnya dari tahun 2008.
Saturday, October 29, 2011
ECCE HOMO IMAGINANS
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Hari ini, tanggal 15 Mei 2009, prof.Dr.Ignatius Bambang Sugiharto (Guru Besar Filsafat dan Seni pada Fakultas Filsafat UNPAR Bandung) datang ke ruangan kantor saya untuk menanyakan satu istilah dalam bahasa Latin. Konon ia mempunyai rencana untuk memakai istilah itu (kalau memang ada dan kalau memang bisa dibentuk) dalam sebuah diskursus atau wacana filsafat manusia masa kini. Konsep yang ia mau cari istilahnya yang pas ialah konsep “manusia yang berimajinasi.” Beliau mau mencari istilah yang tepat yang secara kurang lebih sama dengan ungkapan-ungkapan klasik dalam antropologi filsafat: misalnya Homo Ludens (dari Filsuf Belanda Johan Huizinga), Homo orans (kiranya dari konteks tradisi Liturgi Kristiani), homo ridens (dari disiplin psikologi modern), Homo sapiens (dari para filsuf Yunani, terutama Aristoteles), Homo sperans (dari para filsuf dan teolog pengharapan ala Ernst Bloch, Ladislaus Boros, Karl Marx, dll), homo laborans (manusia yang bekerja, mungkin dari para filsuf Yunani kuno dan filsuf Kristiani abad pertengahan, tetapi yang pada masa modern ini dibangkitkan lagi oleh orang seperti Hannah Arendt), homo mendax (dari Mazmur 116:11, versi Vulgata, terjemahan Latin).
Ia bertanya, apakah bisa dibentuk istilah Latin untuk gagasan “manusia yang berimajinasi” itu? Sebab ia sangat yakin bahwa itulah salah satu subtansi dan kemampuan dasar manusia sebagai makhluk ciptaan Allah. Sebuah wacana filsafat manusia masa kini yang juga sangat kuat. Saya membenarkan beliau, dengan mengatakan bahwa secara teologis-biblis, manusia adalah makhluk yang diciptakan Allah menurut gambar dan citra Allah (Kej.1:26-28). Jadi, pada dasarnya, manusia dan berada sebagai manusia, adalah juga ada dan berada sebagai gambar, sebagai imago. Imago adalah struktur dasar eksistensinya. Jadi, dalam diri manusia ada kemampuan dasar untuk meng-gambar, membangun sebuah gambar; istilah bahasa Jerman sangat bagus untuk melukiskan hal ini karena sangat dinamis melukiskan proses terjadinya hal itu sendiri, Einbildungskraft.
“Wah Prof., itu sebuah pertanyaan yang sukar, sebuah pertanyaan yang tidak mudah untuk dijawab.” Begitulah reaksi spontan saya saat itu di hadapan beliau. Tetapi karena ia sudah datang ke ruangan kantor saya, maka saya harus mencoba menjawab dan mencari dan memberi penjelasan kepada beliau. Sebelum mencari kamus bahasa Latin dan Yunani, saya memberitahu kepada beliau bahwa dalam tradisi filsafat manusia barat (yang sebagian besar sangat dipengaruhi oleh bahasa Latin), sebenarnya ada tiga cara atau proses pembentukan istilah homo itu jika dipakai sebagai istilah teknis dalam wacana filsafat manusia. Pertama, kata homo itu dikaitkan dengan kata benda, tetapi kata benda itu berfungsi sebagai keterangan pada kata homo tadi. Saya memberi beberapa contoh, misalnya: Homo faber, homo viator (dari filsuf Prancis, Gabriel Marcel), homo peccator (dari Mazmur), homo pictor (yang ini agak muncul belakangan, setelah saya selesai menulis ulang dan mengolah kembali artikel ini; tetapi ada baiknya saya daftarkan juga di sini sebagai contoh). Jadi yang ada dan dipakai di sini ialah homo faber, dan bukan homo fabricans seperti contoh-contoh tradisional yang sudah disebutkan di atas tadi. Ya, memang contoh untuk model pertama ini sangat terbatas; sejauh ini saya baru menemukan tiga contoh itu saja.
Kedua, kata homo itu dikaitkan dengan kata sifat yang (sebagaimana memang substansi dari kata sifat itu sendiri) pasti menerangkan kata benda homo itu juga yang ada di depannya. Di sini bisa diberikan beberapa contoh. Misalnya: homo religiosus, homo oeconomicus, homo socius. Sayangnya, saya hanya baru bisa menemukan tiga contoh ini saja. Mungkin dalam proses refleksi di kemudian hari dan juga dalam pembacaan, saya bisa menemukan contoh-contoh lain. Ketiga, kata homo itu dikaitkan dengan bentuk gerundivum aktif nominativus dari kata kerja yang memberi keterangan, dan karena itu juga memberi keterangan terhadap kata benda homo tadi. Di sini juga ada beberapa contoh yang menarik. Misalnya: homo orans, homo ludens, homo ridens, homo sperans, homo sapiens, dll.
Setelah memberi penjelasan mengenai ketiga model proses pembentukan istilah itu, saya kembali ke persoalan yang diajukan Prof.Bambang tadi kepada saya. Ya, secara retoris saya juga bertanya: Lalu bagaimana dengan gagasan filosofis “manusia sebagai makhluk yang berimajinasi”? Apakah ada istilah bakunya? Kalau tidak ada, apakah bisa dibentuk menurut ketiga pola di atas tadi? Itulah pertanyaan saya, mengulang pertanyaan yang sudah ditanyakan oleh Prof.Bambang tadi kepada saya.
Seperti sudah saya akui di atas tadi, jelas ini sebuah pertanyaan yang tidak mudah. Tampaknya sederhana, tetapi sesungguhnya sama sekali tidak sesederhana yang dibayangkan oleh sementara kalangan. Oleh karena itu, agar tidak salah-salah, dan juga agar tidak meleset, maka saya pun membuka Kamus bahasa Latin yang ada di rak buku-buku saya. Di sana di dalam kamus itu saya menemukan sebuah kata sifat imaginosus. Tentu saja kata sifat ini sangat erat terkait dengan kata benda imago, yang berarti gambar atau citra. Di dalam kamus itu tidak ada kata sifat hasil bentukan gerundivum aktif nominativus, misalnya imaginans. Maka atas dasar kata sifat leksikal itu, saya pun mengusulkan kepada Prof.Bambang agar konsep filosofis itu disebut saja dengan sebutan homo imaginosus.
Mendengar usul saya itu, Prof.Bambang langsung mau menerimanya, apalagi saya memberi argumentasi bahwa istilah itu tidak salah (alias bisa dibenarkan dan dipertanggung-jawabkan secara gramatikal dan juga secara filosofis-historis) karena memang ada kesejajaran gramatikal-fonetikal dengan istilah yang sudah sangat baku dan klasik dalam teologi dan ilmu agama-agama, yaitu homo religiosus. Ia berkata kepada saya bahwa ia akan memakai istilah itu sebagai istilah baku dalam wacana filsafatnya. Dalam hati saya berpikir, semoga ia bisa mengakui dengan jujur dari siapa ia memperoleh istilah itu. Memang sore hari itu, kalau tidak salah beliau akan menjadi pembicara dalam sebuah seminar bertemakan filsafat manusia, di salah satu forum di kota Bandung.
Setelah prof.Bambang sudah pergi meninggalkan ruangan kantor saya, tiba-tiba saya terpikir untuk mencari kata lain dalam Bahasa Latin untuk gagasan yang sama. Kata itu ialah kata pictor. Dan memang kata itu ada juga dalam kamus bahasa Latin tadi. Atas dasar istilah itu, saya pun menegaskan kepada diri saya sendiri bahwa gagasan filosofis tadi ternyata bisa juga disebut dengan sebutan homo pictor yang kiranya juga bisa diterima dan dipertanggung-jawabkan secara ilmiah dan fonetis-gramatologis mengingat adanya kesejajaran dan kemiripan bunyi dan gramatikal dengan istilah lain yang sudah klasik juga dalam wacana filsafat manusia: homo viator, homo peccator.
Tetapi setelah saya pikir-pikir dan mempertimbangkannya kembali secara serius, saya akhirnya menolak atau tidak mau menerima istilah ini karena kata pictor berarti melukis gambar secara fisikal, artinya kita atau seseorang memakai alat material untuk melukis pada sebuah kanvas. Misalnya ia memakai kuas, kanvas, cat dan wadah-wadah lain yang perlu. Sedangkan yang dimaksudkan di sini ialah sesuatu yang lebih bersifat abstrak, sebuah imajinasi, sebuah kemampuan membangun gambar di dalam daya kayal, membangun gambar (imago, Bildung) di dalam daya akal, jadi agak bersifat abstrak, psikologis. Di sini ketika memikirkan hal ini, jelas saya sangat terpengaruh oleh terjemahan kata imajinasi itu dalam bahasa Jerman: Einbildungskraft, yang jika ditelusuri secara etimologis bisa diartikan sebagai daya kemampuan untuk membangun sebuah gambar, tentu saja dalam proses rohani dalam imajinasi, dalam olah akal budi (saya temukan dan sadari hal ini ketika membaca buku Truth and Method dari Hans Georg Gadamer itu). Oleh karena itu saya kembali lagi ke istilah homo imaginosus tadi dan memakai istilah itu dan tidak memakai istilah homo pictor.
Jauh di kemudian hari, masih dalam rangka refleksi mengenai hal ini, saya cenderung memakai istilah lain: yaitu homo imaginans, dan bukan lagi istilah homo imaginosus. Istilah ini saya rasa lebih substansial dan dinamis dan lebih dari sekadar kata sifat yang memberi keterangan pada kata benda belaka. Kata ini (imaginans), lebih menunjuk ke substansi aktifitas itu sendiri. Jadi, kalau manusia modern membayangkan dirinya sendiri sekarang ini, sebenarnya ia sedang memandang sang manusia yang mempunyai kemampuan berimajinasi, kemampuan membangun gambar dalam pikirannya, homo imaginans, ecce homo imaginans. Eksistensi manusia sebagai homo imaginans juga mempunyai daya pengaruh yang kuat dalam proses pembentukan watak dan cara berpikir manusia, terutama faktor kecerdasan imajinatifnya.
Di sini ketika saya sedang mengetik dan mengedit ulang tulisan ini, saya tiba-tiba teringat akan nasihat yang pernah saya berikan kepada anak saya beberapa minggu yang lalu, sebelum saya mengetik naskah ini dalam komputer. Anak saya Agung sangat suka membaca komik, atau cerita bergambar. Ia mengoleksi sangat banyak buku seperti itu, terutama komik Jepang dengan cerita seperti Naruto. Ada juga komik Alkitab baik dengan teknik menggambar tradisional, maupun teknik menggambar manga (komik Jepang). Ketika sebuah buku sudah habis dilahapnya, ia akan duduk dengan tekun di depan komputer dan mengunduh cerita-cerita yang sama dari dunia maya. Bosan dengan itu, ia akan nonton televisi, juga cerita-cerita Jepang seperti Naruto tadi. Saya tentu saja cemas melihatnya, terutama cemas mengenai kesehatan matanya. Juga cemas akan perkembangan daya imajinasinya. Tetapi seorang teman dari Universitas Gajah Mada, berkata kepada saya bahwa biarkan saja anak itu membaca dan menikmati komik-komik, karena menurut dia hal itu amat bisa sangat membantu peningkatan dan perkembangan kecerdasan anak. Maka saya membiarkan dia terus membaca dan membaca komik.
Tetapi belakangan saya mulai menganjurkan dia agar mengurangi bacaan komik itu. Ia harus mulai banyak membaca buku-buku yang hanya penuh dengan gambar huruf-huruf saja. Saya memberi sebuah alasan yang sangat pedagogis-filosofis sbb: selama ini, ketika kamu membaca buku komik, maka dalam benakmu muncul gambar yang sesuai dengan gambar-gambar dalam komik itu. Itu sama sekali tidak membantu proses kreatif dalam daya kayal. Kamu harus mulai membaca buku-buku tanpa gambar. Ketika membaca buku-buku tanpa gambar itulah, kamu sendirilah yang secara aktif harus membuat atau membangun gambar dalam benak kalbumu. Dengan cara itu kamu akan menjadi manusia yang kreatif dan imajinatif. Dan saya sangat beruntung karena ia bisa mengerti dan mau menerimanya.
Untuk memperkuat argumen itu, saya pun bercerita tentang perbedaan antara menonton televisi dan mendengar radio. Saya katakan kepada dia, bahwa dulu ketika saya masih kecil, saya “nonton” siaran bola kaki atau badminton, atau tinju, melalui radio. Saya katakan “menonton,” karena memang ketika mendengar sang komentator memberi laporan pandangan mata yang sangat hidup dan berapi-api, dengan sendirinya muncul ruang imajinasi dalam benak saya, ruang gambar-gambar hidup, yang sangat hidup, sangat luwes dan saya sendirilah yang membentuknya, dan saya sendirilah yang membangun dan menentukannya. Itu sangat berbeda dengan menonton televisi: mata dan benak kalbu kita sudah disuguhi dengan gambar-gambar. Model ini memang bisa mendatangkan daya kreatifitas tersendiri, tetapi dalam pemahaman dan pengamatan saya tidak sangat kreatif. Sekali lagi, saya sangat senang, Agung bisa memahami dan akhirnya bisa menerima hal itu. Puji Tuhan. Ecce homo imaginans.
Yogya, 28 Oktober 2011. (Asli 15 Mei 2009).
Hari ini, tanggal 15 Mei 2009, prof.Dr.Ignatius Bambang Sugiharto (Guru Besar Filsafat dan Seni pada Fakultas Filsafat UNPAR Bandung) datang ke ruangan kantor saya untuk menanyakan satu istilah dalam bahasa Latin. Konon ia mempunyai rencana untuk memakai istilah itu (kalau memang ada dan kalau memang bisa dibentuk) dalam sebuah diskursus atau wacana filsafat manusia masa kini. Konsep yang ia mau cari istilahnya yang pas ialah konsep “manusia yang berimajinasi.” Beliau mau mencari istilah yang tepat yang secara kurang lebih sama dengan ungkapan-ungkapan klasik dalam antropologi filsafat: misalnya Homo Ludens (dari Filsuf Belanda Johan Huizinga), Homo orans (kiranya dari konteks tradisi Liturgi Kristiani), homo ridens (dari disiplin psikologi modern), Homo sapiens (dari para filsuf Yunani, terutama Aristoteles), Homo sperans (dari para filsuf dan teolog pengharapan ala Ernst Bloch, Ladislaus Boros, Karl Marx, dll), homo laborans (manusia yang bekerja, mungkin dari para filsuf Yunani kuno dan filsuf Kristiani abad pertengahan, tetapi yang pada masa modern ini dibangkitkan lagi oleh orang seperti Hannah Arendt), homo mendax (dari Mazmur 116:11, versi Vulgata, terjemahan Latin).
Ia bertanya, apakah bisa dibentuk istilah Latin untuk gagasan “manusia yang berimajinasi” itu? Sebab ia sangat yakin bahwa itulah salah satu subtansi dan kemampuan dasar manusia sebagai makhluk ciptaan Allah. Sebuah wacana filsafat manusia masa kini yang juga sangat kuat. Saya membenarkan beliau, dengan mengatakan bahwa secara teologis-biblis, manusia adalah makhluk yang diciptakan Allah menurut gambar dan citra Allah (Kej.1:26-28). Jadi, pada dasarnya, manusia dan berada sebagai manusia, adalah juga ada dan berada sebagai gambar, sebagai imago. Imago adalah struktur dasar eksistensinya. Jadi, dalam diri manusia ada kemampuan dasar untuk meng-gambar, membangun sebuah gambar; istilah bahasa Jerman sangat bagus untuk melukiskan hal ini karena sangat dinamis melukiskan proses terjadinya hal itu sendiri, Einbildungskraft.
“Wah Prof., itu sebuah pertanyaan yang sukar, sebuah pertanyaan yang tidak mudah untuk dijawab.” Begitulah reaksi spontan saya saat itu di hadapan beliau. Tetapi karena ia sudah datang ke ruangan kantor saya, maka saya harus mencoba menjawab dan mencari dan memberi penjelasan kepada beliau. Sebelum mencari kamus bahasa Latin dan Yunani, saya memberitahu kepada beliau bahwa dalam tradisi filsafat manusia barat (yang sebagian besar sangat dipengaruhi oleh bahasa Latin), sebenarnya ada tiga cara atau proses pembentukan istilah homo itu jika dipakai sebagai istilah teknis dalam wacana filsafat manusia. Pertama, kata homo itu dikaitkan dengan kata benda, tetapi kata benda itu berfungsi sebagai keterangan pada kata homo tadi. Saya memberi beberapa contoh, misalnya: Homo faber, homo viator (dari filsuf Prancis, Gabriel Marcel), homo peccator (dari Mazmur), homo pictor (yang ini agak muncul belakangan, setelah saya selesai menulis ulang dan mengolah kembali artikel ini; tetapi ada baiknya saya daftarkan juga di sini sebagai contoh). Jadi yang ada dan dipakai di sini ialah homo faber, dan bukan homo fabricans seperti contoh-contoh tradisional yang sudah disebutkan di atas tadi. Ya, memang contoh untuk model pertama ini sangat terbatas; sejauh ini saya baru menemukan tiga contoh itu saja.
Kedua, kata homo itu dikaitkan dengan kata sifat yang (sebagaimana memang substansi dari kata sifat itu sendiri) pasti menerangkan kata benda homo itu juga yang ada di depannya. Di sini bisa diberikan beberapa contoh. Misalnya: homo religiosus, homo oeconomicus, homo socius. Sayangnya, saya hanya baru bisa menemukan tiga contoh ini saja. Mungkin dalam proses refleksi di kemudian hari dan juga dalam pembacaan, saya bisa menemukan contoh-contoh lain. Ketiga, kata homo itu dikaitkan dengan bentuk gerundivum aktif nominativus dari kata kerja yang memberi keterangan, dan karena itu juga memberi keterangan terhadap kata benda homo tadi. Di sini juga ada beberapa contoh yang menarik. Misalnya: homo orans, homo ludens, homo ridens, homo sperans, homo sapiens, dll.
Setelah memberi penjelasan mengenai ketiga model proses pembentukan istilah itu, saya kembali ke persoalan yang diajukan Prof.Bambang tadi kepada saya. Ya, secara retoris saya juga bertanya: Lalu bagaimana dengan gagasan filosofis “manusia sebagai makhluk yang berimajinasi”? Apakah ada istilah bakunya? Kalau tidak ada, apakah bisa dibentuk menurut ketiga pola di atas tadi? Itulah pertanyaan saya, mengulang pertanyaan yang sudah ditanyakan oleh Prof.Bambang tadi kepada saya.
Seperti sudah saya akui di atas tadi, jelas ini sebuah pertanyaan yang tidak mudah. Tampaknya sederhana, tetapi sesungguhnya sama sekali tidak sesederhana yang dibayangkan oleh sementara kalangan. Oleh karena itu, agar tidak salah-salah, dan juga agar tidak meleset, maka saya pun membuka Kamus bahasa Latin yang ada di rak buku-buku saya. Di sana di dalam kamus itu saya menemukan sebuah kata sifat imaginosus. Tentu saja kata sifat ini sangat erat terkait dengan kata benda imago, yang berarti gambar atau citra. Di dalam kamus itu tidak ada kata sifat hasil bentukan gerundivum aktif nominativus, misalnya imaginans. Maka atas dasar kata sifat leksikal itu, saya pun mengusulkan kepada Prof.Bambang agar konsep filosofis itu disebut saja dengan sebutan homo imaginosus.
Mendengar usul saya itu, Prof.Bambang langsung mau menerimanya, apalagi saya memberi argumentasi bahwa istilah itu tidak salah (alias bisa dibenarkan dan dipertanggung-jawabkan secara gramatikal dan juga secara filosofis-historis) karena memang ada kesejajaran gramatikal-fonetikal dengan istilah yang sudah sangat baku dan klasik dalam teologi dan ilmu agama-agama, yaitu homo religiosus. Ia berkata kepada saya bahwa ia akan memakai istilah itu sebagai istilah baku dalam wacana filsafatnya. Dalam hati saya berpikir, semoga ia bisa mengakui dengan jujur dari siapa ia memperoleh istilah itu. Memang sore hari itu, kalau tidak salah beliau akan menjadi pembicara dalam sebuah seminar bertemakan filsafat manusia, di salah satu forum di kota Bandung.
Setelah prof.Bambang sudah pergi meninggalkan ruangan kantor saya, tiba-tiba saya terpikir untuk mencari kata lain dalam Bahasa Latin untuk gagasan yang sama. Kata itu ialah kata pictor. Dan memang kata itu ada juga dalam kamus bahasa Latin tadi. Atas dasar istilah itu, saya pun menegaskan kepada diri saya sendiri bahwa gagasan filosofis tadi ternyata bisa juga disebut dengan sebutan homo pictor yang kiranya juga bisa diterima dan dipertanggung-jawabkan secara ilmiah dan fonetis-gramatologis mengingat adanya kesejajaran dan kemiripan bunyi dan gramatikal dengan istilah lain yang sudah klasik juga dalam wacana filsafat manusia: homo viator, homo peccator.
Tetapi setelah saya pikir-pikir dan mempertimbangkannya kembali secara serius, saya akhirnya menolak atau tidak mau menerima istilah ini karena kata pictor berarti melukis gambar secara fisikal, artinya kita atau seseorang memakai alat material untuk melukis pada sebuah kanvas. Misalnya ia memakai kuas, kanvas, cat dan wadah-wadah lain yang perlu. Sedangkan yang dimaksudkan di sini ialah sesuatu yang lebih bersifat abstrak, sebuah imajinasi, sebuah kemampuan membangun gambar di dalam daya kayal, membangun gambar (imago, Bildung) di dalam daya akal, jadi agak bersifat abstrak, psikologis. Di sini ketika memikirkan hal ini, jelas saya sangat terpengaruh oleh terjemahan kata imajinasi itu dalam bahasa Jerman: Einbildungskraft, yang jika ditelusuri secara etimologis bisa diartikan sebagai daya kemampuan untuk membangun sebuah gambar, tentu saja dalam proses rohani dalam imajinasi, dalam olah akal budi (saya temukan dan sadari hal ini ketika membaca buku Truth and Method dari Hans Georg Gadamer itu). Oleh karena itu saya kembali lagi ke istilah homo imaginosus tadi dan memakai istilah itu dan tidak memakai istilah homo pictor.
Jauh di kemudian hari, masih dalam rangka refleksi mengenai hal ini, saya cenderung memakai istilah lain: yaitu homo imaginans, dan bukan lagi istilah homo imaginosus. Istilah ini saya rasa lebih substansial dan dinamis dan lebih dari sekadar kata sifat yang memberi keterangan pada kata benda belaka. Kata ini (imaginans), lebih menunjuk ke substansi aktifitas itu sendiri. Jadi, kalau manusia modern membayangkan dirinya sendiri sekarang ini, sebenarnya ia sedang memandang sang manusia yang mempunyai kemampuan berimajinasi, kemampuan membangun gambar dalam pikirannya, homo imaginans, ecce homo imaginans. Eksistensi manusia sebagai homo imaginans juga mempunyai daya pengaruh yang kuat dalam proses pembentukan watak dan cara berpikir manusia, terutama faktor kecerdasan imajinatifnya.
Di sini ketika saya sedang mengetik dan mengedit ulang tulisan ini, saya tiba-tiba teringat akan nasihat yang pernah saya berikan kepada anak saya beberapa minggu yang lalu, sebelum saya mengetik naskah ini dalam komputer. Anak saya Agung sangat suka membaca komik, atau cerita bergambar. Ia mengoleksi sangat banyak buku seperti itu, terutama komik Jepang dengan cerita seperti Naruto. Ada juga komik Alkitab baik dengan teknik menggambar tradisional, maupun teknik menggambar manga (komik Jepang). Ketika sebuah buku sudah habis dilahapnya, ia akan duduk dengan tekun di depan komputer dan mengunduh cerita-cerita yang sama dari dunia maya. Bosan dengan itu, ia akan nonton televisi, juga cerita-cerita Jepang seperti Naruto tadi. Saya tentu saja cemas melihatnya, terutama cemas mengenai kesehatan matanya. Juga cemas akan perkembangan daya imajinasinya. Tetapi seorang teman dari Universitas Gajah Mada, berkata kepada saya bahwa biarkan saja anak itu membaca dan menikmati komik-komik, karena menurut dia hal itu amat bisa sangat membantu peningkatan dan perkembangan kecerdasan anak. Maka saya membiarkan dia terus membaca dan membaca komik.
Tetapi belakangan saya mulai menganjurkan dia agar mengurangi bacaan komik itu. Ia harus mulai banyak membaca buku-buku yang hanya penuh dengan gambar huruf-huruf saja. Saya memberi sebuah alasan yang sangat pedagogis-filosofis sbb: selama ini, ketika kamu membaca buku komik, maka dalam benakmu muncul gambar yang sesuai dengan gambar-gambar dalam komik itu. Itu sama sekali tidak membantu proses kreatif dalam daya kayal. Kamu harus mulai membaca buku-buku tanpa gambar. Ketika membaca buku-buku tanpa gambar itulah, kamu sendirilah yang secara aktif harus membuat atau membangun gambar dalam benak kalbumu. Dengan cara itu kamu akan menjadi manusia yang kreatif dan imajinatif. Dan saya sangat beruntung karena ia bisa mengerti dan mau menerimanya.
Untuk memperkuat argumen itu, saya pun bercerita tentang perbedaan antara menonton televisi dan mendengar radio. Saya katakan kepada dia, bahwa dulu ketika saya masih kecil, saya “nonton” siaran bola kaki atau badminton, atau tinju, melalui radio. Saya katakan “menonton,” karena memang ketika mendengar sang komentator memberi laporan pandangan mata yang sangat hidup dan berapi-api, dengan sendirinya muncul ruang imajinasi dalam benak saya, ruang gambar-gambar hidup, yang sangat hidup, sangat luwes dan saya sendirilah yang membentuknya, dan saya sendirilah yang membangun dan menentukannya. Itu sangat berbeda dengan menonton televisi: mata dan benak kalbu kita sudah disuguhi dengan gambar-gambar. Model ini memang bisa mendatangkan daya kreatifitas tersendiri, tetapi dalam pemahaman dan pengamatan saya tidak sangat kreatif. Sekali lagi, saya sangat senang, Agung bisa memahami dan akhirnya bisa menerima hal itu. Puji Tuhan. Ecce homo imaginans.
Yogya, 28 Oktober 2011. (Asli 15 Mei 2009).
Monday, September 26, 2011
PUISI-PUISI JULI 2011
OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
PADA AWAL MULA
Pada awal mula adalah bunyi, adalah fonem, adalah fonos, suara purba, aum, om, beresyit, kun faya kun, maka segala sesuatu pun mulai menjadi, mulai mengada, bahkan menjadi-jadi, dan mengada-ada. Itu awal mula ekses yang hanya bisa ditasi dengan menelusuri lagi etimologi. Ya, gerak kembali ke yang asali, ke yang awali. Sunyi. Berarti.
Lempong Lor, 18 Juli 2011.
AKU AKAN PERGI
Aku akan pergi menyusuri angin padang mencumbui ilalang dan berharap akan temui sunyi bengawan jati-diri di mana batu-batu menemani meditasi, nyepi dalam diri berlari menghindari ramai nan pekat sunyi tetap berarti kendati tiada angin sabana dan ilalang melengos bisu terbuai bisikan bayu nan biru.
Lempong Lor, 19 Juli 2011.
DI GEREJA
Di gereja kumelihat asap dupa, membumbung bebas memenuhi ruang suci, terbayang jiwaku, budiku, pikiranku yang rohani, yang bebas melayang, melanglang buana, karena ia adalah gambaran ilahi, hoc est imago dei.
Banteng, 24 Juli 2011.
DI GEREJA
Di gereja kumelihat asap dupa, membumbung bebas ke atas, terbayang sebuah misteri batianiah, dalam diriku, misteri doa yang benar, yang hanya bisa terucap berkat dorongan roh ilahi, yang sudi berdoa untukku, bahkan juga ketika aku tiada mampu berkata-kata, dan roh ilahi itu akan berdoa bagi kita dengan kata-kata yang tiada terucap.
Banteng, 24 Juli 2011.
PADA AWAL MULA
Pada awal mula adalah bunyi, adalah fonem, adalah fonos, suara purba, aum, om, beresyit, kun faya kun, maka segala sesuatu pun mulai menjadi, mulai mengada, bahkan menjadi-jadi, dan mengada-ada. Itu awal mula ekses yang hanya bisa ditasi dengan menelusuri lagi etimologi. Ya, gerak kembali ke yang asali, ke yang awali. Sunyi. Berarti.
Lempong Lor, 18 Juli 2011.
AKU AKAN PERGI
Aku akan pergi menyusuri angin padang mencumbui ilalang dan berharap akan temui sunyi bengawan jati-diri di mana batu-batu menemani meditasi, nyepi dalam diri berlari menghindari ramai nan pekat sunyi tetap berarti kendati tiada angin sabana dan ilalang melengos bisu terbuai bisikan bayu nan biru.
Lempong Lor, 19 Juli 2011.
DI GEREJA
Di gereja kumelihat asap dupa, membumbung bebas memenuhi ruang suci, terbayang jiwaku, budiku, pikiranku yang rohani, yang bebas melayang, melanglang buana, karena ia adalah gambaran ilahi, hoc est imago dei.
Banteng, 24 Juli 2011.
DI GEREJA
Di gereja kumelihat asap dupa, membumbung bebas ke atas, terbayang sebuah misteri batianiah, dalam diriku, misteri doa yang benar, yang hanya bisa terucap berkat dorongan roh ilahi, yang sudi berdoa untukku, bahkan juga ketika aku tiada mampu berkata-kata, dan roh ilahi itu akan berdoa bagi kita dengan kata-kata yang tiada terucap.
Banteng, 24 Juli 2011.
Saturday, September 17, 2011
STIGMATA NADA CINTA
OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
STIGMATA 1
Di dalam kegelapan
Ada cahaya terang benderang
Tiba-tiba aku terluka lima
Di dalam kegelapan
Ada cahaya terang benderang
Ada sebuah peristiwa cinta
Terpatri, di sini, di badanku
Kau mewahyu misteri cinta, super mysteria misericordia tua
In saecula saeculorum, amen.
STIGMATA 2
Cintakurindumendambacintayangmencinta,merindu,mendamba,
laluadalukastigmatatandaperistiwacintamengangaselamahayatdikandungbadan
akumencintaiMudanKauberiakuLukaMu,lukaMulukaku,
cinta,damba,rindu,luka,misericordia.
STIGMATA 3
Aku di dalam gua La verna, lalu Kau datang membawa lukaMu jadi lukaku,
lalu aku pun mengerti misteri cinta, misteri miseriocordia,
yang mampu dan rela terluka
sebab cinta memang mampu melangkah jauh
merambah cakrawala di seberang akal bahkan sampai terluka,
sampai ada yang tanya: aku salah?
Tidak, bukan karena kau salah; itu konsekwensi radikal cinta dan mencinta
juga sampai terluka terbuka.
STIGMATA 4
Kepak-kepak sayap serafik, tiba-tiba mendekat menerpa,
kukira itu kepak-kepak sayap sahabatku sang aquila,
ternyata itu malak ala nabi Yesaya,
dan tiba-tiba tubuhku terluka lima terbuka menganga
dan aku pun mengerti esensi cinta yang rela terluka demi cinta dan yang dicinta
STIGMATA 5
Crux-fidelis-inter-omnes, Arbor-una-nobilis: Nulla-talem-silva-profert, Frone,-flore,-germine. Dulce-lignum,-dulci-clavo. Dulce-pondus-sustinens.
Getar-getarnadaituserasamengalirdalamdarahku,
dalamtubuhkumelaluiluka-lukacintaitu,yangterbuka,menganga,pasrah.
DanakupunmengerticintaMuyangsekianlamakudambainginrasabiarhanyasejumputbelaka.
Puisi-puisi Fransiskus Borgias M.
Nglempong Lor, 14 September 2011 Pesta Salib Suci, dalam rangka persiapan menyongsong Stigmata Bapa Fransiskus dari Asisi.
STIGMATA 1
Di dalam kegelapan
Ada cahaya terang benderang
Tiba-tiba aku terluka lima
Di dalam kegelapan
Ada cahaya terang benderang
Ada sebuah peristiwa cinta
Terpatri, di sini, di badanku
Kau mewahyu misteri cinta, super mysteria misericordia tua
In saecula saeculorum, amen.
STIGMATA 2
Cintakurindumendambacintayangmencinta,merindu,mendamba,
laluadalukastigmatatandaperistiwacintamengangaselamahayatdikandungbadan
akumencintaiMudanKauberiakuLukaMu,lukaMulukaku,
cinta,damba,rindu,luka,misericordia.
STIGMATA 3
Aku di dalam gua La verna, lalu Kau datang membawa lukaMu jadi lukaku,
lalu aku pun mengerti misteri cinta, misteri miseriocordia,
yang mampu dan rela terluka
sebab cinta memang mampu melangkah jauh
merambah cakrawala di seberang akal bahkan sampai terluka,
sampai ada yang tanya: aku salah?
Tidak, bukan karena kau salah; itu konsekwensi radikal cinta dan mencinta
juga sampai terluka terbuka.
STIGMATA 4
Kepak-kepak sayap serafik, tiba-tiba mendekat menerpa,
kukira itu kepak-kepak sayap sahabatku sang aquila,
ternyata itu malak ala nabi Yesaya,
dan tiba-tiba tubuhku terluka lima terbuka menganga
dan aku pun mengerti esensi cinta yang rela terluka demi cinta dan yang dicinta
STIGMATA 5
Crux-fidelis-inter-omnes, Arbor-una-nobilis: Nulla-talem-silva-profert, Frone,-flore,-germine. Dulce-lignum,-dulci-clavo. Dulce-pondus-sustinens.
Getar-getarnadaituserasamengalirdalamdarahku,
dalamtubuhkumelaluiluka-lukacintaitu,yangterbuka,menganga,pasrah.
DanakupunmengerticintaMuyangsekianlamakudambainginrasabiarhanyasejumputbelaka.
Puisi-puisi Fransiskus Borgias M.
Nglempong Lor, 14 September 2011 Pesta Salib Suci, dalam rangka persiapan menyongsong Stigmata Bapa Fransiskus dari Asisi.
Friday, September 9, 2011
GUA-GUA MARIA DI TANAH JAWA
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Bulan Mei adalah bulan yang sangat istimewa dalam praksis tradisi liturgis Katolik, sebab bulan ini dipersembahkan secara khusus kepada Bunda Maria, Redemptoris Mater, Bunda sang Penebus. Itulah sebabnya selama Bulan Mei ada banyak sekali kegiatan devosional Marial, seperti doa rosario di lingkungan maupun doa pribadi, dan terutama melakukan kegiatan ziarah ke gua-gua Maria bagi yang mampu dan mau melakukannya. Memang setiap paroki pasti mempunyai ruang Maria. Jika parokinya mampu, ruang itu bisa berupa gua Maria yang khusus, lengkap dengan sendangnya.
Maka dalam konteks ini saya teringat akan sebuah buku yang berjudul Gua Maria di Jawa. Saya lupa nama penulisnya. Buku ini mencoba melukiskan gua-gua Maria yang ada di tanah Jawa yang sudah berhasil menjadi pusat ziarah yang penting dan menarik bagi umat Katolik. Jumlahnya mungkin sudah lebih dari empatpuluh pusat ziarah. Tentu saja mungkin yang tertua ialah Gua Maria Sendangsono yang biasanya dikaitkan dengan salah satu mukjizat iman di tanah Jawa, sebab di sanalah terjadi pembaptisan dalam jumlah besar orang Jawa menjadi Katolik. Selain itu ada Gua Kerep di Ambarawa, ada Sendang Sriningsih, ada Sendang Jatiningsih, gua Maria Kaliori di Purwokerto, Gua Maria Poh Sarang di Kediri, Gua Maria Sawer Rahmat di Kuningan, Gua Maria Kanada di Rangkas Bitung. Itu hanya sekadar menyebut beberapa saja di antaranya.
Di sini saya juga tiba-tiba teringat akan pengalaman live-in saya tahun 1987 di Klepu tempat Gua Sendang Jatiningsih berada. Saya kebetulan menginap di rumah umat yang sangat dekat letaknya dengan Gua Maria tersebut yang saat itu sedang mulai dibangun oleh inisiatif umat Katolik setempat. Pada saat itulah terjadi sebuah dialog antara saya dengan seorang tokoh umat setempat mengenai alasan mengapa didirikan Sendang Maria itu di sana. Sebab menurut pengamatan dan pengetahuan saya biasanya pusat-pusat ziarah dalam tradisi Katolik selalu dikaitkan dengan pengalaman mukjizat tertentu. Apa yang menjadi mukjizat di sini? Dengan lantang seorang tokoh umat, sayang saya sudah lupa namanya, menjawab bahwa memang di sini tidak ada mukjizat penyembuhan; yang ada dan terjadi di sini ialah mukjizat iman; sebab dalam waktu yang relatif tidak terlalu lama, hampir seluruh Klepu telah menjadi Katolik. Dan bagi mereka (bagi dia khususnya) ini adalah sebuah mukjizat besar yang harus ditandai dengan pendirian sebuah tempat ziarah iman. Dan saya dapat merasakan betapa umat di lingkungan tersebut berusaha sekuat tenaga untuk menghidupkan tradisi ziarah tersebut dengan cara mengunjungi secara tekun dan rutin gua itu oleh diri mereka sendiri. Dan itu dilakukan tidak hanya oleh para orang tua, melainkan juga oleh mudika dan bahkan oleh anak-anak. Itulah sejarah singkat salah satu dari gua-gua tersebut.
Kembali ke buku yang sudah saya sebutkan di awal tadi. Buku tadi yang terbit tahun 2003, belum mencatat Gua Maria di Subang yang kini sedang naik daun popularitasnya setidaknya di Jawa Barat, DKI, dan Banten dan sekitarnya. Gua ini dikaitkan dengan tradisi Jawa, ziarah bulanan setiap malam Jum’at Kliwon. Buku ini juga belum menyebut sebuah gua lain di Jawa Barat yaitu di Cibadak Sukabumi yang juga sekarang semakin banyak dan ramai dikunjungi para peziarah.
Tetapi buku itu dengan jelas dan gamblang melukiskan persebaran gua-gua ziarah Maria itu di tanah Jawa. Setelah melihat peta persebaran itu spontan muncul ide berikut ini dalam benak saya. Pertama, saya sampai pada kesadaran bahwa gejala gua ziarah ini adalah bagian utuh dari apa yang disebut Polarizing Jawa oleh M.C.Ricklefs itu. Kedua, fenomena menjamurnya Gua Ziarah Maria ini bisa membantu proses penyucian tanah Jawa dengan keheningan sunyi dan suci tempat-tempat ziarah Maria tersebut. Ini adalah sebentuk upya untuk membangun sebuah kesalehan alternatif. Jumlah Gua Ziarah Maria itu,yang kiranyha akan semakin bertambah dan bertambah lagi di masa yang akan datang, bisa membangun kesalehan alternatif yang bertumpu pada sunyi dan keheningan, untuk melawan kegaduhan puja-puji di tempat suci yang lain. Tentu hal itu patut disyukuri, sebab semakin banyak tempat subur untuk membentuk spiritualitas kesalehan di tanah Jawa. Semoga hal itu bisa mendatangkan efek transformasi spiritual yang besar bagi Jawa.
Hanya ada satu atau dua kritik saya terhadap fenomena ini: sampai saat ini belum ada pusat-pusat keramaian ziarah yang berpusat pada Kristus, kristosentris seperti Hati Kudus Yesus, Corpus Christi, Kristus Raja Semesta Alam. Tetapi hal ini tidak apa-apa sebenarnya secara teologis. Biarlah berkembang pesat pusat ziarah Maria, sebab dalam tradisi iman Katolik ada sebuah keyakinan yang sangat kuat bahwa kita dapat sampai kepada Yesus lewat Maria,per Mariam ad Iesum, sedangkan jika kita hanya memusatkan perhatian pada Yesus, ada bahaya kita mengabaikan begitu saja Bunda Maria. Itu bukan tradisi Katolik.
Kembali kepada idealisme keheningan pada awal mula ketika belum ada kontaminasi suara-suara yang bising juga termasuk yang berasal dari tempat suci. Tradisi menghormati Maria sudah amat tua dalam sejarah gereja.
Yogya, 15 Mei 2011 (Diketik sambil diperluas, 06 September 2011)
Bulan Mei adalah bulan yang sangat istimewa dalam praksis tradisi liturgis Katolik, sebab bulan ini dipersembahkan secara khusus kepada Bunda Maria, Redemptoris Mater, Bunda sang Penebus. Itulah sebabnya selama Bulan Mei ada banyak sekali kegiatan devosional Marial, seperti doa rosario di lingkungan maupun doa pribadi, dan terutama melakukan kegiatan ziarah ke gua-gua Maria bagi yang mampu dan mau melakukannya. Memang setiap paroki pasti mempunyai ruang Maria. Jika parokinya mampu, ruang itu bisa berupa gua Maria yang khusus, lengkap dengan sendangnya.
Maka dalam konteks ini saya teringat akan sebuah buku yang berjudul Gua Maria di Jawa. Saya lupa nama penulisnya. Buku ini mencoba melukiskan gua-gua Maria yang ada di tanah Jawa yang sudah berhasil menjadi pusat ziarah yang penting dan menarik bagi umat Katolik. Jumlahnya mungkin sudah lebih dari empatpuluh pusat ziarah. Tentu saja mungkin yang tertua ialah Gua Maria Sendangsono yang biasanya dikaitkan dengan salah satu mukjizat iman di tanah Jawa, sebab di sanalah terjadi pembaptisan dalam jumlah besar orang Jawa menjadi Katolik. Selain itu ada Gua Kerep di Ambarawa, ada Sendang Sriningsih, ada Sendang Jatiningsih, gua Maria Kaliori di Purwokerto, Gua Maria Poh Sarang di Kediri, Gua Maria Sawer Rahmat di Kuningan, Gua Maria Kanada di Rangkas Bitung. Itu hanya sekadar menyebut beberapa saja di antaranya.
Di sini saya juga tiba-tiba teringat akan pengalaman live-in saya tahun 1987 di Klepu tempat Gua Sendang Jatiningsih berada. Saya kebetulan menginap di rumah umat yang sangat dekat letaknya dengan Gua Maria tersebut yang saat itu sedang mulai dibangun oleh inisiatif umat Katolik setempat. Pada saat itulah terjadi sebuah dialog antara saya dengan seorang tokoh umat setempat mengenai alasan mengapa didirikan Sendang Maria itu di sana. Sebab menurut pengamatan dan pengetahuan saya biasanya pusat-pusat ziarah dalam tradisi Katolik selalu dikaitkan dengan pengalaman mukjizat tertentu. Apa yang menjadi mukjizat di sini? Dengan lantang seorang tokoh umat, sayang saya sudah lupa namanya, menjawab bahwa memang di sini tidak ada mukjizat penyembuhan; yang ada dan terjadi di sini ialah mukjizat iman; sebab dalam waktu yang relatif tidak terlalu lama, hampir seluruh Klepu telah menjadi Katolik. Dan bagi mereka (bagi dia khususnya) ini adalah sebuah mukjizat besar yang harus ditandai dengan pendirian sebuah tempat ziarah iman. Dan saya dapat merasakan betapa umat di lingkungan tersebut berusaha sekuat tenaga untuk menghidupkan tradisi ziarah tersebut dengan cara mengunjungi secara tekun dan rutin gua itu oleh diri mereka sendiri. Dan itu dilakukan tidak hanya oleh para orang tua, melainkan juga oleh mudika dan bahkan oleh anak-anak. Itulah sejarah singkat salah satu dari gua-gua tersebut.
Kembali ke buku yang sudah saya sebutkan di awal tadi. Buku tadi yang terbit tahun 2003, belum mencatat Gua Maria di Subang yang kini sedang naik daun popularitasnya setidaknya di Jawa Barat, DKI, dan Banten dan sekitarnya. Gua ini dikaitkan dengan tradisi Jawa, ziarah bulanan setiap malam Jum’at Kliwon. Buku ini juga belum menyebut sebuah gua lain di Jawa Barat yaitu di Cibadak Sukabumi yang juga sekarang semakin banyak dan ramai dikunjungi para peziarah.
Tetapi buku itu dengan jelas dan gamblang melukiskan persebaran gua-gua ziarah Maria itu di tanah Jawa. Setelah melihat peta persebaran itu spontan muncul ide berikut ini dalam benak saya. Pertama, saya sampai pada kesadaran bahwa gejala gua ziarah ini adalah bagian utuh dari apa yang disebut Polarizing Jawa oleh M.C.Ricklefs itu. Kedua, fenomena menjamurnya Gua Ziarah Maria ini bisa membantu proses penyucian tanah Jawa dengan keheningan sunyi dan suci tempat-tempat ziarah Maria tersebut. Ini adalah sebentuk upya untuk membangun sebuah kesalehan alternatif. Jumlah Gua Ziarah Maria itu,yang kiranyha akan semakin bertambah dan bertambah lagi di masa yang akan datang, bisa membangun kesalehan alternatif yang bertumpu pada sunyi dan keheningan, untuk melawan kegaduhan puja-puji di tempat suci yang lain. Tentu hal itu patut disyukuri, sebab semakin banyak tempat subur untuk membentuk spiritualitas kesalehan di tanah Jawa. Semoga hal itu bisa mendatangkan efek transformasi spiritual yang besar bagi Jawa.
Hanya ada satu atau dua kritik saya terhadap fenomena ini: sampai saat ini belum ada pusat-pusat keramaian ziarah yang berpusat pada Kristus, kristosentris seperti Hati Kudus Yesus, Corpus Christi, Kristus Raja Semesta Alam. Tetapi hal ini tidak apa-apa sebenarnya secara teologis. Biarlah berkembang pesat pusat ziarah Maria, sebab dalam tradisi iman Katolik ada sebuah keyakinan yang sangat kuat bahwa kita dapat sampai kepada Yesus lewat Maria,per Mariam ad Iesum, sedangkan jika kita hanya memusatkan perhatian pada Yesus, ada bahaya kita mengabaikan begitu saja Bunda Maria. Itu bukan tradisi Katolik.
Kembali kepada idealisme keheningan pada awal mula ketika belum ada kontaminasi suara-suara yang bising juga termasuk yang berasal dari tempat suci. Tradisi menghormati Maria sudah amat tua dalam sejarah gereja.
Yogya, 15 Mei 2011 (Diketik sambil diperluas, 06 September 2011)
Monday, September 5, 2011
JERITAN SI KUNCUP
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Hari ini (18 Februari 2011) saya tiba-tiba teringat akan sebuah buku yang berjudul sangat menarik: Surat Dari dan Kepada Si Kuncup. Saya sudah lama membaca buku tersebut, yaitu sekitar tahun 1986-an. Tetapi sejak 2003 sampai 2009, ketika saya ditugaskan untuk mengajar Mata Kuliah Moral Sex dan Perkawinan pada Program MIT-UNPAR (Magister Ilmu Teologi) saya sering membacakan beberapa bagian dari buku ini kepada para mahasiswa saya, para calon imam (Keuskupan Bandung, Keuskupan Bogor, OSC). Buku ini ditulis oleh seorang pastor SDB di Filipina; namanya ialah Joseph Giaime SDB. Tahun 80-an buku ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh P.Theo Tidja Balela SVD dengan bahasa yang menarik dan diterbitkan oleh Biro Nasional Karya Kepausan Indonesia (edisi terbaru yang saya miliki berasal dari tahun 1992). Problematik yang diangkat dalam buku ini sangat menarik, walau tidak sempat meledak di Indonesia. Di Filipina buku ini adalah sebuah kampanye anti aborsi, sebuah gerakan anti-aborsi. Jadi, buku ini ada dalam kubu pro-life (bukan pro-choice). Surat-surat yang ada dalam buku ini berawal dari sebuah program radio untuk kampanye anti aborsi tadi.
Ada beberapa tokoh yang ditampilkan dalam buku ini. Pertama, ada seorang gadis muda, cantik, energik, penuh semangat; ia berasal dari keluarga berada (menengah ke atas). Akibat pergaulan bebas, ia hamil di luar perkawinan. Dengan demikian dalam rahimnya muncul benih dan denyut awal kehidupan. Sang denyut awal kehidupan itulah yang menjadi tokoh kedua. Sang denyut awal kehidupan dalam rahim gadis itulah yang dalam karya ini disebut si Kuncup karena alasan yang akan menjadi jelas di ujung catatan sederhana ini. Tokoh ketiga, ialah orang tua (bakal kakek nenek si Kuncup) dari si gadis yang hamil tersebut. Tokoh keempat, ialah kakek-nenek dari si gadis yang hamil tersebut. Tokoh kelima ialah pastor paroki tempat perempuan tadi berdomisili dan menjadi warga. Tokoh keenam ialah Tuhan Yesus. Tokoh ketujuh ialah para dokter (tim medis) yang akan melaksanakan tindak aborsi. Surat-surat dalam buku ini dikirim dari dan ke tokoh-tokoh di atas tadi. Ada yang berbalas dan ada yang tidak berbalas, sebab tidak tahu harus dikirim ke mana.
Seingat saya, surat pertama berasal dari si Kuncup kepada sang bakal ibunya. Isinya singkat dan sederhana: memberitahukan kabar gembira tentang kehadirannya dalam rahim sang ibu untuk pertama kalinya ketika gadis itu mengalami terlambat datang bulan. Ya, itu memang kabar gembira, seperti kabar gembira dari Malaekat Tuhan, Gabriel, kepada Bunda Maria di Nazaret, yang setiap tahun kita rayakan tanggal 25 Maret. Dalam surat itu si Kuncup mengungkapkan rasa bahagianya; ia merasa sangat senang karena ia mulai hadir dan ada. Tetapi ternyata kehadiran itu membuat si calon ibu menjadi murung, sedih, stress, dan berduka. Itu sebabnya dalam suratnya itu si Kuncup bertanya tentang kemurungan itu; ia bahkan juga sempat meminta maaf bahwa kehadirannya membuat sang ibu yang tadinya cantik dan periang kini menjadi murung dan stress, pendiam. Yang menarik ialah si Kuncup tetap mencoba mendorong dan membesarkan hati ibunya untuk mencoba kuat dan bangkit. Ia bahkan sudah menjanjikan bantuannya dari dalam kegelapan rahim.
Surat-surat selanjutnya berupa monolog imajiner dan adu argumentasi moral hidup melawan orang tua si gadis, nenek dan kakeknya, dan para dokter yang bakal melakukan aborsi. Tetapi semua argumen moral dari si Kuncup sama sekali tidak berhasil mencegah tindakan aborsi yang segera akan diambil, sesuatu yang diputuskan oleh orang tua dan kakek-nenek si gadis. Semuanya didukung dan dimungkinkan oleh kemajuan tekonologi aborsi yang kini menjadi sangat mudah. Itu sebabnya tindak aborsi tidak terhindarkan. Ia akhirnya mati karena dicincang dalam mesin teknologi aborsi berupa racun-racun kimiawi dan alat sedot (vacum cleaner khusus yang dimasukkan ke dalam rahim untuk menyedot sang denyut awal kehidupan itu).
Harus saya akui bahwa semua surat dalam buku itu sangat indah dan menyentuh perasaan. Semuanya benar-benar menggugah dan menggugat kesadaran moral kita akan moral hidup manusia, terutama moral hidup Katolik yang sudah bersumpah untuk menghormati hidup sejak dari saat pembuahan (conceptio).
Dari semua untaian surat-surat indah itu, bagi saya ada satu surat yang paling menyedihkan. Surat itu muncul ketika si Kuncup mencoba melukiskan situasi terancam justru di dalam rahim ibunya sendiri, yang seharusnya memberinya hidup, kehangatan, dan cinta. Tetapi hal-hal itu tidak ia dapatkan. Rahim ibunya menjadi the killing fields baginya. Paradoks sekali. Ketika membaca bagian ini saya terseret dalam kesedihan yang mendalam. Kemudian ia mati, tersedot mesin sedot. Itu sebabnya ia dinamai Kuncup, karena ia tidak sempat memekar, hidup, menikmati matahari. Tetapi sebelum ia mati tersedot, ia menulis surat kepada pastor paroki: dalam surat itu ia memperkenalkan diri sebagai orang yang tidak bakal dikenal oleh pastor karena tidak sempat dibaptis dan dicatat di buku baptis paroki. Tetapi dengan lantang ia mengatakan saya ada di sini, walau tidak terdengar, tidak terlihat. Surat ini pun menyentuh perasaan. Ada juga surat yang ia tulis kepada Tuhan Yesus di surga. Surat ini pun menyentuh perasaan. Tidak dapat dilukiskan secara rinci di sini.
Yang jelas, surat-surat ini mengandung tantangan dan gugatan moral yang sangat kuat dan mendasar bagi semua pihak (siapa saja) yang berencana melakukan aborsi, ataupun sudah pernah melakukan tindak aborsi dalam hidup mereka, atau sekadar menganjurkan tindak aborsi (abortus provocatus). Tantangan itu tampak paling kentara dalam salah satu ucapan si Kuncup yang mengatakan demikian: Ibu, saya akan mati sekarang, tetapi saya akan terus hidup dalam suara hati ibu. Saya tidak akan pernah mati. Jika suatu saat kelak ibu menikah secara resmi dan mendapat anak dari suami yang sah, semua orang akan mengatakan itulah anak sulungmu. Tetapi ibu, justru pada saat itulah ibu akan sedih, karena ibu tahu bahwa yang lahir itu bukan anak sulungmu. Anak sulungmu adalah aku, yang telah engkau bunuh sendiri. Gugatan moral ini juga ia tujukan kepada bakal kakek-neneknya yang telah mendukung putusan aborsi.
Karena buku ini sangat penting dan menarik, dan sudah tidak beredar lagi di pasaran, maka saya berencana untuk mengusulkan kepada penerbitnya untuk diterbitkan ulang dan dipromosikan dengan lebih baik agar mendapat sambutan pembaca yang sewajarnya. Sebab ini sebuah kampanye moral hidup Katolik yang sangat baik, kuat, dan mendasar. Tetapi untuk sementara waktu beberapa surat itu yang saya anggap penting dan menarik, akan saya ketik kembali dan saya terbitkan untuk pembaca Face Book. Semoga upaya ini ada gunanya demi pendidikan moral dan suara hati kita.
Yogya, 18 Februari 2011 (Diketik kembali dan diperluas, 05 September 2011)
Hari ini (18 Februari 2011) saya tiba-tiba teringat akan sebuah buku yang berjudul sangat menarik: Surat Dari dan Kepada Si Kuncup. Saya sudah lama membaca buku tersebut, yaitu sekitar tahun 1986-an. Tetapi sejak 2003 sampai 2009, ketika saya ditugaskan untuk mengajar Mata Kuliah Moral Sex dan Perkawinan pada Program MIT-UNPAR (Magister Ilmu Teologi) saya sering membacakan beberapa bagian dari buku ini kepada para mahasiswa saya, para calon imam (Keuskupan Bandung, Keuskupan Bogor, OSC). Buku ini ditulis oleh seorang pastor SDB di Filipina; namanya ialah Joseph Giaime SDB. Tahun 80-an buku ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh P.Theo Tidja Balela SVD dengan bahasa yang menarik dan diterbitkan oleh Biro Nasional Karya Kepausan Indonesia (edisi terbaru yang saya miliki berasal dari tahun 1992). Problematik yang diangkat dalam buku ini sangat menarik, walau tidak sempat meledak di Indonesia. Di Filipina buku ini adalah sebuah kampanye anti aborsi, sebuah gerakan anti-aborsi. Jadi, buku ini ada dalam kubu pro-life (bukan pro-choice). Surat-surat yang ada dalam buku ini berawal dari sebuah program radio untuk kampanye anti aborsi tadi.
Ada beberapa tokoh yang ditampilkan dalam buku ini. Pertama, ada seorang gadis muda, cantik, energik, penuh semangat; ia berasal dari keluarga berada (menengah ke atas). Akibat pergaulan bebas, ia hamil di luar perkawinan. Dengan demikian dalam rahimnya muncul benih dan denyut awal kehidupan. Sang denyut awal kehidupan itulah yang menjadi tokoh kedua. Sang denyut awal kehidupan dalam rahim gadis itulah yang dalam karya ini disebut si Kuncup karena alasan yang akan menjadi jelas di ujung catatan sederhana ini. Tokoh ketiga, ialah orang tua (bakal kakek nenek si Kuncup) dari si gadis yang hamil tersebut. Tokoh keempat, ialah kakek-nenek dari si gadis yang hamil tersebut. Tokoh kelima ialah pastor paroki tempat perempuan tadi berdomisili dan menjadi warga. Tokoh keenam ialah Tuhan Yesus. Tokoh ketujuh ialah para dokter (tim medis) yang akan melaksanakan tindak aborsi. Surat-surat dalam buku ini dikirim dari dan ke tokoh-tokoh di atas tadi. Ada yang berbalas dan ada yang tidak berbalas, sebab tidak tahu harus dikirim ke mana.
Seingat saya, surat pertama berasal dari si Kuncup kepada sang bakal ibunya. Isinya singkat dan sederhana: memberitahukan kabar gembira tentang kehadirannya dalam rahim sang ibu untuk pertama kalinya ketika gadis itu mengalami terlambat datang bulan. Ya, itu memang kabar gembira, seperti kabar gembira dari Malaekat Tuhan, Gabriel, kepada Bunda Maria di Nazaret, yang setiap tahun kita rayakan tanggal 25 Maret. Dalam surat itu si Kuncup mengungkapkan rasa bahagianya; ia merasa sangat senang karena ia mulai hadir dan ada. Tetapi ternyata kehadiran itu membuat si calon ibu menjadi murung, sedih, stress, dan berduka. Itu sebabnya dalam suratnya itu si Kuncup bertanya tentang kemurungan itu; ia bahkan juga sempat meminta maaf bahwa kehadirannya membuat sang ibu yang tadinya cantik dan periang kini menjadi murung dan stress, pendiam. Yang menarik ialah si Kuncup tetap mencoba mendorong dan membesarkan hati ibunya untuk mencoba kuat dan bangkit. Ia bahkan sudah menjanjikan bantuannya dari dalam kegelapan rahim.
Surat-surat selanjutnya berupa monolog imajiner dan adu argumentasi moral hidup melawan orang tua si gadis, nenek dan kakeknya, dan para dokter yang bakal melakukan aborsi. Tetapi semua argumen moral dari si Kuncup sama sekali tidak berhasil mencegah tindakan aborsi yang segera akan diambil, sesuatu yang diputuskan oleh orang tua dan kakek-nenek si gadis. Semuanya didukung dan dimungkinkan oleh kemajuan tekonologi aborsi yang kini menjadi sangat mudah. Itu sebabnya tindak aborsi tidak terhindarkan. Ia akhirnya mati karena dicincang dalam mesin teknologi aborsi berupa racun-racun kimiawi dan alat sedot (vacum cleaner khusus yang dimasukkan ke dalam rahim untuk menyedot sang denyut awal kehidupan itu).
Harus saya akui bahwa semua surat dalam buku itu sangat indah dan menyentuh perasaan. Semuanya benar-benar menggugah dan menggugat kesadaran moral kita akan moral hidup manusia, terutama moral hidup Katolik yang sudah bersumpah untuk menghormati hidup sejak dari saat pembuahan (conceptio).
Dari semua untaian surat-surat indah itu, bagi saya ada satu surat yang paling menyedihkan. Surat itu muncul ketika si Kuncup mencoba melukiskan situasi terancam justru di dalam rahim ibunya sendiri, yang seharusnya memberinya hidup, kehangatan, dan cinta. Tetapi hal-hal itu tidak ia dapatkan. Rahim ibunya menjadi the killing fields baginya. Paradoks sekali. Ketika membaca bagian ini saya terseret dalam kesedihan yang mendalam. Kemudian ia mati, tersedot mesin sedot. Itu sebabnya ia dinamai Kuncup, karena ia tidak sempat memekar, hidup, menikmati matahari. Tetapi sebelum ia mati tersedot, ia menulis surat kepada pastor paroki: dalam surat itu ia memperkenalkan diri sebagai orang yang tidak bakal dikenal oleh pastor karena tidak sempat dibaptis dan dicatat di buku baptis paroki. Tetapi dengan lantang ia mengatakan saya ada di sini, walau tidak terdengar, tidak terlihat. Surat ini pun menyentuh perasaan. Ada juga surat yang ia tulis kepada Tuhan Yesus di surga. Surat ini pun menyentuh perasaan. Tidak dapat dilukiskan secara rinci di sini.
Yang jelas, surat-surat ini mengandung tantangan dan gugatan moral yang sangat kuat dan mendasar bagi semua pihak (siapa saja) yang berencana melakukan aborsi, ataupun sudah pernah melakukan tindak aborsi dalam hidup mereka, atau sekadar menganjurkan tindak aborsi (abortus provocatus). Tantangan itu tampak paling kentara dalam salah satu ucapan si Kuncup yang mengatakan demikian: Ibu, saya akan mati sekarang, tetapi saya akan terus hidup dalam suara hati ibu. Saya tidak akan pernah mati. Jika suatu saat kelak ibu menikah secara resmi dan mendapat anak dari suami yang sah, semua orang akan mengatakan itulah anak sulungmu. Tetapi ibu, justru pada saat itulah ibu akan sedih, karena ibu tahu bahwa yang lahir itu bukan anak sulungmu. Anak sulungmu adalah aku, yang telah engkau bunuh sendiri. Gugatan moral ini juga ia tujukan kepada bakal kakek-neneknya yang telah mendukung putusan aborsi.
Karena buku ini sangat penting dan menarik, dan sudah tidak beredar lagi di pasaran, maka saya berencana untuk mengusulkan kepada penerbitnya untuk diterbitkan ulang dan dipromosikan dengan lebih baik agar mendapat sambutan pembaca yang sewajarnya. Sebab ini sebuah kampanye moral hidup Katolik yang sangat baik, kuat, dan mendasar. Tetapi untuk sementara waktu beberapa surat itu yang saya anggap penting dan menarik, akan saya ketik kembali dan saya terbitkan untuk pembaca Face Book. Semoga upaya ini ada gunanya demi pendidikan moral dan suara hati kita.
Yogya, 18 Februari 2011 (Diketik kembali dan diperluas, 05 September 2011)
Subscribe to:
Posts (Atom)
PEDENG JEREK WAE SUSU
Oleh: Fransiskus Borgias Dosen dan Peneliti Senior pada FF-UNPAR Bandung. Menyongsong Mentari Dengan Tari Puncak perayaan penti adala...
-
Oleh: Fransiskus Borgias M., (EFBE@fransisbm) Mazmur ini termasuk cukup panjang, yaitu terdiri atas 22 ayat, mengikuti 22 abjad Ib...
-
Oleh: Fransiskus Borgias M. Judul Mazmur ini dalam Alkitab ialah Doa mohon Israel dipulihkan. Judul itu mengandaikan bahwa keadaan Israe...
-
Oleh: Fransiskus Borgias M. Sebagai manusia yang beriman (percaya), kiranya kita semua sungguh-sungguh yakin dan percaya bahwa Tuhan itu...