Thursday, May 13, 2010

MENIKMATI MAZMUR 69

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
TEOLOG DAN PENELITI CCRS
(Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG




Judul mazmur ini menarik: Doa dalam kesesakan. Mazmur ini panjang dan dibagi dalam empat bagian. Bgn I: ay.1-13. Dimulai dengan memohon keselamatan kepada Allah karena kesulitan hidup yang dilukiskan dengan pelbagai metafor ngeri. Ada air yang meninggi sampai ke leher. Ada rawa-rawa dalam, dan tidak ada tempat berpijak atau berpegang. Ada gelombang pasang menghanyutkan (ay.2-3). Ia lukiskan pengalamannya menjadi lesu karena letih berseru. Bahkan kerongkongan kering karena terus berteriak (ay.4). Ia merasa dihimpit musuh yang banyak jumlahnya dan merasa tidak berdaya menghadapi mereka (ay.5). Pemazmur sadar bahwa ia juga pendosa. Maka ia dengan jujur mengakui dosanya (ay.6). Ia minta jangan sampai kasus dia sebagai pendosa menjadi sandungan bagi orang saleh yang taat kepada Allah, seandainya Allah sudi mendengarkan dia (ay.7). Ayat ini sulit. Ay 8 juga sulit: mungkin ini terjadi karena hidup imannya menjadi batu sandungan bagi orang sekitar. Akibatnya ia menjadi terasing dalam keluarga sendiri (ay.9). Seluruh untaian ayat 7-9 yang sulit ini baru bisa dipahami dari perspektif ay.10. Mungkin karena pemazmur lebih banyak menaruh perhatian dan kesibukan bagi rumah Allah sehingga ia jauh bahkan dijauhkan dari sanak saudaranya. Semua tindakan saleh yang ia lakukan justru menjadi cela dan olokan bagi dia. Bahkan ia menjadi buah bibir dan cibiran orang dengan sindiran syair lagu-lagu di ruang publik (gerbang) (ay.11-13). Ini tantangan hidup beriman akan Allah.

Bgn II: ay.14-19. Diakui bahwa ini situasi yang tidak mudah. Maka ia mohon perlindungan dan jalan keluar dari Allah. Ia mohon agar Allah sudi bertindak segera demi kasih setiaNya (ay.14). Ia minta secara kongkret agar Allah segera membebaskan dia dari kesulitan dan kemelut hidup. Lagi-lagi di sini muncul metafor yang disinggung dalam ayat 2-3 (ay.14-16). Bahkan ada metafor baru yaitu tubir dan sumur yang tidak berdasar, simbol hukuman dan sengsara. Dalam ay.17-19, pemazmur minta agar Allah sudi menjawab doanya. Ia sangat berharap pada kasih setia Allah. Ia berharap agar Allah tidak selamanya menyembunyikan wajahNya. Ia mohon agar Allah sudi segera datang untuk membebaskan dia dari segala kesesakan dan kesulitan hidupnya.

Bgn III: ay.20-29. Selanjutnya, ia mengakukan dengan jujur dosanya (ay.20-21). Dosa mendatangkan kesulitan dalam hidupnya: ia dengan sia-sia menantikan belas kasih dan penghiburan karena selama ini ia tidak mendapat semuanya itu. Ia bahkan mendapat racun dan anggur asam (ay.22). Dalam situasi terjepit ia mohon agar Allah sudi bertindak atas mereka (ay.23-26). Memang amat kejam yang ia mohon, tetapi begitulah permohonan orang yang sedang dalam kesulitan besar. Pemazmur sampai pada situasi seperti itu, karena ia merasa sudah mendapat hukuman Allah atas dosa-dosanya, malahan hukuman ilahi itu menjadi berat oleh perlakuan sosial yang ia peroleh dari sesama (ay.27). Maka ia minta kepada Allah agar kesalahan mereka tidak diampuni (ay.28). Ia juga berharap agar ingatan akan mereka hilang lenyap dari sejarah (ay.29).

Bgn IV: ay.30-37. Di sini lagi-lagi ia lukiskan keadaannya yang menyedihkan. Satu-satunya pertolongan yang bisa ia harapkan hanya dari Allah (ay.30). Jika itu semua terjadi, ia berjanji akan memuji Allah dengan nyanyian (ay.31). Ia yakin bahwa pujian jauh lebih baik daripada korban bakaran (ay.32). Ia membesarkan hati orang kecil dan menderita tetapi tetap percaya dan berharap pada Allah karena ia yakin Tuhan akan membebaskan orang kecil yang tertindas yang mohon pertolongan Allah (ay.33-34). Ia akhirnya mengajak seluruh alam semesta dalam lagu pujiannya kepada Allah (ay.35), karena Allah adalah penyelamat (ay.36). Allah akan membangun kembali kota-kota Yehuda, lambang pemulihan. Itu akan menjadi warisan agung dan abadi bagi keturunan mereka untuk selamanya. Yang berdiam di sana adalah orang yang mencintai namaNya (ay.37).


SIS B
CCRS FF UNPAR BANDUNG
12 MEI 2010

MENIKMATI MAZMUR 68

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
TEOLOG DAN PENELITI CCRS
(Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG




Judul mazmur ini menarik: Perarakan Kemenangan Allah. Mazmur ini panjang dan dapat dibagi lima. Bgn I: ay.1-7. Dimulai dengan pelukisan tindakan Allah: Allah bertindak maka para lawanNya hancur berantakan (ay.2). Kehancuran mereka diibaratkan dengan asap yang hilang tertiup angin, lilin yang meleleh karena api (ay.3). Lain sekali nasib orang benar: mereka bersukacita di hadapan Allah (ay.4). Maka pemazmur mengajak kita untuk bernyanyi bagi Allah yang menguasai alam semesta (dilambangkan dengan ungkapan melintasi awan-awan) (ay.5). Allah itu tidak hanya Raja alam Semesta yang bertahta jauh di atas sana. Ia juga menaruh perhatian akan orang miskin, anak yatim dan para janda (ay.6). Perhatian yang amat kongkret. Allah adalah pembebas dan pembela kaum kecil (ay.7). Ia tidak berkenan kepada para pemberontak.

Bgn II: ay.8-19. Dimulai dengan ay.8-9 yang melukiskan kedahsyatan Allah Raja Alam semesta. Seluruh bumi berguncang di hadapan Allah, langit menurunkan hujan. Allah juga bertindak dengan menyelenggarakan musim: Ia mencurahkan hujan sehingga menghidupkan banyak orang, termasuk ternak para gembala sederhana (10-11). Ay.12-19, secara garis besar sekali lagi melukiskan karya penyelenggaraan Allah raja semesta alam yang menyelenggarakan hidup seluruh alam semesta, baik itu dengan menegakkan keadilan dan hukum, mengusir tentara penindas, maupun dengan memberi kemewahan, dan Tuhan berkenan diam di gunungNya yang kudus yaitu Sinai sehingga para bangsa datang menyembah kepadaNya.

Bgn III: ay.20-24. Dimulai dengan ay.20-21 yang melukiskan pengalaman pemazmur akan Allah: Allah itu penyelenggara hidup kita. Dialah keselamatan kita. Ia meluputkan kita dari maut. Inilah segi positif dari pengalaman akan Allah. Ay.23-24, pelukisan segi negatif dari pengalaman akan Allah. Di sini Allah dilihat sebagai penyelamat karena Ia menghancurkan para musuh. Memang bahasanya sangat kejam, mungkin karena diangkat dari bahasa medan perang. Tetapi begitulah pemazmur melukiskan pengalamannya akan Allah. Allah ikut campur tangan dalam peperangan, sehingga mereka mampu mengalahkan musuh.

Bgn IV: ay.25-30. Di sini dilanjutkan dengan imajinasi pemazmur yang coba membayangkan rombongan peziarah yang datang ke Yerusalem (ay.25). Ia melukiskan urutan peziarah itu (ay.26). Tidak lupa dikutip sebagian syair lagu yang kiranya dinyanyikan dalam arakan itu (ay.27). Sebagian kecil dari duabelas suku Israel disebut di sini (ay.28). Mereka juga ikut dalam arak-arakan ke rumah Tuhan. Bagian ini diakhiri dengan permohonan (ay.29-30) agar Allah, demi BaitNya yang Kudus di Yerusalem, kiranya sudi bertindak bagi Israel dengan menunjukkan kekuatan dan kemuliaanNya.

Dalam Bgn V, imajinasi pemazmur lalu kembali ke awal kisah pembebasan dari Mesir dengan menyebut penyeberangan di Laut Teberau. Itu hanya mungkin karena tindakan dan campur tangan Allah (ay.31). Dalam ay.32 disinggung secara sekilas kisah pembebasan itu. Selanjutnya pemazmur mengajak kita untuk bernyanyi memuji Allah dengan mazmur dan kidung (ay.33) karena Allah adalah Raja semesta alam. Tidak ada cara lain bagi kita, selain mengakui kuasa dan kemegahan Allah atas Israel dan atas alam semesta (ay.34). Allah yang megah dan mulia itu dialami dan diyakini berdiam di tempatNya yang kudus di Yerusalem, dan memerintah atas Israel. Allah menjadi sumber kekuatan hidup umatNya. Itu sebabnya pemazmur mengakhiri mazmur ini dengan seruan agung dan meriah: Terpujilah Allah!


SIS B
CCRS FF UNPAR BANDUNG
12 MEI 2010

Wednesday, May 12, 2010

PREFASI KENAIKAN 1 & II

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
DOSEN TEOLOGI DAN PENELITI CCRS
(Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG




Buku Tata Perayaan Ekaristi kita, menyediakan bagi kita dua Prefasi Kenaikan: Prefasi Kenaikan I dan Prefasi Kenaikan II (demikian penyebutan keduanya di sana). Ketika saya coba bandingkan dengan apa yang tersedia dalam Tata Perayaan Ekaristi versi bahasa Inggris, ternyata di sana pun ada dua juga. Dan isinya juga sama karena memang berasal dari teks sumber yang sama dalam bahasa Latin (teks resmi dalam Missale Romanum). Dalam tulisan singkat dan sederhana ini, saya akan mengulas secara singkat isi dari kedua Prefasi Kenaikan itu. Saya mulai dengan prefasi yang pertama.

Di sini dalam Prefasi Kenaikan yang pertama ini, dibentangkan beberapa gelar dan misteri Kristologis. Pertama-tama disebut di sini bahwa Ia adalah sang raja mulia. Jadi, dalam prefasi pertama ini kita merayakan dan sekaligus juga mewartakan martabat Kristus sebagai sang raja mulia. Kedua, dalam status dan martabat itu Ia juga adalah sang Pemenang atas dosa dan maut, karena Ia telah bangkit (di-bangkit-kan) dari alam maut. Hidup tidak lagi tunduk pada kematian. Itulah yang menjadi warta pokok di sini. Dengan kata lain, kematian tidak dapat menguasai dan menghancurkan kehidupan. Hidup bergerak ke atas, gerak transenden, yaitu gerak kembali kepada sang empunya dan asal-muasal kehidupan itu yakni Allah sendiri. Dan sekarang gerak transendensi Kristologis itu semakin tegas dan jelas, karena Ia telah naik ke surga. Naiknya Tuhan Yesus ke surga itu disambut dengan semarak mulia oleh para malaekat di surga. Itulah hal ketiga yang disinggung dalam Prefasi ini. Harus dikatakan dengan terus terang bahwa hal ini tidak kita temukan dalam injil-injil. Ini adalah sebuah imajinasi religius kita (gereja), yang coba membayangkan bagaimana Tuhan Yesus disambut oleh para malaekat di surga. Sebuah lagu Pesta Kenaikan tradisional yang saya hafal dari masa kecil, yang mencoba menyimpan hasil imajinasi saleh-religius itu, berbunyi sbb: “Yesus melayang mulia, naik ke rumah BapaNya. Malaekat datang bertemu, bernyanyi lagu yang merdu. Hosanna, Hosanna, berbunyi di surga, hai bukalah pintu iringi rajamu. Hormatilah Yesus, sembahlah padaNya, yang raja malaekat dilantik BapaNya.”

Sesudah itu, keempat, dibentangkan beberapa gelar Kristologis lagi seperti Pengantara tunggal antara Allah dan manusia. Gelar ini juga mempunyai dasarnya dalam Kitab Suci: Yesus menjadi pengantara Tunggal antara Allah dan manusia (bdk.1Tim.2:5; 1Yoh.2:1). Kelima, juga disebut satu lagi peran kosmis eskatologis Yesus Kristus: Ia adalah Hakim atas dunia, dan Tuhan segala kuasa. Hal ini mengingatkan kita akan kedatangan Sang Anak Manusia di atas awan-awan untuk mengadili dunia ini (Bdk.Mat.25:31-46). Selanjutnya prefasi itu diarahkan kepada Bapa.

Namun perjalanan pulang atau perjalanan naikNya Tuhan Yesus itu tidak serentak berarti kita bakal ditinggalkan sendirian di bumi ini sebagai yatim piatu. Sama sekali tidak demkian. Ia tidak meninggalkan kita manusia yang lemah di dunia ini. Kenaikan itu justru untuk memperkuat dan menghidupkan harapan kita. Apa harapan itu? Kita berharap agar Ia, sebagai kepala dan pokok pangkal Gereja, merintis jalan ke surga bagi kita. Ia naik ke surga untk menyediakan tempat kediaman bagi kita. Itu wajar saja, karena Ia sebagai kepala tidak mungkin meninggalkan kita anggota-anggotaNya merana di dunia ini. Oleh karena itu, Ia pasti akan mengutus Roh Kebenaran. Di sini saya tiba-tiba teringat akan madah Vigilia Pantekosta yang berbunyi sbb: O Raja Mulia, Tuhan yang mahakuasa, jangan biarkan kami, tertinggal bagaikan yatim piatu, tetapi sudilah kiranya, mengutus kepada kami, kebenaran yang dijanjikan Bapa, Alleluia. Ini sebuah terjemahan dari lagu dalam bahasa Latin dalam Liber Usualis: O Rex Gloria, Domine virtutum, qui triumphator hodie, super omnes caelos ascendisti, ne derelinquas nos orphanos: sed mitte promissum Patris in nos, Spiritum veritatis, Alleluya.

Prefasi Kenaikan yang II sangat singkat. Tetapi juga mengandung isi dan kebenaran iman yang padat dan indah. Menarik sekali bahwa prefasi ini, sesudah pengantar yang umum, dimulai dengan pelukisan tentang peristiwa kebangkitan dari alam maut. Lalu sesudah itu Ia menampakkan diri kepada para murid. Akhirnya Ia diangkat ke surga, dengan disaksikan oleh para murid. Jelas sekali bahwa untaian peristiwa seperti ini sangat dipengaruhi oleh Injil Lukas dan Kisah Para Rasul (bdk.Luk24; Kis.1:6-11; Mrk.16:9-20). Tetapi sama seperti dalam Prefasi yang pertama di atas tadi, tujuan Tuhan Yesus naik ke surga bukanlah untuk pemisahan total dari kita, dan meninggalkan kita di dunia ini merana dan berkeluh kesah dalam lembah tangisan ini, melainkan Ia pergi (naik) untuk “mencurahkan kepada kita daya kehidupanNya yang ilahi.” Itu jelas memantulkan apa yang pernah dikatakan Tuhan Yesus sendiri dalam Injil Yohanes ketika Ia menjanjikan Roh Kudus, Roh Penghibur itu (bdk.Yoh.14). Di sana antara lain dikatakan bahwa Roh itu akan membawa hidup dan kebenaran bagi mereka. Itulah yang disinggung di sini dalam Prefasi yang kedua ini. Dan itulah misteri peristiwa pencurahan Roh Kudus, yang sekarang kita nantikan dengan penuh harapan pada Hari Raya Pentakosta nanti yang sebentar lagi akan kita masuki dan kita rayakan. Ya, kita yakin dan percaya bahwa Tuhan Yesus pergi untuk mengutus Roh Kudus kepada kita.


Bandung, 07 Mei 2009
Diketik sambil dikembangkan lagi, 09 Mei 2009

Thursday, May 6, 2010

ORIGINAL BLESSING VS ORIGINAL SIN

Oleh: Fransiskus Borgias M.
Dosen Teologi FF-UNPAR Bandung
Peneliti CCRS (Center for Cultural and Religious Studies) pada FF-UNPAR



Pada tahun 1984 terbitlah sebuah buku di Amerika sana, dengan judul yang sangat indah dan menarik, sekaligus juga sangat menantang atau lebih tepat provokatif: Original Blessing. Saya katakan menarik, karena memang judul itu secara objektif sangat menarik. Menarik juga karena judul itu serta merta mengingatkan kita akan konsep atau gagasan Original Sin atau Dosa Asal yang mahaterkenal itu dalam sejarah Gereja dan sejarah Teologi, khususnya teologi Keselamatan (Soteriologi). Kalau dilihat dengan cara seperti ini langsung dan dalam konteks seperti itu, terasa dan kelihatan bahwa judul itu memang sangat provokatif. Buku itu ditulis oleh seorang teolog Dominikan yang bernama Matthew Fox. Ketika itu, ia masih seorang Imam. Saya tidak tahu lagi, apakah ia masih dalam status seperti itu setelah kemudian ia dilarang mengajar. Tetapi justru karena buku itulah ia kemudian diawasi dan dilarang untuk mengajar teologi. Bahkan beberapa buku hasil karyanya juga dilarang oleh Vatikan.

Tetapi pertanyaan kritis yang muncul ialah: mengapa ia dilarang? Itu tidak lain karena dalam buku itu ia mengajukan sebuah tesis teologis berikut ini, dan tesis itu bersifat sangat mendasar: bahwa pada awalnya hidup segala makhluk di dunia (termasuk manusia di dalamnya) dimulai dengan fakta original blessing belaka. Bahkan hidup itu sendiri adalah sebuah karunia, sebuah berkat, sebuah rahmat, blessing. Hidup dilandasi oleh kasih karunia dan rahmat dari Allah, Tuhan sang pencipta dan pengasal kehidupan itu. Kalau selama ini gereja Katolik selalu berbicara tentang original sin, bahkan terasa seperti menjadi obsesif juga dengan hal itu, maka Fox mencoba mengingatkan dan membangunkan kita dari sebuah tidur dan mimpi teologis yang teramat panjang: yaitu bahwa sebelum ada Original Sin sudah ada terlebih dahulu Original Blessing. Boleh dikatakan bahwa Original Blessing itu menjadi struktur dasar seluruh ciptaan, seluruh eksistensi manusia juga. Dalam bukunya itu, Fox dengan gigih membela dan mempertahankan kebenaran tesis teologisnya ini.

Untuk membuktikan visi dan keyakinannya itu, Fox mengajak kita membuka Kitab Suci. Tidak dapat disangkal oleh siapapun juga bahwa wacana tentang Original Sin itu baru muncul dalam Bab 3 Kitab Kejadian. Sedangkan wacana tentang Original Blessing itu sudah muncul dan ada sejak awal (Bab 1 Kitab Kejadian). Dalam Kejadian 1 itu dikisahkan bahwa Allah menciptakan segala sesuatu dengan baik adanya dan juga dengan amat baik (superlatif). Itulah rahmat asali itu: yaitu fakta dan kondisi keterciptaan segala makhluk ciptaan dalam keadaan baik dan amat baik. Dan itu pun berdasarkan evaluasi dari Allah sendiri: Allah melihat bahwa semuanya baik adanya, dan tentang manusia dikatakan bahwa Allah melihat bahwa semuanya sungguh amat baik. Tetapi rahmat asali (original blessing) itu sudah rusak akibat dosa manusia, manusia yang jatuh ke dalam dosa. Itulah inti pokok kisah dalam Kejadian 3. Peristiwa itulah yang sering disebut Dosa Asal, peristiwa kejatuhan manusia ke dalam dosa, The Fall. Tetapi fakta perusakan dan kejatuhan itu sama sekali tidak pernah membatalkan untaian dan struktur ontologis eksistensi ciptaan, yaitu bahwa ciptaan mempunyai struktur dasar Original Blessing. Justru karena pendapatnya inilah ia dihukum dan dilarang.

Mengapa sampai terjadi demikian? Tentu saja hanya Vatikan yang tahu jawabnya secara pasti. Tetapi saya mencoba membuat hipotesis jawaban berikut ini. Mungkin karena dibelakang teologi Original Sin ini ada nama besar sekaliber Agustinus. Agustinus ini, kita tahu, adalah orang yang mengembangkan teologi Original Sin sampai mencakup teologi penebusan dan inkarnasi. Tetapi harus segera disadari pula bahwa inkarnasi tetap akan terjadi walau tidak ada dosa. Sebab inkarnasi tidak lain adalah merupakan efek dari pancaran cinta kasih Allah, daripada sebagai akibat dosa belaka. Maka setiap ajaran yang tampaknya seperti mau menggerogoti dan membayang-bayangi teologi Original Sin ini, akan sedapat mungkin disingkirkan. Tidak hanya teologinya yang disingkirkan, melainkan juga teolog atau orangnya. Ajaran Agustinus ini mengenai Dosa Asal, sudah masuk dan mengendap juga dalam ajaran Konsili Trente sehubungan dengan pembenaran atau justifikasi itu (sebuah tema yang menjadi pokok kontroversi besar antara Protestantisme dan Katolik). Jadi, yang dihadapi teologi Original Blessing tidak lagi hanya sekadar seorang teolog besar, melainkan juga sebuah ajaran resmi Konsili mengenai penyelamatan dan pembenaran itu sendiri.

Bandung, 30 Januari 2010
Ditulis sambil dikembangkan lagi pada 07 Mei 2010

Saturday, April 17, 2010

MENDALAMI DAN MENIKMATI MAZMUR 67

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M
PENELITI CCRS:
CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES FF-UNPAR BANDUNG



Judul mazmur ini dalam Alkitab kita amat menarik: Nyanyian syukur karena segala berkat Allah. Mazmur ini sangat pendek, hanya 8 ayat.

Mazmur ini diawali dengan sebuah doa yang semoga sudah sangat terkenal dan semoga juga sangat akrab di telinga kita karena sering dipakai sebagai syair lagu (ay.2). Misalnya: May God be gracious to us and bless us and make his face to shine upon us. Bagi orang yang akrab dengan tradisi Fransiskan kiranya akrab juga dengan mazmur ini sebab mazmur ini dipakai Fransiskus Asisi sebagai berkat kepada siapa saja, juga untuk Bruder Leo, salah satu dari tiga sahabatnya yang paling awal. Ya, hanya kasih dan berkat Allah yang memungkinkan kita bisa hidup di dunia ini.

Si pemazmur berharap agar dengan tindakan penyelenggaraan penuh kasih setia itu, jalan dan keselamatan Allah dikenal di seluruh bumi, di kalangan para bangsa (ay.3). Lebih lanjut diharapkan juga agar lewat pengenalan akan kasih setia dan keselamatan Allah itu, para bangsa bisa datang kepadaNya untuk menghaturkan syukur (ay.4). Dalam ay.5 ajakan untuk para bangsa agar sudi datang menghaturkan syukur masih dilanjutkan. Tetapi sekaligus juga di sini diberikan alasan atas syukur itu: Yakni “....karena Engkau memerintah bangsa-bangsa dengan adil.....”

Sedemikian dalamnya rasa syukur itu, sehingga masih diteruskan dalam ay.6. Ya, syukur dan pujian kepada Allah memang tidak pernah boleh berhenti atau berakhir. Dan syukur itu harus dilambungkan oleh segala makhluk ciptaan, oleh segala bangsa dan segala kaum yang ada di muka bumi ini.

Akhirnya, dalam ay.7-8, syukur itu dikaitkan dengan pengalaman hidup agraris. Kalau yang di atas tadi, mungkin lebih banyak dikaitkan dengan pengalaman hidup politis, maka yang sekarang ini, si pemazmur mengarahkan perhatian pada dasar dari hidup yaitu pertanian, hidup agraris. Ia kini mendasarkan pujian dan syukurnya kepada Allah karena Allah itu juga ternyata telah menyelanggarakan pertanian: Tanah telah memberi hasilnya; Allah, Allah kita, memberkati kita. Ini suatu pengalaman yang unik. Tuhan memberkati kita melalui dan karena tanah. Mungkin kita perlu belajar lagi intuisi kosmik purba ini, terutama kita yang sudah jauh dari tanah karena teknologi telah begitu jauh mengasingkan kita dari bumi.

Sekali lagi, di ay.8 si pemazmur mengungkapkan keyakinannya bahwa Allah memberkati kita. Maka ia merasa bahwa Allah sang penyelenggara hidup itu tidak cukup hanya dipuji oleh dia seorang saja, melainkan harus dipuji oleh segala makhluk sampai di ujung bumi. Segala ujung bumi hendaknya takut akan Dia.


BANDUNG, 16 APRIL 2010
SIS B
CCRS (CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES)
FACULTY OF PHILOSOPHY, CATHOLIC UNIVERSITY OF PARAHYANGAN BANDUNG.

MENDALAMI DAN MENIKMATI MAZMUR 66

Oleh: Fransiskus Borgias M.
PENELITI CCRS:
CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES FF-UNPAR


Judul mazmur ini amat menarik: Nyanyian syukur karena orang Israel tertolong. Mazmur ini cukup panjang, 20 ayat. Ia dapat dibagi empat: Pertama, ay.1-4. Kedua, ay.5-12. Ketiga, ay.13-15. Keempat, ay.16-20. Mazmur ini dikupas menurut unit-unit tersebut.

Bgn I, dimulai dengan ajakan untuk bersorak-sorailah bagi Allah. Bahkan seluruh bagian ini adalah ajakan untuk memuji dan memuliakan Allah (ay.1-2), ajakan untuk sujud menyembah Allah (ay.4). Alasan untuk semua ini terungkap dengan jelas dalam ay.3: pemazmur mengalami secara sangat nyata betapa agung dan dahsyatnya segala pekerjaan Allah. Secara paling nyata dan konkret tindakan itu tampak dalam penyelamatan dari para musuh.

Dalam Bgn II, kita diajak Pemazmur untuk secara lebih rinci dan konkret melihat dan menyaksikan seluruh karya Allah di muka bumi; seluruh bumi menampakkan jejak kedahsyatan dan keagungan Allah (ay.5). Ay.6 mengingatkan kita akan tindakan dan karya agung Allah tatkala menyeberangkan orang Israel di Laut Merah dan dengan itu menyelamatkan mereka dari cengkeraman orang Mesir. Pemazmur terkenang akan salah satu mukjizat historis dalam hidup Israel. Mukjizat pembebasan, sebuah pengalaman paling mendasar dalam hidup orang Israel. Bahasa kerennya, root experience atau foundational experience. Atas dasar pengalaman itulah dalam ay.6c-7 pemazmur mengajak kita untuk bersukacita karena Dia, dan terutama karena Allah tetap memerintah dan mengatur dunia ini untuk selamanya, mengatur perilaku para bangsa agar tidak sewenang-wenang, sehingga mentalitas pemberontak tidak dapat berkutik lagi. Ajakan Pujian itu dilanjutkan dalam ay.8, yang diberikan alasannya dalam ay.9, karena Allah itu telah menyelamatkan jiwa mereka. Seluruh untaian pujian ini adalah ungkapan suasana kelegaan dan kelepasan setelah sekian lama ada pencobaan dan pengujian. Itulah yang coba dilukiskan dalam ay.10-12: Ada pengujian dan proses pemurnian (ay.10), bahkan ada situasi terjeblos dalam jaring musuh (ay.11), dan ada juga situasi penindasan dan pengujian lewat api dan air (ay.12). Tetapi puncak ay.12 ialah situasi pembebasan, penyelamatan, kelegaan: Engkau telah mengeluarkan kami sehingga bebas.

Dalam Bgn III, sebagaimana biasa, setelah mengalami karya agung Allah yang menyelamatkan, si pemazmur melunasi nazarnya di Bait Allah dengan membawa korban bakaran (ay.13-14), sebab nazar memang harus dilunasi agar tidak kualat. Itu sudah menjadi sumpah hidup dan mati. Secara rinci ay.15 melukiskan jenis korban yang dipersembahkan pemazmur. Pokoknya, sebagai luapan dan ungkapan rasa syukurnya, ia mau memberi yang terbaik sebagai persembahan kepada Allah di BaitNya yang kudus.

Dalam Bgn IV, kita dengar sekali lagi pemazmur berkisah tentang pengalaman penyelamatannya itu. Rupanya ketika ia mempersembahkan korban bakaran banyak orang hadir. Di hadapan hadirin itulah ia mengisahkan lagi seluruh pengalaman hidupnya (ay.16-17). Ia bersaksi tentang pengalamannya akan Allah. Ia juga bersaksi bahwa ia tidak berdusta dengan semuanya ini. Kalau ia berdusta pasti Allah tidak mengabulkan doa dan permohonannya selama ini (ay.18). Sebaliknya, ia mempunyai pengalaman yang lain sama sekali, yaitu bahwa Allah telah mendengarkan doanya (ay.19). Maka tidak ada sikap dan kata-kata lain yang lebih tepat daripada memuji dan memuliakan Alah: “Terpujilah Allah, yang tidak menolak doaku dan tidak menjauhkan kasih setia-Nya dari padaku.”


BANDUNG, 16 APRIL 2010
SIS B
PENELITI CCRS: CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES FF-UNPAR BANDUNG)

Saturday, April 3, 2010

MELEWATI KEGELAPAN MALAM

Oleh: Fransiskus Borgias M.

Sekarang sudah Sabtu Suci. Sebentar lagi upacara malam Paskah akan tiba. Kebetulan saya mendapat tugas bernyanyi pada malam pukul 20.30, bersama Paduan Suara Kami Lucretia, salah satu paduan suara yang bagus di kota Bandung (dari Paroki Santo Martinus). Itulah Ekaristi Malam Paskah. Bagi kami warga Paroki Santo Martinus, Ekaristi malam ini sangat khusus karena ada 14 baptisan, ada 11 orang yang diterima dalam pangkuan persekutan Gereja Katolik, dan ada beberapa orang yang menerima Komuni pertama. Semuanya berlangsung dengan khikmat dan mengharukan.

Ya, setiap kali malam Paskah tiba aku selalu menantikan dengan penuh harap upacara lilin Paskah. Itu adalah sebuah kerinduan dan pengharapan yang sudah saya rasakan sejak aku masih kanak-kanak dan masih tetap hidup hingga aku sudah dewasa sekarang ini. Sekarang malam sudah gelap. Gereja sudah gelap. Umat yang hadir sangat banyak. Tetapi hening. Sebuah perpaduan yang indah: Gelap dan ada keheningan walau ada banyak umat yang hadir. Di depan gereja, yang ada hanya nyala api unggun, yang menurut tradisi liturgis lama harus dibuat dari api alam (lambang dari sebuah eksistensi baru, hidup baru, ciptaan baru). Dari api itulah akan diambil nyala untuk menyalakan lilin Paskah. Bagi saya upacara itu sangat mengesankan. Di tengah gelap malam itu lilin Paskah ditandai dengan lima paku, lambing lima luka Yesus sambil disebutkan beberapa gelar Kristologis: Alpha dan Omega.

Setelah itu diadakan perjalanan lilin Paskah melintasi gereja yang gelap. Bagi saya itu sangat indah. Sungguh sangat mengesankan. Sebuah simbolisme penuh makna. Yesus masuk, melintasi lembah maut, yang dilambangkan dengan kegelapan. Pada saat itulah imam yang membawa lilin Paskah itu menyanyikan lagu dengan lantang: Lumen Christi. Dan setiap kali dijawab umat Deo Gratias. Itu dinyanyikan tiga kali dan setiap kali dengan nada yang lebih tinggi, dengan nada-nada yang menaik. Bagi saya itu adalah perlambang gerak eksistensi transenden hidup manusia. Eksistensi transenden itu dilambangkan dengan bunyi, dengan suara, dengan nada, dengan suara manusia. Puncak atau wujud gerak transendensi itu ialah peristiwa kebangkitan, munculnya sebuah kehidupan baru. Setelah melintasi di dalam kegelapan, cahaya lilin itu mulai menyebar ke seluruh penjuru gereja yang gelap. Dari satu lilin utama, yaitu lilin Paskah, menjadi ratusan lilin (tergantung dari umat yang hadir) yang semuanya mulai bernyala. Sebuah pemandangan yang sangat indah. Akhirnya Gereja mulai menjadi terang lagi oleh nyala ratusan lilin yang dipegang oleh masing-masing umat yang hadir. Setelah itu lilin Paskah ditahtakan pada tiang mimbang yang telah disiapkan sebelumnya secara khusus. Paling baik, kalau tiang itu dihias dengan hiasan yang mewah, pokoknya harus luar biasa, harus istimewa, sebab pada Hari ini Tuhan bertindak, maka mari kita rayakan dengan gembira.

Lalu tampillah seorang penyanyi, yang akan menyanyikan Exultet, madah paskah itu. Madah Paskah itu adalah salah satu lagu yang paling aku sukai dalam hidupku, mulai ketika aku masih kecil sampai sekarang ini. Beberapa penggal awal lagu itu diakhiri dengan kata-kata berikut ini: Gemakanlah dengan bangga Paskah Raya. Lalu umat menyambung dengan sangat meriah dan semangat: Bersoraklah, nyanyikan lagu gembira, bagi Kristus, yang menebus kita, bersyukurlah kepada Allah, kita bangkit bersama Kristus. (Waktu saya kecil: Teks ini dimulai dengan kata-kata, “Tepuk tangan….”. Sebab salah satu ekspresi rasa sorak dan gembira ialah dengan menari-nari dan bertepuk tangan; di beberapa tempat teks seperti ini masih dipertahankan). Menarik sekali bahwa menurut lagu ini, yang kita rayakan bukan lagi hanya peristiwa kebangkitan Kristus saja, melainkan juga kebangkitan kita sendiri. Kita bangkit bersama Kristus. Kita tidak akan mati lagi. Kita mulai sebuah eksistensi baru. Itulah keyakinan iman kita: Kita dibangkitkan bersama dengan kebangkitan Kristus. Suatu saat aku mau mencoba secara khusus menelaah teologi yang terkandung dalam lagu itu. Semoga aku tidak lupa melakukan tugas dan niat yang suci ini.

Bandung, 03 April 2010.
Ditulis kembali sambil diperluas pada pagi 04 April 2010.
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Peneliti CCRS (Center for Cultural and Religious Studies) FF-UNPAR BANDUNG

PEDENG JEREK WAE SUSU

Oleh: Fransiskus Borgias Dosen dan Peneliti Senior pada FF-UNPAR Bandung. Menyongsong Mentari Dengan Tari  Puncak perayaan penti adala...