OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
LAY THEOLOGIAN dan PENELITI CCRS
CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG.
Ikonostasis adalah partisi yang diletakkan di pintu masuk Gereja, khususnya Gereja Timur Ortodoks (baik Yunani maupun Rusia, Ukraina). Sering sekali diterjemahkan menjadi layar kayu, wooden screen dalam bahasa Inggris. Tetapi partisi layar kayu (wooden screen) itu tidak kosong, melainkan dilukis dengan ikon-ikon atau gambar-gambar kudus. Jadi, sebuah ikonostasis penuh dengan ikon. Kalau di pintu masuk gereja-gereja Katolik ada air suci yang ditaruh dalam sebuah wadah kecil, maka di pintu masuk gereja-gereja Timur Ortodoks ada ikonostasis.
Oleh karena ditaruh di muka pintu, atau sesudah lewat ambang masuk pintu, maka ikonostasis itu serentak berfungsi membagi atau memisahkan ruang dalam dari ruang dalam, memisahkan yang di dalam dari yang di luar, yang fanum dari yang pro-fanum, dunia yang ilahi dari dunia yang manusiawi; tetapi posisi ikonostasis seperti itu juga serentak mempersatukan atau menyatukan hal itu semuanya. Ia menjadi semacam engsel penghubung antara kedua alam atau lingkungan tersebut. Itulah fungsi ganda sebuah ikonostasis. Dalam konteks seperti itu,lalu pintu pun menjadi sebuah realitas paradoksal: dibuka, terbuka, membuka, tetapi sekaligus juga pada saat yang sama ditutup, dibatasi, tertutup.
Seperti sudah dikatakan, ikonostasis itu diletakkan tegak di pintu masuk gereja; jadi, ia berdiri di garis batas antara yang ilahi dan yang manusia; posisi seperti itu menyingkapkan kepada kaum beriman yang masukke dalam gereja jalan menuju ke pendamaian mereka. Itu terjadi lewat ikon-ikon yang ada dan ditampilkan di sana. Ya, itulah sebabnya sebuah ikonostasis itu penuh dengan ikon-ikon. Kiranya itu juga sebabnya ia diberi nama ikonstasis. Tetapi ada cara tertentu untuk menata ikon-ikon yang ditampilkan di sana. Ikon-ikon itu tidak asal digambar berjejal-jejal saja, melainkan ada cara penataannya, bahkan ada teologi penataannya. Biasanya dalam versi atau bentuknya yang klasik (misalnya, sangat biasa pada gereja-gereja Rusia pada abad ke-16), ikonostasis itu mempunyai empat tingkatan, atau dibagi menjadi empat tingkat. Saya akan coba membahas keempat tingkat itu satu per satu di bawah ini.
Tingkat paling atas, tingkat pertama, yaitu bagian paling atas dari ikonostasis itu, menggambarkan dan menampilkan para Bapa Bangsa dan para nabi. Kedua, langsung di bawah tingkat pertama di atas tadi, ada gambar-gambar pesta suci keagamaan, yaitu saat-saat utama di dalam aksi atau tindakan Penyelenggaraan Ilahi dalam hidup dari sang Sabda yang Menjelma (dan dari ibunda-Nya, santa Perawan Maria); dan itulah yang menjadi pusat sejarah, dan bahkan menjadi faktor yang menguduskan sejarah. Dengan itu, sejarah yang serba sekular, mendapat nilai transenden dan nilainya yang suci.
Kemudian, pada tingkat yang ketiga di bawahnya, ada yang disebut dalam bahasa Yunani deesis (dalam bahasa Slavonik, tchin), yang menggambarkan atau menampilkan kepenuhan Perjanjian Baru: pelukisan kita sebagai umat yang sedang berdiri untuk berdoa di hadapan sang Penyelamat dan sang Bunda Allah juga berdoa dari posisi ssebelah kanan, dan Yohanes Pembaptis, sang bentara agung, berdoa dari sebelah kiri, dan seluruh rombongan para kudus dan para malaekat tampak berarak datang mendekat, seakan-akan sedang ikut menyeret orang yang memandangnya dengan gerakan ritmik mereka untuk juga ikut bergerak masuk ke dalam doa. Jadi, menonton ikon sudah dengan sendirinya menggerakkan kita untuk berdoa, menuntun perilaku kita.
Akhirnya, pada tingkatan yang paling bawah ada pelbagai macam ikon-ikon yang diangkat dari tema-tema setempat dan kepentingan-kepentingan (jemaat) setempat). Ia bersaksi tentang sejarah rahmat yang aktif berkarya dalam diri tokoh tertentu dan tempat-tempat tertentu. Pada titik pusat horizontal dari layar kayu itu (yang jelas berbeda dari titik pusat vertikalnya) ditempatkanlah pintu-pintu agung, yang melambangkan pintu gerbang masuk ke dalam kerajaan. Dan kerajaan itu sendiri dilambangkan dengan ruang sakral gereja.
Jadi, dengan memandang dan melewati ikonostasis, orang disugestikan sedang masuk ke dalam kerajaan Allah. Maka dengan sendirinya muncullah secara otomatis (tentu saja sikap itu yang diharapkan) sikap dan perilaku yang lain sama sekali, tentu saja yang cocok dan sejalan dengan perilaku dalam tempat suci yang sepantasnya dan selayaknya.
BANDUNG, 18 JUNI 2010
SIS B, CCRS-FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
HASIL REFLEKSI COLLOQUIUM LITURGICUM DI PRATISTA
Diketik kembali dengan pembaharuan, 22 Juni 2010
canticum solis adalah blogspot saya untuk pendalaman dan diskusi soal-soal filosofis, teologis, spiritualitas dan yang terkait. Kalau berkenan mohon menulis kesan atau komentar anda di bagian akhir dari artikel yang anda baca. Terima kasih... canticum solis is my blog in which I write the topics on philosophy, theology, spiritual life. If you don't mind, please give your comment or opinion at the end of any article you read. thanks a lot.....
Tuesday, June 22, 2010
Sunday, June 13, 2010
MENDALAMI DAN MENIKMATI MAZMUR 71
OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
LAY THEOLOGIAN DAN PENELITI CCRS
Center for Cultural and Religious Studies
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
Judul mazmur ini menarik: Doa minta perlindungan di masa tua. Manusia lahir, tua, dan mati. Itu pasti: Sein zum Tode, kata Heidegger. Itulah kegelisahan mazmur ini. Mazmur ini cukup panjang: 24 ayat. Mazmur ini dibagi tiga: Bagian I: ay.1-11; Bagian II: ay.12-16. Bagian III: ay.17-24.
Ia mulai dengan pernyataan bahwa ia berlindung pada Tuhan dan berharap agar ia tidak malu. Karena ia berlindung pada Tuhan, ia berharap agar Tuhan melepaskan dan meluputkan dia dari rsoal hidupnya (ay.2). Salah satu soal yang ia hadapi ialah rongrongan orang fasik (ay.4). Ia berharap agar Tuhan menjadi gunung batu tempat ia bersembunyi dengan aman dari musuh (ay.3). Tetapi bukan baru di masa tua ia berseru kepada Allah, melainkan sejak masa muda ia sudah berharap pada Allah (ay.5). Dalam ay.6 ia mengekstremkan ay.5 dengan mengatakan bahwa ia bertopang pada Allah sejak kandungan. Itu benar: sebab keajaiban proses perkandungan ialah misteri karya cipta dan penyelenggaraan Tuhan. Peristiwa lahir selamat juga dilihat sebagai penyelenggaraan Tuhan: Engkau telah mengeluarkan aku dari perut ibuku. Karena semuanya itu, ia selalu memuji Allah. Itu sebabnya, ia memandang hidupnya sebagai tanda ajaib di hadapan orang banyak, karena ia mengandalkan, memuji dan memuliakan Tuhan pelindungnya (ay.7-8). Atas dasar itu ia berharap bahwa di masa tuanya ini, ia tidak disia-siakan. Betapa pedih dan menyakitkan disepelekan ketika kekuatannya habis, ketika sudah tua, lemah tak berdaya. Ia merasa bahwa di masa tua inilah ia membutuhkan pertolongan Tuhan karena di masa inilah secara psikologis ia seakan ditinggalkan banyak orang. Satu-satunya tempat berlindung sekarang ialah Allah (ay.9-11).
Dalam Bagian II, ia khusyuk menghadap Allah: ia melanjutkan permohonannya agar Allah tidak meninggalkannya, melainkan harus selalu dan segera menolongnya (ay.12). Kalau Allah sudi bertindak, maka para lawannya akan tidak berdaya (ay.13). Ia tidak punya harapan dan andalan lain, selain Allah (ay.14). Karena itu, hanya satu hal yang akan ia lakukan dalam sisa hidupnya yaitu memuji dan memuliakan Tuhan (ay.14-15). Atas dasar itu, ia yakin bahwa ia bisa menghadapi lawannya dengan keperkasaan Tuhan Allah (ay.16).
Dalam Bagian III, kita melihat suatu dinamika lain. Dalam ay.17 ia mulai dengan nostalgia: Tuhan sudah mengajar dirinya sejak masa kecil, dan karena itu hingga tua pun ia tetap memuji dan memuliakan Tuhan. Ia berharap bahwa penyertaan Tuhan yang selama ini ia rasakan, akan tetap ia rasakan juga di masa tuanya, agar dengan itu ia punya kesempatan memahsyurkan namaNya (ay.18). Ia yakin ia sudah merasakan dan mengalami keadilan Tuhan dalam hidupnya. Ia mengalami mukjizat Tuhan (ay.19). Tidak hanya itu. Ia juga mengalami sisi gelap dan negatif dalam hidup ini. Tetapi itu bukan kata final dalam hidup, sebab Tuhan meluputkan dia dari situasi gelap dan negatif itu; bahkan ada metafor “diselamatkan” dari alam maut yang dilambangkan samudera raya (ay.20). Atas dasar pengalaman di masa silam, pemazmur yakin bahwa Tuhan akan menambah perbuatan ajaib dalam hidupnya sekarang dan di sini (ay.21).
Seluruh mazmur ini dalam tiga ayat terakhir ditandai janji kegirangan dan sukacita besar: Ia memakai alat musik untuk mengiringi lagu pujiannya kepada Allah (ay.22). Alat ucap dan alat tutur dalam dirinya (bibir, lidah) senantiasa memuji dan memuliakan Allah (ay.23). Ia merasa jiwanya terbebaskan dari masalah hidup. Dalam keadaan seperti itu, maka semua orang yang mengharapkan nasib buruknya malu dan tersipu-sipu (ay.24).
BANDUNG, 14 JUNI 2010
SIS BM.
LAY THEOLOGIAN DAN PENELITI CCRS FF-UNPAR BANDUNG
LAY THEOLOGIAN DAN PENELITI CCRS
Center for Cultural and Religious Studies
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
Judul mazmur ini menarik: Doa minta perlindungan di masa tua. Manusia lahir, tua, dan mati. Itu pasti: Sein zum Tode, kata Heidegger. Itulah kegelisahan mazmur ini. Mazmur ini cukup panjang: 24 ayat. Mazmur ini dibagi tiga: Bagian I: ay.1-11; Bagian II: ay.12-16. Bagian III: ay.17-24.
Ia mulai dengan pernyataan bahwa ia berlindung pada Tuhan dan berharap agar ia tidak malu. Karena ia berlindung pada Tuhan, ia berharap agar Tuhan melepaskan dan meluputkan dia dari rsoal hidupnya (ay.2). Salah satu soal yang ia hadapi ialah rongrongan orang fasik (ay.4). Ia berharap agar Tuhan menjadi gunung batu tempat ia bersembunyi dengan aman dari musuh (ay.3). Tetapi bukan baru di masa tua ia berseru kepada Allah, melainkan sejak masa muda ia sudah berharap pada Allah (ay.5). Dalam ay.6 ia mengekstremkan ay.5 dengan mengatakan bahwa ia bertopang pada Allah sejak kandungan. Itu benar: sebab keajaiban proses perkandungan ialah misteri karya cipta dan penyelenggaraan Tuhan. Peristiwa lahir selamat juga dilihat sebagai penyelenggaraan Tuhan: Engkau telah mengeluarkan aku dari perut ibuku. Karena semuanya itu, ia selalu memuji Allah. Itu sebabnya, ia memandang hidupnya sebagai tanda ajaib di hadapan orang banyak, karena ia mengandalkan, memuji dan memuliakan Tuhan pelindungnya (ay.7-8). Atas dasar itu ia berharap bahwa di masa tuanya ini, ia tidak disia-siakan. Betapa pedih dan menyakitkan disepelekan ketika kekuatannya habis, ketika sudah tua, lemah tak berdaya. Ia merasa bahwa di masa tua inilah ia membutuhkan pertolongan Tuhan karena di masa inilah secara psikologis ia seakan ditinggalkan banyak orang. Satu-satunya tempat berlindung sekarang ialah Allah (ay.9-11).
Dalam Bagian II, ia khusyuk menghadap Allah: ia melanjutkan permohonannya agar Allah tidak meninggalkannya, melainkan harus selalu dan segera menolongnya (ay.12). Kalau Allah sudi bertindak, maka para lawannya akan tidak berdaya (ay.13). Ia tidak punya harapan dan andalan lain, selain Allah (ay.14). Karena itu, hanya satu hal yang akan ia lakukan dalam sisa hidupnya yaitu memuji dan memuliakan Tuhan (ay.14-15). Atas dasar itu, ia yakin bahwa ia bisa menghadapi lawannya dengan keperkasaan Tuhan Allah (ay.16).
Dalam Bagian III, kita melihat suatu dinamika lain. Dalam ay.17 ia mulai dengan nostalgia: Tuhan sudah mengajar dirinya sejak masa kecil, dan karena itu hingga tua pun ia tetap memuji dan memuliakan Tuhan. Ia berharap bahwa penyertaan Tuhan yang selama ini ia rasakan, akan tetap ia rasakan juga di masa tuanya, agar dengan itu ia punya kesempatan memahsyurkan namaNya (ay.18). Ia yakin ia sudah merasakan dan mengalami keadilan Tuhan dalam hidupnya. Ia mengalami mukjizat Tuhan (ay.19). Tidak hanya itu. Ia juga mengalami sisi gelap dan negatif dalam hidup ini. Tetapi itu bukan kata final dalam hidup, sebab Tuhan meluputkan dia dari situasi gelap dan negatif itu; bahkan ada metafor “diselamatkan” dari alam maut yang dilambangkan samudera raya (ay.20). Atas dasar pengalaman di masa silam, pemazmur yakin bahwa Tuhan akan menambah perbuatan ajaib dalam hidupnya sekarang dan di sini (ay.21).
Seluruh mazmur ini dalam tiga ayat terakhir ditandai janji kegirangan dan sukacita besar: Ia memakai alat musik untuk mengiringi lagu pujiannya kepada Allah (ay.22). Alat ucap dan alat tutur dalam dirinya (bibir, lidah) senantiasa memuji dan memuliakan Allah (ay.23). Ia merasa jiwanya terbebaskan dari masalah hidup. Dalam keadaan seperti itu, maka semua orang yang mengharapkan nasib buruknya malu dan tersipu-sipu (ay.24).
BANDUNG, 14 JUNI 2010
SIS BM.
LAY THEOLOGIAN DAN PENELITI CCRS FF-UNPAR BANDUNG
MENDALAMI DAN MENIKMATI MAZMUR 70
OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
LAY THEOLOGIAN dan PENELITI CCRS
Center for Cultural and Religius Studies
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
Judul mazmur ini sangat menarik; mungkin karena merupakan bagian utuh dari kerinduan dan keinginan dasar kita sebagai manusia: Doa minta pertolongan. Mazmur ini sangat pendek: terdiri atas 6 ayat saja. Mazmur singkat ini dapat dibagi menjadi dua. Unit pertama, ayat 1-4. Unit kedua, ayat 5-6. Kita mulai dengan unit pertama. Sebagaimana tampak dari judulnya, inti mazmur ini ialah meminta pertolongan. Pertolongan tertinggi dan terakhir ialah dari Allah. Itu sebabnya dalam ay.2 pemazmur mulai dengan berseru kepada Allah: Ya Allah, bersegeralah melepaskan aku, menolong aku, ya TUHAN! Permohonan ini dilatar-belakangi oleh keyakinan bahwa pada Tuhan ada pertolongan dan keselamatan.
Dalam ayat 3-4 dilukiskan berturut-turut situasi yang dihadapi pemazmur. Rupanya ia sedang berada dalam situasi sulit; ia terjepit oleh himpitan musuh. Apa yang dilakukan para musuh itu? Ada yang ingin mencabut nyawanya: menghendaki agar ia segera mati (ay.3). Ada juga yang menginginkan (mungkin mengutuk) agar ia ditimpa celaka. Tentu ujung-ujungnya ialah agar ia mati. Tidak jarang situasi hidup manusia bisa menyebabkan orang saling mengumpat, mengutuk, dan bahkan bisa terwujud dalam perbuatan jahat. Mungkin hal seperti itulah yang dialami pemazmur. Di hadapan situasi seperti itu, dan kiranya situasi itu sudah menjadi sangat ekstrem dan eksistensial, si pemazmur memohon agar TUHAN Allah sudi bertindak segera agar (teks Kitab Suci kita memakai kata “Biarlah”) mereka yang ingin mencabut nyawanya menjadi malu dan tersipu-sipu, dan juga agar mereka yang menginginkan kecelakaannya mundur dan terkena noda, dan agar mereka yang senang karena nasib malang si pemazmur bisa menjadi malu karena kutuk mereka tidak terjadi (berkat campur tangan Tuhan). Diam-diam ia berharap, semoga dengan campur tangan Tuhan, kutuk para lawannya berbalik kepada diri mereka sendiri, menjadi semacam senjata makan tuan.
Si pemazmur tidak hanya melukiskan situasi negatif yang dialaminya dalam hidup ini. Ia tentu berharap agar kalau Allah sudi bertindak dengan cepat dan tepat pada waktunya, hal itu akan mendatangkan sukacita dan kegembiraan dan keselamatan. Itulah yang dilukiskan pemazmur dalam ayat 5. Di sini dilukiskan model manusia lain, yaitu manusia yang mencari Tuhan, dan memuji Tuhan, bahwa Tuhan itu mahabesar, Allahuakbar (ay.5d). Berbeda dengan model manusia dalam ayat 3-4 di atas tadi, di sini muncul manusia model lain. Yaitu model manusia yang mencari Tuhan. Tidak begitu jelas, di mana pemazmur menempatkan dirinya sendiri? Mungkin ia menempatkan diri dalam manusia kategori kedua, sebab dengan keyakinan itulah ia berani datang kepada Allah meminta pertolongan.
Tetapi dalam ay.6 kita melihat suatu pelukisan mengenai bagaimana ia memandang dan memahami dirinya sendiri. Si pemazmur memandang dirinya sengsara dan miskin. Dan orang yang sengsara dan miskin tidak punya andalan lain dalam hidup di dunia ini, apalagi dalam situasi terjepit dan terhimpit, selain berharap pada Allah. Itulah sebabnya di akhir ay.6 ia berseru, atau lebih tepat berdoa: Engkaulah yang menolong aku dan meluputkan aku, ya TUHAN, janganlah lambat datang! Kalau Tuhan datang terlambat, itu berarti celaka pasti segera menimpa. Maka ia berharap agar Tuhan tidak menunda-nunda lagi.
BANDUNG, 14 JUNI 2009
SIS BM
LAY THEOLOGIAN AND PENELITI CCRS FF-UNPAR BANDUNG
LAY THEOLOGIAN dan PENELITI CCRS
Center for Cultural and Religius Studies
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
Judul mazmur ini sangat menarik; mungkin karena merupakan bagian utuh dari kerinduan dan keinginan dasar kita sebagai manusia: Doa minta pertolongan. Mazmur ini sangat pendek: terdiri atas 6 ayat saja. Mazmur singkat ini dapat dibagi menjadi dua. Unit pertama, ayat 1-4. Unit kedua, ayat 5-6. Kita mulai dengan unit pertama. Sebagaimana tampak dari judulnya, inti mazmur ini ialah meminta pertolongan. Pertolongan tertinggi dan terakhir ialah dari Allah. Itu sebabnya dalam ay.2 pemazmur mulai dengan berseru kepada Allah: Ya Allah, bersegeralah melepaskan aku, menolong aku, ya TUHAN! Permohonan ini dilatar-belakangi oleh keyakinan bahwa pada Tuhan ada pertolongan dan keselamatan.
Dalam ayat 3-4 dilukiskan berturut-turut situasi yang dihadapi pemazmur. Rupanya ia sedang berada dalam situasi sulit; ia terjepit oleh himpitan musuh. Apa yang dilakukan para musuh itu? Ada yang ingin mencabut nyawanya: menghendaki agar ia segera mati (ay.3). Ada juga yang menginginkan (mungkin mengutuk) agar ia ditimpa celaka. Tentu ujung-ujungnya ialah agar ia mati. Tidak jarang situasi hidup manusia bisa menyebabkan orang saling mengumpat, mengutuk, dan bahkan bisa terwujud dalam perbuatan jahat. Mungkin hal seperti itulah yang dialami pemazmur. Di hadapan situasi seperti itu, dan kiranya situasi itu sudah menjadi sangat ekstrem dan eksistensial, si pemazmur memohon agar TUHAN Allah sudi bertindak segera agar (teks Kitab Suci kita memakai kata “Biarlah”) mereka yang ingin mencabut nyawanya menjadi malu dan tersipu-sipu, dan juga agar mereka yang menginginkan kecelakaannya mundur dan terkena noda, dan agar mereka yang senang karena nasib malang si pemazmur bisa menjadi malu karena kutuk mereka tidak terjadi (berkat campur tangan Tuhan). Diam-diam ia berharap, semoga dengan campur tangan Tuhan, kutuk para lawannya berbalik kepada diri mereka sendiri, menjadi semacam senjata makan tuan.
Si pemazmur tidak hanya melukiskan situasi negatif yang dialaminya dalam hidup ini. Ia tentu berharap agar kalau Allah sudi bertindak dengan cepat dan tepat pada waktunya, hal itu akan mendatangkan sukacita dan kegembiraan dan keselamatan. Itulah yang dilukiskan pemazmur dalam ayat 5. Di sini dilukiskan model manusia lain, yaitu manusia yang mencari Tuhan, dan memuji Tuhan, bahwa Tuhan itu mahabesar, Allahuakbar (ay.5d). Berbeda dengan model manusia dalam ayat 3-4 di atas tadi, di sini muncul manusia model lain. Yaitu model manusia yang mencari Tuhan. Tidak begitu jelas, di mana pemazmur menempatkan dirinya sendiri? Mungkin ia menempatkan diri dalam manusia kategori kedua, sebab dengan keyakinan itulah ia berani datang kepada Allah meminta pertolongan.
Tetapi dalam ay.6 kita melihat suatu pelukisan mengenai bagaimana ia memandang dan memahami dirinya sendiri. Si pemazmur memandang dirinya sengsara dan miskin. Dan orang yang sengsara dan miskin tidak punya andalan lain dalam hidup di dunia ini, apalagi dalam situasi terjepit dan terhimpit, selain berharap pada Allah. Itulah sebabnya di akhir ay.6 ia berseru, atau lebih tepat berdoa: Engkaulah yang menolong aku dan meluputkan aku, ya TUHAN, janganlah lambat datang! Kalau Tuhan datang terlambat, itu berarti celaka pasti segera menimpa. Maka ia berharap agar Tuhan tidak menunda-nunda lagi.
BANDUNG, 14 JUNI 2009
SIS BM
LAY THEOLOGIAN AND PENELITI CCRS FF-UNPAR BANDUNG
Thursday, June 10, 2010
PREFASI HATI YESUS YANG MAHAKUDUS
OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
LAY THEOLOGIAN DAN PENELITI PADA CCRS
CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIS
FF UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN BANDUNG
Dalam TPE kita (berbahasa Indonesia) ada dua Prefasi Hati Yesus. Prefasi Hati Yesus pertama diberi judul kecil “Misteri kasih Tuhan.” Jadi, prefasi ini mewartakan tentang kasih Tuhan. Rubrik memberi petunjuk dan ketentuan pemakaian sbb: “Prefasi ini boleh dipakai pada Hari Raya Hati Yesus yang Mahakudus dan dalam Perayaan Ekaristi votif Hati Yesus.”
Dalam bagian protocol ada rumusan baku yang berlaku umum dalam hampir semua Prefasi, yang isinya menegaskan tentang kenyataan bahwa kita semua senantiasa memuji dan bersyukur kepada Allah Bapa yang kudus. Syukur itu adalah sesuatu yang sudah layak dan sepantasnya kita lakukan dan lambungkan. Dan syukur itu senantiasa kita lambungkan kepada Allah Bapa dengan pengantaraan Kristus, sebab Ialah Tuhan dan pengantara kita pada Allah Bapa.
Dalam bagian embolisme, dibentangkanlah misteri Hati Kudus itu. Boleh dikatakan bahwa seluruh embolisme ini dipakai sebagai alasan mengapa kita harus senantiasa bersyukur (seperti diungkapkan dalam protokol di atas tadi). Kita merasa sudah sepatutnya “memanfaatkan” fungsi dan peran kepengantaraan Kristus ini, karena Ia mempunyai kasih yang tidak terhingga atas kita. Karena kasih itulah Yesus telah menyerahkan diri bagi kita dengan wafat di kayu salib. Jadi, peristiwa wafat di salib itu dilihat di sini sebagai pementasan dan sekaligus bukti cinta Yesus Kristus akan kita umat manusia. Selanjutnya, dibentangkanlah beberapa hal yang terjadi di atas kayu salib itu. Yang relevan disebut di sini ialah peristiwa lambungNya yang ditikam dengan tombak. Lalu dari sana memancarlah darah dan air. Prefasi ini, sejalan dengan tradisi kuno gereja, menafsirkan peristiwa ini sebagai lambang sakramen-sakramen Gereja. Tombak itu menembus lambung dan hati, sehingga hati itu pun menjadi terbuka lebar. Ke dalam hati yang terbuka lebar itulah “semua orang ditarik dan diundang untuk menimba kegembiraan dari sumber keselamatan.” Perlu kiranya kita sadari bahwa ada banyak sekali syair lagu-lagu liturgi gereja terutama sekali lagu-lagu komuni (khususnya dalam konteks perayaan Ekaristi dalam Gereja Katolik), menimba ilham suci dan harta kekayaan rohani dari peristiwa ini. Antara lain misalnya dapat disebut lagu-lagu seperti Ave Verum, Ya Hati Yesus Raja Cinta, Hati Yesus, Trimalah diri kami, dll.
Akhirnya, dalam bagian eskatokol, prefasi ini, justru karena sebutan (eschatocol) itu, mengarahkan seluruh perhatian kita dari alam kekinian ke rentang masa yang akan datang, yakni persisnya ke liturgi agung dan abadi di surga kelak, di mana para malaekat memuji dan mengagungkan Allah dalam kidung pujian abadi. Kita pun berharap dalam iman, harapan dan kasih, akan dapat ikut ambil bagian dalam liturgi agung dan abadi itu. Untuk sebagiannya kini kita ucapkan dengan agung dan lantang ketiga kata suci dari para malaekat itu, tresagion, triple holy itu. Bagian ini juga menjadi sumber ilham yang tiada hentinya dalam sejarah hidup kerohanian Gereja pada umumnya dan Gereja Katolik pada khususnya. Dengan ini dan di sini berakhirlah uraian dan penjelasan singkat mengenai Prefasi yang pertama di atas tadi. Sekarang kita mau beralih ke Prefasi Yang Kedua.
Bahan yang baru saja diuraikan di atas tadi ialah Prefasi Hati Yesus yang pertama. Inilah prefasi Hati Yesus kedua. Prefasi ini diberi judul kecil: “Kesetiaan Tuhan.” Ya, inilah yang menjadi fokus dari prefasi kedua ini. Jadi, kedua prefasi Hati Yesus ini mewartakan dan juga sekaligus merayakan misteri kasih dan kesetiaan, hesed Yahweh (steadfast love). Rubrik memberi ketentuan dan petunjuk berikut ini mengenai saat pemakaiannya: “Prefasi ini boleh dipakai dalam Perayaan Ekaristi votif Hati Yesus.”
Dalam bagian protocol diungkapkanlah dua hal yang kita lakukan di hadapan Allah Bapa di surga. Yang pertama, ialah kita bersyukur, kepada Allah Bapa yang mulia dan murah hati. Kedua, kita meluhurkan Allah yang adalah sumber segala kebaikan dan cinta kasih. Itulah yang menjadi pengalaman hidup dan iman kita. Jadi, bagian ini menyimpan keyakinan dan pengakuan dasar iman kita akan Allah.
Dalam bagian embolisme, kita menemukan beberapa misteri karya Allah sehubungan dengan hati umat manusia. Pertama, kita yakin sekali bahwa Allah, yang adalah kasih itu (Deus est caritas), menaman benih daya cinta kasih di dalam hati manusia. Jadi, cinta itu datang dari Allah lalu turun ke hati manusia. Kalau visi ini diterima, maka kedua, semua peristiwa cinta antar manusia lalu menjadi ajang pementasan cinta Allah dan tempat Allah menampakkan diri. Jadi, betapa agungnya cinta kasih antar manusia itu sesungguhnya, karena ia menjadi medium atau locus Allah menampakkan karya cinta dan esensiNya sendiri yang adalah cinta. Di mana ada cinta, di situ Allah menampakkan diri dalam dan melalui para pencinta itu. Ubi caritas et amor, ibi Deus est. Itu yang sering kita nyanyikan dalam untaian lagu-lagu perayaan Hari Kamis Putih. Maka, janganlah kita pernah main-main dengan cinta itu, sebab cinta itu suci dan teramat luhur. Ketiga, dengan cinta-Nya Allah mencintai manusia. Lalu Prefasi ini mengambil dan memakai metafor kasih seorang ibu, yang pasti sangat menyayangi anak kandungnya sendiri. Tetapi sekaligus prefasi ini menegaskan bahwa analogi itu tidak seluruhnya persis tepat juga, sebab kasih Allah akan manusia melampaui kasih ibu itu. Kasih ibu itu hanya dipakai sebagai sebuah analogi metaforis belaka. Keempat, kasih Allah itu tampak paling nyata dalam keseluruhan peristiwa Yesus, mulai dari inkarnasi sampai pada misteri salib dan kebangkitan. Yesus adalah wujud nyata dari kasih setia Allah kepada umat manusia. Sebagai konsekwensi dari cinta itu, Yesus, yang adalah hamba-Mu yang setia, dan sekaligus saudara kami, menanggung sengsara maut di taman Getsemani dan di kayu salib di Golgota. Tetapi itu semua dilakukan demi menghidupkan dan membahagiakan kita. Inilah yang namanya sengsara membawa nikmat dan bahagia. Paradoksal, memang, tetapi itulah dan begitulah kenyataannya.
Akhirnya, dalam bagian eskatokol, kita mengungkapkan rasa syukur kita kepada Allah dan lalu memuliakan Dia. Di sini lagi-lagi kita memandang secara antisipatif liturgi agung para malaekat di surga kelak, dan kita dari dunia ini, seraya merayakan ekaristi ini, berharap suatu saat kelak dapat ikut serta ambil bagian (bergabung) dalam liturgi itu, sehingga dalam derap dinamis pengharapan itu, kita pun melambungkan tresagion yang semarak dan mulia ini.
Bandung, 10 Juni 2010
Fransiskus Borgias M.
Lay theologian dan peneliti CCRS FF-UNPAR Bandung.
LAY THEOLOGIAN DAN PENELITI PADA CCRS
CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIS
FF UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN BANDUNG
Dalam TPE kita (berbahasa Indonesia) ada dua Prefasi Hati Yesus. Prefasi Hati Yesus pertama diberi judul kecil “Misteri kasih Tuhan.” Jadi, prefasi ini mewartakan tentang kasih Tuhan. Rubrik memberi petunjuk dan ketentuan pemakaian sbb: “Prefasi ini boleh dipakai pada Hari Raya Hati Yesus yang Mahakudus dan dalam Perayaan Ekaristi votif Hati Yesus.”
Dalam bagian protocol ada rumusan baku yang berlaku umum dalam hampir semua Prefasi, yang isinya menegaskan tentang kenyataan bahwa kita semua senantiasa memuji dan bersyukur kepada Allah Bapa yang kudus. Syukur itu adalah sesuatu yang sudah layak dan sepantasnya kita lakukan dan lambungkan. Dan syukur itu senantiasa kita lambungkan kepada Allah Bapa dengan pengantaraan Kristus, sebab Ialah Tuhan dan pengantara kita pada Allah Bapa.
Dalam bagian embolisme, dibentangkanlah misteri Hati Kudus itu. Boleh dikatakan bahwa seluruh embolisme ini dipakai sebagai alasan mengapa kita harus senantiasa bersyukur (seperti diungkapkan dalam protokol di atas tadi). Kita merasa sudah sepatutnya “memanfaatkan” fungsi dan peran kepengantaraan Kristus ini, karena Ia mempunyai kasih yang tidak terhingga atas kita. Karena kasih itulah Yesus telah menyerahkan diri bagi kita dengan wafat di kayu salib. Jadi, peristiwa wafat di salib itu dilihat di sini sebagai pementasan dan sekaligus bukti cinta Yesus Kristus akan kita umat manusia. Selanjutnya, dibentangkanlah beberapa hal yang terjadi di atas kayu salib itu. Yang relevan disebut di sini ialah peristiwa lambungNya yang ditikam dengan tombak. Lalu dari sana memancarlah darah dan air. Prefasi ini, sejalan dengan tradisi kuno gereja, menafsirkan peristiwa ini sebagai lambang sakramen-sakramen Gereja. Tombak itu menembus lambung dan hati, sehingga hati itu pun menjadi terbuka lebar. Ke dalam hati yang terbuka lebar itulah “semua orang ditarik dan diundang untuk menimba kegembiraan dari sumber keselamatan.” Perlu kiranya kita sadari bahwa ada banyak sekali syair lagu-lagu liturgi gereja terutama sekali lagu-lagu komuni (khususnya dalam konteks perayaan Ekaristi dalam Gereja Katolik), menimba ilham suci dan harta kekayaan rohani dari peristiwa ini. Antara lain misalnya dapat disebut lagu-lagu seperti Ave Verum, Ya Hati Yesus Raja Cinta, Hati Yesus, Trimalah diri kami, dll.
Akhirnya, dalam bagian eskatokol, prefasi ini, justru karena sebutan (eschatocol) itu, mengarahkan seluruh perhatian kita dari alam kekinian ke rentang masa yang akan datang, yakni persisnya ke liturgi agung dan abadi di surga kelak, di mana para malaekat memuji dan mengagungkan Allah dalam kidung pujian abadi. Kita pun berharap dalam iman, harapan dan kasih, akan dapat ikut ambil bagian dalam liturgi agung dan abadi itu. Untuk sebagiannya kini kita ucapkan dengan agung dan lantang ketiga kata suci dari para malaekat itu, tresagion, triple holy itu. Bagian ini juga menjadi sumber ilham yang tiada hentinya dalam sejarah hidup kerohanian Gereja pada umumnya dan Gereja Katolik pada khususnya. Dengan ini dan di sini berakhirlah uraian dan penjelasan singkat mengenai Prefasi yang pertama di atas tadi. Sekarang kita mau beralih ke Prefasi Yang Kedua.
Bahan yang baru saja diuraikan di atas tadi ialah Prefasi Hati Yesus yang pertama. Inilah prefasi Hati Yesus kedua. Prefasi ini diberi judul kecil: “Kesetiaan Tuhan.” Ya, inilah yang menjadi fokus dari prefasi kedua ini. Jadi, kedua prefasi Hati Yesus ini mewartakan dan juga sekaligus merayakan misteri kasih dan kesetiaan, hesed Yahweh (steadfast love). Rubrik memberi ketentuan dan petunjuk berikut ini mengenai saat pemakaiannya: “Prefasi ini boleh dipakai dalam Perayaan Ekaristi votif Hati Yesus.”
Dalam bagian protocol diungkapkanlah dua hal yang kita lakukan di hadapan Allah Bapa di surga. Yang pertama, ialah kita bersyukur, kepada Allah Bapa yang mulia dan murah hati. Kedua, kita meluhurkan Allah yang adalah sumber segala kebaikan dan cinta kasih. Itulah yang menjadi pengalaman hidup dan iman kita. Jadi, bagian ini menyimpan keyakinan dan pengakuan dasar iman kita akan Allah.
Dalam bagian embolisme, kita menemukan beberapa misteri karya Allah sehubungan dengan hati umat manusia. Pertama, kita yakin sekali bahwa Allah, yang adalah kasih itu (Deus est caritas), menaman benih daya cinta kasih di dalam hati manusia. Jadi, cinta itu datang dari Allah lalu turun ke hati manusia. Kalau visi ini diterima, maka kedua, semua peristiwa cinta antar manusia lalu menjadi ajang pementasan cinta Allah dan tempat Allah menampakkan diri. Jadi, betapa agungnya cinta kasih antar manusia itu sesungguhnya, karena ia menjadi medium atau locus Allah menampakkan karya cinta dan esensiNya sendiri yang adalah cinta. Di mana ada cinta, di situ Allah menampakkan diri dalam dan melalui para pencinta itu. Ubi caritas et amor, ibi Deus est. Itu yang sering kita nyanyikan dalam untaian lagu-lagu perayaan Hari Kamis Putih. Maka, janganlah kita pernah main-main dengan cinta itu, sebab cinta itu suci dan teramat luhur. Ketiga, dengan cinta-Nya Allah mencintai manusia. Lalu Prefasi ini mengambil dan memakai metafor kasih seorang ibu, yang pasti sangat menyayangi anak kandungnya sendiri. Tetapi sekaligus prefasi ini menegaskan bahwa analogi itu tidak seluruhnya persis tepat juga, sebab kasih Allah akan manusia melampaui kasih ibu itu. Kasih ibu itu hanya dipakai sebagai sebuah analogi metaforis belaka. Keempat, kasih Allah itu tampak paling nyata dalam keseluruhan peristiwa Yesus, mulai dari inkarnasi sampai pada misteri salib dan kebangkitan. Yesus adalah wujud nyata dari kasih setia Allah kepada umat manusia. Sebagai konsekwensi dari cinta itu, Yesus, yang adalah hamba-Mu yang setia, dan sekaligus saudara kami, menanggung sengsara maut di taman Getsemani dan di kayu salib di Golgota. Tetapi itu semua dilakukan demi menghidupkan dan membahagiakan kita. Inilah yang namanya sengsara membawa nikmat dan bahagia. Paradoksal, memang, tetapi itulah dan begitulah kenyataannya.
Akhirnya, dalam bagian eskatokol, kita mengungkapkan rasa syukur kita kepada Allah dan lalu memuliakan Dia. Di sini lagi-lagi kita memandang secara antisipatif liturgi agung para malaekat di surga kelak, dan kita dari dunia ini, seraya merayakan ekaristi ini, berharap suatu saat kelak dapat ikut serta ambil bagian (bergabung) dalam liturgi itu, sehingga dalam derap dinamis pengharapan itu, kita pun melambungkan tresagion yang semarak dan mulia ini.
Bandung, 10 Juni 2010
Fransiskus Borgias M.
Lay theologian dan peneliti CCRS FF-UNPAR Bandung.
Wednesday, June 2, 2010
PREFASI SANTO YUSUF
OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M
LAY THEOLOGIAN dan Peneliti CCRS (Center for Cultural and Religious Studies) FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
Setelah beberapa minggu yang lalu saya sudah mengulas beberapa prefasi yang dipakai untuk Peringatan, Pesta dan Hari Raya Santa Perawan Maria dalam perayaan ekaristi, maka akhirnya saya juga mau membahas Prefasi Santo Yusuf. Saya mengulas Prefasi ini dalam kaitan dengan Santa Perawan Maria, karena bagaimana pun juga Santo Yusuf pun sangat jelas dan erat terkait dengan Bunda Maria. Hal itu tampak sangat jelas dalam edisi buku Misa Harian berbahasa Inggris. Di sana ada keterangan tentang dia sbb: Yusuf Suami Maria. (Tetapi perhatikan bahwa tidak ada keterangan seperti itu dalam TPE kita; mungkin terlupakan; tentu hal itu hanya diandaikan saja). Menurut keterangan dalam rubrik TPE kita, Prefasi ini dipapai dalam Perayaan Ekaristi Santo Yusuf. Dalam kalender Liturgi kita ada beberapa pesta dan peringatan Santo Yusuf. Saya tidak hafal semuanya. Tetapi kiranya yang terbesar (dan paling kuat saya ingat) ialah Hari Raya St.Yusuf yang setiap tahun jatuh pada tanggal 19 Maret. Saya katakana terbesar, karena hal itu masuk dalam kategori hari raya. (Sejenak saya ingat, dulu di Seminari Kecil dan Menengah, setiap tanggal 19 Maret adalah hari libur; mungkin karena saat itu seminari kami dipimpin para pastor SVD; dan tokoh penting kedua dalam sejarah awal eksistensi historis SVD selain Arnoldus Jansen, ialah Pater Josef Freinademetz).
Ada dua hal yang ditekankan di sini. Pertama, ialah sifat-sifat yang disebut berkaitan dengan Yusuf. Di sana disebutkan beberapa sifat beliau: 1) ia adalah pria tulus hati (just man), 2) ia juga disebut seorang hamba yang setia (loyal servant), 3) hamba yang bijaksana (wise). Sebutan-sebutan ini semua ada dasarnya dalam Kitab Suci. Sifat yang pertama, misalnya, dapat dilihat dengan mudah dalam pelukisan Injil Matius bab 1:19. Di sana ada keterangan sbb: “Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum...” Sifat kedua dan ketiga mungkin harus dicari pendasarannya pada tradisi penghormatan gereja dan liturgi terhadap Yusuf, dan juga pada perumpamaan tentang hamba yang baik, setia, dan kreatif itu dalam kisah-kisah Injil. Menarik bahwa sifat nomor satu (dalam buku TPE Indonesia) secara jelas dikaitkan dengan salah satu tugasnya, yaitu tugas mendampingi Santa Perawan Maria. (Dalam edisi Inggris pengkaitan itu tidak sangat eksplisit; hanya dalam bentuk tata urut kalimat saja). Tugas ini adalah tugas yang berasal dari Bapa; dengan kata lain, Allah Bapa sendirilah yang memberi tugas itu kepada Yusuf. Demikian keyakinan yang tersirat dalam Prefasi itu.
Tetapi, kedua, pertanyaannya sekarang ini ialah: kapan hal itu terjadi? Hal itu terjadi, yaitu lewat peristiwa kabar gembira kepada Yusuf dalam mimpi itu (Bdk. Mat.1:20-23). Sebab menurut Matius, bukan hanya Maria saja yang mendapat kabar Gembira dari Malaekat Tuhan sebagaimana dilaporkan dalam injil Lukas (2:1-7). Adalah berkat jasa Pater Raymond E.Brown-lah sehingga saya bisa menyadari adanya kabar gembira kepada Yusuf dalam injil Matius. Pater Brown membentangkan hal itu secara panjang lebar dalam bukunya The Birth of Messiah. Buku ini kemudian disajikan secara popular dalam kaitan dengan pemakaian liturgis, dalam buku popular yang berjudul Yesus Yang Dewasa Pada Masa Natal. Bahkan juga masih bisa ditelusuri jejak-jejaknya dalam bukunya yang lain yang berjudul Yesus yang Datang pada Masa Adven.
Lalu sifat kedua dan ketiga masing-masing dikaitkan dengan tugas-tugas sebagai kepala keluarga kudus, yang juga diandaikan atau diyakini dimandatkan oleh Bapa (Bdk.Mat.1:19) dan tugas sebagai bapa dan pengasuh Putera Tungga-Mu. Itulah sebabnya dalam sejarah teologi dan liturgi, Yusuf mendapat beberapa julukan yang penting dan menarik. Ada yang menyebut dia Redemptoris Custos atau juga Protector Redemptoris (sedangkan Maria ialah Redemptoris Mater, yang artinya Ibunda Sang Penebus). Masing-masingnya berarti Penjaga sang Penebus, Pelindung sang Penebus, Bunda sang Penebus. Yang pertama tadi (Redemptoris Custos) menjadi judul salah satu petuah apostolik (apostolic exhortation) dari Paus Yohanes Paulus II yang keluar pada tahun 1989 (setahun sesudah tahun Maria, 1988, yang didahului dengan ensiklik Redemptoris Mater tahun 1987).
Akhirnya, detail keterangan dalam edisi Buku Misa Harian berbahasa Inggris juga amat menarik untuk dikutip dan dibahas di sini. Pertama, bahwa Yusuf dengan kasih seorang suami, ia mengasihi Maria (with a husband love he cherished Mary, the Virgin Mother of God; perhatikan baik-baik bahwa keterangan detail ini tidak ada dalam TPE kita yang berbahasa Indonesia). Kedua, bahwa Yusuf, dengan kasih dan perhatian sebagai seorang ayah, menjaga dan melindungi Yesus Kristus Putera-Mu, yang dikandung dari Roh Kudus (with fatherly care he watched over Jesus Christ your Son, conceived by the power of Holy Spirit; perhatikanlah juga bahwa keterangan detail ini tidak ada dalam TPE kita yang berbahasa Indonesia). Akhirnya, TPE Prefasi ini yakin bahwa pujian para malaekat dan juga surga kepada Allah Bapa dilakukan melalui pengantaraan Kristus. Kita manusia di dunia ini juga ingin ikut serta ambil bagian dalam kidung pujian abadi itu dengan sepenggal seruan triple kudus yang amat terkenal itu.
Bandung, 24 Mei 2010
Ditulis dan dikembangkan kembali, 01 Juni 2010
SIS B (CCRS FF UNPAR)
LAY THEOLOGIAN dan Peneliti CCRS (Center for Cultural and Religious Studies) FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
Setelah beberapa minggu yang lalu saya sudah mengulas beberapa prefasi yang dipakai untuk Peringatan, Pesta dan Hari Raya Santa Perawan Maria dalam perayaan ekaristi, maka akhirnya saya juga mau membahas Prefasi Santo Yusuf. Saya mengulas Prefasi ini dalam kaitan dengan Santa Perawan Maria, karena bagaimana pun juga Santo Yusuf pun sangat jelas dan erat terkait dengan Bunda Maria. Hal itu tampak sangat jelas dalam edisi buku Misa Harian berbahasa Inggris. Di sana ada keterangan tentang dia sbb: Yusuf Suami Maria. (Tetapi perhatikan bahwa tidak ada keterangan seperti itu dalam TPE kita; mungkin terlupakan; tentu hal itu hanya diandaikan saja). Menurut keterangan dalam rubrik TPE kita, Prefasi ini dipapai dalam Perayaan Ekaristi Santo Yusuf. Dalam kalender Liturgi kita ada beberapa pesta dan peringatan Santo Yusuf. Saya tidak hafal semuanya. Tetapi kiranya yang terbesar (dan paling kuat saya ingat) ialah Hari Raya St.Yusuf yang setiap tahun jatuh pada tanggal 19 Maret. Saya katakana terbesar, karena hal itu masuk dalam kategori hari raya. (Sejenak saya ingat, dulu di Seminari Kecil dan Menengah, setiap tanggal 19 Maret adalah hari libur; mungkin karena saat itu seminari kami dipimpin para pastor SVD; dan tokoh penting kedua dalam sejarah awal eksistensi historis SVD selain Arnoldus Jansen, ialah Pater Josef Freinademetz).
Ada dua hal yang ditekankan di sini. Pertama, ialah sifat-sifat yang disebut berkaitan dengan Yusuf. Di sana disebutkan beberapa sifat beliau: 1) ia adalah pria tulus hati (just man), 2) ia juga disebut seorang hamba yang setia (loyal servant), 3) hamba yang bijaksana (wise). Sebutan-sebutan ini semua ada dasarnya dalam Kitab Suci. Sifat yang pertama, misalnya, dapat dilihat dengan mudah dalam pelukisan Injil Matius bab 1:19. Di sana ada keterangan sbb: “Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum...” Sifat kedua dan ketiga mungkin harus dicari pendasarannya pada tradisi penghormatan gereja dan liturgi terhadap Yusuf, dan juga pada perumpamaan tentang hamba yang baik, setia, dan kreatif itu dalam kisah-kisah Injil. Menarik bahwa sifat nomor satu (dalam buku TPE Indonesia) secara jelas dikaitkan dengan salah satu tugasnya, yaitu tugas mendampingi Santa Perawan Maria. (Dalam edisi Inggris pengkaitan itu tidak sangat eksplisit; hanya dalam bentuk tata urut kalimat saja). Tugas ini adalah tugas yang berasal dari Bapa; dengan kata lain, Allah Bapa sendirilah yang memberi tugas itu kepada Yusuf. Demikian keyakinan yang tersirat dalam Prefasi itu.
Tetapi, kedua, pertanyaannya sekarang ini ialah: kapan hal itu terjadi? Hal itu terjadi, yaitu lewat peristiwa kabar gembira kepada Yusuf dalam mimpi itu (Bdk. Mat.1:20-23). Sebab menurut Matius, bukan hanya Maria saja yang mendapat kabar Gembira dari Malaekat Tuhan sebagaimana dilaporkan dalam injil Lukas (2:1-7). Adalah berkat jasa Pater Raymond E.Brown-lah sehingga saya bisa menyadari adanya kabar gembira kepada Yusuf dalam injil Matius. Pater Brown membentangkan hal itu secara panjang lebar dalam bukunya The Birth of Messiah. Buku ini kemudian disajikan secara popular dalam kaitan dengan pemakaian liturgis, dalam buku popular yang berjudul Yesus Yang Dewasa Pada Masa Natal. Bahkan juga masih bisa ditelusuri jejak-jejaknya dalam bukunya yang lain yang berjudul Yesus yang Datang pada Masa Adven.
Lalu sifat kedua dan ketiga masing-masing dikaitkan dengan tugas-tugas sebagai kepala keluarga kudus, yang juga diandaikan atau diyakini dimandatkan oleh Bapa (Bdk.Mat.1:19) dan tugas sebagai bapa dan pengasuh Putera Tungga-Mu. Itulah sebabnya dalam sejarah teologi dan liturgi, Yusuf mendapat beberapa julukan yang penting dan menarik. Ada yang menyebut dia Redemptoris Custos atau juga Protector Redemptoris (sedangkan Maria ialah Redemptoris Mater, yang artinya Ibunda Sang Penebus). Masing-masingnya berarti Penjaga sang Penebus, Pelindung sang Penebus, Bunda sang Penebus. Yang pertama tadi (Redemptoris Custos) menjadi judul salah satu petuah apostolik (apostolic exhortation) dari Paus Yohanes Paulus II yang keluar pada tahun 1989 (setahun sesudah tahun Maria, 1988, yang didahului dengan ensiklik Redemptoris Mater tahun 1987).
Akhirnya, detail keterangan dalam edisi Buku Misa Harian berbahasa Inggris juga amat menarik untuk dikutip dan dibahas di sini. Pertama, bahwa Yusuf dengan kasih seorang suami, ia mengasihi Maria (with a husband love he cherished Mary, the Virgin Mother of God; perhatikan baik-baik bahwa keterangan detail ini tidak ada dalam TPE kita yang berbahasa Indonesia). Kedua, bahwa Yusuf, dengan kasih dan perhatian sebagai seorang ayah, menjaga dan melindungi Yesus Kristus Putera-Mu, yang dikandung dari Roh Kudus (with fatherly care he watched over Jesus Christ your Son, conceived by the power of Holy Spirit; perhatikanlah juga bahwa keterangan detail ini tidak ada dalam TPE kita yang berbahasa Indonesia). Akhirnya, TPE Prefasi ini yakin bahwa pujian para malaekat dan juga surga kepada Allah Bapa dilakukan melalui pengantaraan Kristus. Kita manusia di dunia ini juga ingin ikut serta ambil bagian dalam kidung pujian abadi itu dengan sepenggal seruan triple kudus yang amat terkenal itu.
Bandung, 24 Mei 2010
Ditulis dan dikembangkan kembali, 01 Juni 2010
SIS B (CCRS FF UNPAR)
Tuesday, May 25, 2010
PREFASI SANTA PERAWAN MARIA
OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
TEOLOG DAN PENELITI CCRS
(Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
Buku Tata Perayaan Ekaristi (TPE) kita menyediakan dua Prefasi Santa Perawan Maria. Yang pertama, diberi judul kecil Bunda Yang Tetap Perawan. Rubrik TPE memberi keterangan sbb: Prefasi ini boleh dipakai dalam Perayaan Ekaristi Santa Maria tetapi dengan menyebutkan secara khusus nama Hari Raya atau pesta atau peringatan yang diselenggarakan pada hari yang bersangkutan. Liturgi gereja mengatakan bahwa salah satu hajatan terkait Santa Perawan Maria menjadi alasan bagi kita untuk selalu bersykur kepada Allah. Mengapa? Mengapa perlu ada alasan mariologis untuk memuji dan memuliakan Allah? Prefasi ini hanya memberi satu alasan atau jawaban saja terhadap pertanyaan tadi, tetapi itu adalah sebuah alasan yang paling kuat dan mendasar. Alasan itu adalah karena ia (Maria) “…telah mengandung Putera Tunggal-Mu karena kuasa Roh Kudus.” Jadi, yang diingat di sini tentu saja ialah peristiwa inkarnasi, yang menjadi mungkin terlaksana karena fiat dari pihak Maria. Lalu ada keterangan lebih lanjuta, bahwa walau pun mengandung, namun ia (Maria) tetap perawan. Hal itu juga diingatkan dalam prefasi ini. Berkat partisipasi dalam rencana ilahi melalui inkarnasi itulah, Maria mampu “memancarkan terang abadi bagi dunia.” Tentu yang disinggung di situ ialah Tuhan Yesus Kristus, yang adalah Lux mundi, Lumen Gentium. Selanjutnya dikatakan bahwa para malaekat di surga memuji keagungan-Mu, dengan pengantaraan Kristus juga; itu juga terjadi bersama dengan segenap kuasa surga. Menyadari hal itu, kita manusia, sementara masih di dunia ini terdorong ikut ambil bagian dalam lagu pujian abadi para malaekat itu di bumi ini.
Prefasi SPM II diberi keterangan kecil sbb: Yang bersahaja dipilih Allah. Rubrik dalam TPE kita memberi keterangan sbb: Prefasi ini boleh dipakai dalam Perayaan Ekaristi Santa Perawan Maria. Lagi-lagi Prefasi ini, seperti halnya prefasi yang pertama tadi, memberi motif mariologis untuk memuji dan memuliakan Allah. Dikatakan di sana: Terutama pada peringatan Santa Perawan Maria ini kami mengagungkan kemurahan-Mu dengan menggemakan lagu pujian. Prefasi ini juga memberi alasan paling mendasar untuk pujian yang bermotif mariologis tsb: Allah telah melakukan satu karya agung sebagai tanda belas kasih Allah yang disaksikan oleh seluruh bumi dan segala jaman; karya agung yang dimaksud itu tidak lain ialah tindakan Allah memilih “Santa Perawan Maria, hamba-Mu yang bersahaja.” Allah Bapa memilih Maria (hamba bersahaja), untuk ikut serta ambil bagian dalam karya penyelamatan (penebusan) umat manusia, melalui peristiwa inkarnasi. Itu sebabnya Prefasi mengatakan bahwa Allah menganugerahkan Penyelamat umat manusia, melalui dia (Maria). Penyelamat itu ialah Yesus Kristus, PuteraMu dan Tuhan kami. Bala tentara malaekat surgawi bersembah sujud memuji Allah, juga dimungkinkan karena peranan kepengantaraan Kristus itu. Itu sebabnya kita manusia di dunia ini dengan penuh semangat dan sukacita ikut serta bergabung dalam kidung pujian abadi para malaekat untuk memuji Allah mulai dari dunia ini hingga selama-lamanya dalam liturgi agung dan abadi di surga kelak.
Perlu saya ingatkan bahwa dalam TPE Indonesia hanya tersedia dua Prefasi SP Maria. Kedua Prefasi itu sudah saya bahas di atas. Tetapi dalam buku pegangan misa harian bahasa Inggris (Week Daily Missal) saya temukan beberapa prefasi lain yang dengan satu dan lain cara terkait atau dikaitkan dengan SP.Maria. Di sana saya temukan tiga Prefasi seperti itu. Terlebih dahulu saya daftarkan prefasi-prefasi yang dimaksud, sesudah itu saya akan uraikan ketiga prefasi itu satu per satu: 1). Prefasi Hari Raya Kabar Sukacita (Annunciatio) yang jatuh pada tanggal 25 Maret. 2). Prefasi Hari Raya Santa Maria Dikandung tanpa Noda Dosa (Immaculata Conceptio), yang jatuh pada tanggal 08 Desember. 3). Prefasi Hari Raya Santa Perawan Maria diangkat ke surga dengan jiwa dan badan (Assumptio), yang jatuh pada tanggal 15 Agustus. Ketiganya termasuk kategori Hari Raya. Setiap tahun kita dapat melihat hal ini dalam dan melalui Kalender Liturgi yang secara rutin dan tekun diterbitkan Komisi Liturgi Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI). Saya coba uraikan dan jelaskan satu per satu prefasi itu menurut tanggal kemunculannya sepanjang tahun.
Saya mulai dengan Prefasi pertama. Ada beberapa kebenaran iman penting yang diwartakan dan dirayakan dalam dan melalui Prefasi Hari Raya Kabar Sukacita ini, yang jatuh setiap tahun tanggal 25 Maret (Sembilan bulan sebelum 25 Desember, Hari Natal, Hari Kelahiran Tuhan Yesus). Prefasi ini dimulai dengan satu alasan Kristologis untuk memuji dan memuliakan Allah yang hidup dan mahakuasa. Lalu gereja mengutarakan keyakinannya bahwa Kristus telah datang untuk menyelamatkan manusia. Hal ini terjadi dengan cara inkarnasi, yaitu Ia sendiri menjelma menjadi manusia. Itulah solidaritas negatif Allah dalam diri Yesus Kristus, menurut istilah P.Cletus Groenen OFM dalam Soteriologi Alkitabiah-nya itu. Misteri inkarnasi itu terjadi karena SP.Maria, yang setelah menerima dan menyetujui kabar dari malaekat dalam iman, lalu mengundang oleh daya kekuatan Roh Kudus dan dengan itu melahirkan PuteraMu dalam cinta termurni. Kemudian kita lihat bahwa misteri Kristus itu dijelaskan dengan dua cara. Pertama, dengan cara dikaitkan dengan sejarah Israel dalam Perjanjian Lama: Gereja yakin bahwa dalam Kristus, sang kebenaran abadi, janji Allah kepada Israel terwujud, terlaksana. Kedua, dengan cara dikaitkan dengan sejarah seluruh umat manusia: gereja juga yakin bahwa dalam Kristus, yang adalah harapan segala bangsa, harapan manusia pun terwujud melampaui apa yang diharapkan dan diduga manusia secara tidak terduga-duga sama sekali. Akhirnya kembali lagi motif Kristologis bagi puja-puji para malaekat di surga yang bersukacita di hadapan hadirat Allah. Kita manusia di dunia ini berharap dapat ikut serta ambil bagian dalam paduan suara malaekat surga itu untuk memuji dan memuliakan Allah hingga selama-lamanya.
Prefasi kedua ialah Prefasi Hari Raya Maria diangkat ke surga dengan jiwa dan badan, yang setiap tahun dirayakan tanggal 15 Agustus. Sebagaimana biasa, Prefasi ini pun dimulai dengan motif kristologis untuk memuji Allah Bapa. Kita mengucap syukur senantiasa kepada Allah Bapa yang hidup dan berkuasa dengan pengantaraan Yesus Kristus Tuhan Kami. Selanjutnya Prefasi ini mengingatkan kita sekalian akan salah satu misteri perayaan iman kita, yaitu bahwa pada hari ini perawan Bunda Allah diangkat ke surga. Pengangkatan ini mempunyai motif eklesiologis, yaitu agar Bunda Maria, dalam martabat kesempurnaannya itu, dapat menjadi awal mula dan sekaligus pola atau model bagi gereja dalam perjalanan dan perkembangannya kepada kesempurnaan. Sekaligus diharapkan agar Bunda Maria dapat menjadi tanda pengharapan dan sumber penghiburan bagi umat yang sedang dalam perjalanan ziarah mereka ke surga. Gereja menyatakan pandangan dan keyakinannya bahwa Allah tidak memperkenankan bahwa tubuhnya termakan oleh kehancuran. Hal itu juga mempunyai dasar kristologis, yaitu bahwa tubuh itu sangat mulia karena ia telah mengandung dan melahirkan PuteraMu, yang adalah Tuhan atau Penguasa atas kehidupan. Hal itu terjadi di dalam kemuliaan dan keagungan peristiwa inkarnasi. Hal itu jelas mendatangkan sukacita dan pengharapan bagi kita semua. Oleh karena itu kita pun terdorong memuji dan memuliakan kemuliaan Allah bersama lagu pujian abadi para malaekat di surga.
Prefasi ketiga ialah prefasi Hari Raya Santa Perawan Maria dikandung tanpa noda dosa, yang setiap tahun dirayakan tanggal 8 Desember (tepat 9 bulan sebelum 9 September, Pesta Kelahiran St.Perawan Maria). Prefasi ini, sebagaimana Prefasi lainnya, dimulai dengan keinginan kita untuk senantiasa memuji dan memuliakan Allah yang hidup dan berkuasa. Hari ini kita merayakan salah satu misteri perayaan Maria dalam gereja, di mana kita yakini bahwa Allah tidak membiarkan noda dosa Adam menyentuh (apalagi merusak) Perawan Maria. Dia itu penuh rahmat, sebagaimana dikatakan malaekat Gabriel itu (Luk.1:28), gratia plena, kekharitome; itu tidak lain karena dia menjadi pantas dan layak menjadi bunda PuteraMu sendiri. Ini semua terjadi sebagai tanda bukti perkenanan Bapa kepada Gereja pada awal mula keberadaannya, dan sekaligus menjadi tanda kesempurnaannya sebagai mempelai Kristus, yang cerlang cemerlang bersinar dalam kecantikannya. Kita yakin bahwa dialah yang termurni di antara perawan, karena dia harus mengandung dan melahirkan PuteraMu, anak Domba yang tidak bercela, yang menghapus dosa-dosa dunia (Yoh.1:29). Kita juga yakin bahwa Allah memilih dia dari semua perempuan untuk menjadi juru biacara (advocata) kita di hadapanMu dan sekaligus juga menjadi pola bagi kekudusan dan kesempurnaan kita. Semuanya ini juga mendatangkan sukacita dan pengharapan bagi kita, dan kita pun terdorong menyanyikan kemuliaanMu, bersama paduan suara para malaekat di surga mulai dari dunia ini dan untuk selama-lamanya.
Bandung, 17 Mei 2010
Diketik kembali sambil dikembangkan, 22 Mei 2010.
Fransiskus Borgias M.
TEOLOG DAN PENELITI CCRS
(Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
Buku Tata Perayaan Ekaristi (TPE) kita menyediakan dua Prefasi Santa Perawan Maria. Yang pertama, diberi judul kecil Bunda Yang Tetap Perawan. Rubrik TPE memberi keterangan sbb: Prefasi ini boleh dipakai dalam Perayaan Ekaristi Santa Maria tetapi dengan menyebutkan secara khusus nama Hari Raya atau pesta atau peringatan yang diselenggarakan pada hari yang bersangkutan. Liturgi gereja mengatakan bahwa salah satu hajatan terkait Santa Perawan Maria menjadi alasan bagi kita untuk selalu bersykur kepada Allah. Mengapa? Mengapa perlu ada alasan mariologis untuk memuji dan memuliakan Allah? Prefasi ini hanya memberi satu alasan atau jawaban saja terhadap pertanyaan tadi, tetapi itu adalah sebuah alasan yang paling kuat dan mendasar. Alasan itu adalah karena ia (Maria) “…telah mengandung Putera Tunggal-Mu karena kuasa Roh Kudus.” Jadi, yang diingat di sini tentu saja ialah peristiwa inkarnasi, yang menjadi mungkin terlaksana karena fiat dari pihak Maria. Lalu ada keterangan lebih lanjuta, bahwa walau pun mengandung, namun ia (Maria) tetap perawan. Hal itu juga diingatkan dalam prefasi ini. Berkat partisipasi dalam rencana ilahi melalui inkarnasi itulah, Maria mampu “memancarkan terang abadi bagi dunia.” Tentu yang disinggung di situ ialah Tuhan Yesus Kristus, yang adalah Lux mundi, Lumen Gentium. Selanjutnya dikatakan bahwa para malaekat di surga memuji keagungan-Mu, dengan pengantaraan Kristus juga; itu juga terjadi bersama dengan segenap kuasa surga. Menyadari hal itu, kita manusia, sementara masih di dunia ini terdorong ikut ambil bagian dalam lagu pujian abadi para malaekat itu di bumi ini.
Prefasi SPM II diberi keterangan kecil sbb: Yang bersahaja dipilih Allah. Rubrik dalam TPE kita memberi keterangan sbb: Prefasi ini boleh dipakai dalam Perayaan Ekaristi Santa Perawan Maria. Lagi-lagi Prefasi ini, seperti halnya prefasi yang pertama tadi, memberi motif mariologis untuk memuji dan memuliakan Allah. Dikatakan di sana: Terutama pada peringatan Santa Perawan Maria ini kami mengagungkan kemurahan-Mu dengan menggemakan lagu pujian. Prefasi ini juga memberi alasan paling mendasar untuk pujian yang bermotif mariologis tsb: Allah telah melakukan satu karya agung sebagai tanda belas kasih Allah yang disaksikan oleh seluruh bumi dan segala jaman; karya agung yang dimaksud itu tidak lain ialah tindakan Allah memilih “Santa Perawan Maria, hamba-Mu yang bersahaja.” Allah Bapa memilih Maria (hamba bersahaja), untuk ikut serta ambil bagian dalam karya penyelamatan (penebusan) umat manusia, melalui peristiwa inkarnasi. Itu sebabnya Prefasi mengatakan bahwa Allah menganugerahkan Penyelamat umat manusia, melalui dia (Maria). Penyelamat itu ialah Yesus Kristus, PuteraMu dan Tuhan kami. Bala tentara malaekat surgawi bersembah sujud memuji Allah, juga dimungkinkan karena peranan kepengantaraan Kristus itu. Itu sebabnya kita manusia di dunia ini dengan penuh semangat dan sukacita ikut serta bergabung dalam kidung pujian abadi para malaekat untuk memuji Allah mulai dari dunia ini hingga selama-lamanya dalam liturgi agung dan abadi di surga kelak.
Perlu saya ingatkan bahwa dalam TPE Indonesia hanya tersedia dua Prefasi SP Maria. Kedua Prefasi itu sudah saya bahas di atas. Tetapi dalam buku pegangan misa harian bahasa Inggris (Week Daily Missal) saya temukan beberapa prefasi lain yang dengan satu dan lain cara terkait atau dikaitkan dengan SP.Maria. Di sana saya temukan tiga Prefasi seperti itu. Terlebih dahulu saya daftarkan prefasi-prefasi yang dimaksud, sesudah itu saya akan uraikan ketiga prefasi itu satu per satu: 1). Prefasi Hari Raya Kabar Sukacita (Annunciatio) yang jatuh pada tanggal 25 Maret. 2). Prefasi Hari Raya Santa Maria Dikandung tanpa Noda Dosa (Immaculata Conceptio), yang jatuh pada tanggal 08 Desember. 3). Prefasi Hari Raya Santa Perawan Maria diangkat ke surga dengan jiwa dan badan (Assumptio), yang jatuh pada tanggal 15 Agustus. Ketiganya termasuk kategori Hari Raya. Setiap tahun kita dapat melihat hal ini dalam dan melalui Kalender Liturgi yang secara rutin dan tekun diterbitkan Komisi Liturgi Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI). Saya coba uraikan dan jelaskan satu per satu prefasi itu menurut tanggal kemunculannya sepanjang tahun.
Saya mulai dengan Prefasi pertama. Ada beberapa kebenaran iman penting yang diwartakan dan dirayakan dalam dan melalui Prefasi Hari Raya Kabar Sukacita ini, yang jatuh setiap tahun tanggal 25 Maret (Sembilan bulan sebelum 25 Desember, Hari Natal, Hari Kelahiran Tuhan Yesus). Prefasi ini dimulai dengan satu alasan Kristologis untuk memuji dan memuliakan Allah yang hidup dan mahakuasa. Lalu gereja mengutarakan keyakinannya bahwa Kristus telah datang untuk menyelamatkan manusia. Hal ini terjadi dengan cara inkarnasi, yaitu Ia sendiri menjelma menjadi manusia. Itulah solidaritas negatif Allah dalam diri Yesus Kristus, menurut istilah P.Cletus Groenen OFM dalam Soteriologi Alkitabiah-nya itu. Misteri inkarnasi itu terjadi karena SP.Maria, yang setelah menerima dan menyetujui kabar dari malaekat dalam iman, lalu mengundang oleh daya kekuatan Roh Kudus dan dengan itu melahirkan PuteraMu dalam cinta termurni. Kemudian kita lihat bahwa misteri Kristus itu dijelaskan dengan dua cara. Pertama, dengan cara dikaitkan dengan sejarah Israel dalam Perjanjian Lama: Gereja yakin bahwa dalam Kristus, sang kebenaran abadi, janji Allah kepada Israel terwujud, terlaksana. Kedua, dengan cara dikaitkan dengan sejarah seluruh umat manusia: gereja juga yakin bahwa dalam Kristus, yang adalah harapan segala bangsa, harapan manusia pun terwujud melampaui apa yang diharapkan dan diduga manusia secara tidak terduga-duga sama sekali. Akhirnya kembali lagi motif Kristologis bagi puja-puji para malaekat di surga yang bersukacita di hadapan hadirat Allah. Kita manusia di dunia ini berharap dapat ikut serta ambil bagian dalam paduan suara malaekat surga itu untuk memuji dan memuliakan Allah hingga selama-lamanya.
Prefasi kedua ialah Prefasi Hari Raya Maria diangkat ke surga dengan jiwa dan badan, yang setiap tahun dirayakan tanggal 15 Agustus. Sebagaimana biasa, Prefasi ini pun dimulai dengan motif kristologis untuk memuji Allah Bapa. Kita mengucap syukur senantiasa kepada Allah Bapa yang hidup dan berkuasa dengan pengantaraan Yesus Kristus Tuhan Kami. Selanjutnya Prefasi ini mengingatkan kita sekalian akan salah satu misteri perayaan iman kita, yaitu bahwa pada hari ini perawan Bunda Allah diangkat ke surga. Pengangkatan ini mempunyai motif eklesiologis, yaitu agar Bunda Maria, dalam martabat kesempurnaannya itu, dapat menjadi awal mula dan sekaligus pola atau model bagi gereja dalam perjalanan dan perkembangannya kepada kesempurnaan. Sekaligus diharapkan agar Bunda Maria dapat menjadi tanda pengharapan dan sumber penghiburan bagi umat yang sedang dalam perjalanan ziarah mereka ke surga. Gereja menyatakan pandangan dan keyakinannya bahwa Allah tidak memperkenankan bahwa tubuhnya termakan oleh kehancuran. Hal itu juga mempunyai dasar kristologis, yaitu bahwa tubuh itu sangat mulia karena ia telah mengandung dan melahirkan PuteraMu, yang adalah Tuhan atau Penguasa atas kehidupan. Hal itu terjadi di dalam kemuliaan dan keagungan peristiwa inkarnasi. Hal itu jelas mendatangkan sukacita dan pengharapan bagi kita semua. Oleh karena itu kita pun terdorong memuji dan memuliakan kemuliaan Allah bersama lagu pujian abadi para malaekat di surga.
Prefasi ketiga ialah prefasi Hari Raya Santa Perawan Maria dikandung tanpa noda dosa, yang setiap tahun dirayakan tanggal 8 Desember (tepat 9 bulan sebelum 9 September, Pesta Kelahiran St.Perawan Maria). Prefasi ini, sebagaimana Prefasi lainnya, dimulai dengan keinginan kita untuk senantiasa memuji dan memuliakan Allah yang hidup dan berkuasa. Hari ini kita merayakan salah satu misteri perayaan Maria dalam gereja, di mana kita yakini bahwa Allah tidak membiarkan noda dosa Adam menyentuh (apalagi merusak) Perawan Maria. Dia itu penuh rahmat, sebagaimana dikatakan malaekat Gabriel itu (Luk.1:28), gratia plena, kekharitome; itu tidak lain karena dia menjadi pantas dan layak menjadi bunda PuteraMu sendiri. Ini semua terjadi sebagai tanda bukti perkenanan Bapa kepada Gereja pada awal mula keberadaannya, dan sekaligus menjadi tanda kesempurnaannya sebagai mempelai Kristus, yang cerlang cemerlang bersinar dalam kecantikannya. Kita yakin bahwa dialah yang termurni di antara perawan, karena dia harus mengandung dan melahirkan PuteraMu, anak Domba yang tidak bercela, yang menghapus dosa-dosa dunia (Yoh.1:29). Kita juga yakin bahwa Allah memilih dia dari semua perempuan untuk menjadi juru biacara (advocata) kita di hadapanMu dan sekaligus juga menjadi pola bagi kekudusan dan kesempurnaan kita. Semuanya ini juga mendatangkan sukacita dan pengharapan bagi kita, dan kita pun terdorong menyanyikan kemuliaanMu, bersama paduan suara para malaekat di surga mulai dari dunia ini dan untuk selama-lamanya.
Bandung, 17 Mei 2010
Diketik kembali sambil dikembangkan, 22 Mei 2010.
Fransiskus Borgias M.
Wednesday, May 19, 2010
PREFASI ROH KUDUS: PENTAKOSTA
OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
TEOLOG DAN PENELITI CCRS
(Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
Dalam TPE kita terdapat tiga Prefasi Roh Kudus. Masing-masing disebut Prefasi Roh Kudus I dan Prefasi Roh Kudus II, Prefasi Roh Kudus III. Kita mulai dengan melihat dan membahas Prefasi Roh Kudus I. Prefasi ini, menurut keterangan dalam rubrik buku TPE kita, dipakai pada Hari Raya Pentakosta. Maka fokusnya dan juga fokus refleksi ini ialah pada Hari Raya Pentakosta tersebut. Sudah ditekankan sejak baris-baris awal, dalam dan melalui Prefasi ini, Gereja menghaturkan puji syukur kepada Allah Bapa yang mahakudus, Allah yang kekal dan kuasa. Alasan yang dikemukakan untuk ucapan syukur itu ialah karena pada hari ini, yaitu Hari Raya Pentakosta, Allah memahkotai perayaan Paskah kita. Jadi, tersirat di sini suatu pandangan bahwa Hari Raya Pentakosta sesungguhnya adalah mahkota (puncak) dari perayaan Paskah. Pada peristiwa puncak ini, Allah Bapa mencurahkan Roh Kudus-Nya kepada umat manusia. Umat itu, dengan demikian, disatukan oleh Bapa dengan Putra Tunggal-Nya, dan sekaligus juga dengan itu mereka diangkat menjadi anak-anakNya.
Selanjutnya disinggung beberapa peran atau karya dari Roh Kudus itu. Secara khusus di sini disinggung mengenai peranan Roh Kudus yang melahirkan Gereja. Ya, Gereja memang lahir pada dan dengan peristiwa Pentakosta itu, sehingga boleh disebut gereja pentakostalis, suatu paham eklesiologis Pentakostalitas. Roh Kudus itu juga yang diyakini Gereja telah dan masih memperkenalkan (mewahyukan misteri Bapa kepada segala bangsa. Akhirnya, secara khusus disinggung juga mengenai peran Roh Kudus itu dalam mempersatukan aneka ragam bahasa dan muara dari ini semua (penyatuan aneka ragam bahasa) ialah pengakuan iman yang sama. Efek penyatuan bahasa itu ada pada tataran efek penyatuan iman yang sama. Saya menyebut hal ini efek teologis. Itulah beberapa pokok yang dapat kita tarik dari Prefasi Roh Kudus I.
Prefasi Roh Kudus II, menurut keterangan dalam rubriknya, boleh dipakai dalam Perayaan Ekaristi votif Roh Kudus. Seperti biasa setiap Prefasi pasti didahului dengan pernyataan puji dan syukur, maka tampak bahwa dalam bagian alasan untuk puji syukur itu, mula-mula disinggung dulu peristiwa misteri Kristologis, yaitu misteri kenaikan. Dikatakan di sana bahwa Kristus telah naik ke surga bahkan melampaui segala langit. Di sana Kristus duduk di sisi kanan Allah Bapa, seperti yang dipersaksikan dalam visiun atau penglihatan yang dialami Stefanus itu (bdk.Kis.8:56). Setelah disinggung mengenai peristiwa kenaikan itu, barulah disinggung mengenai peristiwa turunnya Roh Kudus. Seperti dikatakan dalam injil Yohanes, Roh Kudus baru turun setelah Yesus pergi. Itulah yang kita baca dalam wacana Yohanes ketika Yesus menjanjikan Penolong yang lain (Yoh.14:15-31). Kita mengharapkan hal itu, karena Kristus sendirilah yang telah menjanjikanNya kepada dan bagi kita. Setelah Kristus bertahta dalam tahta misteri Allah Trinitas mahakudus di surga, gereja pun menjadi sangat yakin bahwa Ia mengutus Roh Kudus; di sini dipakai bahasa yang tidak personal (impersonal), yaitu kata kerja mencurahkan. Roh Kudus itu dicurahkan ke dalam hati setiap orang yang telah diangkat oleh Bapa menjadi anak-anakNya. Itulah alasan penting dan paling fundamental untuk memuji Allah bersama para malaekatNya.
Prefasi Roh Kudus III, sebagaimana halnya Prefasi Roh Kudus II, boleh dipakai dalam Perayaan Ekaristi votif Roh Kudus. Pokok kebenaran iman dan paham teologis yang diwartakan di sini ialah keyakinan bahwa Roh Kudus membimbing Gereja. Gereja bersyukur kepada Allah Bapa karena setiap saat Ia memperhatikan keadaan segala makhluk. Itulah yang dalam bahasa resmi teologi disebut Penyelenggaraan Ilahi, atau Providentia Dei. Memang penyelenggeraan Allah itulah yang menjadi prasyarat hidup segala makhluk. Tanpa penyelenggaraan Allah, maka tidak mungkin ada kehidupan bagi segala makhluk di bumi dan alam semesta ini. Selain itu, gereja juga sangat yakin bahwa Allah Bapa membimbing para pemimpin Gereja dengan kebijaksanaan yang menakjubkan. Jadi, ada keyakinan yang tersirat di sini bahwa Allah membimbing Gereja melalui hikmat kebijaksanaan yang dicurahkan kepada para pemimpinnya, sebab hikmat itu memang berasal dari Allah, dan bahkan ia berada pada Allah juga sejak awal mula, sebagaimana disinggung dalam kitab Amsal (Ams.8:22-32; bdk.Kej.1:1; Yoh.1:1). Diyakini juga bahwa Allah Bapa menguatkan umatNya dengan daya kekuatan Roh Kudus. Lalu secara khusus disinggung mengenai karya Roh Kudus itu, yakni membina sikap takwa dan peka terhadap kehendakMu. Jadi, diyakini bahwa sikap takwa dan peka akan Allah adalah hasil karya Roh Kudus. Berkat tuntutan Roh Kudus kita yakin boleh berharap akan dua hal ini: Pertama, bila dalam hidup ini kita mengalami kerisauan, kita boleh berharap pada bantuan Allah; kedua, bila dalam hidup ini kita mengalami kegembiraan, ya, itu kesempatan bagi kita untuk jangan sampai takabur dan lupa diri, melainkan kita harus tahu mengucap syukur dan Roh Kudus juga mengingatkan kita akan dua hal tersebut. Jadi, walau ini adalah prefasi Roh Kudus, tetapi akhirnya hal ini juga bercorak Trinitarian karena mengingatkan akan keberadaan Bapa, Putera, dan Roh Kudus. Allah Trinitas itulah, yang di dalam Kristus diagungkan oleh surga dan bumi bersama seluruh para malaekat, dalam lagu pujian liturgi abadi surgawi.
SELAMAT MENYONGSONG HARI RAYA PENTAKOSTA 2010
SIS B
CCRS FF UNPAR BANDUNG
15 Mei 2010
TEOLOG DAN PENELITI CCRS
(Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
Dalam TPE kita terdapat tiga Prefasi Roh Kudus. Masing-masing disebut Prefasi Roh Kudus I dan Prefasi Roh Kudus II, Prefasi Roh Kudus III. Kita mulai dengan melihat dan membahas Prefasi Roh Kudus I. Prefasi ini, menurut keterangan dalam rubrik buku TPE kita, dipakai pada Hari Raya Pentakosta. Maka fokusnya dan juga fokus refleksi ini ialah pada Hari Raya Pentakosta tersebut. Sudah ditekankan sejak baris-baris awal, dalam dan melalui Prefasi ini, Gereja menghaturkan puji syukur kepada Allah Bapa yang mahakudus, Allah yang kekal dan kuasa. Alasan yang dikemukakan untuk ucapan syukur itu ialah karena pada hari ini, yaitu Hari Raya Pentakosta, Allah memahkotai perayaan Paskah kita. Jadi, tersirat di sini suatu pandangan bahwa Hari Raya Pentakosta sesungguhnya adalah mahkota (puncak) dari perayaan Paskah. Pada peristiwa puncak ini, Allah Bapa mencurahkan Roh Kudus-Nya kepada umat manusia. Umat itu, dengan demikian, disatukan oleh Bapa dengan Putra Tunggal-Nya, dan sekaligus juga dengan itu mereka diangkat menjadi anak-anakNya.
Selanjutnya disinggung beberapa peran atau karya dari Roh Kudus itu. Secara khusus di sini disinggung mengenai peranan Roh Kudus yang melahirkan Gereja. Ya, Gereja memang lahir pada dan dengan peristiwa Pentakosta itu, sehingga boleh disebut gereja pentakostalis, suatu paham eklesiologis Pentakostalitas. Roh Kudus itu juga yang diyakini Gereja telah dan masih memperkenalkan (mewahyukan misteri Bapa kepada segala bangsa. Akhirnya, secara khusus disinggung juga mengenai peran Roh Kudus itu dalam mempersatukan aneka ragam bahasa dan muara dari ini semua (penyatuan aneka ragam bahasa) ialah pengakuan iman yang sama. Efek penyatuan bahasa itu ada pada tataran efek penyatuan iman yang sama. Saya menyebut hal ini efek teologis. Itulah beberapa pokok yang dapat kita tarik dari Prefasi Roh Kudus I.
Prefasi Roh Kudus II, menurut keterangan dalam rubriknya, boleh dipakai dalam Perayaan Ekaristi votif Roh Kudus. Seperti biasa setiap Prefasi pasti didahului dengan pernyataan puji dan syukur, maka tampak bahwa dalam bagian alasan untuk puji syukur itu, mula-mula disinggung dulu peristiwa misteri Kristologis, yaitu misteri kenaikan. Dikatakan di sana bahwa Kristus telah naik ke surga bahkan melampaui segala langit. Di sana Kristus duduk di sisi kanan Allah Bapa, seperti yang dipersaksikan dalam visiun atau penglihatan yang dialami Stefanus itu (bdk.Kis.8:56). Setelah disinggung mengenai peristiwa kenaikan itu, barulah disinggung mengenai peristiwa turunnya Roh Kudus. Seperti dikatakan dalam injil Yohanes, Roh Kudus baru turun setelah Yesus pergi. Itulah yang kita baca dalam wacana Yohanes ketika Yesus menjanjikan Penolong yang lain (Yoh.14:15-31). Kita mengharapkan hal itu, karena Kristus sendirilah yang telah menjanjikanNya kepada dan bagi kita. Setelah Kristus bertahta dalam tahta misteri Allah Trinitas mahakudus di surga, gereja pun menjadi sangat yakin bahwa Ia mengutus Roh Kudus; di sini dipakai bahasa yang tidak personal (impersonal), yaitu kata kerja mencurahkan. Roh Kudus itu dicurahkan ke dalam hati setiap orang yang telah diangkat oleh Bapa menjadi anak-anakNya. Itulah alasan penting dan paling fundamental untuk memuji Allah bersama para malaekatNya.
Prefasi Roh Kudus III, sebagaimana halnya Prefasi Roh Kudus II, boleh dipakai dalam Perayaan Ekaristi votif Roh Kudus. Pokok kebenaran iman dan paham teologis yang diwartakan di sini ialah keyakinan bahwa Roh Kudus membimbing Gereja. Gereja bersyukur kepada Allah Bapa karena setiap saat Ia memperhatikan keadaan segala makhluk. Itulah yang dalam bahasa resmi teologi disebut Penyelenggaraan Ilahi, atau Providentia Dei. Memang penyelenggeraan Allah itulah yang menjadi prasyarat hidup segala makhluk. Tanpa penyelenggaraan Allah, maka tidak mungkin ada kehidupan bagi segala makhluk di bumi dan alam semesta ini. Selain itu, gereja juga sangat yakin bahwa Allah Bapa membimbing para pemimpin Gereja dengan kebijaksanaan yang menakjubkan. Jadi, ada keyakinan yang tersirat di sini bahwa Allah membimbing Gereja melalui hikmat kebijaksanaan yang dicurahkan kepada para pemimpinnya, sebab hikmat itu memang berasal dari Allah, dan bahkan ia berada pada Allah juga sejak awal mula, sebagaimana disinggung dalam kitab Amsal (Ams.8:22-32; bdk.Kej.1:1; Yoh.1:1). Diyakini juga bahwa Allah Bapa menguatkan umatNya dengan daya kekuatan Roh Kudus. Lalu secara khusus disinggung mengenai karya Roh Kudus itu, yakni membina sikap takwa dan peka terhadap kehendakMu. Jadi, diyakini bahwa sikap takwa dan peka akan Allah adalah hasil karya Roh Kudus. Berkat tuntutan Roh Kudus kita yakin boleh berharap akan dua hal ini: Pertama, bila dalam hidup ini kita mengalami kerisauan, kita boleh berharap pada bantuan Allah; kedua, bila dalam hidup ini kita mengalami kegembiraan, ya, itu kesempatan bagi kita untuk jangan sampai takabur dan lupa diri, melainkan kita harus tahu mengucap syukur dan Roh Kudus juga mengingatkan kita akan dua hal tersebut. Jadi, walau ini adalah prefasi Roh Kudus, tetapi akhirnya hal ini juga bercorak Trinitarian karena mengingatkan akan keberadaan Bapa, Putera, dan Roh Kudus. Allah Trinitas itulah, yang di dalam Kristus diagungkan oleh surga dan bumi bersama seluruh para malaekat, dalam lagu pujian liturgi abadi surgawi.
SELAMAT MENYONGSONG HARI RAYA PENTAKOSTA 2010
SIS B
CCRS FF UNPAR BANDUNG
15 Mei 2010
Subscribe to:
Posts (Atom)
PEDENG JEREK WAE SUSU
Oleh: Fransiskus Borgias Dosen dan Peneliti Senior pada FF-UNPAR Bandung. Menyongsong Mentari Dengan Tari Puncak perayaan penti adala...
-
Oleh: Fransiskus Borgias M., (EFBE@fransisbm) Mazmur ini termasuk cukup panjang, yaitu terdiri atas 22 ayat, mengikuti 22 abjad Ib...
-
Oleh: Fransiskus Borgias M. Judul Mazmur ini dalam Alkitab ialah Doa mohon Israel dipulihkan. Judul itu mengandaikan bahwa keadaan Israe...
-
Oleh: Fransiskus Borgias M. Sebagai manusia yang beriman (percaya), kiranya kita semua sungguh-sungguh yakin dan percaya bahwa Tuhan itu...