Oleh: Fransiskus Borgias M.
Surat gembala Prapaskah Administrator keuskupan Bandung tahun 2008 menyinggung kepedulian kita akan lingkungan hidup. Ada beberapa hal yang menarik di situ.
Pertama, beliau mengajak kita menaruh perhatian dan kepedulian yang besar kepada masalah lingkungan hidup. Mungkin selama ini belum terlalu besar, maka sekarang lebih besar lagi. Mungkin selama ini, hanya gerakan sempalan kelompok berminat, maka sekarang mau menjadi gerakan keuskupan. Dalam hal ini, keuskupan mau menjadi keuskupan hijau, green bishopric, seperti green bible, green church, green party, green thinking, bahkan green God (kata Yan Sunyata OSC dalam buku: Terobosan Baru Berteologi: Lamalera, 2009). Kalau ini benar maka arah keuskupan sudah tepat, karena kita ada dalam dunia ini, kita adalah gereja yang berziarah di dunia, gereja yang berjuang, gereja pejuang, di tengah bumi yang makin panas, dan iklimnya berubah dan tampak tidak bersahabat dengan kita (mengutip Ebiet G.Ade, dalam balada “Perjalanan I”-nya yang terkenal itu).
Kalau kita sadar bahwa kita berada dalam dunia ini, maka kita harus memikirkan dengan serius dunia ini tempat kita hidup, sebab walau kita tidak berasal dari dunia ini (Injil Yohanes), tetapi kita ada dalam dunia. Kesejahteraan hidup kita harus diupayakan dalam konteks keutuhan relasi dengan dunia. Mungkin ini saatnya kita harus menerima keyakinan teologis yang dicanangkan E.Schillebeeckx: “di luar dunia tidak ada keselamatan,” extra mundum nulla salus. Jika kita mau mengupayakan keselamatan, kita mengupayakannya dalam dunia ini, sebab kita tidak punya pesawat jet yang membawa kita secepat kilat dari bumi ini ke planet lain untuk diselamatkan dari bumi yang hancur dan rusak ini. Keselamatan kita harus diupayakan dalam dan bersama bumi. Inilah tanggung-jawab semua umat beragama, termasuk orang Kristiani, sebab dalam bumi yang satu dan hanya satu ini ada banyak agama, maka banyak agama itu harus menaruh kepedulian etis pada bumi yang satu dan sama itu. Seperti kata Paul F.Knitter, One Earth Many Religions. Dalam rangka itu kita membutuhkan apa yang disebut etika dunia, Welt-ethos (Hans Kung). Sebab hidup dalam dunia ini juga perlu etika. Tanpa etika semuanya hancur. Etikanya ialah etika perhatian, etika yang memberi hati, memberi per-hati-an.
Kedua, teks itu juga beberapa kali menyebut alam sebagai saudara. Mungkin ada umat yang terkejut: Bagaimana mungkin alam ini saudara saya? Bagaimana mungkin cacing saudara saya? Bagaimana mungkin gunung saudara saya? Bagaimana mungkin air saudara saya? Pernyataan bahwa alam adalah saudara kita, perlu penjelasan lebih lanjut. Sebab tidak gampang menerima bahwa manusia bersaudara dengan alam di sekitarnya. Percik-percik ke arah transendensi yang ada dalam diri manusia seakan sulit didamaikan dengan ikatan gravitasi imanensi dalam alam semesta dan segala makhluk. Mungkin ada yang spontan berkata, pernyataan itu tidak mengandung kebenaran, atau kalau mengandung kebenaran maka itu hanya sebuah romantisisme naturalis yang sudah lama kelewat usang dan kadaluwarsa.
Tetapi tidak demikian adanya. Paham bahwa alam adalah saudara sesungguhnya merupakan salah satu warisan agung dari agama-agama asli, agama alam yang ada di sekitar kita, dan mungkin masih mewarnai penghayatan religiositas Kristiani kita, apalagi kalau religiositas kristiani itu ikut diwarnai dalam perkembangannya oleh insight agama-agama kosmik. Ketika menjadi dosen tamu pada STFT Fajar Timur di Abepura, Papua akhir 2007, saya membaca beberapa manuskrip tentang visi kosmik orang Papua khususnya Pegunungan Tengah. Bagi mereka gunung adalah “ibu” yang sekarang rusak karena pertambangan Freeport yang bernama Tembagapura, tetapi sesungguhnya Emaspura. Mungkin tersimpan dalam kosa kata Indonesia yang menyebut bumi, ibu pertiwi. Ya, bumi adalah rahim ibu, ibu rachim, yang melahirkan dan menghidupkan, mengasuh kita. Ketika teman saya di SD dulu ditimpa kelaparan, orang sekampungnya pergi ke hutan mencari makanan dalam mensa communis-cosmic, tetapi mereka melakukan itu dalam ritual ratapan permohonan maaf karena bakal menyakiti pepohonan di hutan (khususnya enau yang diambil sagunya, pucuknya, buahnya untuk makanan); kehadiran mereka di hutan dianggap mengganggu, maka mereka harus kulo-nuwun terlebih dahulu. Sopan santun seperti ini adalah warisan agung dan luhur dari agama-agama kosmis. Agama asli di sekitar kita mengajarkan ada relasi persaudaraan yang sangat erat antara kita manusia dan alam di sekitar kita. Kita harus menghormati hal itu.
Selain warisan agama asli, ini juga adalah warisan dari tokoh agung Fransiskus dari Asisi. Ia terkenal dengan puisi kosmiknya yang agung itu, yang dikenal dengan sebutan Gita Sang Surya; juga disebut Kidung Saudara Matahari, The Canticle of Brother Sun, Canticum Solis. Sesungguhnya intuisi kosmis Fransiskus juga tidak seluruhnya baru, sebab ia berada dalam sebuah tradisi religius yang sangat besar, yaitu Kristiani yang di sana-sini mungkin dipengaruhi tradisi mistik kosmik Celtik yang masuk ke Eropa daratan lewat daratan Perancis dan sampai ke gerakan naturalisme abad pertengahan yang amat kental dalam diri Fransiskus Asisi, bahkan ia menjadi salah satu pilar utamanya. Dalam tradisi agung Kristinani, kita mempunyai warisan agung Perjanjian Lama, yaitu kitab Mazmur dan Lagu tiga bersaudara yang terkenal itu. Dari Mazmur kita kenal Mazmur 8 yang memuja keagungan alam dan lewat alam orang sampai mengagumi Pencipta: Betapa mulia namaMu di seluruh bumi, agung mengatasi langit. Gita Sang Surya Fransiskus mirip dengan lagu tiga bersaudara dalam tanur api itu. Tetapi dalam GSS ada sebuah loncatan eksistensial. Semua unsur kosmis yang disebut dan diajak tiga bersaudara itu tanpa embel-embel, oleh Fransiskus diberi embel-embel sebutan saudara dan saudari. Terpujilah Engkau Tuhanku karena saudara Matahari. Inilah loncatan eksistensial dalam penghayatan Fransiskus tadi. Ia memandang alam dan isinya sebagai saudara; sebagai saudara sangat layak diajak memuji Allah bersama-sama dalam sebuah paduan suara semesta.
Orang yang akrab dengan tradisi Kristiani ala spiritualitas Celtic juga sangat merasakan dimensi kosmis ini dalam penghayatannya. Jadi, kalau surat gembala itu menyebut alam sebagai saudara, itu bukanlah sebuah ajaran baru atau apalagi sesat, melainkan beliau memperkenalkan sebuah intuisi purba religiositas dan spiritualitas Kristiani kita yang sangat tinggi. Apalagi kalau kita akrab dengan tradisi dan spiritulitas Fransiskan yang seluruhnya berjiwa kosmis itu, tetapi sekaligus melampaui kosmis untuk bermuara pada pangkuan agung sang pencipta kosmos, yaitu Allah sendiri.
canticum solis adalah blogspot saya untuk pendalaman dan diskusi soal-soal filosofis, teologis, spiritualitas dan yang terkait. Kalau berkenan mohon menulis kesan atau komentar anda di bagian akhir dari artikel yang anda baca. Terima kasih... canticum solis is my blog in which I write the topics on philosophy, theology, spiritual life. If you don't mind, please give your comment or opinion at the end of any article you read. thanks a lot.....
Sunday, May 29, 2011
Wednesday, November 24, 2010
PUISI-PUISI NOVEMBER 2010 1
Oleh: Fransiskus Borgias M.
MEMANDANGMU DARI BELAKANG
terasa sia-sia
aku menggaruk-garuk
dinding-dinding ruang kemarin kita
sebab ternyata engkau
telah menidakkannya sendiri
sehingga ia kini sekadar menjadi
kemarinku
yang biru, sayu, ungu,
cenderung kelabu. Bisu.
Kau berjalan mencari dirimu
aku hanya memandangmu dari belakang
pergi.
Plemburan, 22 November 2010
BERNYANYI LAGI WAHAI BURUNG PAGI
Di depan kamarku
ada lubang-lubang dalam rongga-rongga batu
pada masa turun debu
beberapa minggu lalu
ada beberapa burung kecil
coba menengok ke situ.
Mereka tidak berbunyi.
Mereka mencari dalam sunyi
dalam kelaparan akibat merapi
mengalir sepotong doa dalam hati
Tuhan berilah mereka roti hari ini
agar kudengar lagi mereka nyanyi
di pagi hari, pembunuh sunyi
ku ini.
Plemburan, 15 November 2010
MEMANDANGMU DARI BELAKANG
terasa sia-sia
aku menggaruk-garuk
dinding-dinding ruang kemarin kita
sebab ternyata engkau
telah menidakkannya sendiri
sehingga ia kini sekadar menjadi
kemarinku
yang biru, sayu, ungu,
cenderung kelabu. Bisu.
Kau berjalan mencari dirimu
aku hanya memandangmu dari belakang
pergi.
Plemburan, 22 November 2010
BERNYANYI LAGI WAHAI BURUNG PAGI
Di depan kamarku
ada lubang-lubang dalam rongga-rongga batu
pada masa turun debu
beberapa minggu lalu
ada beberapa burung kecil
coba menengok ke situ.
Mereka tidak berbunyi.
Mereka mencari dalam sunyi
dalam kelaparan akibat merapi
mengalir sepotong doa dalam hati
Tuhan berilah mereka roti hari ini
agar kudengar lagi mereka nyanyi
di pagi hari, pembunuh sunyi
ku ini.
Plemburan, 15 November 2010
MENDALAMI DAN MENIKMATI MAZMUR 78
Oleh: Fransiskus Borgias M
Judul mazmur ini ialah ”Pelajaran dari Sejarah.” Ini adalah refleksi historis-teologis pemazmur. Mazmur ini sangat panjang: 72 ayat. Untuk memahami dan menikmati isinya saya membaginya atas enam bagian. Bgn I: ay 1-4. Bgn II: ay 5-11. Bgn III: ay 12-16. Bgn IV: ay 17-55. Bgn V: ay 56-64. Bgn VI: ay 65-72. Ini pembagian garis besar.
Dalam Bgn I, pemazmur seolah tampil sebagai guru Hikmat yang mengajak umat untuk belajar dari sejarah, belajar hikmat, yang bersifat turun temurun, dari waktu ke waktu. Mengapa hal ini penting? Itu karena si guru Hikmat yakin bahwa Tuhan sudah bertindak dalam sejarah. Karya-karya Tuhan dalam sejarah itulah yang kita pelajari untuk dijadikan sebagai hikmat dan pegangan hidup.
Dalam Bgn II, pemazmur mulai membentangkan secara rinci karya Tuhan. Salah satunya ialah memberikan Taurat kepada Israel. Hukum itu harus diajarkan turun temurun (ay 5-6). Diharapkan dengan pengajaran itu orang percaya dan selalu ingat akan Allah (ay 7). Pengajaran itu juga dimaksudkan agar angkatan kemudian tidak mengulangi ketololan sejarah masa silam (ay 8-11). Itulah arti penting himbauan Soekarno: Jangan sampai melupakan sejarah yang disingkat secara populer menjadi Jasmerah.
Dalam Bgn III dilukiskan secara sangat singkat tentang penyertaan dan penyelenggaraan Tuhan dalam sejarah hidup Israel (providentia Dei), terutama sekali secara kongkret dalam sejarah pembebasan Israel dari perbudakan Mesir, dan dihantarnya mereka secara final dan pasti ke Tanah Terjanji, Kanaan.
Lalu kita sampai pada unit terpanjang dalam mazmur ini, Bagian IV, ay 17-55. Karena panjang maka unit ini dibagi lagi ke dalam sub-unit lebih kecil yang disebut dalam uraian berikut. Dalam ay 17-20 pemazmur memulai uraiannya dengan sebuah paradoks sikap umat: Di satu pihak Tuhan sudah berbuat baik terhadap umat, tetapi umat, di pihak lain, tetap tidak puas dan tidak mau bertobat dan percaya. Maka Tuhan menjadi murka (ay 21-22). Dalam ay 23-30 ada pelukisan lagi tentang karya-karya agung Tuhan; sekali lagi pelukisan ini dipuncaki dengan ketidak-puasan umat; Allah pun murka juga (ay 31). Dalam ay 32-41 ada gambaran yang sangat gamblang mengenai ketegaran hati umat di hadapan Allah; umat yang keras kepala dan tegar tengkuk; dengan pelbagai variasi ungkapan hal itu dinyatakan dengan tegas. Hati yang tegar itu dihukum Allah (ay 33); karena ada hukuman maka muncul tobat semu di kalangan umat, tobat terpaksa (ay 34-35). Dalam ay 36-37 secara pars pro toto (mulut, lidah, hati) dilukiskan pembangkangan mereka terhadap Tuhan. Dalam ay 38-39 kita menemukan satu pelukisan tentang kasih setia (hesed) Allah yang maharahim. Allah itu sabar, walau sering dicobai manusia (ay 40-41). Dalam ay 42-55 ada pelukisan ulang secara singkat dan padat mengenai pembebasan dari Mesir dan penghantaran umat ke Tanah Terjanji. Di situ Allah menampakkan kasih setiaNya kepada umatNya. Dalam ay 56-64 kita melihat sebuah pelukisan sekali mengenai paradoks sikap umat. Kita temukan di sana bahwa umat yang tegar tengkuk itu tetap tidak dapat setia di hadapan kasih setia Allah. Mereka mencobai Allah. Mereka memberontaki Allah.
Mereka tidak taat pada hukum Allah (ay 56). Tentu ini dosa besar. Dosa itu terus dilukiskan lebih lanjut dalam ay 57-58. Akibat dari itu ialah, dalam ay 59-64, dilukiskan beberapa hukuman Allah yang ditimpakan ke atas Israel. Inilah Bgn V mazmur ini.
Akhirnya kita sampai pada Bgn VI, ay 65-72. Dalam bagian ini kita dapat menemukan puncak Mazmur ini. Dapat dikatakan bahwa rangkaian mazmur panjang ini dipuncaki dengan pelukisan tentang kasih setia Allah. Jadi, kendati segala dosa dan pembangkangan umat dan sesekali ada penghukuman atas dosa, tetapi di sini ditegaskan bahwa the final word bukanlah hukuman melainkan kasih setia (steadfast love) Allah. The final word bukan hukumanNya, bukan keadilan dan hukumNya, melainkan limpahan kasih setiaNya yang tiada berhingga.
Setelah dikilas balik pembacaan kilat atas mazmur panjang ini, tampak bahwa Mazmur ini melukiskan dinamika hubungan Israel dengan Yahweh. Hubungan itu diikat dengan tali kasih setia dari pihak Yahweh. Seharusnya umat menanggapi hal itu dengan kasih setia, dengan hesed. Tetapi umat sering membangkang dan tidak mudah taat. Allah menjadi murka karenanya dan menjatuhkan hukuman. Tetapi hukuman itu bertujuan didaktis,yang memunculkan tobat dan kasih setia dalam hati umat. Seluruh dinamika relasi itu akhirnya bermuara pada warta tentang citra Allah yang maharahim, penuh kasih setia. Ya, itu tidak lain karena Allah adalah kasih, Deus est caritas.
Judul mazmur ini ialah ”Pelajaran dari Sejarah.” Ini adalah refleksi historis-teologis pemazmur. Mazmur ini sangat panjang: 72 ayat. Untuk memahami dan menikmati isinya saya membaginya atas enam bagian. Bgn I: ay 1-4. Bgn II: ay 5-11. Bgn III: ay 12-16. Bgn IV: ay 17-55. Bgn V: ay 56-64. Bgn VI: ay 65-72. Ini pembagian garis besar.
Dalam Bgn I, pemazmur seolah tampil sebagai guru Hikmat yang mengajak umat untuk belajar dari sejarah, belajar hikmat, yang bersifat turun temurun, dari waktu ke waktu. Mengapa hal ini penting? Itu karena si guru Hikmat yakin bahwa Tuhan sudah bertindak dalam sejarah. Karya-karya Tuhan dalam sejarah itulah yang kita pelajari untuk dijadikan sebagai hikmat dan pegangan hidup.
Dalam Bgn II, pemazmur mulai membentangkan secara rinci karya Tuhan. Salah satunya ialah memberikan Taurat kepada Israel. Hukum itu harus diajarkan turun temurun (ay 5-6). Diharapkan dengan pengajaran itu orang percaya dan selalu ingat akan Allah (ay 7). Pengajaran itu juga dimaksudkan agar angkatan kemudian tidak mengulangi ketololan sejarah masa silam (ay 8-11). Itulah arti penting himbauan Soekarno: Jangan sampai melupakan sejarah yang disingkat secara populer menjadi Jasmerah.
Dalam Bgn III dilukiskan secara sangat singkat tentang penyertaan dan penyelenggaraan Tuhan dalam sejarah hidup Israel (providentia Dei), terutama sekali secara kongkret dalam sejarah pembebasan Israel dari perbudakan Mesir, dan dihantarnya mereka secara final dan pasti ke Tanah Terjanji, Kanaan.
Lalu kita sampai pada unit terpanjang dalam mazmur ini, Bagian IV, ay 17-55. Karena panjang maka unit ini dibagi lagi ke dalam sub-unit lebih kecil yang disebut dalam uraian berikut. Dalam ay 17-20 pemazmur memulai uraiannya dengan sebuah paradoks sikap umat: Di satu pihak Tuhan sudah berbuat baik terhadap umat, tetapi umat, di pihak lain, tetap tidak puas dan tidak mau bertobat dan percaya. Maka Tuhan menjadi murka (ay 21-22). Dalam ay 23-30 ada pelukisan lagi tentang karya-karya agung Tuhan; sekali lagi pelukisan ini dipuncaki dengan ketidak-puasan umat; Allah pun murka juga (ay 31). Dalam ay 32-41 ada gambaran yang sangat gamblang mengenai ketegaran hati umat di hadapan Allah; umat yang keras kepala dan tegar tengkuk; dengan pelbagai variasi ungkapan hal itu dinyatakan dengan tegas. Hati yang tegar itu dihukum Allah (ay 33); karena ada hukuman maka muncul tobat semu di kalangan umat, tobat terpaksa (ay 34-35). Dalam ay 36-37 secara pars pro toto (mulut, lidah, hati) dilukiskan pembangkangan mereka terhadap Tuhan. Dalam ay 38-39 kita menemukan satu pelukisan tentang kasih setia (hesed) Allah yang maharahim. Allah itu sabar, walau sering dicobai manusia (ay 40-41). Dalam ay 42-55 ada pelukisan ulang secara singkat dan padat mengenai pembebasan dari Mesir dan penghantaran umat ke Tanah Terjanji. Di situ Allah menampakkan kasih setiaNya kepada umatNya. Dalam ay 56-64 kita melihat sebuah pelukisan sekali mengenai paradoks sikap umat. Kita temukan di sana bahwa umat yang tegar tengkuk itu tetap tidak dapat setia di hadapan kasih setia Allah. Mereka mencobai Allah. Mereka memberontaki Allah.
Mereka tidak taat pada hukum Allah (ay 56). Tentu ini dosa besar. Dosa itu terus dilukiskan lebih lanjut dalam ay 57-58. Akibat dari itu ialah, dalam ay 59-64, dilukiskan beberapa hukuman Allah yang ditimpakan ke atas Israel. Inilah Bgn V mazmur ini.
Akhirnya kita sampai pada Bgn VI, ay 65-72. Dalam bagian ini kita dapat menemukan puncak Mazmur ini. Dapat dikatakan bahwa rangkaian mazmur panjang ini dipuncaki dengan pelukisan tentang kasih setia Allah. Jadi, kendati segala dosa dan pembangkangan umat dan sesekali ada penghukuman atas dosa, tetapi di sini ditegaskan bahwa the final word bukanlah hukuman melainkan kasih setia (steadfast love) Allah. The final word bukan hukumanNya, bukan keadilan dan hukumNya, melainkan limpahan kasih setiaNya yang tiada berhingga.
Setelah dikilas balik pembacaan kilat atas mazmur panjang ini, tampak bahwa Mazmur ini melukiskan dinamika hubungan Israel dengan Yahweh. Hubungan itu diikat dengan tali kasih setia dari pihak Yahweh. Seharusnya umat menanggapi hal itu dengan kasih setia, dengan hesed. Tetapi umat sering membangkang dan tidak mudah taat. Allah menjadi murka karenanya dan menjatuhkan hukuman. Tetapi hukuman itu bertujuan didaktis,yang memunculkan tobat dan kasih setia dalam hati umat. Seluruh dinamika relasi itu akhirnya bermuara pada warta tentang citra Allah yang maharahim, penuh kasih setia. Ya, itu tidak lain karena Allah adalah kasih, Deus est caritas.
Thursday, September 16, 2010
MENDALAMI DAN MENIKMATI MAZMUR 77
Oleh: Fransiskus Borgias M
Lay Theologian, Dosen dan Peneliti GESER INSTITUTE dan CCRS
Center for Cultural and Religious Studies FF-UNPAR Bandung
Ph.D Student ICRS-Yogya.
Judul mazmur ini dalam Alkitab ialah ”Perbuatan Allah di masa lampau.” Dari sini kita dapat simpulkan bahwa ini refleksi historis-teologis pemazmur. Jadi, pasti menarik untuk diikuti. Seperti biasa, untuk memahami dan menikmati isinya saya membagi mazmur ini atas tiga bagian. Bgn I: ay 1-11. Bgn II: ay 12-16. Bgn III: ay 17-21. Dibandingkan dengan mazmur 76, mazmur ini termasuk cukup panjang.
Kita mulai dengan Bgn I. Mazmur ini mulai dengan pernyataan pemazmur bahwa dirinya ingin berseru kepada Allah dengan suara nyaring, agar Allah mendengar dia (ay 2). Ini pernyataan keinginan dasar untuk berdoa, datang ke hadapan Allah, menyerukan namaNya. Dalam ay 3 pemazmur mengungkapkan apa yang dibuatnya selama ini: ia mencari Tuhan di masa kesusahan hidup, sebuah tendensi yang biasa bagi manusia. Ia melakukan itu siang dan malam; ia tidak lesu atau bosan dengan hal itu. Ay 4-5, termasuk sulit dijelaskan dan dipahami, tetapi kiranya ini adalah pengalaman psikologi hidup rohani yang rumit, yang mencoba menjelaskan secara singkat misteri relasi manusia beriman dengan Allah. Tidak semuanya dan selamanya mulus. Ay 4-5 inilah salah satu bentuk ketidak-mulusan relasi itu. Ada paradox yang amat sulit dipahami, tetapi terjadi dalam hidup beriman. Karena itu harus dilewati dengan tekun, tabah, dan penuh harap.
Tetapi apa dasar harapan itu? Dasarnya ialah tindakan Tuhan di masa silam. Itulah yang disinggung dalam ay 6-7. Dari untaian pertanyaan reflektif-retoris dalam ay 8-9, kita dapat menyimpulkan bahwa apa yang ia kenang dalam dua ayat terdahulu adalah tindakan dan perbuatan ajaib dan positif Allah di masa silam. Dulu ia ingat bahwa Allah melakukan banyak perbuatan ajaib. Tangan kanan Tuhan bertindak, memperlihatkan kekuatan, membimbing dan menuntun umat. Tetapi kini, rasanya Tuhan tidak berbuat apa-apa lagi? Itu sebabnya muncul untaian pertanyaan reflektif tadi; sebaiknya dikutip salah satunya di sini: “Untuk selamanyakah Tuhan menolak dan tidak kembali bermurah hati lagi?” Tiga pertanyaan reflektif ini adalah gugatan teologis. Kontras antara dulu dan sekarang itulah yang menyebabkan hati pemazmur serasa tertikam (ay 11). Seakan Allah sudah berubah: jika dulu tangan kananNya bertindak, kini Ia tidak lagi bertindak.
Kita melihat Bgn II. Saya mulai dengan pertanyaan, apakah itu final? Rupanya pemazmur merasa ini belum final. Untuk dapat berharap dan memandang masa kini dan masa depan dengan lebih baik, ia melihat ke masa silam. Ia coba mengingat lagi semua perbuatan Tuhan di masa silam (ay 12). Niat untuk mengingat kembali perbuatan Allah di masa silam itu, diungkapkan dengan pelbagai cara oleh pemazmur dalam ay 13,14,15,16. Di sini ia mengungkapkan keyakinan pokoknya bahwa di masa silam Tuhan sudah bertindak dan memperlihatkan keperkasaan dan perbuatannya yang ajaib dan dahsyat.
Dalam Bgn III, kita melihat perubahan dalam cara pandang pemazmur. Jika dalam Bgn II, ia hanya melihat tindakan Allah dalam relasi dengan manusia, kini dalam Bgn III, ia menyatakan bahwa tindakan atau perbuatan Allah itu tampak di alam. Alam semesta merasakan tindakan Allah. Bagi manusia beriman, tindakan Allah itu tampak jejaknya dalam alam. Itu sebabnya dalam ay 17,18,19,20 disebut beberapa komponen kosmos: air, samudera raya, awan-awan, deru Guntur, kilat, bumi, laut. Jika meminjam istilah filsafat ketuhanan St.Agustinus, kita dapat berkata bahwa ini adalah sejumput bukti kosmologis mengenai keberadaan Allah dan kenyataan bahwa Allah bertindak dan berkarya dalam dan melalui sejarah, dan alam semesta. Barulah dalam ay 20 kita melihat pemazmur menyatakan keyakinan imannya bahwa Allah bertindak sebagai gembala atas umatNya, dengan pengantaraan Musa dan Harun. Atas dasar tinjauan historis-teologis ke masa silam, pemazmur dapat berharap untuk mendapat tindakan dan perbuatan Allah lagi di masa kini dan masa akan datang. Iman akan masa depan dipulihkan dengan perjalanan ke masa silam. Paradoksal, tetapi itu benar adanya.
Bandung, 14 September 2010
Pesta Stigmata St.Fransiskus Asisi dan Salib Suci
Lay Theologian, Dosen dan Peneliti GESER INSTITUTE dan CCRS
Center for Cultural and Religious Studies FF-UNPAR Bandung
Ph.D Student ICRS-Yogya.
Judul mazmur ini dalam Alkitab ialah ”Perbuatan Allah di masa lampau.” Dari sini kita dapat simpulkan bahwa ini refleksi historis-teologis pemazmur. Jadi, pasti menarik untuk diikuti. Seperti biasa, untuk memahami dan menikmati isinya saya membagi mazmur ini atas tiga bagian. Bgn I: ay 1-11. Bgn II: ay 12-16. Bgn III: ay 17-21. Dibandingkan dengan mazmur 76, mazmur ini termasuk cukup panjang.
Kita mulai dengan Bgn I. Mazmur ini mulai dengan pernyataan pemazmur bahwa dirinya ingin berseru kepada Allah dengan suara nyaring, agar Allah mendengar dia (ay 2). Ini pernyataan keinginan dasar untuk berdoa, datang ke hadapan Allah, menyerukan namaNya. Dalam ay 3 pemazmur mengungkapkan apa yang dibuatnya selama ini: ia mencari Tuhan di masa kesusahan hidup, sebuah tendensi yang biasa bagi manusia. Ia melakukan itu siang dan malam; ia tidak lesu atau bosan dengan hal itu. Ay 4-5, termasuk sulit dijelaskan dan dipahami, tetapi kiranya ini adalah pengalaman psikologi hidup rohani yang rumit, yang mencoba menjelaskan secara singkat misteri relasi manusia beriman dengan Allah. Tidak semuanya dan selamanya mulus. Ay 4-5 inilah salah satu bentuk ketidak-mulusan relasi itu. Ada paradox yang amat sulit dipahami, tetapi terjadi dalam hidup beriman. Karena itu harus dilewati dengan tekun, tabah, dan penuh harap.
Tetapi apa dasar harapan itu? Dasarnya ialah tindakan Tuhan di masa silam. Itulah yang disinggung dalam ay 6-7. Dari untaian pertanyaan reflektif-retoris dalam ay 8-9, kita dapat menyimpulkan bahwa apa yang ia kenang dalam dua ayat terdahulu adalah tindakan dan perbuatan ajaib dan positif Allah di masa silam. Dulu ia ingat bahwa Allah melakukan banyak perbuatan ajaib. Tangan kanan Tuhan bertindak, memperlihatkan kekuatan, membimbing dan menuntun umat. Tetapi kini, rasanya Tuhan tidak berbuat apa-apa lagi? Itu sebabnya muncul untaian pertanyaan reflektif tadi; sebaiknya dikutip salah satunya di sini: “Untuk selamanyakah Tuhan menolak dan tidak kembali bermurah hati lagi?” Tiga pertanyaan reflektif ini adalah gugatan teologis. Kontras antara dulu dan sekarang itulah yang menyebabkan hati pemazmur serasa tertikam (ay 11). Seakan Allah sudah berubah: jika dulu tangan kananNya bertindak, kini Ia tidak lagi bertindak.
Kita melihat Bgn II. Saya mulai dengan pertanyaan, apakah itu final? Rupanya pemazmur merasa ini belum final. Untuk dapat berharap dan memandang masa kini dan masa depan dengan lebih baik, ia melihat ke masa silam. Ia coba mengingat lagi semua perbuatan Tuhan di masa silam (ay 12). Niat untuk mengingat kembali perbuatan Allah di masa silam itu, diungkapkan dengan pelbagai cara oleh pemazmur dalam ay 13,14,15,16. Di sini ia mengungkapkan keyakinan pokoknya bahwa di masa silam Tuhan sudah bertindak dan memperlihatkan keperkasaan dan perbuatannya yang ajaib dan dahsyat.
Dalam Bgn III, kita melihat perubahan dalam cara pandang pemazmur. Jika dalam Bgn II, ia hanya melihat tindakan Allah dalam relasi dengan manusia, kini dalam Bgn III, ia menyatakan bahwa tindakan atau perbuatan Allah itu tampak di alam. Alam semesta merasakan tindakan Allah. Bagi manusia beriman, tindakan Allah itu tampak jejaknya dalam alam. Itu sebabnya dalam ay 17,18,19,20 disebut beberapa komponen kosmos: air, samudera raya, awan-awan, deru Guntur, kilat, bumi, laut. Jika meminjam istilah filsafat ketuhanan St.Agustinus, kita dapat berkata bahwa ini adalah sejumput bukti kosmologis mengenai keberadaan Allah dan kenyataan bahwa Allah bertindak dan berkarya dalam dan melalui sejarah, dan alam semesta. Barulah dalam ay 20 kita melihat pemazmur menyatakan keyakinan imannya bahwa Allah bertindak sebagai gembala atas umatNya, dengan pengantaraan Musa dan Harun. Atas dasar tinjauan historis-teologis ke masa silam, pemazmur dapat berharap untuk mendapat tindakan dan perbuatan Allah lagi di masa kini dan masa akan datang. Iman akan masa depan dipulihkan dengan perjalanan ke masa silam. Paradoksal, tetapi itu benar adanya.
Bandung, 14 September 2010
Pesta Stigmata St.Fransiskus Asisi dan Salib Suci
MENDALAMI DAN MEMAHAMI MAZMUR 76
Oleh: Fransiskus Borgias M
Lay Theologian, Dosen dan Peneliti GESER INSTITUE dan CCRS
Center for Cultural and Religious Studies FF-UNPAR Bandung
Ph.D Student, ICRS-Yogya
Judul mazmur ini dalam Alkitab ialah “Allah, Hakim segala bangsa.” Mazmur ini cukup singkat, hanya 13 ayat. Untuk menikmati dan memahaminya dengan baik, saya membagi Mazmur ini dalam dua bagian. Bgn I: ay 1-11. Bgn II: ay 12-13. Kita coba memahami Mazmur ini bagian demi bagian dengan menelusuri isi masing-masing bagian itu.
Ada beberapa hal penting yang dikemukakan dalam Bgn I. Mazmur ini dimulai dengan sebuah pernyataan teologis bahwa nama Allah sudah terkenal di Israel dan Yehuda (ay 2). Itu karena Allah bertahta di sana (ay 3). Tidak hanya berdiam di sana, melainkan Ia juga bertindak atau melakukan sesuatu di sana. Dalam ay 4 disebutkan tindakan kepahlawanan Allah: penghancuran alat perang. Berkat tindakan heroik itu, Allah menjadi mulia dan cemerlang (ay 5). Di hadapan Allah yang maha perkasa itu, kekuatan manusia tidak ada artinya lagi (ay 6). Tidak hanya itu. Pasukan berkuda juga menjadi tidak berdaya (ay 7). Sekilas kedua ayat ini mengingatkan kita akan peristiwa yang terjadi dalam penyeberangan laut Teberau itu, ketika pasukan panah dan pasukan kuda Mesir yang mengejar Israel sampai ke tepi Laut, tiba-tiba ketakutan ketika mereka sadar bahwa Tuhan berperang di pihak Israel melawan mereka. Boleh jadi pemazmur memang terkenang akan tindakan Allah dalam peristiwa sejarah di masa silam itu, dan tetap yakin bahwa Allah seperti itu masih akan bertindak juga sekarang dan di sini.
Lalu muncul ungkapan kesadaran akan kedahsyatan dan kemahakuasaan Allah (ay 8). Di hadapan Allah, apalagi yang sedang murka, tidak ada manusia yang dapat bertahan. Bumi sekalipun bahkan menjadi takut dan tertegun saat mendengar keputusan Allah yang diwartakan dari langit (ay 9), saat Allah bangkit melakukan penghakiman dan penghukuman atas bumi (ay 10). Di akhir ay 10 kita temukan sebuah unsur baru yaitu, tindakan Allah itu dimaksudkan untuk menyelamatkan semua orang yang tertindas di bumi ini. Ini sangat menarik, karena tindakan dan perbuatan Allah diberi ciri penyelamatan (konstruktif), tidak hanya ciri penghancuran (destruktif) belaka. Dari untaian ayat-ayat ini, kiranya ay 11-lah yang paling susah dipahami. Di sini memang muncul sebuah paradox antara apa yang terjadi dalam hati manusia, dan bagaimana Allah mensikapi hal tersebut. Paradox itu ada pada kedua bagian dari ay 11 tersebut, hanya saya merasa sukar dijelaskan. Ini menjadi ayat misteri Mazmur ini. Saya cenderung membiarkannya tetap menjadi misteri saja. Mungkin karena itu adalah bagian utuh dari tindakan dan karya Allah yang jauh melampaui daya tangkap pemahaman manusia.
Akhirnya, kita sampai pada Bgn II mazmur ini. Di sini ada seruan atau ajakan bahkan perintah untuk melunasi nazar. Nazar adalah sumpah atau janji bersyarat kepada Tuhan ketika seseorang melakukan permohonan kepada Tuhan, yang harus ditepati jika permohonan itu sudah terjadi atau dikabulkan. Tuhan yang bertindak dalam sejarah, harus dipuji dan dimuliakan. Dalam konteks ini Ia dimuliakan dengan pujian dan persembahan yang dikaitkan dengan nazar (ay 12). Sekali lagi, semuanya ini dilakukan karena Allah melakukan karya-karya agung dan ajaib dalam sejarah bagi umat manusia. Ia menjadi sumber ketakutan dan kegentaran bagi orang-orang yang berkuasa dan kuat, yang biasanya karena kekuasaan dan kekuatannya menjadi sombong dan angkuh. Tetapi di hadapan Tuhan, semuanya itu menjadi tidak berarti apa-apa lagi, karena Allah adalah Hakim segala bangsa.
Bandung, 14 September 2010
Pesta Stigmata St.Fransiskus Asisi dan Pesta Salib Suci
Lay Theologian, Dosen dan Peneliti GESER INSTITUE dan CCRS
Center for Cultural and Religious Studies FF-UNPAR Bandung
Ph.D Student, ICRS-Yogya
Judul mazmur ini dalam Alkitab ialah “Allah, Hakim segala bangsa.” Mazmur ini cukup singkat, hanya 13 ayat. Untuk menikmati dan memahaminya dengan baik, saya membagi Mazmur ini dalam dua bagian. Bgn I: ay 1-11. Bgn II: ay 12-13. Kita coba memahami Mazmur ini bagian demi bagian dengan menelusuri isi masing-masing bagian itu.
Ada beberapa hal penting yang dikemukakan dalam Bgn I. Mazmur ini dimulai dengan sebuah pernyataan teologis bahwa nama Allah sudah terkenal di Israel dan Yehuda (ay 2). Itu karena Allah bertahta di sana (ay 3). Tidak hanya berdiam di sana, melainkan Ia juga bertindak atau melakukan sesuatu di sana. Dalam ay 4 disebutkan tindakan kepahlawanan Allah: penghancuran alat perang. Berkat tindakan heroik itu, Allah menjadi mulia dan cemerlang (ay 5). Di hadapan Allah yang maha perkasa itu, kekuatan manusia tidak ada artinya lagi (ay 6). Tidak hanya itu. Pasukan berkuda juga menjadi tidak berdaya (ay 7). Sekilas kedua ayat ini mengingatkan kita akan peristiwa yang terjadi dalam penyeberangan laut Teberau itu, ketika pasukan panah dan pasukan kuda Mesir yang mengejar Israel sampai ke tepi Laut, tiba-tiba ketakutan ketika mereka sadar bahwa Tuhan berperang di pihak Israel melawan mereka. Boleh jadi pemazmur memang terkenang akan tindakan Allah dalam peristiwa sejarah di masa silam itu, dan tetap yakin bahwa Allah seperti itu masih akan bertindak juga sekarang dan di sini.
Lalu muncul ungkapan kesadaran akan kedahsyatan dan kemahakuasaan Allah (ay 8). Di hadapan Allah, apalagi yang sedang murka, tidak ada manusia yang dapat bertahan. Bumi sekalipun bahkan menjadi takut dan tertegun saat mendengar keputusan Allah yang diwartakan dari langit (ay 9), saat Allah bangkit melakukan penghakiman dan penghukuman atas bumi (ay 10). Di akhir ay 10 kita temukan sebuah unsur baru yaitu, tindakan Allah itu dimaksudkan untuk menyelamatkan semua orang yang tertindas di bumi ini. Ini sangat menarik, karena tindakan dan perbuatan Allah diberi ciri penyelamatan (konstruktif), tidak hanya ciri penghancuran (destruktif) belaka. Dari untaian ayat-ayat ini, kiranya ay 11-lah yang paling susah dipahami. Di sini memang muncul sebuah paradox antara apa yang terjadi dalam hati manusia, dan bagaimana Allah mensikapi hal tersebut. Paradox itu ada pada kedua bagian dari ay 11 tersebut, hanya saya merasa sukar dijelaskan. Ini menjadi ayat misteri Mazmur ini. Saya cenderung membiarkannya tetap menjadi misteri saja. Mungkin karena itu adalah bagian utuh dari tindakan dan karya Allah yang jauh melampaui daya tangkap pemahaman manusia.
Akhirnya, kita sampai pada Bgn II mazmur ini. Di sini ada seruan atau ajakan bahkan perintah untuk melunasi nazar. Nazar adalah sumpah atau janji bersyarat kepada Tuhan ketika seseorang melakukan permohonan kepada Tuhan, yang harus ditepati jika permohonan itu sudah terjadi atau dikabulkan. Tuhan yang bertindak dalam sejarah, harus dipuji dan dimuliakan. Dalam konteks ini Ia dimuliakan dengan pujian dan persembahan yang dikaitkan dengan nazar (ay 12). Sekali lagi, semuanya ini dilakukan karena Allah melakukan karya-karya agung dan ajaib dalam sejarah bagi umat manusia. Ia menjadi sumber ketakutan dan kegentaran bagi orang-orang yang berkuasa dan kuat, yang biasanya karena kekuasaan dan kekuatannya menjadi sombong dan angkuh. Tetapi di hadapan Tuhan, semuanya itu menjadi tidak berarti apa-apa lagi, karena Allah adalah Hakim segala bangsa.
Bandung, 14 September 2010
Pesta Stigmata St.Fransiskus Asisi dan Pesta Salib Suci
Wednesday, August 18, 2010
MENDALAMI DAN MENIKMATI MAZMUR 75
Oleh: Fransiskus Borgias M
Lay Theologian, dan Peneliti GESER INSTITUTE DAN CCRS
Center for Cultural and Religious Studies
Fakultas Filsafat UNPAR Bandung
Judul mazmur ini dengan jelas memperlihatkan apa isinya: Allah, Hakim yang adil. Pasti mazmur ini terkait dengan mazmur terdahulu: Di sana pemazmur meminta agar Allah segera bertindak. Rupanya Allah bertindak sehingga ia mempunyai pengalaman akan Allah sebagai hakim yang adil sebagaimana ia tuangkan dalam mazmur ini. Untuk memudahkan pemahaman, kita membagi mazmur ini menjadi tiga bagian: ay 1-6, ay 7-9, ay 10-11. Saya coba mengulas ketiga bagian ini satu per satu di bawah ini.
Ungkapan syukur dan pujian dalam ay 2 ini menandakan dan mengandaikan bahwa pemazmur sudah mempunyai pengalaman iman akan Allah, yang melakukan perbuatan-perbuatan ajaib. perbuatan ajaib itu antara lain terkait dengan apa yang kita baca dalam Mazmur 74. Pemazmur seakan mengutip perkataan Allah yang menegaskan bahwa Allah bertindak menurut irama dan ketetapanNya sendiri. Ia bertindak dan menghakimi tepat pada waktunya dengan tindakan kebenaran (ay 3). Yang menarik ialah bahwa dalam tindakan penghakiman Allah itu terjadi kehancuran kosmis dan antropologis secara dahsyat, tetapi tetap tinggal hal-hal paling mendasar sebagai syarat kelangsungan hidup: “…tetapi Akulah yang mengokohkan tiang-tiangnya.” (ay 4). Atas dasar pengalaman dan pengamatan itu, pemazmur segera mengingatkan para penindas dan orang yang sombong agar mereka tidak lagi berlaku kejam, dan tidak lagi dengan lancang memperlihatkan kesombongan. Kesombongan dalam alam pikiran Ibrani dilambangkan dengan tanduk, terutama tanduk yang diangkat tinggi-tinggi seakan sedang dibanggakan dan dipamerkan kepada orang lain, kepada lawan. Kira-kira seperti tanduk sapi atau rusa jantan yang dengan gagah perkasa diperlihatkan kepada lawan jenis maupun pejantan saingan (ay 5). Pemazmur berharap agar orang tidak lagi bersikap seperti itu (ay 6a). Ia juga mengingatkan agar jika orang berbicara, hendaklah orang berbicara dengan nada tenang dan rendah hati, tidak usah berbicara terlalu keras, sampai bertegang leher (ay 6b).
Mengapa pemazmur meminta sikap yang tahu diri seperti itu? Karena ia tahu bahwa Hakim atas alam semesta ini (termasuk manusia di dalamnya) bukan siapa-siapa, entah itu dari Timur maupun dari Barat, melainkan Allah sendiri. Allah-lah yang akan melakukan peninggian itu (ay 7). Allah yang memutuskan siapa yang akan ditinggikan, siapa yang akan direndahkan (ay 8). Orang sombong pasti akan diturunkan (seperti Kidung Maria). Dalam ay 9 kita membaca sebuah simbol baru: piala. Pemazmur melihat Tuhan memegang piala. Piala dalam alam pikiran Yahudi purba menandakan pengadilan Tuhan yang segera datang. Isi piala itupun aneh: anggur berbuih, penuh campuran bumbu. Tuhan menuangkan isi piala itu, artinya mulai melakukan tindakan pengadilan dan penghakiman itu, ke atas seluruh muka bumi. Tindakan itu menimpa semua orang fasik di atas bumi.
Menyaksikan semuanya itu pemazmur (yang diandaikan selama ini takut dan terancam oleh sekadar kehadiran dan terutama tindakan orang fasik di sekeliling mereka) pun bersorak-sorai. Hal itu tidak hanya berlangsung sebentar saja, melainkan berlangsung selama-lamanya. Ia mau mengidungkan mazmur, yaitu kidung pujian bagi dan di hadapan Allah, hakim yang menyelamatkan, yang tahu bertindak tepat pada waktunya (ay 10). Kemampuan bersorak dan bersyukur adalah tanda kehidupan, tanda sukacita. Itulah yang menjadi inti pengalaman hidup pemazmur. Nasib dan situasi kebalikan dari itulah yang dialami para lawannya yaitu orang fasik. Jika selama ini orang fasik mengangkat tanduk mereka tinggi-tinggi, sekarang tanduk-tanduk orang fasik itu dihancurkan Allah. Sedangkan tanduk-tanduk orang benar ditinggikan oleh Allah sendiri.
Bandung, 18 Agustus 2010
Sis BM,
GESER INSTITUTE FF-UNPAR BANDUNG
Lay Theologian, dan Peneliti GESER INSTITUTE DAN CCRS
Center for Cultural and Religious Studies
Fakultas Filsafat UNPAR Bandung
Judul mazmur ini dengan jelas memperlihatkan apa isinya: Allah, Hakim yang adil. Pasti mazmur ini terkait dengan mazmur terdahulu: Di sana pemazmur meminta agar Allah segera bertindak. Rupanya Allah bertindak sehingga ia mempunyai pengalaman akan Allah sebagai hakim yang adil sebagaimana ia tuangkan dalam mazmur ini. Untuk memudahkan pemahaman, kita membagi mazmur ini menjadi tiga bagian: ay 1-6, ay 7-9, ay 10-11. Saya coba mengulas ketiga bagian ini satu per satu di bawah ini.
Ungkapan syukur dan pujian dalam ay 2 ini menandakan dan mengandaikan bahwa pemazmur sudah mempunyai pengalaman iman akan Allah, yang melakukan perbuatan-perbuatan ajaib. perbuatan ajaib itu antara lain terkait dengan apa yang kita baca dalam Mazmur 74. Pemazmur seakan mengutip perkataan Allah yang menegaskan bahwa Allah bertindak menurut irama dan ketetapanNya sendiri. Ia bertindak dan menghakimi tepat pada waktunya dengan tindakan kebenaran (ay 3). Yang menarik ialah bahwa dalam tindakan penghakiman Allah itu terjadi kehancuran kosmis dan antropologis secara dahsyat, tetapi tetap tinggal hal-hal paling mendasar sebagai syarat kelangsungan hidup: “…tetapi Akulah yang mengokohkan tiang-tiangnya.” (ay 4). Atas dasar pengalaman dan pengamatan itu, pemazmur segera mengingatkan para penindas dan orang yang sombong agar mereka tidak lagi berlaku kejam, dan tidak lagi dengan lancang memperlihatkan kesombongan. Kesombongan dalam alam pikiran Ibrani dilambangkan dengan tanduk, terutama tanduk yang diangkat tinggi-tinggi seakan sedang dibanggakan dan dipamerkan kepada orang lain, kepada lawan. Kira-kira seperti tanduk sapi atau rusa jantan yang dengan gagah perkasa diperlihatkan kepada lawan jenis maupun pejantan saingan (ay 5). Pemazmur berharap agar orang tidak lagi bersikap seperti itu (ay 6a). Ia juga mengingatkan agar jika orang berbicara, hendaklah orang berbicara dengan nada tenang dan rendah hati, tidak usah berbicara terlalu keras, sampai bertegang leher (ay 6b).
Mengapa pemazmur meminta sikap yang tahu diri seperti itu? Karena ia tahu bahwa Hakim atas alam semesta ini (termasuk manusia di dalamnya) bukan siapa-siapa, entah itu dari Timur maupun dari Barat, melainkan Allah sendiri. Allah-lah yang akan melakukan peninggian itu (ay 7). Allah yang memutuskan siapa yang akan ditinggikan, siapa yang akan direndahkan (ay 8). Orang sombong pasti akan diturunkan (seperti Kidung Maria). Dalam ay 9 kita membaca sebuah simbol baru: piala. Pemazmur melihat Tuhan memegang piala. Piala dalam alam pikiran Yahudi purba menandakan pengadilan Tuhan yang segera datang. Isi piala itupun aneh: anggur berbuih, penuh campuran bumbu. Tuhan menuangkan isi piala itu, artinya mulai melakukan tindakan pengadilan dan penghakiman itu, ke atas seluruh muka bumi. Tindakan itu menimpa semua orang fasik di atas bumi.
Menyaksikan semuanya itu pemazmur (yang diandaikan selama ini takut dan terancam oleh sekadar kehadiran dan terutama tindakan orang fasik di sekeliling mereka) pun bersorak-sorai. Hal itu tidak hanya berlangsung sebentar saja, melainkan berlangsung selama-lamanya. Ia mau mengidungkan mazmur, yaitu kidung pujian bagi dan di hadapan Allah, hakim yang menyelamatkan, yang tahu bertindak tepat pada waktunya (ay 10). Kemampuan bersorak dan bersyukur adalah tanda kehidupan, tanda sukacita. Itulah yang menjadi inti pengalaman hidup pemazmur. Nasib dan situasi kebalikan dari itulah yang dialami para lawannya yaitu orang fasik. Jika selama ini orang fasik mengangkat tanduk mereka tinggi-tinggi, sekarang tanduk-tanduk orang fasik itu dihancurkan Allah. Sedangkan tanduk-tanduk orang benar ditinggikan oleh Allah sendiri.
Bandung, 18 Agustus 2010
Sis BM,
GESER INSTITUTE FF-UNPAR BANDUNG
MENDALAMI DAN MENIKMATI MAZMUR 74
Oleh: Fransiskus Borgias M
Lay Theologian dan Peneliti GESER INSTITUTE dan CCRS
Center for Cultural and Religious Studies
Fakultas Filsafat Unpar Bandung
Judul mazmur ini menarik: Nyanyian ratapan karena Bait Suci yang rusak. Mazmur ini cukup panjang: 23 ayat. Untuk mendalami dan menikmatinya kita harus membaginya dalam tiga bagian: ay 1-11, ay 12-17, ay 18-23.
Mazmur ini, dalam ay 1 mulai dengan pertanyaan retoris kepada Allah: Mengapa Allah, sang Gembala, meninggalkan kawananNya? Pemazmur meminta agar Allah sudi mengingat kembali umat pilihanNya (ay 2), juga meminta Allah datang mengunjungi tempat kudus yang kini rusak atau dirusakkan para lawan (ay 3). Tempat pertemuan Tuhan dinodai tentara penakluk (ay 4) dan kehadiran mereka mengancam segala sesuatu di gunung Sion (ay 5), keindahan tempat suci (dilambangkan dengan ukiran) dihancurkan (ay 6). Tempat suci Allah dinajiskan dan dibakar (ay 7). Tentara penakluk memperlihatkan kesombongan mereka (ay 8) sehingga semuanya binasa, sampai-sampai tanda kekhasan Israel tidak kelihatan lagi: para nabi tidak ada, juru ramal tidak ada lagi (ay 9). Yang mengerikan lagi, tidak ada yang tahu sampai kapan keadaan ini berlangsung. Dalam situasi kekacauan dan kebingungan itu, mereka hanya bisa berpaling kepada Allah dan mengajukan beberapa pertanyaan retoris kepadaNya, yang mengandung nada “protes” terhadap sikap “diam” Allah: Berapa lama lagi, ya Allah, lawan itu mencela, dan musuh menista nama-Mu terus-menerus? (ay 10). Ay 11 melanjutkan pertanyaan retoris yang mempersoalkan sikap “diam” Allah, Allah yang seakan menarik diri dan tidak mau campur tangan dalam perkara dan perjuangan hidup umatNya (ay 11).
Untaian Mazmur ini dilanjutkan dalam bagian dua. Setelah bagian satu tadi, yang dibingkai dengan pertanyaan reflektif, bagian kedua langsung dimulai dengan pengakuan iman. Dalam seluruh pengalaman negatif-politis-historis ini, pemazmur tidak kehilangan imannya sama sekali. Ia tetap percaya dan berpegang teguh pada imannya akan Allah. Ia tetap percaya, kendati pengalaman negatif-iman saat ini, bahwa Allah adalah penyelamat (ay 12). Kepercayaan teguh itu dilandaskan pada pengalaman historis-kolektif Israel. Disinggung di sini secara sangat singkat sejarah exodus dari Mesir (ay.13), juga kisah penciptaan purba (ay 14), di mana lewiatan adalah simbol kekuatan purba yang ditaklukkan Allah ketika menetapkan keteraturan (kosmos) dari dalam chaos yang ada. Juga di singgung di sini mengenai tindakan Allah dalam perjalanan Israel menuju tanah terjanji (peristiwa Yordan, ay 15). Lalu kembali lagi dalam ay 16-17, pemazmur menyinggung mengenai peran kosmis Allah dalam seluruh penciptaan alam semesta.
Setelah menyinggung dan mengingat peranan Allah dalam sejarah dan tata penciptaan, akhirnya dalam bagian tiga, pemazmur kembali mengingat akan nasibnya sekarang dan di sini dan sekaligus melambungkan doa permohonan. Ia mengingatkan TUHAN, bahwa namaNya yang kudus dicela dan dinistakan oleh bangsa yang bebal (ay 18). Dalam ay 19 kita temukan sebuah penyebutan diri umat sebagai merpati-Mu: pemazmur meminta agar Allah jangan menyerahkan merpati-Nya kepada binatang buas. Ia meminta agar Tuhan segera ingat akan nyawa umatNya yang tertindas. Pemazmur juga mengingatkan Tuhan akan relasi perjanjian, dan meminta Tuhan segera bertindak agar kekerasan jangan sampai merusak relasi itu di bumi ini (ay 20). Ia berharap agar dengan tindakan dan campur tangan Allah, orang yang selama ini menderita sengsara bisa bertahan hidup dan akhirnya memuji dan memuliakan Allah (ay 21). Dalam ay 22 pemazmur meminta agar Allah tidak tinggal diam, melainkan mulai bertindak melawan celaan para lawan, sebab jika semuanya ini didiamkan maka suara mereka akan semakin keras (ay 23). Jangan sampai suara mereka yang keras itu mematikan semangat dan daya hidup orang yang berjuang setia dalam iman, harap, dan kasih akan Allah.
Bandung, 18 Agustus 2010
Sis BM.
GESER INSTITUTE FF UNPAR BANDUNG
Lay Theologian dan Peneliti GESER INSTITUTE dan CCRS
Center for Cultural and Religious Studies
Fakultas Filsafat Unpar Bandung
Judul mazmur ini menarik: Nyanyian ratapan karena Bait Suci yang rusak. Mazmur ini cukup panjang: 23 ayat. Untuk mendalami dan menikmatinya kita harus membaginya dalam tiga bagian: ay 1-11, ay 12-17, ay 18-23.
Mazmur ini, dalam ay 1 mulai dengan pertanyaan retoris kepada Allah: Mengapa Allah, sang Gembala, meninggalkan kawananNya? Pemazmur meminta agar Allah sudi mengingat kembali umat pilihanNya (ay 2), juga meminta Allah datang mengunjungi tempat kudus yang kini rusak atau dirusakkan para lawan (ay 3). Tempat pertemuan Tuhan dinodai tentara penakluk (ay 4) dan kehadiran mereka mengancam segala sesuatu di gunung Sion (ay 5), keindahan tempat suci (dilambangkan dengan ukiran) dihancurkan (ay 6). Tempat suci Allah dinajiskan dan dibakar (ay 7). Tentara penakluk memperlihatkan kesombongan mereka (ay 8) sehingga semuanya binasa, sampai-sampai tanda kekhasan Israel tidak kelihatan lagi: para nabi tidak ada, juru ramal tidak ada lagi (ay 9). Yang mengerikan lagi, tidak ada yang tahu sampai kapan keadaan ini berlangsung. Dalam situasi kekacauan dan kebingungan itu, mereka hanya bisa berpaling kepada Allah dan mengajukan beberapa pertanyaan retoris kepadaNya, yang mengandung nada “protes” terhadap sikap “diam” Allah: Berapa lama lagi, ya Allah, lawan itu mencela, dan musuh menista nama-Mu terus-menerus? (ay 10). Ay 11 melanjutkan pertanyaan retoris yang mempersoalkan sikap “diam” Allah, Allah yang seakan menarik diri dan tidak mau campur tangan dalam perkara dan perjuangan hidup umatNya (ay 11).
Untaian Mazmur ini dilanjutkan dalam bagian dua. Setelah bagian satu tadi, yang dibingkai dengan pertanyaan reflektif, bagian kedua langsung dimulai dengan pengakuan iman. Dalam seluruh pengalaman negatif-politis-historis ini, pemazmur tidak kehilangan imannya sama sekali. Ia tetap percaya dan berpegang teguh pada imannya akan Allah. Ia tetap percaya, kendati pengalaman negatif-iman saat ini, bahwa Allah adalah penyelamat (ay 12). Kepercayaan teguh itu dilandaskan pada pengalaman historis-kolektif Israel. Disinggung di sini secara sangat singkat sejarah exodus dari Mesir (ay.13), juga kisah penciptaan purba (ay 14), di mana lewiatan adalah simbol kekuatan purba yang ditaklukkan Allah ketika menetapkan keteraturan (kosmos) dari dalam chaos yang ada. Juga di singgung di sini mengenai tindakan Allah dalam perjalanan Israel menuju tanah terjanji (peristiwa Yordan, ay 15). Lalu kembali lagi dalam ay 16-17, pemazmur menyinggung mengenai peran kosmis Allah dalam seluruh penciptaan alam semesta.
Setelah menyinggung dan mengingat peranan Allah dalam sejarah dan tata penciptaan, akhirnya dalam bagian tiga, pemazmur kembali mengingat akan nasibnya sekarang dan di sini dan sekaligus melambungkan doa permohonan. Ia mengingatkan TUHAN, bahwa namaNya yang kudus dicela dan dinistakan oleh bangsa yang bebal (ay 18). Dalam ay 19 kita temukan sebuah penyebutan diri umat sebagai merpati-Mu: pemazmur meminta agar Allah jangan menyerahkan merpati-Nya kepada binatang buas. Ia meminta agar Tuhan segera ingat akan nyawa umatNya yang tertindas. Pemazmur juga mengingatkan Tuhan akan relasi perjanjian, dan meminta Tuhan segera bertindak agar kekerasan jangan sampai merusak relasi itu di bumi ini (ay 20). Ia berharap agar dengan tindakan dan campur tangan Allah, orang yang selama ini menderita sengsara bisa bertahan hidup dan akhirnya memuji dan memuliakan Allah (ay 21). Dalam ay 22 pemazmur meminta agar Allah tidak tinggal diam, melainkan mulai bertindak melawan celaan para lawan, sebab jika semuanya ini didiamkan maka suara mereka akan semakin keras (ay 23). Jangan sampai suara mereka yang keras itu mematikan semangat dan daya hidup orang yang berjuang setia dalam iman, harap, dan kasih akan Allah.
Bandung, 18 Agustus 2010
Sis BM.
GESER INSTITUTE FF UNPAR BANDUNG
Subscribe to:
Posts (Atom)
PEDENG JEREK WAE SUSU
Oleh: Fransiskus Borgias Dosen dan Peneliti Senior pada FF-UNPAR Bandung. Menyongsong Mentari Dengan Tari Puncak perayaan penti adala...
-
Oleh: Fransiskus Borgias M., (EFBE@fransisbm) Mazmur ini termasuk cukup panjang, yaitu terdiri atas 22 ayat, mengikuti 22 abjad Ib...
-
Oleh: Fransiskus Borgias M. Judul Mazmur ini dalam Alkitab ialah Doa mohon Israel dipulihkan. Judul itu mengandaikan bahwa keadaan Israe...
-
Oleh: Fransiskus Borgias M. Sebagai manusia yang beriman (percaya), kiranya kita semua sungguh-sungguh yakin dan percaya bahwa Tuhan itu...