Oleh: Fransiskus Borgias M.
Hari ini sudah Sabtu Suci. Jum’at Agung sudah lewat. Ia sudah menjadi hari kemarin. Ia sudah menjadi kenangan di dalam ingatan. Itu berarti sengsara Tuhan Kita Yesus Kristus sudah berlalu. Ia sudah turun ke tempat penantian. Tetapi hari Minggu Paskah, Hari Kebangkitan masih akan datang besok. Ia masih di dalam sebuah penantian. Jadi, Sabtu Suci itu adalah sebuah situasi antara: sengsara dan maut sudah berlalu, tetapi cahaya optimism kebangkitan belum terjadi.
Adalah teolog Swiss yang bernama Hans Urs von Balthasar (yang dikagumi oleh Paus Benediktus XVI), yang mencoba mengangkat Sabtu Suci ini sebagai sebuah simbolisme untuk menyebut dan sekaligus mengibaratkan hidup orang Kristiani di dunia ini. Dalam bukunya Mysterium Pasquale, ia kurang lebih mengatakan bahwa hidup orang Kristiani itu paling baik dan paling tepat dilukiskan dengan memakai simbolisme Sabtu Suci itu, yaitu sebuah situasi antara. Orang Kristiani, menurut Balthasar, hidup dalam sebuah tegangan situasi antara. Mana situasi antara itu? Sengsara dan maut sudah lewat. Dan sekarang seluruh hidup kita disemangati oleh pengharapan akan cahaya kebangkitan dan hidup kekal di dalam dan bersama dengan Tuhan. Tetapi sedemikian kuatnya situasi pengharapan itu sehingga ia mampu mewarnai dan menyemangati seluruh hidup kita sekarang dan di sini. Bayang-bayang belenggu penderitaan, sengsara, dan maut sudah tidak lagi sangat menghimpit hidup dan kesadaran kita, karena total hidup kita kini seluruhnya berorientasi pada pengharapan.
Itulah sebabnya Kisah Kisah Sengsara Jum’at Agung kemarin harus diambil dari injil Yohanes, sebab kisah sengsara yang ada di sana adalah kisah sengsara yang mulia, yang lebih diwarnai oleh percikan-percikan cahaya kebangkitan dan kemuliaan daripada oleh kegelapan maut itu sendiri.
Dari kemarin saya sudah menulis tentang lamentasi. Maka saya berencana mau menulis syair lagu-lagu lamentasi berdasarkan perspektif pengharapan dan kebangkitan itu. Mungkin dalam rangka itu saya akan berusaha mencari dan menggali simbolisme-simbolisme dan analogi alam sebagai ilustrasi untuk syair-syair lagu itu. Saya hanya berharap, semoga saya bisa berhasil di dalam mewujud-nyatakan hal itu. Niat ini saya kuatkan dalam hati saya, agar syair lagu-lagu lamentasi untuk Sabtu Suci sedikit berbeda atau dibedakan dari syair dua hari terdahulu. Mengapa harus berbeda? Karena ini sebuah situasi antara, sebuah situasi penantian dan situasi pengharapan. Memang cahaya kebangkitan belum terjadi, tetapi sebentar lagi ia akan terjadi. Dan bayang-bayang bahwa hal itu sebentar lagi akan terjadi, kiranya harus membawa suasana penghayatan yang lain bagi ibadat dan syair lagu-lagu lamentasi itu.
Bandung, 03 April 2010
Fransiskus Borgias M.
canticum solis adalah blogspot saya untuk pendalaman dan diskusi soal-soal filosofis, teologis, spiritualitas dan yang terkait. Kalau berkenan mohon menulis kesan atau komentar anda di bagian akhir dari artikel yang anda baca. Terima kasih... canticum solis is my blog in which I write the topics on philosophy, theology, spiritual life. If you don't mind, please give your comment or opinion at the end of any article you read. thanks a lot.....
Friday, April 2, 2010
LAMENTASI JUM'AT AGUNG
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Aku mau, pada pagi hari ini, sebelum jalan salib, mengadakan ibadat Lamentasi. Tetapi itu tidak mungkin aku lakukan karena hal itu tidak banyak dikenal umat. Maka saya mau mengadakan ibadat lamentasi itu dengan mencoba menuliskan sesuatu tentang hal ini di Blog dan Facebook saya. Inti Ibadat Lamentasi itu sesungguhnya ada tiga. Pertama, mengenang sengsara Tuhan kita Yesus Kristus. Pekan Suci juga dikenal dengan sebutan lainyaitu Pekan Sengsara, sebab dalam seluruh pekan ini kita diajak oleh bunda Gereja untuk mengenangkan sengsara Tuhan. Kedua, sesungguhnya dengan mengenang, gereja sekaligus juga mengundang kita semua untuk ikut serta merasakan sedikit pedih dan perihnya sengsara Tuhan itu. Yang pertama, saya sebut saja memoria. Sedangkan yang kedua, saya sebut saja partisipasi. Ketiga, dengan ibadat ini kita mengingatkan diri kita sendiri akan dosa-dosa kita. Semoga akhirnya kita bisa menjadi sadar bahwa ternyata dosa-dosa kita itu mempunyai efek yang sangat dahsyat jahat dan negerinya. Tidak hanya dulu. Bahkan sekarang pun kebenaran itu tetap berlaku sama juga.
Tetapi bagaimana cara kita melakukan ibadat Lamentasi itu? Intinya adalah pengenangan dramati dengan memainkan simbolisasi cahaya lilin yang dipadukan dengan syair-syair dan nada-nada lagu ratapan (lamentasi). Dalam rangka itu harus ada atau dibuat sebuah kaki lilin berbentuk segitiga. Pada masing-masing kedua sisi segitiga sama kali itu dipasang enam buah lilin. Ada juga yang memasang duabelas lilin. Di puncaknya ada satu lilin utama. Kalau bisa, lilin utama di puncak segitiga itu harus lebih besar. Jadi, jumlah total lilin bisa 13 atau 25. Sebaiknya 13 saja, sebab itu menggambarkan jumlah dari pada murid bersama Yesus. Tetapi kalau 25 itulah kelipatan dari jumlah duabelas murid. Waktu pemadaman lilin biasanya yang berjumlah 25 lilin ini dipadamkan dua-dua.
Seperti sudah dikatakan sebelumnya, seluruh upacara adalah terdiri atas nyanyian-nyanyian. Ada refrain utama ulangan yang diselingi dengan ayat-ayat. Setiap sesudah ayat-ayat tertentu satu atau dua lilin dipadamkan. Itu adalah simbol dari perginya para murid satu per satu, meninggalkan Yesus sendirian dalam duka, derita, sengsara dan mautNya. Bahkan si murid yang ditunjuk sebagai batu karang pun akhirnya menyangkal Yesus juga. Dramatisasi pemadaman ini diharapkan mengingatkan kita akan diri kita sendiri yang selalu ada kemungkinan untuk tidak setia pada iman, setia pada tuhan kita Yesus Kristus. Selalu ada kemungkinan yang sangat nyata bagi kita untuk berdosa dan dengan itu kita menjauhkan diri dari Tuhan.
Setelah semua lilin samping dipadamkan semua ayat lamentasi pun sudah selesai. Dengan itu upacara lamentasi juga selesai. Lilin di puncak segitiga itu dibiarkan bernyala sendirian dan itu melambangkan Tuhan Yesus yang mencoba berkanjang dan berjuang di dalam penderitaan dan kesusahanNya. Ya, kita semua tahu bahwa Yesus sendirian di taman Getsemani, menanggung duka dan deritaNya. Itulah yang mau dipentaskan dengan lilin yang bernyala sendirian itu. Lilin itu baru dipadamkan di luar upacara, alias setelah upacara itu selesai.
SIS B
PENELITI CCRS (Center for Cultural and Religious Studies) FF-UNPAR BANDUNG
Bandung, 03 April 2010
Aku mau, pada pagi hari ini, sebelum jalan salib, mengadakan ibadat Lamentasi. Tetapi itu tidak mungkin aku lakukan karena hal itu tidak banyak dikenal umat. Maka saya mau mengadakan ibadat lamentasi itu dengan mencoba menuliskan sesuatu tentang hal ini di Blog dan Facebook saya. Inti Ibadat Lamentasi itu sesungguhnya ada tiga. Pertama, mengenang sengsara Tuhan kita Yesus Kristus. Pekan Suci juga dikenal dengan sebutan lainyaitu Pekan Sengsara, sebab dalam seluruh pekan ini kita diajak oleh bunda Gereja untuk mengenangkan sengsara Tuhan. Kedua, sesungguhnya dengan mengenang, gereja sekaligus juga mengundang kita semua untuk ikut serta merasakan sedikit pedih dan perihnya sengsara Tuhan itu. Yang pertama, saya sebut saja memoria. Sedangkan yang kedua, saya sebut saja partisipasi. Ketiga, dengan ibadat ini kita mengingatkan diri kita sendiri akan dosa-dosa kita. Semoga akhirnya kita bisa menjadi sadar bahwa ternyata dosa-dosa kita itu mempunyai efek yang sangat dahsyat jahat dan negerinya. Tidak hanya dulu. Bahkan sekarang pun kebenaran itu tetap berlaku sama juga.
Tetapi bagaimana cara kita melakukan ibadat Lamentasi itu? Intinya adalah pengenangan dramati dengan memainkan simbolisasi cahaya lilin yang dipadukan dengan syair-syair dan nada-nada lagu ratapan (lamentasi). Dalam rangka itu harus ada atau dibuat sebuah kaki lilin berbentuk segitiga. Pada masing-masing kedua sisi segitiga sama kali itu dipasang enam buah lilin. Ada juga yang memasang duabelas lilin. Di puncaknya ada satu lilin utama. Kalau bisa, lilin utama di puncak segitiga itu harus lebih besar. Jadi, jumlah total lilin bisa 13 atau 25. Sebaiknya 13 saja, sebab itu menggambarkan jumlah dari pada murid bersama Yesus. Tetapi kalau 25 itulah kelipatan dari jumlah duabelas murid. Waktu pemadaman lilin biasanya yang berjumlah 25 lilin ini dipadamkan dua-dua.
Seperti sudah dikatakan sebelumnya, seluruh upacara adalah terdiri atas nyanyian-nyanyian. Ada refrain utama ulangan yang diselingi dengan ayat-ayat. Setiap sesudah ayat-ayat tertentu satu atau dua lilin dipadamkan. Itu adalah simbol dari perginya para murid satu per satu, meninggalkan Yesus sendirian dalam duka, derita, sengsara dan mautNya. Bahkan si murid yang ditunjuk sebagai batu karang pun akhirnya menyangkal Yesus juga. Dramatisasi pemadaman ini diharapkan mengingatkan kita akan diri kita sendiri yang selalu ada kemungkinan untuk tidak setia pada iman, setia pada tuhan kita Yesus Kristus. Selalu ada kemungkinan yang sangat nyata bagi kita untuk berdosa dan dengan itu kita menjauhkan diri dari Tuhan.
Setelah semua lilin samping dipadamkan semua ayat lamentasi pun sudah selesai. Dengan itu upacara lamentasi juga selesai. Lilin di puncak segitiga itu dibiarkan bernyala sendirian dan itu melambangkan Tuhan Yesus yang mencoba berkanjang dan berjuang di dalam penderitaan dan kesusahanNya. Ya, kita semua tahu bahwa Yesus sendirian di taman Getsemani, menanggung duka dan deritaNya. Itulah yang mau dipentaskan dengan lilin yang bernyala sendirian itu. Lilin itu baru dipadamkan di luar upacara, alias setelah upacara itu selesai.
SIS B
PENELITI CCRS (Center for Cultural and Religious Studies) FF-UNPAR BANDUNG
Bandung, 03 April 2010
RINDU LAMENTASI KAMIS PUTIH
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Setiap kali Kamis Putih datang, saya selalu merindukan Ibadat Lamentasi. Ibadat ini sangat biasa kami lakukan di Flores selama trihari suci. Biasanya ibadat itu dilakukan pagi hari hari. Pada masa Sekolah Dasar, hal itu sering kami lakukan di Paroki. Kebetulan tempat bapa saya mengajar adalah pusat Paroki. Pastor Parokinya adalah Pastor SVD dari Hungaria yang pandai menyanyi dan betul memberi perhatian pada kesemarakan liturgi lewat cara perayaan dan pembawaannya. Waktu di masa Sekolah Dasar itu, saya ingat dengan baik bahwa teks ibadat Lamentasi itu diambil dari Kitab Ratapan, dari mana nama ibadat itu berasal, Lamentatio (Latin), artinya ratapan. Saya ingat baik bahwa seluruh teks itu dibawakan dengan dinyanyikan. Saat itu, teksnya tersedia dalam tiga bahasa: Latin, Indonesia, Manggarai. Pernah beberapa kali saya dengar para guru SD menyanyikan versi Latin itu ketika aku masih kecil. Aku terkesima dan terpesona mendengar syair lagu yang bunyinya indah walau asing, karena tidak dalam bahasa ibuku. Tetapi terasa indah. Entah mengapa? Para guru itu membawakannya dengan kelompok paduan suara yang dibentuk untuk itu. Mereka menyanyikan hal itu dengan penuh semangat dan penghayatan. Sebagai anak kecil saya merasakan hal itu ada pada mereka, terpancar dari wajah dan bahkan suara mereka.
Pernah juga ketika masih kecil saya mendengar lagu lamentasi itu dalam bahasa Indonesia. Tetapi yang paling aku ingat ialah teks lagu itu dalam bahasa Manggarai. Beginilah pengantarnya: Wangkan tilir di Yeremias propheta. Artinya: Inilah permulaan ratapan nabi Yeremia. Kemudian dalam perkembangannya kata propheta itu diterjemahkan menjadi nabi nggeluk, yang artinya,nabi kudus, sehingga seluruh teks pembuka itu ada dalam bahasa Manggarai. Sungguh luar biasa dan mengagumkan. Refrein tetapnya (ayat ulangan) setelah pembuka itu ialah berupa seruan kepada Yerusalem agar bertobat. Beginilah kira-kira bunyinya: Yerusalem, Yerusalem, kole one agu Mori Kraeng de hau. (Yerusalem, Yerusalem, kembalilah pada Tuhan Allahmu). Pengantar dan refrain ayat ulangan itu masih saya ingat dengan sangat baik sampai sekarang. Sayang saya lupa syair-syair solois-nya yang sangat indah dalam teks terjemahan Manggarainya. Saya berniat mencari lagi naskah yang sangat berharga ini.
Ketika sudah masuk di Seminari Pius XII Kisol, teks lagu lamentasi sudah agak lain. Fokus refleksi adalah dosa kita yang aktual saat ini: Dosaku, dosaku, betapa kejinya, jiwa, pulanglah, pulanglah, pulang kepada Tuhanmu. Atau versi lain: Jahatlah dosamu manusia, jahatlah dosamu manusia, pulanglah, pulanglah kau pada Tuhanmu. Jadi, fokusnya ialah dosa kita yang nyata saat ini dan di sini. Kita diajak untuk menyadari keji dan jahatnya dosa kita. Beberapa syair solo, diambil dari adengan Injil: Tercekik antara pedihnya luka-luka, pada tubuh dan jiwa. Dahagaku menjadi-jadi, Aku diberi minum empedu dan cuka. NyawaKu tiada disayangi, dengan pedih aku dibuang, dan dihitung, di antara penjahat. Itulah beberapa potong syair yang masih saya ingat.
Ya, aku rindu akan itu semua sekarang ini. Semoga suatu saat saya bersama teman-teman bisa memperkenalkan ibadat yang indah ini ke beberapa tempat di Bandung ini. Itu menjadi keinginan dan harapan saya.
SIS B
PENELITI CCRS (Center for Cultural and Religious Studies) FF-UNPAR BANDUNG
01 APRIL 2010
Diketik kembali hari ini 02 April 2010
Setiap kali Kamis Putih datang, saya selalu merindukan Ibadat Lamentasi. Ibadat ini sangat biasa kami lakukan di Flores selama trihari suci. Biasanya ibadat itu dilakukan pagi hari hari. Pada masa Sekolah Dasar, hal itu sering kami lakukan di Paroki. Kebetulan tempat bapa saya mengajar adalah pusat Paroki. Pastor Parokinya adalah Pastor SVD dari Hungaria yang pandai menyanyi dan betul memberi perhatian pada kesemarakan liturgi lewat cara perayaan dan pembawaannya. Waktu di masa Sekolah Dasar itu, saya ingat dengan baik bahwa teks ibadat Lamentasi itu diambil dari Kitab Ratapan, dari mana nama ibadat itu berasal, Lamentatio (Latin), artinya ratapan. Saya ingat baik bahwa seluruh teks itu dibawakan dengan dinyanyikan. Saat itu, teksnya tersedia dalam tiga bahasa: Latin, Indonesia, Manggarai. Pernah beberapa kali saya dengar para guru SD menyanyikan versi Latin itu ketika aku masih kecil. Aku terkesima dan terpesona mendengar syair lagu yang bunyinya indah walau asing, karena tidak dalam bahasa ibuku. Tetapi terasa indah. Entah mengapa? Para guru itu membawakannya dengan kelompok paduan suara yang dibentuk untuk itu. Mereka menyanyikan hal itu dengan penuh semangat dan penghayatan. Sebagai anak kecil saya merasakan hal itu ada pada mereka, terpancar dari wajah dan bahkan suara mereka.
Pernah juga ketika masih kecil saya mendengar lagu lamentasi itu dalam bahasa Indonesia. Tetapi yang paling aku ingat ialah teks lagu itu dalam bahasa Manggarai. Beginilah pengantarnya: Wangkan tilir di Yeremias propheta. Artinya: Inilah permulaan ratapan nabi Yeremia. Kemudian dalam perkembangannya kata propheta itu diterjemahkan menjadi nabi nggeluk, yang artinya,nabi kudus, sehingga seluruh teks pembuka itu ada dalam bahasa Manggarai. Sungguh luar biasa dan mengagumkan. Refrein tetapnya (ayat ulangan) setelah pembuka itu ialah berupa seruan kepada Yerusalem agar bertobat. Beginilah kira-kira bunyinya: Yerusalem, Yerusalem, kole one agu Mori Kraeng de hau. (Yerusalem, Yerusalem, kembalilah pada Tuhan Allahmu). Pengantar dan refrain ayat ulangan itu masih saya ingat dengan sangat baik sampai sekarang. Sayang saya lupa syair-syair solois-nya yang sangat indah dalam teks terjemahan Manggarainya. Saya berniat mencari lagi naskah yang sangat berharga ini.
Ketika sudah masuk di Seminari Pius XII Kisol, teks lagu lamentasi sudah agak lain. Fokus refleksi adalah dosa kita yang aktual saat ini: Dosaku, dosaku, betapa kejinya, jiwa, pulanglah, pulanglah, pulang kepada Tuhanmu. Atau versi lain: Jahatlah dosamu manusia, jahatlah dosamu manusia, pulanglah, pulanglah kau pada Tuhanmu. Jadi, fokusnya ialah dosa kita yang nyata saat ini dan di sini. Kita diajak untuk menyadari keji dan jahatnya dosa kita. Beberapa syair solo, diambil dari adengan Injil: Tercekik antara pedihnya luka-luka, pada tubuh dan jiwa. Dahagaku menjadi-jadi, Aku diberi minum empedu dan cuka. NyawaKu tiada disayangi, dengan pedih aku dibuang, dan dihitung, di antara penjahat. Itulah beberapa potong syair yang masih saya ingat.
Ya, aku rindu akan itu semua sekarang ini. Semoga suatu saat saya bersama teman-teman bisa memperkenalkan ibadat yang indah ini ke beberapa tempat di Bandung ini. Itu menjadi keinginan dan harapan saya.
SIS B
PENELITI CCRS (Center for Cultural and Religious Studies) FF-UNPAR BANDUNG
01 APRIL 2010
Diketik kembali hari ini 02 April 2010
Monday, March 15, 2010
MENDALAMI DAN MENIKMATI MAZMUR 65
OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
PENELITI CCRS (CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES)
FF-UNPAR BANDUNG.
Judul mazmur ini dalam Alkitab amat menarik: Nyanyian Syukur karena berkat Allah. Judul ini menjadi warna dasar mazmur ini. Itu sebabnya ia mulai dengan lagu pujian kepada Allah. Mazmur ini secara garis besar dapat dibagi menjadi tiga bagian. Ini perlu untuk memudahkan kita memahami dan menikmatinya. Bagian pertama, meliputi ayat 1-5. Bagian kedua, meliputi ayat 6-9. Bagian ketiga, meliputi ayat 10-14.
Bagian I: Intinya ialah seruan pemazmur kepada Allah. Di sini ada pelukisan mengenai Allah yang mendengarkan doa (ay.2-3). Juga ada pelukisan tentang Allah maha pengampun dosa. Juga ada gambaran atau metafor tentang dosa sebagai beban yang menghimpit, tetapi Allah mengangkatnya sehingga si pendosa pun terbebaskan (ay.3-4). Di hadapan pengalaman akan Allah seperti itu, pemazmur menyatakan pengamatannya berupa sebuah pelukisan mengenai orang yang dipanggil Allah untuk mendiami baitNya yang kudus. Ada bayangan yang indah dan suci bahwa mereka itu akan bahagia dan hidup makmur (disimbolkan dengan kekenyangan, ay.5).
Bagian II: Pelukisan mengenai tindakan Allah yang lebih jauh dan lebih rinci atas hidup manusia. Ada efek kosmis dari tindakan dan karya Allah, dari kehadiran Allah. Berikut ini beberapa rinciannya. Mula-mula dalam ay.6 pemazmur menyatakan bahwa Allah menanggapi keadaan hidup manusia dengan perbuatan-perbuatan ajaib dan dengan keadilan. Itu sebabnya Allah itu menjadi kepercayaan seluruh ujung bumi dan pulau-pulau yang jauh (ay.6). Kekuatan dan keperkasaan Allah dilukiskan lebih jauh dengan mengatakan bahwa Dia-lah yang menegakkan gunung-gunung (ay.7). Hal yang sama juga ditampakkan dengan melukiskan Allah sebagai pengendali daya-daya gelombang laut (ay.8). Di hadapan tanda-tanda kosmis ini muncul dua reaksi yaitu takut dan sorak-sorai (ay.9). Ketakutan yang dimaksud di sini ialah ketakutan yang suci, alias takwa.
Bagian III: Sebenarnya melanjutkan tema Bagian II. Intinya melukiskan tindakan dan karya Allah dalam alam ini. Yang mencolok di sini ialah beberapa metafora yang sangat indah dan menarik. Pertama, ada sebuah gambaran tentang Allah sebagai yang mengatur sistem pertanian (ay.10-12): Tanah dijadikannya subur sehingga menghasilkan panenan melimpah. Itu terjadi karena sungai (batang air) melimpah (ay.10). Gambaran Allah “pertanian” semakin kentara dalam ay.11, karena di sana dilukiskan bahwa Allah ikut campur-tangan dalam proses membajak tanah dan menyuburkannya. Hasil dari itu semua ialah kesuburan dan kelimpahan (ay.12). Bahkan jejak Allah pun “mengeluarkan lemak.” Dalam ay.13-14 ada metafora yang indah mengenai tanah padang gurun, mengenai bukit yang berikat-pinggang sorak-sorai, mengenai padang rumput yang berbusana kawanan kambing-domba, mengenai lembah yang berselimut gandum. Itu semua adalah lambang kesuburan dan kemakmuran hidup pertanian dan para gembala.
Memang di hadapan orang yang penuh rasa syukur, di hadapan mata hati dan mata iman orang yang tahu bersyukur, segala sesuatu tampak seperti penuh kegiarangan dan sorak-sorai. Bahkan alam pun tampak seperti bersorak-sorai kegirangan. Secara psikologis hal ini bisa dijelaskan dengan gejala proyeksi. Sebuah pengalaman internal psikologis seseorang seakan dilontarkan keluar, sehingga sebuah sukacita rohani seakan tampak juga di luar sana secara objektif. Tetapi ingat pengalaman negatif juga bisa diproyeksi dengan cara yang sama. Hanya yang kita temukan dan alami sekarang ini ialah sebuah proyeksi pengalaman rohani dan psikologis yang positif.
BANDUNG, 15 MARET 2010
SIS B, CCRS FF-UNPAR BANDUNG
PENELITI CCRS (CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES)
FF-UNPAR BANDUNG.
Judul mazmur ini dalam Alkitab amat menarik: Nyanyian Syukur karena berkat Allah. Judul ini menjadi warna dasar mazmur ini. Itu sebabnya ia mulai dengan lagu pujian kepada Allah. Mazmur ini secara garis besar dapat dibagi menjadi tiga bagian. Ini perlu untuk memudahkan kita memahami dan menikmatinya. Bagian pertama, meliputi ayat 1-5. Bagian kedua, meliputi ayat 6-9. Bagian ketiga, meliputi ayat 10-14.
Bagian I: Intinya ialah seruan pemazmur kepada Allah. Di sini ada pelukisan mengenai Allah yang mendengarkan doa (ay.2-3). Juga ada pelukisan tentang Allah maha pengampun dosa. Juga ada gambaran atau metafor tentang dosa sebagai beban yang menghimpit, tetapi Allah mengangkatnya sehingga si pendosa pun terbebaskan (ay.3-4). Di hadapan pengalaman akan Allah seperti itu, pemazmur menyatakan pengamatannya berupa sebuah pelukisan mengenai orang yang dipanggil Allah untuk mendiami baitNya yang kudus. Ada bayangan yang indah dan suci bahwa mereka itu akan bahagia dan hidup makmur (disimbolkan dengan kekenyangan, ay.5).
Bagian II: Pelukisan mengenai tindakan Allah yang lebih jauh dan lebih rinci atas hidup manusia. Ada efek kosmis dari tindakan dan karya Allah, dari kehadiran Allah. Berikut ini beberapa rinciannya. Mula-mula dalam ay.6 pemazmur menyatakan bahwa Allah menanggapi keadaan hidup manusia dengan perbuatan-perbuatan ajaib dan dengan keadilan. Itu sebabnya Allah itu menjadi kepercayaan seluruh ujung bumi dan pulau-pulau yang jauh (ay.6). Kekuatan dan keperkasaan Allah dilukiskan lebih jauh dengan mengatakan bahwa Dia-lah yang menegakkan gunung-gunung (ay.7). Hal yang sama juga ditampakkan dengan melukiskan Allah sebagai pengendali daya-daya gelombang laut (ay.8). Di hadapan tanda-tanda kosmis ini muncul dua reaksi yaitu takut dan sorak-sorai (ay.9). Ketakutan yang dimaksud di sini ialah ketakutan yang suci, alias takwa.
Bagian III: Sebenarnya melanjutkan tema Bagian II. Intinya melukiskan tindakan dan karya Allah dalam alam ini. Yang mencolok di sini ialah beberapa metafora yang sangat indah dan menarik. Pertama, ada sebuah gambaran tentang Allah sebagai yang mengatur sistem pertanian (ay.10-12): Tanah dijadikannya subur sehingga menghasilkan panenan melimpah. Itu terjadi karena sungai (batang air) melimpah (ay.10). Gambaran Allah “pertanian” semakin kentara dalam ay.11, karena di sana dilukiskan bahwa Allah ikut campur-tangan dalam proses membajak tanah dan menyuburkannya. Hasil dari itu semua ialah kesuburan dan kelimpahan (ay.12). Bahkan jejak Allah pun “mengeluarkan lemak.” Dalam ay.13-14 ada metafora yang indah mengenai tanah padang gurun, mengenai bukit yang berikat-pinggang sorak-sorai, mengenai padang rumput yang berbusana kawanan kambing-domba, mengenai lembah yang berselimut gandum. Itu semua adalah lambang kesuburan dan kemakmuran hidup pertanian dan para gembala.
Memang di hadapan orang yang penuh rasa syukur, di hadapan mata hati dan mata iman orang yang tahu bersyukur, segala sesuatu tampak seperti penuh kegiarangan dan sorak-sorai. Bahkan alam pun tampak seperti bersorak-sorai kegirangan. Secara psikologis hal ini bisa dijelaskan dengan gejala proyeksi. Sebuah pengalaman internal psikologis seseorang seakan dilontarkan keluar, sehingga sebuah sukacita rohani seakan tampak juga di luar sana secara objektif. Tetapi ingat pengalaman negatif juga bisa diproyeksi dengan cara yang sama. Hanya yang kita temukan dan alami sekarang ini ialah sebuah proyeksi pengalaman rohani dan psikologis yang positif.
BANDUNG, 15 MARET 2010
SIS B, CCRS FF-UNPAR BANDUNG
MENDALAMI DAN MENIKMATI MAZMUR 64
OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M
PENELITI CCRS (CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES)
FF-UNPAR BANDUNG
Judul mazmur ini amat menarik: Hukum Allah kepada orang fasik. Itulah inti Mazmur ini. Dengan singkat mazmur ini melukiskan relasi unik antar manusia, tetapi relasi itu berada dalam bingkai relasi unik dengan Allah. Untuk memahami mazmur ini, kita bagi dalam tiga bagian. Bagian I: ay.2-7. Bagian II: ay.8-9. Bagian III: ay.10-11. Saya coba membahas dinamika isi tiga bagian itu berturut-turut di bawah ini.
Saya mulai dengan Bgn I. Karena Mazmur ini berbicara tentang relasi unik dalam hidup manusia, maka mazmur ini dalam ayat 2 dimulai dengan doa. Pemazmur memanjatkan doa permohonan kepada Allah, agar Allah sudi mendengarkan dan mengabulkan doa dan permohonannya. Ia meminta perlindungan Allah melawan musuh yang ngeri (ay.2). Ia memohon agar Allah sudi menyembunyikan dia dari rancangan jahat para musuhnya (ay.3).
Selanjutnya ia melukiskan secara rinci rencana jahat musuh itu. Secara pars pro toto, ia memakai salah satu alat tutur terpenting manusia: lidah. Lidah adalah alat tutur, alat bahasa, alat relasi, alat komunikasi. Tanpa lidah, orang susah berbicara. Bahkan tidak ada bahasa verbal. Mungkin itu sebabnya dalam beberapa bahasa kata lidah itu sama dengan bahasa. Lidah adalah bahasa, bahasa adalah lidah. Tetapi di sini lidah itu dipakai dalam arti negatif. Lidah itu bak pedang bermata dua. Sekarang pedang itu diasah tetapi bukan untuk membangun relasi dan komunikasi, melainkan untuk “membidikkan kata-kata yang pahit seperti panah”, panah yang menusuk, melukai, mungkin panah beracun yang mematikan (ay.4). Dan yang diincar ialah orang tulus. Orang-orang jahat melakukan niat jahatnya secara tersembunyi, dan menyerang dengan tiba-tiba (ay.5). Sungguh jahat.
Dalam ay.6 sikap dan perbuatan jahat si musuh dilukiskan lebih jauh. Maksud dan rencana jahat itu mungkin sudah melekat kuat dalam diri mereka, sehingga tidak mudah terlepas/dilepaskan. Rencana jahat itu seakan sudah lengket pada diri dan hidup mereka. Itu sebabnya dalam ay.6 dikatakan “Mereka berpegang teguh pada maksud yang jahat.” Yang mereka omongkan tidak lain hanya rencana jahat, memasang perangkap di tempat tersembunyi, dan itu mereka berani lakukan karena menduga tidak ada yang bakal bisa melihatnya. Memang orang jahat, hanya merancang yang jahat dan pelbagai kecurangan (ay.7). Memang, dalamnya hati orang tidak ada yang bisa tahu.
Kita sampai pada Bgn II: Ternyata Allah yang berada di tempat yang tersembunyi tidak tidur. Gusti ora sare, kata orang Jawa. Ia maha melihat, Sang Hyang Widi, mahatahu, Omnisceient (tahu dan lihat erat terkait satu sama lain). Allah itulah pembela orang saleh, orang benar. Orang jahat merancang dengan tembakan panah, Allah menembak mereka duluan, sehingga mereka terluka tanpa sebab yang jelas (ay.8). Lidah yang mereka pakai untuk merancang kejahatan, sekarang menyebabkan mereka tergelincir. Tragis sekali: tergelincir karena lidah sendiri (ay.9).
Akhirnya Bgn III: Atas tindakan dan perbuatan Allah itu, orang benar dan saleh hidupnya, alias orang yang takut akan Allah, orang jujur, akan bersukacita (ay.10-11). Di sini disebutkan tiga kategori orang yang benar di hadapan Allah. Mereka akan memberitakan perbuatan ajaib Allah. Mereka akan mengakui karyaNya yang agung. Dan mereka akan semakin percaya dan berlindung pada penyelenggaraan Allah. Keajaiban Allah berefek positif atas perkembangan hidup iman, kasih, dan harapan orang beriman.
BANDUNG, 15 MARET 2010
SIS B, CCRS FF-UNPAR BANDUNG.
PENELITI CCRS (CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES)
FF-UNPAR BANDUNG
Judul mazmur ini amat menarik: Hukum Allah kepada orang fasik. Itulah inti Mazmur ini. Dengan singkat mazmur ini melukiskan relasi unik antar manusia, tetapi relasi itu berada dalam bingkai relasi unik dengan Allah. Untuk memahami mazmur ini, kita bagi dalam tiga bagian. Bagian I: ay.2-7. Bagian II: ay.8-9. Bagian III: ay.10-11. Saya coba membahas dinamika isi tiga bagian itu berturut-turut di bawah ini.
Saya mulai dengan Bgn I. Karena Mazmur ini berbicara tentang relasi unik dalam hidup manusia, maka mazmur ini dalam ayat 2 dimulai dengan doa. Pemazmur memanjatkan doa permohonan kepada Allah, agar Allah sudi mendengarkan dan mengabulkan doa dan permohonannya. Ia meminta perlindungan Allah melawan musuh yang ngeri (ay.2). Ia memohon agar Allah sudi menyembunyikan dia dari rancangan jahat para musuhnya (ay.3).
Selanjutnya ia melukiskan secara rinci rencana jahat musuh itu. Secara pars pro toto, ia memakai salah satu alat tutur terpenting manusia: lidah. Lidah adalah alat tutur, alat bahasa, alat relasi, alat komunikasi. Tanpa lidah, orang susah berbicara. Bahkan tidak ada bahasa verbal. Mungkin itu sebabnya dalam beberapa bahasa kata lidah itu sama dengan bahasa. Lidah adalah bahasa, bahasa adalah lidah. Tetapi di sini lidah itu dipakai dalam arti negatif. Lidah itu bak pedang bermata dua. Sekarang pedang itu diasah tetapi bukan untuk membangun relasi dan komunikasi, melainkan untuk “membidikkan kata-kata yang pahit seperti panah”, panah yang menusuk, melukai, mungkin panah beracun yang mematikan (ay.4). Dan yang diincar ialah orang tulus. Orang-orang jahat melakukan niat jahatnya secara tersembunyi, dan menyerang dengan tiba-tiba (ay.5). Sungguh jahat.
Dalam ay.6 sikap dan perbuatan jahat si musuh dilukiskan lebih jauh. Maksud dan rencana jahat itu mungkin sudah melekat kuat dalam diri mereka, sehingga tidak mudah terlepas/dilepaskan. Rencana jahat itu seakan sudah lengket pada diri dan hidup mereka. Itu sebabnya dalam ay.6 dikatakan “Mereka berpegang teguh pada maksud yang jahat.” Yang mereka omongkan tidak lain hanya rencana jahat, memasang perangkap di tempat tersembunyi, dan itu mereka berani lakukan karena menduga tidak ada yang bakal bisa melihatnya. Memang orang jahat, hanya merancang yang jahat dan pelbagai kecurangan (ay.7). Memang, dalamnya hati orang tidak ada yang bisa tahu.
Kita sampai pada Bgn II: Ternyata Allah yang berada di tempat yang tersembunyi tidak tidur. Gusti ora sare, kata orang Jawa. Ia maha melihat, Sang Hyang Widi, mahatahu, Omnisceient (tahu dan lihat erat terkait satu sama lain). Allah itulah pembela orang saleh, orang benar. Orang jahat merancang dengan tembakan panah, Allah menembak mereka duluan, sehingga mereka terluka tanpa sebab yang jelas (ay.8). Lidah yang mereka pakai untuk merancang kejahatan, sekarang menyebabkan mereka tergelincir. Tragis sekali: tergelincir karena lidah sendiri (ay.9).
Akhirnya Bgn III: Atas tindakan dan perbuatan Allah itu, orang benar dan saleh hidupnya, alias orang yang takut akan Allah, orang jujur, akan bersukacita (ay.10-11). Di sini disebutkan tiga kategori orang yang benar di hadapan Allah. Mereka akan memberitakan perbuatan ajaib Allah. Mereka akan mengakui karyaNya yang agung. Dan mereka akan semakin percaya dan berlindung pada penyelenggaraan Allah. Keajaiban Allah berefek positif atas perkembangan hidup iman, kasih, dan harapan orang beriman.
BANDUNG, 15 MARET 2010
SIS B, CCRS FF-UNPAR BANDUNG.
Monday, February 15, 2010
MENDALAMI DAN MENIKMATI MAZMUR 63
Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransisbm)
PENELITI CCRS (CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES) FF-UNPAR BANDUNG
Judul mazmur ini dalam Alkitab kita amat menarik: Kerinduan kepada (akan) Allah. Judul itu menyiratkan adanya relasi unik antara manusia dan Allah. Relasi unik itulah yang coba dibentangkan dan direnungkan dalam mazmur ini. Pasti relevan juga dengan penghayatan iman kita sekarang ini. Untuk memahaminya kita membagi mazmur ini menjadi dua bagian. Bagian I, ayat 1-9. Bagian II, ayat 10-12. Isi dari masing-masing bagian akan ditinjau secara dinamis di bawah ini.
Dalam ayat 2, ia mulai dengan seruan kepada Allah, suatu pengakuan iman bahwa Allah-nya dia adalah Allah itu, bukan yang lain. Suatu relasi eksklusif tersirat di sini. Ia mencari, merindukan dan mendambakan Allah yang itu saja. Dengan bahasa metafor-antropologis yang sangat kuat dan eksistensial ia melukiskan kerinduan jiwanya akan Allah dengan pengalaman kehausan. Orang yang pernah haus tahu betapa ia merindukan air segar. Ia mengalami kerinduan itu dalam tubuh dan jiwa, total dan eksistensial sekali kerinduan itu. Ia ibaratkan kerinduan itu seperti tanah kering dan tandus merindukan air. Dalam ay 3 ia memakai metafor itu untuk melukiskan hubungan unik dan intens antara dirinya dan Allah. Ia hanya berharap pada Allah, dan kata harapan itu tertuang dalam kata kerja “memandang” kepada Allah yang hidup dan berdiam di tempat kudus. Ia memandang kepada Allah karena ia merasa bahwa kasih setia Allah lebih baik dari pada hidup (sebuah ungkapan dan perbandingan yang susah diterangkan dan dipahami). Karena itu ia akan senantiasa memuliakan Allah dengan bibirnya (pars pro toto).
Ia mau memuji Allah sepanjang hidupnya. Ia mau bersaksi tentang Allah dengan seluruh tubuh dan keberadaannya (ay 5). Bibirnya tiada hentinya memuji dan memuliakan Allah, karena dalam ay 6 ia mempunyai pengalaman kepuasan rohani yang diibaratkannya dengan makanan nikmat dari lemak dan sumsum. Tidak ada lagi waktu yang dilewatkan pemazmur tanpa berpikir tentang Tuhan. Seluruh hidupnya diisi oleh ingatan, kenangan akan kehadiran Tuhan, akan tindakan Tuhan dalam hidupnya. Baik waktu tidur, maupun di waktu jaga malam, ia selalu teringat akan Tuhan. Tuhan itu selama ini telah menjadi penolong hidupnya. Atas dasar itu ia bersorak-sorai dalam naungan rasa aman Tuhan. Tidak ada lagi yang harus dirisaukannya. Relasi intim dan intens pemazmur dan Allah diungkapkan dengan bahasa yang kuat dalam ayat 9 yaitu seakan-akan jiwanya melekat pada Allah. Tidak ada lagi yang lain yang diingat dan dipikirkan jiwanya, selain tentang Allah. Relasi kedekatan dan intens itu diungkapkan dengan bahasa antropologis dua kekasih yang biasanya memeluk kekasihnya dengan tangan kanannya dan mencoba memperagakan bahasa dialogal dengan tangan kirinya.
Lalu menyusul bagian kedua yang sangat singkat (dibandingkan dengan bagian pertama tadi). Di sini ia melukiskan nasib dari orang yang merencanakan kejahatan terhadap dirinya. Mereka ini akan mengalami tiga nasib tragis sbb: menjadi penghuni syeol, mati terbunuh mata pedang, dan menjadi mangsa dan makanan anjing hutan atau serigala. Berbeda dengan hal itu, nasib raja (sosok ini tiba-tiba muncul di sini, mungkin ini juga adalah doa dan harapan untuk raja) akan selamat. Ia dilindungi Allah dan dalam lindungan Allah itu ia bersukacita. Orang yang mengandalkan Allah dalam hidupnya akan megah dan berjaya. Sebaliknya para pendusta akan dibungkam. Karena itu, mereka tidak akan bisa berbuat apa-apa lagi dengan mulut mereka, misalnya mencaci-maki, mengumpat, dan mencela. Itu semua tidak bakal terjadi lagi, karena mulut mereka sudah dibungkam.
Bandung, 15 Februari 2010
SIS B (CCRS, FF-UNPAR BANDUNG)
PENELITI CCRS (CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES) FF-UNPAR BANDUNG
Judul mazmur ini dalam Alkitab kita amat menarik: Kerinduan kepada (akan) Allah. Judul itu menyiratkan adanya relasi unik antara manusia dan Allah. Relasi unik itulah yang coba dibentangkan dan direnungkan dalam mazmur ini. Pasti relevan juga dengan penghayatan iman kita sekarang ini. Untuk memahaminya kita membagi mazmur ini menjadi dua bagian. Bagian I, ayat 1-9. Bagian II, ayat 10-12. Isi dari masing-masing bagian akan ditinjau secara dinamis di bawah ini.
Dalam ayat 2, ia mulai dengan seruan kepada Allah, suatu pengakuan iman bahwa Allah-nya dia adalah Allah itu, bukan yang lain. Suatu relasi eksklusif tersirat di sini. Ia mencari, merindukan dan mendambakan Allah yang itu saja. Dengan bahasa metafor-antropologis yang sangat kuat dan eksistensial ia melukiskan kerinduan jiwanya akan Allah dengan pengalaman kehausan. Orang yang pernah haus tahu betapa ia merindukan air segar. Ia mengalami kerinduan itu dalam tubuh dan jiwa, total dan eksistensial sekali kerinduan itu. Ia ibaratkan kerinduan itu seperti tanah kering dan tandus merindukan air. Dalam ay 3 ia memakai metafor itu untuk melukiskan hubungan unik dan intens antara dirinya dan Allah. Ia hanya berharap pada Allah, dan kata harapan itu tertuang dalam kata kerja “memandang” kepada Allah yang hidup dan berdiam di tempat kudus. Ia memandang kepada Allah karena ia merasa bahwa kasih setia Allah lebih baik dari pada hidup (sebuah ungkapan dan perbandingan yang susah diterangkan dan dipahami). Karena itu ia akan senantiasa memuliakan Allah dengan bibirnya (pars pro toto).
Ia mau memuji Allah sepanjang hidupnya. Ia mau bersaksi tentang Allah dengan seluruh tubuh dan keberadaannya (ay 5). Bibirnya tiada hentinya memuji dan memuliakan Allah, karena dalam ay 6 ia mempunyai pengalaman kepuasan rohani yang diibaratkannya dengan makanan nikmat dari lemak dan sumsum. Tidak ada lagi waktu yang dilewatkan pemazmur tanpa berpikir tentang Tuhan. Seluruh hidupnya diisi oleh ingatan, kenangan akan kehadiran Tuhan, akan tindakan Tuhan dalam hidupnya. Baik waktu tidur, maupun di waktu jaga malam, ia selalu teringat akan Tuhan. Tuhan itu selama ini telah menjadi penolong hidupnya. Atas dasar itu ia bersorak-sorai dalam naungan rasa aman Tuhan. Tidak ada lagi yang harus dirisaukannya. Relasi intim dan intens pemazmur dan Allah diungkapkan dengan bahasa yang kuat dalam ayat 9 yaitu seakan-akan jiwanya melekat pada Allah. Tidak ada lagi yang lain yang diingat dan dipikirkan jiwanya, selain tentang Allah. Relasi kedekatan dan intens itu diungkapkan dengan bahasa antropologis dua kekasih yang biasanya memeluk kekasihnya dengan tangan kanannya dan mencoba memperagakan bahasa dialogal dengan tangan kirinya.
Lalu menyusul bagian kedua yang sangat singkat (dibandingkan dengan bagian pertama tadi). Di sini ia melukiskan nasib dari orang yang merencanakan kejahatan terhadap dirinya. Mereka ini akan mengalami tiga nasib tragis sbb: menjadi penghuni syeol, mati terbunuh mata pedang, dan menjadi mangsa dan makanan anjing hutan atau serigala. Berbeda dengan hal itu, nasib raja (sosok ini tiba-tiba muncul di sini, mungkin ini juga adalah doa dan harapan untuk raja) akan selamat. Ia dilindungi Allah dan dalam lindungan Allah itu ia bersukacita. Orang yang mengandalkan Allah dalam hidupnya akan megah dan berjaya. Sebaliknya para pendusta akan dibungkam. Karena itu, mereka tidak akan bisa berbuat apa-apa lagi dengan mulut mereka, misalnya mencaci-maki, mengumpat, dan mencela. Itu semua tidak bakal terjadi lagi, karena mulut mereka sudah dibungkam.
Bandung, 15 Februari 2010
SIS B (CCRS, FF-UNPAR BANDUNG)
MENDALAMI DANMENIKMATI MAZMUR 62
Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransisbm)
PENELITI CCRS (CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES) FF-UNPAR BANDUNG
Judul mazmur ini amat menarik: Perasaan tenang dekat Allah. Dan itu betul: Memang relasi dan kedekatan dengan Allah mendatangkan efek rasa tenang dalam hidup. Itu yang dibentangkan dalam Mazmur ini. Mazmur ini cukup panjang: terdiri atas 13 ayat. Untuk memudahkan pemahaman, Mazmur ini dapat dibagi demikian: Bagian I: ayat 1-5. Bagian II: ayat 6-9. Bagian III: ayat 10-13. Mari kita lihat isi masing-masing bagian ini.
Ia mulai dengan ungkapan keyakinannya yaitu ia merasa tenang jika berada dekat Allah (ayat 2). Itu karena keselamatan hidupnya berasal dari Allah. Bukan dari yang lain. Pikiran yang sama terungkap dalam ayat 3 tetapi kali ini ia memakai metafor lain: gunung batu, kota benteng. Kedua metafor ini dipakai pemazmur untuk menyatakan keyakinan dan pengalamannya bahwa ia selamat dan aman jika berada di gunung batu dan dalam kota benteng, yaitu Allah. Agak sulit menjelaskan dan memahami ayat 4. Ia mulai dengan pertanyaan retoris kepada sekelompok orang yang bernafsu menyerang seseorang yang lain yang diibaratkan dengan dinding yang miring dan tembok yang mau roboh. Jelas itu menyiratkan kondisi ketidak-berdayaan. Pertanyaan retoris dalam ayat 4 dijawab dalam ayat 5 yang menyingkapkan maksud hati yang terselubung dari para penyerbu. Mereka bermaksud menjungkalkan dia dari tempat kedudukannya yang tinggi. Kira-kira seperti orang-orang yang merebut kursi wakil presidan dan menteri keuangan. Mereka menyerang dan menyerbu bertubi-tubi. Penyerang ini dilukiskan sebagai orang yang suka dusta. Mereka juga dicirikan sebagai orang yang bersikap mendua. Dengan mulut (bibir) mereka mengucapkan kata-kata pujian dan berkat, tetapi dengan hati mereka mengutuk.
Dalam ayat 6-8 pemazmur sekali lagi mengungkapkan dengan sangat kuat keyakinan imannya. Yaitu ia hanya merasa aman, tenteram, tenang jika berada dekat Allah. Karena Allah adalah pengharapannya. Allah menjadi sumber keselamatan dan kemuliaan, kekuatan dan perlindungan. Oleh karena itu, dalam ayat 9 ia mengajak orang lain (umat) agar percaya kepada Allah. Kepercayaan itu tidak boleh terputus-putus, melainkan percaya terus menerus, setiap waktu. Ia mengajak agar umat datang kepada Allah dan mencurahkan isi hati mereka (doa) kepada Allah semata-mata. Mengapa demikian? Karena Allah adalah tempat perlindungan kita.
Jika dalam bagian terdahulu ada sebuah visi teologi, maka dalam bagian ini ada visi antropologis pemazmur. Jika di atas ada pujian yang tinggi akan Allah, maka dalam bagian ini ia mengemukakan pandangannya akan manusia. Manusia, apalagi yang hina, hanya angin saja. Bahkan orang-orang yang mulia, ternyata juga hanya dusta. Mungkin ia tampak mulia, karena dibangun di atas dusta. Mana dusta itu? Dijawab dalam ayat 11. Secara kongkret dilukiskan di sini bentuk-bentuk dusta yang membawa nista: pemerasan, perampasan. Jangan menaruh harapan pada itu semua. Itu semua sia-sia belaka. Karena itu di akhir ayat 11 ia memberi sebuah nasihat seperti amsal: apabila harta makin bertambah, janganlah hatimu melekat padanya. Dengan gaya amsal pemazmur mengungkapkan keyakinan pokoknya dalam ayat 12 bahwa kuasa itu berasal bukan dari siapa-siapa melainkan dari Allah. Ini semacam landasan teologis dari kekuasaan. Selain kekuasaan, dari Allah juga berasal kasih setia (hesed). Mazmur ini dalam ayat 13, ditutup dengan pandangan teologis yang khas dalam Perjanjian Lama, yaitu retributive theory, teori pembalasan di bumi.
BANDUNG, 15 FEBRUARI 2009
SIS B, CCRS FF-UNPAR BANDUNG.
PENELITI CCRS (CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES) FF-UNPAR BANDUNG
Judul mazmur ini amat menarik: Perasaan tenang dekat Allah. Dan itu betul: Memang relasi dan kedekatan dengan Allah mendatangkan efek rasa tenang dalam hidup. Itu yang dibentangkan dalam Mazmur ini. Mazmur ini cukup panjang: terdiri atas 13 ayat. Untuk memudahkan pemahaman, Mazmur ini dapat dibagi demikian: Bagian I: ayat 1-5. Bagian II: ayat 6-9. Bagian III: ayat 10-13. Mari kita lihat isi masing-masing bagian ini.
Ia mulai dengan ungkapan keyakinannya yaitu ia merasa tenang jika berada dekat Allah (ayat 2). Itu karena keselamatan hidupnya berasal dari Allah. Bukan dari yang lain. Pikiran yang sama terungkap dalam ayat 3 tetapi kali ini ia memakai metafor lain: gunung batu, kota benteng. Kedua metafor ini dipakai pemazmur untuk menyatakan keyakinan dan pengalamannya bahwa ia selamat dan aman jika berada di gunung batu dan dalam kota benteng, yaitu Allah. Agak sulit menjelaskan dan memahami ayat 4. Ia mulai dengan pertanyaan retoris kepada sekelompok orang yang bernafsu menyerang seseorang yang lain yang diibaratkan dengan dinding yang miring dan tembok yang mau roboh. Jelas itu menyiratkan kondisi ketidak-berdayaan. Pertanyaan retoris dalam ayat 4 dijawab dalam ayat 5 yang menyingkapkan maksud hati yang terselubung dari para penyerbu. Mereka bermaksud menjungkalkan dia dari tempat kedudukannya yang tinggi. Kira-kira seperti orang-orang yang merebut kursi wakil presidan dan menteri keuangan. Mereka menyerang dan menyerbu bertubi-tubi. Penyerang ini dilukiskan sebagai orang yang suka dusta. Mereka juga dicirikan sebagai orang yang bersikap mendua. Dengan mulut (bibir) mereka mengucapkan kata-kata pujian dan berkat, tetapi dengan hati mereka mengutuk.
Dalam ayat 6-8 pemazmur sekali lagi mengungkapkan dengan sangat kuat keyakinan imannya. Yaitu ia hanya merasa aman, tenteram, tenang jika berada dekat Allah. Karena Allah adalah pengharapannya. Allah menjadi sumber keselamatan dan kemuliaan, kekuatan dan perlindungan. Oleh karena itu, dalam ayat 9 ia mengajak orang lain (umat) agar percaya kepada Allah. Kepercayaan itu tidak boleh terputus-putus, melainkan percaya terus menerus, setiap waktu. Ia mengajak agar umat datang kepada Allah dan mencurahkan isi hati mereka (doa) kepada Allah semata-mata. Mengapa demikian? Karena Allah adalah tempat perlindungan kita.
Jika dalam bagian terdahulu ada sebuah visi teologi, maka dalam bagian ini ada visi antropologis pemazmur. Jika di atas ada pujian yang tinggi akan Allah, maka dalam bagian ini ia mengemukakan pandangannya akan manusia. Manusia, apalagi yang hina, hanya angin saja. Bahkan orang-orang yang mulia, ternyata juga hanya dusta. Mungkin ia tampak mulia, karena dibangun di atas dusta. Mana dusta itu? Dijawab dalam ayat 11. Secara kongkret dilukiskan di sini bentuk-bentuk dusta yang membawa nista: pemerasan, perampasan. Jangan menaruh harapan pada itu semua. Itu semua sia-sia belaka. Karena itu di akhir ayat 11 ia memberi sebuah nasihat seperti amsal: apabila harta makin bertambah, janganlah hatimu melekat padanya. Dengan gaya amsal pemazmur mengungkapkan keyakinan pokoknya dalam ayat 12 bahwa kuasa itu berasal bukan dari siapa-siapa melainkan dari Allah. Ini semacam landasan teologis dari kekuasaan. Selain kekuasaan, dari Allah juga berasal kasih setia (hesed). Mazmur ini dalam ayat 13, ditutup dengan pandangan teologis yang khas dalam Perjanjian Lama, yaitu retributive theory, teori pembalasan di bumi.
BANDUNG, 15 FEBRUARI 2009
SIS B, CCRS FF-UNPAR BANDUNG.
Subscribe to:
Posts (Atom)
PEDENG JEREK WAE SUSU
Oleh: Fransiskus Borgias Dosen dan Peneliti Senior pada FF-UNPAR Bandung. Menyongsong Mentari Dengan Tari Puncak perayaan penti adala...
-
Oleh: Fransiskus Borgias M., (EFBE@fransisbm) Mazmur ini termasuk cukup panjang, yaitu terdiri atas 22 ayat, mengikuti 22 abjad Ib...
-
Oleh: Fransiskus Borgias M. Judul Mazmur ini dalam Alkitab ialah Doa mohon Israel dipulihkan. Judul itu mengandaikan bahwa keadaan Israe...
-
Oleh: Fransiskus Borgias M. Sebagai manusia yang beriman (percaya), kiranya kita semua sungguh-sungguh yakin dan percaya bahwa Tuhan itu...