Monday, August 22, 2011

KOMUNITAS L'ARCHER

Oleh: Fransiskus Borgias M.

Sebenarnya sudah cukup lama saya mendengar nama Komunitas L’Archer di Prancis ini. Tetapi saya belum banyak mengenalnya secara khusus dan mendalam. Paling-paling saya hanya mengetahui beberapa informasi mendasar seperti: bahwa komunitas ini didirikan oleh seorang Pastor dari Kanada yang bernama Jean Vanier; dan bahwa komunitas itu didirikan di sebuah dusun di Prancis. Satu lagi: bahwa komunitas ini mengumpulkan orang-orang cacat dengan pelbagai tingkatan. Jadi, komunitas ini memberi perhatian khusus pada orang cacat, termasuk juga cacat mental di dalamnya. Ini adalah sebuah gerakan sosial kemanusiaan yang luar biasa luhur, sangat mulia. Pasti hal itu dilakukan dan dapat terjadi hanya atas dasar cinta dan pengorbanan saja, atas dasar keberanian, kenekadan, dan bahkan juga sedikit kegilaan.

Saya mengenal pertama kalinya tentang komunitas ini secara tidak langsung dari sebuah buku yang ditulis oleh seorang pengarang terkenal dan sangat produktif Henry Nouwen: Mampukah Kamu Minum Cawan ini? Buku ini terbit di Kanisius di akhir tahun 1990an. Konon Nouwen, ketika ia sedang mengalami krisis hidup iman dan hidup imamat, pergi hidup di tengah dan bersama dengan para anggota komunitas itu, yang saat itu sudah ada dan hadir juga di Amerika Serikat. Dalam buku itu ia bahkan menyebut beberapa nama orang-orang cacat itu yang ia sebut sebagai para sahabatnya. Pengalamannya di sana ia tuangkan dalam bentuk refleksi buku kecil ini. Buku ini bagi saya amat mengharukan. “Hidup komunitas” itu yang menyelamatkan iman dan imamatnya.

Pengenalan kedua saya dapatkan lewat kata pengantar yang ditulis oleh Suster Martha Driscoll OCSO untuk sebuah buku terjemahan dari karya Jean Vanier yang berjudul “Tenggelam dalam misteri Yesus; menyelami Injil Yohanes.” Saya sudah menulis sebuah resensi singkat mengenai buku ini untuk jurnal Forum Biblika (LAI Bogor). Riwayat hidup singkat Jean Vanier saya dapatkan sebagian dari buku itu. Begitu juga kisah mengenai sepak terjang hidup, karya, dan pelayanannya. Terima kasih atas terjemahan yang dilakukan oleh Mgr.Ignatius Suharyo atas karya itu.

Saya juga mengenal Jean Vanier, dan ini adalah pengenalan yang ketiga, lewat buku seorang Pengarang Inggris (Irlandia) Frances Young: Brokenness and Blessing, Toward a Biblical Spirituality. Bab 1 dalam buku itu praktis berbicara tentang Jean Vanier. Young memberi sebuah kesaksian bahwa awalnya gerakan komunitas ini adalah komunitas Katolik di Prancis. Tetapi kini komunitas itu menjadi sebuah komunitas internasional, sebuah gerakan internasional, karena sudah ada dan hadir di mana-mana, dan bahkan juga sudah menjadi sebuah interfaith community. Itu tidak lain karena anggotanya yang tinggal dan hidup bersama-sama berasal dari pelbagai latar belakang agama, demikian juga para pengurusnya: berasal dari pelbagai agama.

Jelas, bagi saya ini adalah sebuah inspirasi keagamaan dan kemanusiaan yang sangat luar biasa dari seorang tokoh yang bernama Jean Vanier. Dan gerakan itu terbukti sudah mampu mendatangkan daya transformasi yang luar biasa kuat dan mendalam bagi kemanusiaan di mana-mana. Vanier sendiri mengakui bahwa hal itu hanya mungkin terjadi karena dan lewat pengenalannya yang personal dan mendalam, serta serba mistikal akan Yesus Kristus dalam dan melalui Injil Yohanes. Sepak terjang Jean Vanier ini mengingatkan saya akan tokoh-tokoh lain seperti Bunda Theresa dari Calcuta, Romo Mangunwijaya dari Kali Code Yogyakarta, Mgr.Helder Camara, Padre Charles de Foucault dan pengikutnya Carlo Carreto (dari kongregasi para Petit Freire), para pendiri kongregasi religius sosial-kemanusiaan di Eropa sejak abad 17-19. Juga akhirnya mengingatkan saya akan santo Fransiskus dari Asisi.

Kisah kecil, singkat, dan sederhana ini serta merta mengingatkan saya akan riwayat singkat seorang imam Fransiskan dari Amerika, seorang seniman, sastrawan, penyair, bernama Murray Bodo OFM. Konon ia pernah mengalami krisis rohani, krisis hidup imamat. Tetapi krisis hidup itu ia lewatkan dan berhasil ia atasi dengan sebuah perjalanan rohani ke Asisi, yang kemudian menghasilkan dua buah buku kecil dan mungil; yang satu tentang Fransiskus (judulnya: St.Francis: The Journey and the Dream), dan yang lain tentang Clara (judulnya: Clare: A Light in the Garden; buku kedua ini saya terjemahkan dan sudah terbit di Nusa Indah Ende 1996). Murray Bodo mengakui bahwa proses penulisan kedua buah buku itu adalah sebuah proses katarsis, proses pemurnian, proses peleraian akibat ketegangan krisis hidup panggilan. Dan ia selamat karena hal itu.

Saya juga teringat akan sebuah dialog singkat dengan Pater Konstan Bahang OFM ketika saya hadir di Abepura beberapa tahun silam untuk sebuah perkuliahan semester pendek. Di sana kami melakukan dialog singkat dan ringan beberapa kali pada beberapa kesempatan. Di salah satu kesempatan itu ia sempat melontarkan pernyataan yang bagi saya mengejutkan: Bahwa kalau ada orang yang mengalami krisis panggilan, krisis hidup imamat, datang saja ke Papua, dan orang itu akan selamat. Mengapa? Sebab di Papua orang itu akan sibuk dengan karya pelayanan, sibuk melayani orang-orang secara nyata dan berat dan tidak lagi sibuk memikirkan persoalan dirinya sendiri dan krisis panggilan, krisis rohani, krisis imamat. Mungkin hal itu benar. Atau malah itu pasti. Sebab ternyata Nouwen selamat, Murray Bodo selamat. Dan banyak orang juga selamat setelah dimatangkan oleh pengalaman pelayanan Papua.

Bandung, 06 Juni 2010
Diketik kembali seraya diperluas Yogya, 20 Agustus 2011.

Wednesday, August 17, 2011

MAHATMA GANDHI

Oleh: Fransiskus Borgias M.

Pada hari ini, 28 Januari 2010, saya tiba-tiba teringat akan sebuah buku biografi tentang Mahatma Gandhi, seorang tokoh agung dari India yang kita kenal semua. Buku itu sangat menarik perhatian saya. Tetapi sayang, sekarang saya sudah tidak ingat lagi apa persis judul buku tersebut. Namun demikian dari buku itu ada beberapa hal yang sangat penting untuk direnungkan bersama sekarang dan di sini. Itulah beberapa hal yang tetap hidup dalam ingatan saya sampai sekarang setelah membaca buku tersebut.

Salah satu adegan penting yang dikisahkan di sana ialah kisah pertobatan dramatis Gandhi sendiri yang menyebabkan dia menjadi seorang pahlawan besar bagi India paling tidak dengan dua prinsip hidup dan filsafatnya yang maha terkenal itu: ahimsa dan satyagraha. Gandhi itu adalah seorang yang berasal dari kaum keturunan Brahma (kasta yang tinggi dalam sistem kemasyarakatan India); dalam posisi sosial yang begitu tinggi dari keluarganya ia mendapat kesempatan besar untuk belajar di luar negeri yaitu tepatnya di Inggris. Ia tidak melewatkan kesempatan emas itu. Ia belajar di Oxford, sebuah universitas yang sangat terkenal di Inggris sejak dari Abad Pertengahan hingga sekarang ini. Sekali lagi saya tekankan di sini bahwa ia berasal dari kasta tertinggi di India.

Ia belajar dengan baik dan juga lumayan berprestasi. Setelah selesai belajar di Inggris ia kembali ke India. Sekarang boleh dikatakan bahwa ia memiliki modal sosial yang sangat besar dan kuat: pertama, ia berasal dari kasta tinggi, dan sekarang ia sudah terpelajar pula, apalagi ia seorang jebolan dari sebuah universitas ternama di Inggris. Maka jadilah ia sebagai seorang pegawai pada kantor pemerintah kolonial Inggris di India.

Tetapi kemudian ia ditugaskan di Afrika Selatan yang saat itu juga merupakan salah satu koloni Inggris. Di sana ia mengalami semacam cultural shock, bahkan juga mungkin mengalami semacam kebingungan orientasi sosial. Afrika Selatan saat itu berbasis rasialis yang ketat. Orang kulit putih dibedakan secara tegas dan ketat dari orang kulit hitam. Gerbong kereta api orang negro lain dari gerbong kereta api bagi orang-orang berkulit putih. Mereka tidak boleh tercampur atau salah masuk gerbong. Begitu juga dengan bis. Begitu juga sekolah. Begitu juga gereja jika mereka adalah penganut Kristiani. Begitu juga halnya dengan restauran.

Konon pada suatu saat Gandhi naik kereta api menuju ke suatu tempat tujuan tertentu. Di sinilah drama kebingungan orientasi sosial itu dimulai. Gandhi tidak mau membeli tiket di gerbong orang negro, karena ia bukan orang hitam (Afrika); ia berasal dari Asia, dari kasta tertinggi pula. Karena itu ia lalu membeli tiket untuk gerbong kereta orang kulit putih. Dan ia mendapat tiket itu.

Tetapi di tengah perjalanan konon ada pemeriksaan oleh petugas kereta api. Dan oleh para petugas itu ia dinyatakan kedapatan salah beli tiket, dan juga salah masuk gerbong. Tentu saja Gandhi tidak mau menerima anggapan dan tuduhan itu. Ia diminta untuk pergi ke gerbong orang hitam, namun ia tidak mau karena memang ia bukan orang berkulit hitam. Bahkan ia juga ikut memandang rendah orang hitam. Ya, memang ia adalah orang Asia. Tetapi aturan rasis tetaplah aturan rasis. Konon serta merta Gandhi dipaksa turun (bahkan ada versi yang mengatakan bahwa ia dibuang ke luar) di tempat itu juga, padahal itu bukanlah stasiun, melainkan masih di tengah hutan. Harga diri Gandhi sebagai orang Asia dari Kasta Tertinggi dan terpelajar pula, serta-merta serasa terbanting dan direndahkan. Tentu saja Gandhi sangat marah. Bagaimana mungkin ia dibuang begitu saja di tengah hutan. Tidak tahu harus meminta pertolongan ke mana atau dari mana.

Konon orang pertama yang datang untuk menolong dia adalah orang Negro. Dan itulah yang menjadi momen pertobatan bagi Gandhi. Orang yang kelompoknya selama ini ia hindari, bahkan mungkin ia pandang rendah juga, justru dari sanalah muncul pertolongan yang tidak terduga-duga, dan yang memang sangat ia butuhkan sekarang dan di sini dalam situasi keterlemparan dan keterpurukan. Maka sejak saat itu Mahatma Gandhi bersumpah untuk melawan kolonialisme dan rasialisme (praksis apartheid) di mana pun di muka bumi ini.

Setelah mengabdi beberapa waktu lamanya di Afrika Selatan ia kembali ke India dan di sana ia memulai sebuah gerakan sosial politik. Di sana ia sangat mengutamakan sebuah gerakan rohani, sebuah gerakan tanpa kekerasan, ahimsa, non-violence movement. Juga ia sangat menekankan agar orang berpegang teguh pada kebenaran (satyagraha). Ia juga sangat menekankan kedaulatan sandang dan pangan (swasembada, swadaya). Itulah sebabnya Gandhi sejak saat itu mulai mengenakan busana khas India, semacam sari (kain tanpa jahitan untuk menutup badan) tetapi yang untuk lelaki. Dan dengan itu ia pun mempunyai daya kekuatan dan basis moral untuk melakukan perjuangan-perjuangan politiknya. Dan akhirnya ia menang. Dan ia pun menjadi seorang tokoh sejarah yang penuh kharisma dan bisa mengilhami banyak orang lain di berbagai belahan dunia. Ia adalah seorang yang mempunyai jiwa besar: Maha Atma.


Bandung, 28 Januari 2010
Diketik dan diperluas, Yogyakarta 18 Agustus 2011

Friday, July 29, 2011

TENTANG GUIDO DE AREZO

Oleh: Fransiskus Borgias M.

Hari ini (13 Juni 2011), saya tiba-tiba teringat lagi akan seorang tokoh di masa silam dalam Sejarah Gereja dan khususnya sejarah hidup monastk (hidup membiara), dan juga sejarah musik liturgi (khususnya musik Gregorian), yang bernama Guido de Arezo. Dari namanya jelas ia adalah seorang Italia. Ia adalah seorang rahib (kalau tidak salah rahib Benediktin) Italia (biasanya mereka itu disebut monachus). Tetapi saya rada lupa tahun persis masa hidupnya. Mungkin sekitar abad 9-10 Masehi. Pada masa itu monachus adalah juga sekaligus musicus. Ya, memang hanya para biarawan (monachus) sajalah yang punya waktu luang (leisure time) untuk menaruh perhatian pada musik, untuk menaruh kepedulian pada pengembangan musik. Sesungguhnya tidak hanya untuk musik saja, juga untuk penulisan manuskrip, untuk filsafat, dan untuk teologi, bahkan untuk ilmu atau sains.

Orang ini terkenal dalam sejarah musik (liturgi, terutama gregorian) karena dialah yang diyakini oleh para sejarawan dan para ahli musik (liturgi), telah menciptakan nama untuk nada-nada solmisasi atau not-not yang kita kenal dan kita sering pakai dewasa ini. Saya kira hal itu berlangsung secara tidak sengaja.

Dalam salah satu ceramahnya di Fakultas Filsafat Unpar Bandung beberapa tahun silam, sastrawan dan seniman Remy Silado pernah menanyakan hal itu, menanyakan nama tokoh ini. Sehubungan dengan sentilan Remy Silado inilah, tiba-tiba saya pun teringat akan seorang guru saya di Seminari Kecil dulu, di Seminari Pius XII, Kisol, Manggarai, Flores, NTT. Nama guru itu ialah Pater Yan Sani SVD. Sayang, ketika saya masih duduk di kelas 2 esempe, beliau meninggalkan imamatnya, dan konon hijrah ke Kupang, dan menempuh hidup perkawinan. Pak Yan Sani inilah guru seni musik kami; antara lain ia mengajarkan kami teori-teori dan praktek musik, termasuk teori dan praktek mengenai musik Gregorian, memakai buku tebal Liber Usualis yang terkenal itu.

Menurut dia (itu hal yang saya masih ingat dari untaian pelajaran dia dulu), adalah Guido de Arezo inilah yang menciptakan nama-nama untuk nada-nada solmisasi yang kita kenal dan kita pergunakan dewasa ini. Sesungguhnya hal itu terjadi secara tidak sengaja, karena sebenarnya Guido de Arezo itu hanya menciptakan sebuah puisi atau syair lagu pujian (yang dikaitkan dengan santo Yohanes, kiranya Penginjil), yang kemudian dalam perkembangan dan perjalanan sejarah, beberapa unsur dari syair itu menjadi nama-nama not-not atau nada-nada musik modern. Tetapi sebenarnya ia juga tidak secara sengaja mengkaitkan nama itu dengan nada-nada tertentu.

Sesungguhnya saya sudah lupa akan penulisan yang pasti dan tepat dari kata-kata dalam syair puitis lagu itu. Tetapi saya tidak lupa akan nada-nadanya, karena saya sangat menghafalnya sejak masih kelas dua esempe seminari dulu. Beginilah kurang lebih syair lagu itu:

Ut queant laxis, resonare fibris, mifa gestorum, famuli tuorum, solve poluti, labire atum, sancte Johannes.


Beberapa silaba dari teks doa puitis itu, kemudian dalam perkembangan dan perjalanan sejarahnya menjadi nama dari beberapa nada not yang kita kenal sekarang ini. Misalnya, Re diambil dari kata Resonare, Mi dari Mifa, Fa dari Famuli, Sol dari Solve, La dari Labire. Jadi ada lima nama nada yang sangat jelas dalam teks puitis itu (RE MI FA SOL LA, kelima nada pentatonis itu, nada pokok untuk sebuah lagu gregorian). Ya sekali lagi, itulah kelima nada utama lagu-lagu Gregorian klasik. Sebab lagu-lagu gregorian klasik hanya memakai kelima not itu saja. Kemudian ada not DO yang tidak ada dalam teks puitis itu; tetapi ada TI yaitu pada kata poluti. Beberapa nada-nada setengah pun sudah ada dalam teks ini, seperti nada FI (dari Fibris), Ges dari gestorum.

Jadi, sebenarnya Guido de Arezo ini adalah tokoh musikus besar yang menciptakan nama-nama untuk nada-nada lagu solmisasi sebagaimana yang kita kenal dan kita pergunakan dewasa ini. Terima kasih yah sang monachus dan musicus agung, Guido de Arezo. Berkat jasamu, sekarang kami bisa menyanyi dengan baik dengan menyebut nama dari masing-masing nada yang ada.

Yogyakarta, 13 Juni 2011
Dikomputer dan dikembangkan lagi, 21 Juli 2011.

Friday, July 22, 2011

THE HILLS ARE ALIVE

By: Fransiskus Borgias M.

Today (14 April 2011), very early in the morning, I read in the Face Book of my Friend, a short quotation from a well known musical film from the Seventies, Sound of Music. I like almost all of the songs in that film; but I live very much one of those songs. Its title is The Hills Are Alive. The song goes like this:

“The hills are alive
with the sound of music,
with songs they have sung
for a thousand years,
the hills fill my heart
with the sound of music,
my heart wants to sing every song it hears.
My heart wants to... (I forgot this particular part)...
like a ........ (I also forgot this particular part)...
My heart wants to.... (I forgot this part)
that fall over stones on its way....
My heart.... (I forgot this part)...
that flies from a church on a breeze...
........ (I forgot also this part)...
To sing through the night,
like a lark who is learning to pray,
I go to the hills,
when my heart is lonely,
I know I will hear,
what I have heard before,
my heart will be blessed
with the sound of music,
and I’ll sing once more.”

Again, what a nice and beautiful music and lyric, and song it is. It describes the mystical-cosmic experience, experienced by the writer and the singer. It tries to describe a very close experience to the elements of nature, in their very ordinary life. In nature s/he sees his or her own way of life; his or her struggle for life through the banalities. Even s/he also wants to learn to pray from the lark. Yes, the nature gives us many inspirations for religious and spiritual life. The beauty of nature inspires us to pray, to praise the Lord, the Creator of the Universe. The Nature, the hills, the trees, the rivers, the mountains are full of songs and melodies, that can enforce us also to sing, sing of praise and worship. Mystical cosmic experiences are always possible from time to time.

I remember once that, the writer of the Book of Daniel in the Old Testament summons all the elements of universe to praise God the Lord. For example the writer of the Book of Daniel mention the elements like water, sun, moon, stars, rain, dew, wind, fire, heat, cold and freeze, snow, ice, day and night, light and darkness, lightening and cloud, mountains, plants, hills, ocean and rivers, the leviathans, birds, the wild animal and the cattle, human being, Israel, and priests. We see that almost all the elements of nature are mentioned and called to praise the name and the existence, and also the presence of God the Lord.

Later on, in modern time of our common era, St.Francis just put the word brother and sister in front of these natural elements, and also summons or invites them to praise God the Lord. When we read his well-known poem, Canticum Solis or Canticle of Brother Sun, we will find the fact that almost of all those natural elements mentioned in the Book of Daniel are mentioned and invited once again in the cosmic poetry of Saint Francis himself. For example we will see the elements of earth, wind, fire, rain, sun, water, moon, cloud, soil, plants. Of course there are also elements that are not mentioned in Francis’ poem but presented in Daniel’s book.

But there is one element that very unique in the poem of St.Francis; it is the element of sister death. This is the very new element in the cosmic poetry of St.Francis. He calls death as a sister. It is wonderful. I remember once Abraham Yoshua Heschel said that there are three ways for human being to confront the fact of death: mourning, silent, and sing in praise. St.Francis, I think was already in this third condition or stage of life-realization: sing in praise to greet the coming of sister death. Again it is very wonderful. In the modern time, we have this present writer with his sound of music, with his The Hills Are Alive. Again and again, this is really wonderful, because all of these are full of wonder.

Yogya, 14 April 2011
Computerized and broadened and reedited on 21 July 2011.

Thursday, July 21, 2011

BEGINNING TO REMEMBER

By: Fransiskus Borgias M.

Since my study last year in ICRS-Yogya, I found an interesting book, edited by Mary S.Zuerbuchen. Its main title is: Beginning to Remember. Its subtitle is also interesting: The past in the Indonesian present. Since last week I have coied the book. Now I am reading the whole book, although since last semester I have read some chapters of it because they are included in our obligatory reading for one of our lectures on history of religions in Indonesia (since its pre-history until into its modern period and phenomenon). For the time being I want to write one or two things about this interesting book.

First, this book is a product of an international conference back in 2001, in UCLA; the theme held in that mondial conference was History and Memory in Contemporary Indonesia. It is in this particular connection that there were at least thirtien articles deal with Indonesian issues. Second, this book was published as one of the serial of Critical Dialogues in SEA studies. That is why there was one article related to this broader context of Indonesia, which was Malay. But still this article also was about the history in its close connection to the mistery of Memories. Third, so far I have read four articles (article of Mary Zuerbuchen herself, Ki Tristuti Rachmadi, Goenawan Muhamad, Andi F.Bachtiar, Anthony Reid).

From those four articles I want to make some short notes on the article of Anthony Reid. In the observation of Reid the year of 1995 was very important and it was celebrated almost everywhere in world as the commemoration of the end of Second World War. For that particular purpose, there are a lot of conferences, seminars, symposiums, held to celebrate it; there are some books, and articles published to sign this historical event of the world. But in Indonesia, almost there was nothing done related to this historical event. Reid believed that there was a certain Soeharto factor in this forgetfulness of history (p.174).

But why? According to Reid, it is because Soeharto make a great shift from the wish to memorize the past events to the appreciation achieved within those thirty years of his presidency. So the celebration was not to praise those past heroes, such as Sukarno, Hatta, Syahrir, Tan Malaka, Nasution, but to “bringing out what has been achieved throughout this half-century” (p.174. Taken from Soeharto’s speech to DPR, in 5 January 1995). So Soeharto makes a shift from the past to the present to the stake of the momory of the past itself.

One of the possible explanation for this historical shift to present is that Soeharto at that time has already in the end of his power. 1995 is only three years before his dramatic fall in May 1998. At those five years before his fall, Soeharto felt that there was a historical power from the past that comes into the present, among others through the figure of Megawati Soekarno Putri, the daughter of Indonesian first President, Sukarno, the proclamator of Indonesian’s Independence. The popularity of Megawati was so clear that the man in power try to do everything possible to get her out of the national political arena. The party of Megawati was divided into two. Only Megawati’s party (PDIP) which can stand up the historical turmoil. We know the tragedy of July 1996 in which the man in power try to interfere into the internal affairs of PDIP. I still remember that there is also a suggestion made by the authority not to call Megawati with her original name, Soekarnoputri (meaning the daughter of Soekarno), and change it Megawati Taufik Kiemas, after the name of her husband. But the flow and the power of history cannot be stopped at all.

At the end of his power, Soeharto tried very hard to abolish the memory of the past from Indonesian’s present, but the past cannot be abolished at all. The past always haunts in our present history. Even some historians said that we cannot be in peace with our presence unless we reconcile with our past. This is the significance of the existence and the presence of the Commission for Truth and Reconcillition. But alas, such commission still cannot be established here in Indonesia.

Yogya, 23 May 2011
Rewritten and reedited, 19 July 2011

Monday, July 18, 2011

MENGENANG SANTO BONAVENTURA

Oleh: Fransiskus Borgias M.

Tanggal 15 Juli adalah Pesta Santo Bonaventura. Ia adalah orang besar dalam sejarah gereja, dalam sejarah pemikiran Kristiani (baik itu filsafat maupun teologi), dalam sejarah pemikiran abad pertengahan, dan khususnya dalam sejarah hidup ordo Fransiskan. Ada banyak aspek yang bisa ditulis tentang beliau karena memang beliau adalah orang yang hidupnya sangat kaya dan mendalam. Dalam tulisan singkat dan sederhana ini saya hanya akan mencoba melihat dan mengangkat beberapa aspek sederhana saja dari hidup beliau.

Pertama, sebagai penasihat hidup rohani Bonaventura terkenal dengan pelbagai nasihat-nasihat rohaninya bagi para suster: Admonitio ad Sorores. Ia juga terkenal karena pelbagai macam nasihat rohaninya pada umumnya yang terkumpul dalam sebuah serial kumpulan yang juga terkenal Speculum Perfectionis (Cermin Kesempurnaan). Kalau saya tidak salah ingat, kedua karya ini (terutama yang terakhir) sudah pernah diupayakan terjemahannya oleh para Saudara Dina Cicurug di bawah Komando pater Cletus Groenen OFM.

Kedua, dalam bidang pemikiran filsafat dan teologi, Bonaventura terkenal dengan kata kunci exemplasimenya itu, yang ia bentangkan dengan mantap dan mendalam dalam buku kecil-mungilnya yang juga sangat terkenal Itinerarium Mentis in Deum, atau Mind’s Journey to God (Perjalanan Jiwa Menuju Allah). Karena buku kecil-mungil inilah, Bonaventura, oleh banyak pemikir moden (antara lain seperti Zachary Hayes OFM), dipandang sebagai salah satu filsuf alam (filsuf ekologi) yang besar. Itulah sebabnya ketika dipercayai mengampu Mata Kuliah Filsafat Abad Pertengahan di Fakultas Filsafat UNPAR beberapa tahun silam, saya selalu mengangkat sosok dan pemikiran tokoh agung ini. Dan Puji Tuhan, cukup banyak mahasiswa saya yang selalu ingat akan uraian saya tentang Bonaventura ini. Saya juga harus secara jujur mengakui bahwa orang paling pertama yang memperkenalkan pemikiran mistik-kosmik Bonaventure kepada saya ialah Pater Vincente Kunrath OFM. Saat itu saya masih ingat dengan sangat baik; beliau adalah magister kami di postulat OFM Pagal. Ia sudah memberi kami kuliah tentang Bonaventura di Postulan itu; kemudian saya mendengar bahwa banyak orang mengeritik dia saat itu, tetapi jika ia tidak memberi kuliah itu di postulan, dapat dipastikan bahwa kami tidak dapat apa-apa juga sesudahnya juga dari dan oleh para pengeritiknya itu.

Ada satu hal lagi yang penting sehubungan dengan tokoh Bonaventura ini. Bona adalah tokoh besar dan tokoh pembaharu penting dalam sejarah ordo Fransiskan. Sedemikian besarnya peran Bonaventura dalam gerakpembaharuan ordo, sampai-sampai orang sulit membedakan dua hal ini dalam diri beliau: Bonaventure is the SECOND FOUNDER of the Order dan ungkapan yang lain, Bonaventure is the FOUNDER OF THE SECOND order. Ini adalah dua aliran pemikiran historis yang masing-masingnya juga mempunyai para pendukung dan garis argumentasi yang sangat kuat. Menurut yang pertama, Bonabentura tidak mendirikan ordo baru sama sekali. Ordonya tetap sama, ia hanya mengadakan pembaharuan saja. Bonaventura hanya melakukan pembaharuan ordo lama saja, walau ia membaharuinya secara sangat radikal sehingga terkesan seakan-akan sesuatu yang baru dan lain sama sekali. Menurut yang kedua, Bonaventura mendirikan ordo baru sama sekali yang tidak ada kaitan historis apa pun dengan ordo yang dirintis dan didirikan oleh Fransiskus dari Asisi. Seakan-akan ada loncaran historis-dialektis yang besar antara apa yang dimulai Fransiskus, dan apa yang dimulai oleh Bonaventura.

Saya sendiri memang bukan seorang sejarawan profesional, tetapi saya sangat mencintai disiplin ilmu sejarah. Atas dasar kecintaan itulah saya berpendapat bahwa Bonaventure is the second founder of the order, and not the founder of the second order at all. Mengapa saya berani mengatakan demikian? Apa yang menjadi dasar pemikiran saya? Menurut hemat saya, ada cukup banyak petunjuk bukti yang mendorong saya ke arah simpulan seperti itu. Pertama, Bonaventura adalah seorang yang sangat mengagumi santo Fransiskus dari Asisi. Ia menjadikan Fransiskus sebagai model hidupnya. Bahkan kita juga tahu bahwa hidup Bonaventura pada masa kecilnya sangat tergantung pada mukjizat yang terjadi dengan pengantaraan Fransiskus Asisi ini. Hal itu dapat kita baca dalam riwayat hidup Bonaventura. Jadi, kita dapat membayangkan betapa dekatnya relasi rohani antara Bonaventura dan Fransiskus Asisi. Kedua, karena cinta, hormat, dan kagumnya akan Fransiskus, maka Bonaventura ketika sudah menjadi anggota ordo sebagai intelektual terkenal, menulis dua riwayat hidup standar dan resmi dari Fransiskus dari Asisi. Kedua buku itu ialah Legenda Major dan Legenda Minor. Keduanya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Pater Wahyo OFM.

Ketiga, dan ini yang terpenting bagi saya. Konon ketika akan menjabat sebagai pejabat penting dan tinggi dalam ordo, Bonaventura dengan sengaja dan sadar menyediakan waktu untuk pergi bertapa di La Verna. Apa arti penting dari tindakan ini? La Verna adalah tempat sangat istimewa bagi Fransiskus Asisi. Itulah tempat retret tahunan bagi dia. Di sanalah ia mendapat stigmata yang terkenal itu. Dalam pembacaan saya, Bonaventura yang akan menjadi pemimpin pembaharu Ordo, seakan-akan mau melandasi kepemimpinan dan semangat pembaharuan itu pada sumber hiduprohani sang pendiri awal sendiri yakni La Verna. Jadi, Bonaventura mengadakan pembaharuan dengan menukik lagi ke tradisi awal, kembali ke akar, kembali ke radix, ke pengalaman dasar, foundational experience, ke root metaphor. Bonaventura melakukan gerak yang sangat populer dalam Konsili Vatikan II, ad fontes itu, kembali ke sumber-sumber asali. Dan hasilnya kita semua tahu: Bonaventura mampu membaharui ordo sehingga menjadi ordo yang baru dan kuat yang mampu menghadapi terpaan jaman, para bidaah, maupuan para pesaing dalam gereja sendiri, termasuk para imam diosesan yang pada jaman Bonaventura sempat membidaahkan hidup miskin itu sendiri. Dan Bonaventura tampil sebagai pembela hidup kemiskinan itu sebagai vita evangelica dan vita apostolica sejati.

Selamat pesta Bonaventura. Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat.

Fransiskus Borgias M.
Yogya, 13 Juli 2011.

Sunday, July 17, 2011

EMPTY-NEST SYNDROME

Oleh: Fransiskus Borgias M.

Hari ini, 6 Juli 2011, anak kami, Yoan, mulai menjalani hidup baru sebagai anak asrama di Sedes Sapientiae, Bedono. Tanggal ini sudah lama kami tunggu kedatangannya, bahkan beberapa hari terakhir kami juga melakukan perhitungan mundur (count down), suatu hal yang juga dilakukan oleh anak kami di status facebooknya. Akhirnya tanggal itu tiba juga. Tadi pagi kami ke Bedono. Semua berjalan lancar. Jarak Yogya-Bedono bisa ditempuh tidak lebih dari satu setengah jam. Setelah semua acara berlalu (pendaftaran ulang, ceking barang, serah terima, pamitan), akhirnya jam 15.00 sore kami bertiga (saya, isteri, dan Agung) harus meninggalkan asrama. Sedih juga rasanya.

Tiba-tiba pada saat itu saya teringat akan pengalaman saya sendiri kira-kira 36 tahun silam, ketika saya untuk pertama kalinya masuk asrama SMP Seminari Pius XII, Kisol setelah baru saja menamatkan Sekolah Dasar di Ketang. Saya masih ingat bahwa saat itu saya sedih sekali.

Sekarang anak putri kami sendiri, yang pergi meninggalkan kami dan mulai menempuh cara hidup baru sebagai anak asrama. Tadi ketika akan berpisah, ia kelihatan kuat, tegar, tabah dan mencoba tertawa. Saya tidak bisa menduga apa yang ada dalam hatinya saat itu. Mungkin ia sedih, mungkin ia menangis, mungkin ia juga kesepian. Ketika pulang, isteri saya menyatakan perasaannya: ia sedih, ia merasa sangat kehilangan. Aku coba menghibur dia: Kita tidak boleh menangis agar anak kita jangan menjadi sedih lewat telepati, hubungan batin antara anak dan orang tua. Ketika sampai di rumah, kami sempat nonton bersama film Korea kesukaan Yoan; sedih juga rasanya.

Isteri saya dan saya secara langsung dan nyata mengalami apa yang oleh para ahli ilmu jiwa disebut sindom sarang kosong, atau empty-net syndrom. Ini adalah istilah dunia psikologi yang diangkat dari dunia nyata, dunia induk burung. Konon induk burung ketika untuk pertama kalinya melihat sarangnya kosong karena anak-anaknya sudah terbang dan pergi menjauh, induk itu akan tampak seperti sejenak kebingungan, berkaok-kaok bisa sampai sehari penuh, menciap-ciap seperti meratapi kesepiannya. Ia meloncat ke sana ke mari di dahan di sekitar sarang kosong itu seakan-akan mencari dengan sia-sia sisa-sisa kenangan yang mungkin masih melengket di sana. Tetapi semuanya tidak berguna. Anak-anaknya yang selama ini ada dalam sarangnya, dan berada di bawah kepak sayap-sayapnya yang hangat sebagai induk, kini sudah terbang dan pergi. Mencari dirinya sendiri, menjadi dirinya sendiri, membangun dunia dan masa depan mereka sendiri.

Ya, hari ini, kami mengalami sindrom itu: anak kami yang selama sekian lama seperti ada dalam tangan dan pelukan kami, kini sudah pergi rada jauh dari kami, hidup dan tinggal dalam situasi berjarak. Dia yang kemarin-kemarin masih ada di sisi kami, kini sudah berada jauh dari kami. Ya, kami harus tegar dan kuat. Seperti induk burung itu, kami juga akan mulai terbiasa dengan keadaan itu, lalu kembali ke rutinitas kami; tetapi tetap ada cinta dan kasih sayang untuk Yoan. Agung juga mengatakan dan mengungkapkan rasa sepi dan kehilangannya.Ia sepi dan sedih. Ya, kami harus arungi semua ini demi pematangan dan pendewasan kami semua.

Benar kata para guru pendamping di sana, bahwa yang menjalani MOS itu tidak hanya siswa, melainkan juga orang tua. Orang tua harus juga berusaha membiasakan diri dengan perubahan besar ini dalam hidup mereka. Harus bisa menerima apa yang pernah dikatakan Kahlil Gibran bahwa Anakmu bukan milikmu,melainkan milik sang Hidup yang cinta pada dirinya sendiri. Ia memang datang melalui engkau, tetapi bukan dari kamu. Karena itu, berilah kepadanya pakaian untuk badannnya, bukan untuk pikirannya, sebab mereka adalah penghuni masa depan, yang tidak dapat kamu datangi, sekalipun hanya dalam impian.

Yah begitulah hidup manusia. Ada ambang batas yang tidak dapat dilewati, di mana setiap orang harus berhenti. Mengakhiri perjalanannya. Harus rela memberi kesempatan kepada angkatan yang baru di masa yang akan datang.

Yogya, 06 Juli 2011
Ditulis kembali dan diperbaiki tanggal 11 Juli 2011.

PEDENG JEREK WAE SUSU

Oleh: Fransiskus Borgias Dosen dan Peneliti Senior pada FF-UNPAR Bandung. Menyongsong Mentari Dengan Tari  Puncak perayaan penti adala...