Oleh: Fransiskus Borgias M.
Lay Theologian dan Peneliti CCRS dan GESER INSTITUTE
Center for Cultural and Religious Studies, FF-UNPAR Bandung
Tanggal 15 Agustus juga merupakan salah satu tanggal yang sangat istimewa dalam lingkaran tahun liturgis gereja Katolik, karena pada tanggal itu ada Hari Raya SP Maria Diangkat ke surga dengan jiwa dan badan. Pesta ini didasarkan pada sebuah ketetapan dogmatis gereja pada abad keduapuluh ini, sesudah perang dunia II terjadi dan mencabik-cabik Eropa khususnya dan dunia pada umumnya. Dogma itu sendiri dilandaskan pada satu keyakinan tradisional gereja yang sudah sangat tua usianya. Bahkan dalam konteks Gereja Yunani Ortodoks, keyakinan ini sudah lama menjadi keyakinan iman dogmatis yang sangat lama dihayati dengan penuh iman dan pengharapan. Kita tidak akan bisa menemukan dasar keyakinan ini secara biblis sebab keyakinan itu muncul dalam sejarah dan tradisi gereja yang juga kita yakini diilhami dan dituntun (dibimbing) oleh Roh Kudus sendiri.
Prefasi pada hari ini juga sangat indah dan mendalam. Seperti biasa ia dimulai dengan menyapa Bapa, Allah yang mahakuasa dan kekal. Jelas itu adalah sebuah ungkapan keyakinan iman yang seperti terkandung dalam Credo kita yang kita ucapkan setiap hari Minggu dan hari raya lainnya. Atas dasar keyakinan itu kita pun menyatakan atau mengungkapkan pengakuan kita akan kesadaran bahwa kita selalu dan di mana-mana memuji dan memuliakan Allah Bapa. Hal itu kita lakukan dengan pengantaraan Yesus Kristus Tuhan kita. Memang doa pujian dan permohonan kita kepada Bapa selalu bercorak Kristologis.
Selanjutnya diberikan dan diuraikan alasan bagi pujian itu. Tentu di samping pujian itu adalah kewajiban fundamental dan eksistensial, pada hari ini ada sebuah alasan khusus, yaitu karena SP Maria Bunda Allah diangkat ke surga dengan jiwa dan badan. Begitulah ketetapan dalam rumusan dogmanya. Peristiwa pengangkatan itu mempunyai dua tujuan penting. Pertama, pengangkatan itu dimaksudkan untuk menjadi awal atau permulaan dan pola dari Gereja dalam kesempurnaannya. Memang Maria adalah typos gereja (sebuah istilah klasik dari teologi Mariologi para Bapa Gereja) dalam hal iman dan kesempurnaan hidup yang sepenuhnya terarah kepada Allah semata-mata dengan mengikuti model iman Maria sendiri: Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanMu. Ecce serva Dei, fiat mihi secundum verbum tuum.
Kedua, pengangkatan itu juga menjadi satu tanda pengharapan dan penghiburan bagi umat Allah dalam perjalanan ziarah mereka menuju ke surga. Gereja, dalam dan melalui Prefasi ini, memperlihatkan dan menegaskan keyakinan imannya bahwa Allah tidak sudi kehancuran karena maut menyentuh tubuhnya (Maria), karena tubuh itu adalah tubuh yang sangat mulia, karena tubuh itu sudah mengandung dan melahirkan sang Penebus, PuteraMu, Tuhan dan Penguasa segala sesuatu yang hidup. Dan hal itu terjadi di dalam kemuliaan peristiwa inkarnasi, sabda menjelma menjadi daging, sabda menjelma menjadi manusia, verbum caro factum est, dan membangun kemahnya di antara kita. Tradisi gereja yang kudus meyakini bahwa Maria tidak mati. Itu sebabnya dalam Kitab Suci tidak ada kisah tentang peristiwa wafat Santa Perawan Maria. Juga dalam tradisi suci selanjutnya, tidak ada kisah seperti itu. Jadi, keyakinan devosional marial itu sudah sangat tua usianya; boleh jadi sudah setua teks-teks Kitab Suci Perjanjian Baru itu sendiri. Jejak keyakinan itu antara lain dapat kita lihat jejaknya secara samar-samar dalam injil-injil, terutama dalam injil Lukas.
Keyakinan itu akhirnya mampu mendatangkan sukacita hidup yang besar bagi kita yang menghayatinya sekarang dan di sini; kita pun dalam sukacita kita, memadahkan kidung pujian kita untuk memuji dan memuliakan Allah, bersama dengan paduan suara para malaekat di surga. Dan kita pun bernyanyi dengan mengikuti seruan para malaekat di surga dalam liturgi abadi: Kudus, kudus, kuduslah Tuhan, Allah segala kuasa, Surga dan bumi penuh kemuliaanMu, terpujilah Engkau di surga, terberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, Terpujilah Engkau di surga. Sesudah itu kita hanyut dalam sujud peristiwa konsekrasi.
Bandung, 06 Agustus 2010 (pagi hari).
Diketik sambil dikembangkan dan diperluas, 06 Agustus 2010 (malam hari)
Fransiskus Borgias M.
Peneliti GESER INSTITUTE FF-UNPAR BANDUNG.
canticum solis adalah blogspot saya untuk pendalaman dan diskusi soal-soal filosofis, teologis, spiritualitas dan yang terkait. Kalau berkenan mohon menulis kesan atau komentar anda di bagian akhir dari artikel yang anda baca. Terima kasih... canticum solis is my blog in which I write the topics on philosophy, theology, spiritual life. If you don't mind, please give your comment or opinion at the end of any article you read. thanks a lot.....
Saturday, August 14, 2010
Sunday, August 1, 2010
PUISI-PUISI JULI 2010
AWAN-AWAN
(Fransiskus Borgias M)
awan-awan itu berarak
tapi kulihat terpantul di lubuk kali
kawan-kawan itu tampak bersorak
tapi kujlihat seperti ada yang mati
mungkin dari hati yang masih pagi
lalu enggan pergi karena ada pelangi
menyiratkan tabu bidadari
berjemur setelah mandi.
Lembang, 22 Juli 2010
BAYANG-BAYANG
(Fransiskus Borgias M)
bayang-bayang itu antara
ada dan tiada
tapi ia membawa berita kepada kita
entah apa, mungkin tentang kefanaan
tentang panta rei kai uden menei
lalu kita yang di sini pun menggigil
dalam sunyi, dalam sepi. Sendiri.
Lembang, 22 Juli 2010
KENANGAN
(Fransiskus Borgias M)
kenangan akan dikau
seperti menempel pada dinding-dinding ingatan
selalu hadir sekarang dan di sini
seperti sedang menyapa dan memanggil
benarkah itu dirimu?
atau hanya diri semu yang tercipta
pada dinding-dinding kalbu yang galau rindu
hanya Tuhan yang tahu kejujuran kita,
bahasa kalbu kita, kau dan aku
biarlah. Bukankah Tuhan itu kolam kasih abadi
Deus est caritas.
ubi caritas et amor, ibi Deus est.
aku pun merasakan damai tetirah
bagi hati yang terengah-engah damba
Lembang, 22 Juli 2010
SIS BM. CCRS UNPAR BANDUNG.
(Fransiskus Borgias M)
awan-awan itu berarak
tapi kulihat terpantul di lubuk kali
kawan-kawan itu tampak bersorak
tapi kujlihat seperti ada yang mati
mungkin dari hati yang masih pagi
lalu enggan pergi karena ada pelangi
menyiratkan tabu bidadari
berjemur setelah mandi.
Lembang, 22 Juli 2010
BAYANG-BAYANG
(Fransiskus Borgias M)
bayang-bayang itu antara
ada dan tiada
tapi ia membawa berita kepada kita
entah apa, mungkin tentang kefanaan
tentang panta rei kai uden menei
lalu kita yang di sini pun menggigil
dalam sunyi, dalam sepi. Sendiri.
Lembang, 22 Juli 2010
KENANGAN
(Fransiskus Borgias M)
kenangan akan dikau
seperti menempel pada dinding-dinding ingatan
selalu hadir sekarang dan di sini
seperti sedang menyapa dan memanggil
benarkah itu dirimu?
atau hanya diri semu yang tercipta
pada dinding-dinding kalbu yang galau rindu
hanya Tuhan yang tahu kejujuran kita,
bahasa kalbu kita, kau dan aku
biarlah. Bukankah Tuhan itu kolam kasih abadi
Deus est caritas.
ubi caritas et amor, ibi Deus est.
aku pun merasakan damai tetirah
bagi hati yang terengah-engah damba
Lembang, 22 Juli 2010
SIS BM. CCRS UNPAR BANDUNG.
Sunday, July 18, 2010
MENDALAMI DAN MENIKMATI MAZMUR 73
OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
LAY THEOLOGIAN dan PENELITI GESER INSTITUTE dan CCRS
CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
Judul mazmur ini sangat menarik: Pergumulan dan pengharapan. Mazmur ini cukup panjang: 28 ayat. Untuk mendalami dan menikmatinya dengan baik kita harus membaginya ke dalam beberapa bagian. Mazmur ini dapat dibagi menjadi dua bagian: Ayat 1-20 dan ayat 21-28.
Dalam ay.1 ia mulai dengan keyakinan bahwa Allah baik bagi orang yang berhati tulus dan bersih. Itulah keyakinan umum yang selama ini menjadi prinsip dan pedoman hidupnya. Tetapi, ada tetapinya. Ternyata tidak mudah hidup sebagai orang yang berhati tulus dan jujur karena ada banyak godaan yang datang dari luar, yang juga menggerogoti dari dalam hati orang itu sendiri. Itulah yang ia lukiskan mulai dari ay.2dst. Dengan jujur pemazmur mengakui bahwa hidupnya hampir terjatuh dalam batu sandungan iman (ay.2). Alasannya diungkapkan dalam ay.3-9 dalam kata kunci sebab atau karena. Ia tersandung karena pengalaman hidup kontras orang fasik; ia cemburu berat: Mereka fasik tetapi sehat, gemuk, tidak susah (ay.3-5). Bahkan mereka sombong dalam kefasikan mereka, berperilaku keras dan kasar. Kesalahan mereka mencolok tetapi tidak apa-apa. Mereka berani memperbincangkan kejahatan mereka sebagai wacana biasa saja di ruang publik (ay.7-8). Tidak ada lagi yang mereka takuti dan segani, tidak langit, apalagi bumi (ay.9). Lebih celaka lagi, dan ini yang amat mengganggu pemazmur, ternyata cara hidup dan perilaku mereka itu justru menjadi anutan yang diikuti, ditiru banyak orang (ay.10). Ramai-ramai berbuat mesum, korupsi, ramai berlaku kasar terhadap kelompok lain. Toh tidak apa-apa. Sebab mereka tidak takut lagi akan Allah. Allah tidak peduli, Allah tidak tahu apa-apa, Allah tidak mau tahu juga (ay.11). Di sini tersirat paham deisme (meyakini Allah ada, tetapi tidak berbuat apa-apa atas ciptaan). Pemazmur sadar bahwa itulah cara hidup orang fasik (ay.12). Akibatnya cukup ngeri: pemazmur merasa betapa sia-sianya ia coba mempertahankan hidup dengan hati bersih. Itu wajar: Lha wong, orang jahat kok hidupnya makmur. Pasti orang saleh beriman akan tersandung juga lama-lama.
Untunglah fajar pengharapan iman tidak mati terlindas dalam pergumulan teologis-sosial itu. Perlahan-lahan muncul daya kekuatan kritis penolakan dalam hati pemazmur. Samar-samar hal itu mulai muncul dalam ay.14-15. Pemazmur merasa, bahwa paling enak dan gampang memang mengikuti jalan hidup orang fasik. Tetapi ternyata hal itu membuat ia menderita, serasa seperti terkena tulah. Dan yang terpenting ia merasa mengkhianati generasi yang akan datang, karena memberi contoh teladan hidup buruk. Memang tidak mudah keluar dari kemelut pergulatan teologis ini (ay.16), tetapi dengan cara hidup tekun di hadapan hadirat Allah, hal itu pasti bisa teratasi (ay.17). Dari dalam ketenangan dan keheningan rumah Allah, pemazmur dapat melihat dengan mudah kesudahan nasib mereka (ay.18-20).
Sekarang ia mulai merasa bahwa ia melihat sesuatu. Selama ini memang amat menyakitkan jika melihat orang fasik. Ia merasa sakit secara jasmani (ay.21). Tetapi itu karena ia tidak begitu paham duduk perkaranya (ay.22). Ia merasa selamat karena tetap setia berpegang teguh pada Allah (ay.23-24). Tidak ada yang lain yang ia andalkan dalam hidup ini selain Allah (ay.25-26). Ia sangat yakin bahwa orang yang hidup jauh dari Allah pasti binasa, cepat atau lambat. Kebusukan orang fasik, cepat atau lambat akan terbuka (ay.27). Koruptur memang hidupnya serba enak, kaya, duit banyak, bisa jalan-jalan keluar negeri. Tetapi begitu korupsinya terbuka, ia berakhir di penjara atau serangan jantung. Itulah yang terjadi saat ini di negeri kita. Maka janganlah mengandalkan hidup pada perilaku kotor, tetapi andalkanlah Allah semata-mata dalam hidup ini (ay.28): Tetapi aku, aku suka dekat pada Allah; aku menaruh tempat perlindunganku pada Tuhan ALLAH, supaya dapat menceritakan segala pekerjaan-Nya.
BANDUNG, 19 JULI 2010
SIS BM, GESER INSTITUTE FF-UNPAR BANDUNG
LAY THEOLOGIAN dan PENELITI GESER INSTITUTE dan CCRS
CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
Judul mazmur ini sangat menarik: Pergumulan dan pengharapan. Mazmur ini cukup panjang: 28 ayat. Untuk mendalami dan menikmatinya dengan baik kita harus membaginya ke dalam beberapa bagian. Mazmur ini dapat dibagi menjadi dua bagian: Ayat 1-20 dan ayat 21-28.
Dalam ay.1 ia mulai dengan keyakinan bahwa Allah baik bagi orang yang berhati tulus dan bersih. Itulah keyakinan umum yang selama ini menjadi prinsip dan pedoman hidupnya. Tetapi, ada tetapinya. Ternyata tidak mudah hidup sebagai orang yang berhati tulus dan jujur karena ada banyak godaan yang datang dari luar, yang juga menggerogoti dari dalam hati orang itu sendiri. Itulah yang ia lukiskan mulai dari ay.2dst. Dengan jujur pemazmur mengakui bahwa hidupnya hampir terjatuh dalam batu sandungan iman (ay.2). Alasannya diungkapkan dalam ay.3-9 dalam kata kunci sebab atau karena. Ia tersandung karena pengalaman hidup kontras orang fasik; ia cemburu berat: Mereka fasik tetapi sehat, gemuk, tidak susah (ay.3-5). Bahkan mereka sombong dalam kefasikan mereka, berperilaku keras dan kasar. Kesalahan mereka mencolok tetapi tidak apa-apa. Mereka berani memperbincangkan kejahatan mereka sebagai wacana biasa saja di ruang publik (ay.7-8). Tidak ada lagi yang mereka takuti dan segani, tidak langit, apalagi bumi (ay.9). Lebih celaka lagi, dan ini yang amat mengganggu pemazmur, ternyata cara hidup dan perilaku mereka itu justru menjadi anutan yang diikuti, ditiru banyak orang (ay.10). Ramai-ramai berbuat mesum, korupsi, ramai berlaku kasar terhadap kelompok lain. Toh tidak apa-apa. Sebab mereka tidak takut lagi akan Allah. Allah tidak peduli, Allah tidak tahu apa-apa, Allah tidak mau tahu juga (ay.11). Di sini tersirat paham deisme (meyakini Allah ada, tetapi tidak berbuat apa-apa atas ciptaan). Pemazmur sadar bahwa itulah cara hidup orang fasik (ay.12). Akibatnya cukup ngeri: pemazmur merasa betapa sia-sianya ia coba mempertahankan hidup dengan hati bersih. Itu wajar: Lha wong, orang jahat kok hidupnya makmur. Pasti orang saleh beriman akan tersandung juga lama-lama.
Untunglah fajar pengharapan iman tidak mati terlindas dalam pergumulan teologis-sosial itu. Perlahan-lahan muncul daya kekuatan kritis penolakan dalam hati pemazmur. Samar-samar hal itu mulai muncul dalam ay.14-15. Pemazmur merasa, bahwa paling enak dan gampang memang mengikuti jalan hidup orang fasik. Tetapi ternyata hal itu membuat ia menderita, serasa seperti terkena tulah. Dan yang terpenting ia merasa mengkhianati generasi yang akan datang, karena memberi contoh teladan hidup buruk. Memang tidak mudah keluar dari kemelut pergulatan teologis ini (ay.16), tetapi dengan cara hidup tekun di hadapan hadirat Allah, hal itu pasti bisa teratasi (ay.17). Dari dalam ketenangan dan keheningan rumah Allah, pemazmur dapat melihat dengan mudah kesudahan nasib mereka (ay.18-20).
Sekarang ia mulai merasa bahwa ia melihat sesuatu. Selama ini memang amat menyakitkan jika melihat orang fasik. Ia merasa sakit secara jasmani (ay.21). Tetapi itu karena ia tidak begitu paham duduk perkaranya (ay.22). Ia merasa selamat karena tetap setia berpegang teguh pada Allah (ay.23-24). Tidak ada yang lain yang ia andalkan dalam hidup ini selain Allah (ay.25-26). Ia sangat yakin bahwa orang yang hidup jauh dari Allah pasti binasa, cepat atau lambat. Kebusukan orang fasik, cepat atau lambat akan terbuka (ay.27). Koruptur memang hidupnya serba enak, kaya, duit banyak, bisa jalan-jalan keluar negeri. Tetapi begitu korupsinya terbuka, ia berakhir di penjara atau serangan jantung. Itulah yang terjadi saat ini di negeri kita. Maka janganlah mengandalkan hidup pada perilaku kotor, tetapi andalkanlah Allah semata-mata dalam hidup ini (ay.28): Tetapi aku, aku suka dekat pada Allah; aku menaruh tempat perlindunganku pada Tuhan ALLAH, supaya dapat menceritakan segala pekerjaan-Nya.
BANDUNG, 19 JULI 2010
SIS BM, GESER INSTITUTE FF-UNPAR BANDUNG
MENDALAMI DAN MENIKMATI MAZMUR 72
OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
LAY THEOLOGIAN dan PENELITI GESER INSTITUTE DAN CCRS
CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
Mazmur ini indah; judulnya: “Doa Harapan untuk raja.” Mazmur ini cukup panjang: 20 ayat. Untuk memudahkan pemahaman dan penikmatannya, kita membaginya atas lima bagian: 1). Ayat 1-4; 2). Ayat 5-11; 3). Ayat 12-14. 4). Ayat 15-17; 5). Ayat 18-20. Kita akan menikmatinya berdasarkan lima bagian itu.
BGN I, dimulai dengan permohonan kepada Allah agar Allah sudi memberikan hukum dan cita-rasa keadilan kepada raja dan puteranya (ay 1). Ini penting karena dengan kedua hal itu raja, dan ini tujuan penganugerahan hukum dan keadilan itu, agar ia bisa memerintah dengan adil atas umat dan kaum tertindas dan miskin (ay 2.4). Pemerintahan yang benar dan adil mendatangkan kemakmuran ekonomis dan kosmis (ay.3).
BGN II, doa permohonan untuk raja dilanjutkan rinci di sini. Misalnya, agar raja mencapai usia panjang (ay 5), agar pemerintahannya bisa mendatangkan kesuburan dan kemakmuran (ay 6), agar pemerintahannya mendatangkan keadilan dan damai sejahtera untuk waktu yang tidak berkesudahan (ay 7). Masih ada rincian lain dari permohonan itu: agar rentang wilayah pemerintahan raja sangat luas (ay 8), agar musuhnya (termasuk suku nomaden di padang yang sering menjadi gangguan bagi kerajaan sedenter) tunduk menyembah di hadapannya (ay 9), dan akhirnya para raja di sekitar datang menyerahkan upeti tanda pengakuan dan penyembahan (ay 10-11). Boleh dikatakan bahwa dalam BGN II inilah seluruh inti permohonan mazmur ini disatukan dan dipadatkan.
Semua yang dimohonkan dalam BGN II tadi adalah penting sebagai dasar bagi raja untuk menegakkan keadilan dan kedamaian dalam kerajaannya. Jika wilayahnya luas, dan segala bangsa dan raja tunduk mengakui dia, raja akan mampu membebaskan orang miskin dan orang tertindas yang berteriak meminta tolong. Ia akan mampu menjadi the voice for the voiceless, seperti Uskup Agung Helder Camara dulu di El Salvador. Jika raja mempunyai kedudukan kuat, ia bisa menegakkan keadilan dan kasih setia bagi orang lemah dan miskin, dan menyelamatkan nyawa orang miskin. Jika raja kuat, ia mampu menumpas orang jahat yang menimbulkan kekerasan dan penindasan atas orang miskin. Dengan kata lain, kedudukan unggul raja menjadi prasyarat bagi keadilan dan kesejahteraan seluruh warga terutama yang miskin dan tertindas. Mengapa? Karena dalam pandangan raja, harkat hidup orang miskin dan tertindas sangat bernilai tinggi, tidak dapat disepelekan begitu saja. Mutu seorang raja baru terlihat dalam komitmennya yang nyata terhadap orang miskin, orang kecil dan tertindas. Itulah inti BGN III.
Sampailah kita pada BGN IV. Jika semuanya itu terjadi atau dapat dilaksanakan, maka raja akan dipuja-puja rakyatnya. Ia akan dicintai rakyatnya dan karena itu didoakan agar hidupnya sehat dan sejahtera (ay 15). Umat akan semakin intensif berdoa memohon kemakmuran ekonomis bagi kerajaan (ay 16), juga memohon agar harum dan semerbak namanya sebagai raja (ay 17).
BGN V. Tetapi perlu disadari terus menerus bahwa raja itu tetaplah hamba dan abdi Allah sehingga segala puji tetap ditujukan kepada Allah yang melakukan keajaiban dan melaksanakan pemerintahan yang adil lewat rajanya (ay 18-20). Jadi, pemerintahan raja yang baik dan benar menjadi pujian bagi Allah yang mengutus dan menegakkan hambaNya itu di bumi ini.
BANDUNG, 18 JULI 2010
SIS BM, GESER INSTITUE FF-UNPAR BANDUNG
LAY THEOLOGIAN dan PENELITI GESER INSTITUTE DAN CCRS
CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
Mazmur ini indah; judulnya: “Doa Harapan untuk raja.” Mazmur ini cukup panjang: 20 ayat. Untuk memudahkan pemahaman dan penikmatannya, kita membaginya atas lima bagian: 1). Ayat 1-4; 2). Ayat 5-11; 3). Ayat 12-14. 4). Ayat 15-17; 5). Ayat 18-20. Kita akan menikmatinya berdasarkan lima bagian itu.
BGN I, dimulai dengan permohonan kepada Allah agar Allah sudi memberikan hukum dan cita-rasa keadilan kepada raja dan puteranya (ay 1). Ini penting karena dengan kedua hal itu raja, dan ini tujuan penganugerahan hukum dan keadilan itu, agar ia bisa memerintah dengan adil atas umat dan kaum tertindas dan miskin (ay 2.4). Pemerintahan yang benar dan adil mendatangkan kemakmuran ekonomis dan kosmis (ay.3).
BGN II, doa permohonan untuk raja dilanjutkan rinci di sini. Misalnya, agar raja mencapai usia panjang (ay 5), agar pemerintahannya bisa mendatangkan kesuburan dan kemakmuran (ay 6), agar pemerintahannya mendatangkan keadilan dan damai sejahtera untuk waktu yang tidak berkesudahan (ay 7). Masih ada rincian lain dari permohonan itu: agar rentang wilayah pemerintahan raja sangat luas (ay 8), agar musuhnya (termasuk suku nomaden di padang yang sering menjadi gangguan bagi kerajaan sedenter) tunduk menyembah di hadapannya (ay 9), dan akhirnya para raja di sekitar datang menyerahkan upeti tanda pengakuan dan penyembahan (ay 10-11). Boleh dikatakan bahwa dalam BGN II inilah seluruh inti permohonan mazmur ini disatukan dan dipadatkan.
Semua yang dimohonkan dalam BGN II tadi adalah penting sebagai dasar bagi raja untuk menegakkan keadilan dan kedamaian dalam kerajaannya. Jika wilayahnya luas, dan segala bangsa dan raja tunduk mengakui dia, raja akan mampu membebaskan orang miskin dan orang tertindas yang berteriak meminta tolong. Ia akan mampu menjadi the voice for the voiceless, seperti Uskup Agung Helder Camara dulu di El Salvador. Jika raja mempunyai kedudukan kuat, ia bisa menegakkan keadilan dan kasih setia bagi orang lemah dan miskin, dan menyelamatkan nyawa orang miskin. Jika raja kuat, ia mampu menumpas orang jahat yang menimbulkan kekerasan dan penindasan atas orang miskin. Dengan kata lain, kedudukan unggul raja menjadi prasyarat bagi keadilan dan kesejahteraan seluruh warga terutama yang miskin dan tertindas. Mengapa? Karena dalam pandangan raja, harkat hidup orang miskin dan tertindas sangat bernilai tinggi, tidak dapat disepelekan begitu saja. Mutu seorang raja baru terlihat dalam komitmennya yang nyata terhadap orang miskin, orang kecil dan tertindas. Itulah inti BGN III.
Sampailah kita pada BGN IV. Jika semuanya itu terjadi atau dapat dilaksanakan, maka raja akan dipuja-puja rakyatnya. Ia akan dicintai rakyatnya dan karena itu didoakan agar hidupnya sehat dan sejahtera (ay 15). Umat akan semakin intensif berdoa memohon kemakmuran ekonomis bagi kerajaan (ay 16), juga memohon agar harum dan semerbak namanya sebagai raja (ay 17).
BGN V. Tetapi perlu disadari terus menerus bahwa raja itu tetaplah hamba dan abdi Allah sehingga segala puji tetap ditujukan kepada Allah yang melakukan keajaiban dan melaksanakan pemerintahan yang adil lewat rajanya (ay 18-20). Jadi, pemerintahan raja yang baik dan benar menjadi pujian bagi Allah yang mengutus dan menegakkan hambaNya itu di bumi ini.
BANDUNG, 18 JULI 2010
SIS BM, GESER INSTITUE FF-UNPAR BANDUNG
TETESAN AIR DALAM SUNYI
OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
LAY THEOLOGIAN DAN PENELITI GESER INSTITUTE DAN CCRS FF-UNPAR BANDUNG.
CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES
Tetesan air dalam sunyi
jatuh hanya sesekali.
Peristiwanya menegaskan paradoks sunyi
yang hanya bisa terasa karena peristiwa jatuh ini.
Seakan kekentalan sunyi terpecah
teurai dan terburai tetapi untuk kemudian
kembali menjadi sunyi.
Bunyi itu menjadi sangat indah mempesona
justru karena ia hadir sebagai peristiwa kontras.
Ia juga tiada boleh berlebih
sebab kalau berlebih sunyi pun
menjadi tidak lagi sunyi
melainkan menjadi ramai oleh bunyi-bunyi
yang entah mengapa seakan-akan menyimpan
sebuah kenangan abadi entah di mana, entah kapan.
Ia hanya terasa sebagai BAHWA,
sedangkan BAGAIMANA-nya tetap terselubung
dalam sebuah sebuah selimut misteri.
Menyadari BAHWA ia ada sudah merupakan satu
peristiwa makna itu sendiri.
SIS BM, GESER INSTITUTE FF-UNPAR BANDUNG
Pratista, Cisarua Lembang, 19 Juni 2010
Colloquium Liturgicum IKLSI dan FF-UNPAR BANDUNG.
LAY THEOLOGIAN DAN PENELITI GESER INSTITUTE DAN CCRS FF-UNPAR BANDUNG.
CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES
Tetesan air dalam sunyi
jatuh hanya sesekali.
Peristiwanya menegaskan paradoks sunyi
yang hanya bisa terasa karena peristiwa jatuh ini.
Seakan kekentalan sunyi terpecah
teurai dan terburai tetapi untuk kemudian
kembali menjadi sunyi.
Bunyi itu menjadi sangat indah mempesona
justru karena ia hadir sebagai peristiwa kontras.
Ia juga tiada boleh berlebih
sebab kalau berlebih sunyi pun
menjadi tidak lagi sunyi
melainkan menjadi ramai oleh bunyi-bunyi
yang entah mengapa seakan-akan menyimpan
sebuah kenangan abadi entah di mana, entah kapan.
Ia hanya terasa sebagai BAHWA,
sedangkan BAGAIMANA-nya tetap terselubung
dalam sebuah sebuah selimut misteri.
Menyadari BAHWA ia ada sudah merupakan satu
peristiwa makna itu sendiri.
SIS BM, GESER INSTITUTE FF-UNPAR BANDUNG
Pratista, Cisarua Lembang, 19 Juni 2010
Colloquium Liturgicum IKLSI dan FF-UNPAR BANDUNG.
Friday, July 9, 2010
PANGANDARAAN
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Lay Theologian dan Peneliti GESER INSTITUTE dan CCRS FF-UNPAR BANDUNG
Center for Cultural and Religious Studies
Sejak kemarin (05 Juli), kami dari Fakultas Filsafat UNPAR Bandung, mengadakan rekreasi bersama sebagai Fakultas ke pantai Pangandaraan. Kemarin sore kami sudah menikmati laut dan deburan ombak di tepi pantai. Amat indah, dan amat menyenangkan. Pagi hari ini sekali lagi beberapa orang dari antara kami kembali menikmati laut dan deburan ombak itu. Saya coba menikmati ombak itu dengan tidur tertelentang di atas papan pelampung sewaan. Ternyata sangat nikmat dan menyenangkan. Saya coba mengatur nafas saya sambil mengucapkan berdoa sepuluh kali salam Maria. Ternyata semakin menyenangkan, maka saya teruskan lagi sampai beberapa puluh kali. Latihan olah pernafasan di permukaan laut, di tepi pantai yang indah dan cerah dan ramai.
Setelah satu setengah jam, saya istirahat di pasir pantai. Sambil beristirahat saya coba mengorek-ngorek pasir di pantai itu dengan ujung jemari kaki kananku. Tiba-tiba aku mempelajari dua pelajaran penting dan berharga dari alam dan laut serta pantai.
Pelajaran penting pertama dan paling penting ialah kesetiaan debur ombak di tepi pantai; debur ombak itu sangat rutin, tetapi yang menarik perhatian saya ialah bahwa rutinitas yang teramat abadi itu justru di satu pihak melakukan rutinitas itu sendiri dan di lain pihak sekaligus menembus dan mengatasi rutinitas itu. Dan sekali lagi, hal itu telah berlangsung secara abadi. Dengan itu mereka menjadi rutinitas yang sekaligus mematahkan tirani runititas itu sendiri. Terdengar sangat paradoksal. Tetapi memang demikianlah adanya dan faktanya. Ada banyak paradox dalam kehidupan ini. Memang. Dan paradox ombak yang serba rutin sekaligus menembus belenggu runitas itu adalah salah satunya yang tiba-tiba saya sadari sekali lagi sekarang dan di sini.
Pelajaran kedua, yang juga tidak kalah penting maknya, saya dapatkan ketika ujung-ujung jari kakiku mengorek-ngorek butir-butir pasir di pantai itu. Saya begitu menikmatinya. Entahlah mengapa dan bagaimana. Semakin lama, kedua kakiku pun semakin dalam mengorek dan terbentuklah kolam kecil dan kedua kakiku berendam di dalamnya. Kakiku terendam di dalam kolam kecil yang bening itu. Karena air itu, maka semakin mudah pula kakiku mengorek pasir dan mengangkat pasir yang terkorek itu ke atas, ke tepian lobang yang terbentuk oleh kakiku. Aku memandangnya. Saya mengkontemplasinya.
Entah mengapa dan entah bagaimana, tiba-tiba saja muncul pikiran dalam hatiku bahwa mungkin saja ada makhluk h idup yang kasat mata di dalam pasir-pasir itu. Setelah beberapa saat lamanya, akhirnya saya pun menyadari bahwa itu bukan lagi sekadar sebuah kemungkinan, melainkan sebuah kenyataan dan kepastian: ya, di sana pasti ada makhluk hidup. Lalu saya pun membayangkan bahwa korekan kakiku pasti menimbulkan badai tsunami bagi makhluk-makhluk itu. Tiba-tiba saya sadar bahwa apa yang merupakan kesenangan bagi saya, bisa saja merupakan sebuah bencana badai tsunami bagi pihak yang lain di sekitar saya.
Lalu kaki pun berhenti mengorek. Mungkin makhluk-makhluk itu sekarang sudah merasa sekadar rasa lega. Tidak ada lagi benda “raksasa” yang mengorek dan menggaruk rumah kediaman mereka yang mungkin nyaman di dalam pasir itu. Tetapi yang jelas tidak ada protes, tidak ada kutuk, tidak ada caci maki. Atau mungkin ada, tetapi setidaknya saya tidak melihat dan menyadarinya. Ya, mungkin ini sebuah pelajaran yang sangat penting dan berharga bagi saya, dan bagi umat manusia pada umumnya dalam menghadapi dan menyikapi bencana. Yaitu: mengarunginya dan menghayatinya sebagai bagian utuh dari drama kehidupan ini.
Mungkin saja semua peristiwa itu terjadi demi pematangan diriku. Mungkin juga semua itu terjadi demi pemurnian hati, pikiran, dan motivasi hidupku. Aku harus bisa dan mau menerima begitu saja. Sikap ini terasa seperti berbau fatalistic. Tetapi alam mengajarkan irama seperti itu kepada saya. Maka pikir saya, manusia juga harus hidup seperti alam itu. Yakni bisa dan mau menerima semuanya apa adanya. Tidak melulu terjebak dalam kesempitan dan keangkuhan visi antroposentrik yang serba egoistic dan cenderung terbukti bersifat destruktif.
Pangandaran, 06 Juli 2010
Diketik kembali seraya diperluas, 10 Juli 2010 di Bandung.
Lay Theologian dan Peneliti GESER INSTITUTE dan CCRS FF-UNPAR BANDUNG
Center for Cultural and Religious Studies
Sejak kemarin (05 Juli), kami dari Fakultas Filsafat UNPAR Bandung, mengadakan rekreasi bersama sebagai Fakultas ke pantai Pangandaraan. Kemarin sore kami sudah menikmati laut dan deburan ombak di tepi pantai. Amat indah, dan amat menyenangkan. Pagi hari ini sekali lagi beberapa orang dari antara kami kembali menikmati laut dan deburan ombak itu. Saya coba menikmati ombak itu dengan tidur tertelentang di atas papan pelampung sewaan. Ternyata sangat nikmat dan menyenangkan. Saya coba mengatur nafas saya sambil mengucapkan berdoa sepuluh kali salam Maria. Ternyata semakin menyenangkan, maka saya teruskan lagi sampai beberapa puluh kali. Latihan olah pernafasan di permukaan laut, di tepi pantai yang indah dan cerah dan ramai.
Setelah satu setengah jam, saya istirahat di pasir pantai. Sambil beristirahat saya coba mengorek-ngorek pasir di pantai itu dengan ujung jemari kaki kananku. Tiba-tiba aku mempelajari dua pelajaran penting dan berharga dari alam dan laut serta pantai.
Pelajaran penting pertama dan paling penting ialah kesetiaan debur ombak di tepi pantai; debur ombak itu sangat rutin, tetapi yang menarik perhatian saya ialah bahwa rutinitas yang teramat abadi itu justru di satu pihak melakukan rutinitas itu sendiri dan di lain pihak sekaligus menembus dan mengatasi rutinitas itu. Dan sekali lagi, hal itu telah berlangsung secara abadi. Dengan itu mereka menjadi rutinitas yang sekaligus mematahkan tirani runititas itu sendiri. Terdengar sangat paradoksal. Tetapi memang demikianlah adanya dan faktanya. Ada banyak paradox dalam kehidupan ini. Memang. Dan paradox ombak yang serba rutin sekaligus menembus belenggu runitas itu adalah salah satunya yang tiba-tiba saya sadari sekali lagi sekarang dan di sini.
Pelajaran kedua, yang juga tidak kalah penting maknya, saya dapatkan ketika ujung-ujung jari kakiku mengorek-ngorek butir-butir pasir di pantai itu. Saya begitu menikmatinya. Entahlah mengapa dan bagaimana. Semakin lama, kedua kakiku pun semakin dalam mengorek dan terbentuklah kolam kecil dan kedua kakiku berendam di dalamnya. Kakiku terendam di dalam kolam kecil yang bening itu. Karena air itu, maka semakin mudah pula kakiku mengorek pasir dan mengangkat pasir yang terkorek itu ke atas, ke tepian lobang yang terbentuk oleh kakiku. Aku memandangnya. Saya mengkontemplasinya.
Entah mengapa dan entah bagaimana, tiba-tiba saja muncul pikiran dalam hatiku bahwa mungkin saja ada makhluk h idup yang kasat mata di dalam pasir-pasir itu. Setelah beberapa saat lamanya, akhirnya saya pun menyadari bahwa itu bukan lagi sekadar sebuah kemungkinan, melainkan sebuah kenyataan dan kepastian: ya, di sana pasti ada makhluk hidup. Lalu saya pun membayangkan bahwa korekan kakiku pasti menimbulkan badai tsunami bagi makhluk-makhluk itu. Tiba-tiba saya sadar bahwa apa yang merupakan kesenangan bagi saya, bisa saja merupakan sebuah bencana badai tsunami bagi pihak yang lain di sekitar saya.
Lalu kaki pun berhenti mengorek. Mungkin makhluk-makhluk itu sekarang sudah merasa sekadar rasa lega. Tidak ada lagi benda “raksasa” yang mengorek dan menggaruk rumah kediaman mereka yang mungkin nyaman di dalam pasir itu. Tetapi yang jelas tidak ada protes, tidak ada kutuk, tidak ada caci maki. Atau mungkin ada, tetapi setidaknya saya tidak melihat dan menyadarinya. Ya, mungkin ini sebuah pelajaran yang sangat penting dan berharga bagi saya, dan bagi umat manusia pada umumnya dalam menghadapi dan menyikapi bencana. Yaitu: mengarunginya dan menghayatinya sebagai bagian utuh dari drama kehidupan ini.
Mungkin saja semua peristiwa itu terjadi demi pematangan diriku. Mungkin juga semua itu terjadi demi pemurnian hati, pikiran, dan motivasi hidupku. Aku harus bisa dan mau menerima begitu saja. Sikap ini terasa seperti berbau fatalistic. Tetapi alam mengajarkan irama seperti itu kepada saya. Maka pikir saya, manusia juga harus hidup seperti alam itu. Yakni bisa dan mau menerima semuanya apa adanya. Tidak melulu terjebak dalam kesempitan dan keangkuhan visi antroposentrik yang serba egoistic dan cenderung terbukti bersifat destruktif.
Pangandaran, 06 Juli 2010
Diketik kembali seraya diperluas, 10 Juli 2010 di Bandung.
Tuesday, June 22, 2010
IKONOGRAFI DAN KITAB SUCI
OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
LAY THEOLOGIAN dan PENELITI CCRS
CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
Dalam postingan terdahulu saya sudah menulis tentang Ikonostasis. Tetapi saya mau menambahkan sesuatu pada artikel tersebut. Yaitu bahwa harus segera disadari bahwa skema gambar-gambar ikonografik tidak pernah boleh lepas apalagi dilepaskan dengan sengaja dari konteks dan latar belakang Kitab Suci. Bagaimana pun juga proses pengerjaan dan pembuatan itu harus terkait dan tergantung pada Kitab Suci dan Tradisi awal gereja. Itulah yang dilakukan oleh para seniman Abad Pertengahan dan Renesans ketika mereka membuat gambar-gambar ikon. Justru pengkaitan dan ketergantungan itu bisa meningkatkan dan memperdalam pemahaman kita akan injil yang asli. Begitulah misalnya fresco-fresco kristologis dari Fra Angelico, yang memenuhi biara kaum Dominikan Observantes St.Markus di Florence, yaitu lukisan sang Penebus yang tergantung pada salib, yang tinggi, tegak berdiri di atas tanah yang tandus (dan gersang) dengan latar belakang bentangan langit tak bertepi (tanpa batas), telah memberi satu konteks universal oleh tokoh-tokoh yang ditempatkan dalam posisi bentuk setengah lingkaran yang membingkainya: ada sembilan nabi, seorang kafir yang bertobat (yaitu mungkin sosok Dionisius Aeropagita), dan seorang Sybil, yang tulisan-tulisannya, dituliskan pada potongan-potongan kertas papirus yang dipakai seperti kipas, yang mengacu pada korban berdarah yang akan datang yang akan memulihkan kebebasan dan kedamaian bagi seluruh ciptaan. (V.Alce, Homilies of Fra.Angelico, terjemahan Inggris, Bologna, n.d., p.33-34).
Atau sebuah contoh yang lain: dekorasi Michelangelo di Kapel Sistine, yakni kesembilan lukisan yang sangat bersejarah itu, yang didasarkan pada kisah-kisah yang diangkat dari kitab Kejadian, yang merentang satu rentang jarak yang maha besar antara kreatifitas ilahi (pada ujung altar) dan kemerosotan manusia (dalam peristiwa mabuk beratnya Nuh yang tampak mengerikan, di dekat pintu). Tetapi itu semua sebenarnya tidak lain dimaksudkan untuk dilihat dalam satu tatanan (tata urut) yang terbalik, yaitu sebagai satu progresi (gerak maju) dari perhambaan badan menuju kepada pembebasan dan pengangkatan atau peninggian jiwa - suatu penafsiran atas Kitab Suci dalam terang sorotan dari persoalan-persoalan filsafat Neoplatonik. (N.Wadeley, Michelangelo, London, 1965, p.17).
Jadi, dari dan berdasarkan kedua contoh di atas tadi, tampak jelas dan kentara bahwa hiasan gambar-gambar itu diangkat dan diilhami oleh Kitab Suci itu sendiri. Dan pemilihan tematiknya tidak lagi asal-asalan, melainkan dilatar belakangi oleh suatu sistem pemikiran teologi tertentu. Dalam artian itu, gambar suci tidak lagi hanya sekadar berfungsi estetik, dekoratif belaka, melainkan berfungsi secara lebih dalam dan menukik, yaitu berfungsi didaktik dan etik. Dalam fungsi yang terakhir ini, ikon atau gambar kudus di gereja selalu berguna sebagai biblia pauperum. Tetapi tidak hanya sebatas itu saja pada akhirnya, sebab gambar-gambar itu juga berfungsi sebagai pendidikan kaum beriman pada umumnya, tidak hanya terbatas pada orang miskin saja. Maka gambar itu juga adalah blibia fideliorum.
Pratista Cimahi, Bandung, 18 Juni 2010
Dalam kesempatan Colloquium Liturgicum ILSKI, 2010
Sis B, CCRS, Fakultas Filsafat UNPAR Bandung.
Diketik kembali sambil diperluas tgl, 23 Juni 2010
LAY THEOLOGIAN dan PENELITI CCRS
CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
Dalam postingan terdahulu saya sudah menulis tentang Ikonostasis. Tetapi saya mau menambahkan sesuatu pada artikel tersebut. Yaitu bahwa harus segera disadari bahwa skema gambar-gambar ikonografik tidak pernah boleh lepas apalagi dilepaskan dengan sengaja dari konteks dan latar belakang Kitab Suci. Bagaimana pun juga proses pengerjaan dan pembuatan itu harus terkait dan tergantung pada Kitab Suci dan Tradisi awal gereja. Itulah yang dilakukan oleh para seniman Abad Pertengahan dan Renesans ketika mereka membuat gambar-gambar ikon. Justru pengkaitan dan ketergantungan itu bisa meningkatkan dan memperdalam pemahaman kita akan injil yang asli. Begitulah misalnya fresco-fresco kristologis dari Fra Angelico, yang memenuhi biara kaum Dominikan Observantes St.Markus di Florence, yaitu lukisan sang Penebus yang tergantung pada salib, yang tinggi, tegak berdiri di atas tanah yang tandus (dan gersang) dengan latar belakang bentangan langit tak bertepi (tanpa batas), telah memberi satu konteks universal oleh tokoh-tokoh yang ditempatkan dalam posisi bentuk setengah lingkaran yang membingkainya: ada sembilan nabi, seorang kafir yang bertobat (yaitu mungkin sosok Dionisius Aeropagita), dan seorang Sybil, yang tulisan-tulisannya, dituliskan pada potongan-potongan kertas papirus yang dipakai seperti kipas, yang mengacu pada korban berdarah yang akan datang yang akan memulihkan kebebasan dan kedamaian bagi seluruh ciptaan. (V.Alce, Homilies of Fra.Angelico, terjemahan Inggris, Bologna, n.d., p.33-34).
Atau sebuah contoh yang lain: dekorasi Michelangelo di Kapel Sistine, yakni kesembilan lukisan yang sangat bersejarah itu, yang didasarkan pada kisah-kisah yang diangkat dari kitab Kejadian, yang merentang satu rentang jarak yang maha besar antara kreatifitas ilahi (pada ujung altar) dan kemerosotan manusia (dalam peristiwa mabuk beratnya Nuh yang tampak mengerikan, di dekat pintu). Tetapi itu semua sebenarnya tidak lain dimaksudkan untuk dilihat dalam satu tatanan (tata urut) yang terbalik, yaitu sebagai satu progresi (gerak maju) dari perhambaan badan menuju kepada pembebasan dan pengangkatan atau peninggian jiwa - suatu penafsiran atas Kitab Suci dalam terang sorotan dari persoalan-persoalan filsafat Neoplatonik. (N.Wadeley, Michelangelo, London, 1965, p.17).
Jadi, dari dan berdasarkan kedua contoh di atas tadi, tampak jelas dan kentara bahwa hiasan gambar-gambar itu diangkat dan diilhami oleh Kitab Suci itu sendiri. Dan pemilihan tematiknya tidak lagi asal-asalan, melainkan dilatar belakangi oleh suatu sistem pemikiran teologi tertentu. Dalam artian itu, gambar suci tidak lagi hanya sekadar berfungsi estetik, dekoratif belaka, melainkan berfungsi secara lebih dalam dan menukik, yaitu berfungsi didaktik dan etik. Dalam fungsi yang terakhir ini, ikon atau gambar kudus di gereja selalu berguna sebagai biblia pauperum. Tetapi tidak hanya sebatas itu saja pada akhirnya, sebab gambar-gambar itu juga berfungsi sebagai pendidikan kaum beriman pada umumnya, tidak hanya terbatas pada orang miskin saja. Maka gambar itu juga adalah blibia fideliorum.
Pratista Cimahi, Bandung, 18 Juni 2010
Dalam kesempatan Colloquium Liturgicum ILSKI, 2010
Sis B, CCRS, Fakultas Filsafat UNPAR Bandung.
Diketik kembali sambil diperluas tgl, 23 Juni 2010
Subscribe to:
Posts (Atom)
PEDENG JEREK WAE SUSU
Oleh: Fransiskus Borgias Dosen dan Peneliti Senior pada FF-UNPAR Bandung. Menyongsong Mentari Dengan Tari Puncak perayaan penti adala...
-
Oleh: Fransiskus Borgias M., (EFBE@fransisbm) Mazmur ini termasuk cukup panjang, yaitu terdiri atas 22 ayat, mengikuti 22 abjad Ib...
-
Oleh: Fransiskus Borgias M. Judul Mazmur ini dalam Alkitab ialah Doa mohon Israel dipulihkan. Judul itu mengandaikan bahwa keadaan Israe...
-
Oleh: Fransiskus Borgias M. Sebagai manusia yang beriman (percaya), kiranya kita semua sungguh-sungguh yakin dan percaya bahwa Tuhan itu...