Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransisbm)
PENELITI CCRS (Center for Cultural and Religious Studies) FF-UNPAR, BANDUNG
Mazmur ini cukup singkat, hanya terdiri atas 9 ayat saja. Judulnya dalam Alkitab kita menarik, yaitu: Doa untuk raja. Demi memudahkan pendalaman dan pemahaman, kita dapat membagi mazmur ini ke dalam dua unit besar ini: Bagian pertama, ayat 2-6. Bagian kedua, ayat 7-9. Di bawah ini saya akan mencoba secara singkat mendalami isi dari masing-masing bagian atau penggal itu. Kita mulai dengan yang pertama.
Dalam bagian pertama (ay.2-6), si pemazmur melambungkan doa-doa dan pujiannya kepada Allah semesta alam. Tetapi secara lebih rinci dapat dikatakan demikian. Ia mulai dengan permohonan yang sangat mendesak kepada Allah agar Allah sudi mendengarkan seruan dan doanya (ay 2). Ia melukiskan bahwa dirinya saat ini sedang berada dalam keletihan dalam sebuah perjalanan yang panjang (dari ujung bumi). Kiranya ini adalah sebuah bahasa metafor mengenai perjuangan hidup dan doa yang tidak jarang memang sangat melelahkan. Kiranya kita semua tahu bahwa berdoa itu tidak selalu mudah. Bahkan berdoa itu adalah sebuah perjuangan juga, perlu perjuangan juga.
Tetapi mengapa ia berani melambungkan permohonan seperti itu? Itu tidak lain karena selama ini ia sudah mempunyai pengalaman yang positif akan Allah yaitu bahwa Allah telah menjadi tempat perlindungan dan menara yang kuat baginya (ay 4). Ia menyerahkan dan memasrahkan dirinya kepada perlindungan Allah semata-mata. Ia memohon agar ia sudi diperkenankan bisa menumpang atau berdiam di kediaman Allah, juga agar ia bisa masuk ke dalam naungan kepak sayapnya (metafor induk ayam yang melindungi anaknya dan dengan itu memberi kehangatan dan keamanan). Dengan yakin ia sekali lagi mengungkapkan kepercayaannya akan Allah di masa silam, bahwa Allah itu selama ini telah mengabulkan doa-doa dan permohonannya. Maka sekarang si pemazmur itu siap melambungkan isi permohonan doanya saat ini kepada Allah, arah dan tujuan segala doa semesta alam.
Tetapi apa isi kongkret dari doanya itu? Dalam doanya ia memohonkan agar sang raja panjang umurnya dan dikarunia keturunan (ay 7). Ia memohonkan agar sang raja bisa hidup dari generasi ke generasi. Permohonan yang terkandung dalam ay 7 ini sudah termasuk dalam unsur-unsur pokok keselamatan yang berasal dari Allah. Tetapi menurut saya ayat 8 kiranya jauh lebih menarik: di sana ia meminta agar raja bisa memerintah dengan baik di hadapan Allah. Mengapa ini menarik? Karena sering kali raja bisa menjadi sangat angkuh dan ingin sekali mendewakan (menjadikan diri berhala) diri mereka sendiri (sebuah tendensi dan godaan yang sangat kuat dalam kerajaan-kerajaan teokratis di dunia kuno). Jelas ini adalah kultur pemberhalaan manusia. Si pemazmur dengan sangat jelas menolak ini. Ia, dalam doanya, meminta agar sang raja berkuasa, tetapi ia berkuasa dalam konteks kesadaran teologis dan iman yang harus bermuara juga secara etis. Bahwa masih ada kuasa yang lebih tinggi dari dirinya. Bahwa karena itu ia tidak boleh berkuasa dan memerintah dengan sewenang-wenang sebab semuanya akan dipertanggung-jawabkan kepada sang penguasa tertinggi yaitu Allah sendiri.
Masih ada lagi sesuatu yang menarik. Ia memohon kepada Allah agar Allah sudi mengutus dua sifatnya agar dapat menyertai raja selama masa pemerintahannya. Kedua hal itu ialah kasih setia (hesed) dan kebenaran (dikaosyne). Kedua hal ini diminta agar sudi menjadi penjaga sang raja. Kalau ini terjadi, yaitu kalau sang raja dijaga oleh kasih setia dan kebenaran, maka ia akan memerintah dengan sangat baik dan penuh kebijaksanaan. Dalam ayat 9 kita menemukan sumpah setia si pemazmur. Ia mau bermazmur bagi nama Allah untuk selama-lamanya. Ia juga tidak lupa membayarkan nazarnya setiap hari kepada Allah. Sebuah praksis hidup iman yang patut diteladani.
Bandung, 17 Januari 2010
Sis B CCRS FF-UNPAR BANDUNG.
canticum solis adalah blogspot saya untuk pendalaman dan diskusi soal-soal filosofis, teologis, spiritualitas dan yang terkait. Kalau berkenan mohon menulis kesan atau komentar anda di bagian akhir dari artikel yang anda baca. Terima kasih... canticum solis is my blog in which I write the topics on philosophy, theology, spiritual life. If you don't mind, please give your comment or opinion at the end of any article you read. thanks a lot.....
Saturday, January 16, 2010
MENDALAMI DAN MENIKMATI MAZMUR 60
Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransisbm)
PENELITI PADA CCRS (Center for Cultural and Religious Studies) FF-UNPAR Bandung.
Judul Mazmur ini dalam Alkitab kita ialah “Doa memohon kemenangan.” Pemazmur dalam doanya mencoba menghadap Allah dan dengan sangat memohon kemenangan kepada Allah, sang sumber segala kehidupan. Mazmur ini terdiri atas empat belas ayat. Jadi, termasuk cukup pendek. Mazmur ini dapat dibagi dalam tiga unit besar (pembagian ini amat perlu demi memudahkan penafsiran dan pemahaman kita): Unit I: ayat 2-7, Unit II: ayat 8-10; Unit III: ayat 11-14. Di bawah ini saya akan mencoba menelusuri isi dari masing-masing bagian agar kita dapat mendalami dan menikmatinya.
Pemazmur memulai mazmurnya ini dengan sebuah seruan kepada Allah yang anehnya pada saat ini dialami secara negatif (ay 2-5). Ia mengalami semacam “malam kegelapan jiwa” kalau kita meminjam istilah dari Yohanes dari Salib. Sebuah pengalaman kontras iman. Tetapi ia tetap percaya kepada Allah yang satu dan sama yang ia yakini tetaplah Allah yang baik, dan penuh kasih setia (hesed) dan kerahiman (rahamim). Maka kendati pengalaman negatif akan Allah, dalam ayat 6-7 ia tetap berpaling kepada Allah sumber kekuatan, sumber pengharapan, tempat perlindungan, sumber segala penghiburan. Ia memohon shalom dari Allah. Jadi, sekali lagi ini adalah sebuah pengalaman paradoksal akan Allah: di satu sisi Allah dialami secara negatif, tetapi serentak di pihak lain ia mengalami Allah secara positif. Hidup dinamika iman ditentukan oleh permainan yang indah dan seimbang antara dua sisi dari paradoks itu, ada kedua kutub itu. Bandul iman harus bergerak seimbang di tengah kedua kutub itu. Terlalu lama pada sisi pengalaman negatif, orang akan jatuh pada ateisme (mula-mula praktis dan psikologis, kemudian bisa juga ateisme teoretis). Sebaliknya, terlalu lama berada pada sisi pengalaman positif, mungkin orang juga bisa jatuh ke dalam jurang kesombongan, jurang jumawa, menjadi tidak tahu diri. Iman perlu diuji juga dalam api dan kesulitan. Dan dari dalam api akan bisa keluar emas murni.
Tetapi pertanyaannya sekarang ialah mengapa dan bagaimana si pemazmur masih bisa berbalik kepada Allah sang penolong itu dari dalam jurang pengalaman negatif itu? Ini pertanyaan yang tidak mudah dijawab. Mungkin karena ia melihat catatan dan pengalaman sejarah. Dari catatan dan pengalaman sejarah tampak jelas bahwa Allah-lah yang telah memberikan banyak tanah atau negeri kepada Israel. Itulah yang diungkapkan dengan bahasa teologis-antropologis dalam ayat 8-10. Allah memiliki dan menguasai tanah-tanah itu dan menyerahkannya kepada Israel. Tidak mungkin Allah lupa akan tindakan dan perbuatan-perbuatan ajaibNya di masa silam. Maka atas dasar pengalaman dan ingatan historis yang positif itu akan masa silam, si pemazmur masih tetap dapat berharap akan Allah. Atas dasar iman dan harapan itu, ia selalu kembali kepada-Nya, kendati segala pengalaman negatif dan gelap yang diarunginya sekarang dan di sini.
Harapan itulah yang diungkapkan dalam bentuk pertanyaan retoris dalam ayat 11. Pertanyaan retoris dalam ayat 11 itu akhirnya juga dijawab secara retoris dalam ayat 12. Tetapi keduanya sama-sama berusaha mengungkapan keyakinan dan pandangan iman si pemazmur. Kendati pengalaman negatifnya sekarang ini, ia tidak bisa tidak akan tetap mau berbalik kepada Allah dan berharap kepadaNya, sumber keselamatan, dan benteng kokoh baginya. Setelah merasa yakin dengan Allah yang bisa menyelamatkan hidupnya, maka dalam ayat 13 si pemazmur pun melambungkan sebuah permohonan kepada Allah. Ia melambungkan permohonan kepada Allah, karena dari pengalaman ia sudah yakin bahwa sia-sialah kalau kita menaruh harapan pada manusia. Penyelamatan dari manusia itu tidak ada gunanya. Maka dengan lantang ia mengungkapkan keyakinan imannya dalam ayat 14. Dengan dan bersama Allah, ia merasa bisa melakukan banyak perbuatan ajaib. Bailah saya mengutip ayat itu di sini: Dengan Allah akan kita lakukan perbuatan-perbuatan gagah perkasa, sebab Ia sendiri akan menginjak-injak para lawan kita.
Bandung, 17 Januari 2010
Sis B (CCRS FF-UNPAR BANDUNG)
PENELITI PADA CCRS (Center for Cultural and Religious Studies) FF-UNPAR Bandung.
Judul Mazmur ini dalam Alkitab kita ialah “Doa memohon kemenangan.” Pemazmur dalam doanya mencoba menghadap Allah dan dengan sangat memohon kemenangan kepada Allah, sang sumber segala kehidupan. Mazmur ini terdiri atas empat belas ayat. Jadi, termasuk cukup pendek. Mazmur ini dapat dibagi dalam tiga unit besar (pembagian ini amat perlu demi memudahkan penafsiran dan pemahaman kita): Unit I: ayat 2-7, Unit II: ayat 8-10; Unit III: ayat 11-14. Di bawah ini saya akan mencoba menelusuri isi dari masing-masing bagian agar kita dapat mendalami dan menikmatinya.
Pemazmur memulai mazmurnya ini dengan sebuah seruan kepada Allah yang anehnya pada saat ini dialami secara negatif (ay 2-5). Ia mengalami semacam “malam kegelapan jiwa” kalau kita meminjam istilah dari Yohanes dari Salib. Sebuah pengalaman kontras iman. Tetapi ia tetap percaya kepada Allah yang satu dan sama yang ia yakini tetaplah Allah yang baik, dan penuh kasih setia (hesed) dan kerahiman (rahamim). Maka kendati pengalaman negatif akan Allah, dalam ayat 6-7 ia tetap berpaling kepada Allah sumber kekuatan, sumber pengharapan, tempat perlindungan, sumber segala penghiburan. Ia memohon shalom dari Allah. Jadi, sekali lagi ini adalah sebuah pengalaman paradoksal akan Allah: di satu sisi Allah dialami secara negatif, tetapi serentak di pihak lain ia mengalami Allah secara positif. Hidup dinamika iman ditentukan oleh permainan yang indah dan seimbang antara dua sisi dari paradoks itu, ada kedua kutub itu. Bandul iman harus bergerak seimbang di tengah kedua kutub itu. Terlalu lama pada sisi pengalaman negatif, orang akan jatuh pada ateisme (mula-mula praktis dan psikologis, kemudian bisa juga ateisme teoretis). Sebaliknya, terlalu lama berada pada sisi pengalaman positif, mungkin orang juga bisa jatuh ke dalam jurang kesombongan, jurang jumawa, menjadi tidak tahu diri. Iman perlu diuji juga dalam api dan kesulitan. Dan dari dalam api akan bisa keluar emas murni.
Tetapi pertanyaannya sekarang ialah mengapa dan bagaimana si pemazmur masih bisa berbalik kepada Allah sang penolong itu dari dalam jurang pengalaman negatif itu? Ini pertanyaan yang tidak mudah dijawab. Mungkin karena ia melihat catatan dan pengalaman sejarah. Dari catatan dan pengalaman sejarah tampak jelas bahwa Allah-lah yang telah memberikan banyak tanah atau negeri kepada Israel. Itulah yang diungkapkan dengan bahasa teologis-antropologis dalam ayat 8-10. Allah memiliki dan menguasai tanah-tanah itu dan menyerahkannya kepada Israel. Tidak mungkin Allah lupa akan tindakan dan perbuatan-perbuatan ajaibNya di masa silam. Maka atas dasar pengalaman dan ingatan historis yang positif itu akan masa silam, si pemazmur masih tetap dapat berharap akan Allah. Atas dasar iman dan harapan itu, ia selalu kembali kepada-Nya, kendati segala pengalaman negatif dan gelap yang diarunginya sekarang dan di sini.
Harapan itulah yang diungkapkan dalam bentuk pertanyaan retoris dalam ayat 11. Pertanyaan retoris dalam ayat 11 itu akhirnya juga dijawab secara retoris dalam ayat 12. Tetapi keduanya sama-sama berusaha mengungkapan keyakinan dan pandangan iman si pemazmur. Kendati pengalaman negatifnya sekarang ini, ia tidak bisa tidak akan tetap mau berbalik kepada Allah dan berharap kepadaNya, sumber keselamatan, dan benteng kokoh baginya. Setelah merasa yakin dengan Allah yang bisa menyelamatkan hidupnya, maka dalam ayat 13 si pemazmur pun melambungkan sebuah permohonan kepada Allah. Ia melambungkan permohonan kepada Allah, karena dari pengalaman ia sudah yakin bahwa sia-sialah kalau kita menaruh harapan pada manusia. Penyelamatan dari manusia itu tidak ada gunanya. Maka dengan lantang ia mengungkapkan keyakinan imannya dalam ayat 14. Dengan dan bersama Allah, ia merasa bisa melakukan banyak perbuatan ajaib. Bailah saya mengutip ayat itu di sini: Dengan Allah akan kita lakukan perbuatan-perbuatan gagah perkasa, sebab Ia sendiri akan menginjak-injak para lawan kita.
Bandung, 17 Januari 2010
Sis B (CCRS FF-UNPAR BANDUNG)
Sunday, December 27, 2009
RINGKASAN: PESAN PAUS UNTUK HARI PERDAMAIAN DUNIA
RINGKASAN: OLEH FRANSISKUS BORGIAS M.
PENELITI CCRS (Center for Cultural and Religious Studies) FF-UNPAR BANDUNG.
"Jika Anda Mau Mengusahakan Perdamaian, Lindungilah Ciptaan"
1. Jika Mau Mengusahakan Perdamaian, Lindungilah Ciptaan. Hormat dan pelestarian ciptaan amat penting bagi hidup bersama. Kebiadaban manusia terhadap sesamanya memunculkan pelbagai ancaman terhadap perdamaian dan perkembangan manusia yang otentik dan utuh. Tetapi yang tidak kurang merisaukan ialah ancaman yang muncul dari pengabaian akan bumi dan alam ciptaan lain yang diberikan Allah.
2. Lingkungan adalah karunia Allah kepada semua orang, dan cara kita memakainya harus mempertimbangkan tanggung-jawab bersama akan semua manusia, khususnya kaum miskin dan generasi yang akan datang. Dengan melihat ciptaan sebagai karunia Allah kita terbantu memahami panggilan dan martabat kita sebagai manusia.
4. Gereja mau menarik perhatian terhadap relasi antara Pencipta, manusia dan ciptaan. Tahun 1990 Yohanes Paulus II berbicara tentang “krisis ekologis” yang memerlukan “solidaritas baru.” Seruan itu terasa mendesak dewasa ini karena krisis yang semakin meningkat. Kita tidak dapat berdiam diri lagi.
5. Krisis ekologis tidak dapat dipandang terlepas dari soal-soal lain. Hal ini terkait dengan gagasan perkembangan itu sendiri dan pemahaman kita akan manusia dalam relasinya dengan sesama dan ciptaan. Kita harus tinjau ulang model pembangunan kita. Kesehatan ekologis planet menuntut hal ini. Hal ini dituntut oleh krisis kultural dan moral manusia yang gejalanya tampak di seluruh dunia. Krisis ini juga adalah krisis moral.
6. Dunia ini berasal dari Allah. Keselarasan antara Pencipta, manusia dan ciptaan, rusak oleh dosa Adam dan Hawa. Akibatnya, pekerjaan “melaksanakan kuasa” atas bumi, “dengan mengolah dan merawatnya” juga rusak.
7. Alam adalah milik umat manusia secara keseluruhan. Eksplotasi lingkungan saat ini mengancam suplai sumber daya alam tidak hanya bagi generasi sekarang, melainkan terutama bagi generasi yang akan datang.
Kemerosotan alam terkait dengan rendahnya kebijakan resmi jangka-panjang, dengan upaya peraihan kepentingan ekonomik jangka pendek, yang mengancam ciptaan. Untuk memerangi gejala ini, aktifitas ekonomik harus mempertimbangkan fakta bahwa setiap keputusan ekonomik punya konsekwensi moral. Untuk melindungi sumber daya alam, kita perlu mempertimbangkan solidaritas terhadap orang yang hidup di wilayah yang lebih miskin di bumi ini dan terhadap generasi yang akan datang.
8. Solidaritas antar-generasi amat perlu. Generasi yang akan datang tidak boleh dibebani dengan akibat cara hidup kita.
Perlu citarasa baru solidaritas antar-generasi, khususnya dalam relasi Negara berkembang dan maju. Perlu diakui bahwa penyebab krisis ekologis sekarang adalah gaya hidup Negara industri. Tetapi Negara berkembang, khususnya Negara baru, tidak bebas dari tanggung-jawab sehubungan dengan ciptaan; itu adalah kewajiban semua.
9. Masalah yang harus dihadapi komunitas internasional adalah sumber daya energi dan pengembangan strategi berkelanjutan untuk memenuhi kebutuhan energi generasi kini dan yang akan datang. Berarti masyarakat maju harus siap hidup sederhana, dan berusaha mengurangi pemakaian energi dan memperbaiki efisiensi.
Perlu didorong penelitian dan pemanfaatan energi ramah lingkungan. Krisis ekologis memberi peluang historis untuk mengembangkan rencana aksi bersama untuk mengarahkan model pembangunan global ke arah rasa hormat akan ciptaan dan perkembangan manusia seutuhnya. Perlu model pembangunan yang dilandaskan pada posisi sentral pribadi manusia, pada promosi kesejahteraan, pada tanggung-jawab, pada kesadaran akan perlunya mengubah gaya hidup, dan pada kearifan, menyangkut apa yang perlu dilakukan saat ini sehubungan dengan apa yang mungkin terjadi esok.
10. Penanganan menyeluruh dan berkelanjutan atas lingkungan dan sumber daya planet ini menuntut bahwa kecerdasan manusia harus diarahkan pada penelitian teknologis dan ilmiah dan penerapan praktisnya.
Perlu ada dorongan meneliti cara efektif mengeksploitasi potensi energi surya. Perlu juga diberi perhatian terhadap masalah air dan sistem siklus air global, yang sangat penting bagi hidup di bumi ini dan yang stabilitasnya terancam perubahan iklim.
Strategi pembangunan pedesaan yang terpusat pada petani kecil dan keluarganya harus dikembangkan, juga kebijakan yang tepat bagi penanganan hutan, sampah dan keterkaitan antara upaya memerangi perubahan iklim dan mengatasi kemiskinan.
Masalah ekologis harus ditangani karena ngerinya kemerosotan lingkungan. Juga karena perlu ada solidaritas seluas-dunia yang diilhami cinta kasih, keadilan, dan kesejahteraan bersama. Untuk itu perlu teknologi sebagai tanggapan terhadap perintah Allah untuk mengolah dan menjaga tanah ini yang Ia percayakan kepada manusia.
11. Kemerosotan lingkungan menantang kita untuk memeriksa kembali gaya hidup kita. Pendidikan perdamaian harus segera dimulai dengan putusan yang berdaya jangkau luas pada individu, keluarga, komunitas dan Negara. Kita bertanggung-jawab atas pemeliharaan lingkungan. Tanggung jawab ini tidak mengenal batas.
Kepedulian akan lingkungan menuntut pandangan dunia global. Kita tidak bisa acuh tak acuh terhadap apa yang terjadi di sekitar kita, karena kemerosotan dari salah satu bagian planet ini mempengaruhi kita semua.
12. Kemerosotan alam terkait dengan model kultural yang membentuk hidup bersama manusia. Tugas kita terhadap lingkungan mengalir dari tugas kita terhadap pribadi, yang dipertimbangkan baik secara individual maupun komunal.
Perlu didorong upaya memajukan cita rasa yang lebih besar akan tanggung-jawab ekologis yang bisa menjamin “ekologi manusia” otentik dan mengafirmasi keluhuran martabat manusia yang tidak dapat diganggu-gugat, martabat pribadi dan perutusan unik keluarga, di mana orang dilatih dalam cinta akan sesama dan hormat akan alam.
13. Ada fakta bahwa banyak orang mengalami kedamaian dan ketenangan, pembaruan dan penguatan, ketika berhubungan dengan keindahan dan harmoni alam. Gereja kuatir terhadap gagasan lingkungan yang diilhami egosentrisme dan biosentrisme karena ide-ide seperti itu menyingkirkan perbedaan antara identitas dan nilai pribadi manusia dan makhluk lain. Mereka mengarah ke panteisme baru yang dibumbui neo-paganisme, yang melihat sumber keselamatan manusia dalam alam belaka. Pemutlakan teknologi dan kekuatan manusia, akan menjadi serangan maut tidak hanya terhadap alam, melainkan juga pada martabat manusia itu sendiri.
14. Kalau mau mengupayakan perdamaian, lindungilah ciptaan. Upaya mencari perdamaian akan lebih mudah kalau semua mengakui ada relasi erat antara Allah, manusia dan ciptaan. Melindungi lingkungan dan membangun bumi yang damai merupakan tugas semua orang. Semoga hal ini jelas bagi pemimpin dunia dan bagi orang yang peduli pada masa depan manusia: perlindungan ciptaan dan pembangunan perdamaian erat terkait satu sama lain! Semua diundang untuk melambungkan doa kepada Allah, Bapa segala kerahiman, sehingga semua manusia mau menjadikan seruan ini sebagai moto mereka: Jika mau mengupayakan perdamaian, lindungilah ciptaan.
Vatikan, 8 Desember 2009
PENELITI CCRS (Center for Cultural and Religious Studies) FF-UNPAR BANDUNG.
"Jika Anda Mau Mengusahakan Perdamaian, Lindungilah Ciptaan"
1. Jika Mau Mengusahakan Perdamaian, Lindungilah Ciptaan. Hormat dan pelestarian ciptaan amat penting bagi hidup bersama. Kebiadaban manusia terhadap sesamanya memunculkan pelbagai ancaman terhadap perdamaian dan perkembangan manusia yang otentik dan utuh. Tetapi yang tidak kurang merisaukan ialah ancaman yang muncul dari pengabaian akan bumi dan alam ciptaan lain yang diberikan Allah.
2. Lingkungan adalah karunia Allah kepada semua orang, dan cara kita memakainya harus mempertimbangkan tanggung-jawab bersama akan semua manusia, khususnya kaum miskin dan generasi yang akan datang. Dengan melihat ciptaan sebagai karunia Allah kita terbantu memahami panggilan dan martabat kita sebagai manusia.
4. Gereja mau menarik perhatian terhadap relasi antara Pencipta, manusia dan ciptaan. Tahun 1990 Yohanes Paulus II berbicara tentang “krisis ekologis” yang memerlukan “solidaritas baru.” Seruan itu terasa mendesak dewasa ini karena krisis yang semakin meningkat. Kita tidak dapat berdiam diri lagi.
5. Krisis ekologis tidak dapat dipandang terlepas dari soal-soal lain. Hal ini terkait dengan gagasan perkembangan itu sendiri dan pemahaman kita akan manusia dalam relasinya dengan sesama dan ciptaan. Kita harus tinjau ulang model pembangunan kita. Kesehatan ekologis planet menuntut hal ini. Hal ini dituntut oleh krisis kultural dan moral manusia yang gejalanya tampak di seluruh dunia. Krisis ini juga adalah krisis moral.
6. Dunia ini berasal dari Allah. Keselarasan antara Pencipta, manusia dan ciptaan, rusak oleh dosa Adam dan Hawa. Akibatnya, pekerjaan “melaksanakan kuasa” atas bumi, “dengan mengolah dan merawatnya” juga rusak.
7. Alam adalah milik umat manusia secara keseluruhan. Eksplotasi lingkungan saat ini mengancam suplai sumber daya alam tidak hanya bagi generasi sekarang, melainkan terutama bagi generasi yang akan datang.
Kemerosotan alam terkait dengan rendahnya kebijakan resmi jangka-panjang, dengan upaya peraihan kepentingan ekonomik jangka pendek, yang mengancam ciptaan. Untuk memerangi gejala ini, aktifitas ekonomik harus mempertimbangkan fakta bahwa setiap keputusan ekonomik punya konsekwensi moral. Untuk melindungi sumber daya alam, kita perlu mempertimbangkan solidaritas terhadap orang yang hidup di wilayah yang lebih miskin di bumi ini dan terhadap generasi yang akan datang.
8. Solidaritas antar-generasi amat perlu. Generasi yang akan datang tidak boleh dibebani dengan akibat cara hidup kita.
Perlu citarasa baru solidaritas antar-generasi, khususnya dalam relasi Negara berkembang dan maju. Perlu diakui bahwa penyebab krisis ekologis sekarang adalah gaya hidup Negara industri. Tetapi Negara berkembang, khususnya Negara baru, tidak bebas dari tanggung-jawab sehubungan dengan ciptaan; itu adalah kewajiban semua.
9. Masalah yang harus dihadapi komunitas internasional adalah sumber daya energi dan pengembangan strategi berkelanjutan untuk memenuhi kebutuhan energi generasi kini dan yang akan datang. Berarti masyarakat maju harus siap hidup sederhana, dan berusaha mengurangi pemakaian energi dan memperbaiki efisiensi.
Perlu didorong penelitian dan pemanfaatan energi ramah lingkungan. Krisis ekologis memberi peluang historis untuk mengembangkan rencana aksi bersama untuk mengarahkan model pembangunan global ke arah rasa hormat akan ciptaan dan perkembangan manusia seutuhnya. Perlu model pembangunan yang dilandaskan pada posisi sentral pribadi manusia, pada promosi kesejahteraan, pada tanggung-jawab, pada kesadaran akan perlunya mengubah gaya hidup, dan pada kearifan, menyangkut apa yang perlu dilakukan saat ini sehubungan dengan apa yang mungkin terjadi esok.
10. Penanganan menyeluruh dan berkelanjutan atas lingkungan dan sumber daya planet ini menuntut bahwa kecerdasan manusia harus diarahkan pada penelitian teknologis dan ilmiah dan penerapan praktisnya.
Perlu ada dorongan meneliti cara efektif mengeksploitasi potensi energi surya. Perlu juga diberi perhatian terhadap masalah air dan sistem siklus air global, yang sangat penting bagi hidup di bumi ini dan yang stabilitasnya terancam perubahan iklim.
Strategi pembangunan pedesaan yang terpusat pada petani kecil dan keluarganya harus dikembangkan, juga kebijakan yang tepat bagi penanganan hutan, sampah dan keterkaitan antara upaya memerangi perubahan iklim dan mengatasi kemiskinan.
Masalah ekologis harus ditangani karena ngerinya kemerosotan lingkungan. Juga karena perlu ada solidaritas seluas-dunia yang diilhami cinta kasih, keadilan, dan kesejahteraan bersama. Untuk itu perlu teknologi sebagai tanggapan terhadap perintah Allah untuk mengolah dan menjaga tanah ini yang Ia percayakan kepada manusia.
11. Kemerosotan lingkungan menantang kita untuk memeriksa kembali gaya hidup kita. Pendidikan perdamaian harus segera dimulai dengan putusan yang berdaya jangkau luas pada individu, keluarga, komunitas dan Negara. Kita bertanggung-jawab atas pemeliharaan lingkungan. Tanggung jawab ini tidak mengenal batas.
Kepedulian akan lingkungan menuntut pandangan dunia global. Kita tidak bisa acuh tak acuh terhadap apa yang terjadi di sekitar kita, karena kemerosotan dari salah satu bagian planet ini mempengaruhi kita semua.
12. Kemerosotan alam terkait dengan model kultural yang membentuk hidup bersama manusia. Tugas kita terhadap lingkungan mengalir dari tugas kita terhadap pribadi, yang dipertimbangkan baik secara individual maupun komunal.
Perlu didorong upaya memajukan cita rasa yang lebih besar akan tanggung-jawab ekologis yang bisa menjamin “ekologi manusia” otentik dan mengafirmasi keluhuran martabat manusia yang tidak dapat diganggu-gugat, martabat pribadi dan perutusan unik keluarga, di mana orang dilatih dalam cinta akan sesama dan hormat akan alam.
13. Ada fakta bahwa banyak orang mengalami kedamaian dan ketenangan, pembaruan dan penguatan, ketika berhubungan dengan keindahan dan harmoni alam. Gereja kuatir terhadap gagasan lingkungan yang diilhami egosentrisme dan biosentrisme karena ide-ide seperti itu menyingkirkan perbedaan antara identitas dan nilai pribadi manusia dan makhluk lain. Mereka mengarah ke panteisme baru yang dibumbui neo-paganisme, yang melihat sumber keselamatan manusia dalam alam belaka. Pemutlakan teknologi dan kekuatan manusia, akan menjadi serangan maut tidak hanya terhadap alam, melainkan juga pada martabat manusia itu sendiri.
14. Kalau mau mengupayakan perdamaian, lindungilah ciptaan. Upaya mencari perdamaian akan lebih mudah kalau semua mengakui ada relasi erat antara Allah, manusia dan ciptaan. Melindungi lingkungan dan membangun bumi yang damai merupakan tugas semua orang. Semoga hal ini jelas bagi pemimpin dunia dan bagi orang yang peduli pada masa depan manusia: perlindungan ciptaan dan pembangunan perdamaian erat terkait satu sama lain! Semua diundang untuk melambungkan doa kepada Allah, Bapa segala kerahiman, sehingga semua manusia mau menjadikan seruan ini sebagai moto mereka: Jika mau mengupayakan perdamaian, lindungilah ciptaan.
Vatikan, 8 Desember 2009
Friday, December 18, 2009
MENDALAMI DAN MENIKMATI MAZMUR 59
Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransisbm)
Mazmur ini cukup panjang: 18 ayat. Mazmur ini dapat dibagi tiga: Bgn I: ay 1-8. Bgn II: ay.9-16. Bgn III: ay 17-18. Dalam Bgn I ada beberapa hal yang diajukan. Dalam ay 2 ia memohon agar dilepaskan dari musuh. Ia memohon agar Allah melindungi dia dari para lawan. Dalam ay 3 ia memohon kelepasan dari orang jahat. Ia mohon agar diselamatkan dari pembunuh. Pemazmur merasa bahwa permohonan itu amat mendesak karena para lawan dan penjahat mau mencabut nyawanya, padahal ia tidak berdosa (ay 5). Itu sebabnya ia berani memohon perlindungan Allah (ay 5). Setelah berlari mencari pertolongan Allah, dalam ay 6 pemazmur berseru agar Allah bertindak, menghukum bangsa yang jahat agar mereka tidak bertindak sesuka hati. Sebab ada dan kehadiran mereka merupakan ancaman tetap yang sewaktu-waktu bisa datang seperti anjing melolong, seperti pencemooh dan penyindir. Tetapi karena sudah berada dalam lindungan dan naungan Allah maka ia tidak terganggu lagi dengan itu semua. Itulah Bgn I.
Dalam Bgn II ada beberapa hal penting yang diajukan. Ay 9 melukiskan pandangan dan keyakinan pemazmur bahwa Tuhan menertawakan dan mengolok segala tindakan dan perbuatan penjahat. Itu sebabnya, dalam ay 10 pemazmur ingin berlindung kepada Allah sebab Allah adalah kekuatan dan benteng hidupnya. Ia bisa berpegang pada sumber kekuatan itu. Ayat 11 amat menarik, sebab di sini muncul hesed yang dipersonalisasi. Hesed dilukiskan seperti orang yang diutus Allah untuk menolong dan menyelamatkan dia. Dengan itu, pemazmur merasa aman dan bahkan bisa meremehkan lawannya. Menarik bahwa pemazmur meminta agar Allah jangan membunuh mereka (ay 12). Mengapa? Agar mereka bisa menjadi saksi hidup bahwa Allah ada dan bertindak mengatasi kejahatan di bumi. Kalau itu terjadi, maka orang tidak mudah lupa. Kalau tidak dibunuh, cukup dikocar-kacir agar tidak bisa menjadi kekuatan padu dan kokoh.
Dalam ay 13 pemazmur merasa bahwa Allah tidak perlu mengambil tindakan keras dan drastik terhadap mereka (misalnya dengan membunuh) karena ia yakin bahwa mereka akan binasa oleh dosa mereka sendiri. Dosa mereka menjadi perangkap bagi mereka. Segala kejahatan mereka akan berbalik kepada mereka. Jadi, tanpa tindakan khusus pun dari Allah, mereka binasa akibat dosa dan kejahatan mereka. Dosa menjadi bumerang. Dalam ay 14 pemazmur berharap agar penjahat itu binasa dan kebinasaan mereka bisa membangkitkan kesadaran di tengah manusia bahwa Allah ada, dan bahwa Allah bertindak dalam hidup manusia di dunia ini. Itu semua dapat menjadi saksi bahwa Gusti ora sare, Tuhan tidak tidur, bahwa Ia maha tahu (omniscient), maha kuasa (omnipotent). Kalau Allah bertindak, pemazmur merasa aman, sehingga walau penjahat datang sewaktu-waktu, ia tidak takut. Sebab mereka tidak bisa berbuat apa-apa terhadap dia (ay 15-16). Allah menjadi andalan dan benteng hidupnya.
Akhirnya kita sampai pada Bgn III. Setelah mengalami dan merasakan tindakan dan perlindungan Allah, pemazmur melambungkan madah pujian meluhurkan tindakan Allah yang menjadi kekuatan dan perlindungan hidupnya. Hesed atau kasih setia Allah mendorong dia kepada pujian. Hati, jiwa dan terutama mulutnya tidak dapat diam melihat dan mengalami kasih setia Allah dalam hidupnya. Hesed Allah menjadi benteng perlindungan yang aman. Dalam perlindungan benteng itu ia merasa aman, tenteram dan damai. Maka ia bisa menyanyikan mazmur pujian untuk memuji Allah yang bertindak melindungi dan menyelenggarakan hidupnya selama ini sehingga ia tidak jatuh kepada para lawannya, dan juga tidak jatuh ke dalam godaan menjadi tidak beriman atau ateisme praktis (ay.17-18). Itulah pelajaran penting dari mazmur ini.
Mazmur ini cukup panjang: 18 ayat. Mazmur ini dapat dibagi tiga: Bgn I: ay 1-8. Bgn II: ay.9-16. Bgn III: ay 17-18. Dalam Bgn I ada beberapa hal yang diajukan. Dalam ay 2 ia memohon agar dilepaskan dari musuh. Ia memohon agar Allah melindungi dia dari para lawan. Dalam ay 3 ia memohon kelepasan dari orang jahat. Ia mohon agar diselamatkan dari pembunuh. Pemazmur merasa bahwa permohonan itu amat mendesak karena para lawan dan penjahat mau mencabut nyawanya, padahal ia tidak berdosa (ay 5). Itu sebabnya ia berani memohon perlindungan Allah (ay 5). Setelah berlari mencari pertolongan Allah, dalam ay 6 pemazmur berseru agar Allah bertindak, menghukum bangsa yang jahat agar mereka tidak bertindak sesuka hati. Sebab ada dan kehadiran mereka merupakan ancaman tetap yang sewaktu-waktu bisa datang seperti anjing melolong, seperti pencemooh dan penyindir. Tetapi karena sudah berada dalam lindungan dan naungan Allah maka ia tidak terganggu lagi dengan itu semua. Itulah Bgn I.
Dalam Bgn II ada beberapa hal penting yang diajukan. Ay 9 melukiskan pandangan dan keyakinan pemazmur bahwa Tuhan menertawakan dan mengolok segala tindakan dan perbuatan penjahat. Itu sebabnya, dalam ay 10 pemazmur ingin berlindung kepada Allah sebab Allah adalah kekuatan dan benteng hidupnya. Ia bisa berpegang pada sumber kekuatan itu. Ayat 11 amat menarik, sebab di sini muncul hesed yang dipersonalisasi. Hesed dilukiskan seperti orang yang diutus Allah untuk menolong dan menyelamatkan dia. Dengan itu, pemazmur merasa aman dan bahkan bisa meremehkan lawannya. Menarik bahwa pemazmur meminta agar Allah jangan membunuh mereka (ay 12). Mengapa? Agar mereka bisa menjadi saksi hidup bahwa Allah ada dan bertindak mengatasi kejahatan di bumi. Kalau itu terjadi, maka orang tidak mudah lupa. Kalau tidak dibunuh, cukup dikocar-kacir agar tidak bisa menjadi kekuatan padu dan kokoh.
Dalam ay 13 pemazmur merasa bahwa Allah tidak perlu mengambil tindakan keras dan drastik terhadap mereka (misalnya dengan membunuh) karena ia yakin bahwa mereka akan binasa oleh dosa mereka sendiri. Dosa mereka menjadi perangkap bagi mereka. Segala kejahatan mereka akan berbalik kepada mereka. Jadi, tanpa tindakan khusus pun dari Allah, mereka binasa akibat dosa dan kejahatan mereka. Dosa menjadi bumerang. Dalam ay 14 pemazmur berharap agar penjahat itu binasa dan kebinasaan mereka bisa membangkitkan kesadaran di tengah manusia bahwa Allah ada, dan bahwa Allah bertindak dalam hidup manusia di dunia ini. Itu semua dapat menjadi saksi bahwa Gusti ora sare, Tuhan tidak tidur, bahwa Ia maha tahu (omniscient), maha kuasa (omnipotent). Kalau Allah bertindak, pemazmur merasa aman, sehingga walau penjahat datang sewaktu-waktu, ia tidak takut. Sebab mereka tidak bisa berbuat apa-apa terhadap dia (ay 15-16). Allah menjadi andalan dan benteng hidupnya.
Akhirnya kita sampai pada Bgn III. Setelah mengalami dan merasakan tindakan dan perlindungan Allah, pemazmur melambungkan madah pujian meluhurkan tindakan Allah yang menjadi kekuatan dan perlindungan hidupnya. Hesed atau kasih setia Allah mendorong dia kepada pujian. Hati, jiwa dan terutama mulutnya tidak dapat diam melihat dan mengalami kasih setia Allah dalam hidupnya. Hesed Allah menjadi benteng perlindungan yang aman. Dalam perlindungan benteng itu ia merasa aman, tenteram dan damai. Maka ia bisa menyanyikan mazmur pujian untuk memuji Allah yang bertindak melindungi dan menyelenggarakan hidupnya selama ini sehingga ia tidak jatuh kepada para lawannya, dan juga tidak jatuh ke dalam godaan menjadi tidak beriman atau ateisme praktis (ay.17-18). Itulah pelajaran penting dari mazmur ini.
MENDALAMI DAN MENIKMATI MAZMUR 58
Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransisbm)
Mazmur ini hanya 12 ayat. Judulnya: Terhadap pembesar lalim. Karena itu saya sebut mazmur ini mazmur politik karena mempersoalkan sikap politik penguasa. Mazmur ini dapat dibagi tiga. Bgn I: ayt 2-6. Bgn II: ay 7-10. Bgn III: ay 11-12.
Bgn I melukiskan sikap politik penguasa. Ay 2 dimulai dengan dua pertanyaan retoris mengenai putusan penguasa? Apakah itu putusan adil? Apakah penguasa menghakimi dengan jujur? Keadilan dan kejujuran penguasa dipersoalkan di sini sebab dua hal itu sering dilanggar penguasa, dan yang menderita ialah rakyat kecil, yang tidak berdaya. Ternyata pertanyaan retoris-politis itu dijawab bahwa yang diharapkan tidak sesuai kenyataan. Ay 3 menyebut dua agen perbuatan manusia: niat dan tangan. Niat adalah perkara hati dan budi. Pada level niat pun penguasa merancang kejahatan. Tangan adalah pelaksana pemikiran, apa yang diniatkan hati. Pada level ini penguasa melakukan kekerasan. Hati merancang kejahatan, tangan tinggal melakukan niat itu. Lebih tragis lagi apa yang dikatakan ay 4: perilaku menyimpang orang fasik terbentuk sejak lahir, dan pendusta tersesat sejak kandungan. Jadi, betapa dalamnya akar kejahatan. Penguasa seperti ini berbahaya dan diibaratkan racun ular berbisa. Biasanya penguasa lalim tidak mau mendengarkan suara alternatif yang mendorong perbaikan dan perubahan. Hal itu diibaratkan telinga ular tedung yang tuli, yang tidak bisa dan tidak mau mendengarkan suara dari luar, biarpun suara luar itu pandai, profetis, visioner. Penguasa seperti ini hanya menimbulkan sengsara, ketidak-adilan, dan tegar-tengkuk, sulit diperbaiki, sulit diubah. Lalu bagaimana?
Pemazmur tampak seperti putus-asa. Mungkin ia melakukan banyak perbaikan, kritik tetapi ia menghadapi tembok kaku dan telinga tuli, yang tidak mendengar sama sekali. Maka dalam Bgn II, pemazmur masuk ke dalam doa. Setelah ia merasa tidak berdaya menghadapi dan mengoreksi penguasa lalim ia berdoa agar Allah yang kini bertindak. Dalam ay 7 ia mengemukakan metafor gigi. Gigi adalah alat menggigit dan di sini gigi adalah alat penindasan. Pemazmur meminta Allah agar sudi menghancurkan alat penindasan itu di sumber kekerasan dan nafsu yang di sini dilambangkan mulut terutama mulut singa muda yang masih mempunyai banyak waktu untuk melakukan kejahatan dan kekerasan dengan gigi dan mulutnya. Dalam ay 8-9 ia berharap agar penguasa lalim dan kejam itu lenyap dari muka bumi. Sirna seperti air menguap, layu seperti rumput di pinggir jalan, mati seperti siput mencair kepanasan, bahkan mengalami keguguran sebelum lahir. Ay 10 agak sulit ditafsirkan. Tetapi itu juga merupakan sumpah serapah agar penguasa lalim tidak menikmati kenyamanan dan kenikmatan hidup yang antara lain disimbolkan dengan makan enak yang diperoleh dengan proses memasak tertentu.
Bgn III, mencoba mengungkapkan rasa lega pemazmur setelah melihat dan merasakan perbuatan Tuhan yang menegakkan kebenaran, kejujuran dan keadilan di bumi ini. Kalau Tuhan bertindak seperti diharapkan pemazmur maka ia bersukacita mengalami tindakan itu. Orang fasik akan mati dan di atas kematian itu orang benar akan hidup. Kalau itu terjadi, ia yakin bahwa orang benar pasti mempunyai pahala. Kalau itu terjadi, kepercayaan orang akan Allah bisa dipulihkan kembali, sebab dengan itu mereka percaya bahwa masih ada Allah yang menegakkan keadilan, kebenaran, dan kejujuran di bumi ini. Itu sebabnya kekejaman, kelaliman, penindasan penguasa lalim berdampak ateisme praktis, yaitu orang hidup dan berbuat seakan Allah tidak ada. Sebab apakah Allah ada atau tidak, Ia tidak peduli. Kalau Ia peduli seperti diharapkan pemazmur, maka hal itu mendatangkan dan menyuburkan iman. Itulah pesan pokok mazmur politik ini.
Mazmur ini hanya 12 ayat. Judulnya: Terhadap pembesar lalim. Karena itu saya sebut mazmur ini mazmur politik karena mempersoalkan sikap politik penguasa. Mazmur ini dapat dibagi tiga. Bgn I: ayt 2-6. Bgn II: ay 7-10. Bgn III: ay 11-12.
Bgn I melukiskan sikap politik penguasa. Ay 2 dimulai dengan dua pertanyaan retoris mengenai putusan penguasa? Apakah itu putusan adil? Apakah penguasa menghakimi dengan jujur? Keadilan dan kejujuran penguasa dipersoalkan di sini sebab dua hal itu sering dilanggar penguasa, dan yang menderita ialah rakyat kecil, yang tidak berdaya. Ternyata pertanyaan retoris-politis itu dijawab bahwa yang diharapkan tidak sesuai kenyataan. Ay 3 menyebut dua agen perbuatan manusia: niat dan tangan. Niat adalah perkara hati dan budi. Pada level niat pun penguasa merancang kejahatan. Tangan adalah pelaksana pemikiran, apa yang diniatkan hati. Pada level ini penguasa melakukan kekerasan. Hati merancang kejahatan, tangan tinggal melakukan niat itu. Lebih tragis lagi apa yang dikatakan ay 4: perilaku menyimpang orang fasik terbentuk sejak lahir, dan pendusta tersesat sejak kandungan. Jadi, betapa dalamnya akar kejahatan. Penguasa seperti ini berbahaya dan diibaratkan racun ular berbisa. Biasanya penguasa lalim tidak mau mendengarkan suara alternatif yang mendorong perbaikan dan perubahan. Hal itu diibaratkan telinga ular tedung yang tuli, yang tidak bisa dan tidak mau mendengarkan suara dari luar, biarpun suara luar itu pandai, profetis, visioner. Penguasa seperti ini hanya menimbulkan sengsara, ketidak-adilan, dan tegar-tengkuk, sulit diperbaiki, sulit diubah. Lalu bagaimana?
Pemazmur tampak seperti putus-asa. Mungkin ia melakukan banyak perbaikan, kritik tetapi ia menghadapi tembok kaku dan telinga tuli, yang tidak mendengar sama sekali. Maka dalam Bgn II, pemazmur masuk ke dalam doa. Setelah ia merasa tidak berdaya menghadapi dan mengoreksi penguasa lalim ia berdoa agar Allah yang kini bertindak. Dalam ay 7 ia mengemukakan metafor gigi. Gigi adalah alat menggigit dan di sini gigi adalah alat penindasan. Pemazmur meminta Allah agar sudi menghancurkan alat penindasan itu di sumber kekerasan dan nafsu yang di sini dilambangkan mulut terutama mulut singa muda yang masih mempunyai banyak waktu untuk melakukan kejahatan dan kekerasan dengan gigi dan mulutnya. Dalam ay 8-9 ia berharap agar penguasa lalim dan kejam itu lenyap dari muka bumi. Sirna seperti air menguap, layu seperti rumput di pinggir jalan, mati seperti siput mencair kepanasan, bahkan mengalami keguguran sebelum lahir. Ay 10 agak sulit ditafsirkan. Tetapi itu juga merupakan sumpah serapah agar penguasa lalim tidak menikmati kenyamanan dan kenikmatan hidup yang antara lain disimbolkan dengan makan enak yang diperoleh dengan proses memasak tertentu.
Bgn III, mencoba mengungkapkan rasa lega pemazmur setelah melihat dan merasakan perbuatan Tuhan yang menegakkan kebenaran, kejujuran dan keadilan di bumi ini. Kalau Tuhan bertindak seperti diharapkan pemazmur maka ia bersukacita mengalami tindakan itu. Orang fasik akan mati dan di atas kematian itu orang benar akan hidup. Kalau itu terjadi, ia yakin bahwa orang benar pasti mempunyai pahala. Kalau itu terjadi, kepercayaan orang akan Allah bisa dipulihkan kembali, sebab dengan itu mereka percaya bahwa masih ada Allah yang menegakkan keadilan, kebenaran, dan kejujuran di bumi ini. Itu sebabnya kekejaman, kelaliman, penindasan penguasa lalim berdampak ateisme praktis, yaitu orang hidup dan berbuat seakan Allah tidak ada. Sebab apakah Allah ada atau tidak, Ia tidak peduli. Kalau Ia peduli seperti diharapkan pemazmur, maka hal itu mendatangkan dan menyuburkan iman. Itulah pesan pokok mazmur politik ini.
Monday, November 30, 2009
HANDUK VERONIKA
Oleh: Fransiskus Borgias M.(EFBE@fransisbm)
Dalam Tempo, 17 Januari 2005, Goenawan Muhamad, menulis sebuah catatan pinggir yang sangat menarik, yang berjudul “Balsam.” Dikisahkan di sana bahwa ada seorang perempuan anggota partai terlarang, yang tertangkap dan sedang disiksa para tentara. Ia disiksa di tengah malam, dan dibiarkan badannya setengah telanjang dalam angin dan kedinginan malam. Tentu saja sangat dingin. Sementara ia diikat di tiang sula. Tidak berdaya melindungi badannya sendiri sekadar memberi kehangatan. Di tengah kegelapan malam menjelang dinihari, ada seorang bapa tua, pegawai negeri sipil. Ia datang pada malam hari menjelang dinihari karena tergerak oleh iba dan belas kasih (welas asih) kepada perempuan yang disula itu. Ia membawa balsam. Lalu ia mengoles tubuh perempuan itu sambil minta maaf. Itulah cuplikan singkat dari buku karangan Carmel Budiardjo, yang berjudul Bertahan Hidup di Gulag Indonesia.
Ketika membaca catatan pinggir Mas Gun ini, spontan saya teringat akan dua tokoh yang mirip seperti bapa tua itu di masa silam, di tempat lain, di gulag yang lain. Tokoh pertama, Veronika. Tokoh kedua, Maximillianus Maria Kolbe. Dahulu kala, di suatu tempat, ada seorang hukuman. Ia disiksa, lalu diarak dengan kayu palang siksaannya ke luar kota untuk disalibkan di sebuah puncak bukit. Di tengah jalan ada perempuan yang menaruh iba. Ia datang membawa handuk, sekadar untuk melap keringat orang itu. Perempuan itu berani menerobos barisan serdadu yang mengawal perjalanan si terhukum itu ke bukit penyaliban. Ia memperlihatkan rasa iba dan belas kasih dan solidaritas. Sederhana sekali, tetapi penuh tantangan. Butuh keberanian untuk melakukannya. Tetapi bagi si terhukum hal itu sudah lebih dari cukup. Ia merasa tidak sendirian dalam deritanya. Ada solidaritas. Solidaritas itu membawa kekuatan dan kehangatan. Sebagai balas jasa, gambar wajahnya muncul di handuk itu. Lalu diidentifikasi sebagai verus eikon, gambar yang benar. Lalu sebutan itu menjadi nama pribadi, Veronika. Itu yang pertama.
Ada seorang pria. Ditawan Nazi hanya karena ia Yahudi. Nazi kejam. Mereka gila. Dalam kegilaannya mereka menggilir tawanan untuk dihukum mati. Lalu tibalah giliran pria separuh baya. Ia punya isteri, punya anak. Jadi, ia masih punya tanggungan hidup. Maka Kolbe tampil untuk mengganti tempat dia. Kolbe mati, pria itu selamat, melampaui Perang Dunia II.
Kekuatan apa yang ada dalam diri mereka? Kiranya itulah kekuatan cinta yang terwujud dalam solidaritas. Ilham dasarnya ialah injil: tiada kasih yang lebih besar dari pada kasih seseorang yang rela menyabung nyawanya demi sesamanya. Itu sudah terjadi pada Yesus, pada Veronika, pada Maria Kolbe, pada Bapa tua yang mengoles Balsam pada tubuh Sri Ambar di penjara pagi buta. Kasih dan solidaritas dalam derita itu pasti mendatangkan penyembuhan, kekuatan, dan penghiburan.
Atas dasar garis refleksi inilah, Yohanes Paulus II, jauh di kemudian hari menulis sebuah surat apostolik berjudul Salvafici Doloris, tentang duka dan kepedihan yang mendatangkan efek penyembuhan dan penyelamatan. Hati manusia selalu mampu melakukan hal seperti itu. Dalam teologi Perjanjian Lama, ini disebut dimensi vicaris dari penderitaan. Ada orang yang rela menderita demi orang lain dan hal itu mendatangkan shalom. Itulah yang terjadi pada Hamba Yahweh, Ebed Adonai, dalam Yesaya itu.
Dalam Tempo, 17 Januari 2005, Goenawan Muhamad, menulis sebuah catatan pinggir yang sangat menarik, yang berjudul “Balsam.” Dikisahkan di sana bahwa ada seorang perempuan anggota partai terlarang, yang tertangkap dan sedang disiksa para tentara. Ia disiksa di tengah malam, dan dibiarkan badannya setengah telanjang dalam angin dan kedinginan malam. Tentu saja sangat dingin. Sementara ia diikat di tiang sula. Tidak berdaya melindungi badannya sendiri sekadar memberi kehangatan. Di tengah kegelapan malam menjelang dinihari, ada seorang bapa tua, pegawai negeri sipil. Ia datang pada malam hari menjelang dinihari karena tergerak oleh iba dan belas kasih (welas asih) kepada perempuan yang disula itu. Ia membawa balsam. Lalu ia mengoles tubuh perempuan itu sambil minta maaf. Itulah cuplikan singkat dari buku karangan Carmel Budiardjo, yang berjudul Bertahan Hidup di Gulag Indonesia.
Ketika membaca catatan pinggir Mas Gun ini, spontan saya teringat akan dua tokoh yang mirip seperti bapa tua itu di masa silam, di tempat lain, di gulag yang lain. Tokoh pertama, Veronika. Tokoh kedua, Maximillianus Maria Kolbe. Dahulu kala, di suatu tempat, ada seorang hukuman. Ia disiksa, lalu diarak dengan kayu palang siksaannya ke luar kota untuk disalibkan di sebuah puncak bukit. Di tengah jalan ada perempuan yang menaruh iba. Ia datang membawa handuk, sekadar untuk melap keringat orang itu. Perempuan itu berani menerobos barisan serdadu yang mengawal perjalanan si terhukum itu ke bukit penyaliban. Ia memperlihatkan rasa iba dan belas kasih dan solidaritas. Sederhana sekali, tetapi penuh tantangan. Butuh keberanian untuk melakukannya. Tetapi bagi si terhukum hal itu sudah lebih dari cukup. Ia merasa tidak sendirian dalam deritanya. Ada solidaritas. Solidaritas itu membawa kekuatan dan kehangatan. Sebagai balas jasa, gambar wajahnya muncul di handuk itu. Lalu diidentifikasi sebagai verus eikon, gambar yang benar. Lalu sebutan itu menjadi nama pribadi, Veronika. Itu yang pertama.
Ada seorang pria. Ditawan Nazi hanya karena ia Yahudi. Nazi kejam. Mereka gila. Dalam kegilaannya mereka menggilir tawanan untuk dihukum mati. Lalu tibalah giliran pria separuh baya. Ia punya isteri, punya anak. Jadi, ia masih punya tanggungan hidup. Maka Kolbe tampil untuk mengganti tempat dia. Kolbe mati, pria itu selamat, melampaui Perang Dunia II.
Kekuatan apa yang ada dalam diri mereka? Kiranya itulah kekuatan cinta yang terwujud dalam solidaritas. Ilham dasarnya ialah injil: tiada kasih yang lebih besar dari pada kasih seseorang yang rela menyabung nyawanya demi sesamanya. Itu sudah terjadi pada Yesus, pada Veronika, pada Maria Kolbe, pada Bapa tua yang mengoles Balsam pada tubuh Sri Ambar di penjara pagi buta. Kasih dan solidaritas dalam derita itu pasti mendatangkan penyembuhan, kekuatan, dan penghiburan.
Atas dasar garis refleksi inilah, Yohanes Paulus II, jauh di kemudian hari menulis sebuah surat apostolik berjudul Salvafici Doloris, tentang duka dan kepedihan yang mendatangkan efek penyembuhan dan penyelamatan. Hati manusia selalu mampu melakukan hal seperti itu. Dalam teologi Perjanjian Lama, ini disebut dimensi vicaris dari penderitaan. Ada orang yang rela menderita demi orang lain dan hal itu mendatangkan shalom. Itulah yang terjadi pada Hamba Yahweh, Ebed Adonai, dalam Yesaya itu.
Monday, November 16, 2009
MENDALAMI DAN MENIKMATI MAZMUR 57
Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransisbm)
Mazmur ini cukup singkat, hanya 12 ayat. Judulnya menarik: pengalaman eksistensial-kontras “Diburu musuh, tetapi ditolong Allah.” Untuk dapat memahami dan menikmati mazmur ini saya membaginya dalam dua unit: unit I, ay.1-6. Di ay 6 ada refren. Unit II, ay 7-12. Di ay 12 refren diulang. Refren itu menjadi petunjuk yang memudahkan pembagian. Mari kita lihat bagian demi bagian dari mazmur ini.
Dalam unit I ini, pemazmur mengemukakan beberapa hal menarik. Ia mulai dengan permohonan kepada Allah agar ia sudi dikasihani karena ia berlindung pada Allah (ay 2). Ia memakai metafor burung yang melindungi anaknya di bawah sayapnya jika malam datang, jika pemangsa datang, jika angin ribut menerpa. Seruan itu dilanjutkan dengan ungkapan lain dalam ay 3. Dalam ay 4 ia mengganti metafor: ia mengharapkan agar Allah mengirim utusanNya dari surga untuk menolong dia dan sekaligus mengecam penindasnya. Di akhir ay 4 ini ada metafor menarik: ia mengharapkan kasih setia (hesed) dan kebenaran (tsedeqia) datang sebagai utusan Allah. Mengapa ia sangat mengharapkan datangnya pertolongan itu dari Yang Mahatinggi? Alasannya mudah ditemukan dalam ay 5. Di sini pemazmur melukiskan situasinya yang sangat gawat dengan gaya yang mungkin dilebih-lebihkan, sebuah hiperbola. Tetapi hiperbola itu perlu untuk melukiskan situasi tragis yang ia alami: ia merasa berbaring di tengah singa yang biasa menerkam manusia, yang taringnya tajam dan mengerikan. Bahkan lidahnya pun amat berbahaya. Unit I ini ditutup dengan refren yang meminta kepada Allah agar segera bertindak demi kemuliaan namaNya sendiri.
Dalam Unit II, ia melukiskan lebih lanjut situasinya. Tetapi kini ia melihat dari sisi lain. Kalau di atas tadi, ia melihat situasinya dari sudut pandangnya sendiri, sekarang ia melihat situasinya dari sudut pandang lawannya. Ia melukiskan apa yang telah dibuat para lawannya terhadap dirinya. Mereka itu memasang jaring dan menggali lobang untuk menjerat dan menjebloskan dia. Tetapi Puji Tuhan, di akhir ay 7, justru mereka sendiri yang jatuh ke dalam lubang itu. Wer hat eine Grube grabt, felt selbs hinein, kata orang Jerman. Dengan itu ia mulai merasakan tindakan shalom Allah. Itu sebabnya dalam ay 8 ia menyatakan kesiapannya untuk memuji Allah dengan lagu dan mazmur. Kesiapan itu dilanjutkan dalam ay 9, di mana ia mengajak hatinya agar bangun menyongsong Tuhan penyelamat dengan gambus dan kecapi. Bahkan sedemikian semangatnya, sehingga ia juga ingin mengajak fajar untuk bangun dan bersama-sama memuji Allah. Padahal biasanya fajar itulah yang membangunkan dia.
Dalam ay 10 terjadi perubahan besar dalam bingkai konteks pelaksanaan pujian bagi Allah itu. Pujian itu tidak lagi dilakukan sebagai tindakan pribadi di dalam ruang privat, melainkan kini ia mau melambungkan pujian itu sebagai tindakan publik, di ruang publik, yaitu di tengah para bangsa. Ia mau melambungkan lagu syukur (eucharistia) dan mazmurnya di tengah para bangsa. Dengan cara itu, ia juga mau mengajak para bangsa untuk ikut terhanyut dalam pujian kosmis sekaligus personalnya itu. Dalam ay 11 diberikan alasan paling mendasar untuk semua tindakan ini, yaitu karena kasih setia (hesed) dan kebenaran Allah sangat nyata di alam semesta ini. Akhirnya seluruh untaian ini dipuncaki lagi dengan mengulangi refrein yang sudah muncul dalam ay 6 di atas tadi. Luar biasa sekali.
Mazmur ini cukup singkat, hanya 12 ayat. Judulnya menarik: pengalaman eksistensial-kontras “Diburu musuh, tetapi ditolong Allah.” Untuk dapat memahami dan menikmati mazmur ini saya membaginya dalam dua unit: unit I, ay.1-6. Di ay 6 ada refren. Unit II, ay 7-12. Di ay 12 refren diulang. Refren itu menjadi petunjuk yang memudahkan pembagian. Mari kita lihat bagian demi bagian dari mazmur ini.
Dalam unit I ini, pemazmur mengemukakan beberapa hal menarik. Ia mulai dengan permohonan kepada Allah agar ia sudi dikasihani karena ia berlindung pada Allah (ay 2). Ia memakai metafor burung yang melindungi anaknya di bawah sayapnya jika malam datang, jika pemangsa datang, jika angin ribut menerpa. Seruan itu dilanjutkan dengan ungkapan lain dalam ay 3. Dalam ay 4 ia mengganti metafor: ia mengharapkan agar Allah mengirim utusanNya dari surga untuk menolong dia dan sekaligus mengecam penindasnya. Di akhir ay 4 ini ada metafor menarik: ia mengharapkan kasih setia (hesed) dan kebenaran (tsedeqia) datang sebagai utusan Allah. Mengapa ia sangat mengharapkan datangnya pertolongan itu dari Yang Mahatinggi? Alasannya mudah ditemukan dalam ay 5. Di sini pemazmur melukiskan situasinya yang sangat gawat dengan gaya yang mungkin dilebih-lebihkan, sebuah hiperbola. Tetapi hiperbola itu perlu untuk melukiskan situasi tragis yang ia alami: ia merasa berbaring di tengah singa yang biasa menerkam manusia, yang taringnya tajam dan mengerikan. Bahkan lidahnya pun amat berbahaya. Unit I ini ditutup dengan refren yang meminta kepada Allah agar segera bertindak demi kemuliaan namaNya sendiri.
Dalam Unit II, ia melukiskan lebih lanjut situasinya. Tetapi kini ia melihat dari sisi lain. Kalau di atas tadi, ia melihat situasinya dari sudut pandangnya sendiri, sekarang ia melihat situasinya dari sudut pandang lawannya. Ia melukiskan apa yang telah dibuat para lawannya terhadap dirinya. Mereka itu memasang jaring dan menggali lobang untuk menjerat dan menjebloskan dia. Tetapi Puji Tuhan, di akhir ay 7, justru mereka sendiri yang jatuh ke dalam lubang itu. Wer hat eine Grube grabt, felt selbs hinein, kata orang Jerman. Dengan itu ia mulai merasakan tindakan shalom Allah. Itu sebabnya dalam ay 8 ia menyatakan kesiapannya untuk memuji Allah dengan lagu dan mazmur. Kesiapan itu dilanjutkan dalam ay 9, di mana ia mengajak hatinya agar bangun menyongsong Tuhan penyelamat dengan gambus dan kecapi. Bahkan sedemikian semangatnya, sehingga ia juga ingin mengajak fajar untuk bangun dan bersama-sama memuji Allah. Padahal biasanya fajar itulah yang membangunkan dia.
Dalam ay 10 terjadi perubahan besar dalam bingkai konteks pelaksanaan pujian bagi Allah itu. Pujian itu tidak lagi dilakukan sebagai tindakan pribadi di dalam ruang privat, melainkan kini ia mau melambungkan pujian itu sebagai tindakan publik, di ruang publik, yaitu di tengah para bangsa. Ia mau melambungkan lagu syukur (eucharistia) dan mazmurnya di tengah para bangsa. Dengan cara itu, ia juga mau mengajak para bangsa untuk ikut terhanyut dalam pujian kosmis sekaligus personalnya itu. Dalam ay 11 diberikan alasan paling mendasar untuk semua tindakan ini, yaitu karena kasih setia (hesed) dan kebenaran Allah sangat nyata di alam semesta ini. Akhirnya seluruh untaian ini dipuncaki lagi dengan mengulangi refrein yang sudah muncul dalam ay 6 di atas tadi. Luar biasa sekali.
Subscribe to:
Posts (Atom)
PEDENG JEREK WAE SUSU
Oleh: Fransiskus Borgias Dosen dan Peneliti Senior pada FF-UNPAR Bandung. Menyongsong Mentari Dengan Tari Puncak perayaan penti adala...
-
Oleh: Fransiskus Borgias M., (EFBE@fransisbm) Mazmur ini termasuk cukup panjang, yaitu terdiri atas 22 ayat, mengikuti 22 abjad Ib...
-
Oleh: Fransiskus Borgias M. Judul Mazmur ini dalam Alkitab ialah Doa mohon Israel dipulihkan. Judul itu mengandaikan bahwa keadaan Israe...
-
Oleh: Fransiskus Borgias M. Sebagai manusia yang beriman (percaya), kiranya kita semua sungguh-sungguh yakin dan percaya bahwa Tuhan itu...